Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu


JAKARTA, KOMPAS.TV - Operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal (ABK) yang hilang kontak saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terus dilakukan.

Memasuki hari kelima, kondisi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan tim SAR gabungan dalam menentukan strategi pencarian.

Sementara itu, keluarga Yudistiro Pranoto, salah satu jurnalis yang masih dalam pencarian, sempat mengira hilangnya komunikasi tersebut disebabkan gangguan sinyal.

Namun setelah lebih dari 24 jam tidak ada kabar, keluarga para jurnalis yang berada di kapal mulai panik dan melaporkan kondisi tersebut kepada kantor masing-masing.

Baca Juga Pencarian Rombongan Jurnalis Hilang Hari Kelima, Area Diperluas hingga Samudra Hindia di https://www.kompas.tv/nasional/690307/pencarian-rombongan-jurnalis-hilang-hari-kelima-area-diperluas-hingga-samudra-hindia



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/690309/full-aktivitas-gunung-anak-krakatau-hingga-kondisi-laut-jadi-tantangan-pencarian-5-jurnalis-hilang
Transkrip
00:00Lalu seperti apa sebenarnya karakteristik letusan Gunung Anak Krakatau
00:04dan apapun dampaknya bagi pencarian terhadap 5 jurnalis dan 3 awak kapal
00:09yang hilang kontak saat meliput Gunung Anak Krakatau.
00:12Akan kita ulas bersama dengan pakar vulkanologi dari ITB,
00:17Pak Mirzam Abdurrahman dan juga telah bergabung bersama kami melalui sambungan daring.
00:22Ada Pak Ade Danhur yang merupakan keluarga dari Yudhistiro Pranoto,
00:28salah satu jurnalis yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
00:33Bapak, saya pertama kali ingin mengucapkan turut prihatin dan juga turut mendoakan
00:40kabar terbaik untuk Mas Yudhist.
00:43Saya ingin ke Pak Ade dulu.
00:46Pak Ade, ini kalau kita lihat ya, pencarian terus dioptimalkan oleh tim SAR gabungan
00:53sampai saat ini, sudah adakah temuan terbaru atau perkembangan dari pencarian dari Mas Yudhist ini?
01:00Pak Ade.
01:02Ya Mbak, terima kasih untuk update terakhir itu kan kemarin Mbak, hari ke-4 sekarang masuk hari ke-5.
01:11Nah, kemarin update terakhir itu untuk sementara ini hil.
01:18Tim SAR itu sudah menyisir lokasi-lokasi yang memang didugalah mereka ke tempat itu.
01:30Dan tim SAR itu yang saya tahu di lapangan itu mencari teman-teman ini
01:38banyak masukan dari masyarakat lokal, nelayan-nelayan lokal
01:43untuk coba disisir wilayah ini, wilayah ini seperti kemarin kan ke Pulau Sertung,
01:49Pulau Panjang dan mereka itu menyisir masuk ke daratannya Mbak.
01:53Mas, memang sudah dicari beberapa kali itu memang nihil, tidak ada jejak mereka.
01:59Di sini juga kami berharap dari keluarga, semoga lah anak-anak ini, adik-adik ini
02:08ketemu dengan selamat, semuanya ketemu dan kembali dengan selamat semua Mbak.
02:12Mereka berangkat berlapan ya, insya Allah mereka kembali juga berlapan Mbak.
02:16Oke, harapan yang sama juga kita panjatkan doa begitu supaya pencarian ini
02:23membuahkan hasil yang baik begitu ya.
02:25Mas Ade, kapan terakhir kali keluarga mendapat kabar dari Mas Yudis
02:30dan seperti apa kondisi terakhir yang diketahui oleh pihak keluarga?
02:37Yudis itu berangkat itu hari Minggu, Mbak.
02:39Hari Minggu berangkat, mereka langsung menuju cerita.
02:46Sebelum mereka berangkat itu, mereka sempat setelah dulu Mbak,
02:51ada penginapan di depan dermaga.
02:55Mereka menginap itu, hari Seninnya baru mereka berangkat.
03:01Itu komunikasi intens dengan istrinya Mbak.
03:04Komunikasi lancar, memasuki pukul 14.30 itu masih lancar.
03:12Itu kan istrinya sempat kirim foto kegiatan-kegiatan anaknya Yudis.
03:19Sekitar pukul 15.00 hari Senin itu,
03:23disitulah mulai lost contact.
03:25Tapi lost contact itu, kami sekeluarga berpikiran itu sinyal.
03:33Karena kendaraan sinyal ditunggu sampai 24 jam itu,
03:39ya sudah tidak ada sama sekali kabar.
03:43Disitulah mulai semua keluarga jurnalis yang ada di Speedfoot itu,
03:50ya sudah mulai panik.
03:52Akhirnya ya lapor ke kantornya masing-masing.
03:55Yang saya tahu seperti itu, Mbak.
03:57Oke, saya ingin ke dari ITB begitu ya, Pak Mirzam.
04:02Pak Mirzam, ini kalau mendengar informasi dari keluarga Mas Yudis
04:08yang menjadi salah satu jurnalis yang masih hilang kontak begitu ya,
04:12sempat meliput sampai akhirnya kemudian hilang kontak pada pukul 15.00
04:17waktu Indonesia bagian Barat.
04:19Kita ingin tahu dulu dari pakar vulkanolog,
04:23seperti apa sebenarnya karakteristik aktivitas erupsi
04:26dari Gunung Anak Rakatau dan saat ini.
04:28Nah, apa yang bisa berpengaruh terhadap kondisi
04:33Gunung Anak Rakatau saat ini terkait dengan kondisi arus laut di sekitarnya?
04:39Ya, Mbak Adisti dan pemisah Kompas TV
04:41dan juga keluarga para jurnalis ANPK pertama saya menyampaikan
04:45duka cita dan empat yang mendalam.
04:47Doa kita bersama, semoga semua kembali dalam keadaan selamat.
04:51Memang dengan kondisi karakteristik akhir-akhir ini,
04:54ini menjadi tantangan gitu ya bagi kita semua,
04:56terutama para jurnalis menjumat informasi itu dalam dapatkan informasi.
05:01Saya memahami kemudian berusaha mendekat
05:05untuk mendapatkan gambar dan informasi lebih aktual.
05:07Tapi dengan kondisi yang meskipun dalam beberapa hari terakhir ini
05:11sudah dinyatakan statusnya mulai menurun gitu ya.
05:15Kegempaan, kemudian tremor, kemudian temperatur, gas dan lain-lain.
05:20Artinya indikasinya akan semakin membaik.
05:22Tapi seperti halnya orang sedang asuk angin, otomual gitu ya.
05:27Gangguan-gangguan kecil itu bisa mengembalikan kondisi itu
05:30dengan tiba-tiba bisa berubah.
05:32Nah, dalam kondisi status lutusan eksplosif sebelumnya
05:36kemudian berakhir menjadi lutusan strombolian.
05:38Itu artinya energinya memang berkurang.
05:41Tapi lutusan strombolian itu bisa melentarkan lontaran-lontaran
05:45dan juga disertai abu.
05:46Nah, jadi kombinasi ini paling tidak
05:48abu yang berada di sekitar anak Rekato ini
05:51pasti akan mempengaruhi jarak pandang.
05:53Itu adalah yang pertama.
05:55Kita memang melihat di Bandung,
05:56tempat saya berada di Jakarta, Bogor,
05:58itu sudah mulai berkurang abunya.
05:59Tapi di tempat area-area pada area tertentu
06:02itu akan jauh lebih pekar.
06:04Nah, ini akan menyulitkan pada waktu pengambilan gambar,
06:08pengambilan positioning dan beberapa.
06:10Saya masih ingat persis gitu ya.
06:11Pada waktu saya beberapa kali kesana itu
06:13di antara Rekata sama anak Rekata itu
06:15saya menyebutnya ada dua sisa batu
06:18lutusan 1883.
06:19Itu yang dikatakan sebagai,
06:21saya menamakan itu sebagai batu selamat datang,
06:23tubuh selamat datang.
06:24Nah, pandangan-pandangan yang kemudian sulit itu
06:26mungkin bisa menjadi salah satu penyebab gitu ya.
06:29Kita tidak bisa melihat dengan baik,
06:31sehingga mungkin itu bisa menjadi penghalang
06:34ketika mendekat dan sebagainya.
06:35Itu adalah satu.
06:36Kedua adalah lontaran.
06:38Lontaran dari batu apu.
06:40Batu itu juga secara tidak langsung
06:42pada jarak-jarak tertentu
06:43ini akan tentu berpengaruh
06:44terhadap keselamatan, apa namanya,
06:47kita yang berada di sana,
06:48kemudian ke mesin dari kapal sendiri dan sebagainya.
06:52Nah, ada satu lagi yang menarik.
06:54Bahwa Krakato itu dalam pengamatan saya
06:56beberapa kali ke sana,
06:58ada area-area di sekitar anak Krakato itu
07:00yang juga sebagai jalan keluarnya energi.
07:03Jadi yang kita lihat itu di pusatnya itu
07:05di anak Krakato.
07:06Tapi di samping-sampingnya itu pun ada
07:07bualan-bualan gas yang itu akan mempersulit juga
07:10kalau kapal mau mendekat,
07:12akan mengganggu pertimbangan kapal dan sebagainya.
07:15Nah, dalam konteks melihat tadi,
07:17jadi sangat banyak sekali parameter
07:18setidaknya tiga, belum harusnya sendiri.
07:21Dulu kalau kami mengambil data itu
07:23memang selalu dengan keharifan lokal sana
07:25katakan berangkat itu pagi.
07:26Sebaiknya tidak lebih dari pukul 19.00
07:28dan kembali setelah juhur paling lambat itu
07:31pukul 15.00 itu harus sudah mulai bergerak.
07:34Saya memahami bahwa kondisi pada waktu itu
07:36pasti tidak mungkin berangkat pagi.
07:37Sehingga kalau tidak salah berangkat itu pukul 14.00 ya.
07:40Karena mungkin melihat status dulu
07:41supaya aman dan sebagainya.
07:42Artinya polisi ombak
07:44sudah menjadi jauh lebih tinggi
07:45daripada biasanya Mbak Edisti dan pembiasa.
07:48Nah, ini pun tantangan-tantangan tambahannya.
07:52Kondisi tadi yang saya sampaikan
07:54bahwa anak Rakatau itu seperti
07:55orang masuk angin yang belum sembuh.
07:58Goncangan sedikit gangguannya itu
07:59bisa menimbulkan letusan
08:01yang dalam jarak pandang kita gitu ya.
08:04Itu mungkin tidak teramati gitu ya.
08:06Tapi dalam posisi yang begitu dekat
08:07itu bisa sangat berpengaruh.
08:09Misalkan semalam gitu ya,
08:11kita melihat tadi pagi
08:12kita lihat ada gempa di Kekulauan Seribu.
08:14Itu kita membayangkan orang muang gitu ya,
08:17belum benar-benar berhenti.
08:19Kemudian kita goncang-goncangkan.
08:20Ada kemungkinan gitu ya,
08:22yang bersangkutan orang tersebut
08:23kemudian bisa keluar lagi,
08:25bisa muntah lagi.
08:26Nah, kondisi inilah yang kemudian
08:28kita bisa memahami
08:29kenapa PVMBG masih meletakkan
08:31jarak 3 kilo pada radius aman itu
08:33maksimum adalah konteks tadi.
08:35Mengantisipasi kondisi proses penyembuhan ini
08:37tiba-tiba ada gangguan kecil
08:39yang berubah kestimbangannya.
08:41Oke, jadi imbauan PVMBG
08:43untuk radius 3 kilometer ini
08:46adalah zona merah,
08:47begitu ini yang menjadi resiko
08:49ketika ada kegiatan-kegiatan
08:51di luar yang tidak seharusnya,
08:54begitu ya?
08:55Ya, itu untuk mengantisipasi gitu ya,
08:58bahwa jarak kita adalah jarak-jarak minimum gitu ya,
09:01karena khawatir proses penyembuhan tadi
09:02masih memerlukan waktu,
09:03sehingga meskipun energinya menurun,
09:06tapi lontaran dan kemudian
09:07turunnya hudus gempel pada jarak yang dekat itu
09:10masih sangat memungkinkan, Mbak Risti.
09:12Oke, berarti terkait dengan
09:14saat ini tadi pagi
09:16ada gempa juga berkekuatan 5,9 magnetudo
09:21yang mengguncang wilayah Kepulauan Seribu
09:24juga ini rat kaitannya terkait dengan
09:26masih adanya aktivitas gunung anak Rakato
09:29yang sampai saat ini juga
09:30masih tetap ada begitu ya,
09:33walaupun memang sudah menurun.
09:34Iya, jadi bukan anak Rakato yang menyebabkan kegempaan,
09:38tapi kegempaan itu bisa men-trigger.
09:40Saya menghitung jarak dari pusat erupsi itu
09:43dengan Sukabumi,
09:45Sukabumi kurang lebih jaraknya 130 kilo.
09:47Pada jarak yang sama dari titik gempa itu
09:49kurang lebih 130 kilo juga ke anak Rakato.
09:52Saya melihat histori,
09:54misalkan letusan Fuji 1707,
09:57pada pusat gempa dengan jarak 200 kilometer itu
10:00menyebabkan Fuji pada waktu itu
10:02seperti Rakato persis kondisinya.
10:04Sedang tidak stabil dan kadang kondisi batuk-batuk.
10:07Nah, ketika kemudian yang tidak stabil dan batuk-batuk
10:09masih mual, kemudian diguncang-guncangkan.
10:12Itu ada potensi.
10:13Artinya apa?
10:14Kita tidak berharap anak Rakato ini sekarang akan meletus.
10:17Tetapi artinya dari pengalaman Fuji itu,
10:20gempa itu pada tanggal,
10:22pada akhir bulan Oktober 1707.
10:24Kemudian letusan hebatnya baru 2 bulan kemudian.
10:27Artinya apa?
10:28Kita bisa belajar dari pengalaman tersebut
10:30dengan kondisi Rakato yang sekarang masih aktif,
10:32maka berhati-hati.
10:34Mungkin sekarang tidak terjadi dampak letusan secara langsung.
10:37Tapi ketidakstabilan akibat gempa tadi
10:40bisa menyebabkan dapur makhluk yang pada level yang dalam
10:43bisa bergerak dekat kemukaan,
10:45memerlukan waktu tertentu,
10:46sehingga nanti pada akhirnya bisa akan keluar.
10:48Nah, kombinasi ini yang kemudian menambah kompleksitas gitu ya.
10:52Di tengah fase penyembuhan,
10:54tetapi ternyata alam sekitarnya gempa ini bisa men-trigger lagi.
10:59Nah, itu yang kemudian harus kita lebih hati-hati ke depan.
11:01Oke, yang jadi pertanyaan saya selanjutnya seperti ini.
11:04Aktivitas Gunung Anak Rakato yang sampai saat ini juga masih aktif,
11:09walaupun memang aktivitasnya menurun dibandingkan beberapa hari yang lalu,
11:14termasuk juga ada kegempaan juga tadi pagi.
11:17Apakah ini bisa juga memengaruhi upaya pencarian begitu ya,
11:23jadi tantangan tersendiri juga bagi para tim sargabungan?
11:27Misalkan salah satunya adalah ombak tinggi atau arus yang kencang di bawah laut
11:31atau seperti apa penjelasannya?
11:33Iya, kalau dari sisi aktivitas gunung api ini tentu memberikan tantangan gitu ya Mbak ya.
11:40Karena aktivitas ini sewaktu-waktu itu artinya baik lontaran,
11:44kemudian abu maupun aliran berdus gembel yang saya katakan di dalam jarangan pendek,
11:49itu sangat bisa mempengaruhi, sangat bisa muncul.
11:51Belum lagi abu gitu ya yang masih keluar.
11:53Ini paling tidak dari sisi jarak pandang juga akan kemudian berpengaruh.
11:58Nah, ini yang mungkin saya tidak belum melihat detail tentang arus laut di sana,
12:02tapi pengalaman kita melihat dari kolom abu kemarin yang kita dikeluarkan,
12:08arah abunya itu ke arah barat daya, keluarnya ke semudah India.
12:10Tetapi kenapa bisa sampai ke Bandung, Jakarta, sampai kota saya di Bandung?
12:15Karena pada tiap level yang berbeda, arah arusnya bisa berbeda dan kecepatannya berbeda.
12:19Nah, ini gelombang pun begitu dalam pemahaman saya.
12:23Jadi di permukaan dia bisa arah kemana, nanti pada level yang di dalam kemana.
12:27Nah, kompleksitas ini yang mudah-mudahan gitu ya,
12:29kita bisa mencermati, melihat benar gitu ya.
12:32Sehingga nanti di dalam proses evaluasi dan evakuasi itu bisa melihat faktor keselamatan
12:38untuk kemudian para, apa namanya, para tim untuk yang rescue ini.
12:43Tapi juga memperkirakan kemungkinan seperti kan sampai Pak Adit tadi,
12:46titik yang potensial gitu ya, yang kira-kira mungkin membawa para jurnalistik ABK ini
12:51kepada arah tertentu ini juga bisa menjadi pertimbangan, Pak Adit.
12:54Oke, termasuk juga pertimbangan tim SAR yang sampai saat ini penyelaman belum dilakukan
13:00atau seperti apa? Ini juga menjadi pertimbangan tim SAR gabungan?
13:05Persis, Pak. Ya, itu yang saya sampaikan.
13:07Jadi saya pikir dengan pemahaman anak Gunung Kerakatau sekarang
13:10yang mungkin luncuran abunya atau awan panas yang bisa pada jarak tertentu,
13:14kemudian melihat orang daerah sana pasti memahami ada bualan-bualan gas itu
13:19yang menyebabkan tidak bisa mendekat pada titik-titik tertentu.
13:22Nah, itu kemudian menjadi tantangan begitu ya.
13:26Di area mana kemudian penyelaman itu kemudian bisa dilakukan
13:29kemudian pada bagian mana yang tidak.
13:31Bagaian mana kita bisa menepi gitu ya, bagian mana yang tidak
13:34karena kondisi morfologi dari anak Rakatau dan tiga gunung sekitarnya
13:37Rakatau-Sertung sama panjang itu miliki karakteristik tadi.
13:41Oke, saya ingin ke Mas Ade.
13:44Mas Ade, ini kan kita juga memberikan atensi yang penuh full dari seluruh media di Indonesia
13:49begitu ya untuk soal proses pencarian terhadap rekan kita juga salah satunya Mas Yudis.
13:56Bagaimana sebenarnya Mas Yudis ini dalam hal pekerjaan untuk bisa tough,
14:01untuk bisa meliput sampai kemudian ke meliput erupsi Gunung Anak Rakatau?
14:08Iya Mbak, jurnalist itu kan lebih kebicaraan.
14:13Naluri ini, ada sesuatu yang baru contohnya kayak erupsi gini,
14:18itu naluri jurnalist itu keluar, saya harus ke sana, saya ingin ke sana.
14:23Nah, di situ ada komunikasi mungkin dengan kantor,
14:27dia berangkat, ya karena naluri itu Mbak, naluri jurnalist itu kan tinggi.
14:32Dia pengen, apalagi seperti fotografer, Yudis itu kan fotografer Mbak.
14:38Dia pengen bersama teman-temannya ini pengen dapat gambar sesuatu yang bagus lah,
14:44untuk diinformasikan ke masyarakat.
14:47Bahwa ini loh, apa namanya, Gunung Krakatau seperti ini.
14:53Jadi, Yudis itu salah satu fotografer yang memang saya tahu sekali,
15:00karena saya yang sempat ajari Yudis itu untuk belajar fotografi.
15:06Jadi, karena naluri aja Mbak, naluri kita sebagai seorang jurnalist itu tinggi,
15:11pengen tahu sesuatu.
15:18Oke, Mas Ade, apa yang paling diingat dari Mas Yudis dan karakteristik dari Mas Yudis sendiri?
15:29Yudis itu, ya saya nggak begitu terlalu inih banget,
15:33karena kan kita beda ini Mbak, beda Yudis itu,
15:37jarang saya ketemu sebenarnya Mbak.
15:39Semenjak dia keluarga itu, udah jarang saya ketemu.
15:42Ketemu pun dilaparkan juga, jarang juga.
15:44Jadi, saya tahu kejadian ini juga dari kantornya, sempat kaget gitu loh.
15:50Saya nggak percaya.
15:51Dan memang setiap kali ada bencana ini,
15:54biasanya teman-teman itu ya dulu-duluan sampai Mbak.
15:59Karena itu tadi saya bilang, nalurinya itu nggak bisa hilang.
16:06Jadi, fotografer itu seperti itu Mbak, foto jurnalis.
16:09Jadi, ada sesuatu yang, wah ini ada bencana di sana.
16:13Kita harus sampai komunikasi dengan kantor, berangkat.
16:18Ya itu, ingin menginformasikan ke masyarakat,
16:20bahwa seperti ini kejadiannya.
16:23Cuma ya memang mungkin yang bahaya,
16:27apa namanya,
16:29perkiraan mereka tuh ke lokasi itu,
16:33ya kurang inilah, kurang maksimal lah.
16:37Yang saya tahu juga,
16:40tadi benar apa kata Pak Mirjam,
16:42kalau di daerah sana itu,
16:45langkah baiknya kita berangkat pagi dan siang itu udah pulang.
16:49Nah, di sini,
16:51yang saya dengar dan dapat informasi di sana,
16:53oleh masyarakat sana,
16:55memang ada tangan-tangan di sana untuk
16:58kembali malam.
16:59Ini lebih ke safety sebenarnya.
17:03Karena cuaca yang berubah,
17:04air laut yang berubah,
17:05ya itu ada pengantangan di sana.
17:08Makanya kalau memang udah malam,
17:09itu memang harus stay di situ.
17:11Ya, mereka tuh kembali malam.
17:15Foto terakhir itu dari Mas Perianto,
17:18yang gayetnya itu,
17:20di punggung ini Mbak,
17:22di punggung Tengah Katau,
17:23itu foto yang berada dari Pak.
17:25Fisnis di situ mereka terakhir dan sempat.
17:28Kemudian warga lokal,
17:30penelayan lokal,
17:32sempat diingatkan,
17:34untuk tidak kembali.
17:35Karena satu sudah malam,
17:38satu lagi karena kalau malam itu,
17:40cuacanya itu nggak menentu.
17:42Ombak tinggi.
17:44Nah, di situ,
17:45betul, obak tinggi.
17:46Nah, di situ mulai terjadi sesuatu.
17:50Nah, seperti itu,
17:52yang kami dapat informasi dari masyarakat lokal.
17:55Bahwa memang benar,
17:56di situ tuh ada pantangan lah.
17:58Pantangan itu lebih ke safety aja, Mbak.
18:02Oke, terakhir, Mas Ade,
18:05apa harapan keluarga tentu saja
18:07terhadap proses pencarian ini?
18:10Kita pastinya berharap ada kabar baik
18:12dari proses pencarian
18:13terhadap lima rekan jurnalis kita,
18:16termasuk juga tiga ABK.
18:20Kami keluarga semua, Mbak,
18:22yang ada di lokasi ini
18:24berharap mereka tuh kembali dengan selamat.
18:26Tapi kalau dari kami,
18:28keluarga Yudhis Piro Pranoto,
18:31apapun yang terjadi,
18:32insya Allah kami sudah siap lah.
18:35Karena memang satu,
18:36ini resiko pekerjaan,
18:38kita harus hadapi.
18:40Tapi kami minta yang terbaik,
18:43mereka berangkat berlapan,
18:45pulang kembali berlapan dengan selamat.
18:47Seperti itu, Mbak.
18:48Oke, kita harapkan tentu saja
18:50proses pencarian yang sudah dilakukan
18:53oleh tim SAR gabungan ini
18:54bisa membuahkan hasil yang baik.
18:56Terima kasih, Mas Ade dan Hur,
18:58merupakan keluarga dari Mas Yudhis,
19:00Yudhis Tiro Pranoto,
19:02salah satu jurnalis yang hilang
19:03saat meliput erupsi Gunung Anak Rekatau.
19:06Terima kasih sudah bergabung bersama kami.
19:08Kemudian juga ada pakar vulkanologi
19:10dari ITB, Pak Mirzam Abdurrahman.
19:13Sehat selalu, Bapak-Bapak.
19:14Assalamualaikum.
19:15Selamat pagi.
19:17Waalaikumsalam.
19:17Selamat pagi, Mbak.
19:20Terima kasih, Mbak.
Komentar

Dianjurkan