Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, menilai pembentukan Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) secara konseptual memiliki tujuan yang masuk akal, terutama sebagai agregator data untuk memperkuat transparansi ekspor, mengawasi praktik under invoicing, mengoptimalkan perpajakan, serta memastikan devisa hasil ekspor.

Namun, ia mengingatkan agar kehadiran DSI tidak justru menambah biaya, birokrasi, dan ketidakpastian bagi pelaku usaha.

Baca Juga [FULL] Pidato Puan Maharani di HUT ke-81 DPR: Harus Berbenah dan Kembali Dekat dengan Rakyat di https://www.kompas.tv/video/688420/full-pidato-puan-maharani-di-hut-ke-81-dpr-harus-berbenah-dan-kembali-dekat-dengan-rakyat

Eddy menekankan pentingnya aturan tertulis yang jelas, transparansi, serta sinkronisasi dengan berbagai institusi yang sudah ada.

Menurutnya, DSI harus tetap menjalankan fungsi sebagai pengawas dan agregator data, bukan berubah menjadi pemain atau trader.

Selain itu, implementasi harus berjalan sebaik kerangka kebijakannya agar tujuan meningkatkan ekspor dan devisa tidak terganggu oleh persoalan regulasi maupun operasional.

Produser: Prayogi Haro

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/688421/full-ekonom-ugm-soroti-dsi-jangan-sampai-pengawasan-tambah-biaya-dan-birokrasi-kompas-pagi
Transkrip
00:04Intro
00:07Saudara Anda menyaksikan Kompas Bisnis bersama saya Nanda Aprilia
00:11Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengatakan pertumbuhan ekonomi 6% perlu dikebut
00:17untuk bisa memperbesar penciptaan dan penyerapan tenaga kerja
00:25Kata Purbaya, ekonomi nasional ditarget tumbuh 6%
00:29dimana setiap 1%nya diharapkan dapat menghasilkan 400 ribu lapangan kerja
00:35Jika ini tercapai maka total lapangan kerja yang tercipta mencapai 2,4 juta lowongan
00:41Meski demikian pertumbuhan ekonomi 6% ternyata belum cukup menyerap seluruh tenaga kerja berusia produktif
00:49Menurut Purbaya Saudara perlu pertumbuhan 5,5 sampai dengan 6,7% untuk bisa menyerap seluruh tenaga kerja
01:07Terima kasih
01:22Terima kasih
01:26Terima kasih
01:44Terima kasih
02:05Terima kasih
02:31Terima kasih
03:00Terima kasih
03:19Terima kasih
03:32Terima kasih
03:59Terima kasih
04:20Terima kasih
04:28Terima kasih
04:33Terima kasih
04:33Terima kasih
04:33Terima kasih
04:33Terima kasih
04:34Terima kasih
04:34Terima kasih
04:34Terima kasih
04:35Terima kasih
04:51Terima kasih
04:58Terima kasih
04:59Dan pula eksportir tetap bisa mematuhi kesepakatan yang sudah dibuat walaupun kontraknya bersifat jangka panjang.
05:06Bahwa pada saat awal ini memang baru tiga komoditas strategis nasional yang dimana ada di dalam fokus kita yaitu batubara,
05:21minyak sawit atau CPO dan juga ferro-aloy
05:24tanpa kita mencoba mengubah hubungan komersial yang telah ada, yang berjalan dan juga eksportir dan pembeli.
05:31Jadi tidak usah ragu bahwa tetap Bapak-Bapak Ibu-Ibu bisa melakukan eksportnya secara langsung
05:39dan tetap kita we honor the sanctity of the contract, kontrak-kontrak yang jangka panjang
05:45tapi sifatnya dari DSI ini kita lebih pada saat ini mengevaluasi, memonitoring dan juga memastikan bahwa
05:54yang paling penting adalah transparency of the transaction.
05:59Dan antara sumber daya Indonesia diklaim mampu memperkuat daya tawar Indonesia di pasar global
06:04sekaligus juga meningkatkan devisa hasil ekspor dari perdagangan komoditas.
06:08Pertanyaannya saudara lalu apa saja tantangannya?
06:11Kompas Bisnis pagi ini akan menanyakannya langsung kepada Edi Junarsin, ekonom Universitas Gajah Mada
06:17yang sudah terhubung bersama kami di Kompas Bisnis pagi ini.
06:19Selamat pagi Mas Edi, salam sehat.
06:22Selamat pagi Pak Nanda, salam sehat.
06:25Saya mengawali dengan mengutip CEO dan antara, baru tiga komoditas strategis nasional di bawah DSI
06:31batu bara, minyak kelapa sawit, dan ferro-aloy atau paduan besi.
06:35Total nilai ekspor ini 70 miliar dolar Amerika Serikat.
06:39Sebenarnya kalau dari sudut pandangannya Mas Edi, seberapa besar sih potensi dampak DSI ini terhadap devisa negara?
06:45Dan khususnya soal repatriasi ya, hasil ekspor yang disebut menjadi salah satu fokus DSI Mas Edi?
06:53Ya, yang saya kira satu poin penting yang disampaikan oleh Rosan tadi, perlu dipertegas ya,
07:00bahwa ini kan DSI ini kan fungsi utamanya adalah data aggregator.
07:05Pada akhirnya tujuannya bukan menjadi trader atau itu ya, menjadi player lah di situ.
07:12Nah, jadi manfaatnya tadi sudah itu juga ya, Mbak Nanda juga sudah quoted juga dan sudah dipertegas juga oleh Danantara.
07:22Ini kan utamanya adalah untuk monitoring gitu ya, termasuk berbagai praktek di masa lalu yang mungkin itu ya tidak terlalu
07:31legal,
07:32misalnya transfer pricing, under invoicing dan berbagai praktek seperti itu juga untuk optimalisasi pajak dan juga yang barusan kita Mbak
07:44Nanda sebut juga tentang
07:45dan hasil ekspor yang kemudian harus mengendap di dalam negeri selama 12 bulan kan, kecuali beberapa exception tadi.
07:53Jadi, ya saya kira dari segi itu ya, manfaat secara konseptual saya kira ini ya masuk akal lah gitu.
08:02Yang menjadi tantangan adalah, ke depannya apakah hanya tiga itu ataukah akan diperluas?
08:07Kalau misalnya akan diperluas ke berbagai produk lain, di luar pertambangan dan perkebunan ke lapas sawit,
08:13maka ceritanya mungkin akan lebih kompleks.
08:15Karena berbagai mitra dagang dan negara-negara mitra dagang tersebut akan mengawasi apakah ini suatu bentuk protectionist policy atau bukan
08:30gitu ya.
08:30Jadi kalau pengakuan sebagai data aggregator hanya untuk pengawasan segala macam,
08:36saya kira inilah bisa diterima secara itu ya, secara legal maupun secara ekonomi gitu.
08:42Tapi ketika misalnya kepanjangan tangannya sudah semakin dalam, maka ini akan menjadi tanda tanya gitu ya.
08:50Sehingga ada kemungkinan, mungkin akan ada komplain ya, atau retaliatory act atau yang lain.
08:57Karena ini juga melibatkan itu ya, melibatkan apa, cost recovery fee kan.
09:02Cost recovery fee kan ya maksudnya secara ekonomi secara tidak langsung akan menaikkan tingkat harga yang sangat mirip dengan,
09:11walaupun tidak sama bentuknya, tidak sama namanya, tapi mirip dengan misalnya pengenaan tarif gitu ya, ada miripnya lah.
09:18Oke, tapi kalau misalkan kita melihat sorotan lain, pemerintah kan juga menjamin sensitivity of contract ya,
09:25kontrak lama tetap dihormati, harusnya ada DSI.
09:27Tentu ini hal positif ya Mas Idy, tapi menurut Anda Mas Idy,
09:31apakah jaminan ini cukup kuat secara hukum dan juga bisnisnya untuk bisa menenangkan eksportir dan juga pembeli?
09:36Ini berbicara mengenai khususnya pembeli jangka panjang ya, dari luar negeri.
09:41Ya kalau apa di dunia bisnis kan itu ya, apa yang dikatakan seseorang itu binding lah ya.
09:46Tapi saya kira lebih baik kalau ini dituangkan dalam itu ya, dalam aturan-aturan tertulis yang jelas gitu.
09:52Karena kalau ini dikembangkan ke depannya, dengan yang mencakup berbagai produk lain,
09:58ini akan menjadi sangat krusial ya.
10:00Ya tapi sekali lagi ini kata-kata yang diucapkan business person itu binding lah di dunia bisnis.
10:07Tapi lebih baik gitu ya.
10:08Karena selain itu kan ada itu ya, tantangan lain itu misalnya itu ya kan,
10:15pertanyaannya adalah ketika ada institusi baru atau aturan baru,
10:19itu kan selalu kita bertanya-tanya, net regulatory effectnya itu apa gitu ya.
10:25Jadi kan harus lebih banyak positifnya daripada ini ya kan, sisi negatifnya.
10:29Nah pertanyaannya, kenapa institusi ini dibutuhkan padahal mungkin ada institusi sebelumnya yang sudah existing,
10:36tapi bisa diperbaiki.
10:37Nah ini kan perlu ini kan, perlu apa ya, argumen yang kuat dan meyakinkan,
10:42baik di dalam negeri maupun di pasar internasional bahwa dengan adanya ini,
10:46ya manfaatnya lebih besar misalnya kepastian itu ya,
10:49kepastian hukumnya, kemudian juga sisi pengawasannya juga meningkatkan transparansi,
10:56kemudian pengelolaan apa,
10:59kerumsi yang masuk ya, inflow dan segala macam akan lebih baik juga untuk ya,
11:05reserve maupun untuk pengelolaan mata uang lah di centra bank dan sebagainya.
11:11Oke, kita beralih masih berbicara fokuskan mengenai tiga komunitas yang disebut oleh CEO dan antara tadi.
11:18Dari Mas Edi sendiri sebenarnya melihat gak sih ada potensi risiko operasional atau mungkin
11:21gaya tambahan yang dihadapi oleh pelaku usaha batubara, CPU atau Fair Alloy akibat proses verifikasi baru ini, Mas Edi?
11:28Ya, otomatis iya kan, selain apa, selain cost recovery fee, ini kan ada ini kan,
11:35kalau kita lihat apa suasana yang ada ya di beberapa sektor itu pertambangan dan juga perkembangan kapasawit,
11:43ini kan ada kekhawatiran bahwa market mechanism untuk penentuan harga itu akan sedikit inilah lah,
11:51apa goyang lah gitu ya, nah itu yang sempat membuat itu kan di beberapa sektor itu harga-harga saham cenderung
11:57itu lah,
11:58cenderung menurut, nah ini yang makanya harus dilakukan oleh DSI untuk meyakinkan dalam artian itu ya,
12:06ada kepastian hukumnya bahwa adanya cost recovery fee itu bukan atau tidak dipersepsikan sebagai bentuk suatu bentuk tarif ya dengan
12:17hal lain,
12:17karena kalau itu terjadi selain lebih mahal, kemudian market mechanism untuk pricing juga mungkin akan sedikit itu ya,
12:26variatif dan juga ada kemungkinan mitra-mitra dagang dan negara-negara dari mitra dagang tersebut akan bertanya-tanya,
12:35apakah ini suatu bentuk protectionist policy, nah itu mereka akan, paling ringan mereka akan komplain gitu ya,
12:42atau lebih beratnya lagi mungkin akan ada retaliatory act gitu ya, untuk melakukan hal yang sama dengan ekspor yang mereka
12:49lakukan ke Indonesia,
12:50jadi itu yang harus disikapi dengan hati-hati dan menurut saya lebih baik semua dituangkan secara tertulis lah gitu ya,
12:57secara apa, secara peraturan gitu.
12:59Nah oke, ini berarti berhubungan juga mengenai si Tata Kelola, tapi sebelum kita menjelaskan dan juga membahas lebih lengkap lagi,
13:05kita akan kembali bersama kami saudara di Kompas Bisnis.
13:33Kampas Bisnis
13:38Bisa mereplikasi perbaikan pengawasan di komoditas strategis lain, khususnya untuk di masa depan ya, Mas Edi?
13:45Ya, saya kira dari tujuan pendirian sangat masuk akal,
13:49tapi ada baiknya itu ya, berbagai, sekali lagi dari sisi ini kan institusi,
13:55berbagai institusi lain yang sebelumnya sudah ada, lebih baik memang dilebur lah gitu ya, untuk jadi satu gitu.
14:03Karena sekali lagi ini kan tujuannya sebagai itu ya, sebagai pengawas, data aggregator, pada akhirnya ini bukan pemain nih, bukan,
14:11dalam artian satu pintu bukan itunya ya, bukan apa, eksekutor atau trader ya, itu yang harus di ini ya,
14:19ditekankan secara inilah, secara lugas gitu.
14:21Fungsinya adalah data aggregator untuk menciptakan transparansi, mengurangi atau menghilangkan praktek manipulatif,
14:30kemudian juga untuk mengamankan perpajakan, kemudian devisa yang masuk dan hal-hal yang terkait seperti itu.
14:39Jadi berbagai institusi yang selama ini ada di berbagai kementerian lain, saya kira sangat perlu untuk disinkronkan ya.
14:47Jangan sampai ini ada berbagai institusi lain yang juga memainkan peran serupa,
14:52kemudian data sharingnya tidak optimal, nah hal-hal seperti itu yang justru menciptakan inefisiensi,
14:59padahal tujuannya adalah untuk transparansi dan efisiensi.
15:02Oke, berarti dari sistem tata keluah sampai dengan operasional bisa berjalan efektif,
15:08apa saja yang perlu diperhatikan?
15:10Karena kan yang kerap disinggung ini adalah model besar serta sistem yang kompleks.
15:14Mas Edy.
15:16Ya, ini lebih idealnya karena bentuknya kan itu ya, bentuknya korporasi,
15:24kemudian kalau dikorporasi kan pertama transparansi lebih jelas ya,
15:29karena ada berbagai dewan, dewan komisaris, ada dewan direksi,
15:33dan ini juga suatu institusi yang mendapatkan pengawasan yang sangat intensif dari media,
15:39dari masyarakat, dari akademisi dan lain-lain.
15:42Jadi memang sisi positifnya saya kira itu ya, kita bisa bayangkan.
15:47Nah, sekali lagi, setiap kali kita memiliki institusi baru atau peraturan baru,
15:53selalu kita harus menghitung net regulatory effect,
15:55karena bagaimanapun juga kan sisi positifnya ada,
15:58tapi ada apa sisi negatifnya, misalnya biaya yang bertambah,
16:03kemudian birokrasi yang meningkat,
16:05kemudian ada berbagai pertanyaan mengenai fairness,
16:09dan kemudian equality, hal-hal itu yang harus diatasi.
16:14Jadi selama net regulatory effectnya itu positif,
16:18berarti ini bisa dilakukan dengan catatan berbagai kelemahannya,
16:22bisa diminimalkan atau ditiadakan.
16:25Jadi intinya adalah bagaimana DSD ini memainkan itu ya,
16:29fungsi yang optimal untuk menjadi agregator dan menjadi monitor, pengawas.
16:38Oke, tapi begini Mas Edi,
16:40Pak Roson juga pernah menyinggung begitu ya,
16:42mengatakan bahwa peran DSD ini adalah membangun titik verifikasi yang lebih kuat
16:46dalam aliran data ekspor.
16:48Tapi menurut Anda, sejauh mana ini bisa menutup celah praktik under-invoicing
16:52atau manipulasi harga ekspor yang selama ini kan jadi masalah klasik di komunitas SDA?
16:57Nah itulah, Rokat kan berbagai institusi lain yang sebenarnya sudah ada di masa lalu,
17:03itu kan harusnya memainkan peranan itu ya.
17:06Namun ya, itu adalah berbagai hal yang teknis maupun non-teknis menyebabkan
17:13itu tidak berjalan dengan itulah, dengan optimal.
17:15Nah harapannya adalah dengan adanya DSI ya,
17:19di bawah institusi besar dan antara,
17:21yang pengawasannya juga bergaya korporasi
17:25dan juga diawasi oleh masyarakat, media, LSM, akademisi, dan lain-lain.
17:31Harapannya ini praktiknya akan lebih baik lah.
17:34Minimal secara konseptual kita bisa membayangkan itu.
17:37Nah, namanya apapun ya, kebijakan baru, institusi baru,
17:42hal yang menjadi tujuan pendirian pada akhirnya kan harus diimplementasikan.
17:47Jadi ada plan, ada implementation ya.
17:50Jadi kalau plannya, kita build sesuatu, plannya bagus,
17:54nah pertanyaan berikutnya adalah, implementation-nya gimana?
17:57Ya enggak? Jadi kan harus ini ya, harus berjalan sama baiknya gitu.
18:00Jadi jangan sampai plannya bagus ya,
18:03framework-nya bagus, tapi implementation-nya kurang ya.
18:06Berarti ya tidak optimal juga gitu.
18:08Tapi tentunya kebalikannya juga benar kan?
18:10Jadi kita tidak bisa implementasi dengan baik kalau plannya carut-marut lah.
18:16Oke, berarti bagaimana kemudian DASI bisa menempatkan diri?
18:20Sejawabannya kehadiran DASI ini perlu diimbangi dengan mekanisme yang transparan,
18:24efisien, dan juga tidak menghambat aktivitas pelaku usaha tentunya Mas Edy.
18:28Betul sekali.
18:29Makanya aturan-aturan tertulis ya,
18:31kayak petunjuk pelaksanaan ya,
18:35itu harus dituangkan secara sangat jelas ya,
18:41sangat transparan dan jelas.
18:42Sehingga semua, ya gaya korporasi saya kira begitu ya.
18:45Kan kontrak itu kan semua harus itu kan, harus jelas.
18:48Walaupun sekali lagi itu ya,
18:49kata-kata seorang top eksekutif itu di dunia bisnis itu binding ya.
18:55Apalagi ini sudah diliput oleh Kompas TV dan semua media.
18:57Apa yang dikatakan oleh Rosan itu,
18:59walaupun belum tertulis, itu sudah binding.
19:02Tapi kan tidak bisa hanya itu ya secara oral.
19:05Pada akhirnya semua harus dituangkan.
19:06Supaya semua fair ya, semua jelas.
19:09Apalagi kalau ini akan di,
19:12setelah 1 Januari 2027,
19:14ini kan sudah ini kan, sudah permanent ya.
19:16Ini kan transisi.
19:17Nah ketika sudah permanent,
19:19ada kemungkinan ini akan diperluas ke berbagai produk lain.
19:23Ya kan, produk lain.
19:24Jadi jelas transparansinya harus meningkat,
19:26kemudian aspek legal dan,
19:29ya sedangkan aspek lah ya,
19:30termasuk aspek politik, aspek ekonomi,
19:32legal dan sosial,
19:36sosial culture dan lain-lain harus jelas dituangkan dan tertulis.
19:40Dan juga satu hal ya,
19:42ini kan pada akhirnya kan itu ya,
19:47fungsi sebagai pengawas atau data aggregator
19:50yang tujuannya untuk memaksimalkan
19:52potensi ekspor dan potensi devisa,
19:54pada akhirnya kan ada hal-hal yang lebih fundamental
19:58yang harus dipenuhi dan diperbaiki juga.
20:02Jadi kan ibaratnya itu ya,
20:04kalau kita jual sesuatu ya,
20:07berbagai produk ya,
20:08kalau sekarang kan produknya tiga nih,
20:09sebagai apa kayak eksperimen,
20:13kalau kita jual sesuatu,
20:15oke lah pengawasannya bagus,
20:16kemudian intermediary-nya bagus,
20:19fasilitatornya bagus,
20:20pada akhirnya kan produknya harus bagus ya.
20:23Ya, jadi kalau kita memperluas,
20:25misalnya itu ya,
20:26DSI akan berfungsi juga di berbagai produk lain,
20:30misalnya di produk apapun,
20:32agriculture, manufacturing, dan lain-lain.
20:34Pada akhirnya kan produknya harus bagus kan,
20:36harus kompetitif juga gitu.
20:37Ya kan, sumber daya manusianya,
20:41sumber daya teknologinya,
20:43termasuk sumber daya alamnya semua kan,
20:45fundamentalnya kan di situ.
20:46Jadi kita tidak bisa hanya punya ini kan,
20:48punya suatu institusi seperti ini,
20:50yang mencoba memaksimalkan ekspor ya,
20:53dengan menjadi,
20:54sekali lagi,
20:56pengawas,
20:57facilitator,
20:58atau aggregator.
20:59Pada akhirnya kan,
21:01pemerintah Indonesia perlu memikirkan,
21:02bagaimana membuat produk-produk ekspor kita itu,
21:05semakin kompetitif.
21:06Nah, itu call-nya kan di situ.
21:09Oke, berarti ini kompleks ya,
21:11kedepannya seperti apa,
21:11tapi kita akan lihat dulu,
21:12bagaimana penanganan tiga komoditas strategis nasional di bawah DSI.
21:15Terima kasih sudah berbagi insightnya bersama kami di Kompas Bisnis.
21:18Mas Edy,
21:19Edy Junarsin,
21:20Ekonomi Universitas Gajah Mada.
21:22Salam sehat.
21:22Terima kasih.
21:22Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan