Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Pemerintah Jepang akan mengirimkan tiga helikopter ke Indonesia untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Plt Kapusdatin BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan tiga helikopter tersebut dijadwalkan tiba di Indonesia pada 10 September 2026.

Pemerintah Indonesia menyambut baik bantuan tersebut dan akan terus melakukan koordinasi dengan pihak Jepang terkait operasional helikopter.

"Kami menyambut baik kerja sama ini. Pembicaraan awal sudah dilakukan dan tentu akan tetap kita konsolidasikan hingga akhirnya nanti pesawat tersebut tiba di Indonesia dan beroperasi," ujar Berton.

Di tengah persiapan bantuan tersebut, BNPB mencatat peningkatan signifikan titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan.

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Frashiva Rizaldi

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/688380/jepang-siapkan-3-helikopter-bantu-tangani-karhutla-di-indonesia
Transkrip
00:00Bapak perkenalkan, saya Cecilia dari Media NHK Jepang.
00:03Bapak mau bertanya terkait dengan rencana pihak pemerintah Jepang
00:08yang saat ini sudah mengirimkan bantuan untuk membantu penanganan karhutlah
00:13sejauh ini koordinasi dengan pemerintah Indonesia,
00:15termasuk BNPB seperti apa dan nanti akan difokuskan di daerah mana.
00:20Kemudian tadi Bapak juga menyebut di awal bahwa terjadi peningkatan signifikan
00:24terkait dengan jumlah titik panas, khususnya di Kalimantan Barat,
00:29itu boleh disampaikan seberapa besar signifikansinya Pak.
00:33Kemudian yang terakhir terkait dengan api yang di Papua Barat,
00:37Pak sejauh ini sudah ditemukan apakah ini memang disengaja atau seperti apa?
00:43Terima kasih.
00:44Nanti mungkin Pak saya dibantu untuk ada satu part di situ yang mungkin dari lingkungan hidup.
00:52Baik, terkait dengan kerjasama antara Indonesia dengan Jepang
00:57atas bantuan helikopter, tiga helikopter akan segera datang.
01:02Kami mendapat informasinya tanggal 10 baru akan tiba di sini
01:06dan tentu ini adalah kami menyambut baik tentu kerjasama ini.
01:11Dan pembicaraan awal sudah dilakukan tentu
01:13dan ini akan tetap kita konsolidasikan hingga akhirnya nanti
01:19pesawat tersebut tiba di Indonesia dan beroperasi.
01:22Berapa lama?
01:24Di mana tentu ini kami juga akan mendapatkan informasi lebih lanjut
01:27sehingga data yang akuratnya nanti kita update.
01:33Untuk saat ini kami belum dapat informasi lebih jelas.
01:37Terkait dengan masalah karhutlah yang signifikan di titik api,
01:43apa titik panas dan titik api yang ada di Kalimantan Barat
01:48bertambah 3.553 titik panas di Kalimantan Barat
01:56sehingga jumlahnya menjadi, catatan kami dari sebelumnya,
01:59menjadi 7.377 titik panas.
02:03Sedangkan titik api bertambah 88
02:06sehingga jumlahnya menjadi 104 titik api.
02:11Dan ini tentu berpengaruh juga terhadap jarak pandang
02:16yang hanya di bawah 1 kilometer.
02:18Sedangkan di Kalimantan Tengah
02:20titik panasnya berkurang 147 titik
02:26dari yang kemarin kita laporkan
02:28sehingga sekarang ini ada 5.244
02:34namun demikian titik api bertambah sebesar 16 titik api
02:39sehingga saat ini kami laporkan
02:42ada 72 titik api di Kalimantan Tengah.
02:45Di Kalimantan Selatan
02:46titik hotspot atau titik panasnya
02:49berkurang 405 ini signifikan
02:52sehingga sekarang ini menjadi 504 titik panas.
02:56Sedangkan titik apinya sebesar 55
02:59atau naik 3 titik.
03:02Ini yang di Kalimantan memang relatif
03:05sangat apa namanya
03:09titik api maupun titik panas itu
03:12sangat banyak kita ditemukan
03:14dan bertambah maupun berkurang itu
03:16relatif karena bisa besok juga bertambah lagi
03:20yang berkurang.
03:21Jadi ini kami tetap melakukan upaya-upaya
03:23yang maksimum baik melalui
03:25saat gas udara maupun saat gas darat.
03:29terkait dengan yang di Papua Barat
03:32mungkin Bapak bisa menyampaikan tadi
03:34terkait masalah hukum ya?
03:35di lugar penyebabnya apa Pak Pak Pak?
03:38Oh belum ada ke sana Pak Pak.
03:43Terima kasih jadi mohon ujin
03:45untuk yang di Papua Barat
03:47kami memang kami belum sempat
03:49mengirimkan personel di sana
03:50karena personel kami ada di Sorong
03:54jadi karena keterbatasan
03:57transportasi di wilayah Papua
03:59jadi baru tadi pagi kami ke sana berangkat
04:03jadi sampai saat ini belum ada kabar
04:04apalagi pendalaman.
04:06Jadi memang ada keterbatasan
04:09personel maupun juga transportasi
04:11untuk mendalami
04:14untuk mendalami penyebab api tersebut.
04:18Kemudian terkait tadi dengan banyaknya
04:20hotspot maupun firespot
04:23di Kalimantan
04:24kebetulan saya dua minggu ini
04:26baru selesai dari kabar Kalteng dan Kalsel
04:31untuk informasi kabar dan Kalteng
04:34itu terutama kabar
04:37itu untuk mencari potensi OMC
04:44itu sangat kecil
04:46sangat kecil ketika kami berangkat ke sana
04:49jadi sama sekali tidak ada awan
04:51yang berpotensi untuk melakukan OMC
04:53karena kemudian memang
04:56kemungkinan terjadi
04:58perluasan sangat mungkin
05:01karena yang saya sampaikan tadi
05:04bahwa digambut itu
05:06dalam pencegahan
05:09maupun pemadaman
05:10perlu ekstra
05:12effort yang luar biasa
05:14karena memerlukan
05:17jumlah air yang tidak kecil
05:19ketika kita memadamkan api
05:23di tanah mineral
05:24mungkin cukup permukaannya saja
05:26api langsung mati
05:28tapi ketika
05:29di tanah gambut
05:31meskipun area itu sudah
05:33kami buat menjadi bubur tanah
05:36karena basah
05:37ditinggal satu menit saja
05:39itu yang tadi bubur itu sudah
05:41berasap pembali
05:42karena kedalamannya luar biasa
05:44selamat menikmati
05:44selamat menikmati
05:44selamat menikmati
Komentar

Dianjurkan