Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Dua Siswa SMP N 1 Turi Bikin Alat Detektor MBG Basi

Dua siswa SMPN 1 Turi berhasil mengembangkan alat pendeteksi kelaikan makanan yang dirancang untuk membantu memastikan keamanan sajian Makan Bergizi Gratis (MBG). Berbekal empat sensor, mikrokontroler ESP32, dan biaya pembuatan sekitar Rp500.000, alat yang mereka sebut Detektor MBG mampu membedakan makanan segar dan basi hanya dalam hitungan detik sekaligus mengirimkan hasil pemeriksaan secara real-time ke telepon pintar.

#AlatDetektorUntukMBG #PendeteksiMBGBasi #InovasiSiswaSMPN1TURI

Creative/Video Editor: Icha/Michael
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Maraknya kasus keracunan program MBG di berbagai daerah memicu kekhawatiran.
00:05Bagaimana sebenarnya standar keamanan makanan yang dikonsumsi oleh para siswa?
00:09Namun, sebuah solusi brilian justru lahir dari tangan pelajar.
00:14Berawal dari keresahan itu, dua siswa cerdas dari SMP Negeri 1 Turi punya inovasi yang luar biasa.
00:21Abian dan Pradipta, siswa kelas 9, menciptakan alat detektor pintar yang mampu mendeteksi makanan MBG yang sudah basi.
00:29Ya, perkenalkan nama saya Abian Jalevi dari kelas 9B SMP Negeri 1 Turi.
00:35Ya, awal mula kami membuat alat ini adalah kita melihat banyak kasus keracunan MBG di Indonesia.
00:40Sehingga kami berdua berdiskusi untuk membuat alat ini supaya angka keracunan MBG di Indonesia bisa turun dan bisa diminimalisir.
00:49Ini untuk membuat alat ini sekitar 5 bulan karena kita harus mendesain alatnya, merancang sistemnya, dan memprogram.
00:54Kalau awal mendesainnya itu awalnya kita bokehnya agak lebih panjang sama sencornya ada lebih sedikit.
01:00Kemudian itu kita desain sebanyak 3 kali dan hasil finalnya seperti ini.
01:04Sencornya lebih sedikit, sencornya lebih banyak dan bokehnya lebih minimalis.
01:07Ya, perkenalkan nama saya Pradipta Widi Nugroho dari kelas 9B.
01:11Kami melihat banyaknya kasus keracunan MBG di Indonesia.
01:16Jadi kami inisiatif untuk bisa mengurangi angka keracunan itu.
01:23Ya, kita bareng-bareng sama bagi tugas.
01:24Ada yang beli komponen, ada yang beli baterai, beli box gitu.
01:29Kalau dana dari buat ini sekitar 500 ribu.
01:32Ini nggak, kita berdua patungan.
01:34Ya, patungan, kita berdua patungan.
01:36Dari sekolah cuma bantuan dari buani membimbing.
01:38Dari pembimbing aja, ya membantu program gitu, membantu.
01:41Dari sekolah membantu sama buani.
01:43Dari awal, dikit dari bersama-sama dari desain box-nya, dari komponen-nya, memprogramnya bersama sama buani.
01:49Kalau banyak-banyak yang kami gunakan itu ada 4 buah baterai, 1 saklar, 2 buah layar,
01:54sencor MQ3, sencor MQ135, TCS3200, DHT11, dan sebuah kipas buat menjaga sebuah ruangan box yang tetap stabil.
02:03Ya, semuanya kami ada keinginan untuk membuat alat, mengembangkan alat ini,
02:07supaya bisa digunakan di seluruh sekolah Indonesia, supaya angka keraguan MBG bisa turun.
02:12Ya, kita, kami, saya juga suka elektronik.
02:15Ya, saya-sari-sari-sari suka merangkai-rangkai elektronik gini, suka.
02:18Ada pernah kita membuat penyiram tanaman otomatis itu berbasis suatu timer.
02:22Kalau lebih, saya membaca buku.
02:23Macam-macam, membaca buku.
02:25Ya, macam-macam elektro ada, bicara bahasa ada.
02:29Tau, sebangga juga.
02:31Bagaimana reaksi mereka?
02:33Ya, bangga karena punya anak yang bisa buat kayak gini, terus terkenal, gitu.
02:39Bisa dilihat oleh banyak orang, bermanfaat.
02:43Belum sih, masih fokus buat ngembangin detektor MBG ini.
02:48Kira kurang deteksi apa, gitu, yang buat deteksi makanan gitu, detektornya kurang apa.
02:55Selamat menikmati.
02:57Selamat menikmati.
02:57Selamat menikmati.
Komentar

Dianjurkan