Anatomi Kedunguan Struktural: Meruntuhkan Fiksi Penguasa dan Ilusi Totalitarianisme
by Ipung Purwandono
Indonesia saat ini sedang berada dalam fase pembusukan kekuasaan sistemik, di mana rezim secara sadar memilih tindakan tidak rasional atau "kedunguan struktural" demi mempertahankan eksistensi politiknya. Di tengah klaim ruang fiskal yang sempit, negara justru mempertontonkan kontradiksi tajam dengan memberikan kenaikan tunjangan fantastis bagi aparat keamanan sementara membiarkan gaji guru dan PNS membeku. Kritik dari para akademisi dan jurnalis tidak lagi dijawab dengan argumen, melainkan dengan represi hukum dan pelabelan ofensif seperti "Londo Ireng" untuk membungkam kebenaran.
Penguasa kini sedang membangun "Fiksi yang Konsisten"—sebuah dunia alternatif yang menggantikan kenyataan pahit dengan narasi kemakmuran semu guna menciptakan apatisme publik. Dengan dukungan kabinet kartel yang gemuk dan tidak efisien, negara terjebak dalam budaya Yes-Men yang mematikan umpan balik dan akal sehat. Namun, sejarah memperingatkan bahwa pemborosan anggaran dan penyumbatan aspirasi rakyat akan memicu efek domino: mulai dari kehancuran daya beli hingga ledakan sosial yang tidak terelakkan. Satu-satunya cara untuk membalikkan arah sejarah adalah melalui pembangkangan sipil berbasis fakta dan penguatan solidaritas horizontal untuk meruntuhkan fondasi kebohongan digital rezim.
Komentar