Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 hari yang lalu
RIMPANG DI ATAS ASPAL: ABSURDITAS "NJEPRUT" DAN ASAMBLASE PERLAWANAN KORIDOR BANDUNG–CIMAHI (1990–1998)

Perlawanan politik di Bandung pasca-1996 bukan sekadar reaksi massa, melainkan sebuah manifestasi rizomatik yang radikal, di mana struktur hierarkis yang dihancurkan oleh rezim Orde Baru bermutasi menjadi jaringan "bawah tanah" berbaju komunitas
. Dengan mengadopsi taktik deteritorialisasi, para aktivis melepas atribut formal dan menyatu ke dalam ekosistem subkultur, seni, dan ruang hidup rakyat, menciptakan target yang tidak terlihat bagi radar intelijen. Di tengah tekanan ini, lahir estetika "Njeprut"—sebuah filosofi ketegangan maksimal ibarat karet yang ditarik hingga milidetik sebelum putus—yang menggunakan absurditas untuk meruntuhkan wibawa penguasa
.
Puncak asimetris ini meledak di Akses Pasar Cimindi, di mana infrastruktur laten LBH Bandung bertemu dengan spontanitas ribuan buruh yang turun dari bus jemputan serta aksi mogok massal sopir angkot. Tanpa komando pusat yang kaku, elemen-elemen heterogen dari ASTI (STSI), jaringan klandestin Priston dan Ateng, hingga massa buruh Cimahi menyatu dalam sebuah asamblase kilat yang melumpuhkan urat nadi ekonomi kota. Meskipun para aktornya kini menyebar—dari jalanan Bandung hingga Norwegia—memori taktis ini tetap tersimpan dalam fase dormansi aktif, sebuah rimpang yang terus merembes di bawah tanah, siap untuk menyengat kembali kapan pun ruang kebebasan mencoba dikunci.
Komentar
Purwandono
Kreator
Kedaulatan Klandestin: Anatomi Perlawanan Asimetris, Spontanitas Buruh, dan Sabotase Infrastruktur Laten LBH di Jalur Api Cibeureum-Cimindi