KOLONISASI BANGSA SENDIRI: PARADOKS KEMERDEKAAN DI BAWAH HEGEMONI KAPITALISME BERSENJATA DAN LOGIKA VENUSIAN
oleh: Ipung Purwandono
Kemerdekaan Indonesia yang dirayakan setiap Agustus kini terjebak dalam sebuah tanda tanya besar: "Merdeka untuk siapa?"
. Di balik seremoni pengibaran bendera, muncul fenomena "bendera setengah tiang" yang bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan sebuah protes senyap dan simbol duka atas penderitaan rakyat akibat korupsi serta ketimpangan keadilan yang semakin menganga. Rakyat sedang mengartikulasikan kekecewaan yang terpendam melalui simbol-simbol perlawanan visual karena esensi kemerdekaan terasa semakin menjauh dari realitas keseharian masyarakat kecil.
Krisis ini berakar pada lahirnya "Kapitalisme Bersenjata" (Armed Capitalism), sebuah sistem di mana senjata dan modal melebur menjadi satu mesin penindas yang efektif. Institusi keamanan yang seharusnya membela tanah air, kini mengalami distorsi fungsi; mereka hadir di wilayah konflik agraria seperti Rempang dan Wadas bukan untuk melindungi rakyat, melainkan untuk memastikan proyek-proyek oligarki dan modal swasta berjalan lancar. Dalam struktur ini, negara menjalankan logika "Venusian"—sebuah metafora untuk kekuasaan yang bertindak layaknya makhluk asing yang datang hanya untuk melakukan ekstraksi sumber daya secara brutal tanpa mempedulikan kehancuran ekosistem lokal atau penderitaan penduduk asli.
Secara sistematis, rezim ini memosisikan keadilan sebagai "pos pengeluaran" atau liabilitas yang tidak menghasilkan keuntungan materiil. Dalam kalkulasi ekonomi-politik yang dingin, melakukan represi, kriminalisasi, dan penggunaan gas air mata dianggap sebagai "investasi yang jauh lebih murah" dibandingkan harus memberikan keadilan agraria atau upah layak kepada rakyatAkibatnya, hukum berubah menjadi komoditas yang hanya bisa "dibeli" oleh mereka yang memiliki modal besar
.
Pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan penguasa hanyalah sebuah halusinasi statistik yang berbanding terbalik dengan penyusutan ruang hidup warga; apa yang disebut "pertumbuhan" bagi elit sering kali berarti pembabatan hutan adat, penggusuran petani, dan pencemaran lingkungan.
Selama instrumen negara masih digunakan untuk merampas tanah rakyat atas nama investasi, maka kemerdekaan sejati belum tercapai. Perjuangan saat ini bukan lagi melawan penjajah asing, melainkan melawan penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri terhadap rakyatnya, di mana merdeka berarti bangkitnya kesadaran untuk melawan segala bentuk penindasan struktural.
Komentar