Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Pemerintah tengah mengkaji pembatasan subsidi BBM jenis Pertalite bagi masyarakat dari kelompok ekonomi atas.

Kebijakan tersebut diarahkan agar subsidi energi lebih tepat sasaran dan tidak lagi dinikmati masyarakat yang dinilai mampu.

Menteri Keuangan Purbaya menyebut kelompok masyarakat yang menjadi sasaran pembatasan antara lain kelompok ekonomi atas, khususnya desil 9 dan 10.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan terkait pola subsidi agar tepat sasaran.

"Selama ini kan kita tahu teman-teman sebagian subsidi tidak tepat sasaran. Masa orang kaya harus kita subsidi," kata Bahlil, Selasa (11/8/2026).

Dengan demikian, pemerintah saat ini mengarahkan kebijakan subsidi energi pada prinsip ketepatan sasaran.

Video Editor: Novaltri

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/685039/full-pernyataan-bahlil-dan-purbaya-soal-pertalite-masa-orang-kaya-harus-kita-subsidi
Transkrip
00:01Implementasi pembatasan subsidi Pertalite untuk yang tingkat atas mungkin yang kuatir 9-10
00:12supaya nanti bukan sekarang ya berapa bulan kemudian kita bisa kurangin secara bertahap.
00:19Sedang kita pelajari sistemnya, saya juga sudah sempat melihat sistem Pertamina sudah cukup baik sehingga siap bisa dilaksanakan.
00:26Itu belum tahu, tapi kita siapkan sistemnya seperti apa dengan masukan dari Pak Bahlil tadi.
00:34Mungkin Pak Bapak menambahin.
00:36Pak, kita ini kalau Kementerian Keuangan sama Kementerian SDM itu kan dua Kementerian yang mempunyai hubungan kerja erat gitu ya.
00:48Saya di bagian PNBP-nya, kemudian Pak Menteri di bagian peningkatan pendapatannya.
00:53Tadi kita membahas juga terhadap pola subsidi tepat sasaran.
00:59Selama ini kan kita tahu teman-teman, sebagian subsidi tidak tepat sasaran.
01:04Masa orang kaya harus kita subsidi.
01:07Contoh Pertalite, desil 9-10 masih kena, masih dapat subsidi.
01:15Nah ini yang kita mulai bahas, sistemnya segala macam.
01:18Supaya apa, angka subsidi yang ratusan triliun ini betul-betul diberikan kepada saudara-saudara kita yang berhak menerimanya.
01:28Dan ini kan sejalan dengan apa yang diarahkan oleh Bapak Presiden.
01:32Nah karena itu kami melakukan rapat kondisi dengan Pak Menteri.
01:35Seperti itu.
01:36Hematannya berapa Pak kira-kira dengan?
01:38Belum, belum.
01:39Belum, lagi ada eksersis aja.
01:43Semuanya lagi ada eksersis.
01:44Kita pingin semua subsidi dari sektor migas, itu tepat sasaran.
01:49Masuk dengan pembatasan untuk pengguna sepeda motor juga Pak Pertalite, nanti?
01:53Enggak, sepeda motor enggak dibatasi.
01:54Berarti enggak ada perubahan.
01:56Hati-hati lho, kamu jadi inju dulu loh, hati-hati.
01:59Makasih.
02:14Tadi saya rapat sama Pak Menteri Keuangan, enggak ada pembahasan itu.
02:18Kita enggak ngerti itu.
02:19Kita enggak ngerti itu.
02:21Jangan jelas begini, tugas kami sebagai Menteri itu adalah pembantu Presiden.
02:25Yang namanya pembantu Presiden, ia bekerja sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Pak Presiden,
02:31dan sesuai dengan apa yang diatur dalam undang-undang.
02:34Persoalan hasil terhadap Resafel, itu hak progretif Bapak Presiden.
02:39Kita serahkan semuanya kepada Bapak Presiden yang mempunyai hak progretif.
02:44Kita di bawah ini enggak boleh gerakan tambahan.
02:46Jangan berpikir, apalagi bertindak melampaui batas kewenangan yang diberikan.
02:52Jadi kami tadi fokus memastikan bahwa APBN tahun ini aman.
02:58Karena beliau memberi kontribusi yang besar untuk PNBP.
03:01Jadi kita diskusi di situ aja dan pengendalian subsidi sebagian sehingga tidak melebar kemana-mana dan bisa terkendali.
03:09Jadi itu, walaupun harga minyak dunia cenderung terkendali, walaupun masih naik turun ya, tapi cenderung terkendali ya.
03:14Kita harus berpikir terus dan menjaga dan memastikan APBN kita aman sampai akhir tahun.
03:20Berarti penjualan BBM subsidi-nya mau dibatasi sesuai dengan, maksudnya, pembeli yang tidak layak, nanti tidak boleh, atau skema pembatasannya
03:28seperti yang bisa?
03:29Nanti kan kita sedang uji sistem, saya sedang melihat sistemnya.
03:35Mereka bisa aja yang desa 9-10, enggak bisa beli yang bersubsidi.
03:40Dia mesti bayar harga pertama atau yang lain.
03:43Jadi dengan pembeliannya ya Pak Mestri, dibatasnya sesuai dengan, misalkan di ekonomi sudah tidak layak, tidak boleh beli, jadi...
03:51Kira-kira seperti itu.
03:53Jadi gini, jadi gini Mas, nanti menyangkut dengan pembatasan itu, nanti kan ada jenis kenderaan.
03:59Ya, jangan pakai BMW, pakai Mersi, masa pakai minyak subsidi.
04:06Itu yang dimaksudkan oleh Pak Menteri tadi.
04:09Jadi teman-teman media, tolong jangan dipelintir lagi.
04:12Ya, ini penting saya luruskan.
04:14Yang kedua, saya sama Pak Menteri bersepakat bahwa harga ICP dunia yang tidak menentu sampai dengan sekarang,
04:22kami dua punya komitmen atas dasar perintah Pak Presiden bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik.
04:29Ini yang paling penting.
04:31Dan kami juga merumuskan ketika harga dunia itu turun,
04:35maka harga yang non-subsidi pun bisa melakukan penyusuaian dengan harga dunia.
04:39Kalau turun ya turun, kalau naik ya terkoreksi juga untuk kenaikan.
04:43Sampai ke teman-teman ya.
04:5523 persen lebih.
04:56Itu sampai awal Agustus?
04:58Iya, sampai awal Agustus.
05:0031 yang tanya laporannya.
05:0331 Juli.
05:04Sekarang berapa Agustus?
05:05Tanggal 11.
05:07Nah, minggu lalu, enggak minggu lalu kalau nggak salah.
05:10Seperti itu.
05:11Jadi, si...
05:15Angka jumlah minggu lalu.
05:18Pak Bimo lapor kemarin, dia bawa angka akhir minggu lalu kira-kira.
05:24Jadi, masih relatif aman.
05:2623 persen lebih masih pertumbuhan.
05:29Pak BIMO lapor kemarin, dia bawa angka akhir minggu lalu kira-kira gitu.
05:37Harusnya lebih, kita dorong-dorong Pak, bahkan bisa lebih dari 100 persen.
05:41Insya Allah, target PNBP dari sektor Minerba maupun dari Migas di akhir tahun,
05:49pasti akan lebih.
05:50Sudah.
05:51Saya pastikan, pasti akan lebih.
05:53Oke, komentar ya.
05:54Oke ya.
05:56Makasih ya.
05:56Terima kasih ya, Pak.
05:57Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan