Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - BPS mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Mei 2026 mencapai sekitar 7,2 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,65%.

Di tengah penurunan angka pengangguran nasional, jumlah lulusan perguruan tinggi yang belum terserap dunia kerja masih menjadi perhatian.

Sekitar 1,03 juta lulusan perguruan tinggi tercatat menganggur. Kondisi ini memunculkan pertanyaan: apakah persoalannya terletak pada ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri atau justru karena lapangan kerja produktif yang masih terbatas?

Baca Juga FULL! Pakar Forensik & Hukum Pidana Kupas Ekshumasi Sutrimo, Bisa Ungkap Kematian? - KOMPAS PAGI di https://www.kompas.tv/video/684976/full-pakar-forensik-hukum-pidana-kupas-ekshumasi-sutrimo-bisa-ungkap-kematian-kompas-pagi

Dalam dialog Kompas Bisnis, Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurrahman menjelaskan persoalan pengangguran terdidik tidak semata-mata menunjukkan kegagalan sistem pendidikan.

Menurutnya, Indonesia menghadapi persoalan struktural antara peningkatan kualitas pendidikan dan kemampuan ekonomi menciptakan pekerjaan formal, produktif, berupah layak, serta sesuai kompetensi. Pemerintah dinilai perlu mendorong penciptaan lapangan kerja melalui manufaktur, agroindustri, ekonomi digital, ekonomi kreatif, pariwisata, dan sektor jasa modern.

Produser: Prayogi Haro

Editor: Joshua

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/684981/full-1-03-juta-sarjana-menganggur-di-mei-2026-ekonom-indef-ungkap-lapangan-kerja-kompas-pagi
Transkrip
00:03Intro
00:10Saudara Anda menyaksikan Kompas Bisnis bersama saya Nanda Aprilia.
00:15BPS mencatat jumlah pengangguran pada Mei 2026 menurun jika dibandingkan dengan Februari 2026.
00:24Tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen turun dibandingkan Februari yang berada di angka 4,68 persen.
00:34Pada Mei 2026 jumlah angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang.
00:40Dari jumlah itu saudara 148,19 juta orang bekerja dan 7,22 juta orang menganggur.
00:48Dibanding dengan Februari 2026 jumlah penduduk bekerja bertambah sebanyak 522,000 orang.
00:57Kemudian dari angkatan kerja tersebut sebanyak 148,19 juta orang diantaranya bekerja.
01:10Jumlah penduduk yang bekerja ini bertambah sebanyak 522,000 orang dibandingkan kondisi di bulan Februari 2026.
01:24Di sisi lain angkatan kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja menjadi pengangguran
01:30yaitu sebanyak 7,22 juta orang atau turun sekitar 24,000 orang dibandingkan bulan Februari tahun 2026.
01:49Saudara data dari BPS ini menunjukkan meskipun dari Agustus 2025 trennya menurun
01:55namun tingkat pengangguran terbuka tetap tinggi dan konsisten di atas 7 juta orang.
02:01Pada Februari dan juga Agustus 2025 masing-masing berjumlah 7,28 juta dan 7,46 juta orang.
02:09Sementara pada Februari dan Mei 2026 berjumlah 7,24 juta dan 7,22 juta orang atau berkurang 24,000 orang.
02:23Sementara jumlah sarjana yang menganggur dari tahun ke tahun angkanya juga tetap tinggi.
02:29Terakhir yang tercatat pada Mei 2026 jumlah sarjana menganggur sebesar 14,3 persen
02:35atau 1,3 juta orang dari total tingkat pengangguran terbuka.
02:40Persentase dan jumlah yang hampir sama juga tampak di bulan Februari 2026.
02:45Padahal saudara Agustus 2025 angka sarjana menganggur sempat turun ke 904 ribu
02:51dari yang sebelumnya pada Februari 2025 di angka 1,1 juta orang
02:55atau 13,9 persen dari total pengangguran nasional.
03:04Struktur Ketenagai Kerjaan Indonesia
03:07Per Mei 2026 yang juga dirilis oleh BPS menunjukkan jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 148,19 juta orang.
03:16Angka ini naik 522 ribu orang dibandingkan dengan Februari 2026.
03:21Di antaranya saudara pekerja penuh berjumlah 98,98 juta orang naik 391 ribu orang.
03:29Pekerja paru waktu 38,42 juta orang naik 72 ribu orang.
03:35Dan setengah pengangguran sebesar 10,79 juta orang atau naik 59 ribu orang.
03:45Saudara per Mei 2026 sebanyak 1,3 juta orang lulusan perguruan tinggi atau sarjana menganggur.
03:53Mengapa kemudian grafik pengangguran terdidik terus tinggi?
03:56Apa yang sebenarnya salah?
03:58Lapangan kerja yang kurangkah?
04:00Penyerapan yang minimkah?
04:02Atau perkara ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri saat ini?
04:06Kita bahas pagi ini di Kompas Bisnis bersama dengan M. Rizal Taufiku Rahman,
04:11Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan Indef.
04:14Selamat pagi, Mas Rizal. Apa kabar?
04:17Selamat pagi, Mbak Nanda.
04:19Oke, Mas. Kita melihat angka atau survei dari BPS per Mei 2026 kemarin,
04:25meskipun untuk pengangguran ini menurun ya dibandingkan dengan Februari 2026.
04:30Nah, jadi soal angka pengangguran sarjana yang mencapai lebih dari 1 juta orang ini, Mas Rizal.
04:36Anda melihat seperti apa?
04:37Apakah ini sudah alarm keras bagi perekonomian dan juga sistem pendidikan tinggi di Indonesia?
04:42Mungkin persoalannya lebih luas ya daripada itu, Mbak.
04:45Jadi tidak sekedar antara perekonomian gitu ya.
04:49Tetapi ini sebenarnya cambukan ya antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja ya.
04:55Memang ada masalah link and match di sini,
04:58tetapi angka pengangguran yang lulusan perguahan tinggi ini kan tadi sudah disampaikan ya 1,03 juta.
05:07Dan ini menunjukkan adanya persoalan struktural ekonomi dari sisi penciptaan lapangan kerja ya.
05:13Jadi katakanlah tadi Mei 2026 ya,
05:16lulusan D4 sampai S3 masih menganggur gitu ya,
05:21bahkan di 1,03 juta ya.
05:23Meskipun tingkat penganggurannya terbuka,
05:25nasionalnya turun ya di 4,65 persen.
05:28Artinya apa?
05:30Pasokan tenaga kerja terdidik itu bertambah lebih cepat dibandingkan
05:35dengan kemampuan ekonomi menciptakan pekerjaan formal,
05:38kemudian juga produktif,
05:40kemudian berkeahlian tinggi ya.
05:44Jadi struktur ekonomi kita saat ini masih banyak bertumpu pada sektor
05:48dengan produktivitas dan kebutuhan skill yang relatif rendah.
05:54Untuk itu masalahnya bukan hanya apakah kampus mampu mencetak lulusan sesuai kebutuhan industri,
06:01katakanlah atau lapangan usaha gitu ya,
06:04tapi juga apakah industri dan struktur ekonomi kita mampu menyediakan pekerjaan
06:09yang sesuai dengan peningkatan kualitas pendidikan masyarakat gitu.
06:12Jadi pengangguran sarjana katakanlah ya tidak boleh hanya dibaca sebagai kegagalan pendidikan gitu ya.
06:18Tetapi ini adalah alarm atau juga indikator bahwa transformasi ekonomi
06:24dan penciptaan pekerjaan yang berkualitas belum berjalan cukup cepat gitu Mbak.
06:30Oke, saya pertegas di sini Mas Rizal.
06:32Jadi persoalannya adalah struktural antara dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja,
06:38ini tidak sesuai? Atau lebih dari itu?
06:41Ya, salah satunya itu gitu.
06:43Karena transport atau struktur ekonomi kita itu masih tumpunya pada sektor yang produktivitasnya
06:48dan kebutuhan skillnya relatif rendah gitu.
06:50Jadi lulusan sarjana dari perguahan tinggi yang relatif memiliki skill yang tinggi itu tidak terserat gitu.
07:00Bahkan kampus itu sudah mencetak gitu ya.
07:04Kemampuan skill lulusannya hanya saja kesesuaian dengan kebutuhan industri masih jauh dari harapan.
07:11Nah, ini juga menjadi alarm gitu bahwa industri dan struktur ekonomi kita itu
07:16hanya mampu menyediakan pekerjaan yang sesuai dengan peningkatan kualitas pendidikan masyarakat
07:24yang relatif rendah tadi gitu.
07:26Oke, ini juga sebenarnya ada sorotan dari Dewan Perwakilan Rakyat
07:31mengenai angka pengangguran khususnya untuk lulusan perguruan tinggi.
07:34Tapi kita tahan dulu Mas Rizal, kita akan kembali usai jeda.
07:38Saudara, tetaplah bersama kami di Kompas Bisnis.
08:03Kembali lagi di Kompas Bisnis, Saudara masih bersama dengan kami Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan Indef,
08:08Mas Rizal menyambung yang tadi bahwa DPR tampaknya juga menyoroti terkait dengan angka tingginya
08:15lulusan perguruan tinggi yang menganggur.
08:17Katanya sih tidak sesuaian keterampilan antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri.
08:22Tadi juga salah satu poin yang disampaikan oleh Mas Rizal.
08:25Lalu pertanyaannya ke depannya harus sih seperti apa?
08:28Solusinya?
08:30Ya, yang pasti tentu kalau bicara mismatch memang iya ya.
08:36Karena mismatchnya itu ada double masalahnya ya.
08:39Pertama mismatch antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan perusahaan.
08:43Yang kedua adalah mismatch yang lebih fundamental antara ekspansi pendidikan,
08:48pendidikan tinggi terutama dengan struktur ekonomi yang belum cukup banyak
08:51menciptakan pekerjaan berbasis teknologi, katakanlah manufaktur bernilai tambah tinggi,
08:58ya riset, jasa modern, dan juga profesi berproduktivitas tinggi.
09:01Jadi kalau kemudian bagaimana situasi ini dan apa yang harus dilakukan gitu ya,
09:07tentu yang harus dilakukan adalah tentu prioritas utamanya adalah
09:12penciptaan lapangan kerja formal dan produktif gitu.
09:15Dan pemerintah mesti membangun atau juga mendorong employment lead growth gitu ya
09:21dengan memperkuat sektor-sektor yang mampu menciptakan banyak pekerjaan
09:26sekaligus juga meningkatkan produktivitas.
09:29Termasuk juga misalnya sektor-sektor industri manufaktur yang orientasi ekspor,
09:33kemudian agroindustri, katakanlah, atau juga ekonomi digital, ekonomi kreatif,
09:40katakanlah pariwisata, jasa-jasa modern yang kemudian berbasis pada teknologi,
09:45termasuk juga industri-industri yang beyond pada future teknologi.
09:50Yang notabene kita bisa melihat dari jumlah sarjana yang dicetak oleh pergeruan tinggi.
10:03Jadi tentu di kondisi itu juga harus ada insentif dari pemerintah atas dunia usaha,
10:10yang berbasis pada kinerja penciptaan pekerjaan.
10:13Terutama sektor-sektor yang bisa menyerap tenaga kerja ini gitu.
10:17Karena problemnya bukan hanya sekedar investasi gitu ya,
10:22tetapi bagaimana investasi real itu mampu menciptakan lapangan kerja
10:26dan menyerap tenaga kerja yang berbasis pada lulusan pergeruan tinggi itu gitu.
10:31Oke, berarti salah satunya adalah dengan menciptakan lapangan kerja formal.
10:35Tapi begini, Mas Rizal, apakah justru kondisi ini juga bisa diartikan dengan buktinya atau sempitnya lapangan kerja formal?
10:41Karena lagi-lagi, kita melihat juga tidak sedikit bah lulusan pergeruan tinggi
10:46begitu lulus pemilih untuk pekerja informal?
10:50Iya, memang sebetulnya indikator yang penting adalah penciptaan lapangan kerja formal.
10:56Yang ini memang kondisinya belum memadai, betul ya.
10:59Jadi hampir 59% atau 60% pekerja Indonesia itu sekarang posisinya di sektor informal.
11:05Jadi struktur tenaga kerja kita itu 60% sektor informal.
11:09Nah, angka ini juga menunjukkan bahwa pasar kerja kita memang hanya baru mampu menyerap tenaga kerja yang informal.
11:16Ya, mayoritas.
11:17Belum sepenuhnya ke dalam pekerjaan yang formal.
11:20Yang produktif dan kemudian memberikan perlindungan dan pendapatan yang memadai.
11:25Dalam kondisi ini tentu banyak lulusan pergeruan tinggi akhirnya memilih apa?
11:29Pekerjaan informal bukan karena pilihan utama.
11:33Karena tidak memiliki alternatif pekerjaan formal yang sesuai, yang bisa menerimanya.
11:38Jadi kalau kita lihat secara angka, mereka memang dianggap bekerja,
11:43tapi dari sisi kualitas pasar kerja belum tentu terjadi perbaikan.
11:48Nah, untuk itu maka pemerintah tidak cukup hanya menilai atau melihat penurunan tingkat pengangkatan,
11:56tapi harus memperhatikan juga kualitas pekerjaan.
11:59Apakah pekerjaannya produktif, kemudian formal, kemudian memiliki kepastian pendapatan yang lebih baik,
12:07yang kemudian itu mendorong perbaikan atau kesejahteraan, perlindungan sosial,
12:12dan sesuai dengan kompetensi tenaga kerja.
12:14Itu yang menjadi penting.
12:17Ya, artinya ini bukan cuma soal data saja yang menunjukkan,
12:21tapi ini lebih kompleks dibanding soal data ya, Mas Rizal.
12:25Jadi kalau misalkan melihat banyak lulusan juga yang mungkin jadi terpaksa untuk bekerja di bawah kualifikasi akademiknya,
12:33seperti menjadi pekerja pasif demi bertahan hidup saat ini.
12:38Jika fenomena ini terus berlanjut ke depannya, Mas Rizal, apakah ini bahaya?
12:44Ya, saya kira pemerintah mesti ini menjadikan alarm gitu ya.
12:49Dan ini tentu kalau bicara ingin menjadi negara yang kuat, yang maju,
12:55maka sebenarnya basicnya ada di tenaga kerja.
12:59Tenaga kerja yang produktif, yang punya skill tinggi,
13:02yang kemudian siap melakukan penyesuaian dan perubahan-perubahan dengan teknologi.
13:09Kalau misalnya ya, dengan adanya situasi seperti ini, banyak orang bekerja di sektor informal.
13:16Katakanlah di gig ekonomi gitu ya.
13:18Gig ekonomi itu kan pada dasarnya adalah bantalan ya.
13:22Short term harusnya ya.
13:23Dan menjadi lapangan kerja formal terbatas.
13:26Tapi persoalannya muncul adalah ketika pekerjaan itu bukan lagi menjadi jembatan sementara nih.
13:32Tapi berubah menjadi kondisi permanen bagi tenaga kerja terdidik.
13:37Jadi kalau kemudian lulusan perguan tinggi terlalu lama bekerja di bawah kompetensinya,
13:45maka akan terjadi desekiling dan human capital depreciation.
13:51Pengetahuan dan keterampilannya yang diperoleh selama pendidikan ya dengan tentu 4 tahun ya digunakan
13:57kira-kira optimal, pengalaman profesional tidak terbentuk,
14:01jalur peningkatan produktivitas juga dan juga pendapatan juga terlambat bahkan ya tidak meningkat gitu ya.
14:09Dan ini dalam jangka panjang tentu akan menjadi wage caring gitu ya.
14:13Atau pendapatan pekerja yang terus-menerus ya tertinggal bahkan ya kalah gitu ya sejak awal masuk pekerjaan.
14:21Sehingga memiliki produktivitas yang rendah.
14:23Nah untuk itu, ini dampaknya tentu bukan hanya pada individu.
14:27Tetapi tentu secara agregat negara dan rumah tangga juga akan mengeluarkan investasi yang besar tadi untuk pendidikan.
14:35Tetapi tidak memberikan return yang melalui perbaikan pendapatan untuk memperbaiki kesejahteraan.
14:41Nah ini kan tentu beresiko ya kalau kemudian pemerintah tidak segera melakukan pengambilan kebijakan untuk memperbaiki ini.
14:51Ya karena ini akan beresiko terhadap apa?
14:54Kondisi di mana tingkat pendidikan meningkat tetapi produktivitas nasional tidak meningkat.
14:59Ya tidak seimbang dan tidak sebanding dengan peningkatan skillnya gitu.
15:04Oke, kalau kita bergeser sedikit mas tapi ini masih ada benang merahnya begitu ya.
15:09Apa yang bisa dilakukan pelaku usaha untuk di kondisi seperti ini?
15:12Karena di sisi lain kan kondisi saat ini juga banyak membuat pelaku bisnis memilih untuk tidak melakukan ekspansi yang akhirnya
15:18menunda perekrutan.
15:20Bahkan justru memilih untuk merumahkan pegawainya.
15:24Iya memang tidak bisa dipaksa ya terus menerus merekrut kondisi permintaan seperti ini ya untuk petenaga pelaku usaha ini.
15:31Karena apa?
15:32Biaya produksi ya apalagi ketidakpastian bisnis ini juga belum mendukung ekspansi.
15:37Dari dalam kondisi tekanan margin dan lemahnya permintaan ya perusahaan tentu akan mengambil keputusan rasional dengan meningkatkan efisiensi ya menunda
15:48investasi dan juga mengurangi tenaga kerja jika diperlukan gitu.
15:52Nah untuk itu maka tanggung jawab di dalam penciptaan lapangan kerja tidak hanya dibebankan kepada dunia usaha.
16:00Maka pemerintah tentu harus hadir dan perlu menciptakan lingkungan yang membuat ekspansi bisnis menjadi lebih menarik.
16:10Kemudian juga lebih murah.
16:11Nah insentif fiskal apa yang harus dilakukan oleh pemerintah tentu secara spesifik ya harus memberikan apa namanya penciptaan net formal
16:25jobs gitu ya kepada perusahaan.
16:27Kemudian merekrut fresh graduate, membuka program katakanlah apa ya namanya itu insentif-insentif bagi perusahaan yang memang memprioritaskan untuk meningkatkan
16:40produktivitas.
16:41Kemudian meningkatkan investasi pada sektor mempunyai multiflyer efek yang tinggi ya terutama di dalam menyerap tenaga kerja.
16:48Terutama industri-industri manufaktur yang sektor produktif gitu.
16:55Jadi ukuran keberhasilan investasi ini perlu kita rubah gitu ya.
16:59Jangan melihat hanya berapa besar atau berapa triliun investasi masuk.
17:04Tetapi justru harus melihat berapa pekerjaan produktif yang kemudian di create dan juga berupah layak yang dihasilkan dari investasi itu.
17:14Itu saya kira yang penting.
17:16Oke berarti dengan kondisi yang disebutkan dan juga justru dijelaskan oleh Mas Rizal tadi.
17:22Hal apa sih yang menurut Mas Rizal ini mendesak dan seharusnya ini bisa menjadi prioritas ya untuk mengatasi masalah-masalah
17:28tadi.
17:28Menciptakan lapangan kerjakah intensif bagi dunia usahakah atau apa Mas?
17:34Ya saya kira karena masalah utamanya kan Indonesia bukan kekurangan lulusan ya.
17:39Yang sesuai dengan kebutuhan industri tapi kekurangan pekerjaan produktif yang mampu menyerap lulusan tersebut.
17:48Artinya apa? Ya pemerintah harus mendorong industri-industri manufaktur yang bisa menyerap tenaga kerja yang sesuai dengan kompetensi dari lulusan
17:59perduan tinggi.
18:01Artinya apa? Pasar kerja yang melalui kementerian tenaga kerja tentu saja gitu ya harus...
18:12Mas Rizal, suaranya terputus?
18:15Mismatch di apa namanya di pasar kerja tapi juga mismatch di keahlian.
18:20Itu saya kira. Jadi target kebijakan ke depan tidak cukup menurunkan angka pengangguran.
18:25Yang penting adalah menciptakan pekerjaan formal, yang produktif, yang berupa layak, dan sesuai dengan kompetensi tenaga kerja.
18:33Sebab tentu kualitas pembangunan tidak diukur dari berapa banyak orang yang bekerja tetapi justru seberapa produktif pekerjaan tersebut dan seberapa
18:42besar mampu meningkatkan kesejahteraan dan tentu memberikan peningkatan produk domestik bruto terhadap ekonomi nasional gitu.
18:51Oke saya tangkap poin yang disampaikan oleh Mas Rizal tentunya ini menjadi PR ya untuk pemerintah untuk bisa hadir tidak
18:57hanya memperhatikan soal data tapi ini lebih kompleks lagi.
19:00Carikan solusi. Terima kasih sudah berbagi inisiatif bersama kami di Kompas Bisnis, Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan Indef, Rizal
19:07Taufiqur Rahman.
19:08Selamat pagi Mas.
19:09Selamat pagi, terima kasih.
19:13Saudara, tetaplah bersama kami di Sapa Indonesia Pagi.
Komentar

Dianjurkan