- 2 jam yang lalu
- #businesstalkkompastv
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pemasangan pagar tinggi di sejumlah mal di Jakarta dan Surabaya menuai teka-teki. Di satu sisi, langkah ini disebut sebagai bentuk kehati-hatian pengusaha.
Di sisi lain, Gubernur Jakarta Pramono Anung menilai pemagaran berlebihan, sedangkan Penasihat Khusus Presiden bidang Komunikasi Hasan Nasbi menyinggung soal fear-mongering padahal menurutnya negara dalam keadaan baik.
Muncul pertanyaan apakah pemasangan pagar di mal soal isu keamanan biasa atau isu yang mencemaskan?
Simak #BusinessTalkKompasTV episode "Mal Pasang-Bongkar Pagar Tinggi, Siapa Cemas?" berikut ini.
Baca Juga Pagar Besi Mal Dibongkar, Pramono: Jakarta Aman dan Nyaman di https://www.kompas.tv/nasional/683895/pagar-besi-mal-dibongkar-pramono-jakarta-aman-dan-nyaman
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/683958/mal-pasang-pagar-tinggi-soal-keamanan-atau-isu-mencemaskan-business-talk
Di sisi lain, Gubernur Jakarta Pramono Anung menilai pemagaran berlebihan, sedangkan Penasihat Khusus Presiden bidang Komunikasi Hasan Nasbi menyinggung soal fear-mongering padahal menurutnya negara dalam keadaan baik.
Muncul pertanyaan apakah pemasangan pagar di mal soal isu keamanan biasa atau isu yang mencemaskan?
Simak #BusinessTalkKompasTV episode "Mal Pasang-Bongkar Pagar Tinggi, Siapa Cemas?" berikut ini.
Baca Juga Pagar Besi Mal Dibongkar, Pramono: Jakarta Aman dan Nyaman di https://www.kompas.tv/nasional/683895/pagar-besi-mal-dibongkar-pramono-jakarta-aman-dan-nyaman
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/683958/mal-pasang-pagar-tinggi-soal-keamanan-atau-isu-mencemaskan-business-talk
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:07Intro
00:07Saudara, pemandangan mencolok tampak di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta belakangan ini.
00:14Sebelum bulan Agustus, mau-mau besar kompak bangun pagar tinggi memicu tak hanya rasa penasaran tetapi juga merebak spekulasi.
00:23Di media sosial, ramai-ramai netizen bertanya, ada apa gerangan sampai-sampai mal dipagari tinggi-tinggi?
00:32Tak hanya di Jakarta dan sekitarnya, nyatanya sejumlah mal di Surabaya juga membangun pagar tinggi.
00:39Warga lantas menduga-duga apakah mal dipagari tinggi-tinggi karena pengelola mal khawatir bakal ada demo rusuh seperti yang terjadi
00:49pada Agustus 2025?
00:54Tahun lalu kan bulan Agustus itu kan ada kerusuhan gitu ya Mbak Ini, kayak mungkin kalau di cocokologi ada kaitannya
01:00gitu.
01:00Kita lihat realnya aja di jalan juga kan aman-aman aja, gak ada apa-apa.
01:04Terus ketika ramai ada orang mau mengamankan propertinya, bikin pagar tinggi-tinggi, ya itu hal-hal yang wajar sebenarnya.
01:11Iya juga ya, kenapa harus sampai setinggi itu kecuali ada pertanyaan besar bakal ada apa nih?
01:16Jadi ada moral panik ke kita juga, jadi mau panik juga biasa aja, mau gak panik juga biasa aja.
01:22Ada hal-hal yang gak diinginkan gitu kan, mungkin ngikutin situasi sekarang juga kan kayaknya lagi agak danger gitu ya.
01:29Jadinya pemasangan gitu, jadi tuh awal ini kayak ini was-was apa jangan-jangan bakal ada something, tapi sejauh ini
01:37kelihatannya cukup aman sih.
01:39Ya pelaku usaha menjelaskan, pemasangan pagar tinggi di mal adalah bentuk kehati-hatian pengusaha karena alasan keamanan.
01:51Kehati-hatian pengusaha itu bisa dimengerti.
01:55Memang ini jamannya akan lebih banyak gejolak, berarti apa?
02:00Struktur keuangan setiap perusahaan, struktur keuangan negara dan sebagainya memang harus ditata lebih baik daripada dulu.
02:07Mereka mungkin ya supaya berhati-hati aja, mungkin ada alasan-alasan, lebih alasan keamanan aja gitu, supaya lebih apa, ya
02:17gak ada, ini ya bukannya hanya karena kebetulan saat ini gitu loh.
02:23Tapi ya mungkin memang supaya mereka bisa menjaga aja dari situasi keamanan.
02:28Ya sementara itu, Gubernur NKI Jakarta Pramono Anung menilai pemasangan pagar tinggi di mal berlebihan.
02:36Sementara penasihat khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi bilang, negara dalam keadaan baik.
02:42Hasan menyinggung soal fear monitoring atau upaya menyebarkan ketakutan.
02:49Mungkin bagian dari kekhawatiran, tetapi nanti pada saatnya, pasti saya akan minta untuk pagar-pagar yang itu dilepas kembali.
02:59Karena kekhawatiran yang berlebihan juga tidak baik.
03:03Dan saya sebagai Gubernur Jakarta, koordinasi dengan TNI, Polri, Aparat Bergerak Hukum lainnya, kami akan menjaga Jakarta.
03:11Mudah-mudahan Jakarta selalu aman, nyaman.
03:14Dan ya kekhawatiran seperti bulan Agustus tahun lalu.
03:18Tapi mudah-mudahan enggak. Saya yakin enggak.
03:20Jangan memperbesar berita-berita yang tidak baik.
03:23Berita-berita yang menebar ketakutan itu sebaiknya diklarifikasi juga.
03:27Teman-teman kan juga, teman-teman wartawan kan bisa cek sendiri.
03:30Bisa bikin cek fakta benar enggak?
03:32Fear monggering yang sedang beredar itu, ketakutan-ketakutan yang sedang beredar itu, betul-betul nyata apa tidak.
03:38Teman-teman bisa cek di lapang.
03:39Saya rasa kita harus optimis ya, keadaan negara kita baik.
03:43Ya selaras, asisten utama Kapolri Bidang Operasi Komjen Fadil Imran menyatakan situasi keamanan terkendali.
03:51Ia minta masyarakat tidak terpancing isu-isu liar.
03:55Sampai hari ini berdasarkan data DORS ya, Daily Operating Reporting System itu, tidak ada hal yang menonjol.
04:03Ya tidak ada.
04:04Jadi masyarakat jangan termakan dengan isu-isu akan terjadi gangguan kamtimas yang mencemaskan.
04:13Saya kira orang pagari rumahnya kan biasa, jangan kemudian dibangun narasi.
04:19Seolah-olah kalau bangun pagar, akan terjadi sesuatu.
04:25Dia berkaca dari demonstrasi menolak tunjangan DPR yang ditunggangi aksi rusuh pada Agustus 2025.
04:33Selain belasan korban jiwa, kerugian ekonomi yang timbul juga cukup besar.
04:38Antara lain, keluarnya modal asing puluhan miliar dolar AS dan kerugian ekonomi terutama gangguan pada sektor jasa sebesar 9 triliun
04:50rupiah.
04:52Memicu polemik, sebagian pengelola mall telah membongkar kembali pagar tinggi yang sempat dibangun.
04:58Namun pelaku usaha tentu punya alasan jelas mengapa membangun pagar di mall.
05:03Tak lain adalah langkah antisipasi keamanan di tengah ketidakpuasan kinerja ekonomi.
05:10Mereka pasti mempunyai urgensi termasuk juga terkait dengan adanya potensi-potensi yang mengarah kepada kerusuhan.
05:19Kepuasan terhadap masyarakat itu terus menurun dan sebagainya.
05:24Yang ini bisa membuat masyarakat ini menjadi, ya bisa kita bilang, subuh pendek.
05:30Nah, kemudian ini dilihat oleh para pengusaha bahwa ketika kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja,
05:38kondisi sosial juga tidak baik-baik saja,
05:41maka sangat gampang sekali terjadi kerusuhan yang memang bisa membahayakan aset properti mereka.
05:48Makanya kalau kita lihat pengusaha itu, dia pasti akan mencari aman.
05:54Kita semua tentu berharap Indonesia aman tanpa gejolak, tanpa rasa cemas.
05:59Lalu, bagaimana sebaiknya menyikapi fenomena pembangunan pagar tinggi di area mall?
06:05Apakah berlebihan atau justru harus di respons negara dengan kepastian jaminan keamanan dan kestabilan ekonomi?
06:12Kita bahas di Business Talk Mall, pasang bongkar pagar tinggi, siapa cemas?
06:16Bersama saya, Yan Rahman.
06:19Dan, saudara tentunya, saya tidak sendiri untuk membahas hal ini,
06:21saya sudah ada darah sumber yang hadir di Studio Kompas TV,
06:25saya perkenalkan untuk Anda satu persatu.
06:27Yang paling kanan ada Aditya Laksmana, tenaga ahli Bakom RI.
06:31Pak Adit, selamat malam.
06:33Selamat malam, Mas Yian.
06:34Saya juga perkenalkan untuk Anda, saudara, ada Roy Mandi,
06:37founder dan chairman affiliation Global Retail Association, Agra.
06:40Pak Roy, selamat malam.
06:41Selamat malam.
06:41Dan paling ujung kiri saya, ada Nailo Luhuda, Direktur Ekonomi Selyos.
06:47Mas Yudha, selamat malam.
06:48Selamat malam, Mas Yian.
06:49Dan, tak lupa juga saya perkenalkan untuk Anda, saudara, ada Trubus Rahardiansyah,
06:52Guru Besar Sosiologi Hukum Universitas Teri Sakti dan juga Pengamat Kebijakan Publik.
06:56Pak Trubus, selamat malam.
06:57Selamat malam.
06:57Dan ada juga, saya tentunya ditemani oleh wartawan senior kontan, ada Samso Asar di sini.
07:03Mas Samso, selamat malam.
07:04Selamat malam, ya.
07:05Saya langsung ke Mas Yudha.
07:06Mas Yudha, ini ramai-ramai mall membangun ataupun mendirikan pagar yang tinggi.
07:12Dari fenomena ini, apa yang Anda tangkap dan apa yang Anda baca?
07:16Ya, tentu kalau kita lihat kan sebenarnya ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kerusuhan,
07:23timbulnya kejadian yang tidak tertuga.
07:26Kita tahu di awal bulan ini atau akhir bulan kemarinnya, itu ada kerusuhan yang cukup besar di maju dan sebagainya.
07:32Tentu saja, ini juga diiringi juga di beberapa daerah yang ada juga kejadian main hakim sendiri dan sebagainya.
07:39Nah, tentu ini juga berhubungan dengan faktor ekonomi dan juga sosial.
07:45Nah, kalau faktor ekonomi ini, Mas, memang kalau kita lihat kan pemerintah selalu mengatakan ekonomi kita bagus, ekonomi kita stabil
07:53dan sebagainya.
07:53Tapi, yang dirasakan oleh masyarakat justru kebalikannya.
07:57Bahwa dompet mereka menipis, kemudian juga kalau kita lihat dalam beberapa tahun terakhir ada BBM yang naik dan sebagainya,
08:06kebutuhan yang juga ikut meningkat, yang pada akhirnya ini membuat masyarakat juga resah gitu.
08:11Nah, inilah yang, keresahan inilah yang memang dapat menimbulkan adanya kejolak sosial seperti kerusuhan dan sebagainya.
08:20Jadi, itu sangat wajar sekali ketika mal ini dia melindungi asetnya dengan membangun pagar.
08:24Oke, Pak Adit, apa yang dilakukan oleh pemilik mal ataupun pengelola mal, menurut Anda wajar atau tidak?
08:30Saya kira sebagai pemilik usaha, wajar saja mengenai bagaimana mereka melindungi aset propertinya.
08:37Terlepas apapun alasannya, apakah itu stabilitas ekonomi suatu negara atau mungkin juga isu-isu lokal.
08:43Tentu itu hal yang wajar bagaimana membangun.
08:45Dan juga membangun pagar itu tentu tidak selalu berurusan dengan, berkaitan dengan isu keamanan.
08:52Bisa juga karena estetika, estetika karena untuk ketertiban.
08:55Kita lihat untuk pejalan kaki di trotoar saja, pemuda membangun pagar di trotoar.
09:00Supaya pejalan kaki tertib di trotoar, tidak naik turun angkutan atau mobil menaik turunkan.
09:06Oke, kalau misalkan istana bilang ini wajar, lalu mengapa Pemprov DKI meminta untuk membongkarnya?
09:11Tentu begini, saya belum selesai penjelasan saya.
09:15Secara umum tentu banyak alasannya seperti itu.
09:17Bahwa seperti apa yang dipersepsikan publik saat ini, bahwa dengan membangun rame-ramenya pengelola mal membangun pagar,
09:25itu dipersepsikan dengan situasi sosial, ekonomi, dan politik saat ini, tentu itu juga tidak bisa dihindari.
09:31Oleh karena itu, dalam konteks itulah apa yang dilakukan oleh Gubernur DKI kemarin itu,
09:36dan juga tadi pernyataan dari seperti Pak Hasan Nasbi, segala macam itu,
09:41tentu dalam konteks bagaimana supaya membangun keterangan di dalam masyarakat.
09:45Bahwa memang tugas pemerintah menjaga stabilitas keamanan, menjaga stabilitas ekonomi dan sosial,
09:51dan pemerintah sangat berkepentingan bagaimana stabilitas keamanan ini menjadi faktor yang sangat penting untuk aktivitas ekonomi.
09:59Sehingga apa yang dilakukan oleh Pak Pramono, Gubernur DKI, yang kita sudah lihat sama-sama,
10:05itu adalah dalam rangka konteks itu.
10:06Supaya tidak semakin memperburuk persepsi publik yang saat ini,
10:10seolah-olah negara kita di Jakarta ini dalam ancaman atau dalam alarm menghadapi situasi yang seolah-olah,
10:19ya memang tidak bisa dimungkiri memori publik tahun lalu ya,
10:22Agustus tahun lalu ada kerusuhan besar, itu tidak bisa dimungkiri.
10:25Tetapi dengan situasi saat ini tentu hal-hal yang pernah terjadi tidak ingin kita ulangi kembali lagi.
10:31Oke, Pak Atrubus, ini pembangunan pager menurut Anda bentuk kecemasan atau tidak?
10:34Kalau secara sosial, iya. Itu satu kondisi kegaluan sosial sebenarnya.
10:39Karena apa? Realitasnya bahwa ada persepsi yang berbeda, berjarak secara tajam antara pemerintah dengan istilahnya publik.
10:49Di mana publik kemudian membangun. Ini kan tentu ada maksud dan tujuan dong.
10:55Tidak ada kemudian tiba-tiba membangun.
10:56Mestinya, kenapa menimbulan tinggi? Oleh karena sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya,
11:03atau sebut romantisasi paling tidak kejadian sebelumnya,
11:07atau kejadian belakangan-belakangan ini,
11:08di mana kemudian situasinya menganggap ya turbulensinya tinggi lah,
11:14kira-kira seperti itu, timbulan politik, sosial, budaya.
11:16Nah, itulah yang kemudian menurut saya menjadi pemagaran itu menjadi hal yang patut ditanyakan.
11:23Artinya mesti ada mana lainnya.
11:24Kedua, bahwa itu ada persoalan di mana kemudian pihak pemerintah yang menjelaskan secara resmi itu kan sebenarnya menurut saya tidak
11:33terlalu signifikan.
11:36Justru malah harusnya itulah melakukan dialog.
11:39Ini kan dialog antara pihak pemilik properti dan pemilik mall dengan pihak ini.
11:44Artinya sah-sah saja pemilik mall ataupun pengelola ini membangun pagar.
11:48Namun, mengapa seperti yang saya tanyakan tadi bahwa pemerintah Provinsi DKI Jakarta justru meminta untuk membongkar?
11:53Ya, itu menurut saya malah apa, ya terlalu jauh lah menurut saya ya artinya apa urusannya.
11:59Karena itu kan menurut saya, karena ini kan sesuatu yang sifatnya ranah privat, ya itu kan private good.
12:05Ya, sesuatu yang memang dibolehkan.
12:07Nggak ada unang-unang-unang-unang.
12:08Nah, kenapa kemudian gomong ini kan menunjukkan malah secara teori realitas sosial ada persoalan di situ.
12:13Berarti ada sesuatu yang sesungguhnya diakui bahwa memang situasinya ngering-geri sedap lah kira-kira seperti itu.
12:20Karena apa, daripada situasi yang akan terjadi dan sudah terjadi tahun lalu.
12:24Seperti itu kan namanya publik itu punya persepsi-persepsi yang tidak mungkin.
12:28Apa, dipengaruhi tidak mungkin kemudian dianggap sebagai sesuatu yang, apa,
12:32ngoyoworo, mission impossible, sesuatu yang tidak mungkin.
12:35Itu mesti mungkin, gitu.
12:37Oke.
12:37Pak Aditya, ini tampaknya respons pemerintah tidak menjawab kecemasan dari pengusaha, nih.
12:43Ya, sekali lagi saya jelaskan memang pemerintah melihat ini dengan langkah pengelolaan mal membangun pagar,
12:49meskipun sekali lagi memang itu diakui sebagai hak, ya, di ranah privat, di aset mereka sendiri,
12:55di lokasi mereka sendiri dengan pertimbangan mengamankan aset, misalnya itu, itu tentu dihormati.
13:02Tapi, di sini yang dikaitkan pemerintah adalah kita juga tidak bisa melihat, memungkiri realita yang terjadi.
13:08Sudah banyak, apa namanya, narasi-narasi di luar bahwa ini dikaitkan dengan situasi keamanan.
13:14Dalam konteks itulah pemerintah memberikan satu imbowan, memberikan satu pernyataan
13:18yang bahwa fenomena pemagaran ini, kalau dikaitkan dengan stabilitas keamanan ini,
13:25itulah yang, apa, posisi pemerintah ada di sana.
13:27Nah, pemerintah ingin supaya persepsi yang muncul di publik ini tidak melebar, tidak berkepanjangan,
13:33dan justru nanti akan memperburuk atau menjadi kontraproduksi dengan kontraproduktif
13:39terhadap upaya-upaya membangun harapan optimisme kepada publik,
13:44di mana sebenarnya kalangan pengusaha sendiri juga berkepentingan,
13:46supaya aktivitas ekonomi itu bisa berjalan lancar.
13:49Seandainya ini, katakanlah pemerintah tidak merespons hal ini,
13:53dan ini persepsi publik meluas, melebar, kemudian berkepanjangan,
13:57tentu ini juga akan berdampak negatif terhadap upaya-upaya kita memperkuat kembali ekonomi
14:03melalui konsumsi masyarakat.
14:05Oke, Pak Roy, ini pembangunan pagar ini, apakah ini menurut Anda inisiatif dari pemilik mall
14:10atau memang request dari Rita untuk meningkatkan keamanan?
14:13Ya, sebenarnya kenyataan yang terjadi, ini saya mau jelaskan dulu,
14:17memasang pagar bukan berarti karena adanya ancaman atau kekhawatiran.
14:21Tidak memasang pagar juga bukan berarti pengamanannya lemah,
14:24jadi nggak ada urusannya untuk disambung-sambungkan begitu atau dicocokmologi.
14:28Jadi ini adalah volunteer daripada kita menghormati tentunya sesama pelaku usaha
14:33bila mereka ingin menambah estetika, kemudian mereka ingin membuat sesuatu yang berbeda,
14:38tampil beda itu kan sesuatu yang menarik.
14:40Kemudian ada hal-hal lain yang berkaitan juga dengan kenyamanan, keamanan,
14:43itu hal yang biasa dilakukan oleh pelaku usaha.
14:47Jadi justru yang kami ingin sampaikan di sini adalah,
14:51hal-hal yang lebih penting jauh lebih baik harus dipikirkan daripada urusan pagar ini.
14:56Kita nggak tahu siapa yang mengangkat ini kemudian, ya mohon maaf,
14:59saya bisa katakan mungkin ini jadi sosial media, buzzer dan lain sebagainya,
15:03sehingga beredar lah timbul lah narasi-narasi kekhawatiran,
15:06yang sebenarnya sudah dijelaskan oleh pemerintah, tadi sudah disampaikan.
15:09Jadi kembali lagi, ini adalah sepihak saja, berapa mall sih yang memasang pagar tinggi?
15:14Bisa dihitung nggak? Nggak banyak.
15:16Hampir sekitar 400 mall di seluruh Indonesia,
15:19data-data nggak ada yang keluar ada sekian ratus mall atau sekian puluh mall yang masuk.
15:23Tidak, ini hanya beberapa saja, satu, dua, tiga, nggak sampai.
15:26Jadi maksudnya ramai-ramai informasi ini ada yang setting?
15:28Ya, kita nggak tahu bagaimana narasinya, tetapi apakah ini pengalian isu,
15:33apakah ini dimanfaatkan oleh buzzer dan lain sebagainya, kita nggak ngerti narasi seperti itu.
15:38Yang kita tahu adalah pelaku usaha, kita berpikir bagaimana meningkatkan kestabilan ekonomi,
15:43daya beli bagaimana merecovery daya beli, bagaimana supaya juga kepastian hukum,
15:48regulasi juga itu lebih jelas, lebih baik, lebih mudah.
15:51Ease of doing business dan kepastian regulasi atau hukum itu jauh lebih penting
15:55ketika kita mengharapkan sudah pertumbuhan ekonomi di semester 1 5,52 persen,
16:01berharap bisa jadi 5,8 atau 6, mudah-mudahan, mudah-mudahan.
16:06Ya, itu yang dipikirkan, supaya pertumbuhan ekonomi itu,
16:09growth of economy ditopang oleh konsumsi sampai 52 persen, itu bisa terjadi.
16:13Bukan urusan-urusan yang akhirnya menimbulkan polemik atau narasi-narasi yang liar.
16:18Dan ini bagi kami pelaku usaha justru yang kita harus jaga sekarang,
16:21jangan sampai narasi ini berkembang, kemudian orang mengurangi,
16:26datang ke mal, karena ini ada apa? Ada polemik apa?
16:31Nah, padahal nggak ada, karena yang membangun juga berapa mal sih dari 400-an mal ini.
16:36Jadi ini kan sesuatu yang terlalu berlebihan dan jauh lebih penting banyak yang harus diurus lah,
16:42bertimbang urusan pagar.
16:43Oke, Istana menyebutkan bahwa sebelumnya, bahwa ini ada upaya untuk menakut-nakuti atau fear-mongering.
16:49Nah, ini siapa yang dimaksud?
16:50Namun kita bahas saja dalam total bersama kami di Business Talk.
17:00Pada masa bersama kami di Business Talk, Saudara Pak Adit, sebelumnya istana melalui Hasan Nasbih ini menyebutkan bahwa
17:07ada upaya untuk menakut-nakuti atau upaya fear-mongering.
17:11Siapa yang dimaksud di sini?
17:13Menanggap, merespons pertanyaan tersebut, kami dalam posisi untuk tidak bisa, tentu tidak bisa menyebutkan siapa.
17:20Karena memang, ini kan memang alam media sosial ini kan alam yang antah-berantah.
17:24Kita tidak bisa mendalami siapa bermaksud apa, pihak mana bermaksud apa, punya tujuan apa terhadap situasi tertentu yang terjadi di
17:34dalam, di masyarakat.
17:35Tetapi tentu sekali lagi, upaya ini kan adalah menunjukkan realitas juga bahwa tidak bisa dimukiri bahwa di dunia permetsosan sekarang
17:43ini,
17:44upaya-upaya framing, upaya-upaya penggiringan opini, upaya-upaya cocokologi untuk meningkatkan, membangun fairness di masyarakat itu, itu mudah terjadi.
17:55Jadi konteksnya adalah di sana, artinya apa yang disampaikan itu adalah, ini semuanya hanya spekulasi, belum terbukti.
18:06Memang ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan terlalu berlebihan, karena ya kita juga harus melihat realita.
18:13Faktanya banyak mal yang sebenarnya, Pak Roy mungkin bisa mengkonfirmasi, tapi dalam amatan kita ada mal juga yang sudah jauh
18:21-jauh hari,
18:21sejak dulu membangun pagar. Demikianlah hotel-hotel, kita juga tahu pengamanan hotel terselebihan ketat, pakai anjing pelacak.
18:27Sejak lama, dan itu dilakukan sampai sekarang.
18:29Tapi itu, apakah itu kemudian lantas kita menarasikan ini, situasi sekarang ini sangat luar biasa sehingga hotel ini.
18:37Itu sudah lama terjadi, dan itu hal yang wajar.
18:40Dan saya sepakat dengan Pak Roy tadi, hal yang lebih penting adalah sekarang ini bagaimana narasi-narasi ini kontraproduktif, terhadap
18:47upaya kita memperkenalkan.
18:48Narasi yang kontraproduktif menurut Anda.
18:49Mas Amsul, menurut Anda benar ini ada upaya untuk menakut-nakuti, atau ada masalah kestabilan ekonomi yang perlu dikoreksi?
18:59Siapa yang menakut-nakuti itu jadi pertanyaan kita bersama tentu ya.
19:02Soalnya kenapa ketika DPR membangun pagar setinggi itu, lebih tinggi dari atap rumah bersubsidi bahkan,
19:10itu nggak ada yang menurut S gitu ya, dan nggak ada yang mempermasalahkan itu.
19:15Tapi kalau tadi kita melihatnya dari perspektif Mas Huda tadi, bahwa ini kondisinya kita sedang tidak baik-baik saja.
19:23Bahwa ini sekarang ini kita kayak ibarat musim kering El Nino yang berkepanjangan,
19:29di tanah gambut, sekali petik api atau kita buang putung, rokok sedikit saja, terbakar.
19:35Seperti yang kemarin terjadi misalkan di Manggarai itu kan hanya percik kecil, hanya gas motor dan nasi uduk itu bisa
19:42sedemikian.
19:43Nah ini mungkin kekhawatiran itu.
19:45Kami melihatnya ada ketidakpercayaan.
19:49Ketidakpercayaan masyarakat bahwa pemerintah ini jangan-jangan terjadi lagi seperti tahun lalu.
19:56Bayangkan tahun lalu itu menteri rumah menteri.
19:57Maksudnya semakin tidak stabil ekonomi, semakin warganya emosian gitu?
20:02Ya, gambarannya seperti itu secara sosiologi mungkin seperti itu.
20:05Kayak kondisi panas, dipicu sedikit saja, bisa membuat hal yang fatal, yang semuanya tidak kita harapkan seperti itu.
20:14Jadi kita jangan melihat hanya sepotong pagarnya, sepotong itu.
20:21Sekarang kondisi retail itu sedang tidak baik-baik saja, sudah susah.
20:24Apakah benar nanti kalau dibangun pagar, jangan-jangan malah berkurang yang datang.
20:28Jadi kayak anti-pengunjung kan seperti itu, ada-ada seperti itu.
20:33Mungkin pertimbangan-pertimbangan keamanan dari pengusaha yang tahu sendiri,
20:38ya kita kalau Pak Pram bilang dicabut saja, ya kan gampang.
20:43Itu kan ada kalau zaman dulu izin mendirikan bangunan,
20:46atau sekarang disebut namanya persetujuan bangunan gedung.
20:49Itu kalau memang tidak ada, ya sudah, suruh cabut.
20:51Tapi kalau sudah mengikuti aturan itu, ya nggak ada salahnya kenapa dicabut,
20:55kan sudah mengikuti aturan.
20:56Itu kan kekhawatiran para pelaku usaha yang mengurangi risiko sebenarnya.
21:01Kan kita tahu, tahun lalu kita tahu, ada aksi masa sampai ke lobi-lobi sebuah gedung gitu,
21:07yang di daerah Selipi.
21:08Dan mereka akhirnya membangun itu, ya kita nggak bisa menyalahkan.
21:11Mas Uda, tadi kita dengarkan bersama Mas Amso bilang,
21:14kalau semakin tidak stabil ekonomi, warganya semakin emosian begitu.
21:18Kalau Anda lihat di sini kan pemerintah sering menyebutkan bahwa kondisi ekonomi kita
21:22baik-baik saja pertumbuhan ekonomi juga tumbuh dengan pesat begitu.
21:26Bagaimana menyambungkan hal ini?
21:28Ya, artinya adalah, ya entah tidak menetes ke bawah,
21:33atau pemerintah bohong.
21:34Soal apa?
21:35Soal ekonomi yang kuat, dan sebagainya.
21:38Ini selalu kita sampaikan, bahwa jangan sampai ini terjadi seperti yang ada di Chile.
21:45Kalau kita sampaikan itu adalah Chilean paradoks.
21:48Dimana pemerintah sana itu klaim pertumbuhan ekonomi baik-baik saja, dan sebagainya.
21:53Tapi, ketika ada masalah kecil, yaitu kenaikan harga metro pada saat itu,
22:00itu bisa menimbulkan keculak politik yang luar biasa.
22:04Nah, inilah yang kita lihat sebenarnya.
22:06Ketika, tadi saya sudah sampaikan, pertumbuhan ekonomi kita diklaim 5,61 persen.
22:12Bahkan, ini targetnya 5,6 per 5,8 persen gitu kan.
22:17Nah, tapi masalahnya adalah tidak terjadi ke masyarakat.
22:22Masyarakat itu justru kebalikannya.
22:25Susah untuk mendapatkan pekerjaan.
22:28Kita tahu, indeks untuk mendapatkan pekerjaan dari Bank Indonesia,
22:31itu sudah mendekat ke angka 100.
22:34Dan bahkan bisa di bawah 100.
22:37Kemudian, kalau kita lihat, misalnya pun baik di Juli,
22:40tapi di Juni, itu untuk manufaktur processing manager index ya,
22:47processing manager index, PMI manufaktur kita,
22:51itu berada di bawah level ekspansi.
22:54Artinya, ketika tidak ada ekspansi,
22:56maka tidak ada penyerapan tanda kerja.
22:59Nah, ketika ada pendapatan tanda kerja,
23:02mereka mau mendapatkan pendapatan dari mana.
23:05Nah, inilah yang memang tadi sebutkan sama Mas Samsul,
23:08bahwa percikan api sedikit pun,
23:10itu sudah bisa membuat,
23:13ya tadi, orang itu gampang emosi dan sebagainya.
23:16Itu terjadi, Mas Sian.
23:17Oke.
23:19Pak Roy, apakah respons pemerintah,
23:22bahwa kamar nasional tak ada masalah,
23:24dan ekonomi baik-baik saja,
23:27apakah ini sudah menenangkan pelaku usaha belum?
23:30Ya, kita sederhana saja melihat bagaimana indeks-indeks ini
23:35yang disajikan oleh pemerintah juga, kan.
23:37Bank Indonesia melakukan survei,
23:39indeks penjualan real,
23:40indeks ekspertasi,
23:41konsumen,
23:42indeks macam-macamnya.
23:44Nah, kita lihat saja ya,
23:46ini dibilang kuat,
23:47dibilang bagus,
23:48tetapi kenapa turun, ya.
23:49Jadi, bulan Juni,
23:51ini barusan saja,
23:52bulan Juni,
23:52IPR kita 221,6,
23:54atau turun minus 0,8% month to month.
23:57Oke.
23:58Yearly-nya,
23:59lebih gede lagi,
24:00minus 4,4,
24:01year on year.
24:02Artinya, tahun lalu dibanding dengan tahun ini,
24:03di bulan Juni yang sama,
24:05itu minus 4,4.
24:06Ini yang survei pemerintah, loh.
24:07Bukan swasta.
24:09Nah, artinya apa?
24:10Ketika dikatakan eforia,
24:11yang baik-baik saja itu,
24:13tetapi pada saat kenyataan data berbicara,
24:15maupun juga kami pelaku usaha juga,
24:17dalam berbagai kesempatan kita sampaikan bahwa,
24:19sekarang memang terjadi perubahan perilaku belanja,
24:22konsumen.
24:23Daya beli itu memang tergerus, ya.
24:25Sekarang masyarakat, ya bisa kita lihat,
24:26yang belanja kebutuhan pokok saja,
24:28kebutuhan hari-hari mungkin bisa,
24:29nanti kalau ada pekerjaan.
24:31PHK ini pun terjadi perbedaan data.
24:34Ya, pemerintah bilang 32 ribu,
24:36asosiasi bilang 126 ribu.
24:37Jadi ini juga antara benar dan tidak benarnya,
24:40kita nggak ngerti.
24:41Tetapi, oke lah,
24:42nggak lepas daripada itu,
24:43yang kita menyatakan di sini adalah,
24:45jauh lebih baik bagaimana nih,
24:46memperbaiki kondusif iklim usaha.
24:48Kemudian supaya ada penciptaan tenaga kerja,
24:51atau wira usaha lah.
24:53Doronglah wira usaha itu.
24:54Sekarangnya kondusif,
24:55tenaga kerja belum,
24:56penciptaan pabrik belum bisa,
24:57karena PMI kita turun loh,
24:5950,2,
25:00di bawah 100.
25:01Jadi itu mendandakan bahwa,
25:02pabrik mengurangi transaksi,
25:04mengurangi produksinya,
25:05untuk sampai ke hilir.
25:07Nah ini kan faktor-faktor,
25:08yang mestinya diperbaiki.
25:10Jauh lebih penting itu.
25:11Oke, saat ini tidak kondusif,
25:12menurut Anda?
25:12Ya, saat ini kenyataan,
25:14antara kenyataan dengan LIPS,
25:15itu berbeda.
25:18Dengan pernyataan-pernyataan,
25:19maupun dengan kenyataan,
25:20itu kan berbeda,
25:21tidak kelihatan sekarang.
25:22Di survei kemanapun,
25:23masyarakat mengurangi belanja kok.
25:25Karena mereka,
25:26khawatir melihat gejala geopolitik,
25:29melihat situasi global,
25:30currency yang naik turun,
25:31anomali,
25:32diirid,
25:33sehingga harus juga membayar pajak,
25:35membayar bunga-bunga kredit,
25:37mobil, rumah, dan sebagainya.
25:39Bayar uang sekolah.
25:41Semua mengurangi sekarang.
25:43Yang biasa makan tiga kali,
25:45mungkin sekarang cuma sekali.
25:46Dan itu bisa disurvei.
25:48Oke.
25:49Pak Aditya,
25:50dari angka-angka makroekonomi yang bagus,
25:53apakah ada korelasi langsung nggak
25:55dengan potensi kerusuhan?
25:57Ya, saya kira sedikit menambahkan data dari Mas Sudha tadi.
26:01PMI Juni memang 46 ya,
26:03tapi di Juli ini yang terbaru sudah 50,2.
26:05Artinya,
26:06kita sudah move lagi ke zona ekspansi.
26:09Zona ekspansi artinya ada kegiatan usaha,
26:11diharapkan,
26:12maaf,
26:13diharapkan ada penciptaan lapangan kerja,
26:14dan aktivitas ekonomi kembali bergerak.
26:16Kemudian juga,
26:17indeks kepercayaan konsumen juga di atas 100,
26:19meningkat dari BI yang bulan kemarin itu.
26:21Artinya,
26:22memang secara saksisik,
26:24faktanya secara saksisik menunjukkan seperti itu.
26:26Bahwa di dalam realita,
26:27pemerintah juga melihat,
26:29menyadari itu.
26:30Pemerintah tidak mendinai bahwa
26:31ekonomi sekarang ini sedang menghadapi tantangan.
26:34Tantangan ekonomi belum selesai.
26:35Itulah mengapa,
26:37pemerintah juga
26:39menyadari situasi ini,
26:42antara lainnya mengeluarkan stimulus.
26:43Kita lihat semester ke-2,
26:4526 triliun dikelontorkan pemerintah
26:46untuk macam-macam.
26:47Dari kemarin yang libur,
26:48libur apa,
26:50libur kenaikan kelas,
26:52libur panjang,
26:52insentif perjalanan,
26:54kemudian insentif untuk ketenagaan kerjaan
26:55melalui magang,
26:57kemudian juga insentif untuk,
26:58apa namanya,
26:59perlinsos,
27:00dan bahkan sampai dengan ujung akhir tahun nanti
27:02juga sudah ada lagi insentif yang disiapkan
27:04pemerintah dari sekarang.
27:05Artinya apa?
27:05Itu adalah isyarat pemerintah sebenarnya
27:07menyadari adanya tantangan yang harus diselesaikan saat ini.
27:10bahwa 54 persen konsumsi domestik
27:13menopang pertubahan ekonomi,
27:15itulah yang dikejutkan pemerintah
27:16bagaimana menjaga daya beli
27:17dengan memberikan stimulus itu.
27:19Artinya,
27:20itu adalah salah satu
27:22cerminan bahwa pemerintah juga menyadari
27:24kondisi real di masyarakat ini
27:26masih menghadapi tantangan yang
27:28mungkin,
27:29kalau dari Mas Huda,
27:31Pak Roy juga sampaikan,
27:32dan mungkin banyak pihak menilai,
27:33antara data statistik dan realita ini
27:37belum nyambung.
27:38Itu pemerintah juga tidak mendinai persoalan itu,
27:40Mas Hian.
27:41Oke,
27:42Pak Trubus,
27:44kalau kita melihat bahwa
27:45tadi angka-angka ekonomi kita bagus,
27:46pertumbuhan ekonomi kita
27:48konsisten dan juga bertumbuh,
27:50lalu mengapa ada hal-hal
27:52yang merasa tidak aman
27:54dengan nyatanya ada informasi
27:56soal pembangunan pagar ini
27:58yang korelasinya dengan
27:59kekhawatiran akan keamanan?
28:01Iya, karena masyarakat melihat bahwa
28:03apa yang dijelaskan oleh pemerintah itu,
28:06itu dianggap
28:07itu hanya manipulasi saja,
28:10jadi anggapan itu,
28:12ada manipulasi data,
28:13angka-angka itu dianggap
28:14sebagai manipulasi,
28:15sehingga masyarakat
28:16meyakininya itu belum,
28:18seperti tidak yakin
28:20apa yang disampaikan pemerintah.
28:21Persepsi masyarakat?
28:22Iya, persepsi masyarakat.
28:23Ini kita bicara publik loh ya,
28:24dalam arti,
28:25bukan bicara pengertian pemerintah,
28:27ya menjelaskan seperti itu,
28:28sudah pemerintah,
28:28tapi kalau pemerintah menjelaskan,
28:30kenapa enggak satu pintu saja?
28:31Jadi masing-masing menjelaskan
28:33semua seolah-olah ada sesuatu
28:34yang mengarah kepada
28:35ketidaknyamanan
28:37atau ketidakamanan
28:38seperti itu.
28:39Nah, ini menurut saya
28:40kemudian publik melihat,
28:41melihat bahwa
28:44memang kondisinya
28:45kondisi tidak nyaman,
28:46kondisi yang sebenarnya
28:47ada keresahan lah gitu,
28:49keresahan,
28:50dan pada akhirnya publik
28:51memandang bahwa
28:52ini pemerintah belum bisa membuat
28:54situasinya
28:55enggak jauh berbeda dengan
28:57yang tahun lalu lah,
28:58kena seperti itu.
28:59Kejadian yang pada tahun lalu
29:00kan sebenarnya awalnya
29:01tiga bulan,
29:01atau tiga atau empat bulan sebelum,
29:03kan kondisinya normal saja kan,
29:04tiba-tiba langsung terjadi
29:06ber,
29:07ya terjadi situasi itulah gitu ya.
29:09Oke.
29:09Nah,
29:10turbulensi langsung tinggi,
29:11nah,
29:11ini kan juga sama,
29:12ini mungkin orang
29:13memandang normal,
29:13belum tentu dua hari,
29:14tiga hari,
29:15kemudian langsung terjadi
29:15ini,
29:16bisa saja,
29:17karena memang situasi ini,
29:18situasi sangat-sangat dinamis.
29:20Dalam teori sosial itu
29:21selalu memandang bahwa
29:23sosial kontenjen itu
29:24sangat kuat.
29:24Kenapa?
29:25Karena orang memandang
29:26bahwa apa yang diinformasikan
29:27pemerintah,
29:28itu adalah informasi
29:29yang sesungguhnya
29:30sudah dianggap
29:32sebagai manipulasi,
29:33sehingga itu yang diperhitungkan.
29:35Nah, publik menganggap
29:36realitasnya enggak seperti itu,
29:37jadi enggak nyambungnya
29:38itu yang menjadi problem.
29:39Pak Rubus,
29:39kalau memang persepsi
29:40masyarakat seperti itu,
29:41ada juga ungkapan begitu
29:42dari masyarakat juga,
29:43mengapa mall juga tetap rame,
29:45coffee shop tetap rame,
29:46juga konser tetap rame,
29:49beli lipstick juga
29:50masih ramai begitu,
29:51tokoh-tokok kosmetik,
29:52Anda tanggapannya gimana?
29:54Kalau itu kan hanya
29:56sesaat-sesaat,
29:57dan itu hanya
29:57untuk kelompok masyarakat.
29:58Ingat, masyarakat kita ini kan
29:59strukturnya kan sangat ini,
30:01sangat tajam.
30:02Orang miskin saja
30:03ada tiga kita,
30:04miskin,
30:04yang kedua miskin ekstrim,
30:06yang ketiga rentan miskin.
30:08Nah, ini saja sudah.
30:09Nah, sekarang kalau kita
30:10ngomongin yang,
30:11kenapa itu mereka main
30:12bula juga rame,
30:13ini di cafe-cafe juga,
30:14tapi kan cafe-cafe ini
30:15cafe tertentu,
30:16kita tidak bisa bicara
30:17itu sesuatu yang sempatnya
30:18malah tak.
30:18Katanya tadi Pak ini bilang
30:20bahwa pengusaha ini
30:21mengatakan 400 mal saja,
30:23hanya 1, 2, 3 mal
30:24yang terjadi seperti itu.
30:26Tapi ini namanya fenomena.
30:27Dalam sosiologi itu,
30:29fenomena ini
30:30kalau hanya dipahami
30:31secara kecil,
30:32itu fenomena.
30:33Tapi dibalik itu semua,
30:34ada sesuatu yang sangat besar,
30:36yang harus juga
30:37diantisipasi oleh masyarakat.
30:38Oleh pemerintah,
30:39karena pemerintah itu
30:40punya kewajiban
30:40untuk melindungi
30:41masyarakat itu.
30:43Tapi kalau pemerintah berdalis
30:44selalu mengatakan,
30:45oh ini aman saja,
30:46kondisinya normal, stabil.
30:47Ya itu sesuatu,
30:48menurut saya itu
30:49sesuatu
30:50jas information saja,
30:51informasi yang
30:52menganggap oleh publik itu
30:53ya memang kewajiban
30:54pemerintah.
30:55Tapi buat apa,
30:56pengaruhnya ke saya
30:56juga enggak ada kan gitu.
30:57Ya kalau mal-mal kecil,
30:59mal-mal besar,
31:00misalnya rame sekarang,
31:01ya kita lihat ya
31:02mal-mal yang besar,
31:02misalnya pasar Indonesia,
31:03ya sepi kok kalau kondisinya sepi,
31:05karena udah dibeli masyarakat juga.
31:06Sepi konkretnya seperti itu,
31:07kita enggak usah berdalis
31:08dalam konteks,
31:09oh ya itu banyak,
31:10lihat ya banyaknya,
31:11berapa orang belanja kan
31:12enggak ada gitu.
31:12Pak Aditya,
31:13kalau kita dengar dari Pak Turbus,
31:15data positif pemerintah
31:16tidak sesuai dengan
31:17kondisi real di masyarakat.
31:19Jawaban atau menrespon Anda
31:20seperti apa,
31:21namun jangan dijawab dulu,
31:22kita kembali selesai
31:23dan tetaplah bersama kami
31:24di Bisnis Talk.
31:36Anda masih bersama kami
31:37di Bisnis Talk,
31:37Saudara,
31:38Pak Aditya,
31:38data positif pemerintah
31:39katanya tidak sesuai
31:41dengan kondisi real
31:42di lapangan respons Anda?
31:43Ya,
31:44kalau kita bicara
31:45DNA-nya statistik ya,
31:47statistik itu kan sebenarnya
31:49memotret rata-rata
31:50bukan pengalaman
31:51masing-masing person
31:52satu per satu,
31:53begitu.
31:53Jadi katakanlah kita ber-6,
31:55kalau di rata-rata
31:56mungkin angkanya bagus,
31:57tapi mungkin pengalaman saya
31:58berbeda dengan
31:59pengalamannya Mas Huda,
32:00pengalamannya Mas Yan
32:01yang istilahnya
32:02ada di atas saya,
32:03begitu.
32:03Itu tuh DNA-nya,
32:04ini penjelasan umum saya,
32:06sebentar.
32:06Kemudian setara metodologi
32:08memang kalau kita akui
32:09memang dimanapun
32:10statistika itu adalah
32:11berdasarkan sensus
32:13meskipun metodologinya
32:15dibuat semikian rupa
32:16sehingga mendekati populasi.
32:17Itu dari sisi itu,
32:18sehingga kalau tadi
32:19sering kali dan berulang kali
32:22tidak hanya sekarang,
32:22dikatakan bahwa statistik
32:23tidak sesuai dengan realita,
32:25kita juga harus
32:25melihat secara objektif
32:26DNA-nya,
32:28faktor-faktor yang
32:29mendasari konsepsi
32:30statistik itu seperti apa.
32:31Kemudian yang kedua,
32:32seperti yang saya jelaskan tadi,
32:34pemerintah menyadari
32:35bahwa memang ada gap
32:36antara statistik
32:37dengan kenyataan di masyarakat.
32:39Pemerintah juga melihat
32:40bahwa apa yang
32:41daya beli masyarakat
32:42ada penurunan,
32:43kemudian ada kenaikan harga,
32:44itu bukan hal yang
32:45didinaing oleh pemerintah.
32:47Sekali lagi,
32:48itulah mengapa
32:48ini tantangan yang
32:49diakui oleh pemerintah.
32:51Pemerintah merasakan
32:52masih ada tantangan
32:54diputuskan
32:54dengan
32:56kondisi real masyarakat
32:57saat ini,
32:58itulah mengapa
32:59pemerintah mengeluarkan
33:00berbagai kebijakan
33:01yang sifatnya
33:02stimulasi untuk
33:03masyarakat.
33:04Untuk konsumsi masyarakat,
33:05kenapa?
33:05Pertama ini kebutuhan pokok,
33:07kedua daya beli,
33:08ketiga konsumsi publik ini
33:1054 persen
33:11menjadi kontribusi
33:12dari pertumbuhan.
33:14Tadi sudah saya sampaikan
33:15beberapa insentif.
33:16Kemudian kita juga lihat
33:17pekan lalu
33:18BBM Pertamak
33:19sudah diturunkan juga
33:20oleh Pertamina.
33:21Artinya kan juga upaya-upaya
33:22dalam rangka
33:25memperbaiki
33:25atau memulihkan kembali
33:27daya beli publik
33:28berangkat dari
33:29kesadaran pemerintah
33:30bahwa saat ini
33:30kondisinya masih challenging.
33:31kondisinya tidak seindah
33:33statistik.
33:35Pemerintah memang
33:36selalu
33:38menjelaskan,
33:38memaparkan data-data
33:39statistik
33:40karena itu adalah
33:40cerminan.
33:41Cerminan yang
33:42di sisi lain juga
33:44pemerintah menyadari
33:45ada tantangan
33:45yang tadi
33:46diatasi oleh serangkaian
33:47kebijakan
33:47yang memang
33:48mengadres
33:49kepentingan masyarakat.
33:50Mas Tamsul
33:51Pak Aditya
33:52masih optimis
33:53kondisi ekonomi kita
33:54stabil dan juga
33:55terus tumbuh
33:56tapi kita bisa
33:56membacanya juga
33:57ada fenomena-fenomena
33:59yang menarik juga
34:00yang ada di masyarakat
34:02ada Rojali
34:02ada Rohana
34:03ada mantap
34:04makan tabungan
34:05bagaimana membaca
34:06hal ini
34:07dan ada juga
34:08angka jumlah
34:10ataupun jumlah
34:10kraft menengah
34:11yang terus menurun
34:12bagaimana kita
34:12melihat hal ini?
34:14Ya fakta-fakta yang
34:14seperti itu
34:16yang sering didinai
34:16Mas Aditya oleh
34:17pemerintah
34:18terutama kemarin
34:19saja
34:19kayak data
34:20di bawah 100 juta
34:22masih naik sekian
34:23oh iya
34:23yang naik yang mana
34:24kelompok mana
34:25misalkan
34:26di bawah 100 juta
34:26masih naik
34:275,16%
34:28misalkan
34:29tapi
34:30data yang mirip
34:31yang serupa
34:32oleh perbankan
34:33itu kan
34:33menyebutkan
34:34bahwa ada penurunan
34:35trend
34:36di level itu
34:37tapi penabung
34:38memang individual
34:39bank itu
34:39itu
34:40bank-bank pemerintah
34:42menyebut
34:42data-data seperti itu
34:43jadi
34:44dinaik oleh
34:45lembaga pemerintah
34:46tapi di dalam
34:47tanda kutip
34:48dibantah juga oleh
34:49lembaga yang
34:50anaknya pemerintah juga
34:51seperti itu
34:52jadi
34:52membuat kita yang
34:53di lapangan itu
34:55kadang-kadang bingung
34:56tapi kayak tadi
34:57misalkan
34:57mal rame ya
34:58bener rame
34:59tapi nongkrong
34:59ngopi ya
35:00mungkin ngopi satu cangkir
35:01untuk sekian lama
35:02gitu
35:02adanya seperti itu
35:03kemarin
35:04kebetulan saya
35:05dua hari terakhir ini
35:06mengamati itu
35:07langsung gitu
35:08saya coba masuk
35:10saya tanya ke
35:11yang apa namanya
35:12penjualan pakaian
35:13gitu
35:13ya memang
35:14ya lihat-lihat aja mas
35:15ya itu yang rojali itu
35:17rombongan jarang beli
35:18banyak kan seperti itu
35:18masih ada fakta
35:20yang seperti itu
35:20yang
35:20itu tercermin juga
35:22di indeks
35:23tadi ya
35:23indeks yang dihitung oleh
35:24BI indeks
35:25itu tercermin
35:26seperti itu
35:27merupakan
35:27angkanya terlihat
35:28tadi lagi
35:29di atas 100
35:30artinya
35:30masih optimistis
35:32dan sebagainya
35:32tapi
35:32faktanya adalah
35:33tidak ada
35:35transaksi yang
35:36signifikan di
35:37mall-mall itu
35:38bahkan kalau kita
35:39melihat
35:39untuk melihat
35:41perbandingan
35:42tahun lalu
35:43Juni itu
35:44sekitar
35:44117,8
35:46indeks konsumen
35:47nah sekarang ini
35:47Juni tahun ini
35:48juga sama-sama
35:49seperti itu
35:50dan itu
35:50ke September
35:52tahun lalu
35:52ada penurunan
35:53ke 117,4
35:56kalau nggak salah
35:57itu
35:57sudah terjadi
35:59gejula yang seperti itu
36:00kita berharap
36:01tidak akan
36:02seperti itu lagi
36:03mengulang hal yang sama
36:04karena
36:04pemerintah tentu
36:06insentif-insentif
36:07yang diharapkan
36:07tadi
36:08digelontorkan
36:09ke masyarakat
36:10Mas Adit itu
36:11benar-benar yang terasa
36:12jangan insentifnya
36:14untuk insentif beli mobil
36:15itu kan nanti yang dapat
36:16adalah
36:18produsen mobilnya
36:19tapi
36:19insentif-insentif
36:20mungkin
36:21PPN itu akan
36:22lebih nyata
36:22PPN di level-level
36:24tertentu
36:24dipotong
36:25misalnya dikurangi
36:26itu kan
36:26atau ditanggung pemerintah
36:27namanya
36:27itu akan lebih terasa
36:29ke level yang
36:30selama ini
36:31masyarakat yang tidak
36:32menikmati
36:32menengah
36:33menengah
36:34atas
36:34menengah yang
36:35tidak tersentuh oleh
36:36Pancos
36:37oke baik
36:37Pak Turbus
36:38kalau kita kembali lagi
36:40ke pembangunan pagar
36:41yang tinggi-tinggi
36:42mal dan juga
36:43ada beberapa kantor
36:44begitu
36:45kalau Anda melihat ini
36:46ada gak kaitannya
36:47dengan gejolak
36:48politik saat ini
36:49ada dong
36:50karena politik sekarang
36:53ini kan
36:54ini ingat ya
36:55ini kan
36:562026
36:56ini situasinya
36:58sudah mulai
36:59ini
37:00adanya putusan
37:01MK terkait
37:02dengan MBG
37:03itu sudah
37:03reaksi politiknya
37:05sudah jinduan besar
37:05artinya apa
37:06pemerintah pun
37:07sampai hari ini
37:08belum menjelaskan
37:09tersendiri
37:09harus bagaimana
37:10yang harus dilakukan
37:11artinya
37:11ketika MBG itu
37:12dibuat sebagai
37:14anggaran tersendiri
37:15sesuai putusan MK
37:16itu kan belum ada
37:17penjelasan dari pemerintah
37:18harus bagaimana
37:18mau
37:19apa mau
37:20tahun 2027
37:21yang ada keluar dari Pak Purbaya
37:22bahwa tetap akan
37:23tetap melaksanakan
37:24apa yang sudah
37:25berlangsung saat ini
37:26ini kan sesuatu
37:27situasi yang politik
37:28yang kedua bahwa
37:29ada banyak persoalan-persoalan
37:31politik yang sesungguhnya
37:32tidak-tidak diselesaikan
37:34dalam konteks apa
37:35ketika pernyataan-pernyataan
37:37yang keluar dari
37:38para elit itu
37:39itu tidak menjelaskan
37:40bagaimana solusi
37:41terhadap kondisi
37:42yang ada di masyarakat
37:43misalnya masyarakat
37:44mengendaki adalah
37:45lapangan pekerjaan
37:46mengendaki harga-harga
37:47yang terjangkau
37:48atau setidaknya
37:49apa yang dijanjikan
37:50pada saat kampanye
37:51oleh elit-elit itu
37:52nah itu kan realitasnya
37:54gak ada
37:55malah semuanya naik
37:56semua
37:56berujung kepada masyarakat
37:58mengalami pelan-pelan
37:59otomatis makan tabungan
38:00jadi miskin
38:01itu kan jadinya rentan miskin
38:02jadi miskin
38:03miskin ekstrim
38:03nah ini kan sesuatu
38:04yang sesungguhnya realitas ini
38:05ini yang menurut saya
38:06politik memang
38:08harusnya juga
38:09memberi ruang
38:10kepada apa
38:10kondisi real ini
38:12harus diangkat
38:12kepada sesuatu yang
38:14yang tidak hanya sebutnya program
38:15program Pak Ansos
38:16iya diakui
38:17ada program yang lain-lain
38:18iya diakui
38:19tetapi itu kan tidak cukup
38:21oke
38:21itu karena masyarakat
38:22inginnya apa
38:23sustainability
38:23oke kebelanjutan
38:25oke
38:26Pak Roy
38:27kalau Anda juga melihat
38:28gejolak politik
38:29akhir-akhir ini
38:29apakah ini
38:31mengguncang kepastian
38:32pelaku bisnis
38:33oh iya jelas
38:35karena kan
38:36politik ini kan
38:37memberikan rasa
38:37keamanan
38:38kenyamanan
38:39untuk masyarakat
38:41jadi gejolak politik
38:42apapun juga namanya
38:44tidak artinya
38:45yang kecil
38:45menengah
38:46atau tinggi
38:46gejolak politiknya
38:47itu sama saja
38:48nah justru
38:49yang perlu dijaga
38:50adalah konsistensi
38:51supaya memang
38:52politik ini
38:53dapat tetap terjaga
38:54tidak hanya
38:55dengan euforia
38:56atau menyampaikan
38:58kondisi ekonomi
39:00yang stabil
39:00dan sebagainya
39:01tapi terangkan juga
39:02bahwa memang
39:02kenyataannya apa
39:03dan solusinya apa
39:05pasti masyarakat
39:06akan kita
39:07pelakunya juga
39:07akan lebih tenang
39:08ketika
39:09kenyataannya diungkapkan
39:10dan solusinya apa
39:12karena memang kan
39:12pemerintah itu
39:13namanya juga penguasa
39:14kalau kami pengusaha
39:16beda huruf H
39:17itu sangat berarti sekali
39:18jadi dengan kata lain
39:20bahwa
39:20kondisinya ini
39:22bagaimana
39:23menciptakan iklim
39:24yang kondusif
39:24antara keadaan nyata
39:26sama solusi nyata
39:28nah kalau tidak kan
39:29maka akan jadinya
39:30abu-abu
39:31jadi fake ekonomi
39:32jadi fake numbers
39:34dan lain sebagainya
39:35angka-angka data
39:36yang berseluruhan
39:37yang juga gak sama
39:38nah jadi tadi
39:39saya juga mau singgung sedikit
39:40yang mengenai keramaian
39:41yang terjadi misalnya
39:42sudah ada
39:42rojali rojana
39:44nah sekarang
39:45itu kalaupun
39:46ada yang datang
39:47ke belanja
39:48itu kan kami merasakan
39:49tadi IPR
39:50minus 4,4
39:51year on year
39:51artinya apa
39:53belanjanya kurang
39:54tapi mereka hanya
39:55lipstick effect
39:56namanya
39:57artinya apa
39:58ketika orang susah
39:59orang juga
40:01prihatin
40:02atau khawatir
40:03lebih ingin
40:04supaya hatinya seneng
40:05hiburan Pak ya
40:06cari hiburan
40:07entertain
40:08jadi makan itu
40:09jadi makan itu adalah
40:09primer ya harus makan
40:10kemudian beli kosmetik
40:12itu adalah sesuatu
40:13untuk kesenangan diri
40:14kenyamanan diri
40:15dipuji
40:16dipuja dan lain sebagainya
40:17tapi untuk belanja
40:18itu lain hal
40:20itu kantong
40:21bicara numbers
40:22pendapatan
40:23revenue
40:23nah jadi ini
40:25adalah sesuatu
40:26yang sifatnya
40:26tidak realistis
40:28artinya kami
40:28mengharapkan tetap
40:29bagaimana dukungan
40:31pemerintah terhadap
40:31pembukaan
40:33lapangan kerja
40:34atau wira usaha
40:35PMI memang naik
40:36tapi naiknya juga
40:37masih di bawah 100
40:38itu 50,2
40:39kemarin 48
40:40jadi masih di bawah
40:41sebenarnya
40:42nah kondisi-kondisi ini
40:43kan kenyataan
40:44yang juga disuruh
40:45pemerintah
40:45jadi inilah yang
40:46kita harapkan
40:47ease of doing business
40:48dan kepastian hukum
40:49bertimbang urusan-urusan
40:51pagar yang itu adalah
40:52kami menghormati
40:53keputusan dari beberapa
40:55pengusaha mulut
40:56tapi itu bukan
40:57merupakan suatu hal
40:57yang perlu dibesar-besarkan
41:00oke
41:00Pak Adit
41:01ini kan peristiwa hukum
41:02dan politik
41:03belakangan ini
41:04justru memberikan
41:05persepsi yang kurang
41:07aman begitu
41:08di tengah-tengah
41:09masyarakat termasuk
41:09pembangunan pagar tadi
41:11begitu
41:11ini kan soal keamanan
41:13lalu bagaimana ini
41:14pemerintah mengelola
41:15persepsi ini
41:16ya
41:17sekali lagi
41:18memang pemerintah
41:19tidak bisa dipisahkan
41:22ya
41:22dinamika politik
41:23kemudian yang bisa
41:24berpotensi
41:25imbasnya ke ekonomi
41:27itu tidak bisa
41:29dipisahkan
41:29kalau tadi ditanya
41:31soal bagaimana
41:31mengelola persepsi
41:32ya tentu
41:34pemerintah
41:34komunikasi dengan
41:36pengusaha
41:36untuk bisa memberikan
41:38apa namanya
41:40meyakinkan bahwa
41:41pemerintah ada
41:42di depan untuk
41:43menjaga
41:44stabilitas keamanan
41:45karena sekali lagi
41:46stabilitas keamanan adalah
41:46kunci dari
41:47kergerakan ekonomi
41:48semua orang butuh
41:49keamanan
41:50kita sebagai
41:51apa namanya
41:52konsumen pun juga
41:53membutuhkan keamanan
41:54kalau enggak ya
41:54bagaimana kita bisa
41:55bisa melakukan
41:56aktivitas ekonomi
41:57terlebih
41:58bagaimana juga
41:59dengan pengusaha
42:00Mas Aditya
42:01kalau sudah ada
42:02komunikasi
42:03mengapa masih ada
42:04persepsi negatif
42:05di tengah masyarakat
42:06namun jangan jawab dulu
42:06kita bahasa selesai
42:08tetap bersama kami
42:09di Business Talk
42:16Pak Aditya
42:17kalau memang
42:18seperti yang Anda sebutkan
42:19sudah ada komunikasi
42:20dengan pengusaha
42:21lalu mengapa
42:21masih ada persepsi
42:23negatif di tengah masyarakat
42:24oke saya sambung sedikit
42:25mengenai komunikasi
42:26itu kan terjadi
42:27minggu lalu ya
42:27hari tempat
42:28Presiden menggelar
42:29pertemuan dengan
42:30jajaran pengurus Kadin
42:32tidak hanya pusat
42:32bahkan di daerah pun
42:33juga diudang keistan
42:34untuk berbicara
42:34artinya itu ada
42:36inisiatif pemerintah
42:37untuk bagaimana
42:38mendengar
42:39kemudian berdiskusi langsung
42:40dengan jajaran pengusaha
42:42untuk bagaimana
42:43ke depan menghadapi
42:44tantangan ekonomi ini
42:45bersama-sama
42:46dan sudah ada kesepakatan
42:47dari penjelasan
42:48Ketua Umum Kadin
42:49itu rencananya
42:50tiga bulan sekali
42:51komunikasi dengan Presiden
42:52artinya
42:53pemerintah
42:54pengen melihat
42:55apa sih yang diriakan oleh pengusaha
42:57apa sih yang diriakan oleh pengusaha
42:58untuk bersama-sama
42:59mengatasi
43:00problema ekonomi
43:01karena pengusaha adalah
43:03aktor penting
43:03di dalam
43:05pertumbuhan ekonomi
43:06ke depan
43:06kemudian mengenai persepsi
43:08saya kira begini
43:09persepsi ini kan
43:11banyak aktor
43:12yang
43:12atau kan banyak pihak-pihak
43:14yang memang terlibat di dalamnya
43:15tidak hanya pemerintah
43:16pemerintah tidak berbicara
43:17di ruang hampa
43:18begitu ya
43:19menjelaskan satu hal
43:20kemudian
43:21apa namanya
43:22berusaha meyakinkan publik
43:24pemerintah tidak berbicara di ruang hampa
43:25banyak
43:26pihak-pihak yang tentu juga
43:28melihat secara
43:30kritis
43:31saya ingin
43:31memberikan
43:32diksi itu
43:34melihat secara kritis
43:35atas apa yang dilakukan oleh pemerintah
43:36begitu
43:37dengan
43:38ya mungkin
43:38mohon maaf
43:39motif yang
43:39berbeda-beda
43:40begitu
43:41itulah yang
43:41tidak bisa dihindari
43:43sekali lagi
43:43apalagi di ruang
43:44komunikasi digital
43:46saat ini
43:46kalau orang bilang
43:47sekarang ini
43:48resimnya resim
43:49clippers
43:49begitu kan
43:50orang dengan mudah
43:52membangun persepsi hanya dari satu
43:53apa
43:54peristiwa
43:55fenomena
43:55kemudian di
43:57clipping
43:57di clip
43:58dibuat
43:59dibuat apa
43:59clip
44:00singkat dengan framing tertentu
44:02sehingga memunculkan
44:03apa namanya
44:04persepsi yang berbeda dari
44:05sebenarnya dari fakta yang sesungguhnya
44:07oke
44:07itu
44:07memang tantangan komunikasi informasi
44:10di era saat ini
44:11jadi itulah yang
44:12yang
44:13suka tidak suka
44:14kita harus mengakui bahwa
44:15itu yang turut
44:16membentuk persepsi di publik
44:17sehingga tidak mudah
44:18buat pemerintah tentunya
44:19untuk bagaimana apa namanya
44:21tidak mudah
44:22banyak tantangannya
44:23mas
44:23udah
44:24kalau kita melihat
44:26menurut anda begitu
44:27apakah komunikasi
44:29antara pemerintah
44:30dengan pelaku usaha
44:31sudah terjalin
44:31dengan harmonis
44:32dan bagaimana
44:33sebaiki pemerintah
44:34memperbaiki persepsi
44:35kecemasan
44:36atau ketidakamanan
44:37pelaku usaha
44:37ya
44:38kalau komunikasi
44:39sama pengusaha
44:40tentu Pak Ray
44:41lebih patah
44:42untuk menjawabnya
44:43lebih pas
44:43nah tapi
44:44kalau kita lihat
44:45memang
44:46komunikasi pemerintah
44:47yang ingin menggabarkan
44:49selalu positif
44:50misalkan
44:51itu yang kita kritik
44:52sebenarnya
44:52dari misalkan
44:54Februari
44:55tahun lalu
44:55kita sudah bilang
44:57bahwa Indonesia gelap
44:58dan sebagainya
44:59eh tiba-tiba
45:00Pak Presiden kita
45:01bilang
45:01saya bangun cerah kok
45:03dan sebagainya
45:04ini kan sesuatu yang
45:07memang
45:07menyalahi aturan
45:09gitu kan
45:09bahwa
45:10ya memang kita sedang gelap
45:11kita tidak
45:12bisa memungkiri
45:13di satu sesi
45:14masyarakat kita
45:15sedang susah gitu
45:16tiba-tiba Presiden kita
45:17bilang
45:18mas bagus kok
45:19dan sebagainya
45:19yang bilang gelap
45:21pergi saja gitu
45:22nah itu kan
45:22suatu komunikasi
45:23yang jelek
45:24nah
45:25kemudian
45:26yang kita inginkan adalah
45:27bagaimana
45:28pemerintah ini
45:28menggabarkan
45:29hal yang sebenarnya
45:31yang terjadi
45:32seperti apa
45:33tadi misalkan
45:33tadi sedikit-sedikit
45:35dari Mas Hadid kan bilang
45:36terkait dengan
45:37DNA
45:38data
45:39pakai
45:40min
45:41atau rata-rata
45:42dan sebagainya
45:42rata-rata
45:43dari siapa yang disurvey
45:44itu kan penuh-penuh
45:46step dan step
45:47multi-survey
45:48siapa dan sebagainya
45:49itu kan dipilih
45:50ya kan
45:51ada random
45:52ada sampling
45:53dan sebagainya
45:53nah
45:54tentu
45:55inilah yang jadi
45:56kalau kita bilang ya
45:58bahwa
45:58ini bisa kita bilang
45:59pemerintah memang
46:02membuat
46:02data kita
46:03bagus gitu
46:04sehingga
46:05tadi
46:06PIDAT PAS
46:07PIDATO Presiden
46:0717 Agustus
46:08atau 14 Agustus
46:09itu kan
46:10itu ekonomi kita baik
46:12Presiden kita juga suka
46:13kayak gitu Mas
46:13tidak suka
46:15apa yang dikabarkan
46:16itu negatif
46:16nah akhirnya lah
46:18yang ini yang
46:19bisa membuat
46:19kejolak masyarakat
46:20akhirnya meletup
46:21kok
46:22pemerintah bicara baik ya
46:24tapi yang saya rasakan
46:25berbeda
46:26itu kan kayak
46:27semacam apa ya
46:27pasti menyebutkan
46:28kecurigaan kan
46:29kok bisa kayak gini
46:30kok pertumbuhan ekonomi kita
46:32bisa 5,6%
46:34tapi
46:35pendapatan saya
46:36kok maha turun
46:37itu kan jadi pertanyaan
46:38makanya
46:40kalau saya pribadi
46:41kalau mau perbaiki
46:42ya buka
46:43data
46:44apa adanya
46:45kemudian juga
46:46mengabarkan apa yang
46:47sebenarnya terjadi
46:48bukan hanya
46:49ingin mendengar
46:50yang baik-baik saja
46:51oke baik
46:52Mas Hamso
46:52persepsi
46:54dan komunikasi
46:55seperti apa
46:55yang perlu diluruskan
46:57terkait dengan
46:57pembangunan pagar
46:58akhir-akhir ini
46:59di mal-mal
46:59singkat saja
47:00upaya mendengar langsung
47:01dari pengusaha itu
47:02bagus
47:02tapi yang terjadi
47:03sangat disayangkan
47:04kalau sampai di istana
47:05ketemu Presiden
47:06pengusahanya
47:07puji-puji juga
47:08apa yang terjadi
47:09itu kan
47:10karena mau dorot
47:11akhirnya
47:11apa yang
47:12mengeluhnya di luar
47:14nah itu kalau
47:14pas ketemu
47:15Pak Presiden
47:15langsung
47:16ya sampaikan
47:16apa adanya
47:17kondisi kami
47:17seperti ini
47:18kami butuh
47:19bentuan seperti ini
47:20yang perlu
47:21dilakukan pemerintah
47:22seperti ini
47:22saran-saran
47:23seperti itu
47:23harus nyata
47:24jangan sampai
47:24rudah ke istana
47:26mau
47:27keluh kesah
47:28malah disana
47:28puji-pujian juga
47:29gitu
47:30akhirnya yang
47:30outputnya yang diterima
47:32oleh Presiden
47:32bukan
47:33fakta data
47:34yang benar-benar
47:35untuk mengambil
47:35kebijakan yang tepat
47:36tapi akhirnya
47:37kebijakan yang
47:38mungkin lebih ke
47:40omon-omonomik
47:40gitu
47:41oke
47:41berarti
47:42memang
47:43harus ada
47:44kejujuran disini ya
47:45menyampaikan
47:46kepada
47:46pemerintah
47:47sesuai dengan
47:48faktanya di lapangan
47:49dengan puji-pujian
47:50dengan hal-hal
47:50positif terus
47:51ada juga hal-hal
47:52yang memang real
47:52yang memang disampaikan
47:53terima kasih
47:54peran-rasumber
47:55yang telah hadir
47:56di
47:56Studio Kompas TV
47:57pada malam hari ini
47:59ada Pak Aditya
48:00Leksmana
48:02tenaga ahli
48:02Bakom RI
48:03ada
48:03founder
48:05dan juga chairman
48:05affiliation
48:06global retail
48:07ada Trubus Radiansyah
48:08ada juga Nel Huda
48:09dan juga ada
48:09rekan saya
48:10Samsul Ashar
48:11dan saudara demikian
48:13bisnis talk
48:14pada malam hari ini
48:15saya Yan Rahman
48:16pamit undur diri
48:16terima kasih
48:17sampai jumpa
48:18selamat menikmati
48:20selamat menikmati
48:25terima kasih
Komentar