Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Mahasiswa UGM akhirnya angkat bicara terkait kericuhan yang terjadi dalam forum yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM pada Senin (15/6/2026) lalu.

Perwakilan mahasiswa UGM, Sarah bersama puluhan mahasiswa lainnya di Balairung UGM, Rabu (17/6/2026) menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk ekspresi atas krisis kepercayaan terhadap pemerintah yang dinilai semakin jauh dari kepentingan rakyat.

Ia menyebut, mahasiswa yang hadir saat itu awalnya memperoleh informasi mengenai kedatangan sejumlah pejabat negara beserta pihak-pihak yang dianggap dekat dengan pemerintah ke UGM. Kecurigaan mahasiswa, kata dia, semakin menguat setelah mereka berada di dalam forum dan melihat porsi pembicaraan yang dinilai tidak seimbang.

Di tengah teriakan, bentrokan, dan sejumlah benda yang sempat terlempar ke arah panggung dari berbagai sisi, Sarah mengatakan perhatian publik seharusnya tertuju pada akar persoalan yang melatarbelakangi kemarahan mahasiswa.

"Kami muak dan tidak lagi percaya kepada pemerintah yang terlebih dahulu melakukan kekerasan terhadap rakyat," ujarnya.

#UGM #GIK #jogja #pemerintah
Transkrip
00:00Halo perakyat Indonesia, Halo buruh yang melawan, Halo perakyat Indonesia, Halo
00:07Tempat padi terhampar, samudranya kaya raya, tanah kami suhurtuang
00:25Imbasnya, defisit APBN makin mengkhawatirkan
00:28Pada bulan Mei saja, defisit APBN sudah menyentuh Rp180,4 triliun
00:35Defisit yang semakin melebar ini, membuat ruang fiskal semakin sempit untuk sektor pendidikan, kesehatan, dan pelindungan sosial yang dari awal
00:43sudah dipotong alokasi anggarannya oleh pemerintah
00:47Puncaknya, hanya lima hari sebelum aksi kami di GIK, Pertamina menaikkan harga Pertamax sebesar 32% menjadi Rp16.250.000
00:56per liter
00:58Pemerintah bergilah bahwa BBF susili tidak naik
01:01Namun, mereka lupa, kenaikan Pertamax berpotensi mendorong migrasi konsumen ke kata lain
01:08Ketika susili energi kian memengkap, tekanan fiskal pun sulit terelangkan
Komentar

Dianjurkan