00:00Saudara, di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih dihadapi Indonesia saat ini,
00:05mulai dari daya beli masyarakat hingga ketidakpastian global,
00:08sebenarnya langkah apa yang harus menjadi prioritas pemerintah
00:12dan bagaimana masyarakat sebaiknya menyikapi kondisi ekonomi saat ini?
00:16Kita akan membahasnya bersama Guru Besar Ekonomi Monitor,
00:19Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Erlangga,
00:22bersama Profesor Rahma Gahmi.
00:25Selamat siang, Prof.
00:27Selamat siang, Mas Widi.
00:28Baik, Prof. terima kasih untuk waktunya di Kompas siang hari ini.
00:33Prof, saat ini Pertamax naik, harga-harga bahan pokok juga naik,
00:37kemudian BI rate naik.
00:39Sebenarnya Anda menilai situasi kita, situasi ekonomi saat ini seperti apa?
00:44Ya, gini Mas, saat ini memang perekonomian Indonesia itu berada dalam posisi resilient yang diuji ketahanannya ya.
00:55Jadi di satu sisi, Mas Widi, indikator makroekonomi itu seperti pertumbuhan itu masih relatif stabil di kisaran 5%.
01:04Namun di sisi lain, motor penggerak utama ekonomi domestik itu kan udah mulai mengalami tekanan yang serius, Mas.
01:13Ini nggak main-main.
01:14Kenapa?
01:15Karena itu ada masih melekat eksternal shock yang terjadi di era suku bunga tinggi,
01:21higher for longer sekarang, maka kebijakan moneter bank sentral global itu termasuk adalah The Fed,
01:30itu memaksa bank Indonesia kita ini untuk mempertahankan suku bunganya juga tinggi,
01:36demi menjaga stabilitas rupiah gitu kan.
01:39Nah dampaknya apa? Ini tentunya pada biaya modal perbankan, pada perbankan itu pasti membaik.
01:47Dan juga ekspansi dunia usaha melambat.
01:50Nah terus juga ketegangan Timur Tengah ini, Mas Widi, kan kita nggak tahu ya kapan ini Timur Tengah itu mau
01:56berakhir gitu.
01:57Karena ini kan memicu fluktuasi harga komoditas energi dan pangan juga gitu kan.
02:01Jadi yang sewaktu-waktu itu bisa akan mengerek inflasi kita ya, terutama adalah imported inflation.
02:08Jadi ini yang harga minyak akan meroket itu mungkin tidak bisa kita prediksi sampai kapan.
02:15Karena apalagi pasokan dari Gulf versia drop 50% itu sudah menandakan bahwa kita itu akan terjadi suatu level kritis,
02:24Mas, terhadap energi itu.
02:26Nah kalau hal ini terjadi, maka apa?
02:29Beban APBN, subsidi BBM kita itu akan sangat berat, Mas.
02:34Karena belum lagi kenaikan inflasi yang menjulang tinggi dan sekarang jelas ya, real inflation itu sudah mendekati 4% Mas,
02:43Fidi.
02:43Jadi ada double digit dari threshold sekitar 2%.
02:48Nah tantangan yang sangat luar biasa pada domestik kita terutama adalah pada kelas menengah, Mas.
02:53Jadi ini adalah alarm yang paling nyata sebenarnya Mas, Fidi.
02:57Kenapa? Karena kelas menengah itu menjadi motor konsumsi domestik, mulai makan tabungan gitu ya, waktu sebelum itu.
03:06Sekarang sudah maut ya, akibat laju kenaikan pendapatan yang tidak sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan pokok yang terjadi dan juga
03:15biaya hidup yang semakin meroket.
03:17Prof, kalau daya beli kelas menengah terus menurun, dampaknya akan seperti apa, Prof?
03:21Nah ini Mas, karena kan gini Mas, ini terhimpitnya luar biasa karena kenaikan suku bunga dan harga Pertamax itu juga
03:30bersamaan itu berpotensi menimbulkan kelas menengah itu terhimpit dari sisi kanan-kiri.
03:37Itu kelompok masyarakat yang pengeluaran per kapitanya per bulan itu antara Rp2.200.000 sampai Rp10.000.000, Mas.
03:45Nah, jadi ini akan menanggung kenaikan dari biaya mobilitas dan beban utang.
03:51Nah ini adalah kelompok yang luput dari pantauan pemerintah Mas Fidi.
03:55Yang tentunya ini adalah mempunyai suatu peran strategis sebenarnya kelas menengah itu pada pendorong ekonomi nasional.
04:03Karena apa? Kelas menengah ini Mas Fidi sebagai motor utama PDB kita gitu ya, seperti konsumsi rumah tangga.
04:09Dan ini terbukti ya Mas, dari penjualan retail dan indeks keyakit konsumen itu menurun sekarang.
04:15Tajam dari April sampai Mei gitu Mas Fidi.
04:18Serta juga investasinya juga menurun.
04:21Nah ini Mas Fidi akan berikut sekali karena kalau kita kelompokkan antara yang menuju ke kelas menengah dengan kelas menengah
04:30itu adalah sekitar 81,49 persen Mas.
04:35Ini yang tidak main-main gitu. Karena apa? Kalau ini tergerus-terus daya belinya, ini pasti akan mengancam pada perekonomian
04:43nasional seperti itu.
04:45Baik Prof, apakah ini saat ini bisa menjadi momentum bagi pemerintah untuk menata ulang strategi kebijakan ekonomi nasional atau menurut
04:56Prof seperti apa?
04:57Nah seharusnya ini adalah pemerintah harus mengambil langkah prioritas ya Mas untuk menghadapi situasi ini.
05:07Kenapa? Karena pemerintah ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan narasi ekonomi kita kuat Mas.
05:12Jadi perlu ada bauran kebijakan yang namanya policy mix, yang agresif dan tepat sasaran atau targeted gitu Mas.
05:22Seperti apa prioritas yang harus dilakukan pemerintah saat ini?
05:26Ya jadi gini Mas, perlindungan tidak boleh hanya menyasar masyarakat miskin ekstrim.
05:30Tetapi juga harus mulai memperhitungkan kelompok experience middle class.
05:35Nah ini yang paling rentan turun kelas Mas.
05:38Akibat inflasi dari pangan gitu ya, medis, pendidikan dan segala macam gitu.
05:44Nah terus yang kedua, pemerintah harus mengalihkan fokus insentif Mas dari sektor yang padat modal ke industri padat karya.
05:52Demi apa? Menahan laju PHK dan menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.
05:58Nah terus juga saya ingin pemerintah ini mengelola divisi APBN itu dengan sangat disiplin.
06:04Artinya apa Mas Fidi?
06:06Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara itu harus ditekan agar ruang belanja produktif itu tercipta Mas.
06:13Artinya tidak tergerus.
06:15Jadi intinya pemerintah ini harus menyampingkan egonya.
06:19Jadi ego-ego sektoralnya.
06:21Jadi kalau misalnya ada anggaran-anggaran yang jumbo itu yang tidak menampilkan atau tidak berdampak pada kegiatan produktif gitu ya.
06:30Sehingga bisa memperluas lapangan kerja.
06:33Itu intikan Mas.
06:34Jadi kita harus mementingkan rakyat supaya menang gitu Mas Fidi.
06:37Jangan kita langsung terus-terusan keke gitu dengan misalnya MBG, KDMP.
06:42Itu kesampingan itu gitu.
06:44Jadi ini kita pentingnya sekarang apa?
06:47Karena kalau ini dibiarkan Mas, ambruk ekonomi kita Mas Fidi.
06:51Seperti itu.
06:52Jadi intinya apa?
06:53Jadi pemerintah ini harus mengelola divisi APBN dengan sangat disiplin Mas.
06:58Nggak boleh main-main.
06:59Dan juga koordinasi yang ketat antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan untuk memastikan Mas Fidi.
07:06Instrumen moneter seperti operasi pasar terbuka falas atau baik itu SRBI, SUVBI dan sebagainya itu mampu menjaga stabilitas rupiah tanpa
07:17mematikan ikuditas perbankan domestik.
07:20Itu menurut saya Mas Fidi.
07:22Berarti perlu ada refocusing anggaran untuk program-program prioritas pemerintah seperti MBG, kemudian Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat.
07:33Dan sejauh ini Prof melihat respons pemerintah di bidang ekonomi terutama bagaimana pemerintah merespon melalui komunikasi mereka kepada publik soal
07:44kondisi ekonomi ini seperti apa Prof?
07:46Prof, jadi begini, pemerintah saat ini belum menunjukkan ada suatu kejentelmenan.
07:54Saya itu menginginkan pemerintah itu bersikap seperti PM Singapura.
07:58Jadi menyampaikan kepada publik bahwa situasi ekonomi saat ini memang sedang gelumi, baik itu ada eksternal shock ke kita gitu
08:07ya, walaupun domestik sendiri gitu Mas.
08:10Karena akibat kita ada pelebaran divisit demikian.
08:12Nah, intinya mengajak kepada masyarakat bagaimana masyarakat ini lebih wise dalam memanfaatkan, kalau misalnya yang punya aset bagaimana cara menempatkan
08:23aset,
08:23kalau yang mereka tidak punya aset bagaimana dia bisa mengatur pola hidupnya supaya bisa tetap survive Mas.
08:31Seperti itu Mas Fidi.
08:32Baik, terima kasih Ibu Rafma, Prof. Rafma dari Fakultas Ekonomi Universitas Erlangga.
08:43Terima kasih untuk waktunya bersama kami dan telah berbagi pandangan.
08:47Selamat beraktifitas kembali Prof.
08:50Terima kasih Mas Fidi.
08:51Terima kasih.
Komentar