JAKARTA, KOMPAS.TV - Perangkulan aktivis oleh pemerintah menuai polemik.
Senin (8/6/2026), Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal, dilantik menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh.
Banyak pihak menilai langkah ini membuat demokrasi makin pincang, karena makin sedikit pilar penyeimbang. Lantas, apakah perangkulan aktivis memang untuk pembungkaman sipil?
Pemimpin Redaksi KompasTV Yogi Nugraha membahasnya bersama:
Nining Elitos - Koordinator Dewan Buruh Nasional KASBI
Feri Amsari - Dosen Hukum Universitas Andalas
Said Iqbal - Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan
Budiman Sudjatmiko - Kepala BP Taskin
Saksikan dalam program Satu Meja the Forum episode Semua "Diborong" Istana, Indonesia Mau ke Mana? Tayang Rabu 10 Juni 2026 pukul 20.30 WIB di KompasTV.
#prabowo #menteri #kabinet
https://youtu.be/c7-VobVdbQM
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/674101/full-said-iqbal-dilantik-jadi-penasihat-khusus-presiden-prabowo-mampukah-ubah-nasib-buruh
Senin (8/6/2026), Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal, dilantik menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh.
Banyak pihak menilai langkah ini membuat demokrasi makin pincang, karena makin sedikit pilar penyeimbang. Lantas, apakah perangkulan aktivis memang untuk pembungkaman sipil?
Pemimpin Redaksi KompasTV Yogi Nugraha membahasnya bersama:
Nining Elitos - Koordinator Dewan Buruh Nasional KASBI
Feri Amsari - Dosen Hukum Universitas Andalas
Said Iqbal - Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan
Budiman Sudjatmiko - Kepala BP Taskin
Saksikan dalam program Satu Meja the Forum episode Semua "Diborong" Istana, Indonesia Mau ke Mana? Tayang Rabu 10 Juni 2026 pukul 20.30 WIB di KompasTV.
#prabowo #menteri #kabinet
https://youtu.be/c7-VobVdbQM
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/674101/full-said-iqbal-dilantik-jadi-penasihat-khusus-presiden-prabowo-mampukah-ubah-nasib-buruh
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:25Kepada Presiden terkait dengan kesejahteraan buruk.
00:42Kepada Presiden terkait dengan kesejahteraan buruk.
01:09Kepada Presiden terkait dengan kesejahteraan buruk.
01:34Kepada Presiden terkait dengan kesejahteraan buruk.
01:42Keberadaan aktivis sebagai motor kekuatan penyeimbang diperlukan untuk memastikan pemerintahan berjalan dalam koridor konstitusi dan berpihak pada kepentingan publik.
01:52Lalu bagaimana wajah masyarakat sipil jika para penggeraknya bergabung dengan pemerintah?
01:58Semua diborong istana, Indonesia mau kemana?
02:02Inilah satu meja The Forum malam ini bersama saya Yogi Nugraha.
02:06Sudah hadir di Studio Kompas TV untuk membahas tema kita malam ini.
02:11Ada Mbak Nining Elitos, Koordinator Dewan Buruh Nasional CASBI atau Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia.
02:20Apa kabar Mbak Nining?
02:21Masih semangat?
02:23Pasti.
02:24Harus semangat ya?
02:24Selalu semangat.
02:25Oke.
02:25Boleh lebih sedikit Mbak?
02:27Oke.
02:28Supaya terdengar lebih jelas suaranya Mbak Nining sebagai aktivis bu.
02:31Ada juga Bung Ferry Amsari.
02:34Desen aktivis, pengamat, pendengung dari Nusrat Andalas.
02:42Apa kabar Bung Ferry?
02:44Alhamdulillah baik.
02:45Ada juga Mas Budiman Sujat Miko, Kepala BP Taskin.
02:52Aktivis 98 yang dalam catatan sejarah banyak disebut salah satu yang menggulingkan rezeki baru.
02:59Enggak juga.
03:00Tapi terima kasih atas undangannya Mas Yogi.
03:03Terima kasih.
03:04Last but not least ada Saeed.
03:08Saya menyebutnya Pak Saeed Agil sebagai Presiden KSPI.
03:12Saeed Iqbal, maaf sorry.
03:15Saeed Iqbal atau sekarang menjadi penasihat Presiden bidang ketendaraan kekerjaan dan kesejahteraan buruh.
03:23Apa kabar Pak Saeed?
03:24Baik, Alhamdulillah. Assalamualaikum.
03:26Waalaikumsalam.
03:27Saya mau ke Mbak Nining dulu nih.
03:29Satu-satunya perempuan di meja ini.
03:31Mbak Nining kalau melihat Mas Saeed dilantik di istana, kawan satu perjuangan, tentu sebagai kawan gembira.
03:42Tapi dalam konteks pergerakan dan saya menyebutnya adalah ini bisa disebut babak baru relasi gerakan buruh dengan pemerintah.
03:51Dengan maksudnya Mas Iqbal dan sebelumnya ada Pak Jumur Hidayat.
03:59Apa yang boleh kita dengar dari Anda sebagai sesama?
04:03Anda kalau harapan terlalu umum lah.
04:06Kira-kira Anda menitipkan langsung aja.
04:08Kira-kira apa yang mau Anda tanyakan atau apa yang mau Anda sampaikan kepada Pak Saeed?
04:13Iya, pertama saya secara pribadi karena saya kenal dan kemudian sebagai teman gitu ya.
04:21Bagi saya ya senang-senang saja gitu ya.
04:25Tapi harus diingat.
04:27Ya penting tapi-nya ini.
04:28Karena kita juga belum tahu apa peran dan manfaat serta kedudukan.
04:34Kita harus lihat dalam kedudukan hukum ketatanegaraan gitu ya.
04:39Termasuk apakah penasehat ini pasif atau menjadi aktif.
04:43Penasehat.
04:44Iya kan gitu karena penasehat ketenaga kerjaan.
04:47Karena kita tahu problem persoalan ketenaga kerjaan yang sangat kompleks.
04:52Dan sampai hari ini belum ada terjadi perbaikan atas nasib.
04:56Upah layak.
04:57Soal hidayah itu belum selesai ya dengan.
04:59Oh iya pasti tidak hanya bicara tentang upah layak tapi kerja layak terus kemudian hidup layak.
05:04Anda boleh berharap dong dengan maksudnya Pak Saeed ke dalam.
05:07Ya makanya sebelum kita bicara berharap tentu kita harus lihat perannya pasif atau aktif kan gitu.
05:14Kalau dia pasif kita bisa sudah bisa melihat tidak akan membawa perubahan apapun gitu.
05:21Nah apakah yang dinasehat itu mekanismenya nanti kita lihat mau didengar atau enggak.
05:26Kita sudah tahu dalam perjalanannya baru setahun lebih gitu ya gitu.
05:33Seringkali orang mengkritik dan kemudian memberikan masukan pandangan terhadap bagaimana persoalan rakyat tentang persoalan misalkan hari ini adalah tentang keamanan
05:43bekerja.
05:43Atau istilahnya karena hari ini semakin terjadi fleksibilitas tenaga kerja, buruh muda di PHK, buruh semakin lemah dilindungi gitu.
05:52Job security.
05:53Terus sebelum lagi upahnya semakin rendah apalagi kalau kita bicara situasi kondisi masyarakat kita hari ini.
05:59Jadi petani-petani di desa, tanah-tanah masyarakat dipaksakan atas nama pembangunan proyek strategis nasional mereka kehilangan ruang hidup, lingkungan
06:09menjadi rusak gitu ya.
06:11Kemudian menjadi buruk, upah murah terus kemudian tidak punya kepastian kerja karena sistem kerja kontrak, alidayah terus kemudian juga belum
06:20lagi PHK,
06:21belum lagi tentang persoalan penyelewengan hukum gitu ya tentang persoalan pelanggaran terhadap hukum yang masih minimal.
06:28Karena Mbak Nining mengatakan ini bisa aktif atau tidak, ini ada Bung Ferry Amsari yang kita secara kepakaran paham juga
06:37dibandingkan kedudukan penasehat dibandingkan dengan menteri.
06:40Bung Ferry, apa kira-kira Anda bisa membantu menjawab nggak apa yang khawatiran atau pertanyaan dari Mbak Nining soal keberadaan
06:47Pak Saeed ini di dalam aktivis buruh yang ada di dalam istana?
06:51Ya saya melihat sebenarnya ada kecenderungan pemerintah saat ini tidak punya kepercayaan diri.
06:58Maksimal.
06:59Kenapa?
07:00Sehingga semua ditarik, diborong begitu ya.
07:04Tentu tidak dalam rangka kalau biasanya orang borong-memborong ini harga sedang murah ini.
07:10Tapi memang beberapa figur ini bisa kita ketahui adalah figur sentral dalam berbagai isu.
07:17Siapa yang tidak kenal Budiman Sujat Miko?
07:21Kalau Anda punya sejarah pergerakan Anda harus baca dia.
07:26Siapa yang tidak tahu Saeed Iqbal?
07:28Kalau Anda ada di dalam gerakan buruh Anda pernah berdiskusi panjang dengan dia.
07:35Nah orang ini yang hendak ditarik oleh istana itu sebabnya kesan yang saya tangkap terlalu banyak yang ditarik.
07:44Kalau ditarik dalam konteks untuk memperbaiki mempercepat kebijakan tidak ada salahnya kan?
07:49Tidak ada salah tetapi terlalu banyak itu menyebabkan pemerintahan tidak efektif dan hasian.
07:54Catatan saya dengan berbagai peristilahan yang muncul untuk menarik teman-teman ke dalam istana.
08:00Ada staf khusus presiden, ada utusan khusus presiden, ada penasehat khusus presiden.
08:09Yang tiba-tiba namanya saja penasehat tapi kerja-kerjanya eksekutif.
08:15Saya ambil contoh penasehat khusus presiden bidang komunikasi tapi jadi jubirnya presiden.
08:23Dengan kata lain sebenarnya ada orang yang ingin jadi badan komunikasi tapi sudah ada.
08:31Kalau masuk berduaan nanti jadi bawahan satu atasan satu, tidak mau.
08:36Jadi fungsinya sama tetapi namanya nomenklaturnya berbeda.
08:41Bagi saya itu pemubaziran.
08:43Kalau langsung ke posisinya.
08:46Kalau menggunakan catatan soal kemanfaatan apa bagi pemerintahan posisi Pak Syed Iqbal.
08:54Pertanyaan besarnya untuk apa ada menteri yang ngurus buruh, ada pula penasehat ngurus buruh.
08:59Bukankah tugas salah satu menteri adalah dalam bidang tertentu membantu presiden.
09:06Presiden kemudian menasehati menteri.
09:10Sekarang ada presiden partai buruh menjadi penasehat presiden.
09:14Ini sudah bingung namanya.
09:17Nah yang tugasnya menasehati presiden dalam hal ini menurut saya tidak diperlukan.
09:21Karena harus ada faktor penyeimbang di luar istana untuk kerja kerda dan kebijakan-kebijakan negara terkait tenaga kerjaan.
09:31Pak Syed kalau gitu Pak Syed.
09:32Karena Pak Syed sedang dalam perawatan mata.
09:37Saya persilahkan jika memang ruangan ini dianggap terlalu.
09:41Kita izin ya?
09:41Kita izin ya pakai kacamata.
09:43Ya silahkan.
09:43Lebih gagah juga kelihatan.
09:46Supaya clear pemirsa ini bukan karena baru dilantik menjadi setingkat menteri bukan.
09:51Tapi karena memang teripen mata.
09:53Pak Syed mau menanggapi apa yang disampaikan oleh Bung Ferry.
09:57Terima kasih.
09:58Pertama tentu ada dua pertimbangan yang kami di KSPI khususnya.
10:05Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia untuk mengambil posisi membantu presiden sebagai penasehat bidang ketenaga kerjaan dan kesejahteraan buruk.
10:17Sebelum ke sana kalau boleh tahu awal komunikasinya gimana?
10:20Dipanggil atau ada kebutuhan?
10:24Diskusi yang mengalir.
10:26Langsung dengan presiden?
10:27Langsung dengan presiden beberapa waktu sebelumnya.
10:31Misal contoh.
10:32Padahal itu kita kan gelisah ya dengan Omnibus Law undang-undang Cipta Kerja.
10:37Kami menyatakan ini kekalahan politik kaum buruk.
10:42Bagaimana mungkin semua partai politik bersepakat terhadap sesuatu yang merugikan posisi buruk.
10:51Downgrade terhadap kesejahteraan.
10:53Waktu itu.
10:53Persorsi yang masih.
10:54Waktu Omnibus Law digodok sampai di ketok.
10:56Seiring berjalannya waktu sampai dengan akhirnya masuk ke dalam pemerintahan?
11:00Iya ke dalam kekuasaan ini.
11:03Kami berkesimpulan memang kekuasaan itu sesuatu yang penting.
11:07Dan bukan tabu.
11:08Berpolitik bagi buruk itu bukan tabu.
11:11Buruk itu makhluk berpolitik.
11:13Anda pergi ke Amerika Latin bahkan mereka punya partainya.
11:16Pertanyaan adalah berpolitik pasti boleh.
11:18Tetapi ada di luar atau di dalam kekuasaan itu yang sangat kita diskusikan.
11:21Betul boleh opositi.
11:22Ketika ada di dalam apa yang Anda bisa jelaskan?
11:25Nah dalam diskusi-diskusi itu dimulai dengan kekalahan Omnibus Law undang-undang Cipta Kerja.
11:30Begitu Pak Presiden Prabowo terpilih.
11:33Maka kita KSPI menyatakan bersepakat.
11:39Ini kesempatan dan ruang untuk memberikan masukan secara aktif.
11:45Tadi yang Mbak Nini bilang secara aktif terhadap koreksi kebijakan-kebijakan yang sebelumnya.
11:53Pak Prabowo 2014-2019 didukung oleh KSPI secara total.
11:59Karena kita punya pertimbangan.
12:01Jadi ada historisnya ya?
12:02Ada historisnya.
12:03Ada historis.
12:04Bahkan saya waktu itu terpilih sebagai ILO Governing Body, salah satu pengurus pusat PBB.
12:11Badan di PBB, ILO Governing Body berkantar di Geneva.
12:15Saya disuruh milih waktu itu sama ITU si Konfederasi Serikat Guru.
12:18Saya simpulkan artinya memang ada pembicaraan, ada historis dari 2014.
12:22Ya ada historis itu, saya suruh pilih Anda tetap mau ILO Governing Body atau Anda mendukung Prabowo.
12:29Saya bilang Anda tidak boleh ikut campur dalam urusan negeri kita.
12:33Serikat Guru itu bebas, independen, sekalipun Anda orang internasional.
12:37Kalau begitu saya akan tahan dulu, saya ke Mas Budiman.
12:39Mas Budiman sebagai pendahulu, misalnya ada di dalam, kan selalu bahasa klasiknya.
12:44Oh iya kan pendahulu, lebih dulu kan setelah itu bahasa klasiknya adalah ingin memperjuangkan dari dalam sistem.
12:52Ya kan itu kan, sama juga saya lihat pernyataannya Mas Said juga sama juga.
12:58Anda melihat ini memang yang sudah di dalam ya.
13:01Pada dalam prakteknya adalah memang ada kebutuhan politik semata untuk tanda kutip, bukan tanda kutip lagi,
13:07untuk meredam suara-suara kritis sebagai bagian dari stabilitas sebuah pemerintahan
13:12atau ternyata di luar itu ada hal yang publik belum tahu apa yang dikerjakan oleh aktivis di dalam istana.
13:18Bukan kebutuhan politik.
13:20Oh bukan.
13:21Kebutuhan ideologis.
13:22Oke, apa? Bagaimana menjelaskannya?
13:24Pak Prabowo, saya menyatakan di sini mungkin Presiden pertama di era reformasi
13:30yang membawa visi-misi ekonomi politik yang agak berbeda dengan Presiden-Presiden sebelumnya.
13:36Lebih tegas membicarakan perubahan-perubahan struktural.
13:41Lebih tegas dalam memfungsikan APBN sebagai mesin pemerataan selama ini Presiden-Presiden Indonesia sebelumnya
13:50memfungsikan APBN sebagai mesin pertumbuhan.
13:54Presiden Prabowo saya kira setelah reformasi adalah Presiden pertama yang memfungsikan APBN sebagai mesin pemerataan.
14:00Ada 1.300 triliun rupiah diarahkan untuk pengantasan kemiskinan, pengurangan kemiskinan.
14:08Artinya ada keberpihakan itu.
14:12Artinya keputusannya kami masuk adalah keputusan ideologis.
14:15Satu.
14:15Kedua.
14:16Anda melihat itu konsep atau sudah ada yang diterapkan?
14:19Ya itu sudah dicari-cari.
14:20Keputusan bersama dengan DPR dong.
14:21Tercermin di APBN bukan rencana.
14:23Kedua, kalau tadi Pak Ferry bicara terlalu banyak aktivis.
14:28Saya ingat tahun 2011 saya pernah berbicara dengan Lula Da Silva, Presiden dari Pak Kertia Pekerja Brazil.
14:35Menurut saya malah bukannya kurang banyak.
14:37Bukannya kurang, terlalu banyak.
14:38Kurang banyak.
14:40Ketika Lula bicara.
14:41Lula, bagaimana Anda membangun struktur kabinet Anda dalam mencapai tujuan-tujuan pengatasan kemiskinan,
14:47mengatas kejangan sosial.
14:48Tapi itu kan beda mas.
14:49Enggak, enggak sebentar.
14:50Itu yang memegang kekuasaan buruh.
14:52Enggak, enggak.
14:52Bukan, bukan.
14:53Gini, harus dilihat.
14:55Enggak bisa juga kita mengatakan bahwa pro-buruh harus asalnya buruh, enggak juga.
14:59Tentu saja tidak seperti itu.
15:02Presiden, Presiden dari Sepanyol, Partai Buruh Sosialis Sepanyol itu bukan buruh gitu ya seorang intelektual.
15:07Tapi intinya saya ingatakan bahwa ada kebutuhan struktural untuk menempatkan orang-orang reaktif.
15:13Saya bilang, bagaimana Anda membagi kabinet?
15:16Bagaimana?
15:16Saya bagi dua.
15:17Kabinet Kementerian-Kementerian mendorong pertumbuhan ekonomi, Kementerian Industri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pendidikan, Kementerian Investasi.
15:25Saya prioritaskan CEO.
15:26Tapi Kementerian Pertanagaan Kerjaan, Kementerian Agraria, Kementerian Lingkungan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Kepala BP Taskinya Brazil.
15:36Saya prioritaskan pimpinan-pimpinan gerakan buruh, gerakan petani, gerakan perempuan, intelektual.
15:41Artinya apa? Kalau untuk sebuah tujuan struktural seperti itu, saya kira ini jangan dilihat ini hanya segera kebutuhan politik taktis
15:50meredam.
15:50Saya kira kita mereduksinya. Kita lihat saja dari memang visinya Pak Presiden Prabowo apa.
15:55Saya mau mengkelirkan dulu. Ketika semua pihak, banyak kalangan mengatakan bahwa ini soal efektivitas.
16:01Lalu banyak posisi-posisi yang tanda kutip seperti tidak ada-ada kan.
16:05Anda ada yang sudah ada di dalam bisa cerita benarkah itu atau memang ketika sudah di dalam dengan posisi-posisi
16:12yang tertentu,
16:14mau menyelesaikan satu masalah itu susahnya minta ampun.
16:18Bagaimana yang Anda pasakan selama hampir satu, hampir dua tahun kan Anda di di dalam?
16:24Ya, setelah tahun ya.
16:24Iya kan?
16:25Kaitannya dengan BP Taskin atau apapun, ada nggak?
16:28Benar nggak penyataan orang-orang di luar luar luar?
16:30Keseluruhan berkomunikasi?
16:31Iya, dengan Presiden.
16:33Kebetulan?
16:33Tapi tahan dulu jawabannya.
16:35Kita akan kembali setelah yang satu ini, tetaplah di satu menjadi forum.
16:38Saudara-saudara sekalian, saya lima kali ingin jadi Presiden.
16:47Lima kali, empat kali gue kalah.
16:54Tapi saya merasa buruh tani dan nelayan selalu bersama saya, saudara-saudara.
17:00Hanya kita tahu kadang-kadang mereka lah banyak akal.
17:11Tapi nggak apa-apa, akhirnya saudara memberi mandat kepada saya dan percayalah saya akan memberi segalanya untuk membela rakyat saya.
17:23Sisa hidup saya adalah untuk rakyat saya, saudara-saudara sekalian.
17:29Saudara-saudara perhatikan, seluruh dunia dalam keadaan krisis, banyak negara sudah panik.
17:40Kita masih aman, kita suasembada pangan, pangan kita aman.
17:45Berapa tahun lagi, kita tidak lama lagi, kita akan suasembada BBM, suasembada energi, saudara-saudara.
17:59Masih di Satu Meja The Forum, saya mau melanjutkan ke Mas Budiman.
18:03Mas Budiman, tadi pertanyaan saya adalah ketika Anda mengatakan kurang banyak aktivis yang di dalam.
18:08Yang kedua saya lalu bertanya, ketika orang mengatakan ini efektivitasnya seperti apa?
18:12Tapi saya penasaran.
18:14Yang sudah di dalam.
18:15Itu ruang untuk berbincang, untuk menyampaikan pendapat dengan Presiden itu seperti apa sih?
18:22Kamu kan katanya orang tertentu saja.
18:24Enggak juga, secara formal kita kan ada rapat paripunan.
18:27Oke, itu pasti.
18:28Dan rapat terbatas sesuai dengan tema.
18:31Misalnya berkaitan dengan, tersusunnya kalau jika tema kemiskinan, tentu saya diundang bersama Menteri Sosial.
18:39Itu sifatnya apa? Laporan formal atau ada masukan-masukan?
18:41Diskusi, jadi semacam, bukan semacam OBJD, rapat terbatas.
18:45Rapat terbatas tematik, berkaitan dengan kementerian-kementerian yang berkaitan dengan kemiskinan.
18:50Meskipun saya pernah juga ada rapat terbatas berkaitan dengan pendidikan.
18:54Kok bisa?
18:55Karena pada waktu itu, pada awal-awal kabinet berdiri, rapat pendidikannya adalah pendidikan untuk ke daerah-daerah 3T.
19:03Yang terpelosok, terpencil itu ya.
19:05Dan bagaimana cara memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau para peserta didik di daerah-daerah miskin.
19:13Ya di daerah 3T, pinggiran, perbatasan dan segala macam atau di tengah hutan seperti itu.
19:17Nah temanya pendidikan, tapi karena berkaitan dengan kemiskinan juga diikuti.
19:21Artinya dalam keadaan seperti itu berbeda, agak berbeda dengan rapat paripurna.
19:25Di rapat terbatas itu two-way traffic, komunikasinya dua arah.
19:29Komunikasinya dua arah.
19:32Misalnya ada enggak, kalau boleh kasih contoh nih, ada dalam konteks BP Taskin atau apapun.
19:37Oke.
19:38Apa yang kita bisa lihat?
19:39Pada waktu itu saya mempresentasikan sebuah program untuk kita usulkan bagaimana kita mengkonsuldasikan
19:47tanpa APBN pengantasan kemiskinan sampai 2029 dengan cara memberikan valuasi pada kerja-kerja sosial.
19:56Jadi kerja yang merawat lingkungan, kerja yang merawat orang tua, kerja yang merawat kuburan, kerja yang merawat petilasan.
20:03Itu konteksnya Mas Budiwan mengejukan usulan.
20:05Mengejukan usulan, bahkan saya bilang, Pak Presiden, kami sudah merumuskan sebuah mekanisme untuk 0% APBN.
20:120% APBN dan kita bisa selesaikan kemiskinan dalam waktu beberapa tahun ke depan.
20:18Dan kami presentasikan segala macam dengan angka-angkanya.
20:22Presiden kemudian, oke ini saya enggak pernah terpikir soal ini.
20:26Tapi perlu dibicarakan lebih lanjut bagaimana instrumen teknologinya untuk melakukan untuk paca saran.
20:33Saat itu follow up-nya dari Presiden apa?
20:35Nah follow up pada waktu itu kita kemudian mengandalkan pertemuan-pertemuan dengan beberapa macam badan
20:39Bukai Brin ya, karena Pak Presiden eksplisit bicara, dia harus kerjasama dengan Brin karena teknologi digitalnya.
20:43Dan sosialnya.
20:44Saya ada tambahan sedikit ya.
20:46Kalau dibilang ketemu Presiden susah, enggak.
20:49Enggak.
20:49Enggak, serius.
20:50Sebelum saya yang akan jadi penasehat, enggak.
20:53Sebelum saya jadi penasehat, yang akan penasehat khusus Presiden bidang ketenageri dan kesejahteraan buruh.
21:01Pemerintahan sebelumnya tidak pernah menaikkan upah 10 tahun.
21:04Kemudian kami minta waktu melalui Pak Profesor Sumi Dasko bertemu Presiden.
21:10Langsung dihubungi melalui telepon, besok diundang.
21:14Dan baru pertama kali Presiden memutuskan setelah 10 tahun naik 6,5 persen.
21:20Enggak perlu ada perdebatan panjang, buruh bisa menerima.
21:24Yang kedua ketika tahun berikutnya kenaikan upah kembali.
21:28Terjadi perdebatan.
21:29Bahkan Menteri Tenaga Kerja atas masukan dari beberapa menteri terkait, termasuk Menteri Perekonomian, Menteri Rosan, Menteri Investasi, dan juga Pak
21:40Luhut sebagai Ketua Den.
21:41Didatangi oleh kawan-kawan Apindu dan Kak Din.
21:44Mereka minta, kan kenaikan upah berdasarkan inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan indeks tertentu.
21:52Mereka menyodorkan angka 0,1 sampai 0,3.
21:55Pemerintah dalam hal ini Menteri Tenaga Kerja 0,5 sampai 0,7.
21:59Saya enggak mau.
22:00Lagi-lagi saya datang minta ketemu Presiden.
22:03Bisa.
22:04Akhirnya terjadi dialog beberapa kali.
22:07Bahkan, bahkan tanpa harus bertemu langsung dengan Presiden, melalui telepon pun.
22:12Saya bisa bicara dengan Presiden.
22:14Saya jadi kadang-kadang jadi agak berpikir juga kalau dibilang Menteri susah, di masyarakat susah, kok yang saya rasakan beda
22:25ya.
22:26Hal yang sama juga dengan Mas Udeng.
22:28Betul, kemudian Presiden memutuskan usulan kamu apa.
22:31Oke Presiden, saya minta kan indeks tertentu 1,0 sampai 1,2.
22:35Saya minta 0,9.
22:36Dikabulkan.
22:38Kemudian, ketika kami memutuskan untuk aksi May Day yang lalu, untuk aksi di DPR.
22:45Karena kami tidak ingin terjebak dalam rutinitas, seremonial.
22:51Kami memutuskan tanpa dipengaruhi oleh siapapun untuk aksi di DPR.
22:55Karena ada enam isu yang kami bawa pernah di May Day tahun 2025.
23:01Yang tahun ini memang orang melihat sepertinya sepertinya.
23:03Ya, tapi kan enggak ada yang tahu proses bagaimana kami berkomunikasi dengan Presiden.
23:08Emangnya RUPP-PRT memangnya tiba-tiba bisa disahkan?
23:12Tidak, RUPP-PRT 22 tahun kawan-kawan jalan PRT berjuang.
23:16Mas Budiman menambahkan.
23:17Tiga hari bisa disahkan.
23:19Enggak artinya gini, bukan suatu yang aneh juga ketika ada perayaan May Day dihadiri Presiden, di negara manapun.
23:25Oh enggak apa-apa.
23:26Enggak ada masalah.
23:27Jangan-jangan perlu diperlukan.
23:29Bahkan itu bagus.
23:30Yang dilihat adalah keberlangsungan bagaimana perjuangan-perjuangan buruk.
23:33Oh itu benar.
23:34Yang belum selesai.
23:34Pertanyaan tadi, apakah sesuai apa?
23:37Yang menarik tema kemiskinan Mas Yogi, kebetulan dalam soal segala yang berkaitan dengan tema kemiskinan,
23:44Pak Presiden biasanya enggak terlalu berlarut-larut meetingnya.
23:47Sehingga tidak terhalus terlalu banyak, itu biasa segera keluar perpres, segera keluar impres.
23:53Dan itu selalu cepat ya.
23:54Selalu cepat.
23:55Saya ambil contoh.
23:55Saya ambil contoh.
23:56Siapa yang mengusulkan Marsina jadi pahlawan nasional?
23:59Walaupun ini simbolis.
24:00Saya waktu May Day 2015 berbisik.
24:03Pak, tolonglah buru tidak pernah jadi pahlawan nasional.
24:06Menurut kamu siapa?
24:08Marsina.
24:09Oke.
24:09Pertanyaan saya jawab Marsina.
24:10Oke, apakah buru semua setuju?
24:12Saya berkeyakinan setuju.
24:14Karena beliau dari akar rumput, Marsina.
24:16Oke, kita putuskan.
24:17Jadi komunikasi yang pas dan tepat, membuat Presiden bisa memutuskan juga cepat.
24:23RUP, PRT juga itu begitu.
24:25Mas Said dan Mas Budiman, saya mau tanya ke Mbak Nining.
24:28Itu yang kita halami ya, yang kita rasakan ya.
24:30Mbak Nining kan masih ada di jalur perjuangan buruh yang belum masuk ke dalam.
24:35Mbak Nining paling enggak kan ada di luar ya kan.
24:37Tadi mengatakan ada beberapa hal yang belum selesai ini.
24:40Soal upah layak, soal job security, ya kan.
24:44Tapi kalau dari ceritanya masa ini kayaknya semuanya baik aja langsung ketemu ketok.
24:49Pertama harus diingatkan seperti ini.
24:52Yang kita maksud dengan efektivitas itu bukan persoalan bisa bertemu atau tidak gitu ya.
24:58Ya, pertamanya bertemu kemudian menyampaikan persoalan dalam keputusan.
25:02Dengan bertemu itulah bisa disampaikan gagasan.
25:05Tapi kan yang paling mendasar adalah bagaimana akan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
25:12Nah pertanyaan saya soal-soal krusial.
25:14Buruh dengan Pak Mbak.
25:15Contoh gitu ya, kita bicara tentang persoalan MEDE.
25:20Memang secara organisasi konfederasi KASBI tidak terlibat di MONAS.
25:24Dia melakukan aksi yang juga tidak dipengaruhi oleh baik elit politik bahkan kekuasaan hari ini.
25:30Dan kita menentukan sendiri untuk aksi di DPR gitu ya gitu.
25:34Kemudian di beberapa hari sebelum itu, kemudian kita tahu MEDE sebelumnya pemerintah termasuk Pak Prabowo
25:43waktu itu menyatakan akan melakukan penghapusan outsourcing.
25:46Faktanya kebijakan yang dikeluarkan adalah ketika peraturan Menteri justru kemudian mengeluarkan
25:54satu kebijakan tentang alidaya yang kemudian menjadi enam sektor.
26:01Itu yang harus diingat.
26:03Artinya...
26:04Artinya ada yang mengatakan bahwa belum semua apa yang disampaikan oleh pemerintah.
26:09Artinya apa yang disampaikan di publik dengan apa yang kemudian diturunkan dalam satu kebijakan
26:15ini agak bergeser gitu ya gitu.
26:17Kenapa saya bilang seperti itu?
26:20Konstitusi negara kita menjamin bahwa siapapun pengurus negara
26:25menjamin seluruh tumpah dari Indonesia.
26:27Nah kalau enam sektor ini boleh kita alidayakan, artinya kita melakukan diserminasi terhadap enam sektor.
26:34Mulai dari security misalkan terus kemudian catering dan yang lain gitu ya gitu.
26:39Itu yang harus diingat.
26:40Anda melihat belum ada keberpihakan pemerintah.
26:43Nah itu yang harus kita lihat gitu ya gitu.
26:45Saya mau banyak atau sedikit yang masuk dalam kekuasaan kita bisa lihat kok di rezim Jokowi.
26:50Saya mah adalah secara individu saya mendukung rezim Jokowi di periode pertama gitu ya gitu.
26:58Tentang bagaimana pada saat itu ada satu program agenda yang mau disampaikan adalah tentang kerja layak,
27:05upah layak terus kemudian hidup layak.
27:07Sampai hari ini justru kita semakin menjauhkan itu gitu ya gitu.
27:11Bahkan di 2015 Jokowi mengeluarkan PP78.
27:15Yang waktu itu kita semua melakukan pergerakan perlawanan gitu.
27:18Nah itu yang kemudian masih terjadi sampai hari ini.
27:22Misalkan kita bicara tentang anti serikat.
27:24Dengan sistem kerja kontrak, fleksibilitas senaga kerja, sistem emagang dan alidaya.
27:30Ini kerentanan terhadap buru semakin kecil berserikat, kolektif bergeningnya semakin kecil kan gitu.
27:36Karena mereka tidak punya power bergaining.
27:39Dan serikat juga akan memiliki kekhawatiran itu dari sektor formal menjadi informalisasi.
27:44Dan itu nyata.
27:45Nah ditambah lagi dengan omnibus law undang-undang cipta kerja.
27:48Yang hari ini juga banyak dimanfaati oleh pengusaha-pengusaha hitam.
27:52Yang kemudian itu butuh bagaimana pencegahan, pengawasan dan penegakan hukum.
27:57Dan ini masih persoalan yang dihadapi sampai hari ini.
28:00Termasuk juga bicara tentang ruang kebebasan berdemokrasi gitu ya.
28:05Baik di dalam tingkat perusahaan bahkan sampai tingkat nasional kita masih lihat bagaimana pembungkaman, kriminalisasi.
28:12Bahkan sampai penyiraman air keras terhadap orang-orang bersuara kritis.
28:16Saya, Bung Ferry, Bung Ferry ini kan salah satu yang sekarang ini lagi jadi bintang tanda kutip aktivis yang dianggap
28:24meritik terus kerjaannya kan gitu kan.
28:26Memberikan masukan dan sebagainya.
28:28Anda melihat bahwa ada beberapa tadi Mas Budiwan mengatakan kurang banyak aktivis.
28:33Anda melihat apakah sebetulnya keberadaan aktivis sebagai penyeimbang di luar itu seperti apa.
28:40Atau Anda justru mengatakan bahwa saya ini rasa tidak nyaman dianggap selalu tidak pernah ramah dengan pemerintah.
28:47Tapi tahan dulu jawabannya kita akan kembali setelah yang satu ini tetap di satu meja di forum.
28:54Masih di satu meja di forum saya melanjutkan Bung Ferry.
28:56Bung Ferry tadi saya sudah sampaikan seringkali soal data suasembada dan sebagainya.
29:03Terus Anda melihat kawan-kawan aktivis.
29:05Bagi Anda sebetulnya posisi di luar dan di dalam tentu sama saja.
29:09Tetapi apa yang membedakan?
29:11Ketika seorang aktivis yang disebut sebagai motor penggerak penyeimbang kekuasaan ada di dalam harus seperti apa.
29:17Dan yang ada di luar seperti apa.
29:19Dan itu dibiarkan non-aktif saja.
29:20Ya sebenarnya tidak terlalu berminat juga untuk mengkritik pemerintah.
29:25Yang namanya pemerintah saya juga.
29:27Tapi gara-gara Mas Budi meninggalkan tempatnya harus ada yang mengisi.
29:32Ada yang mengisi.
29:33Ini penghargaan.
29:34Benar-benar.
29:35Ini penghargaan.
29:36Maka ada penyeimbang.
29:37Ya betul.
29:38Makanya apalagi dalam berbagai perspektif dosen itu kan pada dasarnya adalah buruh.
29:44Karena dia diupah.
29:46Dan bagi saya itu juga yang perlu dipahami.
29:50Apa yang terjadi yang dicontohkan oleh Mas Budi di Amerika Latin itu.
29:54Sebagian dibenangkan partai buruh baru mereka mengisi kekuasaan dan mengeluarkan kebijakan.
30:01Bukan sebaliknya bersandar semacam ikut ya.
30:06Menuai dari keberhasilan orang.
30:09Sehingga kebijakan-kebijakan pada dasarnya tidak pro-buruh.
30:11Nah bagi saya ya tentu akan ada bedanya buruh yang berkuasa mengeluarkan kebijakannya.
30:21Ada di titik sentral kekuasaan dibandingkan buruh yang menumpang laju biduk ke hilir.
30:27Cuma sekadar lewat.
30:29Di titik itu akan sangat membedakannya.
30:33Tentu ini tidak mencoba berpikir negatif kepada teman-teman masuk ke dalam.
30:41Tapi fakta membedakan, menjelaskan hal yang berbeda.
30:46Tidak ada satupun kerja teman-teman di dalam yang menonjol dari kerja-kerja yang lain.
30:51Kalau kita mau bicara upah minimum bagi para buruh.
30:57Kalau Pak Penasehat mau clear dan lebih berterus terang ya.
31:02Masih banyak problematika upah minimum di berbagai daerah.
31:07Kritik bahkan gugatan juga terjadi.
31:10Jadi kalau menurut saya, kalau Pak Said Iqbal mau menjadi penasehat harus menyampaikan secara terbuka.
31:17Mungkin di beberapa daerah oke, tetapi di banyak daerah masih banyak persoalan soal upah minimum bagi buruh.
31:25Dan itu harus tersampaikan kepada Pak Presiden.
31:29Bukan tidak mungkin teman-teman yang punya akses termasuk Pak Said Iqbal, Mas Budiman
31:34lebih dekat dibandingkan para menteri untuk menyampaikan banyak persoalan.
31:38Karena mungkin Pak Presiden sedang terhibur dengan para aktivis ini.
31:42Sementara menteri datang dengan berbagai persoalan.
31:46Orang persoalan itu membuat Presiden bingung cukup menghadap Pak Teddy saja.
31:51Karena ini mendatangkan tawa, kebahagiaan, tapi belum tentu juga menyelesaikan persoalan.
31:56Nah bagi saya ini yang menjadi titik penting untuk memahami prospek ketatanegaraan.
32:02Tatanegara itu antara hukum dan politik tipis ya.
32:06Nah keberadaan politik teman-teman aktivis di dalam pemerintahan itu pentingnya bagaimana?
32:11Penting itu harus mengubah kebijakan yang signifikan.
32:16Orang sangat berharap, saya sendiri harus mengakui, saya berharap dengan keberadaan Budiman Sujat Miko
32:22pengentasan kemiskinan itu tidak tampil dari sekedar data yang diucapkan pemerintah.
32:29Tapi fakta real data di lapangan.
32:32Itu harapannya.
32:33Dan orang memimpikan para aktivis ini bekerja sesuai imajinasi publik.
32:39Bukan seperti apa yang dikerjakan para politisi-politisi lain.
32:43Nah ini yang saya khawatirkan.
32:45Jangan-jangan jawaban ini cuman.
32:46Saya menganalogikan ketika Anda menchallenge data suaspeda pangan.
32:50Terkait dengan pengetesan kemiskinan, Anda boleh berpedapat nggak kira-kira?
32:55Ya saya...
32:56Mumpung ada Mas Budiman ya di depan.
32:57Dengan segala harapan kepada Mas Budiman.
32:59Oh baru harapan ya?
33:01Belum catatan.
33:02Karena begini, saya tidak melihat terutama daerah-daerah yang tingkat kemiskinannya jomblang dibandingkan daerah lain.
33:10Ada perubahan yang signifikan dari kebijakan.
33:13Dan itu karena Budiman Sujat Miko yang buat kebijakan itu.
33:18Ini kalau mau kita jujur ya, di beberapa daerah beringas seperti Jakarta,
33:23mana upaya yang signifikan untuk mengubah tingkat kemiskinan orang.
33:28Bahkan dalam kondisi global ekonomi yang sedang rusak seperti ini,
33:32bagaimana Mas Budiman Sujat Miko sebagai seorang visioner,
33:38komandante El Capitano di lapangan bisa betul-betul mengubah hal ini menjadi luar biasa.
33:44Mas Budiman, Anda melihat ini gimana?
33:48Saya suka kata-katanya, karena ada tempat yang ditinggalkan maka saya isi.
33:53Saya kira itu bagian dari proses sejarah ya.
33:56Begini Mas Yogi, saya harus luruskan.
33:58Kalau dikatakan adanya animal yang namanya aktivis itu penyimbang, keliru.
34:04Kenapa?
34:04Aktifis itu melakukan perubahan.
34:06Tapi kan juga dalam konteks politik, dia bisa di dalam kekuasaan.
34:13Soal yang nyimbang apa?
34:15Kalau saya bukan masalah ini fungsi pejabat, ini fungsi aktivis.
34:19Penyimbang adalah, kalau pemerintahnya neolib, penyimbangannya harus sosialis.
34:23Kalau pemerintahnya sosialis, penyimbangannya neolib.
34:25Artinya itulah cara kita melihat ekonomi politik ya,
34:29bukan sekedar peran-peran fungsi aktivis dan peran-peran fungsi politis bukan di situ.
34:35Karena aktivis itu juga beda-beda ideologinya.
34:37Beda-beda ideologinya.
34:38Artinya begitu.
34:39Jadi aktivis adalah melakukan perubahan.
34:41Bisa di luar, bisa di dalam.
34:42Kemudian pertanyaannya,
34:45soal fungsi-fungsi seperti saya atau Pak Iqbal.
34:48Mungkin harus ditegaskan, KBPTAS kan badan baru, satu.
34:51Badan baru ini memang tidak eksekutorial, Pak Ferry, tidak eksekutorial.
34:56Lebih koordinatif, monitoring dan merumuskan konsep pengantasan kemiskinan.
35:00Dan itu yang diminta Pak Prabowo.
35:02Bagaimana Mas Budiman, kita sudah ratusan triliun tiap tahun,
35:05tapi kemiskinan masih begini-begini saja.
35:07Coba dibongkar apa masalahnya.
35:09Akhirnya kita menemukan,
35:10kemiskinan itu bukan sekedar orang kurang uang,
35:12tapi juga orang kurang akses dan kurang aset.
35:15Yang menarik, kami kemudian menyusun rencana induk.
35:17Dan sekarang ini sudah kami sampaikan kepada Presiden,
35:20supaya itu binding.
35:21Rencana itu mengingat semua kementerian,
35:23agar setiap kementerian,
35:25Ketelagaan Gerjaan, Kooperasi, Sosial, BGN,
35:28Kementerian Pendidikan,
35:29menjadi satu orkestrasi dari beberapa program itu,
35:33sehingga mereka yang menerima makam berkesi gratis,
35:35kepada sekedar rakyat,
35:36kemudian berkaitan dengan perumahan nanti,
35:39ya berkaitan dengan cek kestaran gratis.
35:41Implikasinya apa?
35:42Sebenarnya ada dampaknya.
35:43Dampaknya apa?
35:44Ada terjadi penurunan kemiskinan.
35:46Meskipun masih belum signifikan.
35:48Artinya dalam progres.
35:49Masih belum signifikan.
35:50Masih belum puas.
35:51Tapi Pak Presiden menegaskan,
35:52kemiskinan ekstrim 2026 harus 0%.
35:55Sekitar 2,2 juta orang Indonesia
35:58yang miskin ekstrim di tahun 2026 harus 0%.
36:00Dan sebagai kepala BPF Taskin,
36:02permintaan Presiden itu menurut Anda realistis atau tidak?
36:04Realistis,
36:05karena kami sudah menemukan,
36:06kami sudah berdiskusi dengan BUMN.
36:08Saya dua hal yang saya mau diskusikan dengan Mas Budi.
36:13Satu, bagi saya aktivis bukan ikan di lautan.
36:17Begitu di lautan dia tidak ikut asin seperti lautan,
36:21tapi begitu keluar dari lautan dia jadi ikan asin.
36:24Jadi jangan ketika di luar pemerintah dia mampu menahan godaan,
36:29begitu keluar pemerintah dia ikut godaan tersebut.
36:32Kedua, soal data-data yang selalu dikampanyekan Pak Presiden.
36:38Pak Presiden kita ini menggunakan jargon ultranasionalis
36:42untuk menghibur orang,
36:44tuntaskan kemiskinan 0%.
36:47Ekstrim.
36:50Sampah 0%.
36:52Tiba suasembada pangan,
36:55padahal ternyata cuma beras.
36:57Nah pidato beliau terlihat
36:59mencoba menghibur orang.
37:02Padahal kita tahu sebagian besar dari pidato itu irasional.
37:07Saya melihat misalnya soal mengetaskan kemiskinan ekstrim,
37:12kalau tidak ada upaya-upaya yang luar biasa juga tidak bisa.
37:16Mas Budi barusan mengatakan
37:17bahwa fungsinya hanya koordinatif,
37:21apalagi kebijakannya belum binding.
37:24Kan sebenarnya di titik kemiskinan,
37:27pengentasan kemiskinan,
37:28Mas Budi itu selevel dengan menteri koordinator.
37:31Menteri koordinator saja kadang-kadang gagal
37:34mengkoordinasikan para menteri.
37:36Apalagi seorang Budiman Sujat Miko
37:38yang level berfikirnya kadang-kadang
37:40lebih tinggi daripada seorang menteri.
37:42Tidak nyambung dengan menteri-menterinya.
37:44Saya tidak melihat binding itu
37:46menjadi hal yang signifikan,
37:48tetapi kekuatan
37:49Mas Budiman harusnya betul-betul
37:52sangat powerful
37:53untuk mengkoordinasikan orang.
37:56Di sini letak kabinet ini sebenarnya tidak efektif.
38:00Terlalu banyak orang,
38:01terlalu banyak jabatan,
38:03fungsinya juga tidak binding.
38:04Saya nanti akan memberikan kesempatan
38:06untuk menanggapi ini termasuk dari Pak Said juga
38:09seperti apa secara psikologis
38:11ketika berada di luar.
38:13Tadi Mbak Nining mengatakan masih banyak
38:15persoalan-persoalan inti terkait dengan
38:17perjuangan buruh yang belum selesai.
38:19Tapi kan hari ini Pak Said ada di dalam
38:21sebagai penasehat.
38:22Tapi jawabannya ditahan dulu,
38:24kita akan kembali setelah yang satu.
38:25Ini tetaplah di Satu Mejade Forum.
38:30Masih di Satu Mejade Forum,
38:32Pak Said,
38:34bagaimana Anda memposisikan?
38:36Dan kira-kira ini situasi lagi sulit,
38:39serba naik,
38:40pasti dampaknya juga keburuh.
38:41Kalau dulu setiap ada kenaikan BBM,
38:43Anda terdepan membawa pasukan,
38:45teman-teman buruh untuk meminta,
38:47pemerintah memastikan jaminan sosial.
38:49Hari ini seperti apa kira-kira?
38:51Saya selalu mengambil contoh itu,
38:54Dr. Rizda Ramli,
38:57di dalam dan di luar,
38:59tetap menyuarakan
39:01apa yang menjadi kepentingan orang banyak.
39:03Karena saya buruh,
39:04tentu saya akan menyuarakan
39:05di dalam atau di luar sama.
39:08Menyuarakan apa yang menjadi kepentingan buruh.
39:10Saya ambil contoh tadi,
39:11misalnya tadi pekerja Al-Hidayah.
39:13Ini akan dirubah,
39:14revisi Permenakernomer 7 tahun 2000,
39:1726 tentang pekerja Al-Hidayah.
39:19Itu nanti Presiden mendengar.
39:21Dan itu kita sampaikan.
39:23Kemis dan Senin ini,
39:25saya akan bertemu dengan Waw Menaker,
39:27ketemu dengan Menaker,
39:28ketemu dengan Dirjen,
39:30untuk sama-sama berdiskusi tentang
39:31mengambil masukan terhadap perubahan Permenaker,
39:34kan bisa.
39:35Ketika kami memenangkan gugatan di MK
39:38tentang Omnibus Law Undang Cipta Kerja,
39:41kami yang terakhir loh,
39:42satu-satunya yang terakhir.
39:44Gugatan Partai Buruh bersama beberapa serikat buruh,
39:47menang,
39:48dan kita minta Presiden tidak mengulakan Perpu,
39:51dilakukan oleh Pak Prabowo.
39:53Nah,
39:54pengalaman-pengalaman itulah
39:56yang meyakinkan saya
39:57dalam pertimbangan yang kedua,
39:59yaitu,
40:01kita punya kesamaan pandang
40:03bersama Presiden Prabowo
40:04terhadap beberapa isu-isu perbulan.
40:06Tentang masih ada persoalan,
40:08iya,
40:09di Amerika,
40:10di Jerman,
40:11di Skandinavia juga masih ada persoalan.
40:13Yang paling penting adalah kita memastikan
40:15kita tidak menyerah terhadap persoalan-persoalan itu
40:18untuk kita perjuangkan,
40:20termasuk yang masalah upah.
40:22Bayangkan,
40:22Pak Prabowo sudah menyetujui indeks tertentu 0,9.
40:25Menteri Dalam Negeri dan Menteri Tenaga Kerja,
40:28yang Abang tadi bilang,
40:29Abang Ferry,
40:30dikumpulkan
40:30untuk diperintahkan 0,7.
40:33Ini ada perluan perlawanan dari dalam.
40:35Saya sudah tangkap poinnya.
40:36Singkatnya adalah keberadaan Pak Said di dalam maupun di luar.
40:40Sama saja kita ingin memberikan yang terbaik bagi buruh
40:44dengan cara yang bisa kita lakukan.
40:46Tentu dengan cara yang baik.
40:48Kami percaya dan berkeyakinan,
40:50Pak Prabowo mau mendengar,
40:53mau bertindak sepanjang.
40:54Kita memberikan masukan yang terus-menerus
40:57dan berkeyakinan untuk memberikan argumentasi yang kuat.
41:01Insya Allah akan kami lakukan.
41:03Mas Budiman,
41:04Anda harus memastikan bahwa keberadaan Anda
41:07dan kawan-kawan aktivis,
41:09Mas Jumhur, Pak Said,
41:11dan lain-lainnya itu tidak sekedar politik akomodatif,
41:15tidak sekedar tanda kutip operasi pembungkaman,
41:17tapi lebih kepada menjadi fitra.
41:19Kalau Pak Prabowo sekedar melakukan politik akomodatif,
41:23orang-orang seperti kami hanya ditaruh
41:25dan kemudian tidak didengarkan
41:27dan rekomendasi tidak dijalankan.
41:28Kalau dengar cerita Pak Iqbal kan dijalankan.
41:30Rekomendasi kami juga tentang,
41:32tentang perlunya bikin supply chain dari MBG
41:35dengan kooperasi dari petani pasokannya,
41:38itu juga didengarkan.
41:38Meskipun dalam pelaksanaannya memang ada hambatan-hambatan ya.
41:42Kedua,
41:43kalau sekedar akomodatif,
41:46Pak Prabowo pasti hanya sekedar menjadi pendengar pasif
41:48kalau kami sedang diskusi.
41:50Tapi apa yang terjadi?
41:51Tidak.
41:52Apa yang terjadi?
41:53Kita bisa teknis ya,
41:54secara data ya,
41:55tapi yang menarik,
41:57ketika kami membawa referensi sejarah,
41:59referensi ekonomi,
42:00referensi politik,
42:01segala macam,
42:03beliau bisa secara responsif.
42:05Dan bukan secara responsif,
42:06bahkan beliau kadang-kadang memberikan perspektif
42:08yang,
42:09yang menurut kami,
42:11mengingatkan kami pada diskusi-diskusi zaman kami
42:13masih menjadi kelompok studi dulu,
42:15waktu jaman pergerakan.
42:16Artinya apa?
42:16Ya mungkin karena latar belakang beliau dari
42:18keluarga Partai Sosialis Indonesia,
42:20sedikit banyaknya kewarisan bapaknya ya,
42:24itu nyambung di sana.
42:26Artinya,
42:27kalau sekedar politik akomodatif kan transaksional.
42:30Tapi menurut saya seperti katakan tadi pertanyaannya,
42:33apakah ini politis?
42:35Bukan,
42:35ini ideologis.
42:36Bagi kami ini ideologis.
42:38Jadi intinya Anda mengatakan bahwa presiden masih bisa di diskusi,
42:42bisa diajak berdebat.
42:43Bisa.
42:44Dan bahkan bisa kita merubah keputusan presiden,
42:46itu banyak argumentatif.
42:48Sering sekali itu kita lakukan.
42:49Oke, saya ke Mbak Nining.
42:50Mbak Nining,
42:52kalau demikian,
42:53tadi ada kawan yang sudah masuk ke dalam istana,
42:56bagaimana Anda menempatkan organisasi buruh ini
42:58sebagai motor perjuangan nasib buruh yang masih banyak,
43:03persoalan belum diselesaikan?
43:04Iya,
43:05walaupun Bung Iqbal masuk sebagai penasehat presiden
43:10tentang ketenak kerjaan,
43:12tadi saya sudah banyak menyampaikan problem mendasar akal persoalannya
43:17sampai hari ini adalah belum terjawab.
43:21Nah, kita akan melihat dalam proses perjalanannya
43:25apakah mempengaruhi atau dipengaruhi.
43:28Tinggal seperti itu.
43:29Nah, tapi harus diingatkan kami tetap akan bersuara
43:34dan terus berjuang gitu ya,
43:37dengan berbagai macam sektor,
43:39karena problem buruh tidak hanya orang yang bekerja,
43:42tapi ancaman terhadap generasi muda ke depan
43:45dan mayoritas masyarakat hari ini adalah yang masih non-sereka juga
43:51harus disuarakan, kan kayak gitu.
43:54Nah, itu yang harus kita lihat.
43:56Yang selanjutnya adalah tentang bagaimana
43:58manfaat dari ketika teman-teman
44:02yang tadinya memilih jalan perlawanan di garis masa
44:06yang kemudian masuk di dalam lingkaran kekuasaan,
44:11ini akan,
44:12secara alami akan terlihat
44:14apa akan membawa satu perbaikan
44:16kondisi nasib kaum buruh
44:18atau justru sebaliknya.
44:20Nah, hari ini masih ada PR kita adalah
44:22tentang bagaimana
44:23sampai hari ini Indonesia tidak memiliki
44:26standarisasi upah layak secara nasional.
44:28Dan itu nanti yang kira-kira akan titipkan
44:30kepada kawan-kawan Anda yang sudah ada di tanah istana.
44:33Pemutusan hubungan kerja
44:35yang hari ini juga semakin masif,
44:36dampak dari problem global
44:39yang kemudian menjadi korban adalah
44:43ujung tombak dari ekonomi adalah para...
44:46Kawan-kawan akan terus berjuang di luar...
44:48Iya, kita tahu masih banyak organisasi serikat
44:50bahkan mungkin bisa saja
44:52dari anggota Bung Iqbal sendiri
44:54ya pasti akan ada pro dan kontra
44:56atas kondisi ini kan gitu.
44:58Begitu juga dengan konfederasi-konfederasi
45:01atau organisasi-organisasi lain.
45:02Bung Ferry,
45:04kalau kita seling ada zakan kabinet dan sebagainya
45:06ada juga hari ini ada juga politik akomodatif
45:09kata beberapa pengamat.
45:10Kalau Anda melihat sebenarnya
45:11apa sih yang paling ideal dalam situasi sekarang
45:13yang harus dikerjakan oleh kabinet
45:15merah putih pimpinan Prabowo Subianto?
45:17Namanya saja kabinet.
45:18Kabinet itu artinya kan kamar kecil.
45:21Tempat diisi orang-orang
45:22kepercayaan raja-raja dulu.
45:25Nah sekarang kabinetnya terlalu banyak.
45:27Sudah 110.
45:28Kalau ditambah utusan-utusan ini
45:29dan penasihat itu bertambah lagi.
45:33Dan itu tentu saja tidak ideal
45:35untuk sistem pemerintahan presidensial
45:37yang efektif dan efisif.
45:38Selain dari jumlah,
45:39Anda mau melihat apa yang kira-kira perlu perbaikan?
45:41Ya di data penelitian kami menyarankan
45:44kepada Presiden Republik Indonesia
45:46hanya membutuhkan 21 menteri
45:48dengan tetap mempertahankan 34 kementerian.
45:52Jadi ada satu menteri yang akan memimpin
45:54dua kementerian yang objek persoalannya sama.
45:57Katakanlah yang objeknya desa.
45:59Itu menterinya banyak tuh.
46:00Menteri dalam negeri,
46:02menteri desa,
46:03menteri daerah tertinggal,
46:05pertanian,
46:06dan segala macam objeknya berdekatan.
46:07Nah itu akan membantu kinerja efektif presiden.
46:12Kalau bicara sosialisme,
46:13itu sosialisme salah satunya.
46:15Nah kita tidak melihat wajah sosialisme
46:18dalam kebijakan pemerintahan kita.
46:20Misalnya merebut tanah rakyat,
46:23mengaktifkan militaristik dan polisi di ruang sipil,
46:28itu lebih mirip fasisme daripada sosialisme.
46:31Dan bagi saya tidak cukup menjual sosialisme
46:34untuk menghibur rakyat.
46:36Yang perlu dipastikan adalah
46:38rakyat betul-betul bahagia
46:40di bawah kepatuhan kepada konstitusi.
46:43Terima kasih Bung Ferry,
46:45terima kasih Mbak Niling,
46:46terima kasih Mas Budi,
46:47Mas Buda Miko,
46:48terima kasih Pak Said Iqbal.
Komentar