Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPASTV - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat memicu kekhawatiran pelaku pasar dan ekonom.

Menanggapi kondisi tersebut, ekonom dan pakar kebijakan publik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai pelemahan rupiah tidak bisa dianggap sekadar sentimen pasar jangka pendek.

Menurut Ahmad, meskipun banyak mata uang dunia mengalami tekanan terhadap dolar AS, posisi Indonesia termasuk yang paling terdampak.

"Year to date, rupiah melemah sekitar 7 persen. Ini menjadi tamparan bagi pengelola ekonomi karena Indonesia termasuk salah satu yang mengalami pelemahan terdalam," kata Ahmad.

Ia mengibaratkan level Rp18.000 per dolar AS sebagai termometer yang menunjukkan kondisi ekonomi sedang berada di zona merah.

"Kalau termometernya sudah merah, artinya ada persoalan yang harus diakui dan dibenahi. Jangan hanya mengatakan ekonomi sehat sementara pasar menunjukkan sinyal berbeda," ujarnya.

Ahmad berpendapat akar persoalan saat ini lebih banyak berasal dari sisi fiskal dibandingkan moneter.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Lintang

#rupiah #dolar #ekonomi

Baca Juga Lawan Korupsi! Mensesneg Beberkan Komitmen Presiden Prabowo Sejak Awal di https://www.kompas.tv/nasional/672991/lawan-korupsi-mensesneg-beberkan-komitmen-presiden-prabowo-sejak-awal



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/672996/full-rupiah-tembus-18-000-per-dolar-as-ekonom-soroti-masalah-fiskal-kompas-bisnis
Komentar

Dianjurkan