00:00Dengan segala kerendahan hati, izinkan saya menyampaikan peledoy pribadi ini.
00:06Saya memahami bahwa ruang persidangan adalah ruang yang terhormat.
00:11Di tempat ini, setiap kata harus diucapkan dengan kesadaran.
00:16Setiap penjelasan harus sampaikan dengan tanggung jawab.
00:20Setiap permohonan harus tetap berdiri dalam penghormatan kepada hukum.
00:25Peledoy ini bukan pembelaan hukum teknis tentang dakwaan, alat bukti, keterangan saksi, keterangan ahli, fakta persidangan, serta seluruh argumentasi yuridis.
00:39Hal itu telah disampaikan oleh penasihat hukum saya.
00:43Saya tidak hendak mengulangi ruang pembelaan hukum itu.
00:48Yang ingin saya sampaikan hari ini adalah suara pribadi saya.
00:53Suara seorang manusia yang sedang berada dalam masa paling berat dalam hidupnya.
00:59Suara seorang anak yang sejak kecil kehilangan ayah.
01:04Suara seorang suami, seorang ayah, seorang kakek, seorang aktivis, dan seorang mantan pejabat publik.
01:11Yang hari ini harus berdiri di hadapan hukum keluarga, masyarakat, dan nuraninya sendiri.
01:18Di hadapan yang mulia, saya ingin memulai dengan kalimat yang paling sederhana, paling langsung, dan paling jujur.
01:29Saya salah.
01:32Saya mengakui salah.
01:35Saya menyesal.
01:39Saya menyesal karena sebagai pejabat publik, saya seharusnya menjaga amanah dengan jauh lebih baik, lebih hati-hati.
01:47Saya seharusnya lebih waspada terhadap setiap ruang, setiap relasi, setiap komunikasi, setiap lingkungan jabatan,
01:55dan setiap keadaan yang dapat menimbulkan persoalan, serta melukai kepercayaan masyarakat.
02:03Saya tidak akan membenarkan kesalahan saya, saya tidak akan merendahkan proses hukum, saya juga tidak akan menyerang siapapun.
02:13Hari ini saya hanya ingin menyampaikan perjalanan hidup saya, nilai yang membentuk saya, kerja yang pernah saya lakukan,
02:21penyesalan yang saya rasakan, serta permohonan agar yang mulia berkenan mempertimbangkan diri saya sebagai manusia secara utuh.
02:32Perkara ini dan kesadaran saya, yang mulia majelis hakim yang saya hormati,
02:41perkara ini menjadi pukulan yang sangat besar dalam hidup saya.
02:46Saya merasakan bagaimana nama baik yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh dalam sekejap.
02:53Saya melihat keluarga saya ikut menanggung malu, saya melihat orang-orang yang perpercaya kepada saya menjadi kecewa.
03:00Saya juga membayangkan para buruh yang pernah datang meminta pertolongan mungkin bertanya-tanya mengapa orang yang mereka harapkan justru berada
03:10dalam keadaan seperti ini.
03:12Semua itu menjadi beban batin yang tidak ringan.
03:16Jabatan publik bukan hanya soal kewenangan.
03:19Jabatan publik ada kepercayaan.
03:21Kepercayaan rakyat adalah sesuatu yang mahal.
03:25Ketika kepercayaan itu terluka, seorang pejabat tidak cukup hanya menjelaskan niatnya.
03:31Ia harus berani melihat dirinya sendiri.
03:37Merendahkan hati dan mengakui bahwa ada tanggung jawab moral yang gagal dijaga dengan baik.
03:46Itulah yang saya rasakan hari ini.
03:49Saya mengaku salah karena saya tidak cukup hati-hati menjaga mana itu.
03:56Saya menyesal.
03:58Perkara ini membuat banyak pihak terluka.
04:01Keluarga saya, orang-orang yang pernah percaya, masyarakat, dan para pekerja yang pernah menaruh harapan.
04:10Saya menyampaikan pengakuan ini bukan sekedar kalimat kosong.
04:16Saya menyadari bahwa penyesalan yang benar tidak berhenti pada ucapan.
04:21Ia harus menjadi kesadaran yang merendahkan hati, mengubah cara memandang hidup, dan membuka jalan untuk memperbaiki diri.
04:36Dari kehidupan yang sulit, saya belajar memahami orang kecil.
04:42Yang mulia majelis hakim yang saya hormati.
04:48Sebelum saya dikenal sebagai aktivis, sebelum saya masuk ke dunia politik, dan sebelum saya pernah diberi amanah sebagai wakil menteri
04:56keragakan kerjaan,
04:57Saya hanyalah anak dari keluarga sederhana yang hidup dalam kekurangan.
05:03Saya tumbuh tanpa sosok ayah.
05:07Saat usia saya kurang lebih dari dua tahun, ayah saya meninggal dunia sejak saat itu.
05:13Ibu saya menjadi tiang utama keluarga.
05:17Beliau membesarkan kami dalam bersaudara seorang diri.
05:22Ibu saya bukan orang yang hidup berkecukupan.
05:25Kami tidak memiliki rumah tetap.
05:28Masa kecil saya dilalui dengan berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.
05:37Kekurangan bukan hal yang asing bagi saya.
05:40Saya mengenal rasa cemas karena hidup tidak selalu pasti.
05:44Saya melihat sendiri bagaimana seorang ibu harus berjuang agar anak-anaknya bisa makan, sekolah, dan tetap punya harapan.
05:54Untuk membiayai sekolah, saya ikut mencari uang sendiri.
05:58Saya pernah mengais dan menjual plastik gelas air mineral.
06:01Saya pernah mencuci mobil.
06:03Saya melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil agar pendidikan saya tidak berhenti.
06:09Gelas sarjana yang akhirnya saya peroleh bukan datang dari kemudahan.
06:13Dan kemudahan ia lahir dari kerja keras, keringat, dan tekat untuk tidak menyerah kepada keadaan.
06:22Dari pengalaman hidup itulah saya belajar memahami orang kecil.
06:27Saya memahami bagaimana rasanya ketika hidup harus diperjuangkan dari bawah.
06:32Saya memahami bagaimana beratnya mempertahankan harapan ketika keadaan tidak berpihak.
06:40Karena itu ketika saya berhadapan dengan buru, pekerja, pencari kerja, pengembudi ojol, atau keluarga yang sedang berjuang,
06:49saya tidak melihat mereka sebagai angka.
06:51Saya melihat manusia, saya melihat wajah masa kecil saya sendiri, saya melihat ibu saya, saya melihat keluarga-keluarga yang sedang
07:01bertahan.
07:02Pengalaman itulah yang membentuk keberpihakan saya.
07:10Aktivisme dan keyakinan bahwa negara tidak boleh jauh dari rakyat.
07:15Yang mulia, Majel Sakim yang saya hormati.
07:18Ketika menjadi mahasiswa, saya aktif dalam pergerakan mahasiswa dan pemuda.
07:25Saya harus mengorganisasi kawan-kawan mahasiswa di Depok, Jakarta, dan wilayah sekitarnya.
07:31Pada masa itu saya belajar bahwa hidup tidak cukup hanya diperjuangkan untuk diri sendiri.
07:37Ada kepentingan yang lebih besar daripada diri pribadi, yaitu kepentingan rakyat dan bangsa.
07:44Pada reformasi 1998, saya berada dalam arus gerakan mahasiswa.
Komentar