Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Eks Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer alias Noel mengaku dirinya mendapat pukulan besar dalam hidupnya usai terjerat kasus pemerasan sertifikasi K3.

Hal itu disampaikan Noel saat membacakan pleidoi atau nota pembelaan saat sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (25/5/2026).

"Perkara ini menjadi pukulan yang sangat besar dalam hidup saya. Saya merasakan bagaimana nama baik yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh dalam sekejap," ujar Noel.

Ia pun menambahkan bahwa keluarganya turut menanggung malu dan kecewa setelah dirinya terjerat kasus korupsi.

"Saya melihat keluarga saya ikut menanggung malu. Saya melihat orang-orang yang pernah percaya kepada saya menjadi kecewa," tambahnya.

Baca Juga Eks Wamenaker Noel Dijadwalkan Jalani Sidang Vonis pada 4 Juni 2026 di https://www.kompas.tv/nasional/670991/eks-wamenaker-noel-dijadwalkan-jalani-sidang-vonis-pada-4-juni-2026

#immanuelebenezer #wamenaker #korupsi

Produser: Ikbal Maulana

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/671060/akui-salah-korupsi-noel-ebenezer-sebut-nama-baiknya-hancur-keluarga-ikut-tanggung-malu
Transkrip
00:00Dengan segala kerendahan hati, izinkan saya menyampaikan peledoy pribadi ini.
00:06Saya memahami bahwa ruang persidangan adalah ruang yang terhormat.
00:11Di tempat ini, setiap kata harus diucapkan dengan kesadaran.
00:16Setiap penjelasan harus sampaikan dengan tanggung jawab.
00:20Setiap permohonan harus tetap berdiri dalam penghormatan kepada hukum.
00:25Peledoy ini bukan pembelaan hukum teknis tentang dakwaan, alat bukti, keterangan saksi, keterangan ahli, fakta persidangan, serta seluruh argumentasi yuridis.
00:39Hal itu telah disampaikan oleh penasihat hukum saya.
00:43Saya tidak hendak mengulangi ruang pembelaan hukum itu.
00:48Yang ingin saya sampaikan hari ini adalah suara pribadi saya.
00:53Suara seorang manusia yang sedang berada dalam masa paling berat dalam hidupnya.
00:59Suara seorang anak yang sejak kecil kehilangan ayah.
01:04Suara seorang suami, seorang ayah, seorang kakek, seorang aktivis, dan seorang mantan pejabat publik.
01:11Yang hari ini harus berdiri di hadapan hukum keluarga, masyarakat, dan nuraninya sendiri.
01:18Di hadapan yang mulia, saya ingin memulai dengan kalimat yang paling sederhana, paling langsung, dan paling jujur.
01:29Saya salah.
01:32Saya mengakui salah.
01:35Saya menyesal.
01:39Saya menyesal karena sebagai pejabat publik, saya seharusnya menjaga amanah dengan jauh lebih baik, lebih hati-hati.
01:47Saya seharusnya lebih waspada terhadap setiap ruang, setiap relasi, setiap komunikasi, setiap lingkungan jabatan,
01:55dan setiap keadaan yang dapat menimbulkan persoalan, serta melukai kepercayaan masyarakat.
02:03Saya tidak akan membenarkan kesalahan saya, saya tidak akan merendahkan proses hukum, saya juga tidak akan menyerang siapapun.
02:13Hari ini saya hanya ingin menyampaikan perjalanan hidup saya, nilai yang membentuk saya, kerja yang pernah saya lakukan,
02:21penyesalan yang saya rasakan, serta permohonan agar yang mulia berkenan mempertimbangkan diri saya sebagai manusia secara utuh.
02:32Perkara ini dan kesadaran saya, yang mulia majelis hakim yang saya hormati,
02:41perkara ini menjadi pukulan yang sangat besar dalam hidup saya.
02:46Saya merasakan bagaimana nama baik yang dibangun bertahun-tahun dapat runtuh dalam sekejap.
02:53Saya melihat keluarga saya ikut menanggung malu, saya melihat orang-orang yang perpercaya kepada saya menjadi kecewa.
03:00Saya juga membayangkan para buruh yang pernah datang meminta pertolongan mungkin bertanya-tanya mengapa orang yang mereka harapkan justru berada
03:10dalam keadaan seperti ini.
03:12Semua itu menjadi beban batin yang tidak ringan.
03:16Jabatan publik bukan hanya soal kewenangan.
03:19Jabatan publik ada kepercayaan.
03:21Kepercayaan rakyat adalah sesuatu yang mahal.
03:25Ketika kepercayaan itu terluka, seorang pejabat tidak cukup hanya menjelaskan niatnya.
03:31Ia harus berani melihat dirinya sendiri.
03:37Merendahkan hati dan mengakui bahwa ada tanggung jawab moral yang gagal dijaga dengan baik.
03:46Itulah yang saya rasakan hari ini.
03:49Saya mengaku salah karena saya tidak cukup hati-hati menjaga mana itu.
03:56Saya menyesal.
03:58Perkara ini membuat banyak pihak terluka.
04:01Keluarga saya, orang-orang yang pernah percaya, masyarakat, dan para pekerja yang pernah menaruh harapan.
04:10Saya menyampaikan pengakuan ini bukan sekedar kalimat kosong.
04:16Saya menyadari bahwa penyesalan yang benar tidak berhenti pada ucapan.
04:21Ia harus menjadi kesadaran yang merendahkan hati, mengubah cara memandang hidup, dan membuka jalan untuk memperbaiki diri.
04:36Dari kehidupan yang sulit, saya belajar memahami orang kecil.
04:42Yang mulia majelis hakim yang saya hormati.
04:48Sebelum saya dikenal sebagai aktivis, sebelum saya masuk ke dunia politik, dan sebelum saya pernah diberi amanah sebagai wakil menteri
04:56keragakan kerjaan,
04:57Saya hanyalah anak dari keluarga sederhana yang hidup dalam kekurangan.
05:03Saya tumbuh tanpa sosok ayah.
05:07Saat usia saya kurang lebih dari dua tahun, ayah saya meninggal dunia sejak saat itu.
05:13Ibu saya menjadi tiang utama keluarga.
05:17Beliau membesarkan kami dalam bersaudara seorang diri.
05:22Ibu saya bukan orang yang hidup berkecukupan.
05:25Kami tidak memiliki rumah tetap.
05:28Masa kecil saya dilalui dengan berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.
05:37Kekurangan bukan hal yang asing bagi saya.
05:40Saya mengenal rasa cemas karena hidup tidak selalu pasti.
05:44Saya melihat sendiri bagaimana seorang ibu harus berjuang agar anak-anaknya bisa makan, sekolah, dan tetap punya harapan.
05:54Untuk membiayai sekolah, saya ikut mencari uang sendiri.
05:58Saya pernah mengais dan menjual plastik gelas air mineral.
06:01Saya pernah mencuci mobil.
06:03Saya melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil agar pendidikan saya tidak berhenti.
06:09Gelas sarjana yang akhirnya saya peroleh bukan datang dari kemudahan.
06:13Dan kemudahan ia lahir dari kerja keras, keringat, dan tekat untuk tidak menyerah kepada keadaan.
06:22Dari pengalaman hidup itulah saya belajar memahami orang kecil.
06:27Saya memahami bagaimana rasanya ketika hidup harus diperjuangkan dari bawah.
06:32Saya memahami bagaimana beratnya mempertahankan harapan ketika keadaan tidak berpihak.
06:40Karena itu ketika saya berhadapan dengan buru, pekerja, pencari kerja, pengembudi ojol, atau keluarga yang sedang berjuang,
06:49saya tidak melihat mereka sebagai angka.
06:51Saya melihat manusia, saya melihat wajah masa kecil saya sendiri, saya melihat ibu saya, saya melihat keluarga-keluarga yang sedang
07:01bertahan.
07:02Pengalaman itulah yang membentuk keberpihakan saya.
07:10Aktivisme dan keyakinan bahwa negara tidak boleh jauh dari rakyat.
07:15Yang mulia, Majel Sakim yang saya hormati.
07:18Ketika menjadi mahasiswa, saya aktif dalam pergerakan mahasiswa dan pemuda.
07:25Saya harus mengorganisasi kawan-kawan mahasiswa di Depok, Jakarta, dan wilayah sekitarnya.
07:31Pada masa itu saya belajar bahwa hidup tidak cukup hanya diperjuangkan untuk diri sendiri.
07:37Ada kepentingan yang lebih besar daripada diri pribadi, yaitu kepentingan rakyat dan bangsa.
07:44Pada reformasi 1998, saya berada dalam arus gerakan mahasiswa.
Komentar

Dianjurkan