- 15 jam yang lalu
- #mprri
- #cerdascermat
- #juri
JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Dewan Pakar FSGI, Retno Listyarti menilai seharusnya dewan juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar 2026 di Kalimantan Barat, meminta maaf langsung soal polemic salahkan jawaban siswa.
"Ketika kemudian itu salah memang harusnya minta maaf langsung. Publik akan jadi reda kemarahannya," ujar Retno.
Menanggapi itu, Anggota Komisi II DPR/MPR RI F-Golkar, Ahmad Irawan mengatakan telah melakukan langkah korektif.
Baca Juga SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC Empat Pilar MPR, Ray Rangkuti: Tak Kejar Menang | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/669327/sman-1-pontianak-tolak-tanding-ulang-lcc-empat-pilar-mpr-ray-rangkuti-tak-kejar-menang-bola-liar
#mprri #cerdascermat #juri
Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Noval
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/669331/debat-panas-anggota-dpr-vs-pengamat-soal-juri-cerdas-cermat-tak-minta-maaf-langsung-bola-liar
"Ketika kemudian itu salah memang harusnya minta maaf langsung. Publik akan jadi reda kemarahannya," ujar Retno.
Menanggapi itu, Anggota Komisi II DPR/MPR RI F-Golkar, Ahmad Irawan mengatakan telah melakukan langkah korektif.
Baca Juga SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC Empat Pilar MPR, Ray Rangkuti: Tak Kejar Menang | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/669327/sman-1-pontianak-tolak-tanding-ulang-lcc-empat-pilar-mpr-ray-rangkuti-tak-kejar-menang-bola-liar
#mprri #cerdascermat #juri
Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Noval
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/669331/debat-panas-anggota-dpr-vs-pengamat-soal-juri-cerdas-cermat-tak-minta-maaf-langsung-bola-liar
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:02Jadi Mas Irawan kita pertegas dalam kasus ini yang bertanggung jawab, yang bersalah itu institusinya atau juri MC-nya menurut
00:11Anda?
00:11Begini, juri-juri yang ditugaskan atau dipilih untuk melakukan penilaian dan memutus siapa kemudian pemenang lomba tersebut itu adalah juri
00:23-juri yang ditugaskan dan dipilih oleh MPR.
00:26Nah biasanya yang menjadi juri itu adalah akademisi yang memang memiliki kualifikasi dan kepakaran, terus kemudian ada juga pihak eksternal,
00:35jadi tidak semua dari lingkungan MPR itu sendiri.
00:39Nah kemarin memang pas lombanya itu dari internal MPR semua khususnya dari Kesegenan, nah itulah yang kemudian menjadi salah satu
00:49temuan MPR.
00:50Langkah korektif dan evaluasinya itu adalah agar ke depan lomba-lomba cerdas cermat demikian itu tidak terulang format juri seperti
00:59itu.
00:59Jadi menurut Anda yang salah siapa? Juri? Institusi?
01:02Sistemnya.
01:03Ini kan yang memilih, ini ini loh mbak, ada penitia, penitia memilih jurinya, juri sekarang kita adalah birokrat mas, bukan
01:10agademisi, bukan pakar komunikasi, ataupun mereka yang mau ngasih.
01:13Setahu saya, orang kalau jadi juri itu harus tahu benar apa pembahasannya dan mereka harus independen biasanya.
01:21Kalau kita lihat videonya, videonya, itu adalah yang salah adalah jurinya ketika kemudian melakukan penilaian.
01:28Oke.
01:29Tapi kemudian kan pimpinan di MPR, kami semua melihat bahwa yang dilakukan oleh juri pada saat perlombaan tersebut tentu harus
01:36dilakukan investigasi secara internal.
01:40Belum-belum ketemu hasilnya?
01:41Sudah ketemu, makanya kemudian ada satu keputusan dan konglusi kesimpulan bahwa perlombaan itu harus diulang.
01:48Ini agak lain nih, kalau kita jadi juri agak lain juga nih.
01:51Ya, jadi harus.
01:52Enggak, maksudnya gini, persoalannya adalah masalah yang di video itu, lalu kita menyatakan bahwa hasilnya harus diulang, bukan mencari siapa
02:00yang bertanggung jawab.
02:01Ya, yang bertanggung jawab kan begini, temuannya kan salah satunya kan pada saat penjurian, kemudian format hasil dan lain-lain,
02:10dari kesalahan penjurian itu kemudian menghasilkan satu pemenang, itu yang kemudian dikoreksi bang.
02:17Apa karena budgetnya lagi agak kurang?
02:19Tidak ada kaitannya dengan budget.
02:20Jadi dipilih juri yang agak memenuhi budget.
02:23Enggak, tidak ada kaitannya dengan budget.
02:25Itu temuan kami, makanya diulang.
02:27Tetapi satu hal yang paling perlu diapresiasi dari itu adalah, meskipun kita belum mengetahui sikapnya, karena secara lisan mungkin sudah
02:35kita dengar,
02:36tetapi secara formal itu tetap ditunggu oleh MPR, yakni kesediaan dari SMA 1 Pontianak menerima hasil yang sudah diputuskan sebelumnya.
02:46Itu kan satu jiwa besar dalam menerima yang namanya perlombaan kalah menang.
02:51Jiwa besar itu sebenarnya tidak menjawab apa kegelisahannya kan gitu.
02:54Menurut saya sportivitas itu penting dari satu perlombaan.
02:56Baik, memang ya. Saya agak Burena, kalau menurut Burena sendiri sebenarnya yang salah itu atau siapa yang bertanggung jawab institusinya
03:04atau yang terlibatnya ada juri, ada MC, kepribadiannya lah, pribadinya.
03:10Kalau menyimak penjelasan tadi, berarti sebenarnya ada juga sebuah sistem ya, yang artinya soal kan harusnya dipersiapkan.
03:18Ini kan tiap tahun ada, berarti kan harusnya makin langsung makin profesional.
03:22Ini menunjukkan justru tidak makin profesional dong, gitu ya, kalau tiba-tiba enggak ada juri yang dari kalangan akademisi misalnya.
03:29Kemudian yang kedua, ketika kemudian ini semua terjadi, lalu siapa yang kemudian salah?
03:35Salah yang pertama jelas jurinya dong.
03:37Pertama dia, ini kan udah ada teknologi dan itu live streaming.
03:41Bisa di, kita hentikan dulu, yuk kita lihat bareng-bareng, kan bisa dilakukan.
03:45Cek far, cek far.
03:50Cek far, cek far ya.
03:51Berarti kami minta maaf dan kita akan koreksi.
03:54Selesaikan sebenarnya urusan.
03:55Nah, karena sebenarnya tahun 2025 pernah terjadi, Pak.
03:58Tapi itu laki-laki, anak laki-laki yang memprotes.
04:02Nah, tetapi jurinya pada saat itu, saya melihat di live stream, di Youtube-nya MPR.
04:07Tetapi kemudian anak laki-laki ini ketika protes, jurinya itu sangat mengakomodir.
04:13Lalu mereka bilang, bersepakat kita hentikan dulu.
04:17Nah, setelah itu dilihat, oh ternyata keliru, diralat langsung.
04:20Makanya nggak viral, kan?
04:21Karena selesaikan urusan.
04:23Nah, artinya pernah terjadi.
04:25Nah, tetapi kalau pernah terjadi kan harusnya belajar dari yang sebelumnya.
04:29Nah, ini kok malah melakukan hal yang justru tidak belajar dari sebelumnya, malah lebih parah.
04:34Nah, bahkan ini kalau menurut saya, kalau kita salah sebagai manusia, biasa, kan?
04:38Tapi kalau kemudian tidak mengakui, tidak ngeliat, kemudian bersikap arogansi, itu yang kemudian publik marah.
04:44Nah, kemudian yang ketiga, sekarang kaitannya dengan MPR.
04:47Kenapa yang harus bintang-bintang MPR?
04:49Karena seharusnya gini, kan mereka semua PNS.
04:52Sebagai ASN atau sebagai PNS, ada aturan.
04:55Nah, itu di PP94.
04:57Sebenarnya kalau kayak gini, ya di nonaktifkannya bukan jadi juri doang.
05:01Jangan-jangan dia jadi juri cuma sekali itu.
05:03Kebetulan kondisinya memang urgent misalnya.
05:05Kan nggak salah juga dia kemudian jadi juri.
05:07Nah, artinya saat dia jadi juri, mungkin dia menggantikan situasi yang tidak mungkin dan harus ada.
05:13Nah, berarti ini kan harus diperiksa.
05:15Lalu yang kedua, kenapa dia melakukan itu?
05:17Itu biasanya dalam proses BAP ada, Pak.
05:19Di dalam PP94 itu diatur.
05:22Nah, nanti kita akan ngeliat, kesalahan itu akan diginikan.
05:27Oh, jadi institusinya suruh dulu, periksa dulu, BAP dulu.
05:31Nah, nanti baru kalau memang terbukti bersalah, itu akan dilihat pada tiga sanksi.
05:36Sanksi itu ringan, sedang, dan berat.
05:38Untuk sanksi berat adalah sanksi yang berkonstribusi pada institusi.
05:43Jadi, nama baik, citra, itu jadi berat.
05:46Nah, kalau ringan, itu hanya diri sendiri.
05:49Kalau sedang, itu kalangan misalnya kabaknya atau bironya.
05:53Itu tapi dilihat publik, tapi kalau sampai menggegerkan nasional itu kategori berat.
05:58Nah, jadi yang ditunggu publik sebenarnya ini kan ASN.
06:02Periksa aja sesuai ASN.
06:04Jangan kemudian diambil alih oleh sebuah institusi, apalagi ketua MPR.
06:08Karena nih orang-orang ini ASN gitu.
06:10Nah, itu yang ketiga.
06:12Yang keempat, menurut saya adalah ketika kemudian itu salah,
06:16emang harusnya minta maaf langsung.
06:18Jadi menurut saya, itu akan satu, publik menjadi reda kemarahannya.
06:24Kedua, itu pasti akan dijempolin oleh banyak pihak.
06:27Karena keberanian untuk meminta maaf.
06:29Karena minta maaf itu bukan sesuatu yang, apa ya, tercelak.
06:33Bukan itu perbuatan baik.
06:34Datang aja ke sekolahnya dan saya yakin beliau akan cabut.
06:38Saya cabut bukatan.
06:39Kalau sama-sama saya datang ke Pontianak.
06:41Nah, iya.
06:41Jadi artinya, jangan sampai gini loh.
06:46Kitalah semua yang di sini yang bawa.
06:48Jangan bilang, udah minta maafnya cukup institusi.
06:52Menurut saya, siapa yang salah, siapa yang minta maaf, itu tidak tepat.
06:56Dan itu kita ngajarkan kepada anak-anak kita,
06:58hal yang, eh nanti kalau kamu satu saat bekerja dan kamu salah,
07:02tenang aja institusimu akan minta maaf.
07:04Jadi itu bukan sesuatu yang baik.
07:06Jadi orang tidak akan pernah belajar bertanggung jawab,
07:09tidak pernah punya efek jerah, dan tidak pernah belajar dari kesalahan.
07:12Jadi Mes Rawan, ini kan yang jadi juri itu ASN.
07:17Harusnya ditindaknya berdasarkan aturan ASN tadi.
07:19Jadi tidak cuma dinonaktifkan, as juri saja.
07:22Menurut Anda gimana?
07:24Sebenarnya kegiatan ini, ini satu dari ribuan kegiatan yang dipersiapkan,
07:29dilaksanakan oleh yang bersangkutan.
07:32Karena mereka ini, dua juri ini adalah juri yang memang bertugas
07:36untuk memberikan dukungan teknis kepada anggota MPR
07:39untuk melakukan sosialisasi empat pilar.
07:43Tapi mereka bukan tim juri, sesungguhnya.
07:45Hanya mendukung teknis, seperti kata Ilona tadi.
07:48Kebetulan pada waktu itu jurinya lagi kosong.
07:51Sehingga mengambil darurat lah, istilahnya darurat.
07:54Jadi tidak bisa semata-mata cuma akhirnya.
07:56Itu harus diperiksa.
07:58Makanya dia harus diberi kesempatan membela diri.
08:03Itu publik, lalu acara ini, sebetulnya ingin tahu.
08:06Itu ada sesuatu yang viral.
08:08Ada sesuatu yang tadi menggoncang bangsa ini.
08:12Lalu di mana sih persoalan utamanya?
08:14Tiba-tiba dengan cepat diambil dengan meminta maaf.
08:18Yang saya katakan ya mungkin cerdas.
08:20Terlihat minta maaf nih.
08:22Tapi tidak cermat.
08:23Karena kita enggak tahu.
08:24Tapi efeknya bahaya loh bagi MPR.
08:28Komisi 2 itu kan yang memilih ombudsman, kalau saya enggak salah kan.
08:32Ini bisa dibawa ke ombudsman.
08:33Mal administrasi.
08:35Makanya bapak-bapak memilih anggota.
08:37Tapi intinya kita semua enggak tahu ya.
08:38Di mana asal masalahnya.
08:41Mungkin yang bersangkutan juga sebenarnya membela institusi dengan mengelak.
08:44Ya saya terpaksa jadi juri karena gitu.
08:47Jadi wajar kan terpaksa sehingga dia tidak profesional atau tidak biasa kemudian mengalami itu.
08:53Jadi disitulah kita adil kepada semua gitu.
08:57Jadi kalau ini kan kesannya dia hancur sehancur-hancurnya.
09:00Lalu dikuliti habis-habisan.
09:02Tidak punya ruang untuk melakukan pembelaan diri.
09:04Padahal belum diperiksa.
09:05Itu menurut saya ini bisa menimpa seluruh ASN.
09:11Kami MPR itu tidak mungkin ada satu kesimpulan atau mengambil langkah korektif.
09:17Kalau tidak didahului dengan proses investigasi dan pemeriksaan di dalam.
09:22Baik dari sisi penyelenggaraan maupun dari proses lobai itu sendiri.
09:26Nah itu saja Pak yang dibuka ke publik.
09:28Publik kan enggak tahu siapa yang meriksa.
09:30Dan proses pemeriksaan itu setidak-tidaknya kan butuh waktu juga.
09:34Nah jadi kalau menurut saya tidak perlu keburu-buru juga.
09:37Kalau yang begitu-begitu tidak perlu waktu yang lama untuk kemudian kita mengambil perlombaan.
09:41Apanya yang itu persoalkan.
09:42Ini juri tetap atau juri dadakan?
09:44Nah itu saja.
09:45Nah itu kan tahu kalau diperiksa.
09:47Ini kan kita tidak tahu sebenarnya ada apa.
09:49Di setiap perlombaan, juri yang ditugaskan atau dipilih untuk kemudian mengawal satu perlombaan itu, itu berbeda-beda.
09:58Nah kebetulan perlombaannya itu adanya di Provinsi Kalimantan Barat gitu.
10:04Mereka yang pada saat itu bertugas dan dipilih sebagai juri gitu.
10:10Nah makanya juri dadakan, juri artinya sudah dipersiapkan.
10:15Nah kalau sudah dipersiapkan kok enggak profesional?
10:17Nah itu lah yang saya bilang sama Ibu.
10:19Kalau dadakan kan mengerti gitu.
10:20Nah makanya Pak.
10:20Seperti dengan profesional kondaknya, kita semua juga telah mengakui.
10:24MPR juga telah melakui sehingga diambil satu langkah korektif bahwa kita harus mengulangi perlombaan ini.
10:33Nah itu menurut saya kebijakan yang justru tidak bijak dan tidak itu anak.
10:36Jadi digugat sama SMA 1 Sambas loh Pak.
10:39Kalau ulang perlombaan.
10:40SMA 1 Sambas sudah menang.
10:41Saya mau tahu pandangan Pak Indra dulu.
10:43Pak Indra yang terjadi adalah ketika penjurian,
10:45ada seorang anak mengaku, berani begitu mengatakan ketidakadilan,
10:50tapi ternyata tidak diakomodir.
10:52Jadi dia merasakan ketidakadilan langsung.
10:54Anda melihat itu tidak?
10:56Jadi tujuan dari kegiatan ini, saya kacamata pendidikan ya.
11:00Tujuannya kan pendidikan.
11:02Untuk mengenalkan anak-anak kita ini dengan 4 pilar kebangsaan itu kan.
11:08Pancasila, Undang-Undang Masyarakat 45, NKRI, BNK Tunggal Ika kan tujuan itu.
11:13Jadi mereka ikut kegiatan ini, pasti sudah belajar nih.
11:17Belajar Pancasila, belajar Tata Negara, UUD 45.
11:21Mereka sudah persiapan betul-betul lah untuk bisa menang kegiatan ini.
11:26Jadi mereka datang itu sudah dengan ekspektasi
11:29yang mengadakan acara ini karena otoritas
11:33akan memimpinnya dengan hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan.
11:39Ekspektasinya gitu kan, sila keempat nih.
11:42Tapi kan itu nggak mereka temukan.
11:44Makanya si Oca ini melihat adanya ketidakadilan sosial, sila kelima nih.
11:53Dia memprotes dengan cara yang sangat manusiawi dan beradab, sila kedua.
12:03Tapi apa jawaban daripada juri?
12:05Kan sangat arogan, otoriter.
12:10Jadi mereka justru melihat, jangan-jangan memang hidup kita secara nyata
12:15nggak seperti teori pelajaran PPKN nih.
12:19Mungkin hidup kita dalam nyata memang banyak orang-orang
12:23yang akan menekan kita karena mereka punya relasi kuasa.
12:28Mereka punya kekuatan untuk pokoknya keputusan juri itu final dan mengikat.
12:37Yang salah itu adalah bukan juri.
12:43Sampai ada kalimat MC yang cukup menyakiti mungkin yang kemarin
12:47yang salah mengatakan itu hanya perasaan adik-adik saja.
12:50MC itu ternyata berfungsi seperti pendengung.
12:54Seperti buzzer yang kita bisa lihat selama ini.
12:59Itu bisa mengubah gelas ini bisa jadi piring.
13:05Kan itu mengatakan.
13:07Karena dia membela yang bayar kan.
13:09Yang bayar kan PNS Panitia ini termasuk jurinya kan ini bosnya nih berarti.
13:15Jadi mereka bisa, dia bisa mengatakan bukan kebenaran.
13:20Jangan-jangan hidup di dunia ini juga seperti itu.
13:24Ada buzzer-buzzer yang memang bisa mengubah pandangan orang
13:28yang sebetulnya ini gelas.
13:30Tapi percaya ini harus piring.
13:33Ini lama-lama bola bisa liar bener ya.
13:35Saya sih bukan.
13:36Ini dalam konteks pembelajaran.
13:38Begitu Anda pakai istilah buzzer,
13:40begitu Anda istilah uang dan segala macam.
13:43Jangan-jangan sudah ada yang menang,
13:45yang harus atau apa dan sebagainya.
13:47Ini kan bagian dari pelanggaran.
13:49Kenapa milih istilah buzzer dan kemudian uang.
13:51Ini kan contoh.
13:52Jangan-jangan hidupnya itu seperti kehidupan.
13:55Jangan-jangan sudah ada yang.
13:56Saya sih tidak berpikir sejauh itu ya.
13:59MC-nya, Dewan Jurinya.
14:01Jangan-jangan.
14:01Sampai kita.
14:02Sampai kita merendahkan profesionalisme dari MC itu sendiri hanya karena dibayar oleh pihak penyelenggara.
14:09Saya kira enggak sampai sana bahkan MC dan juri ini mau menyakitkan anak kita.
14:14Kan apa yang Anda katakan, betul nak.
14:17Betul yang dikatakan dengan grup B, sama.
14:21Tapi kan memang mengatakan, juri sudah pasti benar.
14:26Pasti cermat, pasti kompeten.
14:29Saya pelain MC-nya sedikit.
14:30Bukan karena misalnya audio di situ kurang bagus.
14:33Nah, itu kan salah satu sebab yang disampaikan, Bang.
14:37Kenapa bu gurunya bisa mengatakan, kalau yang disampaikan, kan artinya enggak semua orang di ruangan itu mengatakan kalau artikulasinya buruk.
14:48Tidak terlalu jelas.
14:49Itu kan fakta kembali.
14:51Nah, ini kan antara realita dan teori.
14:55Kan belajar di kelas.
14:56Ini kan adik-adik, mahasiswa semua belajar di kelas.
14:59Sama enggak teori sama praktek, kan itu yang mau di...
15:03Dan tiga kalimat jawabannya itu sederhana sekali ya?
15:05Betul, kan gitu.
15:06Itu sederhana.
15:07Jadi, kekurangan yang dilakukan oleh Dewan Juri pada saat itu dan MC, mereka enggak menggunakan kesempatan ketika disampaikan keberatan tersebut
15:16untuk kemudian berunding, untuk kemudian melakukan koreksi atas penilaiannya.
15:20Tetapi kalau sampai penilaian seperti itu, itu berjadinya.
15:21Itu kan hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan.
15:24Tuhan teorinya gitu.
15:25Tidak ada kaitan dengan itu.
15:25Belajar di kelasan gitu.
15:26Jadi kan harus musyawarah, kan?
15:28Harusnya kan, kalau jurinya tidak dadakan, berlaku yang disampaikan oleh Buretno tadi.
15:33Kalau saya jadi juri nih, Bang, saya akan tanya, eh bener enggak yang disampaikan tadi?
15:38Saya tadi enggak dengar.
15:39Saya tanya dulu, bener enggak di ruangan ini?
15:42Minimal kan begitu tanya.
15:43Atau sudah ada presiden sebelumnya?
15:46Pernah, dan terselesaikan.
15:48Nah, kan berarti kan itu sebetulnya kalau tidak ada arogansi.
15:54Tidak menunjukkan kalau saya yang paling kuasa.
15:57Tidak mau mendengar kritik.
15:59Tidak mau mendengar jeritan yang merasa diperlakukan secara tidak adil.
16:04Kan tidak akan berubah.
16:07Tapi menariknya satu.
16:08Ternyata, dengan rakyat Indonesia bersatu nih, para netizen.
16:15Ternyata kezaliman ini bisa runtuh.
16:18Oke.
16:19Jadi kuncinya ternyata silah ketiga.
16:21Saat kita bersatu nih, ya kan?
16:24Jadi, ini juga catatan buat adik-adik ini.
16:26Jangan mau diadu domba, jangan mau dipecah belah.
16:29Bersatulah.
16:30Kalau Anda bersatu,
16:33kalau dulu pasti diajarin,
16:34sapu lidi itu, sapu lidi itu kalau satu itu gampang dipatahin.
16:37Kalau digabungin jadi sapu lidi, enggak bisa dipatahin.
16:39Terus satu, tapi enggak viral, ya enggak jadi.
16:41Tapi memang terhadap perlombaan itu, Bang.
16:43Kami menyeapresiasi keberatan yang disampaikan oleh...
16:46Oh iya.
16:47...pocah itu.
16:47Justru itu, makanya anak-anak seperti dia,
16:51ya kan?
16:51Jangan dibungkam, jangan diredam,
16:54jangan dibiasakan suara-suara kritis itu.
16:57Diredam, dibungkam.
16:58Itu bagian dari demokrasi.
17:01Kan belajar tata negara juga nih.
17:02Empat pilar ini kan.
17:04Negara kita ini negara demokrasi,
17:06atau negara otoriter misalnya.
17:08Itu kan yang dipelajari sama.
17:09Sebenarnya kan ada kesempatan bicara sebenarnya.
17:11Ocahnya dikasih.
17:12Hanya saja putusannya tetap sesuai dengan...
17:14Ya kan justru itu.
17:16Jangan-jangan, ya kan?
17:18Memang seakan-akan diberi kesempatan.
17:20Tapi sebetulnya enggak ada kesempatan.
17:22Termasuk juga tadi, ya mohon maaf,
17:24yang disampaikan oleh MPR.
17:26Ini jangan-jangan yang di kepala anak-anak.
17:29Ini kan persetik pendidikan ya.
17:31Jangan-jangan, wah kalau kita menjadi bagian dari otoritas,
17:36kalau salah kita akan dilindungi sama babi.
17:39Sudah perlu ditambah, maaf nih.
17:40Akan dilindungi dan bahkan seakan-akan menerima hukuman,
17:47dinonaktifkan.
17:48Anda khawatir adanya semakin minimnya keteladanan.
17:51Begitulah ya.
17:52Itu kan perspektif pendidikan.
17:53Baik, saya ke Mbak Melani.
17:54Mbak Melani, kalau misalnya saat itu Mbak Melaninya yang jadi juri,
17:59kan pernah tuh jadi juri.
18:00Apa yang akan dilakukan ketika ada sengketa hasil?
18:03Kalau itu terekam, pasti lihat rekaman dulu.
18:07Harus.
18:09Kecuali bos saya ada di situ ya.
18:11Enggak tahu juga sih.
18:14Ya pasti akan,
18:16enggak sekali dua kali itu terjadi.
18:18Pernah saya ngalamin.
18:20Ya pasti berunding.
18:21Minimal nanya.
18:22Adain dengar enggak?
18:23Itu udah the least basic thing yang bisa dilakukan.
18:26Kalau jadi juri pun begitu.
18:27Itu basic banget.
18:29Ya itu sih paling benar.
18:34Karena beruntung sih,
18:36apalagi ini bukan pertama kali terjadi ya.
18:40Ya untungnya sebelumnya MC-nya cukup cedas ya tahun lalu.
18:44Kalau sampai tiga tahun terjadi,
18:46berarti yang harus diganti vendor sound system-nya kayaknya.
18:48Berarti yang tiga-tiga-tiga-nya enggak kedengeran gitu.
18:51Tapi ya,
18:53ya beruntung karena ini viral.
18:55Saya juga enggak yakin sih,
18:56kalau memang hari itu enggak sama sekali,
18:58enggak ada yang boleh bawa handphone atau tidak disiarkan,
19:00dan ucap protes,
19:02aku rasa juga tidak akan dilakukan investigasi sama sekali.
19:04Tapi Mbak Melani setuju enggak dengan pendapat tadi Pak Indra mengatakan bahwa
19:09ada kekhawatiran ditontonkan seperti ini,
19:12membuat ada kekhawatiran semakin minimnya,
19:16keteladanan di ruang otoritas kepada publik.
19:20Itu sih contoh yang jelas kalau di Indonesia ya,
19:22itu enggak usah dipertanyakan.
19:24Saya selalu percaya dua hal sih,
19:25pendidikan dan pendidikan karakter.
19:27Itu yang agak enggak diajarkan di Indonesia.
19:29Di beberapa negara lain,
19:30kita baru diajarin baca tulis itu kelas 1, kelas 2.
19:33Sebelumnya kita hanya diajarkan karakter.
19:35Sementara di sini kita mau masuk SD,
19:37udah harus bisa baca tulis.
19:39Karakter kita berantakan.
19:40Lihat pejabat kita.
19:41Mereka beri jasa ya,
19:43dari keluarga yang baik ya,
19:44karakter minim.
19:45Saya sedih sih,
19:46karena hari ini kita mendebatkan
19:48mengenai permintaan maaf.
19:49Itu bahkan hal yang tidak perlu didebatkan.
19:52Anak kecil aja udah tahu,
19:53minta maaf is, minta maaf.
19:54Itu bukan urusan instansi,
19:55bukan urusan siapapun.
19:57Salah ya minta maaf, titik.
20:00Jadi saya kayaknya karakter sih udah,
20:03gimana ya Pak ya?
20:05Udah ya saya setuju sih semua yang dibilangin gitu.
20:08Dan terlihat kan dalam kasus ini
20:09karakter siapa yang baik
20:11dan karakter siapa yang kelihatannya kurang baik gitu.
20:14Jelas terlihat.
20:15Dan tidak ada niat minta maaf menurut Anda?
20:17Ya, minta maaf menurut saya bahkan tidak perlu di...
20:21Itu bukan pertanyaan, itu hal spontan.
20:24Maaf, terima kasih, tolong.
20:26Itu hal spontan yang harusnya bisa keluar dari mulut kita.
20:29Baik.
20:30Bang Re,
20:31ini lomba cerdas cermat setiap tahun Bang Re.
20:34Ada anggaran ya Bang Re?
20:35Tapi Anda kan juga pernah jadi juri.
20:38Belum.
20:39Belum?
20:40Belum.
20:40Tapi setelah ini jadi nasional sumber ya?
20:42Ya, baik.
20:43Nah, ini kan keseriusan MPR terlihat di sini.
20:47Begitu di empat pilar demokrasi.
20:49Ada anggaran ya Bang?
20:50Cukup besar.
20:51Sekian miliar.
20:54Dengan kejadian ini,
20:56apakah menurut Anda,
20:57apa yang paling dasar harusnya kita koreksi?
21:00Jangan sampai ini berlarut dari masalah di sana Bang,
21:05sekarang jadi konsen nasional.
21:06Saya melihatnya justru materinya.
21:09Dan kalau kita lihat kemarin itu ya,
21:13pada pertanyaannya,
21:15itu terasa elementer banget.
21:18Sebetulnya yang mau ditargetkan dari
21:21sosialisasi Pancasila ini apanya?
21:24Karena kalau pertanyaan,
21:27apa pertanyaannya itu?
21:29Bagaimana memilih anggota BPK?
21:31BPK, itu kan elementer sekali.
21:36Kira-kira nilai Pancasilanya di mana itu?
21:40Kan mestinya yang dikaitkan itu adalah
21:42nilai-nilai yang sedang berkembang
21:44dan dihubungkan dengan Pancasila.
21:46Sama seperti itu.
21:47Maaf itu bagian dari kita memaknai.
21:49Itu tadi Pancasila, Binekanunga Lika.
21:51Karena empat pilar itu bukan hafalan.
21:53Itu harus kita praktekkan.
21:55Minta maaf itu salah satunya.
21:56Ini kan nilai,
21:57prinsip,
21:59macam-macam lah.
22:00Di bawahnya itu mungkin baru ada soal BPK,
22:02dipilih itu caranya apa, gitu.
22:05Mestinya enggak masuk menurut saya itu
22:07untuk pertanyaan di cerdas-cermat, gitu.
22:11Sama seperti misalnya saya mempertanyakan nih tadi tuh.
22:15Nilai Pancasila apa yang mau dipertontonkan oleh ketua MPR
22:19dengan meminta maaf itu?
22:21Ya, ya.
22:22Mengambil alih tanggung jawabnya,
22:24tapi tidak menyampaikan koreksi apa yang akan dilakukan ke dalam.
22:27Karena begitu kita turunkan ke bawah,
22:30banyak sekali pertanyaannya.
22:32Misalnya,
22:33apakah itu tadi juri dadakan atau tidak?
22:36Apakah ada semacam,
22:38apa namanya itu ya,
22:39juknis di MPR itu,
22:42tata cara untuk,
22:43apa istilahnya,
22:44memilih juri.
22:47Pendanaannya seperti apa?
22:49Ya kan,
22:50ini kok tiba-tiba berubah,
22:51yang umumnya adalah juri-juri non.
22:53Dari MPR kok tiba-tiba berubah, gitu.
22:57Tadi kita berulang-ulang mengatakan,
22:59kenapa juri itu tidak musyawarah dulu.
23:02Jangan-jangan juknisnya juga gak ada.
23:05Bahwa kalau ada yang kayak begitu itu,
23:07mestinya dihentikan dulu misalnya, gitu ya.
23:10Lalu diminta ulang.
23:11Jangan-jangan juga di dalam aturannya,
23:14gak disebutkan ada pengulangan dari para peserta
23:17untuk satu jawaban yang dianggap oleh juri,
23:19ngeragukan.
23:21Kan mestinya itu ada aturannya semua, gitu.
23:24Makanya kita tanya itu tadi,
23:26MPR ini minta maaf dan atas apa?
23:31Mungkin sebagai,
23:32ke ini Pak,
23:33ketua pelindung.
23:34Di kepanitian kan ada pelindung.
23:36Setuju saya.
23:37Pengarah.
23:38Pengarah mungkin.
23:38Setuju.
23:39Yang saya agak,
23:40bagi saya itu adalah,
23:43mereka menonaktifkan juri,
23:45yang boleh jadi dipilih oleh mereka.
23:46Ya.
23:47Tanpa sebuah aturan yang ketat.
23:50Gitu ya.
23:51Tanpa sebuah macam-macam.
23:53Lalu,
23:55kesalahan,
23:55kalau kita menyebut tadi ada kesalahannya di juri,
23:58diambil oleh MPR,
24:00yang menunjuk dia lah,
24:01kamu sendiri diberi sanksi apa?
24:05Kan itu pertanyaan panjasilanya, gitu.
24:08Oke.
24:09Jadi pertanyaan nilainya tuh disitu.
24:12Jangan sampai kita juga punya tradisi,
24:14kalau ada peristiwa,
24:16kita anggap ini,
24:17apa namanya itu ya,
24:18kesalahan lembaga,
24:19yang dikorbankan anak buah.
24:23Kan itu juga tradisinya tuh kan,
24:25kalau udah urusan begitu,
24:26yang kena tuh orang lapangan.
24:29Padahal,
24:29mungkin ada persoalan di tingkat atas.
24:31Orang lapangan tuh kan gak begitu,
24:33kalau misalnya gak ada institusi dari atas.
24:36Nah ini,
24:37sudah diperiksa gak itu tadi?
24:39Kita berulang-ulang,
24:40sudah dengarkan dari Komisi 2 menjelaskannya,
24:43tapi kita gak dapat.
24:44Oke.
24:44Karena mereka selalu tarik pada yang besar.
24:47Padahal yang besar ini justru ya dipertanyaan,
24:50kenapa MPR-nya harus minta maaf?
24:53Lalu kenapa MPR-nya harus mengetahkan diulang?
24:58Ada juklaknya gak tuh?
25:00Bahwa kalau peristiwa yang seperti itu,
25:03setelah ramai,
25:04maka peristiwanya akan diulang.
25:06Ada gak?
25:07Pasal berapa?
25:08Di aturan mana?
25:09Nah itu pendapat dari Pak Kojin.
25:11Pak Kojin,
25:12jangan-jangan,
25:13yang bermasalah itu lembaganya.
25:15Bukan yang bertanggung jawab harusnya lembaganya.
25:17Bukan justru,
25:18tadi anak buah atau mereka yang terlibat seperti personalnya.
25:20Jadi sekali lagi,
25:22apa yang disampaikan oleh pimpinan MPR kemarin,
25:25bukan berarti kemudian proses di internal kami itu selesai.
25:29Tentunya itu bagian daripada quick response ya.
25:33Untuk kemudian memberikan pemahaman dan sikap secara kelembagaan,
25:39bahwa kami secara kelembagaan MPR melalui pimpinan,
25:43itu mengatensi betul.
25:45Dan mengakui,
25:46kita tidak mencari alibi dalam hal ini.
25:48Artinya mengakui ada keteledoran,
25:49ada ketidakcermatan.
25:51Apakah itu kemudian by system atau by person,
25:53biarkan ini proses tetap berjalan secara internal.
25:56Apakah nanti ada laporan dari eksternal,
25:58apakah nanti melalui ombudsman,
26:00atau kemudian dari menggunakan undang-undang ASN,
26:03dan lain sebagainya.
26:04Jadi sekali lagi,
26:04jangan dipahami,
26:05apa yang disampaikan oleh pimpinan MPR,
26:08ini yang kedua juga ya.
26:09Pimpinan MPR kemudian tidak membenarkan,
26:11bahwa yang bersangkutan minta maaf secara pribadi.
26:13Tidak ada bahasa kita seperti itu.
26:15Tapi apa yang disampaikan oleh pimpinan MPR kemarin,
26:18itu bermaksud dan bertujuan,
26:20ini ditarik secara kelembagaan,
26:22ini sebagai satu bentuk empati secara institusional.
26:25Untuk kemudian merespon ini secara cepat.
26:28Tapi sekali lagi perlu digarisbawahi,
26:30bukan berarti kami itu membenarkan,
26:33atau kemudian menyalahkan,
26:34ketika yang bersangkutan tidak menyampaikan secara pribadi.
26:37Itu hal yang berbeda.
26:39Kemudian yang kedua,
26:40maksud kami ini jangan ditarik,
26:41dalam perspektif yang terlalu kemana-mana ya.
26:44Jadi sekali lagi,
26:45kelembagaan MPR ini melaksanakan kegiatan ini,
26:48sekali lagi ingin mendekatkan isu kebangsaan
26:51kepada adik-adik kita sebagai gen Z.
26:53Tentunya kan dengan metode yang macam-macam,
26:56ada dalam bentuk sosialisasi,
26:58cerdas cermat,
26:59ada kita mengudahkan kegiatan melalui UMKM,
27:02dan lain sebagainya.
27:02Ada banyak hal,
27:03kami tidak apal secara detailing.
27:05Kemudian yang ketiga,
27:07proses ini tidak mungkin selesai,
27:09hanya sampai dengan preskon yang disampaikan pimpinan MPR.
27:12Ada kerangka evaluasi yang fundamental.
27:15Tentunya kami secara kelembagaan tidak ingin,
27:18keteledoran ini terulang untuk kedua kali,
27:20apalagi sampai ketiga kalinya.
27:22Terakhir yang ingin kami sampaikan,
27:24kalau di dalam agama itu kan diajarkan,
27:26al-insan mahalul hoto wanisiannya.
27:28Manusia itu tidak ada yang sempurna.
27:30Tidak boleh kita kemudian terlalu berlebihan
27:32menghakimi persen-persen yang kemarin,
27:35dalam hal ini bertanggung jawab.
27:37Bahwa itu harus ada sikap secara kelembagaan,
27:40karena yang bersangkutan ASN itu pasti,
27:42sudah barang tentu.
27:43Tapi sekali lagi,
27:44ini bagian dari keteledoran personal,
27:46jangan kemudian kita menganggap
27:47ini sebagai niat buruk,
27:49niat tidak baik,
27:50itu menurut kami tidak.
27:51Tapi masalahnya sekarang,
27:53ada kegiatan.
27:54Diklarifikasi juga dulu,
27:56tidak ada yang mau berniat buruk,
27:57justru diskusi ini sedang mencari
27:59sesuatu yang kita anggap bermasalah
28:02untuk kita perbaiki.
28:04Jadi tidak ada juga yang saya malah menolak
28:07kalau tiba-tiba dinyatakan
28:08tiga orang ini bersalah.
28:10Sebelum diungkapkan letak kesalahannya di mana.
28:13Apakah itu atas permintaan mereka?
28:16Apakah ada juknisnya
28:17kalau terjadi peristiwa itu
28:19tidak perlu diulang?
28:20Kan itu juga harus diungkapkan.
28:21Jangan-jangan kita sampai pulang,
28:23kita masih tidak tahu yang masalah itu.
28:25Yang saya sampai pulang.
28:26Jadi gini, Bang Rai.
28:28Kita pulang nih, Melani.
28:30Tapi yang masalah itu kita tidak tahu.
28:31Sehingga saya bilang tadi,
28:32mungkin dalam konteks
28:34menjawab media sosial
28:35terlihat cerdas kan?
28:37Bukan pribadinya
28:38Bukan cerdas, cepat aja.
28:40Untuk cepat, respon cepat.
28:42Tapi tidak menyelesaikan masalah.
28:43Cermatnya enggak, Nadi.
28:44Akar masalahnya enggak.
28:46Cermatnya kita enggak tahu.
28:46Sampai saat ini,
28:48jangan-jangan sampai nanti
28:48Ilona menutup acara ini,
28:50kita enggak tahu ini masalahnya itu
28:51di mana?
28:53Apakah persoalan juri tetap
28:55atau juri dadakan
28:56atau petunjuknya.
28:57Kalau di sepak bola,
28:59melihat Far.
29:01Bahkan sesudah melihat Far pun
29:03bisa enggak puas gitu.
29:04Tapi tidak merubah hasil pertandingan.
29:06Bang Effendi, itu kelihatan
29:07dari jawaban para tergugat
29:09di pengadilan.
29:10Sama gak nih?
29:12Kalau jawabannya sama, ya kompak.
29:13Saya agak mau menyambung ke Rai tadi bahwa
29:16bukan kita menarik-narik lebih jauh nih.
29:19Malah kita membuatnya
29:20jangan terlalu ditarik-tarik lebih jauh.
29:22Karena kalau yang menarik-narik lebih jauh
29:24udah cukup banyak loh.
29:25Saya tuh bingung tuh,
29:26dalam empat pilar,
29:28kenapa Pak Wakil Presiden
29:30ikutan di acara ini misalnya.
29:32Ini soal empat pilar loh,
29:33ini saya loh ya.
29:34Untuk ngajarin public speaking gitu ya.
29:36Oh.
29:37Saya yang belum dapat ilmu itu gitu.
29:38Ini kan empat pilar.
29:40Betul ya?
29:41Saya sih gak narik kemana-mana.
29:43Saya malah mau kecilin
29:44masalahnya apa gitu ya.
29:46Nilai Pancasilanya apa?
29:48Nilai empat pilarnya apa?
29:49Itu aja kita dapat malam ini
29:50udah alhamdulillah selesai.
29:52Jangan-jangan dicabut gugetan.
29:53Betul ya?
29:54Salah satunya mungkin.
29:55Di mana nilai Pancasilanya adalah
29:58dengan meminta maaf secara langsung.
30:00Misalnya,
30:01kalau malam ini kita simpulkan demikian.
30:03Tapi kita kan gak menemukan itu.
30:04Dan kami gak narik-narik.
30:06Kami juga bingung.
30:08Bapak Wakil Presiden ikutan
30:09sebagai apa gitu.
30:11Itu bisa kemana-mana loh itu.
30:13Kalau kami narik aja ke dalam.
30:15Artinya.
30:15Apa masalahnya?
30:16Artinya yang diminta publik itu sederhana.
30:19Minta maaf aja kan.
30:21Tapi yang narik-nariknya politisi.
30:25Kalau kita tetap apa masalahnya itu ya.
30:28Ketua MPR minta maaf
30:30pada sesuatu yang kita gak tahu
30:32apa yang membuat mereka harus minta maaf.
30:34Padahal kita merasa
30:35ini antara peserta dengan juri.
30:38Bukan dengan ketua MPR.
30:39Bahwa penyelenggarannya MPR iya.
30:42Dan tidak diungkapkan
30:44apa yang membuat MPR
30:46merasa bersalah.
30:48Apa karena gak ada juknisnya?
30:50Apa karena gak ada
30:51itu karena mereka menunjuk
30:53orang dalam sendiri yang jadi juri
30:55dan sebagainya.
30:56dan sebagainya.
30:58Begini Bang.
30:59Bisa gak dijawab nih?
31:00Boleh.
31:00Tapi nanti usaha jeda.
31:02Kamu selamat menikmati saudara.
31:02Tetap di Bola Lian.
31:03Terima kasih.
31:04Terima kasih.
31:05Terima kasih.
Komentar