00:26SMA Negeri Ponte Anak I
00:57SMA Negeri Ponte Anak I
00:59dan kejadian ini ya banyak hal ya mungkin juga dampaknya mungkin kita gak memikirkan.
01:08Kalau seperti tadi disampaikan oleh Prof. Ege ini bisa jadi mereka gak percaya lagi dong lembaga-lembaga negara kan.
01:15Gak percaya lagi dengan MPR, gak percaya lagi dengan MPR.
01:18Empat pilar itu.
01:19Karena apa yang mereka pelajari saya sampaikan tadi dengan apa yang mereka alami sangat berbeda.
01:25Belum lagi bicara tentang setelah mereka tahu sekarang ternyata juri-jurinya adalah ordal di dalam MPR kan.
01:33Jadi mereka jangan berpikir, oh jangan-jangan negara ini memang pejabat-pejabat itu tidak dilihat meritokrasinya.
01:40Dilihat adalah kedekatannya, bukan kompetensinya.
01:45Kan beda kalau yang diundang jadi juri Bang Rai Rangkuti, Prof. Ege, oh jelas semua orang tahu kompetensinya.
01:54Pas untuk jadi juri lomba cerdas cermat empat pilar.
02:00Beda kalau jadi juri lomba masak misalnya.
02:03Ini gak cocok dua-duanya kan gitu.
02:05Itu loh bicara meritokrasi.
02:08Jangan-jangan memang meritokrasi sudah hilang di dalam praktek kenegaraan ini.
02:13Jangan-jangan, ini kan mereka lihat, ini kan perspektif pendidikan.
02:16Oke, pernyataan ini nanti akan dijawab oleh Mas Irwan.
02:20Tapi saya ke Mbak Melani juga.
02:21Mbak Mel, menurut Anda sendiri melihat sosok OCA yang berani.
02:25Dia berkali-kali loh membela jawaban timnya.
02:28Bagaimana melihat keberanian seorang OCA lalu kemudian juga dua sikap sekolah yang terlibat ya.
02:33Mereka elegan sekali.
02:35Yang satu menerima kemenangan, menerima kemenangan tim sekolah yang lain.
02:41Sekaligus menjaga SMA yang lain juga.
02:44Elegan, karakter itu.
02:46Itu karakter yang bagus.
02:48Aku langsung stand up shout out untuk mereka kok itu di medsos.
02:52Langsung gitu.
02:53Bukan yang, kali ini aku bersuaranya bukan yang cari keadilan.
02:58Enggak, aku shout out.
03:00This is elegan.
03:01Ini elegan, kamu hebat.
03:03Nilai yang sudah sangat jarang ada di pemerintah Indonesia.
03:09Dan aku setuju banget sama keputusan mereka.
03:12Ya apapun keputusan mereka itu hak mereka ya.
03:14Tapi bukan keputusannya yang harus aku lihat sih.
03:18Cara mereka menyampaikan sesuatu.
03:20Cara OCA bertanya.
03:23Cara sekolahnya menjelaskan sesuatu dengan baik.
03:26Itu udah nilai yang jarang banget sih.
03:28Aku sih sangat-sangat salut.
03:29Itu kalau mereka mengajarkan aku kebangsaan atau nilai-nilai dari empat pilar itu aku lebih percaya sama mereka sih.
03:38Karena terlihat dalam caranya.
03:40Bukan disuruh hafalin.
03:41Iya kan?
03:42Tapi memang dicontohkan.
03:44And that's elegan untuk aku.
03:45Lebih percaya sama mereka dibanding siapa?
03:47Aku lebih percaya sama pencontohan.
03:50Bukan penghafalan.
03:50Lebih percaya pada mereka daripada instansinya.
03:53Oh baik.
03:55Mas Irawan, tadi disinggung-singgung soal meritokrasi.
03:58Julit banget mukanya.
04:01Bawa norok.
04:03Jangan-jangan soal meritokrasi.
04:05Tadi disampaikan oleh Pak Indra.
04:07Pemilihan juri itu.
04:08Pemilihan juri.
04:09Apa dasar?
04:10Makanya tadi di awal saya sampaikan.
04:14Kami juga bertanya-tanya kaitannya dengan komposisi dewan jurinya.
04:20Biasanya kan dewan juri itu kombinasi.
04:23Antara biak eksternal melibatkan akademisi.
04:27Atau salah satu anggota DPR yang berada.
04:30MPR yang berada di Dapil tersebut.
04:33Dan ya memang orang-orang qualified lah.
04:37Dan pada saat peristiwa yang viral ini.
04:40Kebetulan jurinya yang dilihat dalam peristiwa tersebut berasal dari internal MPR.
04:47Dari kesegjenan lah.
04:49Nah itu yang juga jawaban yang sedang kami cari.
04:53Kenapa pada saat itu lombanya dari mereka semua?
04:56Nah yang pasti bahwa seorang birokrat itu yang bertugas disitu adalah orang-orang yang dipilih dan ditugaskan.
05:05Tinggal itu aja.
05:06Kenapa semuanya dari internal MPR?
05:09Itu yang pertama.
05:09Nah yang kedua.
05:11Saya setuju sama beliau tadi.
05:13Terus Mbak Melani.
05:14Itu satu tontonan yang sangat elegan.
05:19Sportif yang dilakukan oleh adik-adik kita dari SMA 1 Pontianak gitu.
05:26SMA 1 Pontianak.
05:28SMK ya?
05:29SMA apa?
05:30SMA.
05:31SMA 1 Pontianak yang kemudian merasa bahwa ya ini hasil sudah ada ya kami menerima.
05:40Itu sesuatu yang luar biasa.
05:43Kami juga sangat mengapresiasi.
05:45Tapi kami juga berupaya gitu deh.
05:49Berupaya supaya yang pihak yang sudah menang itu jangan juga kita merendahkan pencapaiannya bahwa mereka juara karena hasil dari penjurian
05:59yang salah.
06:00Itu jangan begitu juga.
06:00Atau yang kedua.
06:02Atau disebut juga bahwa ini ada relasi kuasa atas kemenangannya.
06:08Kesalahan juri terus kemudian dibela oleh MC.
06:11Jangan juga seperti itu.
06:13Itu yang membuat kami merasa kami tolak dalam forum itu.
06:18Apalagi kemudian mohon maaf bang ya.
06:20Terlepas dari segala gugatan obang yang kami hormati.
06:23Kemudian minta keduanya dipecat sebagai dalam status aparatur sipil negara.
06:28Ini adalah tugas tambahan yang diberikan terhadap mereka untuk menjadi dewan juri.
06:34Nggak bisa kemudian salah penjurian kemudian kita minta dipecat.
06:38Itu menurut saya sesuatu yang berlebihan.
06:45Kalau menurut saya gini ya.
06:47Yang pertama tadi ya.
06:48Kita coba bergeser pada tadi.
06:50Mau diulang.
06:51Karena tadi disebutin ya.
06:53Seolah-olah memberikan.
06:54Tapi sebenarnya enggak.
06:56Kalau saya menangkap mengulang itu kepentingan orang dewasa.
06:59Kepentingan si lembaga ini.
07:00Tapi bukan kepentingan anak-anak.
07:02Yang jelas adalah satu.
07:04Pernah nggak nanya ke anak-anak?
07:06Setelah itu kumpulin pihak sekolah.
07:08Orang tua.
07:09Itu karakter.
07:10Itu bagian di pendidikan karakter.
07:12Tanyakan.
07:13Setelah ini.
07:14Apa yang harus kami perbaiki?
07:15Kedua.
07:16Setelah ini.
07:17Kalau diulang.
07:18Anda mau enggak?
07:18Nggak pernah kan?
07:19Tahu-tahu.
07:20JDR.
07:21Ya jelas ditolak.
07:22Saya juga mendukung penolakan dari SMNG1.
07:25Dan kalau bisa.
07:26Empat-empatnya juga menolak.
07:27Karena itu jelas sesuatu bukan yang terbaik bagi kepentingan anak.
07:31Dan bukan terbaik untuk kepentingan pendidikan Indonesia.
07:34Bukan itu.
07:35Tapi itu kepentingan orang dewasa.
07:36Kita lanjutkan dialog nanti saudara tetap bersama kami di Polo Lea.
Komentar