Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menjelaskan tugas dan perannya dalam membantu komunikasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Hasan mengatakan, Presiden meminta dirinya bekerja erat bersama Kementerian Komunikasi dan Digital serta Bakom.

Dalam struktur tersebut, Hasan mengaku lebih berperan pada sisi ide, substansi, dan strategi komunikasi.

Sementara untuk pelaksanaan teknis dan eksekusi di lapangan berada di tangan lembaga terkait.



Menurut Hasan, Komdigi dan Bakom memiliki sumber daya yang mendukung pelaksanaan komunikasi pemerintah.

Hasan menyebut posisinya saat ini lebih sebagai pelapis sekaligus pemberi masukan bagi Presiden dan lembaga terkait.



Ia juga mengungkap, sebelum dan sesudah dilantik menjadi penasihat khusus, dirinya cukup sering berdiskusi langsung dengan Presiden, termasuk dalam pertemuan informal di Hambalang.

Hasan mengaku tak semua masukannya langsung diterima Presiden. Namun justru dari proses itu terjadi pertukaran gagasan yang intens.



Ia menilai Presiden merupakan sosok dengan pendirian kuat sehingga tidak mudah mengubah keputusan atau pandangannya.

Hasan menambahkan, karakter kuat itu menjadi salah satu alasan seseorang bisa berada di posisi Presiden.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/G9YV_CCvsDY



#hasannasbi #prabowo #komunikasi

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/667598/hasan-nasbi-blak-blakan-soal-perannya-hingga-komunikasi-dengan-presiden-prabowo-rosi
Transkrip
00:00Terima kasih Anda di Rosi, saya masih bersama penasehat khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi yang baru saja out dan
00:08in lagi.
00:08Pergi untuk kembali.
00:11Jadi apa tugasnya seorang Hasan Nasbi sekarang?
00:14Kalau perintah dari Presiden kan, kita, saya bekerja sama, harus sangat erat dengan Kementerian Komdiji, dengan Bakom.
00:26Karena kalau saya lebih ke, tentu ke ide dan substansi, serta strategi.
00:32Tapi ototnya kan yang punya Komdiji dan Bakom.
00:37Mereka yang punya personil, punya anggaran, punya kemampuan untuk eksekusinya.
00:43Ya jadi untuk, jadi pelapis lah kita.
00:46Untuk memberikan masukan-masukan.
00:48Jadi tidak hanya kepada Presiden, tapi juga kepada.
00:50Anda termasuk bisa gak kasih masukan, Mbok yang orang Menteri ini atau Kepala Badan ini, ya lebih baik gak usah
00:59ngomong daripada orang yang jadi salah tangkap.
01:00Kalau sampai di level itu saya rasa saya belum pernah memberikan masukan seperti itu.
01:06Tapi dalam proses sampai dilantik menjadi penasihat khusus ini, dan setelah dilantik beberapa minggu, kita weekend itu hampir pasti itu
01:21weekend di Kambalang.
01:23Dan bicaranya tidak harus formal kan, bicaranya informal.
01:28Dan itu Presiden tidak hanya kasih arahan, tapi bertanya.
01:31Oke, tanyanya apa?
01:32Ya macam-macam, tentu gak bisa saya bocorkan.
01:34Tapi ketika bertanya itu, kita bisa memberikan masukan.
01:39Dan belum tentu langsung diterima, di challenge lagi sama Presiden.
01:42Tapi yang bagus yang menurut saya setelah berapa kali mungkin challenge itu boleh balik Presiden?
01:47Oh iya juga gitu.
01:48Jadi, kalau kita bicara dengan seorang Presiden, pasti Presiden itu tidak gampang untuk berubah.
01:55Itu pasti itu.
01:56Kalau enggak, dia gak akan duduk di kursi Presiden.
01:58Dia pasti orang yang kuat pendirian, orang yang teguh pendirian, orang yang tidak gampang berubah pendirian.
02:04Itu pasti itu.
02:05Sudah sampai di level itu tuh, orangnya pasti itu.
02:08Tapi bagaimana Anda memberikan masukan ketika tahu bahwa itu tidak doable sekarang?
02:12Yang mana misalnya?
02:13Kan tadi tidak bisa berubah pendirian.
02:16Tapi Anda tahu bahwa ini belum...
02:18Bukan tidak bisa mudah, tidak mudah berubah.
02:19Jadi, tapi ketika ada masukan-masukan, Presiden challenge balik masukan kita, terus dia bilang,
02:26Tapi, coba.
02:28Coba bikin kajiannya, coba bikin ininya, coba bikin apa sebenarnya rangkuman-rangkumannya.
02:33Nanti, presentasi lagi ke saya.
02:35Jadi, ada titik di mana Presiden itu kemudian memikirkan usulan-usulan yang tadi masuk, walaupun awalnya di challenge.
02:45Penghasan, Anda tidak perlu sebut nama, tapi pernah sebagai orang yang ingin meluruskan,
02:50atau supaya orang tidak salah paham pada kebijakan pemerintah dalam hal ini programnya Presiden,
02:56pernah nggak Anda merasa, aduh kok ngomongnya kayak gini sih?
03:00Nggak, nggak. Kita harus belajar kayak gitu.
03:02Kita nggak bisa sok paten-sok paten sendiri.
03:05Nggak, nggak.
03:05Tapi pasti ada dong yang misalnya, ha?
03:07Nggak, menurut saya gini.
03:08Jadi, ada masa di mana mungkin, ya mungkin kekeliruan atau apa itu memang harus terjadi.
03:17Dan ada masa kita juga harus paham, mungkin orang itu, menteri itu, dia nggak punya pilihan lain.
03:24Tapi gini loh, kalau itu seri, katakan itu harus terjadi, tapi itu kan bisa melemahkan trust.
03:32Ya, kita harus segera perbaikikan.
03:34Sekali menurut saya trust itu bukan karena kesalahan, tapi karena bad intention.
03:41Sama aja kayak kita berumah tangga, kesalahan, tapi kalau kita tahu itu kesalahan bukan karena bad intention,
03:49bukan karena maksud jahat atau maksud buruk, kita masih bisa perbaiki itu.
03:54Beda dengan kalau ada maksud jahat, maksud buruk, itu tentu mungkin akan lebih sulit untuk diperbaiki.
04:00Jadi, sekarang kalau bicara kita...
04:02Jadi, saya ini mazhabnya realistis.
04:05Jadi, yang ideal-ideal semua serba sempurna, nilainya harus seratus itu, sudah lama saya tinggalkan.
04:11Bahkan, pejabat publik dibully itu, mungkin sebuah kenisahayaan.
04:16Udah giliran aja itu, anggota kabinet dibully itu udah giliran aja.
04:21Dan jangan patah semangat juga, gara-gara pas gilirannya dia bully.
04:24Jangan juga merasa jelek, buruk, atau rendah kemudian karena dibully.
04:30Emang sudah waktunya juga mungkin, udah muter dia.
04:33Dari Menteri A, Menteri B, Menteri C, udah muter aja itu buat dibully.
04:37Jadi, kalau seperti judul Rosi pada malam hari ini, bedah gaya komunikasi istana.
04:41Apa yang kita akan lihat berbeda dari gaya komunikasi istana?
04:45Emang harus berbeda?
04:47I don't know, buktinya kan Anda masuk.
04:49Kalau misalnya nggak berbeda, ngapain Anda masuk?
04:51Untuk menambah tenaga bukan buat mengubah?
04:54Ya, makanya apa yang kita bisa lihat sesuatu oke.
04:59Pantas, Urang Awak ini ada di sini.
05:03Seperti yang waktu itu bocoran dari Pak Yusuf Wanandi di sini, di studio ini waktu Imlek.
05:08Katanya Hasan Nasbi akan masuk lagi.
05:10Urang Awak ternyata masuk lagi sebagai penasehat.
05:14Saya nggak bilang berbeda.
05:17Tapi mungkin akan lebih cepat, akan lebih taktis, akan lebih, apa ya, bahasa itu boleh nggak dipakai misalnya.
05:28Bahasa agresif itu boleh nggak dipakai gitu.
05:31Bukan ofensif, tapi ya lebih agresif lah.
05:35Untuk menyampaikan sesuatu ke masyarakat.
05:39Jadi modelnya bukan model, udah diamin aja dulu, nanti sampai hilang isunya.
05:46Nggak, kita mau masyarakat mengerti supaya tidak salah paham gitu.
05:49Supaya jangan kesalahpahaman itu menumpuk-numpuk.
05:52Tapi pada titik mana ya, Bung Hasan Nasbi?
05:54Apakah juga ada kebesaran hati untuk mengakui bahwa kesalahpahaman itu,
06:00atau publik menangkap itu berbeda, karena pangkalnya itu memang salah dijelaskannya.
06:08Ada nggak satu titik mau dengan rendah hati mengatakan, bahwa ini memang harus kita koreksi.
06:13Lo kan beberapa kali ngoreksi.
06:15Contoh?
06:15Iya, Ibu Menteri PPA koreksi.
06:17Iya, itu kan makanya tadi saya apresiasi.
06:19Makanya banyak hal yang sudah dikoreksi kok gitu.
06:22Jadi Menteri-Menteri juga banyak yang sudah mengoreksi.
06:25Jadi itu akan selalu ada kok.
06:28Mengoreksi, minta maaf itu akan selalu ada.
06:30Dan bukan berarti minta maaf itu juga sesuatu yang jelek.
06:34Bukan berarti kita ngoreksi juga sesuatu yang jelek.
06:36Terbuka kok.
06:37Mengoreksi itu terbuka.
06:39Masalahnya gini, yang nggak ada masalah aja, itu bisa dikoreksi.
06:43Jangankan yang ada masalah.
06:45Yang nggak ada masalah aja, bisa dikoreksi.
06:52Ketika, misalnya nih, berbagai macam kementerian dan lembaga efisiensi misalnya.
07:00Ada program prioritas juga efisiensi dulu.
07:05Oke.
07:06Ada, misalnya kayak gitu.
07:08Jadi itu kan program prioritas sebenarnya bisa jalan aja terus.
07:11Tapi juga ada penghematan di segala macam.
07:15Tapi yang layanan kepada masyarakat tidak boleh berkurang.
07:18Jadi yang berkorban siapa?
07:20Yang berkorban leadernya, yang berkorban pemimpin-pemimpinnya, yang berkorban ASN-ASN.
07:25Oke.
07:26Jadi sekali lagi, kalau bicara soal gaya komunikasi sitana,
07:32Anda melihat lebih pada memperkuat penjelasan?
07:34Memperkuat dan menambah SDM.
07:36Nah, menurut Anda, nanti idealnya itu seperti apa sih para jurubicara program presiden ini?
07:47Nah itu, Rosy.
07:49Kenapa harus tanya yang ideal, Rosy?
07:50Karena Anda tadi realistis ya?
07:52Iya.
07:52Pertama, jadi hadapi, yang memang harus kita hadapi, kita hadapi.
07:58Yang bisa kita jelaskan, jelaskan.
08:00Jadi maksudnya kita nggak boleh malas untuk menjelaskan.
08:03Nggak boleh tunggu-tunggu untuk menjelaskan.
08:06Sekali lagi, ini kayak pemain bola.
08:08Salah oper itu pasti kejadian juga.
08:10Bola kita tendang out itu juga pasti ada.
08:14Tiba-tiba gawang bobol juga pasti ada.
08:16Tapi yang harus kita pastikan bahwa secara keseluruhan, permainan tim dalam 2x45 menit, bagus dan menang.
08:24Oke.
08:25Terima kasih penasehat khusus presiden bidang komunikasi.
08:31Ini rasanya title yang nggak kaleng-kaleng.
08:33Karena rasanya...
08:35Semoga bisa saya jalankan dengan baik.
08:37Memberikan nasihat pada presiden itu luar biasa loh.
08:41Sudah kasih nasihat?
08:42Sudah kasih masukan.
08:44Kayaknya ngasih nasihat itu kayaknya terlalu berat buat saya.
08:47Tapi ide, masukan, usul, sudah.
08:51Terima kasih Bung Hasan Nasbi.
08:54Good luck.
08:54Terima kasih.
08:55Terima kasih.
08:59Terima kasih.
09:00Terima kasih.
09:00Terima kasih.
09:00Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan