Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo merombak komposisi Kabinet Merah Putih, Senin (27/4/2026). Yang menarik dari reshuffle ini, karena ada pergantian tim di bidang komunikasi.

Apakah ini sinyal pemerintah bakal membenahi pola komunikasinya yang selama ini dinilai kurang optimal oleh presiden?

Untuk pertama kali dalam sejarah sejak era reformasi, nyaris tidak ada oposisi pemerintahan di bawah Presiden Prabowo. Hampir seluruh partai di parlemen mendukung. Tapi, mengapa setiap kebijakan masih terasa gaduh?

Bakom RI baru saja mengumumkan menggandeng 40 "Homeless Media". Namun, media-media tersebut belakangan menyampaikan klarifikasi. Bagaimana kronologinya?


Rosianna Silalahi mengundang Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi.

Saksikan dalam ROSI episode Bedah Gaya Komunikasi Istana. Tayang Kamis, 7 Mei 2026 pukul 20.30 WIB di KompasTV.



#hasannasbi #prabowo #komunikasi

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/667593/full-hasan-nasbi-bongkar-gaya-komunikasi-istana-hingga-klarifikasi-rekrut-homeless-media-rosi
Transkrip
00:04Mengangkat Hasan Nasbi sebagai penasihat khusus presiden bidang komunikasi.
00:34Hari ini ditugaskan oleh Bapak Presiden sebagai penasihat khusus bidang komunikasi dan media untuk memperkuat lagi bidang komunikasi yang diperkelakan
00:49oleh pemerintah supaya pesan-pesan yang ingin diketahui oleh publik itu bisa lebih baik lagi, bisa jauh lebih sampai dan
00:58bisa dipahami oleh masyarakat termasuk.
01:00Terima kasih juga mungkin nanti dari pemerintah tentukan harus juga meluruskan hal-hal yang berita-berita, pemahaman atau informasi yang
01:10tidak benar terhadap pemerintah.
01:19Selamat malam, program Rosy kembali hadir ke hadapan Anda sebagai ruang opini sumber informasi.
01:25Bersama saya Rosy Arasilalahi.
01:26Presiden Prabowo meromba komposisi kabinet merah putih lagi.
01:30Ada yang menarik dari reshuffle kali ini karena ada pergantian tim di bidang komunikasi.
01:36Apakah ini sinyal pemerintah bakal membenahi pola komunikasi yang selama ini dinilai kurang optimal oleh Presiden Prabowo?
01:45Malam ini saya mengundang penasihat khusus presiden bidang komunikasi, Bung Hasan Nasbi.
01:50Bung Hasan, terima kasih sudah di Rosy.
01:52Sama-sama, terima kasih juga sudah diundang.
01:54Kalau Bung Hasan ini saya rasa mengingatkan saya pada judul lagu Elo, Pergi Untuk Kembali.
02:01Atau ada brand burger di Amerika yang nge-top sekali namanya In and Out.
02:05Oh In and Out.
02:06Atau Out terus In ya.
02:08Out terus In.
02:10Wah, mau kalau bicara soal balik lagi, gimana ada yang beda gak dengan balik kembali ke posisi di bidang komunikasi
02:20ini?
02:20Iya, tentu beda kan. Judulnya kan juga sudah beda.
02:25Dan sekarang kan gak mimpin kantor juga.
02:28Ini posisi penasihat khusus ini gak mimpin kantor.
02:33Jadi tim saya jauh lebih kecil.
02:37Dan tugas kita sebenarnya gak sekompleks waktu mimpin kepala kantor komunikasi.
02:43Gak sekompleks kerjaan Bang Kodari lah.
02:47Dan posisioning juga tidak di depan.
02:50Maksudnya formalnya tidak di depan.
02:53Tapi kalau dibutuhkan ke depan, bisa ke depan.
02:56Oke.
02:57Jadi posisinya gak melulu harus striker ya?
02:59Iya.
03:00Kan sebenarnya kalau secara resmi kan sudah ada juru bicara.
03:04Iya.
03:05Juru bicara itu kan.
03:06Masa snek kan?
03:06Masa snek.
03:07Kemudian kepala bakom itu juga juru bicara.
03:10Bung Hasan, saya tertarik karena titlenya sekarang penasihat khusus presiden di bidang komunikasi.
03:17Ini jabatan baru ya?
03:18Penasihat khususnya sudah ada perpresnya.
03:21Tapi bidang komunikasinya.
03:23Ini naik kelas dong dari kemarin kepala komunikasi presiden?
03:29Naik kelasnya itu gimana?
03:31Karena penasehat loh.
03:34Enggak, kalau ininya disetarakan aja.
03:37Kalau statusnya kan mendapatkan hak dan fasilitas setara aja dengan yang kemarin, setara anggota kabinet.
03:45Kenapa aku bilang penasehat?
03:47Enggak semua orang bisa mendapat titel penasehat.
03:50Emang Bung Hasan ini sudah bisa nasetin presiden?
03:54Kalau memberi masukan sudah diberi kesempatan berkali-kali oleh presiden.
03:59Bahkan sebelum dilantik pun sudah diajak rapat beberapa kali di Hambalang.
04:07Waktu itu jadi moderator kan?
04:09Ketika ketemu dengan jurnalis, pembuat ekonom, kan sudah jadi moderator.
04:14Dan beberapa kali ikut rapat terbatas juga.
04:16Oh gitu?
04:17Padahal gak ada jabatan apapun ya?
04:18Gak ada judul waktu itu.
04:19Belum ada judulnya?
04:20Jadi kemudian sekarang kalau mau ikut rapat sudah ada judulnya gitu.
04:25Apa?
04:25Apa menurut Bung Hasan, apa yang membuat seseorang yang tadinya diganti terus dipanggil lagi?
04:32Tapi kan ini bukan persoalan, apa?
04:39Bukan persoalan politik, bukan perbedaan pendirian, bukan juga posisi yang kemudian berlawanan.
04:47Saya kayak pemain yang memang lagi mainnya gak bagus ya pindah ke bangku cadangan.
04:54Tapi saya gak pindah klub kan.
04:56Masih di klub yang sama gitu.
04:58Masih di klub yang sama.
04:59Oh Anda mengakui dulu diganti, itu karena mainnya lagi gak bagus?
05:03Iya, bisa saja kan.
05:05Maksudnya bukan pertimbangan politik, bukan pertimbangan yang lain.
05:08Saya sadar diri aja.
05:10Dan kalau kita memang lagi gak bagus atau posisinya gak pas, kita gak maksimal, kita gak bisa kasih performa.
05:20Seperti yang diinginkan kan kita juga harus tahu diri kan.
05:23Jadi kalau misalnya pindah ke bangku cadangan, pindah.
05:25Tapi saya kan gak pindah klub gitu.
05:28Bung, aku minta klarifikasi ya.
05:30Dulu waktu Bung Hasan itu diganti, itu kan kemudian ramai diberitakan di sosial media itu bersih-bersih orangnya Pak Jokowi.
05:39Ya terus kalau yang sekarang apa dong?
05:41Nah sekarang katanya solo kembali lagi.
05:43Ya.
05:44Apakah benar Bung Hasan ini representasi hadirnya kembali Pak Jokowi di timnya Pak Prabowo?
05:52Kalau menurut saya orang yang mengaitkan keputusan-keputusan Pak Prabowo hari ini,
05:59kemudian dengan bersih-bersih orang Jokowi atau kembalinya orang Jokowi,
06:04itu pasti akan menemukan kesimpulan yang salah.
06:07Kan presiden kita ini bukan patung.
06:10Presiden kita ini orang yang paling powerful di Republik ini saat ini.
06:15Siapapun yang jadi presiden dia akan jadi orang yang paling powerful.
06:18Jadi kalau dia mengeluarkan orang dari tim yang lagi main, itu keputusan beliau.
06:24Kalau beliau masukin lagi, orang itu juga keputusan.
06:27Keputusan beliau. Jadi gak ada urusannya dengan orangnya siapa, orangnya siapa.
06:32Atau?
06:33Dan yang paling mengherankan saya,
06:36kenapa harus dipertentangkan antara Pak Prabowo dengan Pak Jokowi?
06:40Mereka kan sekutu.
06:41Ya.
06:43Kan aneh analisis berbasis pertentangan antara Pak Prabowo dengan Pak Jokowi.
06:49Orang sekutu kok.
06:50Orang yang jadi timnya, tim yang kemarin gak sama-sama Pak Prabowo aja diajak masuk kabinet kok.
06:57Maaf-maaf ya, Maksudnya Cahimin kan kandidat Cewapres di klub sebelah.
07:03Jadi Menko.
07:05Kemarin Menteri Lingkungan Hidup juga salah satu tim sukses di tim lain.
07:12Diajak masuk sama Pak Prabowo.
07:13Anda ingin mengatakan kalau toh memang mengambil orang yang terasosiasi dengan Pak Jokowi, kenapa aneh?
07:20Engkat sekutunya Pak Prabowo.
07:21Atau begini, saya juga mendengar kenapa Bung Hasani dipanggil lagi.
07:24Karena podcastnya setelah gak menjadi, dulu kan namanya sebelum PCO, apa namanya?
07:32Ganti-ganti melulu sih namanya.
07:33Mikrofon Hasan Asbi tetap.
07:34Hah?
07:35Sebelum diganti ke Bakom namanya.
07:39Principal Communication Office.
07:41Presidensial Communication Office.
07:42Nah, karena katanya Bung Hasan ini sering bikin podcast yang betul-betul membela kebijakan Presiden dan Pak Prabowo happy dengan
07:51itu.
07:52Nah, kalau bicara belain Presiden sekarang dan dulu kan sebenarnya, apa sih kenapa Bung Hasan baru-baru belakangan ini saja,
08:04di-assess ternyata, oh ini bagus ini untuk menjadi bagian dari komunikasi Presiden.
08:09Kalau itu walau alam lah.
08:11Tapi kayak yang saya bilang tadi, saya kan gak pindah klub.
08:15Keluar lapangan gak main lagi iya, tapi kan saya gak pindah klub.
08:19Apa yang sebenarnya ingin diperkuat oleh Presiden dari sisi komunikasi Bung Hasan?
08:25Jadi ini gak ada urusan dengan misalnya komunikasi lemah, komunikasi belum optimal.
08:31Tapi kan pemerintah senantiasa harus terus memperkuat semua lini, termasuk lini komunikasi.
08:43Jadi kalau misalnya ada tambahan, itu kayak tambahan tenaga, kayak tambahan mesin, kayak tambahan cc mobil lah.
08:53Kayak tambahan sumber daya manusia yang mengurusi persoalan-persoalan komunikasi.
09:02Tapi kan kehadiran Bung Hasan atau kemudian Mas Angga diganti dari Bakom terus Mas Kodari yang masuk,
09:09itu kan bukan tanpa alasan, tentu kan ada strategi yang ingin diubah.
09:16Ya kayak format ini aja, kayak format pelatih mau formasi berapa ini?
09:22Mau dua penyerang, mau satu penyerang, mau tiga pemain bertahan, mau empat pemain bertahan, itu formasinya kayak gitu aja.
09:29Kenapa? Apakah selama ini komunikasi dikurang strikernya?
09:34Karena kalau kita lihat Bung Kodari kan dia memang rajin untuk...
09:37Mungkin harus lebih apa ya, mungkin harus lebih, nanti kalau kata-katanya menyerang orang nge-spinnya jadi beda.
09:48Tapi memang harus lebih agresif.
09:51Lebih agresif itu karena sekarang informasi yang beredar itu banyak sekali.
09:57Baik yang bisa dipertanggungjawabkan maupun yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
10:01Dan dunia digitalnya enggak ada regulasi yang cukup kuat untuk mengatur apakah ini informasinya benar atau tidak.
10:10Apakah kesalahpahaman yang berita itu?
10:11Tapi begini, semakin banyak jubir, apakah memang semakin membuat komunikasi tentang kebijakan kepala negara itu bisa diterima dengan baik?
10:21Mungkin dalam bahasa Inggris, the more is the merrier.
10:23Tapi rasanya untuk jubir, apa enggak makin ini?
10:27Tapi kan enggak ada teori tunggal untuk itu.
10:30Orang mungkin salah beranggapan bahwa semuanya harus satu pintu itu salah.
10:34Masa menteri ke lapangan ditanya orang dia enggak boleh jawab itu juga salah.
10:38Menteri juga punya otoritas untuk menjawab pertanyaannya wartawan kalau ditanya saat itu.
10:45Masa dia harus lempar tanya sama jubir?
10:47Persis.
10:48Enggak begitu kan?
10:49Kalau secara teknis seperti itu, tapi kalau untuk urusan teknis iya.
10:53Tapi banyak sekali orang yang kemudian what's so called jubir, apa tidak membuat semakin...
10:59Tapi saya bukan jubir loh.
11:01Ya, penasihat khusus.
11:03Saya bukan jubir loh.
11:05Apa enggak lebih membingungkan ya?
11:07Enggak.
11:08Kan lebih memperkuat sekarang pesannya seirama apa enggak?
11:15Jadi alat musik itu makin beragam juga makin indah kok.
11:19Asal nadanya sama kan?
11:21Iya.
11:21Asal chordnya selaras kan?
11:25Yang kalau sumbang-sumbang itu kan yang bikin ininya.
11:29Tapi selama chordnya selaras, tambah banyak alat musik itu tambah bagus kok.
11:34Nyanyiannya sama kok.
11:35Harusnya begitu, tetapi sekarang kan juga sering mendapat keterangan yang berbeda-beda.
11:44Nah, pernah enggak sih Bung Hasan?
11:46Bukan keterangan yang berbeda-beda.
11:48Atau penjelasan yang bertolak belakang satu sama lain.
11:51Maksudnya apa?
11:51Contohnya, misalnya soal mobil import dari India, sudah kemudian ditengahi oleh wakil ketua DPR, ditunda dulu.
12:02Tetapi kemudian ternyata mobilnya sudah ada di Tanjung Priuk.
12:06Buat saya itu bukan keterangan yang berbeda-beda, tapi ada otoritas-otoritas kelembagaan yang belum betul-betul padu.
12:16Karena ada lembaga-lembaga baru juga.
12:18Ada lembaga, ini kalau main bola itu ya pasti ada juga yang kena kartu kuning.
12:24Ada yang slidingnya enggak pas, kena kaki lawan, ada juga yang kaki gitu.
12:27Tapi bukan berarti secara keseluruhan timnya bermain jelek, enggak kayak gitu.
12:31Tetapi lebih kepada karena masih ada lembaga baru.
12:34Kasuistik, kasuistik lah.
12:35Nah, tapi Anda mengakui dong kalau yang seperti ini membuat publik merasa bahwa...
12:39Tapi Anda merasa bahwa apa?
12:41Merasa bahwa sesuatu kebijakan ini seperti bertolak belakang.
12:46Sudah dibilang ditunda dulu, tetapi ternyata ada.
12:49Kan ini bukan melulu tentang ini koordinasi yang cukup fatal.
12:54Enggak juga.
12:55Ini koordinasi yang cukup fatal.
12:56Ada yang belum betul-betul klub itu biasa aja.
13:01Bahkan pemerintahan sudah dua periode juga ada aja juga yang kaki gitu.
13:04Apalagi ini pemerintahan baru satu setengah tahun.
13:08Oke.
13:08Bung Hasan, sebagai seorang komunikator di pemerintahan, menurut Anda perlu nggak sih ketika ada sesuatu yang tidak pas,
13:18atau miskoordinasi, atau memang kelalaian, pemerintah itu paling tidak menunjukkan empatinya dengan mengatakan minta maaf?
13:26Untuk hal-hal yang berurusan, dengan misalnya kepentingan orang banyak, bencana, kecelakaan, perlu pemerintah minta maaf.
13:40Pernah nggak itu?
13:41Ada.
13:43Kapan?
13:44Ya kalau misalnya bencana, ya mohon maaf, belum maksimal.
13:47Itu presiden juga bilang kayak gitu.
13:49Untuk kecelakaan kan presiden langsung turun, memperlihatkan empati.
13:54Atau seperti Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak.
13:56Beliau sudah minta maaf.
13:57Ya, itu minta maaf.
13:58Kita apresiasi.
13:59Maksudnya yang kayak gitu-gitu tuh berharap sama sekali tidak ada orang salah itu naif.
14:04Ini sama kayak membolang, berharap nggak ada yang salah oper itu juga naif.
14:09Pasti ada sekali-sekali salah oper juga.
14:11Opernya kelahuan gitu, ada juga kayak gitu.
14:14Dunia hidup tuh kayak gitu, menghadap semuanya sempurna dari awal sampai akhir itu nggak akan ada.
14:18Tapi bahwa secara keseluruhan mainnya bagus apa nggak.
14:21Makanya saya bilang, kalau mau bilang ini jelek atau bagus, harus ada alat ukur yang bisa diterima bersama.
14:28Makanya saya selalu sodorkan, hari ini kecuali orang bisa sodorkan yang lain.
14:32Hari ini alat ukur yang paling valid untuk memperlihatkan kinerja maupun komunikasi pemerintah itu apa?
14:38Approval rating.
14:42Kalau approval ratingnya misalnya masih 70 persen itu artinya 7 dari 10 orang approve dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah.
14:50Nggak salah paham.
14:51Tiga orang makin salah paham.
14:53Tapi tiga orang yang salah paham ini, makanya tambah tenaga terus.
14:57Supaya makin sedikit orang yang salah paham terhadap apa yang dilakukan pemerintah.
15:01Jadi Anda melihat ini lebih pada orang salah paham.
15:04Bukan dari soal orang yang benar-benar secara genuine mau memberikan masukan atau kritik pada kebijakan pemerintah.
15:14Lo yang memasukkan kritik itu banyak dan sama sekali enggak.
15:17Kalau kritik hampir enggak di-counter kok kritik itu.
15:21Misalnya ada keracunan dalam makan bergizi gratis enggak di-counter dengan, maksudnya dijelaskan iya tapi enggak di-counter dengan berlebihan.
15:30Tapi yang sifatnya fitnah salah paham ya kita harus sekuat tenaga untuk menjelaskan itu.
15:35Dan ini sekarang tugas tambahan Anda?
15:38Saya lebih menyiapkan masukan-masukan apa yang harus dilakukan.
15:42Tapi kalau dibutuhkan tenaga tambahan untuk tampil, untuk berbicara di depan, kita siap.
15:48Oke, saya masih mau bertanya karena sekarang ada lagi bagaimana tim komunikasi ini memang diminta untuk lebih strategis dalam menyampaikan
15:59penjelasan-penjelasan tol kebijakan Presiden.
16:03Kehadiran teman-teman New Media mencerminkan upaya Bakom untuk menjangkau publik seluas-luasnya tidak hanya melalui media konvensional,
16:14tapi juga melalui kanal-kanal digital yang pada hari ini telah menjadi realita media atau realita komunikasi di kita.
16:21Pandangan kami, New Media harus dirangkul agar dapat meningkatkan kualitas dan standar.
16:29Agar produk dari New Media ini makin berkualitas seperti halnya media konvensional.
16:37Terima kasih Anda masih di Rosy bersama saya, Rosy Anasilalahi.
16:41Menjadi jubir dan mengelola komunikasi bukan pekerjaan gampang, apalagi tengah derasnya informasi dari media sosial.
16:47Saya masih bersama penasihat khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi.
16:53Bung Hasan, yang paling terbaru pada saat kita bicara ini soal ramainya,
16:59pemerintah ingin disebut katanya merekrut homeless media.
17:05Apa duduk soalnya?
17:06Sekarang tugas Anda untuk menjelaskan apa yang dinyatakan oleh Bapak Bakom Kodari.
17:14Harusnya ini tugas jubir ya.
17:16Tapi karena kebetulan saya ditanya di sini kan nggak bisa lari dari...
17:20Apa duduk soalnya tuh?
17:23Yang jadi soal itu adalah kenapa ada media menuliskan kata-kata merekrut.
17:27Sebenarnya memang merekrut nggak?
17:29Nggak.
17:30Tapi kalau bekerja sama membuka akses,
17:34sama seperti dengan media-media lain,
17:36sama dengan Kompas TV,
17:39sama dengan Tempo dan lain-lain yang dibuka aksesnya
17:41kata merekrutnya untuk mendapatkan penjelasan rutin dari istana.
17:47Oh jadi saat itu sebenarnya duduk soalnya adalah diundang untuk...
17:50Diundang untuk kompresi pers.
17:52Yang biasanya media-media mainstream.
17:54Sekarang ada anggota baru.
17:56Yaitu media-media yang disebut homeless media tadi.
17:58Media-media yang sekarang menamakan diri sebagai homeless media atau new media itu.
18:04Dan kebetulan mungkin karena baru diundang hari itu,
18:09jadi beliau sambutlah dengan menyatakan siapa aja
18:12new media atau homeless media yang diundang pada saat itu.
18:16Dan daftarnya bukan daftar yang disodorkan oleh...
18:18oleh apa namanya, oleh paguyuban atau perhimpunan new media ini gitu.
18:26Tapi rata-rata hari ini kalau kita baca di media sosial,
18:29semua new media itu yang disebut dengan homeless media
18:34atau mereka yang bukan media mainstream lah gitu.
18:37Kita lebih jelasnya.
18:38Mengatakan tidak benar bahwa kami ada kerjasama,
18:41tidak benar kami juga direkrut.
18:43Kalau tidak benar direkrut, menurut saya ya wajar mereka tersinggung bilang direkrut.
18:49Emangnya kalau misalnya kita ngajak diskusi Kompas TV,
18:54diundang ke BAKOM,
18:56emang boleh orang lain beritakan bahwa Kompas TV sudah direkrut?
19:00Kan enggak?
19:01Ini kan kayak kolaborasi biasa kan?
19:05Kolaborasi dengan media, kolaborasi dengan homeless media.
19:10Nggak boleh dong satu dua media kemudian bilang ini direkrut.
19:13Karena mereka juga marah dong, mereka punya harga diri juga.
19:15Mereka juga punya pride yang harus mereka jaga,
19:20harga diri yang harus mereka jaga.
19:22Tapi bahwa ada kerjasama dalam bentuk kolaborasi, membuka akses.
19:26Dan ya di negara-negara lain kan juga sudah.
19:29White House juga ya.
19:31Sekarang press briefing di White House itu juga sudah diikutkan.
19:37Ini kan kita juga harus adaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang sedang berkembang kan?
19:41Dan pemerintah punya kepentingan loh.
19:44Sebanyak mungkin ada channel, kanalisasi, kanal,
19:48yang paham dan mendapatkan pesan langsung dari pemerintah.
19:53Lalu nanti mereka beritakan dengan pandangan yang benar,
19:56bukan menyalin dari tangan kedua, tangan ketiga yang mungkin saja sudah bias.
20:00Yang jadi pertanyaan kenapa ada media tertentu menyebut kata merekrut.
20:08Emang kalau Tempo ada di sana, emang boleh disebut kata-kata Tempo direkrut oleh Bakom?
20:16Kan tiap hari ada di sana.
20:19Bahkan tiap minggu hadir, boleh nggak disampaikan, ditulis oleh homeless media ini,
20:23apa, Bakom merekrut Tempo boleh nggak?
20:26Ini yang harus diklarifikasi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan rekrut merekrut ya?
20:30Apanya yang mau direkrut.
20:32Tapi saya juga bingung, emang kalau kerja sama pemerintah jelek?
20:38Emang kalau kolaborasi bersama pemerintah jelek?
20:42Siapa yang ngajarin itu?
20:44Kalau kerja sama pemerintah terus jadi jelek?
20:47Karena ada nuansa, ada satu persepsi yang tidak bisa dikontrol seolah-olah kemudian menjadi PR-nya pemerintah.
20:55Ya jadi kalau media yang kerja sama pemerintah jadi PR pemerintah nggak?
21:00Tidak, tidak langsung serta-merta seperti itu ya.
21:03Pemerintah boleh kerja sama-sama Kompas TV nggak?
21:05Bisa ya, tapi itu tidak menghilangkan independensi Kompas TV.
21:09Terus kenapa nggak disembatkan hal yang sama ke teman-teman homeless media?
21:13Kenapa harus ada kata-kata direkrut?
21:16Bahkan sebenarnya kalau saya sempat sekilas mendengar apa yang dikatakan Bung Kodari,
21:20ia memberikan penekanan supaya homeless media ini juga bisa menjadi rujukan informasi,
21:25tetapi juga kalau nggak salah Bung Kodari mengatakan proses verifikasi.
21:31Bang Kodari itu, orang yang menurut saya...
21:34Jadi harusnya itu ini masukan yang baik juga untuk homeless media.
21:37Bang Kodari itu justru beberapa kali ngundang teman-teman homeless media,
21:42justru penekanan pertama sama dia adalah kode etik jurnalistik.
21:46Bahkan beberapa kali kita diskusi, kita diskusi udah panjang kan.
21:50Mungkin sudah 2 bulan, 3 bulan terakhir kita diskusi,
21:53harusnya homeless media itu diperlakukan standar yang sama dengan teman-teman media.
21:59Mainstream.
22:00Media-media mainstream, media-media jurnalistik lainnya.
22:03Biar sama kualifikasinya gitu.
22:05Biar sama kualifikasinya.
22:06Jadi kalau soal kerjasama-kerjasama itu, saya bingung aja kenapa kerjasama dengan pemerintah dianggap jelek.
22:14Jeleknya di mana?
22:17Jeleknya di mana?
22:18Kalau misalnya, media ini kan juga bukan hiasan sosial kan?
22:25Media mainstream juga bukan hiasan sosial kan?
22:27Dia di bagian dari entitas bisnis juga.
22:29Entitas bisnis kan?
22:31Jadi dia bisa kerjasama dengan siapapun.
22:33Termasuk dengan pemerintah.
22:35Homeless media ini juga bukan hiasan sosial kan?
22:37Hanya tinggal pilihannya di masing-masing ruang redaksi.
22:39Apakah mereka mau menumbuhkan kepercayaan dari pembaca, penontonnya?
22:44Itu pilihan.
22:45Tapi nggak ada jelek bagus atau jelek nih.
22:48Yang mau kolaborasi sama pemerintah juga nggak bisa dianggap jelek.
22:52Nggak adil menurut saya.
22:54Kalau misalnya dibilang kolaborasi bersama pemerintah, apakah memang ada niat untuk menyamakan opini?
23:00Menyamakan opini?
23:01Biar sama semua sejalan dengan...
23:02Bagaimana caranya menyamakan opini?
23:03Tapi kita bisa kasih opini dari tangan pertama? Iya.
23:07Ingin menyampaikan seluas-luasnya opini versi tangan pertama? Iya dong.
23:12Kan itu kepentingan pemerintah.
23:13Jadi homeless media nggak ngutip lagi dari kompas TV.
23:18Nggak ngutip lagi.
23:19Kalau ngutip gitu dapat publisir lain.
23:21Enggak tuh?
23:22Nah makanya.
23:22Jadi kita undang mereka juga dapat dari tangan pertama gitu loh.
23:27Ini kan banyak hal-hal yang kita harus adaptasi.
23:31Ini idenya siapa?
23:32Idenya Bung Kodari atau Anda sebagai penasehat khusus Presiden?
23:35Kita diskusi panjang lah soal ini.
23:37Tapi Bung Kodari punya ide yang bol soal ini.
23:40Bahwa teman-teman ini harus bisa juga kita ajak kolaborasi.
23:49Kalau boleh mereka dapat informasinya langsung dari tangan pertama.
23:53Nggak ngutip dari media lagi gitu.
23:55Bahkan sebenarnya mohon maaf ya.
23:56Ngutip dari media itu biasanya juga udah banyak loh.
23:59Kayak yang tadi.
24:00Bayangin homeless yang nggak diajak kemarin.
24:02Misalnya atau nggak diundang kemarin.
24:03Udah ngeliatnya dengan miring kan?
24:05Karena bahasanya rekrut.
24:07Ya kan tapi cuma satu media aja yang menitakan itu.
24:09Dua media. Tapi efeknya panjang.
24:11Teman-teman ini juga kena peer group pressure loh.
24:15Kena peer group pressure juga.
24:17Kena cancel culture juga.
24:19Menurut saya agak-agak kejam sih itu.
24:21Bung Hasan kan Anda banyak menitik beratkan soal bagaimana media sering cukup bias.
24:30Dan kemudian makanya ingin mengajak juga new media, homeless media untuk mendengarkan informasi yang pertama.
24:37Mendengarkan informasi dari tangan pertama.
24:40Semua belajar untuk bisa memberikan informasi dengan jernih.
24:44Tapi pertanyaan saya, Anda merasa perlu nggak para pejabat publik ini, kepala lembaga itu juga belajar cara berkomunikasi?
24:52Perlu dong.
24:54Pak Prabowo mau bikin program sekali lagi nih.
24:57Retreat lagi itu.
25:00Mungkin staff khusus atau juru bicara kementerian.
25:05Untuk retreat komunikasi.
25:07Jadi kita samakan gerak langkah kita soal komunikasi.
25:10Berarti memang Pak Prabowo merasa memang ada PR besar dari sisi komunikasi?
25:14Mungkin bahasanya bukan PR besar.
25:16Tapi semua sayap harus dikepakkan dengan sama.
25:20Jadi nggak cuma kerjanya yang ngebut.
25:22Nggak kerjanya yang kerja keras.
25:24Tapi komunikasinya juga harus kerja keras.
25:26Supaya yang kerja keras di sisi kebijakan, program, pembangunan, dan lain-lain ini juga tersampaikan dengan baik.
25:33Jadi akan ada retreat.
25:34Kita itu butuh tiga hal kan.
25:36Nggak semua orang punya tiga-tiganya.
25:38Mungkin salah satu.
25:39Apa tiga hal itu apa?
25:41Yang pertama sekarang itu butuh nyali.
25:46Pemerintah KL itu butuh nyali.
25:48Kita itu kadang-kadang langsung surut.
25:50Gara-gara dibully 20 orang langsung surut.
25:53Udah diem aja deh.
25:54Udah dibully kita.
25:56Padahal ini penjelasan teknokratis sudah dihitung lama.
25:58Begitu ada orang yang salah paham.
26:00Tapi salah pahamnya disambut oleh viralitas.
26:03Kita mundur karena dibully.
26:05Nggak boleh gampang surut.
26:06Kita harus berani punya nyali untuk menjelaskan itu terus.
26:09Nggak usah pusing dengan bulia.
26:12Bukan berarti kita tondev.
26:13Tapi kita yakin dengan apa yang sudah kita hitung dari awal.
26:16Program.
26:17Jangan cepat mundur.
26:18Nyali.
26:19Yang kedua, dengan banyaknya perkembangan media sekarang, kita butuh strategi.
26:25Merangkul homeless media bagian dari strategi.
26:28Tapi bukan merekrut.
26:29Saya nggak terima itu.
26:30Oke itu udah clear lah tadi kita.
26:31Aku itu bagian dari.
26:33Yang ketiga.
26:34Bagi strategi.
26:35Narasi.
26:38Jadi banyak berita, kadang-kadang numpang lewat aja kan.
26:42Nggak nempel di kepala publik kan.
26:45Karena nggak diceritakan urgensinya apa.
26:48Oke.
26:49Jadi kurang berani?
26:51Dua kurang?
26:52Bukan kurang berani, tapi kita harus punya tiga-tiganya.
26:55Oke.
26:55Harus lebih berani?
26:57Dua?
26:57Harus lebih berani.
26:58Tadi apa dua?
27:00Lebih punya strategi.
27:01Lebih punya strategi dan narasi.
27:03Narasi.
27:04Oke.
27:04Jadi kalau disingkat jadi lisan.
27:08Itu versi saya.
27:09Lisan itu apa?
27:10Lisan.
27:10Nyali.
27:11Oh.
27:12Strategi.
27:13Narasi.
27:14Setelah DFK sekarang lisan.
27:16Bapak ini memang ahli singkatan-singkatan ya.
27:19Bagaimana pemerintah mengelola narasi kritis?
27:22Untuk pertama kali dalam sejarah sejak era reformasi.
27:26Pemerintahan di bawah Presiden Prabowo tidak ada oposisi.
27:30Nyaris semua dirangkul di kabinet dan dukungan hampir seluruh partai di parlemen.
27:34Tapi kenapa setiap kebijakan masih terasa gaduhnya?
27:38Kenapa ini bisa terjadi?
27:39Saya masih bersama penasihat khusus Presiden bidang komunikasi Hasan Nasbi.
27:44Kalau kita lihat dulu sekilas Pak SBI dua periode.
27:48Dan gangguannya cukup banyak.
27:52Punya oposisi PD Perjuangan di luar.
27:54Dan ini dari dalam sendiri juga tidak terlalu kompak.
27:58Karena banyak yang bisa.
28:01Dulu kan bahkan statementnya adalah dari dalam tapi malah mengkritik sendiri pemerintahan Pak SBI.
28:09Waktu Pak Jokowi juga demikian.
28:11Pak Bung Hasan termasuk bagian dari yang ikut membela Pak Jokowi.
28:15Kalau sekarang kan nyari sebenarnya enggak.
28:17Tapi kenapa Anda sebagai seorang ilmuwan politik juga bergerak di bidang komunikasi politik.
28:24Kenapa pemerintahan yang didukung oleh hampir semua partai politik dirangkul semua di kabinet.
28:31Tapi justru tidak menciptakan satu harmoni dalam menjelaskan kebijakan Presiden.
28:39Ya itulah Presiden kita yang tidak hanya melihat kekuatan politik formal tapi juga melihat masyarakat.
28:50Kan kekuatan politik formal enggak mengontrol opini masyarakat.
28:54Masyarakat.
28:55Sementara sebagian besar program-program Presiden sekarang semuanya masif langsung berurusan dengan masyarakat.
29:03Supaya enggak disalahpahami.
29:05Sekarang dengan terbukanya teknologi informasi ini orang gampang sekali salahpaham.
29:10Seolah-olah benar.
29:12Padahal itu enggak benar.
29:14Sekarang ada aja orang yang biasa.
29:17Orang biasa saja.
29:19Masyarakat biasa.
29:20Kemudian bisa aja bikin pusingan ini Presiden kerjanya jalan-jalan mulu ke luar negeri.
29:25Banyak yang menyambut itu.
29:27Iya nih Presiden jalan-jalan aja kerjanya.
29:28Uang pajak kita dipakai buat jalan-jalan ini segala macam.
29:32Tapi ini kan harus kita jelaskan.
29:34Kalau kita enggak jelaskan dengan baik, kita enggak konsensual ini.
29:38Berarti orang benar-benar percaya nih Presiden kerjanya jalan-jalan.
29:40Pertanyaan saya pernah enggak lihat Presiden jalan-jalan.
29:46Di luar negeri Presiden itu rapat ketemu orang, ketemu kepala negara lain atau jalan-jalan.
29:52Harus ada orang yang challenge kayak gitu kan.
29:55Terus kemudian memang sekarang Anda masih bisa masak di rumah, gas masih tersedia, LPG dengan harga yang sama.
30:04BBM mobil masih bisa diisi dengan 90 persen BBM masih dengan harga yang sama.
30:0910 persennya sudah naik harga.
30:10Tapi 90 persennya itu dari efek Presiden keluar negeri.
30:15Jadi kalau enggak dijelaskan seperti itu, itu yang saya bilang tadi soal narasi.
30:20Kalau enggak dijelaskan seperti itu, orang akan putus di situ aja dengan pikiran mereka yang sederhana bilang Presiden jalan-jalan.
30:25Hari ini kan Presiden ke Filipina.
30:27Itu tapi enggak cukup menjawab sih.
30:30Karena kan secara politik semuanya ada di pemerintahan Prabu ini.
30:36Secara kebijakan, Presiden cukup terbantu dengan kompaknya stakeholder politik.
30:43Tapi yang saya jelaskan, kebijakan-kebijakan Presiden hari ini, programnya masih bersentuhan dengan semua masyarakat.
30:51Supaya enggak disalahpaham.
30:52Kadang-kadang gonjang-ganjing itu bukan hanya dari kekuatan politik.
30:57Gonjang-ganjing itu sudah tumbuh bisa dari masyarakat juga.
31:00Karena salah paham.
31:02Nanti kalau sudah melihat salah paham ini banyak, kekuatan politik bisa nyambut itu.
31:08Jadi jangan remehkan juga gonjang-ganjing yang ada di dalam masyarakat.
31:13Makanya Presiden care sekali soal, jangan sampai salah paham masyarakat.
31:17Jangan sampai kemudian masyarakat menganggap, oh ini begini, ini begini, itu begitu.
31:22Jangan.
31:23Jadi harus segera diberi pemahaman.
31:25Anda enggak melihat mereka punya pikiran kritis?
31:30Siapa?
31:30Misalnya orang melihat, loh memang kan dari sekian banyak Presiden yang sudah terpilih, Presiden Prabowo bagaimanapun juga dalam waktu yang
31:39hampir dua tahun secara frekuensi terbanyak untuk kunjungan keluar negerinya.
31:44Saya tidak bilang jalan-jalan, tapi kunjungan keluar negerinya.
31:47Kan ini sebuah pertanyaan kritis.
31:49Mengapa Anda tidak melihat ini sebagai sesuatu yang memang secara faktual frekuensi perjalanan keluar negerinya lebih banyak?
31:57Betul, tapi kan harus luruskan, bukan jalan-jalan.
32:00Tapi kan harus juga diluruskan bahwa itu untuk keberlangsungan hidup kita sebagai sebuah bangsa.
32:06Kan kita net importer BBM, net importer LPG, beberapa bahan pangan juga masih ada yang diimpor, beras alhamdulillah sudah enggak.
32:15Beberapa komoditi alhamdulillah sudah enggak.
32:17Tapi banyak yang kita, apalagi keadaan perang.
32:20Lebih sulit lagi, uang punya uang aja enggak cukup sekarang.
32:23Kita punya uang aja sekarang enggak cukup.
32:26Jadi harus ada hubungan baik supaya kita dapat barang itu.
32:28Artinya di sini adalah tidak semua mereka yang ada dalam kabinet atau partai-partai politik yang bergabung bersama Pemimpinan Prabu
32:37Suwianto tidak menjelaskan itu dengan baik.
32:41Ya itu kan tugasnya sekarang ditambah SDM-SDM komunikasi ini supaya bisa menjelaskan itu lebih jelas lagi kepada masyarakat.
32:50Ada yang fokus kerja, ya kan?
32:54Jadi mungkin kadang-kadang karena fokus kerja.
32:55Tapi Anda sepakat kan, ini situasi yang peculiar gitu.
33:00Cukup aneh justru sebenarnya ketika semua dirangkul, tapi justru kegaduhan itu...
33:07Menurut saya enggak aneh.
33:09Enggak aneh justru ini konsekuensi dari keadaan yang sudah berubah cepat.
33:13Karena sosial media?
33:14Karena sosial media.
33:15Dan kita enggak punya regulasi khusus untuk peredaran informasi di sosial media ini, kita nyaris enggak ada regulasi yang cukup
33:24memadai.
33:25Dan kita nyaris tanpa censorship.
33:28Anda harus hati-hati loh bilang censorship.
33:30Nyaris tanpa censorship.
33:31Nanti Anda akan dituduh sebagai orang yang ikut menjadi bagian atau pendorong pembukaman press.
33:38Atau kebebasan bicara.
33:39Silahkan didiskusikan.
33:40Tapi informasi di media sosial nyaris tanpa censorship kan.
33:44Bahasa apa aja ada kan.
33:46Tuduhan apa aja ada kan.
33:48Mau benar mau salah.
33:50Tuduhan paling salah sekalipun ada pengikutnya.
33:53Itu yang membuat Anda langsung juga Bung Kodari, Bung Hasan Nasbi langsung merespons.
33:58Dan juga Komdigi merespons.
34:01Seperti apa yang dikatakan oleh Pak Amin Rais?
34:03Jangan abaikan.
34:05Seolah-olah itu kan isu ini aja nanti.
34:08Jangan abaikan itu.
34:09Api ditumpuk-tumpuk kecil-kecil nanti besar juga itu.
34:14Kenapa harus begitu reaktif dengan pernyataan Pak Amin Rais, Bung Hasan?
34:18Itu bukan reaktif kan.
34:20Memang itu yang harus dilakukan pemerintah kan.
34:22Kalau misalnya diam juga orang teriak.
34:24Mana jawabannya kok gak ada klarifikasi?
34:26Serba salah juga.
34:27Tapi lebih baik kita mengambil posisi menjelaskan.
34:31Supaya masyarakat tidak salah.
34:33Menurut saya kayak gitu.
34:33Apapun tudingan orang habis itu.
34:35Lebih baik kita mengambil posisi jelaskan.
34:38Dan itu langsung gerak cepat.
34:40Men-take down.
34:41Tapi menurut Anda apakah itu cukup menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Pak Amin Rais itu hoax?
34:47Saya yakin ada yang percaya sama Amin Rais.
34:50Masa?
34:51Saya yakin ada yang percaya sama Amin Rais.
34:53Karena saya punya, di grup RT saya aja ada yang percaya sama Amin Rais.
34:58Di grup RT saya.
35:00Yang pasti itu pendidikannya di atas rata-rata.
35:03Ada yang percaya.
35:05Nah, terus kita mau anggap reme itu.
35:08Kita harus jelaskan itu.
35:10Kenapa ini yang tidak dianggap, kenapa ini sebagai sesuatu yang sangat menurut Anda harus disikapi dengan...
35:18Itu sudah levelnya hate speech.
35:20Hate speech yang bisa...
35:22Gimana hate speech-nya?
35:23Hate speech dong.
35:24Menuding yang tidak-tidak, apalagi soal moral misalnya.
35:28Itu bersumber dari informasi dari akun yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
35:34Hate speech itu sudah mirip-mirip Tommy Robinson tahun 2024 di Inggris itu.
35:39Saya rasa agak berlebihan lah, Bung Asad.
35:41Tommy Robinson itu mungkin diseng-iseng aja dari Cyprus.
35:45Memposting sesuai dengan pendirian dan kebijakan politik.
35:47Ya, tapi itu kalau kita ingatkan pemirsa Rosi, itu kan memang ada kaitannya sama rasial.
35:53Ini ada kaitannya dengan agama.
35:57Dan ada yang percaya.
36:00Jangan anggap remeh itu.
36:02Hate speech itu jangan anggap remeh.
36:06Tuduhan-tuduhan seperti itu, jangan dianggap remeh.
36:09Harus dijelaskan.
36:12Meskipun sebenarnya saya, kalau buat saya, kalau saya ini harusnya diabaikan.
36:18Karena kita tidak boleh menggung ranah privat.
36:21Kita boleh punya perbedaan pendapat.
36:23Tapi gak semua orang punya pikiran keerosi.
36:26Saya udah cerita tadi.
36:27Di depan mata saya ada orang yang percaya itu.
36:30Walaupun itu menjadi sesuatu, I don't know, sesuatu yang bersifat ranah privat, itu tidak boleh dicampur adukan dengan penilaian terhadap
36:38kebijakan.
36:39Kita sudah kenyang dengan hal-hal yang bersifat agama, kemudian bisa meledak jadi macam-macam.
36:43Dulu orang dituduh-dukun santir aja itu nyawa melayang kok.
36:47Kita punya KTP yang berbeda aja, di beberapa daerah sekarang pun gak aman kok.
36:53Kemarin di Maluku Utara hampir terjadi lagi yang seperti itu.
36:57Sempat terjadi berapa hari, tapi alhamdulillah sudah bisa dipadamkan.
36:59Jadi jangan anggap remeh yang seperti itu.
37:02Saya sih, ya oke, pandangan itu bisa diterima.
37:06Tapi kalau menurut saya, saya sampai saat ini merasa itu seharusnya diabaikan saja.
37:10Alhamdulillah kalau semua orang berpandangan seperti Rosi, alhamdulillah.
37:15Tapi kita gak mau ambil risiko.
37:18Terima kasih Anda di Rosi.
37:19Saya masih bersama penasehat khusus Presiden bidang komunikasi Hasan Nasbi yang baru saja out dan in lagi.
37:27Pergi untuk kembali.
37:29Jadi apa tugasnya seorang Hasan Nasbi sekarang?
37:33Kalau perintah dari Presiden kan, kita, saya bekerja sama, harus sangat erat dengan Kementerian Komdiji, dengan Bakom.
37:45Kalau saya lebih ke, tentu ke ide dan substansi serta strategi.
37:50Tapi ototnya kan yang punya Komdiji dan Bakom.
37:56Mereka yang punya personil, punya anggaran, punya kemampuan untuk eksekusinya.
38:02Ya jadi untuk, jadi pelapis lah kita.
38:04Untuk memberikan masukan-masukan.
38:06Jadi tidak hanya kepada Presiden, tapi juga kepada...
38:09Anda termasuk, bisa gak kasih masukan?
38:11Mbok yang orang Menteri ini atau Kepala Badan ini, ya lebih baik gak usah ngomong daripada orang yang jadi salah
38:19tangkap.
38:19Saya rasa saya belum pernah memberikan masukan seperti itu.
38:24Tapi dalam proses sampai dilantik menjadi penasihat khusus ini, dan setelah dilantik beberapa minggu.
38:37Kita weekend itu hampir pasti itu weekend di Kambalang.
38:41Dan bicaranya tidak harus formal kan.
38:44Bicaranya informal.
38:46Dan itu Presiden tidak hanya kasih arahan, tapi bertanya.
38:49Oke, tanyanya apa?
38:51Ya macam-macam, tentu gak bisa saya bocorkan.
38:52Tapi ketika bertanya itu, kita bisa memberikan masukan.
38:58Dan belum tentu langsung diterima, di challenge lagi sama Presiden.
39:01Tapi yang bagus yang menurut saya setelah berapa kali mungkin challenge itu boleh balik Presiden?
39:05Oh iya juga gitu.
39:07Jadi, kalau kita bicara dengan seorang Presiden, pasti Presiden itu tidak gampang untuk berubah.
39:13Itu pasti itu.
39:14Kalau gak, dia gak akan duduk di kursi Presiden.
39:16Dia pasti orang yang kuat pendirian, orang yang teguh pendirian, orang yang tidak gampang berubah pendirian.
39:23Itu pasti itu.
39:23Sudah sampai di level itu tuh, orangnya pasti itu.
39:26Tapi bagaimana Anda memberikan masukan ketika tahu bahwa itu tidak doable sekarang?
39:31Yang mana misalnya?
39:32Kan tadi tidak bisa berubah pendirian.
39:34Tapi Anda tahu bahwa ini belum...
39:36Bukan tidak bisa mudah, tidak mudah berubah.
39:38Jadi, tapi ketika ada masukan-masukan, Presiden challenge balik masukan kita,
39:42saya bilang, tapi coba.
39:46Coba bikin kajiannya, coba bikin ininya, coba bikin apa sebenarnya rangkuman-rangkumannya.
39:52Nanti presentasi lagi ke saya.
39:54Jadi, ada titik di mana Presiden itu kemudian memikirkan usulan-usulan yang tadi masuk,
40:01walaupun awalnya di challenge.
40:03Penghasan, Anda tidak perlu sebut lama, tapi pernah sebagai orang yang ingin meluruskan
40:08atau supaya orang tidak salah paham pada kebijakan pemerintah dalam hal ini programnya Presiden,
40:14pernah enggak Anda merasa, aduh kok ngomongnya kayak gini sih?
40:18Enggak, enggak. Kita harus belajar kayak gitu.
40:20Kita enggak bisa sok paten-sok paten sendiri.
40:23Tapi pasti ada dong yang misalnya.
40:25Enggak, menurut saya gini.
40:27Ada masa di mana mungkin, ya mungkin kekeliruan atau apa itu memang harus terjadi.
40:35Dan ada masa kita juga harus paham, mungkin orang itu, menteri itu, dia enggak punya pilihan lain.
40:42Tapi gini loh, kalau itu seri katakan itu harus terjadi,
40:47tapi itu kan bisa melemahkan trust.
40:51Ya kita harus segera perbaikikan.
40:52Sekali menurut saya trust itu bukan karena kesalahan, tapi karena bad intention.
40:59Sama aja kayak kita berumah tangga, kesalahan, tapi kalau kita tahu itu kesalahan bukan karena bad intention,
41:07bukan karena maksud jahat atau maksud buruk, kita masih bisa perbaiki itu.
41:13Beda dengan kalau ada maksud jahat, maksud buruk, itu tentu mungkin akan lebih sulit untuk diperbaiki.
41:18Jadi sekarang kalau bicara kita...
41:21Jadi saya ini, masyarakatnya realistis.
41:24Jadi yang ideal-ideal semua serba sempurna, nilainya harus seratus itu, sudah lama saya tinggalkan.
41:29Bahkan, pejabat publik dibully itu, mungkin sebuah kenisihayaan.
41:35Udah giliran aja itu, anggota kabinet dibully itu udah giliran aja.
41:39Dan jangan patah semahat juga gara-gara pas gilirannya dia bully.
41:43Jangan juga merasa jelek, buruk, atau rendah kemudian karena dibully.
41:48Emang sudah waktunya juga mungkin, udah muter dia.
41:52Dari Menteri A, Menteri B, Menteri C, udah muter aja itu buat dibully.
41:55Jadi kalau seperti judul Rosi pada malam hari ini, bedah gaya komunikasi istana.
42:00Apa yang kita akan lihat berbeda dari gaya komunikasi istana?
42:04Emang harus berbeda?
42:05I don't know, buktinya kan Anda masuk.
42:07Kalau misalnya nggak berbeda, ngapain Anda masuk?
42:09Untuk menambah tenaga bukan buat mengubah?
42:12Ya, makanya apa yang kita bisa lihat sesuatu oke.
42:18Pantas, Urang Awak ini ada di sini.
42:21Seperti yang waktu itu bocoran dari Pak Yusuf Wanandi di sini, di studio ini waktu Imlek.
42:27Katanya Hasan Nasbi akan masuk lagi.
42:29Urang Awak ternyata masuk lagi sebagai penasehat.
42:32Saya nggak bilang berbeda.
42:35Tapi mungkin akan lebih cepat, akan lebih taktis, akan lebih, apa ya, bahasa itu boleh nggak dipakai misalnya.
42:46Bahasa agresif itu boleh nggak dipakai gitu.
42:50Bukan ofensif, tapi ya lebih agresif lah.
42:54Untuk menyampaikan sesuatu ke masyarakat.
42:57Jadi modelnya bukan model, udah diamin aja dulu, nanti sampai hilang isunya, nggak.
43:04Kita mau masyarakat mengerti supaya tidak salah paham gitu.
43:07Supaya jangan kesalahpahaman itu menumpuk-numpuk.
43:10Tapi pada titik mana ya, Bung Hasan Nasbi?
43:13Apakah juga ada kebesaran hati untuk mengakui bahwa kesalahpahaman itu,
43:18atau publik menangkap itu berbeda karena pangkalnya, itu memang salah dijelaskannya.
43:26Ada nggak satu titik mau dengan rendah hati mengatakan, bahwa ini memang harus kita koreksi.
43:31Lo kan beberapa kali ngoreksi.
43:33Contoh?
43:33Iya, Ibu Menteri PPA koreksi.
43:35Iya, itu kan makanya tadi saya apresiasi.
43:37Makanya banyak hal yang sudah dikoreksi kok gitu.
43:40Jadi Menteri-Menteri juga banyak yang sudah mengoreksi.
43:43Jadi itu akan selalu ada kok.
43:46Mengoreksi, minta maaf itu akan selalu ada.
43:48Dan bukan berarti minta maaf itu juga sesuatu yang jelek.
43:52Bukan berarti kita ngoreksi juga sesuatu yang jelek.
43:54Terbuka kok.
43:56Mengoreksi itu tuh terbuka.
43:57Masalahnya gini, yang nggak ada masalah aja, itu bisa dikoreksi.
44:02Jangankan yang ada masalah.
44:03Yang nggak ada masalah aja, bisa dikoreksi.
44:11Ketika, misalnya nih, berbagai macam kementerian dan lembaga efisiensi misalnya.
44:19Ada program prioritas juga efisiensi dulu.
44:24Oke.
44:25Ada, misalnya kayak gitu.
44:26Jadi itu kan program prioritas sebenarnya bisa jalan aja terus.
44:29Tapi juga ada penghematan di segala macam.
44:34Tapi yang layanan kepada masyarakat tidak boleh berkurang.
44:37Jadi yang berkorban siapa?
44:38Yang berkorban leadernya, yang berkorban pemimpin-pemimpinnya, yang berkorban ASN-ASN.
44:44Oke.
44:44Jadi sekali lagi, kalau bicara soal gaya komunikasi sitana,
44:50Anda melihat lebih pada memperkuat penjelasan?
44:53Memperkuat dan menambah SDM.
44:54Nah, menurut Anda, nanti idealnya itu seperti apa sih para jurubicara program presiden ini?
45:05Nah itu, Rosy.
45:07Kenapa harus tanya yang ideal, Rosy?
45:09Karena Anda tadi realistis ya?
45:11Iya.
45:11Pertama, jadi hadapi, yang memang harus kita hadapi, kita hadapi.
45:15Yang bisa kita jelaskan, jelaskan.
45:18Jadi maksudnya kita nggak boleh malas untuk menjelaskan.
45:22Nggak boleh tunggu-tunggu untuk menjelaskan.
45:25Sekali lagi, ini kayak pemain bola.
45:27Salah oper itu pasti kejadian juga.
45:29Bola kita tendang out itu juga pasti ada.
45:32Tiba-tiba gawang bobol juga pasti ada.
45:34Tapi yang harus kita pastikan bahwa secara keseluruhan,
45:38permainan tim dalam 2x45 menit bagus dan menang.
45:42Oke. Terima kasih penasehat khusus presiden bidang komunikasi.
45:49Ini rasanya title yang nggak kaleng-kaleng.
45:52Karena rasanya...
45:53Semoga bisa saya jalankan dengan baik.
45:56Memberikan nasihat pada presiden itu luar biasa loh.
45:59Udah kasih nasihat?
46:01Sudah kasih masukan.
46:02Kayaknya ngasih nasihat itu kayaknya terlalu berat buat saya.
46:06Tapi ide, masukan, usul, sudah.
46:10Terima kasih Bung Hasan Nasbi.
46:11Good luck.
46:12Terima kasih.
46:14Terima kasih juga bagi Anda yang telah menyaksikan Rosy.
46:17Kita jumpa lagi Kamis depan hanya di Kompas TV.
46:19Independen terpercaya.
46:20Sampai jumpa.
Komentar

Dianjurkan