Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, membantah anggapan bahwa pemerintah merekrut kelompok media yang belakangan disebut sebagai "homeless media".

Hasan menegaskan, pemerintah hanya membuka akses informasi dan mengundang media-media tersebut ke kegiatan konferensi pers Istana, sama seperti media arus utama lainnya.

Menurut Hasan, media yang disebut sebagai homeless media atau new media hanya mendapat undangan untuk menghadiri konferensi pers.

Ia menjelaskan, kehadiran mereka saat itu karena ada tambahan peserta baru dari kelompok media digital atau media baru.

Hasan juga mengatakan, daftar media yang hadir berasal dari komunitas atau perhimpunan media baru itu sendiri.

Maka, Hasan menilai wajar jika media-media tersebut merasa tersinggung ketika disebut direkrut pemerintah.

Ia menegaskan, hubungan tersebut merupakan bentuk kolaborasi biasa.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/G9YV_CCvsDY



#hasannasbi #prabowo #komunikasi



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/667594/hasan-nasbi-bantah-pemerintah-rekrut-homeless-media-ini-klarifikasinya-rosi
Transkrip
00:00Kehadiran teman-teman New Media mencerminkan upaya BAKOM untuk menjangkau publik seluas-luasnya,
00:08tidak hanya melalui media konvensional, tapi juga melalui kanal-kanal digital yang pada hari ini telah menjadi realita media atau
00:16realita komunikasi di kita.
00:18Pandangan kami, New Media harus dirangkul agar dapat meningkatkan kualitas dan standar,
00:25agar produk dari New Media ini makin berkualitas seperti halnya media konvensional.
00:35Terima kasih Anda masih di Rosy, bersama saya Rosy Anasilalahi.
00:38Menjadi jubir dan mengelola komunikasi bukan pekerjaan gampang, apalagi tengah derasnya informasi dari media sosial.
00:45Saya masih bersama penasihat khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi.
00:49Bung Hasan, yang paling terbaru pada saat kita bicara ini soal ramainya, pemerintah ingin disebut katanya merekrut homeless media.
01:02Apa duduk soalnya?
01:03Sekarang tugas Anda untuk menjelaskan apa yang dinyatakan oleh Bapak Bakom Kodari.
01:11Harusnya ini tugas jubir ya.
01:13Tapi karena kebetulan saya ditanya di sini kan nggak bisa lari dari...
01:17Apa duduk soalnya tuh?
01:20Yang jadi soal itu adalah kenapa ada media menuliskan kata-kata merekrut.
01:24Sebenarnya memang merekrut nggak?
01:26Nggak.
01:27Tapi kalau bekerja sama membuka akses, sama seperti dengan media-media lain.
01:33Sama dengan Kompas TV, sama dengan Tempo dan lain-lain yang dibuka aksesnya untuk mendapatkan penjelasan rutin dari istana.
01:44Oh jadi saat itu sebenarnya duduk soalnya adalah diundang untuk...
01:47Jadi diundang untuk kompresi pers, program...
01:49Yang biasanya media-media mainstream...
01:51Sekarang ada anggota baru.
01:53Yaitu media-media yang disebut homeless media tadi.
01:56Iya media-media yang sekarang menamakan diri sebagai homeless media atau new media itu.
02:01Dan kebetulan mungkin karena baru diundang hari itu, jadi beliau sambutlah dengan menyatakan siapa aja new media atau homeless media
02:11yang diundang pada saat itu.
02:13Dan daftarnya bukan daftar yang disodorkan oleh...
02:16Oleh apa namanya...
02:18Oleh Pak Guyuban atau perhimpunan new media ini gitu.
02:23Tapi rata-rata hari ini kalau kita baca di media sosial, semua new media itu yang disebut dengan homeless media
02:31atau mereka yang bukan media mainstream lah gitu.
02:34Kita lebih jelasnya.
02:35Mengatakan tidak benar bahwa kami ada kerjasama, tidak benar kami juga direkrut.
02:40Kalau tidak benar direkrut menurut saya ya wajar mereka tersinggung bilang direkrut.
02:47Emangnya kalau misalnya kita ngajak diskusi Kompas TV diundang ke BAKOM,
02:53emang boleh orang lain beritakan bahwa Kompas TV sudah direkrut?
02:57Kan enggak?
02:58Ini kan kayak kolaborasi biasa kan?
03:02Kolaborasi dengan media, kolaborasi dengan homeless media.
03:07Nggak boleh dong satu dua media kemudian bilang ini direkrut.
03:10Karena mereka juga marah dong, mereka punya harga diri juga.
03:13Mereka juga punya pride yang harus mereka jaga, harga diri yang harus mereka jaga.
03:19Tapi bahwa ada kerjasama dalam bentuk kolaborasi, membuka akses.
03:23Dan ya di negara-negara lain kan juga sudah.
03:26White House juga ya.
03:28Sekarang press briefing di White House itu juga sudah diikutkan.
03:34Ini kan kita juga harus adaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang sedang berkembang kan?
03:38Dan pemerintah punya kepentingan loh.
03:41Sebanyak mungkin ada channel, kanalisasi, kanal yang paham dan mendapatkan pesan langsung dari pemerintah.
03:50Lalu nanti mereka beritakan dengan pandangan yang benar.
03:54Bukan menyalin dari tangan kedua, tangan ketiga yang mungkin saja sudah bias gitu loh.
03:58Yang jadi pertanyaan kenapa ada media tertentu menyebut kata merekrut.
04:05Emang kalau Tempo ada di sana emang boleh disebut kata-kata Tempo direkrut oleh Bakom?
04:14Kan tiap hari ada di sana.
04:16Bahkan tiap minggu hadir boleh nggak disampaikan, ditulis oleh homeless media ini.
04:20Apa?
04:21Bakom merekrut Tempo boleh nggak?
04:23Ini yang harus diklarifikasi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan rekrut merekrut ya?
04:28Apanya yang mau direkrut.
04:29Tapi saya juga bingung, emang kalau kerja sama pemerintah jelek?
04:35Emang kalau kolaborasi bersama pemerintah jelek?
04:39Siapa yang ngajarin itu?
04:41Kalau kerja sama pemerintah terus jadi jelek?
04:44Karena ada nuansa, ada satu persepsi yang tidak bisa dikontrol seolah-olah kemudian menjadi PR-nya pemerintah.
04:53Ya jadi kalau media yang kerja sama pemerintah jadi PR pemerintah nggak?
04:57Tidak langsung serta-merta seperti itu ya.
05:00Pemerintah boleh kerja sama-sama Kompas TV nggak?
05:02Bisa ya.
05:03Tapi itu tidak menghilangkan independensi Kompas TV.
05:06Terus kenapa nggak disembatkan hal yang sama ke teman-teman homeless media?
05:10Kenapa harus ada kata-kata direkrut?
05:13Bahkan sebenarnya kalau saya sempat sekilas mendengar apa yang dikatakan Bung Kodari,
05:17ia memberikan penekanan supaya homeless media ini juga bisa menjadi rujukan informasi,
05:22tetapi juga kalau nggak salah Bung Kodari mengatakan proses verifikasi.
05:28Bang Kodari itu orang yang menurut saya...
05:31Jadi harusnya itu ini masukan yang baik juga untuk homeless media.
05:34Bang Kodari itu justru beberapa kali ngundang teman-teman homeless media,
05:39justru penekanan pertama sama dia adalah kode etik jurnalistik.
05:44Bahkan beberapa kali kita diskusi, kita diskusi udah panjang kan.
05:47Mungkin sudah dua bulan, tiga bulan terakhir kita diskusi,
05:50harusnya homeless media itu diperlakukan standar yang sama dengan teman-teman media.
05:56Mainstream.
05:57Media-media mainstream, media-media jurnalistik lainnya.
06:00Biar sama kualifikasinya gitu.
06:02Biar sama kualifikasinya.
06:04Jadi kalau soal kerjasama-kerjasama itu,
06:06saya bingung aja kenapa kerjasama dengan pemerintah dianggap jelek gitu loh.
06:11Jeleknya di mana?
06:14Jeleknya di mana?
06:15Kalau misalnya, media ini kan juga bukan hiasan sosial kan?
06:22Media mainstream juga bukan hiasan sosial kan?
06:25Jadi bagian dari entitas bisnis juga.
06:27Jadi dia bisa kerjasama dengan siapapun, termasuk dengan pemerintah.
06:32Homeless media ini juga bukan hiasan sosial kan?
06:34Hanya tinggal pilihannya di masing-masing ruang redaksi.
06:36Apakah mereka mau menumbuhkan kepercayaan dari pembaca, penontonnya?
06:41Itu pilihan.
06:42Tapi nggak ada jelek bagus atau jelek nih.
06:45Yang mau kolaborasi sama pemerintah juga nggak bisa dianggap jelek.
06:49Nggak adil menurut saya.
06:51Kalau misalnya dibilang kolaborasi bersama pemerintah,
06:54apakah memang ada niat untuk menyamakan opini?
06:56Menyamakan opini.
06:58Biar sama semua sejalan dengan...
06:59Bagaimana caranya menyamakan opini?
07:00Tapi kita bisa kasih opini dari tangan pertama?
07:03Iya.
07:04Ingin menyampaikan seluas-luasnya opini versi tangan pertama?
07:08Iya dong.
07:09Kan itu kepentingan pemerintah.
07:10Jadi homeless media nggak ngutip lagi dari kompas TV.
07:15Nggak ngutip lagi.
07:16Kalau ngutip gitu dapat publisir lain.
07:18Enggak tuh?
07:19Nah makanya.
07:20Jadi kita undang mereka aja dapat dari tangan pertama gitu.
07:24Ini kan banyak hal-hal yang kita harus adaptasi.
07:28Ini idenya siapa?
07:29Idenya Bung Kodari atau Anda sebagai penasehat khusus presiden?
07:32Kita diskusi panjang lah soal ini.
07:34Tapi Bung Kodari punya ide yang buat soal ini.
07:37Bahwa teman-teman ini harus bisa juga kita...
07:41Apa ya?
07:43Terangkul.
07:43Kita ajak kolaborasi.
07:46Kalau boleh mereka dapat informasinya langsung dari tangan pertama.
07:50Nggak ngutip dari media lagi gitu.
07:52Bahkan sebenarnya mohon maaf ya.
07:53Ngutip dari media itu biasanya juga udah banyak loh.
07:56Kayak yang tadi.
07:57Bayangin homeless yang nggak diajak kemarin.
07:59Misalnya atau nggak diundang kemarin.
08:01Udah ngeliatnya dengan miring kan?
08:02Karena bahasanya rekrut.
08:03Ya kan tapi cuma satu media aja yang mengatakan itu.
08:06Dua media. Tapi efeknya panjang.
08:08Teman-teman ini juga kena peer group pressure loh.
08:12Kena peer group pressure juga.
08:14Kena cancel culture juga.
08:16Menurut saya agak-agak kejam sih itu.
08:18Bung Hasan kan Anda banyak menitik beratkan soal bagaimana media sering cukup bias.
08:27Dan kemudian makanya ingin mengajak juga new media, homeless media.
08:31Untuk mendengarkan informasi yang pertama.
08:34Mendengarkan informasi dari tangan pertama.
08:36Tangan pertama.
08:37Semua belajar.
08:39Untuk bisa memberikan informasi dengan jernih.
08:42Tapi pertanyaan saya.
08:43Anda merasa perlu nggak?
08:44Para pejabat publik ini.
08:46Kepala lembaga itu juga belajar cara berkomunikasi.
08:50Perlu dong.
08:51Pak Prabowo mau bikin program sekali lagi nih.
08:55Retreat lagi itu.
08:57Mungkin staff khusus atau jurubicara kementerian.
09:02Untuk retreat komunikasi.
09:04Jadi kita samakan.
09:05Serius?
09:05Gerak langkah kita soal komunikasi.
09:07Berarti memang Pak Prabowo merasa memang ada PR besar dari sisi komunikasi?
09:11Mungkin bahasanya bukan PR besar.
09:13Tapi semua sayap harus dikepakkan dengan sama.
09:17Jadi nggak cuma kerjanya yang ngebut.
09:19Nggak kerjanya yang kerja keras.
09:21Tapi komunikasinya juga harus kerja keras.
09:23Supaya yang kerja keras di sisi kebijakan, program, pembangunan, dan lain-lain.
09:27Ini juga tersampaikan dengan baik.
09:30Jadi akan ada retreat.
09:31Tiga hal kan.
09:33Nggak semua orang punya tiga-tiganya.
09:35Mungkin salah satu.
09:36Apa tiga hal itu apa?
09:38Yang pertama sekarang itu butuh nyali.
09:43Pemerintah KL itu butuh nyali.
09:45Kita tuh kadang-kadang langsung surut.
09:47Gara-gara dibully 20 orang langsung surut.
09:50Udah diam aja deh.
09:51Udah dibully kita.
09:53Padahal ini penjelasan teknokratis sudah dihitung lama.
09:56Begitu ada orang yang salah paham.
09:57Tapi salah pahamnya disambut oleh viralitas.
10:00Kita mundur karena dibully.
10:02Nggak boleh gampang surut.
10:04Kita harus berani punya nyali untuk menjelaskan itu terus.
10:06Nggak usah pusing dengan bulian.
10:09Bukan berarti kita tondev.
10:10Tapi kita yakin dengan apa yang sudah kita hitung dari awal.
10:13Program.
10:14Jangan cepat mundur.
10:15Nyali.
10:16Yang kedua dengan banyaknya perkembangan media sekarang kita butuh strategi.
10:22Merangkul homeless media bagian dari strategi.
10:25Tapi bukan merekrut.
10:26Saya nggak terima itu kata-kata.
10:27Oke itu udah clear lah tadi kita.
10:29Tapi itu bagian dari.
10:30Yang ketiga?
10:31Bagi strategi.
10:32Narasi.
10:35Jadi banyak berita.
10:37Kadang-kadang numpang lewat aja kan.
10:39Nggak nempel di kepala publik kan.
10:42Karena nggak diceritakan urgensinya apa.
10:45Oke.
10:46Jadi kurang berani.
10:48Dua kurang.
10:49Bukan kurang berani tapi kita harus punya tiga-tiganya.
10:52Harus lebih berani.
10:54Dua?
10:54Harus lebih berani.
10:56Tadi apa dua?
10:57Lebih punya strategi.
10:59Lebih punya strategi dan narasi.
11:00Narasi.
11:01Oke.
11:01Jadi kalau disingkat jadi lisan.
11:05Itu versi saya.
11:06Lisan itu apa?
11:07Lisan.
11:08Nyali.
11:08Oh.
11:09Strategi.
11:10Narasi.
11:11Setelah DFK sekarang lisan.
11:13Bapak ini memang ahli singkatan-singkatan ya.
11:16Bagaimana pemerintah mengelola narasi kritis?
11:18Yukit.
11:18Basta.
11:18Basta.
11:18Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan