00:00Kehadiran teman-teman New Media mencerminkan upaya BAKOM untuk menjangkau publik seluas-luasnya,
00:08tidak hanya melalui media konvensional, tapi juga melalui kanal-kanal digital yang pada hari ini telah menjadi realita media atau
00:16realita komunikasi di kita.
00:18Pandangan kami, New Media harus dirangkul agar dapat meningkatkan kualitas dan standar,
00:25agar produk dari New Media ini makin berkualitas seperti halnya media konvensional.
00:35Terima kasih Anda masih di Rosy, bersama saya Rosy Anasilalahi.
00:38Menjadi jubir dan mengelola komunikasi bukan pekerjaan gampang, apalagi tengah derasnya informasi dari media sosial.
00:45Saya masih bersama penasihat khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi.
00:49Bung Hasan, yang paling terbaru pada saat kita bicara ini soal ramainya, pemerintah ingin disebut katanya merekrut homeless media.
01:02Apa duduk soalnya?
01:03Sekarang tugas Anda untuk menjelaskan apa yang dinyatakan oleh Bapak Bakom Kodari.
01:11Harusnya ini tugas jubir ya.
01:13Tapi karena kebetulan saya ditanya di sini kan nggak bisa lari dari...
01:17Apa duduk soalnya tuh?
01:20Yang jadi soal itu adalah kenapa ada media menuliskan kata-kata merekrut.
01:24Sebenarnya memang merekrut nggak?
01:26Nggak.
01:27Tapi kalau bekerja sama membuka akses, sama seperti dengan media-media lain.
01:33Sama dengan Kompas TV, sama dengan Tempo dan lain-lain yang dibuka aksesnya untuk mendapatkan penjelasan rutin dari istana.
01:44Oh jadi saat itu sebenarnya duduk soalnya adalah diundang untuk...
01:47Jadi diundang untuk kompresi pers, program...
01:49Yang biasanya media-media mainstream...
01:51Sekarang ada anggota baru.
01:53Yaitu media-media yang disebut homeless media tadi.
01:56Iya media-media yang sekarang menamakan diri sebagai homeless media atau new media itu.
02:01Dan kebetulan mungkin karena baru diundang hari itu, jadi beliau sambutlah dengan menyatakan siapa aja new media atau homeless media
02:11yang diundang pada saat itu.
02:13Dan daftarnya bukan daftar yang disodorkan oleh...
02:16Oleh apa namanya...
02:18Oleh Pak Guyuban atau perhimpunan new media ini gitu.
02:23Tapi rata-rata hari ini kalau kita baca di media sosial, semua new media itu yang disebut dengan homeless media
02:31atau mereka yang bukan media mainstream lah gitu.
02:34Kita lebih jelasnya.
02:35Mengatakan tidak benar bahwa kami ada kerjasama, tidak benar kami juga direkrut.
02:40Kalau tidak benar direkrut menurut saya ya wajar mereka tersinggung bilang direkrut.
02:47Emangnya kalau misalnya kita ngajak diskusi Kompas TV diundang ke BAKOM,
02:53emang boleh orang lain beritakan bahwa Kompas TV sudah direkrut?
02:57Kan enggak?
02:58Ini kan kayak kolaborasi biasa kan?
03:02Kolaborasi dengan media, kolaborasi dengan homeless media.
03:07Nggak boleh dong satu dua media kemudian bilang ini direkrut.
03:10Karena mereka juga marah dong, mereka punya harga diri juga.
03:13Mereka juga punya pride yang harus mereka jaga, harga diri yang harus mereka jaga.
03:19Tapi bahwa ada kerjasama dalam bentuk kolaborasi, membuka akses.
03:23Dan ya di negara-negara lain kan juga sudah.
03:26White House juga ya.
03:28Sekarang press briefing di White House itu juga sudah diikutkan.
03:34Ini kan kita juga harus adaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang sedang berkembang kan?
03:38Dan pemerintah punya kepentingan loh.
03:41Sebanyak mungkin ada channel, kanalisasi, kanal yang paham dan mendapatkan pesan langsung dari pemerintah.
03:50Lalu nanti mereka beritakan dengan pandangan yang benar.
03:54Bukan menyalin dari tangan kedua, tangan ketiga yang mungkin saja sudah bias gitu loh.
03:58Yang jadi pertanyaan kenapa ada media tertentu menyebut kata merekrut.
04:05Emang kalau Tempo ada di sana emang boleh disebut kata-kata Tempo direkrut oleh Bakom?
04:14Kan tiap hari ada di sana.
04:16Bahkan tiap minggu hadir boleh nggak disampaikan, ditulis oleh homeless media ini.
04:20Apa?
04:21Bakom merekrut Tempo boleh nggak?
04:23Ini yang harus diklarifikasi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan rekrut merekrut ya?
04:28Apanya yang mau direkrut.
04:29Tapi saya juga bingung, emang kalau kerja sama pemerintah jelek?
04:35Emang kalau kolaborasi bersama pemerintah jelek?
04:39Siapa yang ngajarin itu?
04:41Kalau kerja sama pemerintah terus jadi jelek?
04:44Karena ada nuansa, ada satu persepsi yang tidak bisa dikontrol seolah-olah kemudian menjadi PR-nya pemerintah.
04:53Ya jadi kalau media yang kerja sama pemerintah jadi PR pemerintah nggak?
04:57Tidak langsung serta-merta seperti itu ya.
05:00Pemerintah boleh kerja sama-sama Kompas TV nggak?
05:02Bisa ya.
05:03Tapi itu tidak menghilangkan independensi Kompas TV.
05:06Terus kenapa nggak disembatkan hal yang sama ke teman-teman homeless media?
05:10Kenapa harus ada kata-kata direkrut?
05:13Bahkan sebenarnya kalau saya sempat sekilas mendengar apa yang dikatakan Bung Kodari,
05:17ia memberikan penekanan supaya homeless media ini juga bisa menjadi rujukan informasi,
05:22tetapi juga kalau nggak salah Bung Kodari mengatakan proses verifikasi.
05:28Bang Kodari itu orang yang menurut saya...
05:31Jadi harusnya itu ini masukan yang baik juga untuk homeless media.
05:34Bang Kodari itu justru beberapa kali ngundang teman-teman homeless media,
05:39justru penekanan pertama sama dia adalah kode etik jurnalistik.
05:44Bahkan beberapa kali kita diskusi, kita diskusi udah panjang kan.
05:47Mungkin sudah dua bulan, tiga bulan terakhir kita diskusi,
05:50harusnya homeless media itu diperlakukan standar yang sama dengan teman-teman media.
05:56Mainstream.
05:57Media-media mainstream, media-media jurnalistik lainnya.
06:00Biar sama kualifikasinya gitu.
06:02Biar sama kualifikasinya.
06:04Jadi kalau soal kerjasama-kerjasama itu,
06:06saya bingung aja kenapa kerjasama dengan pemerintah dianggap jelek gitu loh.
06:11Jeleknya di mana?
06:14Jeleknya di mana?
06:15Kalau misalnya, media ini kan juga bukan hiasan sosial kan?
06:22Media mainstream juga bukan hiasan sosial kan?
06:25Jadi bagian dari entitas bisnis juga.
06:27Jadi dia bisa kerjasama dengan siapapun, termasuk dengan pemerintah.
06:32Homeless media ini juga bukan hiasan sosial kan?
06:34Hanya tinggal pilihannya di masing-masing ruang redaksi.
06:36Apakah mereka mau menumbuhkan kepercayaan dari pembaca, penontonnya?
06:41Itu pilihan.
06:42Tapi nggak ada jelek bagus atau jelek nih.
06:45Yang mau kolaborasi sama pemerintah juga nggak bisa dianggap jelek.
06:49Nggak adil menurut saya.
06:51Kalau misalnya dibilang kolaborasi bersama pemerintah,
06:54apakah memang ada niat untuk menyamakan opini?
06:56Menyamakan opini.
06:58Biar sama semua sejalan dengan...
06:59Bagaimana caranya menyamakan opini?
07:00Tapi kita bisa kasih opini dari tangan pertama?
07:03Iya.
07:04Ingin menyampaikan seluas-luasnya opini versi tangan pertama?
07:08Iya dong.
07:09Kan itu kepentingan pemerintah.
07:10Jadi homeless media nggak ngutip lagi dari kompas TV.
07:15Nggak ngutip lagi.
07:16Kalau ngutip gitu dapat publisir lain.
07:18Enggak tuh?
07:19Nah makanya.
07:20Jadi kita undang mereka aja dapat dari tangan pertama gitu.
07:24Ini kan banyak hal-hal yang kita harus adaptasi.
07:28Ini idenya siapa?
07:29Idenya Bung Kodari atau Anda sebagai penasehat khusus presiden?
07:32Kita diskusi panjang lah soal ini.
07:34Tapi Bung Kodari punya ide yang buat soal ini.
07:37Bahwa teman-teman ini harus bisa juga kita...
07:41Apa ya?
07:43Terangkul.
07:43Kita ajak kolaborasi.
07:46Kalau boleh mereka dapat informasinya langsung dari tangan pertama.
07:50Nggak ngutip dari media lagi gitu.
07:52Bahkan sebenarnya mohon maaf ya.
07:53Ngutip dari media itu biasanya juga udah banyak loh.
07:56Kayak yang tadi.
07:57Bayangin homeless yang nggak diajak kemarin.
07:59Misalnya atau nggak diundang kemarin.
08:01Udah ngeliatnya dengan miring kan?
08:02Karena bahasanya rekrut.
08:03Ya kan tapi cuma satu media aja yang mengatakan itu.
08:06Dua media. Tapi efeknya panjang.
08:08Teman-teman ini juga kena peer group pressure loh.
08:12Kena peer group pressure juga.
08:14Kena cancel culture juga.
08:16Menurut saya agak-agak kejam sih itu.
08:18Bung Hasan kan Anda banyak menitik beratkan soal bagaimana media sering cukup bias.
08:27Dan kemudian makanya ingin mengajak juga new media, homeless media.
08:31Untuk mendengarkan informasi yang pertama.
08:34Mendengarkan informasi dari tangan pertama.
08:36Tangan pertama.
08:37Semua belajar.
08:39Untuk bisa memberikan informasi dengan jernih.
08:42Tapi pertanyaan saya.
08:43Anda merasa perlu nggak?
08:44Para pejabat publik ini.
08:46Kepala lembaga itu juga belajar cara berkomunikasi.
08:50Perlu dong.
08:51Pak Prabowo mau bikin program sekali lagi nih.
08:55Retreat lagi itu.
08:57Mungkin staff khusus atau jurubicara kementerian.
09:02Untuk retreat komunikasi.
09:04Jadi kita samakan.
09:05Serius?
09:05Gerak langkah kita soal komunikasi.
09:07Berarti memang Pak Prabowo merasa memang ada PR besar dari sisi komunikasi?
09:11Mungkin bahasanya bukan PR besar.
09:13Tapi semua sayap harus dikepakkan dengan sama.
09:17Jadi nggak cuma kerjanya yang ngebut.
09:19Nggak kerjanya yang kerja keras.
09:21Tapi komunikasinya juga harus kerja keras.
09:23Supaya yang kerja keras di sisi kebijakan, program, pembangunan, dan lain-lain.
09:27Ini juga tersampaikan dengan baik.
09:30Jadi akan ada retreat.
09:31Tiga hal kan.
09:33Nggak semua orang punya tiga-tiganya.
09:35Mungkin salah satu.
09:36Apa tiga hal itu apa?
09:38Yang pertama sekarang itu butuh nyali.
09:43Pemerintah KL itu butuh nyali.
09:45Kita tuh kadang-kadang langsung surut.
09:47Gara-gara dibully 20 orang langsung surut.
09:50Udah diam aja deh.
09:51Udah dibully kita.
09:53Padahal ini penjelasan teknokratis sudah dihitung lama.
09:56Begitu ada orang yang salah paham.
09:57Tapi salah pahamnya disambut oleh viralitas.
10:00Kita mundur karena dibully.
10:02Nggak boleh gampang surut.
10:04Kita harus berani punya nyali untuk menjelaskan itu terus.
10:06Nggak usah pusing dengan bulian.
10:09Bukan berarti kita tondev.
10:10Tapi kita yakin dengan apa yang sudah kita hitung dari awal.
10:13Program.
10:14Jangan cepat mundur.
10:15Nyali.
10:16Yang kedua dengan banyaknya perkembangan media sekarang kita butuh strategi.
10:22Merangkul homeless media bagian dari strategi.
10:25Tapi bukan merekrut.
10:26Saya nggak terima itu kata-kata.
10:27Oke itu udah clear lah tadi kita.
10:29Tapi itu bagian dari.
10:30Yang ketiga?
10:31Bagi strategi.
10:32Narasi.
10:35Jadi banyak berita.
10:37Kadang-kadang numpang lewat aja kan.
10:39Nggak nempel di kepala publik kan.
10:42Karena nggak diceritakan urgensinya apa.
10:45Oke.
10:46Jadi kurang berani.
10:48Dua kurang.
10:49Bukan kurang berani tapi kita harus punya tiga-tiganya.
10:52Harus lebih berani.
10:54Dua?
10:54Harus lebih berani.
10:56Tadi apa dua?
10:57Lebih punya strategi.
10:59Lebih punya strategi dan narasi.
11:00Narasi.
11:01Oke.
11:01Jadi kalau disingkat jadi lisan.
11:05Itu versi saya.
11:06Lisan itu apa?
11:07Lisan.
11:08Nyali.
11:08Oh.
11:09Strategi.
11:10Narasi.
11:11Setelah DFK sekarang lisan.
11:13Bapak ini memang ahli singkatan-singkatan ya.
11:16Bagaimana pemerintah mengelola narasi kritis?
11:18Yukit.
11:18Basta.
11:18Basta.
11:18Terima kasih.
Komentar