Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Belakangan, istilah soft living makin sering muncul di media sosial. Gaya hidup yang lebih pelan, tenang, dan minim tekanan ini terdengar menarik, terutama di tengah rutinitas yang serba cepat.
Namun di sisi lain, tak sedikit orang justru merasa konsep ini menjadi beban baru. Keharusan memiliki morning routine, journaling, meditasi, hingga hidup seimbang, terasa seperti daftar tugas tambahan yang melelahkan.

Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hidup yang terasa lebih ringan bukan soal menambah kebiasaan baru, melainkan mengurangi hal-hal kecil yang diam-diam menguras energi sehari-hari.

Tonton juga RiauOnline “
(RiauOnline)

#Riauonline #Riauonlinecoid #softliving

Jangan lupa subscribe, tinggalkan komentar dan share.

Tonton konten lainnya juga di YouTube Channel:
- Sisi Lain https://youtu.be/_TYOe2wDBl8
- Wamoi dan Riau https://youtu.be/roXyLa8aFLU

Jangan lupa subscribe yaa..

Follow Juga akun Sosial Media kami

https://www.facebook.com/RiauOnlin

https://twitter.com/red_riauonline

https://www.instagram.com/riauonline.co.id/?hl=id

https://www.tiktok.com/@riauonline1

https://s.helo-app.com/al/xvYZYpjbvR

https://sck.io/u/j3hlxrGg

Transkrip
00:00Soft living tanpa beban, mulai dari mengurangi lima hal kecil ini.
00:03Belakangan, istilah soft living makin sering muncul di media sosial.
00:08Gaya hidup yang lebih pelan, tenang, dan minim tekanan ini terdengar menarik,
00:12terutama di tengah rutinitas yang serba cepat.
00:15Namun di sisi lain, tak sedikit orang justru merasa konsep ini menjadi beban baru.
00:20Keharusan memiliki morning routine, journaling, meditasi, hingga hidup seimbang,
00:26terasa seperti daftar tugas tambahan yang melelahkan.
00:28Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hidup yang terasa lebih ringan bukan soal menambah kebiasaan baru,
00:34melainkan mengurangi hal-hal kecil yang diambia menguras energi sehari-hari.
00:38Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan, melansir berbagai sumber.
00:421. Kurangi distraksi kecil
00:45Banyak orang merasa tidak punya waktu.
00:48Namun, masalahnya sering bukan pada jumlah waktu,
00:51melainkan bagaimana waktu itu terpecah-pecah sepanjang hari.
00:55Studi dalam jurnal Happiness Studies menunjukkan bahwa rasa kekurangan waktu,
00:58time poverty, lebih dipengaruhi oleh waktu yang terfragmentasi,
01:02kebiasaan multitasking, dan minimnya waktu luang yang benar-benar terasa milik sendiri.
01:07Bukan karena terlalu sibuk, tetapi karena hari terasa tidak utuh.
01:11Kondisi ini sering muncul dari hal-hal kecil.
01:13Seperti, sering membuka chat di sela kerja, berpindah-pindah tugas tanpa selesai,
01:18dan mengisi semua jeda dengan distraksi.
01:20Alih-alih menambah rutinitas baru,
01:22cara paling realistis adalah mengurangi kebocoran ini.
01:27Misalnya, membatasi waktu membuka chat kerja atau menggabungkan tugas kecil dalam satu waktu.
01:32Langkah sederhana seperti ini justru memberi dampak nyata.
01:35Dua, tetapkan satu batas yang jelas dan realistis.
01:39Keinginan hidup lebih santai sering gagal karena tujuannya terlalu abstrak,
01:43seperti ingin lebih balance atau lebih tenang.
01:46Penelitian dari International Journal of Workplace Health Management menemukan
01:49bahwa kemampuan mengatur batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi
01:52berkaitan dengan meningkatnya keseimbangan hidup dan kesejahteraan.
01:56Mulailah dari satu batas yang konkret dan realistis.
01:58Misalnya, tidak membalas chat kerja setelah jam tertentu,
02:02tidak membuka email di hari libur,
02:03dan memberi jeda tanpa layar setelah pulang kerja.
02:06Tiga, sisipkan jeda kecil di tengah aktivitas.
02:09Banyak orang baru benar-benar beristirahat saat akhir pekan atau cuti.
02:14Padahal, energi akan lebih stabil jika ada jeda di tengah aktivitas harian.
02:18Mikro break atau istirahat singkat kurang dari 10 menit
02:22terbukti dapat membantu meningkatkan kesejahteraan dan menjaga performa.
02:26Studi juga menunjukkan bahwa pekerja yang sering melewatkan waktu istirahat
02:30cenderung lebih mudah mengalami kelelahan fisik dan mental.
02:32Tidak perlu menunggu libur panjang,
02:34jeda singkat pun cukup,
02:36seperti berhenti sejenak setelah menyelesaikan tugas berat,
02:39berjalan sebentar atau melihat sekitar,
02:41dan benar-benar fokus beristirahat saat makan.
02:43Empat, tetap fleksibel, bukan harus selalu tenang.
02:47Soft living kerap disalahartikan sebagai hidup yang harus selalu tenang dan bebas stres.
02:52Padahal, hal ini tidak realistis.
02:55Penelitian di Scientific Reports menunjukkan bahwa
02:58yang lebih penting adalah psico-logical flexibility,
03:00yakni kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi tanpa merasa kewalahan.
03:04Orang yang fleksibel secara mental cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik,
03:08meski tetap menghadapi tekanan.
03:10Dalam praktiknya, ini bisa berarti,
03:13menurunkan target saat sedang lelah,
03:15memilih prioritas saat waktu terbatas,
03:17dan menunda keputusan saat emosi tidak stabil.
03:20Intinya, bukan menghilangkan tekanan sepenuhnya,
03:23melainkan tahu kapan harus menyesuaikan diri.
03:26Lima, ubah cara mengelola energi,
03:28bukan sekadar gaya hidup.
03:30Soft living bukan soal rutinitas estetik atau hidup yang selalu santai.
03:34Hidup akan terasa lebih ringan ketika waktu tidak terus terpecah,
03:37ada batas yang jelas,
03:39tubuh memiliki jeda,
03:40dan pikiran tidak dipaksa terus optimal.
03:42Seringkali,
03:43yang membuat hidup terasa berat bukanlah pekerjaan besar,
03:46melainkan hal-hal kecil yang terus menumpuk.
03:49Karena itu,
03:50cara paling realistis untuk hidup lebih soft,
03:53bukan dengan menambah banyak hal,
03:55tetapi berani mengurangi yang tidak perlu.
Komentar

Dianjurkan