Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pendiri President University, Dr. (H.C.) Setyono Djuandi Darmono, menilai ada kesalahan mendasar dalam struktur pendidikan nasional.

Darmono menilai, jumlah universitas di Indonesia terlalu banyak dan tidak seimbang dengan kebutuhan industri.

Ia membandingkan dengan struktur pendidikan di Singapura yang dinilai lebih proporsional.

Menurutnya, sistem yang ideal justru menempatkan pendidikan vokasi sebagai tulang punggung tenaga kerja. Namun di Indonesia, kondisi justru terbalik.

Universitas menjamur, sementara pendidikan vokasi kurang diminati.

Darmono memahami, kondisi ini juga dipengaruhi oleh tekanan sosial di masyarakat yang masih menganggap gelar akademik sebagai simbol keberhasilan.

Fenomena ini, menurutnya, tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat, tetapi juga pejabat.

Karena itu, Darmono menegaskan perlunya pembenahan sistem pendidikan agar selaras dengan kebutuhan nyata.


Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/v_WGJzK85iA



#pendidikan #presidentuniversity #indonesia



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/666575/pendiri-president-university-bongkar-akar-masalah-pendidikan-di-indonesia-rosi
Transkrip
00:00Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei, selalu membawa kita pada satu refleksi sejauh mana ilmu yang kita pelajari benar-benar
00:08hidup di masyarakat.
00:10Pendidikan bukan hanya sekedar teori di ruang kelas, tapi harus menjadi ruang partisipasi yang hidup secara konkret.
00:18Saya masih bersama pendiri Presiden University, seorang pionir pengembang kawasan industri,
00:23dia juga sosok yang banyak orang kenal sebagai seorang yang mencintai kebudayaan tanah air,
00:29Dr. Honoris Causa Setiono Juandi Darmono.
00:33Pak Darmono, seorang pengusaha yang saya mendengar dan membaca buku-bukunya,
00:40Pak Dar, Kampus Meretas Batas, Think Big, Start Small, Move Fast, Building a Ship While Sailing.
00:49Sebenarnya nanti saya mau tanya, Building a Ship While Sailing tenggelam dong, kan lagi sailing.
00:54Lalu bringing civilization together.
00:57Pak, jadi kalau soal pendidikan, kan pasti tadi Bapak lebih ke arah siap kerja.
01:04Tapi apa sebenarnya menurut Bapak kesalahan utama dari pendidikan di tanah air?
01:11Karena kalau kita lihat peta pendidikan Indonesia dan negara-negara lain,
01:15kita kan memang tidak berada dalam satu bagan yang cukup menjanjikan.
01:23Menurut Bapak, apa yang masih salah dan masih tetap kita kerjakan?
01:29Mungkin saya ambil contoh ya, di Singapura.
01:32Singapura itu waktu saya mengadakan survei 40 tahun yang lalu,
01:36itu mereka hanya ada dua universitas, NUS dan NTU.
01:43Yang satu ITB lah, yang satu UUI gitu.
01:47Terus kemudian politekniknya ada lebih dari 25, 40 tahun yang lalu.
01:53STM-nya mungkin ada 150.
01:57Nah itu struktur yang mirip di dalam organisasi,
02:01di industri maupun organisasi kemiliteran,
02:05pemerintah pun juga,
02:07di mana lulusan universitas itu tidak perlu banyak.
02:11Kita universitasnya 4.000 lebih.
02:14Nah sekarang betul Singapura tambah,
02:16tapi itu sudah dipakai untuk cari uang.
02:18Bukalah universitas baru untuk mendatakan orang-orang yang ingin kuliah di Singapura.
02:23Tapi secara struktur, saya kira benar.
02:25Karena universitas itu sebetulnya hanya anak-anak yang betul-betul pandai.
02:30Brain-nya itu bagus.
02:32Sehingga bisa menjadi scientist, bisa jadi researcher,
02:36menjadi educator yang bagus.
02:39Sedangkan politeknik, itu dibutuhkan untuk mereka itu langsung kerja.
02:45Itu mereka kan 75%, 70% itu adalah skill.
02:51Yaitu dari magang.
02:53Yang sisanya...
02:54Yang sekarang banyak sebut vokasi lah gitu.
02:56Ya, vokasi.
02:56Itu yang disebut professional stream.
02:59Sedangkan universitas itu academic stream.
03:01Itu harus lebih banyak.
03:03Nah, kalau STM, itu lebih banyak lagi.
03:06Jadi istilahnya itu,
03:07we produce chief, not many Indians.
03:10Padahal kita perlu lebih banyak Indians.
03:13So many chiefs, so little Indians.
03:14Betul.
03:15Nah, dengar begitu banyak universitas,
03:17jadi masalah.
03:18Cuman saya juga paham pemerintah punya kesulitan.
03:21Karena kita perlu menikuti juga kebutuhan masyarakat.
03:26Masyarakat itu ingin anaknya punya gelar.
03:28Gelar.
03:29Ya.
03:29Kalau nggak punya gelar, waktu menikah itu malu.
03:33Anak saya lulusan politeknik, nggak pernah dengar saya di pernikahan.
03:37Anak saya S1, S2 lulus dari sini.
03:39Wah, bangga orang tua.
03:40Karena itu yang membuktikan bahwa saya sudah melaksanakan tugas sebagai orang tua.
03:45Gak cuman para orang tua sih, saat ini pejabat juga seneng banget ditulis panjang, lebar.
03:49Profesor, dokter, S1 lulus.
03:52Padahal belum tentu juga kuliah benar.
03:55Itulah.
03:56Jadi, saya kira ini perlu diperbaiki strukturnya mengikuti kebutuhan pemakai.
04:04Saya baca buku-bukunya Pak Dar itu, Building Character di kampus juga menjadi bagian yang utama.
04:12Saya sempat ngobrol sama Pak Dar, kayaknya kalau membangun karakter di kampus sudah telat deh.
04:17Maksudnya, ya...
04:23Kalau dari SMP, tapi kan dari SMP, SMA itu rasanya baru benar-benar mumpuni.
04:30Tapi nggak pernah terlambat.
04:31Tidak pernah terlambat.
04:33Kasih aja military training.
04:35Hah?
04:35Military training, kasih mereka.
04:37Pasti disiplinnya naik.
04:38Jadi di itu...
04:41Masa apa-apa harus militer atau Pak?
04:45Ya, ini pengalaman pribadi.
04:46Ya, nggak semuanya harus militer.
04:48Disiplin nggak harus selalu dari...
04:50Oke, militer ya memang mengajarkan kedisiplinan.
04:54Tapi kedisiplinan itu kan tidak melulu juga harus bergaya militer, Pak.
04:57Betul.
04:58Tapi yang paling siap dalam pendidikan itu adalah military training.
05:02Makanya Singapura 2 tahun lulus SMA harus military training.
05:07Korea juga.
05:08Nah, itu memberikan fundamental untuk anak ini menjadi disiplin.
05:13dan berani ya.
05:15Jadi, ya itu kan anak-anak lulusan ini kan siap, izin gitu.
05:20Nah itu, itu hasil dari tadi.
05:22Agak, agak militer.
05:24Ya, betul.
05:24Tapi it's not bad lah.
05:25Oke lah.
05:26Daripada cuma mangkut-mangkut geleng-geleng kepala.
05:29Tapi nggak ngerti apa-apa.
05:29Nggak ngerti apa-apa.
05:31Pak, jadi tadi kembali ke pertanyaan saya.
05:35Apa kritik mendasar tadi?
05:37Jadi maksudnya, karena hanya teori yang dijejalkan.
05:41Bukan skill-nya.
05:43Jadi di dunia kampus.
05:45Itu kan.
05:45Karena kalau Bapak tadi bilang, udah.
05:47Dari tingkat pertama mereka harus diceburin untuk langsung melihat seperti apa situasi suasana kerja.
05:53Dan bekerja.
05:53Dan memang Pak, kalau kita refer ke negara maju, misalnya kayak Perancis gitu.
06:01Mereka ya, kalau sekolah Sorbon itu dianggap oleh mereka tuh ya sekolah buat mahasiswa internasional.
06:07Tergenalnya gitu.
06:08Tapi kalau buat yang masyarakat di sana sendiri, ada sekolah lain, sekolah bisnis terbaik yang lain.
06:13Jadi ya sekolah ekonomi atau bisnis ya sendiri.
06:16Nanti sekolah yang memang mau teknologi, yang teknik, yang berbau politeknik gitu.
06:20Jadi memang sudah diarahkan di kampus, diajarkan sesuai dengan teori dan skill-nya yang memang sejalan dengan yang dibutuhkan oleh
06:31dunia kerja.
06:32Dibandingkan kampus kita, yang semuanya tuh serba ada, tapi ya rasanya lebih kepada teori dan tidak menyiapkan seperti apa dunia
06:42kerja nantinya.
06:44Gitu gak sih kira-kira Pak?
06:46Ya, itu ada benarnya.
06:49Jadi misalnya tahun 93 Pak Wardiman, Menteri Pendidikan kan mengatakan link and match.
06:55Nah link and match itu sulitnya adalah bagaimana kita tahu apa yang bakal dibutuhkan industri.
07:02Maka kalau di dalam kawasan industri, itu anak-anak magang itu sudah langsung bisa sesuai link and match-nya.
07:10Dan anak-anak itu kalau gak cocok sama dia punya keinginan, dia bisa pindah ke pabrik lain.
07:15Oke, Pak sorry, Pak Wardiman waktu itu kan Menteri Pendidikan itu tahun berapa Pak?
07:2093.
07:21Bayangkan Pak Wardiman aja tahun 93 sudah memikirkan link and match.
07:26Dan sekarang Pak, tahun ini, ini udah berapa puluh tahun kemudian, kita masih punya persoalan tentang link and match.
07:34Bagaimana pendidikan di dunia kampus itu tidak melulu sejalan dengan apa yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
07:45Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan