00:00Untuk membahas perkembangan perang Iran dan Amerika Serikat, kita sudah bersama dengan pengamat intelijen dan keamanan UI, Stanislaus Rianta.
00:08Selamat malam, Mas Stanis.
00:11Selamat malam.
00:12Mas Stanis, kemarin Trump bilang akan menyerang Iran dengan skala serangan yang lebih besar dalam 2 hingga 3 pekan ke
00:20depan.
00:20Apakah ini sebagai sinyalmen kode invasi darat akan dilakukan?
00:25Ya, ini kan sudah masuk ke fase perang propaganda, pus perang propaganda dan perang propaganda.
00:33Jadi, masing-masing pihak saling melakukan propaganda terkait kekuatannya dan terkait dengan ancamannya juga.
00:42Jadi, ini memang sudah nampak sekali bahwa fasenya sudah pada perang di udara.
00:47Tapi, kita lihat bahwa saat ini Amerika juga mulai terjadi kekacauan di internal angkatan daratnya.
00:54Terjadi pergantian beberapa perwira-perwira senior di angkatan darat ini cukup mengejutkan karena mendekati seperti omongannya Trump yang akan melakukan
01:04invasi.
01:05Tetapi, justru terjadi pergantian di angkatan darat.
01:08Jadi, ini hal yang aneh itu.
01:09Sementara di Iran sendiri, walaupun pada serangan pertama itu membuat beberapa pemimpinnya tewas, 30-an tewas.
01:18Tapi, nampak tidak ada goncangan di dalam strukturnya.
01:24Jadi, ini dua kekuatan yang mungkin dari strukturnya yang berbeda, tapi menunjukkan kekuatan masing-masing.
01:31Masih hanya akan propaganda atau akan lebih terrealisasi invasi darat ini?
01:39Sampai kapan, Mas Tanis?
01:41Ya, kan ini kan sudah mulai, Amerika sudah menunjukkan tangga-tanda juga, sudah mulai mengirimkan kapal.
01:48Kemudian juga, pasukan Amerika di kawasan Teluk itu kan ada sekitar 40-50 ribu.
01:53Kemudian sudah mengklaim akan menunjukkan pasukan Linut, 8-2.
01:56Itu diukap-ukapkan terus.
01:58Dan kemudian persiapan ditunjukkan oleh Amerika.
02:01Mereka menggunakan media-media untuk menunjukkan kekuatannya.
02:03Jadi, ini nampak, Amerika ingin menunjukkan seriusnya.
02:06Nah, tapi kita lihat bahwa Iran juga tidak gentar.
02:10Dia juga semacam akan menyambut jika terjadi invasi darat.
02:14Dan milisi Iran itu cukup banyak jumlahnya.
02:18Jika satu juta mereka siap.
02:20Dan tidak mudah melakukan invasi di darat.
02:22Apalagi jika mengatakan akan melakukan penerjunan dengan pasukan Linut.
02:26Orang yang terjun itu tidak membawa senjata berat.
02:29Senjatanya pasti akan ringan.
02:31Nah, ini berbahaya sebenarnya.
02:32Iran akan menyambut itu.
02:33Dan saya yakin bahwa Amerika juga akan menghitung-hitung apakah dia menggunakan invasi darat melalui pantai.
02:40Atau mau menggunakan pasukan lintas udara.
02:43Ini pasti akan dihitung-hitung dengan cermat.
02:44Dan saya kira tidak semudah seperti yang disampaikan Trump.
02:48Bahwa dia akan masuk kemudian dia bisa menguasai itu.
02:50Tidak semudah itu.
02:51Karena Iran juga mempunyai pasukan yang cukup kuat.
02:53Jadi ketika Iran menyatakan jika berani invasi darat, musuh tak akan selamat.
02:59Itu sudah diperhitungkan dengan matang dengan mempertimbangkan kekuatan Iran sendiri.
03:05Ya, saya yakin itu.
03:06Karena apa?
03:07Tidak mudah melakukan operasi lintas udara di daerah yang milisi dan tentaranya siap.
03:14Mereka siap penyambut.
03:15Dalam arti semacam membuat killing ground, semacam tempat pertempuran yang sudah disiapkan oleh Iran.
03:20Ini cukup berbahaya bagi pasukan Amerika.
03:24Kalau misalnya menggunakan opsi lain, misalnya pendaratan pantai juga pasti sudah disiapkan penyambutannya seperti apa.
03:31Saya kira ini lebih pada kertakan Trump supaya Iran lebih melunak dengan negosiasi.
03:38Saya melihat seperti itu.
03:39Karena kalau misalnya sampai terjadi invasi di daerah, ini pertarungan cukup besar.
03:44Apalagi di internal Amerika, di negara Amerika, yang menentang juga banyak.
03:49Yang menentang perang ini cukup banyak.
03:51Saya kira cukup berat bagi Trump untuk melaksanakan hal ini.
03:54Iran tak akan menanggapi soal gertakan Trump tadi untuk negosiasi?
03:59Ya, Iran menanggapi tapi bukan menanggapi untuk negosiasi, tapi menanggapi untuk melawan.
04:04Jadi Iran nampak tidak menunjukkan ketakutannya.
04:06Mereka justru siap-siap untuk menyambut dan menunjukkan bahwa di internal negara mereka cukup kuat dan kopak untuk menghadapi ini.
04:16Apakah Anda melihat juga ini yang beberapa kali dibahas ada tampak kegamangan, kebingungan dari seorang Donald Trump untuk mengakhiri perang
04:25ini.
04:25Bahkan ada ancaman juga keluar dari NATO, Mas Tanis.
04:31Ya, tidak mudah posisi Trump.
04:33Dia nampak sekali bahwa banyak yang menentang di internalnya.
04:38Dan dia juga melihat bahwa negara-negara sekutunya itu tidak serus membantu.
04:42Saya lihat, dia tidak serus membantu.
04:43Dan saya yakin masing-masing negara juga punya perhitungan masing-masingnya.
04:47Punya perhitungan jika dilipatkan di dalam perang ini.
04:50Walaupun Trump di atas petas menang persenjataan.
04:54Kita lihat di global air power Amerika nomor satu.
04:56Semangat sekutunya yang mendukung ini Israel nomor 15, kemudian Iran nomor 16.
05:00Harusnya secara persenjataan menang.
05:02Tetapi perang ini bukan masalah senjata saja.
05:05Jadi ada masalah lain.
05:06Jadi misalnya nanti berada pada depan, Iran mempunyai ideologi.
05:11Punya milisi yang ideologinya kuat.
05:13Mereka perang bukan hanya untuk sekedar menggunakan senjata.
05:16Tapi Iran itu milisinya siap untuk mati.
05:20Untuk memenangkan ini.
05:21Ini yang tidak dimiliki oleh Amerika.
05:23Jadi saya kira tidak mudah dengan, walaupun hanya dengan senjata.
05:27Tidak mudah memenangkan perang ini.
05:29Karena secara politik, kemudian secara ekonomi.
05:31Trump juga mempunyai tekanan yang cukup luar biasa.
05:33Kalau tadi kan memang Amerika Serikat berada di peringkat pertama sebagai armada tempur, persenjataan.
05:39Tapi jika melihat perang yang sudah berlangsung selama lebih dari satu bulan.
05:43Untuk saat ini sebetulnya bagaimana Anda melihat peta kekuatan Amerika Serikat?
05:48Apakah ini yang direncanakan Iran pernah akan memakan biaya yang mahal?
05:54Ya justru agak anomali ketika dia sebagai negara dengan kekuatan nomor satu untuk global air power.
06:01Tetapi tidak cepat untuk menundukkan Iran.
06:05Masih ini sudah hampir satu bulan juga Iran belum nampak tanda-tanda kekalahan.
06:09Ini berarti menunjukkan bahwa ternyata Iran bisa mengimbang itu.
06:12Jadi ini harusnya menjadi koreksi atau introspeksi dari Amerika.
06:16Ternyata perang hanya menggunakan senjata, menggunakan senjata.
06:20Itu tidak cukup.
06:21Jadi perlu menggunakan kekuatan lain.
06:24Saya kira Amerika mengajak negara-negara sekutunya di kawasan teluk untuk bersama-sama menghadapi Iran.
06:31Mengajak NATO juga.
06:32Tetapi nampak enggan.
06:34Dan Iran juga melancarkan balasan-balasan selangan-selangan kepada negara-negara yang bersekutu dengan Amerika.
06:40Pangkalan-pangkalan Amerika di negara-negara teluk diserang oleh Iran.
06:44Dan negara NATO juga pasti akan menghitung-hitung ulang jika membantu Amerika.
06:48Karena rudal Iran itu menjangkau negara-negara NATO tersebut.
06:54Sementara Amerika itu jauh dari jangkauan rudal Iran.
06:57Dia mungkin tenang-tenang saja di negaranya.
06:59Tetapi negara-negara NATO itu di dalam jangkauan rudal Iran.
07:02Pasti akan berpikir ulang ketika nanti membantu Amerika.
07:05Oh oke.
07:06Mas Tanis, ini terakhir.
07:08Jadi dengan kondisi yang ada saat ini.
07:10Apakah adakan perang berakhir dalam waktu yang dekat?
07:15Saya melihat bahwa perang akan berakhir bukan karena adu senjata.
07:20Tapi perang akan berakhir nanti ketika Trump mendapat tekanan politik dan tekanan ekonomi yang cukup kuat.
07:25Itu akan menjadi pertimbangan utamanya, bukan masalah senjata.
07:30Oke.
07:30Baik.
07:31Terima kasih pengamat intelijen dan keamanan UI.
07:33Tanis Laus, Rianta telah menyampaikan pandangannya di program Kepas Malam hari ini.
Komentar