KOMPAS.TV - Di tengah eskalasi konflik yang belum mereda, Trump klaim bahwa Iran kini berada dalam posisi lemah dan membuka ruang negosiasi.
Namun di lapangan, realita justru berbeda. Serangan demi serangan yang diluncurkan Iran bahkan menembus langit Israel.
Lantas, apakah benar Iran membuka peluang negosiasi karena kondisinya yang mulai lemah? Atau ini bagian dari strategi Trump?
Untuk membahasnya, kita sudah bersama dua narasumber, Yon Machmudi, pengamat Timur Tengah Universitas Indonesia serta Anton Ali Abbas, Pengamat Militer dan Intelijen dari Center for Intermestic and Diplomatic Engagement, Anton Ali Abbas.
Baca Juga [FULL] Analisis Kesiapan AS saat Iran Balik Tantang Ancaman Perang Darat | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/internasional/659783/full-analisis-kesiapan-as-saat-iran-balik-tantang-ancaman-perang-darat-kompas-petang
#perang #iran #trump #israel
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/659787/serangan-darat-ke-iran-ancaman-as-atau-langkah-nyata-ini-keraguan-pengamat-militer-timur-tengah
Namun di lapangan, realita justru berbeda. Serangan demi serangan yang diluncurkan Iran bahkan menembus langit Israel.
Lantas, apakah benar Iran membuka peluang negosiasi karena kondisinya yang mulai lemah? Atau ini bagian dari strategi Trump?
Untuk membahasnya, kita sudah bersama dua narasumber, Yon Machmudi, pengamat Timur Tengah Universitas Indonesia serta Anton Ali Abbas, Pengamat Militer dan Intelijen dari Center for Intermestic and Diplomatic Engagement, Anton Ali Abbas.
Baca Juga [FULL] Analisis Kesiapan AS saat Iran Balik Tantang Ancaman Perang Darat | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/internasional/659783/full-analisis-kesiapan-as-saat-iran-balik-tantang-ancaman-perang-darat-kompas-petang
#perang #iran #trump #israel
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/659787/serangan-darat-ke-iran-ancaman-as-atau-langkah-nyata-ini-keraguan-pengamat-militer-timur-tengah
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Di lapangan, realita justru berbeda.
00:02Serangan demi serangan yang diluncurkan Iran bahkan menembus langit Israel.
00:06Lantas, apakah benar Iran membuka peluang negosiasi karena kondisinya yang mulai lemah?
00:11Atau ini bagian dari strategi Trump?
00:14Untuk membahasnya, kita sudah bersama dua narasumber.
00:16Yon Mahmudi, pengamat Timur Tengah Universitas Indonesia, dan Anton Ali Abbas.
00:20Pengamat militer dan intelijen dari Center for Intermastic and Diplomatic Engagement, Anton Ali Abbas.
00:27Selamat malam, Bapak-Bapak.
00:28Selamat malam, Mas Rady.
00:32Saya ke Pak Aion dulu.
00:33Pak Aion, bagaimana Anda membaca klaim Donald Trump ini?
00:36Bahwa Iran sudah hancur dan siap bernegosiasi.
00:39Sementara Iran sendiri justru membantah keras.
00:41Dan buktinya, serangan demi serangan terus dilancarkan.
00:43Bahkan ke jantung pertahanan Israel.
00:46Nah, ini kan sebagai strategi yang dilakukan oleh Amerika melalui Donald Trump
00:51untuk kemudian dapat mengakhiri peperangan.
00:56Jadi, serangan yang dilakukan, balasan yang dilakukan oleh Iran itu kan begitu kuat.
01:02Sementara, tujuan dari perang Amerika sendiri semakin tidak jelas.
01:07Banyak yang mengkritik, bahkan kemudian mengatakan bahwa perang ini lebih banyak didominasi
01:13dan menguntungkan Israel dibandingkan untuk kepentingan Amerika.
01:18Maka, saya melihat sebagai strategi agar kemudian meyakinkannya,
01:23konstituen Donald Trump yang ada di Amerika seakan-akan bahwa perang akan selesai,
01:29musuh setelah dikalahkan, kekuatan-kekuatan mereka dikucurkan,
01:34bahkan menunjukkan bahwa kekuatan Iran di Timur Tengah semakin melemah.
01:39Padahal kan ini sebenarnya bukan tujuan akhir dari perang yang dilakukan oleh Amerika.
01:43Jauh dari tujuan dan misi Amerika bersama Israel ketika berperang melawan Iran.
01:50Dan ini nampak ya sebagai strategi menyenangkan rakyat Amerika
01:54dan juga tentu untuk kepentingan Donald Trump bahwa dia berhasil di dalam peperangan
01:59walaupun sebenarnya ini jauh dari realitas yang ada.
02:03Oke, kalau begitu dari perspektif militer dan intelijen, Pak Anton Ali Abbas,
02:09apakah benar Iran sudah dalam tanda kutip hancur seperti yang diklaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump
02:14atau justru masih mampu melakukan serangan signifikan?
02:17Ya, Mas Radhi.
02:18Kalau misalnya tadi lihat catatannya, ini perang sudah sampai minggu kelima.
02:23Pertanyaannya apakah memang Iran sudah hancur atau tidak?
02:26Bagi saya, jelas Amerika itu sudah sejauh ini ya.
02:29Sudah ada tiga kegagalan.
02:31Gagal pertama dan kedua ini terkait capaian strategis dari kait perang ini.
02:38Satu, yang pertama dia gagal apa?
02:40Kalau misalnya tujuan perang ini adalah mengganti rezim.
02:44Memang benar bahwa Amerika sudah berhasil membunuh pemimpin-pemimpin Iran.
02:48Tapi kenyataannya rezimnya di Iran itu belum berakhir.
02:51Satu, kegagalan pertama.
02:53Kegagalan kedua, misalnya mereka mengklaim bahwa sudah melumpuhkan militer Iran.
02:56Bagi saya itu gagal.
02:58Kenapa? Sampai sekarang perlawanan masih terjadi.
03:02Kegagalan yang ketiga adalah membangun koalisi ketika kita bicara tentang pengamanan Telat Hormuz.
03:07Dari awal ketika ngomong tentang Telat Hormuz, Amerika Serikat akan mencoba membangun koalisi.
03:12Mengajak.
03:13Ya, mengajak.
03:14Negara-negara bahkan menyebut seperti misalnya China, Jepang, dan lain-lain.
03:20Kenyataannya Eropa, dan lain-lain.
03:22Sebetulnya tidak mau ikut.
03:24Gitu kan?
03:24Itu kegagalan yang ketiga.
03:26Dan terakhir ini yang menjadi menarik, apakah dia kemudian membangun koalisi berhasil di lingkungan Timur Tengah misalnya,
03:33di negara Teluk.
03:35Menteri Luar Negeri Rusia, Laprop, sudah bilang bahwa sekarang sudah ada gejala bahwa
03:41negara-negara Teluk cenderung untuk resisten.
03:44Wilayah udaranya digunakan oleh Amerika Serikat.
03:47Jika itu benar, maka jelas ada kegagalan dari Amerika Serikat dari tiga poin ini.
03:51Kalau kita bicara tiga poin ini, apakah kemudian pertanyaannya Amerika sampai sekarang ini sudah berhasil melepuhkan?
03:56Jawabannya enggak.
03:57Jadi, bagi saya simpel untuk melihatnya.
04:00Kita harus melihat pada indikator-indikator apa, indikator yang mana yang kemudian.
04:03Walaupun itu menjadi menarik, karena seasakan kan ada perbedaan ketika klaimnya,
04:11misalnya Presiden Trump tadi bilang bahwa ini ada yang minta-minta dan lain-lain.
04:15Kemudian, Menlu Amerika Serikat, Rubio juga mengatakan bahwa perdamaian akan tercipta dalam beberapa minggu ke depan.
04:23Nah, rasanya itu sasa saja untuk dibangun.
04:25Tapi kenyataannya, sampai hari ini perlawanan masih terjadi.
04:29Dan tadi, indikator-indikator itu tidak terpenuhi oleh Amerika Serikat.
04:34Dan itu yang kemudian menjadikan kita bisa bertanya kembali,
04:37apakah benar sebenarnya klaim yang dibangun oleh Amerika Serikat itu palit atau tidak palit?
04:42Ya, ini klaim demi klaim oleh Amerika Serikat kan dilancarkan begitu.
04:47Pak Yon, saya ingin bertanya juga.
04:49Kalau memang klaim ini terus dikumandangkan oleh Presiden Donald Trump, Amerika Serikat,
04:55saya ingin tahu juga dalam tradisi politik Iran,
04:57apakah mungkin mereka melakukan negosiasi diam-diam sambil tetap menunjukkan sikap keras di publik?
05:03Saya kira kan tentu yang dilakukan oleh Iran bagaimana terus melakukan perlawanan.
05:08Sehingga tidak ada titik kompromi ya,
05:11yang kemudian mereka lakukan, mereka tawarkan kepada pihak musuh.
05:16Namun demikian, nampaknya Trump sendiri kan mencoba untuk membuka ruang itu.
05:22Karena seperti kita lihat bahwa respon dari Iran sendiri kan juga menunjukkan bahwa tidak akan ada negosiasi.
05:30Karena ini sangat penting untuk juga memperkuat posisi di dalam negeri dan mayoritas di dalam negeri sendiri mendukung perlawanan.
05:38Ini kan masalah kedaulatan Iran, masalah harga diri Iran.
05:42Dan tidak mungkin kemudian itu akan ditawar, dinegosiasikan untuk bisa berdamai dengan Amerika apalagi Israel.
05:50Dan posisi terus melawan saya kira akan tetap dipertahankan.
05:53Oke.
05:54Kamu sendiri yang membuka celah untuk diplomasi.
05:57Ya, Anda bicara soal kedaulatan dan harga diri Iran.
06:01Anda mengatakan demikian.
06:02Nah, sebagian analis mengatakan bahwa yang bisa menghentikan konflik dan perang ini adalah Amerika Serikat sendiri.
06:07Nah, jika langkah itu dilakukan Amerika Serikat, mungkin saja Amerika Serikat mundur, misalnya menarik mundur pasukan, ataupun tidak lagi melakukan
06:15serangan.
06:16Apakah Iran akan menerima dengan lapang dada?
06:21Mengingat banyak sekali pemimpin-pemimpin mereka juga yang sudah tewas oleh serangan-serangan Amerika dan Israel.
06:26Pak Yon.
06:27Ya, kalau menerima pasti tawarannya, negosiasinya akan sangat tinggi.
06:31Yang pertama, harus ada komitmen dari Israel maupun Amerika untuk tidak lagi mengganggu kedaulatan Iran.
06:38Kemudian yang kedua, salah satu syarat yang apakah nanti bisa dipenuhi oleh Amerika atau Israel adalah mereka harus mengganti, membayar
06:47apa kerusakan-kerusakan yang terjadi.
06:49Kalau ini dilakukan kan berarti sudah jelas ya.
06:52Siapa yang memenangkan peperangan dan siapa yang harus bertanggung jawab.
06:55Jadi negosiasi bisa dilakukan, tentu tadi harganya akan sangat tinggi dan apakah kemudian Amerika siap ya dengan tawaran-tawaran itu.
07:03Karena posisinya kan bukan lagi menentukan dari arah ke depannya dan justru posisi Iran yang menentukan akhir dari perang ini.
07:12Kalau kita lihat ya kondisi saat ini.
07:14Oke, saya ke Pak Anton. Pak Anton yang juga menarik dari konflik di Timur Tengah ini adalah ancaman adanya perang
07:25jarak dekat atau perang darat begitu.
07:27Nah ini kan Iran juga sudah melakukan sywar begitu ya.
07:31Amerika akan rugi jika melakukan perang darat.
07:35Demikian apa yang dilansir oleh otoritas Iran.
07:37Menurut Anda akan benar-benar terjadikah perang darat ini dengan segala sywar dan juga tanggapan dari Amerika Serikat sejauh ini?
07:46Ya, bahwa ada pergeseran pasukan, ada gitu ya.
07:51Apalagi misalnya Pentagon sudah merilis, ini akan menambah 10 ribu.
07:54Jadi sekitar yang mau disiapkan, kalau memang resihan itu ada sekitar 17 ribu pasukan yang ingin.
07:59Walaupun kita masih bertanya-tanya, ini nanti operasi akan ada di mana?
08:03Apakah misalnya di Pulau Kark atau kemudian di Slavormus?
08:07Lalu kemudian ini nanti modelnya apa?
08:09Apakah ini nanti modelnya adalah invasi?
08:11Atau cuma petang terbatas saja?
08:14Atau seperti apa?
08:15Ini kan nanti banyak-banyak pilihan.
08:16Walaupun juga kita tetap menunggu.
08:18Karena tidak hanya sekitar pasukan tempur, tapi juga kemudian pasukan pendukungnya.
08:22Kesehatan dan lain-lain.
08:23Apalagi kalau kita bicara tentang pendaratan, dia butuh ada perlindungan dari udara.
08:27Nah, yang itu harus lengkap dulu baru kita itu.
08:29Itu satu.
08:30Kedua memang akan banyak analis yang bilang bahwa ini sama saja bunuh diri.
08:33Kenapa?
08:34Karena Iran itu sudah menunjukkan sesuatu.
08:37Sudah menunjukkan bahwa bagaimana Irak kala itu, itu cukup gagal ketika masuk ke Iran.
08:44Kedua, ini mau berapa banyak pasukannya yang mau datang?
08:4817.000, 20.000?
08:50Anda harus ingat bahwa ketika kita bicara tentang misalnya Perang Vietnam.
08:54Perang Vietnam luas dari Vietnam Selatan itu sekitar 1 per 10.
08:59Ini more or less itu sekitar 1 per 10 dari luas wilayah Iran.
09:03Tentara yang ditujunkan itu 500.000.
09:07Dan itu yang meninggalnya banyak, korbannya banyak.
09:09Apakah dia menang?
09:10Jawabannya enggak.
09:11Lah kalau hari ini, walaupun teknologi sudah canggih, hanya sekitar berapa?
09:16Dengan luasnya itu.
09:16Jadi kita bisa sebenarnya, secara mudahnya bisa melakukan kalkulasi.
09:21Apakah mereka akan, kalau memang menang mudah, menang mudah kayak apa?
09:25Buktinya apa?
09:25Mereka melakukan kesalahan dari jarak jauh itu ada perlawanan.
09:28Apalagi dekat.
09:29Belum lagi misalnya, side-working-nya Iran juga menarik.
09:32Bahwa sekarang sudah masuk sampai ke level video game.
09:34Oke.
09:38Di negaranya sendiri itu banyak kalkulasi yang menyatakan, jangan, jangan, jangan itulah killing field-nya.
09:44Itu kenapa?
09:45Karena kita berkaca pada, misalnya, battle of Okinawa, lalu juga bagaimana perang Vietnam.
09:51Dengan luas wilayah yang kecil, tentara yang kita terjunkan itu ratusan ribu.
09:56Ini mau puluhan ribu.
09:57Mau dengan dukungan apapun, cerita tentang Iran, itu akan mirip gitu loh.
10:02Kegagalan-kegagalan itu.
10:04Ada berapa ratus ribu bom gitu ya.
10:07Ton bom yang sudah datang, kan nggak menang.
10:09Ini yang kemudian menjadi tarik-menarik.
10:10Kita sekarang masih menunggu apakah realisasi itu akan dilakukan atau tidak.
10:14Karena menunggu bahwa pergerakan pasukan menjadi lengkap, baru akan melakukan serangan.
10:19Ya, baik.
10:19Apa Anton, ini menarik.
10:21Ketika Amerika Serikat mengklaim bahwa Iran sudah melemah,
10:24di sisi lain justru ada tambahan pasukan, ada tambahan kekuatan dari pasukan Houthi dan juga Yemen
10:29yang ikut bergabung juga dengan Iran.
10:32Apakah mereka bisa menambah kekuatan Iran dan sejauh mana Iran juga bisa menahan gempuran-gempuran dari Amerika Serikat dan Israel?
10:38Tapi jangan dijawab dulu.
10:39Setelah jadah saya akan tanyakan hal itu.
10:40Sesaat lagi di Sapa Indonesia Malap.
10:41Tetaplah bersama kami.
10:43Saudara, kita masih bersama dua narasumber.
10:44Yon Mahmudi, pengamat Timur Tengah Universitas Indonesia dan Anton Ali Abbas, pengamat militer dan intelijen dari Center for Intermastic and
10:51Diplomatic Engagement.
10:52Saya tadi bertanya ke Pak Anton.
10:54Pak Anton, alih-alih Amerika Serikat mengklaim bahwa Iran sudah melemah katanya.
10:59Tapi di sisi lain ada tambahan kekuatan untuk Iran.
11:03Houthi Yaman.
11:03Sejauh ini Anda melihat bahwa Houthi Yaman ini memberikan dampak seberapa besar untuk kekuatan Iran melawan Amerika Serikat dan Israel?
11:13Satu, Houthi memang punya hubungan yang baik dengan Iran.
11:17Itu satu.
11:17Kedua, ini yang sebenarnya dikhawatirkan dari beberapa pakan lalu.
11:22Kenapa?
11:23Karena Houthi itu juga mengontrol Laut Merah.
11:27Dan Laut Merah kita bisa tahu bahwa itu juga kan salah satu jalur lintas perdagangan laut dunia.
11:34Dia sekitar 20 persen.
11:36Kalau misalnya Migas itu sekitar ada 6-10 persen.
11:40Jadi kalau misalnya, jadi Houthi hari ini itu kan melakukan serangan kepada Israel.
11:44Kalau Houthi kemudian mengganggu Bapak El-Mandab setelah di situ,
11:50itu kita bisa bayangkan bagaimana terjadi bottleneck di dua jalur perdagangan maritim dunia.
11:57Jadi bisa dibayangkan bagaimana kemudian economic pressure itu akan sangat meluas akibat perang ini.
12:03Apakah kemudian itu akan menambah kekuatan Iran?
12:06Bagi saya iya.
12:07Kenapa?
12:07Karena itu kemudian menghimpit Amerika Serikat.
12:10Menghimpit yang namanya Presiden Trump.
12:12Presiden Trump kemudian dia sangat menjadi dilematis.
12:15Pertama, apakah dia ingin meneruskan operasi militer secara total dengan dia mengirimkan pasukan daratnya.
12:24Atau kemudian dia merenggang mundur tanpa mendapatkan apa-apa.
12:30Ini kemudian menjadi dilema bagi Trump.
12:33Bagi saya tapi ketika Houthi itu membantu perlawanan itu sudah bisa dilihat dan sudah diindikasikan dari beberapa pekan terakhir.
12:43Bahwa nanti ini kalau misalnya Houthi terlibat, maka ini akan jauh lebih berbahaya eskalvasinya.
12:49Tekanan terhadap perekonomian dunia itu akan jauh lebih berbahaya.
12:52Karena Houthi kemudian bisa mengontok selat yang di Laut Merah, lalu kemudian Hormuz dikuasai oleh Iran, nanti yang pastinya tekanan
13:00global.
13:00Apakah kalau bicara tekanan global membesar itu kemudian menguntungkan Amerika Serikat?
13:04Jawabannya itu tidak.
13:05Karena kita hari ini kan bicara tentang perang asimetris.
13:08Perang asimetris kan ngomong tentang kemenangan sisi singkat.
13:12Oke, Amerika mengklaim bahwa kita akan menang oleh seperti Trump yang bilang.
13:16Tapi ketika kita bicara tentang perang asimetris, perang asimetris itu akan bicara tentang seberapa tahan.
13:21Kalau misalnya dari Iran seberapa lama dia bisa bertahan kalau Amerika, kalau dia mendapat kemenangan, seberapa kuat dia menjaga kemenangan
13:28itu.
13:29Vietnam itu 8 tahun karah loh.
13:32Ini beberapa lama Anda ingin menjaga.
13:34Jadi bagi saya, kita akan melihatnya apakah ini jelas, ini adalah tambahan kekuatan bagi Iran.
13:40Kemudian dia frontlinenya jadi banyak.
13:42Ada di Hezbollah, lalu kemudian ada di Yaman, dan lain-lain.
13:45Itu kan membuat pusing negara-negara sekitar, negara-negara terlalu.
13:48Oke, Pak Yon.
13:51Bolehlah kita melihat ataupun menanggapi Amerika Serikat yang mengklaim bahwa Iran saat ini sudah melemah.
13:59Tapi jangan lupa bahwa Iran masih punya daya tawar yang juga cukup strategis.
14:04Yakni penutupan Selat Hormuz.
14:05Nah menurut Anda, posisi saat ini Iran yang masih menutup Selat Hormuz.
14:10Meskipun ada upaya paksa dari Amerika Serikat, bahkan Presiden Donald Trump,
14:15entah saya ini bercanda atau serius, akan mengubah nama Selat Hormuz menjadi Trump's trade katanya.
14:20Ini apakah pernyataan-pernyataan seperti ini dan daya tawar Iran ini
14:25makin menambah posisi kekuatan Iran di perang Timur Tengah ini?
14:30Ya kalau kita melihat ya bahwa Iran kan telah berhasil ya untuk menggeser dari perang fisik kepada perang ekonomi.
14:38Walaupun perang fisik meliter terus berlangsung, tetapi perang ekonomi ini yang kemudian menjadi kekuatan utama yang bisa dimainkan oleh Iran.
14:46Nah dari adanya kemudian penutupan Selat Hormuz, ini kan juga menjadi tekanan yang kuat ya bagi dunia internasional.
14:54Dan Trump mengajak dunia internasional untuk bersama-sama bisa membebaskan Selat Hormuz ini ya dari penutupan.
15:01Ini kan artinya bahwa sebenarnya penutupan ini kan hanya dampak saja, bukan dari tujuan dari perang yang dideklarasikan oleh Israel
15:09dan Amerika.
15:10Tetapi ini adalah masalah yang timbul, yang justru masalah ini dimunculkan oleh Israel dan Amerika itu sendiri.
15:18Sehingga mereka minta kame-rame untuk menyelesaikan masalah ini dan bukan pada masalah utama dari tujuan perang itu untuk menghancurkan
15:26Iran.
15:26Untuk mengurangi kapasitas mereka dan menjadikan Iran tidak lagi menjadi ancaman global atau kawasan.
15:32Tetapi kan ini nampaknya tidak ya, justru kemudian tergeser kepada masalah kesulitan yang dihadapi oleh Amerika karena tekanan publik berkaitan
15:41dengan penutupan Selat Hormuz.
15:43Ini menunjuk bahwa posisi Amerika menjadi semakin lemah di dunia internasional karena kesalahan fatalnya di dalam melakukan peperangan sehingga itu
15:53berdampak kepada penutupan Selat Hormuz.
15:55Dan itu saya kira sebuah miskalkulasi yang berdampak besar pada dunia global dan itu ditimpahkan kepada Amerika dan juga Israel.
16:05Oke, Pak Yon tapi begini dari perspektif sejarah dan geopolitik.
16:08Ini kan di Timur Tengah ya terutama, situasi Iran saat ini mirip dengan periode-periode sebelumnya di mana rezim tampak
16:16lemah di permukaan tapi justru menggunakan taktik asimetris untuk bertahan dan bahkan memperkuat pengaruh jangka panjang.
16:22Apakah ini masih sama polanya?
16:23Ya, ini kan kemampuan dari Iran ya. Kita ketahui dalam sejarahnya juga Iran tidak pernah menyerah sebagai petarung yang tangguh
16:32dan tidak ada kekuatan asingnya yang mampu untuk mendominasi.
16:36Atau kemudian bisa menguasai Irannya. Kolonisasi masuk ke Iran.
16:41Nah, kemudian masuknya Amerika saya kira akan ditanggapi secara serius ya berkaitan dengan tadi itu ya kedaulatan dari rakyat Iran
16:48yang harus dipertahankan dan mereka tidak akan pernah menyerah.
16:52Dan Iran sebenarnya kan bukan ancaman bagi kawasan regional. Justru perang yang dilakukan oleh Amerika dan Israel inilah yang kemudian
17:00menyebabkan masalah yang harus ditanggung oleh negara-negara Arab.
17:04Saya kira mereka sudah menyadari itu dan ini titik lemah. Saya kira secara diplomasi, secara strategi, geostrategi di kawasan semakin
17:12memperlemah posisi Amerika.
17:14Ya, bukan memperlemah kekuatan pengaruh Iran di kawasan. Karena kesalahan fatal yang dilakukan oleh Amerika terlibat dalam perang bersama Israel.
17:26Oke. Bung Anton, Pak Anton. Dengan keterlibatan banyaknya aktor dan front perang yang meluas.
17:33Sekarang proksi-proksinya juga sudah mulai meluas dan geopolitik juga sudah berubah sepertinya di Timur Tengah begitu.
17:37Apakah negosiasi bilateral seperti yang dikatakan atau dikumandangkan oleh Amerika Serikat, negosiasi bilateral Amerika Serikat dan Iran, ini masih relevan
17:48nggak kalau kita bicarakan sekarang?
17:51Ya, jelas ya. Kalau misalnya di satu sisi, apakah relevan atau tidak relevan, faktanya bahwa itu diupayakan.
17:59Oke.
17:59Kenapa? Karena dalam hal ini kita bisa lihat bagaimana kemudian Pakistan dalam ini juga cukup menonjol bagaimana dia kemudian mencoba
18:07mengupayakan untuk mendamaikan.
18:09Walaupun itu di pihak Iran itu membantah ya.
18:12Tapi bagi saya, simpel. Ada indikasinya bagaimana kemudian Iran misalnya mengizinkan kapal Pakistan.
18:19Kapal tanker milik Pakistan untuk bisa melintas 2 unit per hari, jadi 20 gitu.
18:26Jadi, dan di sisi lain, tentu saja Iran tahu bagaimana ada kedekatan antara Pakistan dengan Amerika Serikat dan tahu ada
18:33pembicaraan itu.
18:34Jadi bagi saya sih, ada pembicaraan di belakang layar tentang bagaimana mengupayakannya.
18:41Walaupun kemudian problemnya adalah kalau bagi Iran, ditekan, dikucilkan adalah hal yang biasa.
18:47Tapi, ini ceritanya berbeda dengan Amerika Serikat ketika dia mulai dijauhkan oleh sekutunya, kemudian dia mulai banyak ditekan gitu ya.
18:56Ditekan oleh negara-negara karena ini terkait dengan dampak global misalnya.
19:01Bagi saya sih, mungkin, mungkin, kalau ditanya mungkin kan apakah waktunya lagi tepat pertanyaannya yang sekarang posisinya lemah itu siapa?
19:11Itu kan pertanyaannya, bagaimana kemudian misalnya, Iran itu kan walaupun dia bilang dianggap lemah, tapi dia berhasil juga untuk melumpuhkan,
19:19untuk menjatuhkan aset-aset militer krusialnya Amerika Serikat.
19:22Bagaimana kemudian fasilitas radarnya, pesawatnya, dan lain-lain.
19:27Itu kan udah sekitar 40 persen.
19:29Kalau misalnya ada-ada beberapa aset, itu misalnya udah 40 persen, udah banyak hancur.
19:35Nah, ini yang kemudian menjadi pertanyaan, siapa posisinya yang terdesak, siapa posisinya yang lemah?
19:40Bagi saya sih, kemudian ketika misalnya Melurubio cukup aktif gitu ya,
19:45untuk mendorong perdama ini dilihat bagaimana kemudian Amerika sedang berada dalam tekanan mencari jalan keluar.
19:53Jalan keluar untuk apa? Untuk menyelamatkan mukanya gitu.
19:56Karena mereka yang memulai.
19:57Jadi bagi Iran, ini yang simpel.
19:59Kalau dengan ketika Amerika Serikat mengeluarkan 15, Iran mengawankan 5.
20:03Oke. Ini menarik ketika kita bicara tekanan ataupun desakan.
20:08Tidak hanya dari negara-negara Uni Eropa misalnya.
20:11Beberapa negara Uni Eropa memang sudah melakukan desakan dan tekanan untuk menghentikan invasi atau serangan ke Iran.
20:17Tapi jangan lupa, saya kepayun sekarang.
20:19Jangan lupa, di Amerika Serikat sendiri saat ini jutaan warga Amerika Serikat turun ke jalan
20:23untuk memprotes pemerintah Amerika Serikat yang melakukan invasi atau serangan ke Iran.
20:28Nah, ini jadi tantangan tersendiri untuk Presiden Donald Trump
20:32atau apakah Donald Trump juga bisa menanggulangi sendiri?
20:37Apa gejolak-gejolak yang terjadi di dalam negeri di Amerika Serikat, Pak Yon?
20:41Ya, nampaknya kan Trump sendiri tidak mampu lagi menjelaskan secara rasional kepada publik
20:46alasan mengapa Amerika harus bergabung bersama Israel di dalam perang ini.
20:51Walaupun kemudian Trump ingin menyampaikan bahwa nanti di akhir
20:54ini akan mendapatkan kesempatan, kemenangan yang akan dirasakan oleh rakyat Amerika.
21:01Tetapi justru yang terjadi adalah
21:03menjadi Amerika saat ini adalah bukan posisi yang populer ya.
21:07Penduduk rakyat Amerika itu merasakan sendiri.
21:09Jadi, mereka di berbagai forum, kemudian di media, dan lain sebagainya.
21:14Seakan-akan dengan terlibatnya perang, itu mereka posisinya menjadi jatuh ya.
21:18Jadi, bukan sebuah kebanggaan bagi rakyat Amerika
21:21untuk mendukung Amerika dalam kampanye Make America Great Again.
21:26Tetapi malah baliknya begitu.
21:28Nah, ini yang kemudian mereka rasakan.
21:31Mereka mendorong bahwa berperang bukan pilihan yang baik dan sama sekali tidak menguntungkan Amerika.
21:37Tapi justru malah menguntungkan Israel.
21:39Ini saya kira rakyat Amerika mendapat negatifnya dan mereka ingin menyudahi Trump sebagai the king of America.
21:48Saya kira itu tuntutan rasional ya rakyat.
21:51Tuntutan rasional.
21:52Itulah yang disuarakan oleh warga Amerika Serikat, no kings katanya,
21:56sejak turun ke jalan beberapa hari lalu.
21:59Dan alih-alih Amerika Serikat yang mengatakan Iran melemah,
22:02justru Amerika Serikat yang sekarang terpojok sepertinya.
22:05Jika melihat eskalasi yang terjadi di dalam negeri Amerika Serikat,
22:09lalu juga serangan-serangan yang banyak terpatahkan,
22:13dan upaya-upaya intelijen yang juga bisa terpatahkan.
22:16Dan tadi catatan penting yang dikatakan oleh Pak Yon,
22:20jangan sampai ini menguntungkan Israel justru sebagai negara yang justru sepertinya,
22:26dalam tanda kutip ya, menggosok Amerika Serikat untuk melakukan invasi terhadap Iran.
22:30Baik, terima kasih.
22:31Analisis yang sangat menarik malam hari ini,
22:32Pak Yon Mahmudi, pengamati murtengah Universitas Indonesia,
22:35dan Anton Ali Abbas, pengamat militer dan intelijen dari Center for Intermastic and Diplomatic Engagement.
22:40Selamat malam, sampai jumpa lagi.
22:42Selamat malam, terima kasih.
Komentar