00:00Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan, DLHK,
00:05menjelaskan alasan Kota Pekanbaru belum berhasil meraih penghargaan Adipura pada penilaian tahun 2025.
00:11Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian adalah pengelolaan tempat pembuangan akhir, TPA, yang masih perlu dibenahi.
00:19Kepala DLHK Kota Pekanbaru, Reza Aulia Putra, mengatakan bahwa pada penilaian tahun 2025
00:24tidak ada satupun daerah di Indonesia yang berhasil meraih Piala Adipura
00:28karena sistem penilaian yang kini diterapkan pemerintah pusat jauh lebih ketat dibandingkan sebelumnya.
00:32Kalau untuk kebersihan di jalan protokol dan kawasan permukiman sebenarnya sudah cukup baik,
00:37apalagi sekarang sudah dibantu oleh keberadaan Lembaga Pengelola Sampah, LPS.
00:42Namun untuk TPA memang masih menjadi perhatian karena sebelumnya pengelolaannya belum optimal,
00:47ujar Reza, Senin 9 Maret 2026.
00:51Ia menjelaskan, saat ini penilaian Adipura tidak hanya berfokus pada kondisi kebersihan kota,
00:56tetapi juga mencakup aspek pengelolaan sampah secara menyeluruh hingga ke tempat pembuangan akhir, TPA.
01:02Hal tersebut membuat sejumlah daerah, termasuk Pekanbaru,
01:05harus melakukan pembenahan dalam sistem pengelolaan sampah.
01:09Menurut Reza, pemerintah kota Pekanbaru saat ini tengah melakukan perbaikan pengelolaan TPA
01:14melalui kerjasama dengan pihak ketiga, yakni PT. AIS,
01:17agar pengelolaan TPA Muara Fajar dapat berjalan lebih optimal.
01:20Meski belum raih penghargaan, Reza menyebut secara nasional nilai yang diperoleh Pekanbaru sebenarnya cukup baik.
01:27Dari sekitar 300 kabupaten dan kota yang dinilai,
01:31Pekanbaru berada di peringkat ke-48 dan menjadi daerah dengan nilai tertinggi di Provinsi Riau.
01:36Pada 2025 tidak ada daerah yang mendapatkan Piala Adipura.
01:40Hanya ada 35 daerah yang memperoleh sertifikat Adipura.
01:43Untuk Pekanbaru sendiri selisih nilainya hanya 1,1 poin untuk mendapatkan sertifikat tersebut, jelasnya.