00:00Menghimpun dari berbagai sumber, berikut ini serba-serbi tentang tradisi malam Laila Tulkadar dari berbagai daerah di Indonesia.
00:081. Selikuran
00:09Tradisi ini berasal dari Jawa dan biasa dilakukan pada malam ke-21, di bulan Ramadan.
00:16Kata, selikuran, sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti, 21.
00:21Di beberapa daerah, seperti Yogyakarta dan Surakarta,
00:243. Tradisi selikuran juga dilakukan oleh pihak raton dengan prosesi pembagian nasi berkat kepada masyarakat.
00:302. Kenduri
00:31Kenduri merupakan tradisi doa bersama yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.
00:37Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI, kata, kenduri, artinya perjamuan makan untuk memperingati peristiwa,
00:44minta berkat, dan sebagainya, atau selamatan.
00:48Pada malam-malam ganjil di akhir Ramadan,
00:50masyarakat biasanya mengadakan kenduri untuk berdoa memohon keberkahan dan berharap mendapatkan Laila Tulkadar.
00:57Tradisi masyarakat Jawa ini biasanya disertai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran,
01:01zikir, dan pembagian makanan kepada peserta yang hadir.
01:053. Nujuh Likur
01:07Tradisi Nujuh Likur atau Tujuh Likur dilakukan oleh masyarakat Melayu,
01:11yang banyak ditemukan di daerah Sumatera dan Kalimantan,
01:14terutama di daerah yang memiliki budaya Melayu yang kuat.
01:16Kata, Nujuh Likur, berarti malam ke-27, di bulan Ramadan,
01:22karena diakini bahwa Laila Tulkadar sering jatuh pada malam tersebut.
01:26Mengutip dari Disko Minfoti Kabupaten Bengkalis,
01:28dalam tradisi ini,
01:30masyarakat Melayu biasa menyalakan lampu atau penerangan tradisional yang ditempatkan di sekitar masjid,
01:35di berbagai penjuru jalan, halaman rumah, dan teras-teras rumah penduduk.
01:39Terima kasih telah menonton!
Komentar