Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali menjadi sorotan setelah serangkaian serangan militer yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Pakar strategi Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati menyebut operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel berhasil menghantam sejumlah target penting di Iran.

Sementara itu, Gubernur Lemhannas 2022-2023 Andi Widjajanto menilai ketahanan Iran dalam menghadapi tekanan militer tidak lepas dari faktor sejarah, budaya strategis, serta kondisi geografis negara tersebut.

"Iran itu peradaban ribuan tahun. Budaya strategisnya sangat kuat," kata Andi dalam program BOLA LIAR, Jumat (6/3/2026).

Baca Juga Prabowo Ingin Jadi Mediator Iran vs AS-Israel, Eks Dubes RI: Kalau Tak Diminta Jangan Ajukan Diri di https://www.kompas.tv/nasional/655298/prabowo-ingin-jadi-mediator-iran-vs-as-israel-eks-dubes-ri-kalau-tak-diminta-jangan-ajukan-diri



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/655301/strategi-perang-asimetris-iran-bertahan-dari-serangan-as-israel-bola-liar
Transkrip
00:00Ya, Pak Agung, sepekan berlalu perang berjalan apa strategi masing-masing negara?
00:05Siapa yang paling unggul menurut Anda?
00:07Unggul, mengukur keunggulan itu tidak bisa secara kualitatif ya.
00:13Kita lihat ke grand strategy, karena tactical output itu beda dengan strategic outcome.
00:20Pada saat pemerintah Amerika memutuskan mengikuti Israel untuk menyerang Iran,
00:26mereka sudah punya grand strategy yang menentukan resim harus tumbang,
00:32rakyatnya berontak, kemudian rudalnya berhenti, proksinya game over.
00:39Untuk melaksanakan strategic outcome itu, dia melaksanakan tactical output apa?
00:45Melaksanakan serangan dengan kapal, merasa serangan dengan pesawat ini, orang Israel ngapain-ngapain,
00:49mereka berhasil, total mungkin 90% sukses ya, meninggal pimpinannya, hancur banyak gedung-gedung hancur,
00:56banyak ini segala macam, betul-betul bisa target terpenuhi.
01:00Masalahnya, kita kasih nilai 90, begitu menoleh ke outcome strateginya, tercapai enggak?
01:07Tetap resim tetap oke, tidak ada yang demonstrasi, rudal makin menghujani,
01:12dan kemudian, apa namanya, proksinya masih males.
01:16Sekarang kita ngeliat ke Iran.
01:22Iran, apa yang dia kerjakan?
01:24Dia dihajar habis-habisan, kemudian saya ngeliat dari yang lain.
01:28Secara diplomasi, dia meningkat, powernya, secara informasional, dia tidak perlu propaganda,
01:34jelas malah berita dari CNN, bahwa peluruh penduduk warga negara Amerika harus pergi dari Timur Tengah, gila enggak?
01:41Penduduk Amerika Serikat disuruh pergi dari Timur Tengah semua.
01:44Berarti enggak aman kan, negara enggak bisa lindungi.
01:46Kemudian habis itu, hampir seluruh pangkalan, dan seluruh pangkalan laut, pangkalan darat,
01:52pangkalan darat, pangkalan darat itu tersapu habis, tidak bisa digunakan.
01:55Kemudian, tidak berdaya untuk membuka selatuh rumus.
01:58Jadi banyak, kemudian ditambah lagi dengan di Israel, hujan rudal, hujan segala macam,
02:03yang membuat tidak perlu ada propaganda, sudah menang, informasional.
02:08Militeri, betul kata beliau bahwa cukup dia bertahan, cukup dia survive, dia bisa sembunyi,
02:17selalu survive tiap hari, sekarang mereka hanya ngirim tujuh paket.
02:21Tujuh paket serangan setiap hari ini, selama dua hari terakhir.
02:24Tujuh paket terdiri dari 30 rudal sahit, kemudian 1-2 rudal balistik, ditambah rudal hipersonik 1.
02:30Itu sudah sukses tuh, Haifa terbakar, Ben Gurion hancur, sehingga orang lari dari Aksot,
02:36mau lari dari Haifa, nggak bisa, hancur juga. Haifa itu kalang minyak terbesar.
02:40Dan ekonomi, yang megang tangan di atas sekarang Iran.
02:44Ekonomi banyak negara tergantung dari kemurahan hati Iran.
02:47Dia mau boleh lewat murah musa apa nggak?
02:49Apakah Amerika senentukan ekonomi di Timur Tengah? Tidak, malah Iran.
02:52Jadi justru tindakan Amerika, yang sukses secara teknikal,
02:57tapi nul besar dalam bidang strategi.
02:59Karena memang, Trump tidak punya strategi.
03:02Strategi.
03:03Saya tidak bilang orang Amerika, maksudnya Angkatan Bersenjata Amerika, mereka punya strategi.
03:07Dan strateginya tidak menalukan Iran dengan cara mengiteri operasional seperti ini.
03:12Pasti ada cara lain.
03:13Nasihatnya tidak diututi oleh Trump.
03:14Bahkan Trump sekarang konyol merencanakan,
03:18kalau habis rudal di Israel, mengambil rudalnya di Korea dan di Jepang.
03:23Itu merasa tersakiti sama orang Korea dan Jepang, kan?
03:27Soal menghadapi China.
03:28Di Timur Tengah, semua rudal-rudal pertahanan rudal di mitra-mitranya di Timur Tengah,
03:34negara-negara Teluk itu, mau diisi sama Trump?
03:37Enggak.
03:37Ini untuk Israel.
03:39Itu merasa tersakiti.
03:40Akhirnya, tadi seperti saya bilang soal BOP tadi,
03:42tunggu saja, santai, relax, kita extend, kita lihat,
03:46Trump itu masih eksis nggak?
03:47Atau powernya masih besar nggak?
03:48Yang ditanya, powernya masih besar nggak?
03:50Kalau tidak besar powernya, power kita ikut besar.
03:52Nah, itulah keputusan yang harus kita laksanakan.
03:55Mas Sandi, kalau kita lihat, kira-kira menurut Anda kenapa Iran sampai sekarang masih bisa bertahan?
04:00Apakah memang dia melakukan balasan Asitris atau gimana?
04:05Satu, budaya strategisnya memang sangat kuat.
04:08Ini yang dilawan Amerika Serikat, peradaban lama.
04:12Peradaban yang melahirkan Darius, peradaban yang melahirkan Cerses, peradaban Persia.
04:20Amerika Serikat kalau ditanya peradaban kunonya apa, nggak bisa jawab dia.
04:25Karena berhenti di 1776.
04:27Sementara Persia bisa sampai sebelum Masehi.
04:30Jadi, budaya strategisnya sangat-sangat kuat, sangat-sangat lama.
04:35Lalu, topografinya Iran itu bukan Irak.
04:38Yang membuat Amerika Serikat tidak berani merancang, misalnya, Desert Storm lagi.
04:44Tidak berani merancang Sok N.O lagi.
04:46Ya, karena begitu masuk dari daerah Kudistan, misalnya,
04:50yang dihadapi adalah gunung berbukit-bukit akan menjadi makanan empuk
04:53bagi garda Republiknya Iran.
04:56Karena, Iran begitu pemimpin besarnya gugur,
05:00lalu kemudian terdesentralisasi di tujuh kota utama,
05:07tidak lagi di Teheran.
05:09Ini memang kutukan perang asimetrik yang dulu sudah diungkap oleh Henry Kissinger
05:15waktu perang Vietnam.
05:16Senjata dan sekutu utama pihak yang lebih lemah itu waktu.
05:20Yang perlu mereka lakukan untuk memunculkan persepsi menang,
05:25itu mengulur perangnya selama mungkin.
05:28Jadi, kalau seandainya Amerika Serikat memutuskan untuk gelar darat,
05:32ya kalau mereka berhadap-hadapan, ya pasti tumbang.
05:35Iran.
05:35Saya sudah membuat wargaming ya.
05:38Waktu Irak I, Amerika Serikat membutuhkan 960 ribu pasukan.
05:43Waktu Desert Storm II, 2003, Amerika Serikat membutuhkan 380 ribu pasukan.
05:49Untuk Iran, wargaming saya, Amerika Serikat butuh 680 ribu pasukan.
05:55Dan itu sangat-sangat besar.
05:56Iran tidak perlu mengalahkan 680 ribu pasukan itu.
06:00Iran cukup memastikan ada 100 ribu, bahkan ada 10 ribu,
06:03bahkan ada seribu yang tidak tewas, yang tidak tumpas.
06:07Kemudian untuk melakukan serangan balasan.
06:10Lalu kemudian kutukannya Kissinger akan berulang.
06:13Pihak lemah hanya cukup mengulur agar dia mampu terus-menerus berperang.
06:19Yang mereka tawarkan adalah perang seribu tahun.
06:21Perang seribu tahun itu digelar di Iran, ya sudah.
06:24Iran akan selalu dipersepsikan menang.
06:26Itu terjadi di Vietnam, itu terjadi di Afganistan.
06:30Jadi perang asimetrik.
06:31Pada saat pihak lemah tidak bisa lagi dikalahkan.
06:33Jadi perang asimetrik yang dilakukan itu, itulah yang kita lihat dari dia melakukan serangan ke negara teluk ya.
06:39Dan Amerika Serikat tidak berani memicu perang asimetrik ini.
06:43Ini masih berusaha perang simetrik rudal lawan rudal.
06:48Saya berharap di titik mana nanti kemampuan rudalnya Iran, baik dari balistik, cruise missile, maupun dronenya selesai.
06:58Ya lagi-lagi saya sudah berusaha membuat matematikal modelnya.
07:01Ya Iran bisa bertahan sampai 60-70 hari.
07:05Nah begitu 60-70 hari itu yang panik duluan bukan Amerika Serikat dengan Israel.
07:09Yang panik duluan akan UAE, yang panik duluan akan Arab Saudi, yang panik duluan akan Cina, Korea Selatan.
07:15Karena LNG tidak ngalir ke tempat-tempat itu.
07:18Yang tadi dikatakan benar, kendali ke depan itu di ekonomi adalah Iran.
07:22Karena itu saya nggak ngeliat ada kebutuhan dari Iran untuk cepat-cepat masuk ke meja perundingan.
07:28Lawang waktu adalah temannya dia.
07:29Yang harus cepat-cepat masuk ke meja perundingan justru Amerika Serikat.
07:33Baik, saya ke Pak Dian.
07:34Pak Dian, kenapa sih kira-kira Iran itu menyerangnya ke negara teluk?
07:38Ini kan tidak cuma markas militer, tapi juga warga sipil juga kena di situ.
07:43Terima kasih.
07:44Pertanyaan dibalik.
07:46Pertama kali menyerang saja, Israel sudah menyerang rakyat sipil.
07:50Ya, ini kan.
07:50Tidak mampu menghadapi Iran, minta bantuan Amerika.
07:55Amerika tidak mampu menggerakkan sekutu-sekutunya di kawasan itu.
08:00Kalau lihat secara peta saja, itu Iran itu sepanjang hidupnya akan dikumpungkuk oleh negara-negara Arab di Timur Tengah.
08:09Tapi sekarang yang dilakukan oleh Amerika, bukannya menjalin kerjasama dengan Iran seperti yang dilakukan Obama,
08:18bahwa perjanjian itu sudah tercapai.
08:21Artinya apa?
08:22Ketika itu saja perjalanjian itu sudah mulai caling dibuka.
08:24Dan itu sama-sama menguntungkan gitu loh.
08:27Kenapa hanya sekedar ambisi pribadi Trump mau menguasai semuanya dengan Iran menjadi negara satu-satunya yang belum tunduk sama Amerika?
08:37Supaya dikuasai sepurnya.
08:39Buat apa?
08:39Kalau dengan kerjasama seperti itu sudah memuaskan kepentingan negara Amerika dan ini zaman Obama.
08:47Nah yang saya bilang setuju sama Pak Andi, Pak Andi betul itu seberapa puluh tahun pun Iran ya akan seperti
08:55dibayangkan yang mudah diatasi seperti Venezuela.
08:59Apalagi sekarang sudah dikeroyok pun masih bisa melawan.
09:04Artinya apa sih kalau secara hitung-hitungan kasar saja, Iran itu harus mengeluarkan sepuluh bom, sementara sepuluh bom datang ke
09:13dia gitu loh.
09:14Itu saja secara tadi disampaikan Pak Agung sudah bagaimana ya, sudah menunjukkan bahwa angka itu tidak dengan sendirinya menyatakan kemenangan
09:23gitu loh.
09:24Bahwa satu ini mampu melawan tujuh yang dia datang dengan terima tujuh rudal.
09:30Loh, artinya apa? Ya sampai kapanpun rudal itu dikirimkan dengan daya tahan Iran dengan kondisi tadi tuh.
09:37Dengan menutup sebuah selat hormus yang lebarnya di bagian itu, itu kan cuma 25 km ya Pak Agung?
09:4635 km.
09:4635 km.
09:48Itu kan sebenarnya dengan senjata konvensional saja bertubi-tubi gak ada yang bisa lewat itu.
09:52Karena senjata bom kita aja merim-merim-merim biasa aja bisa 60 kg atau 30 kg, 40 kg.
10:00Ini untuk sebuah itu aja Amerika masih belum mampu membuat pelayaran ini aman buat sekutu-sekutunya.
10:08Diserang kayak apa sama Iran sama sekutu-sekutu itu juga gak ada artinya.
10:12Oke baik, Mas Sastrawi, kalau Anda sendiri memandangnya seperti apa?
10:15Kenapa yang diserang harus negara-negara teluk, lalu kemudian juga objek sipil kena di sana?
10:20Ini beda dengan satu tahun lalu.
10:22Kira-kira sekitar 1 Juni tahun lalu ya kalau saya salah?
10:24Silahkan, Gori, kalau saya salah.
10:25Ya, yang pertama begini.
10:27Iran itu saya lihat dari awal konsisten dia mencoba untuk menghormati hukum internasional.
10:33Dia tidak mau menyerang kecuali diserang.
10:35Itu clear dari awal.
10:36Bahkan sebelum melakukan serangan ini, Iran juga sudah telah sampaikan kalau kami diserang,
10:41maka pangkalan-pangkalan Amerika yang ada di kawasan, terutama di Arab Teluk dan sekitarnya,
10:46itu akan menjadi sasaran sah bagi upaya untuk pertahanan kami.
10:52Dan itulah yang akhirnya dilakukan oleh Iran.
10:56Namun saya, lebih dengan disampaikan Mas Agung dan Mas Andi tadi,
11:00justru ketika Iran menyerang negara-negara Arab Teluk yang dia melakukan koalisi dengan Amerika
11:06dan sesekali dengan Israel untuk mendapatkan imbalan, katakanlah persenjataan yang tanggih
11:12untuk keamanan dia di dalam negeri dan dari luar,
11:15ternyata ketika diserang oleh Iran bisa terkena,
11:18maka ini kayak semacam menjadi gambaran masa depan keamanan di kawasan.
11:23Tapi kenapa kira-kira Iran melakukan serangan yang agak berbeda dengan tahun lalu?
11:28Ini cukup luas dibandingkan tahun lalu.
11:30Objeknya pun bukan objek sipil.
11:33Sebenarnya, Iran sampai sekarang mencoba tunduk kepada hukum internasional,
11:36walaupun hukum internasionalnya sendiri sudah diinjak-injak oleh Trump, oleh negara-negara lain.
11:41Apa itu? Dia mencoba konsisten pada membela diri.
11:46Pada waktu sebelumnya, di perang 12 hari itu, kan yang banyak melakukan serangan adalah Israel.
11:52Jadi, roket-roket banyak ke Israel.
11:54Sampai pada kurang lebih tanggal 19, lalu kemudian Amerika ikut dalam serangan hanya sesaat.
12:02Yaitu mengebom langsung kepada tiga fasilitas nuklir.
12:05Jadi, dia strateginya ingin tidak lama-lama, dia serang sekali,
12:09lalu kemudian mencoba untuk segera menemukan kompromi.
12:12Dan itulah kemudian, kalau kita ikutin perkembangan saat itu,
12:15setelah diserang, lalu kemudian menilai Iran datang ke Moskow,
12:18coba mendapatkan dukungan, saya menduga saat itu juga di salah satu TV kali ini,
12:23saya menduga saat itu kurang deal dengan Moskow, sehingga tidak ingin lebih berkepanjangan.
12:29Makanya, pihak Amerika melalui salah satu sumbur menghubungi Qatar untuk bisa membuka mediasi dengan Iran.
12:35Dan akhirnya apa? Ada semacam serangan closing.
12:39Yaitu yang dipilih akhirnya Qatar dan kemudian dianggap tidak perlu lanjut lagi.
12:43Nah, sekali lagi, saya setuju dengan Mas Andi tadi, Iran ini sebuah negara yang sudah beribu-ribu tahun.
12:51Dia punya pengalaman, dia punya pembelajaran.
12:53Yang paling terakhir dia sampaikan, kami belajar dari perang terakhir 12 hari.
12:58Karena itu berbagai macam sikap yang dia buat sekarang adalah bagian daripada pembelajaran yang tahun-tahun sebelumnya.
13:04Termasuk yang disampaikan bahwa dia tidak mau lagi nego.
13:07Coba bayangkan. Sebelum bisa sekian, barusan menyampaikan mau nego, Iran sampaikan dia tidak mau nego.
13:14Artinya apa? Dia pegang kendali, dia pegang kontrol.
13:17Padahal justru di lapangan, kata Mas Andi, sekarang Amerika dan Israel yang membutuhkan untuk nego.
13:23Karena makin lama, persepsi dia makin kalah.
13:26Dalam negeri akan makin berat.
13:28Jadi itu yang bagi saya secara cerdas diambil oleh Iran,
13:31diambil sebagai kebijakan, sebagai pembelajaran,
13:34sehingga posisi dia makin hari makin strategis.
13:37Minimal secara persepsi.
13:39Kalau secara realitas, saya yakin warga Iran juga manusia.
13:42Diserang begitu banyak korban, pasti juga penuh dengan penderitaan.
13:46Tapi sekali lagi dalam pertarungan bukan hanya realitas, tapi persepsi juga menentukan.
13:50Oke. Mas Anton, berkaca dengan perang tahun lalu, 16 hari.
13:53Apakah langkah dilakukan oleh Iran saat ini adalah bentuk keterdesakan?
13:56Mereka terdesak, apalagi pemimpin tertinggi mereka gugur?
14:00Enggak, jawabannya.
14:01Enggak?
14:01Enggak.
14:02Pertama, kita harus melihat bahwa satu, tadi Mas Andi sudah bilang,
14:07ketika kita bicara simetrik warfare, kita bicara ini perang Daud and Goliath.
14:10David and Goliath.
14:11Jadi ada yang kecil, ada yang besar.
14:13Jadi ini rasional ya, Mas?
14:14Rasional.
14:15Rasional, oke.
14:17Tadi Pak Agung sudah bilang, ini ketika kita bicara goals,
14:20dalam militer pesenit pasti ada strategi goals.
14:22Strategi goalsnya aja berubah-ubah nih.
14:25Mau ngomong Trump, mau Menlu-nya, lalu Menhan-nya,
14:28Menteri Perang-nya, beda-beda semua.
14:29Kalau kita bilang bahwa apakah operasi militer berhasil atau tidak,
14:34itu kita pasti melihatnya adalah goalsnya apa?
14:36Kita akan teklis.
14:38Yang pertama dia bilang, oh ini untuk melumpuhkan nuklirnya.
14:42Sampai sekarang kita nggak pernah cerita nih, bahwa nuklirnya, fasilitas nuklirnya Iran lumpuh.
14:46Nggak ada itu cerita itu.
14:48Bahwa yang selalu muncul adalah dekapitasi.
14:51Imam besarnya meninggal.
14:53Tapi kan kemudian harapannya, inilah masa depannya Iran harus bergejolah.
14:57Tapi Trump lupa, bahwa yang mati tidak hanya rezimnya, tapi oposisinya.
15:02Lah kalau oposisi sama rezimnya yang mati, siapa yang mau melawan?
15:07Kan ini kemudian solusinya tadi, seperti Mas Sastrawe bilang,
15:11pasti solusinya lah kita melawan.
15:12Itu, itu.
15:14Kedua, apakah kemudian tidak ada intensi, bahwa ini dengan sengaja atau segala lupa, ada intensi.
15:20Yang diserang pertama kali oleh Iran ketika ke negara itu adalah aset militer atau aset-asetnya Amerika Serikat.
15:29Kedutaan, konjen, lalu fasilitas militer, ini digunakan oleh Amerika Serikat.
15:32Untuk apa?
15:33Untuk melemahkan nanti posisi Amerika Serikat sendiri, kalau mau menyerang.
15:37Walaupun kemudian belakangan ada perluasan.
15:40Udah mulai itu menyerang hotel, udah lalu kemudian menyerang infrastruktur energi misalnya.
15:47Kenapa?
15:47Karena bagi Iran, satu, serangan ini terjadi ketika sedang ada negosiasi yang difasilitasi oleh Oman.
15:55Walaupun ini juga hal biasa.
15:57Ada serangan-serangan itu kan untuk meleverage posisinya.
16:00Tapi kemudian bagi Iran, ya karena gue kecil, saya hajar aja ini.
16:05Posisi-posisi dia, alat bantunya dia.
16:07Sehingga kemudian mau tidak mau, kemudian Amerika harus mundur.
16:12Gitu ya.
16:13Jadi itu.
16:14Jadi bukan tanpa strategi.
16:16Belum lagi ketika kita bicara kalau misalnya ini perangnya berlarut, apa kuncinya?
16:23Kuncinya cuma ada dua.
16:24Ngomong tentang market, ngomong tentang munisi.
16:27Market misalnya, ini udah banyak yang duga.
16:30Ini nanti harga minyak tinggi, lalu harga gas tinggi secara katar juga.
16:34Fasilitas gasnya juga dihajar juga.
16:37Ini, nanti akan menyebabkan tekanan sendiri.
16:39Kedua, soal munisi.
16:40Ini menarik.
16:41Karena sampai perang hari kelima misalnya, Iran itu menyerang baru sekitar 500.
16:45Entah itu rudal, entah itu drone, dan lain-lain.
16:49Interception-nya, yang dilawan, itu pasti pengalinya dua setengah.
16:53Oke.
16:54Dua setengah.
16:55Jadi kalau 500, ini udah dua setengah interception.
16:58Itu ada hitungan matematisnya, sekitar 50 sampai 70 persen stok interception yang dimiliki oleh perang teluk.
17:05Bisa dibayangkan kalau ini perangnya berlarut.
17:08Karena kalau misalnya oke, secara dari bicara tentang rudalnya segala rupa, memang menurun drastis.
17:13Tapi kalau kita melihat serangan drone, ini semacam, lihat ada konstanta.
17:18Ada angka 100 setiap hari nyerang.
17:20Oke.
17:20Jadi kalau 100, kali dua setengah, sudah berapa lama ini kebutuhan pertahanan dari negara teluk.
17:28Ini yang nanti akan sedikit banyak, akan menekan Amerika Serikat.
17:31Berhenti gua yang nanti yang gak aman.
17:35Iya, iya.
17:35Ini yang bagi saya make sense kemudian.
17:38Walaupun tiba-tiba Iran kemudian menyerang Azerbaijan misalnya, itu semua dengan ada alasan.
17:44Bahwa ini ada kaitannya dengan Amerika Serikat.
17:47Jadi tidak semata-mata dengan negara teluk biasa.
17:49Oke, baik saya ke Mbak Ulta.
17:51Ini kan Iran meminta jalur komunikasi tidak hanya kepada Qatar, kedua belah pihak ya.
17:56Ada juga Oman, Amerika Serikat juga meminta jalur komunikasi, begitu.
17:59Tapi tidak menyebut Indonesia.
18:01Indonesia kan di BOP.
18:03Iya.
18:03Mungkin boleh saya izin minta waktu untuk menanggapi tadi yang udah banyak itu ya.
18:07Silahkan.
18:08Pertama, tadi saya ingin mengingatkan lagi nih ke Mas Anton ya, karena ini gak mentah Mas.
18:14Karena mungkin Mas Anton bilang kan, kalau misalnya dari zamannya Pak Prabowo jadi menhan, ini dunia udah multipolar gitu kan.
18:20Tapi beda sekarang.
18:21Kalau misalnya dulu, kan Biden gitu.
18:24Pendekatannya udah beda gitu.
18:26Kalau Trump kita tahu sendiri, pendekatannya one man show.
18:29Kalau Biden masih mau dia bernegosiasi dengan UN, mau berdekatan dengan NATO, sekarang Amerika Serikat, Trump ya Trump gitu.
18:37Trump udah melebihi Republikan, udah melebihi Senat, udah melebihi, melebihi Amerika itu sendiri mungkin.
18:43Dia melihat dirinya mungkin sebagai Amerika sendiri.
18:45Makanya ini menjadi semakin kompleks gitu.
18:47Nah, kemudian saya juga setuju dengan Pak Asi Bula tadi, Pak Asi Bula, dengan Mas Andi, dengan Marsikal Agung, bahwa
18:54isu-isu ini ya harus dikompartemenkan.
18:57Jadi, BOP di sini, Iran di sini, ya kan tadi trade juga disinggung Mas Anton.
19:01Nah, trade beda lagi nih.
19:03Jangan hal ini tuh selalu diampur-campur adukan, jadinya kasihan masyarakat kita gitu.
19:08Harusnya kita juga mencerdaskan kan, ini politik luar negeri, dan masyarakat juga harus banyak tahu tentang geopolitik apa segala macem
19:16gitu.
19:16Nah, terus tadi Indonesia nggak disinggung nih, tapi sebenarnya Menlu kita ya, Menlu kita sudah aktif berkomunikasi kepada Menlu Iran
19:26juga,
19:27dan Pak Presiden juga sudah menyuruhkan untuk deeskalasi, kita tidak ingin perang ini spillover kemana-mana,
19:35dan juga kita punya kepentingan energi juga, kalau kata Menteri Bahlil kan, bahwa kita aman selama 20 hari.
19:44Jadi, sementara Trump bilang, ini bisa aja perang 4 minggu, 5 minggu dia bilang gitu kan, artinya kita harus mencari
19:50alternatif baru,
19:51tapi saya rasa ya, semua negara di dunia ini mengalami strategic dilemma ya, jadi dilema strategis yang mereka juga bingung
19:59nih,
20:00endgame-nya apa tadi, benar kata Mas Agung, endgame-nya ini apa, decapitation atau regime change nih.
20:05Kalau decapitation, beda strategi, regime change, beda strategi lagi gitu.
20:10Trump sendiri, udah mulai kelihatan lemas juga nih, saya setuju sama Mas Andi, bahwa ini kayaknya Iran lebih menguasai gitu,
20:16walaupun secara propaganda ya, Amerika menguasai di luar sana.
20:20Tapi, ya Iran masih bertahan, mereka karena decentralized ya, karena walaupun Kemeni sudah gugul,
20:29tapi kemudian konsensus-konsensus itu masih bisa dibuat oleh pemimpin-pemimpin lainnya,
20:35karena struktur dan sistem pemerintahan mereka yang sangat unik, yang berbeda dari semua negara.
20:41Musiti, apakah Indonesia kira-kira bisa diterima oleh negara yang berperang?
20:45Nanti dijawab, Bu Kamisir Kembali Saudara. Tetap di Pulau Lian.
20:52Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan