Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Di tengah konflik Iran vs AS-Israel, muncul desakan agar Indonesia keluar dari Board of Peace (BOP).

Namun ada pula suara lain yang mendorong Indonesia menjalankan peran sebagai juru damai.

Pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi menilai peran Donald Trump dalam konflik kawasan memiliki dua sisi.

Hasibullah mengatakan banyak kritik terhadap kebijakan Trump, namun juga menyebut ada faktor Trump yang mendorong berkurangnya korban di Gaza.

Baca Juga AS-Israel vs Iran Memanas, Haruskah Indonesia Keluar Board of Peace? | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/655296/as-israel-vs-iran-memanas-haruskah-indonesia-keluar-board-of-peace-bola-liar



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/655297/kata-pengamat-timur-tengah-soal-posisi-indonesia-di-board-of-peace-bola-liar
Transkrip
00:00Yang bagus kita bisa menjelaskan secara lebih teliti, lebih rinci, agar ke publik juga bisa relate gitu.
00:06Oh iya ternyata ini satu barang, ini barang yang lain.
00:09Saya paham mungkin letak persoalannya adalah ada pada Trump, yang orangnya terlalu katakanlah koboi,
00:16lalu kemudian menginisiasi yang namanya perdamaian.
00:19Yang ingin saya sampaikan, saya setuju dengan berbagai macam istilah buruk tentang Trump ini.
00:24Bahkan kalau pun dikatakan Trump adalah raja yang lahir dari demokrasi Amerika, mungkin itu lebih enak ya.
00:31Jadi seorang raja lahir dari proses demokrasi yang paling diunggulkan, itu silahkan maknanya masing-masing.
00:36Saya setuju, Trump dikatakan begitu gara-gara yang dia lakukan di Venezuela, gara-gara yang dia lakukan di Greenland, dan
00:42sekarang yang dia lakukan di Iran.
00:44Tapi yang ingin saya mengajak kepada masyarakat, yang dilakukan Trump di Timur Tengah,
00:50dalam hal meyakinkan Netanyahu untuk mengurangi jumlah korban di Palestina, di Gaza, itu juga harus kita akui.
00:58Tidak ada sampai hari ini yang membuat Netanyahu lumayan, katakanlah per 10 Oktober 2025 disebut kenyataan senjata, itu tidak ada.
01:07Kalau dikatakan, saya tidak mengatakan baik, karena kalau dikatakan baik, orang akan bilang korbannya masih jatuh.
01:12Cuma yang saya gunakan, jumlah korban sebelum 10 Oktober 2025 sudah jauh berkurang dibanding korban yang jatuh setelah 10 Oktober
01:212025.
01:23Artinya apa? Ada faktor Trump yang membuat Netanyahu lumayan mendengarkan.
01:28Yang lain tidak didengerin, itu soalnya.
01:30Nah, oleh karena itu, saya sampaikan berulang kali, kalau kita mendukung BOP, itu yang pertama dalam konteks latar belakang ini.
01:39Bagaimana membuat korban di Gaza lebih sedikit.
01:42Yang kedua, dalam konteks hukum, yaitu 2803, yang masih diakui bahwa ada BOP.
01:48Walaupun memang persoalan tafsir hukumnya, mandat yang dibuat oleh terlalu besar daripada yang termaktub di dalam 2803.
01:56Itu yang menjadi soal, karena itu banyak orang lalu berpikir, BOP adalah vis-a-vis PBB.
02:02Saya berpandangan, selama BOP masih di bawah PBB, masih justified di bawah 2803.
02:08Menurut saya, ini harapan.
02:10Tapi kalau BOP mau menjadi pesaing PBB, jangankan BOP-nya.
02:17PBB sekarang sudah mandul.
02:19Ngapain mau diganti dengan BOP yang Trump-sentris tadi?
02:22Saya setuju.
02:23Jadi, kita nggak mungkin mau menerima ganti PBB yang sekarang tidak ideal, justru dengan barang yang jauh lebih buruk.
02:29Justru, saya katakan BOP oke, kalau masih dalam konteks 2803, dan kita gunakan secara pragmatis untuk bisa membuat jumlah korban
02:40di Gaza jauh lebih buruk.
02:41Pak Agung, menurut Anda sendiri, apakah memang BOP dan juga penyerangan terhadiran ini bisa kita pisahkan?
02:47Karena banyak juga informasi yang mengatakan, justru Trump melakukan penyerangan karena mendengar bisik-bisik seorang Netanyahu.
02:52Bahkan membunuh seorang pemimpin tertinggi.
02:56Jadi, kita dalam melihat BOP ini tentu melihat kepentingan nasional.
03:01Seperti Mbak Ulta, tadi saya terkesan bilang ini dinamika.
03:04Memang dinamis sekali.
03:06Jadi, beliau setuju dengan perkataan dari Mbak Nurul ya, mengatakan bahwa ini kapan saja bisa dirubah jadi fleksibel.
03:12Itu sudah benar tuh.
03:13Saya bisa sarankan pada Presiden kita bahwa stay pada kata-kata kapan saja bisa kita ubah.
03:19Karena berarti kalau berhenti dia nggak masalah, kalau dia terus juga nggak masalah.
03:23Itu sudah pegang dulu.
03:24Malah ini sekarang peluang.
03:26Kepentingan nasional Indonesia kemarin mengharuskan beliau untuk menyatakan kita gabung BOP.
03:32Pasti banyak hal pertimbangannya.
03:33Dengan segala kekurangan, kelebihannya, ternyata gabung BOP itu ada potensi peluang.
03:38Meskipun banyak tantangannya.
03:39Tapi tantangannya kan nanti.
03:40Peluangnya dulu.
03:41Peluangnya apa?
03:42Ekonomi.
03:43Atau peluang apapun, saya jakin jelas.
03:45Presiden ataupun penasihatnya, ataupun siapapun yang membantu itu ada keuntungannya.
03:49Cuma masalahnya sekarang berhadapan dengan rekan, yaitu Amerika Serikat.
03:55Dan masalah yang timbul adalah pemimpin BOP itu adalah Donald Trump.
04:00Bukan Presiden Amerika Serikat.
04:03Tapi nggak masalah.
04:04Yang penting sekarang Presiden bisa, Presiden kita ini bisa mendapatkan sesuatu dari situ.
04:09Saya nggak ngurus sesuatunya apa, maksudnya yang penting demi negara kita.
04:12Ada kemurahan, kemurahan, atau untungan apalah.
04:16Tetapi sekarang sesuai dengan kata Mbak Uta tadi, dinamika.
04:19Dan sesuai dengan kata Presiden, kita bisa mundur, kita bisa terus.
04:22Tapi sekarang saya sarankan, kita bisa on time, kita bisa mundur.
04:28Sesuai dengan kondisi saat ini, kita bisa mundur.
04:30Dengan mundur, kita lihat situasi.
04:33Tapi saat ini kan kita lihat sudah jatuh korban.
04:36Situasi nggak aman, berarti apa? Mundur saja?
04:38Kita ngapain ini pasukan kalau nggak aman.
04:39Itu kan alasan yang masuk akal.
04:41Tidak akan dipermalukan siapapun, akan saving face.
04:44Presiden juga oke, berarti memikirkan keselamatan prajuritnya.
04:47Tapi itu juga tidak harus mundur.
04:48Kenapa?
04:49Kalau nanti ternyata Israel lebih lemah, peluangnya kita lihat saja.
04:54Apakah Trump akan stay di situ?
04:55Nanti pada pemilu selah, apakah dia nanti diimpeach?
04:58Kalau Demokrat nambah, kan ada peluang.
05:00Dan apakah juga masih eksis nggak Netanyahu?
05:03Kalau ternyata tidak berjalan sesuai dengan ini.
05:05Dan Israel menjadi berganti pemimpinnya.
05:08Kemudian di Timur Tengah banyak pergantian pemimpin.
05:10Dan tetap, apa namanya, Iran menjadi regional baru kuat yang power yang baru.
05:15Dan Amerika kehabisan dengan semua kehabisan.
05:18Atau rusak semua pangkalannya.
05:19Dimana dia harus merestusi ulang posisinya.
05:22Mungkin Amerika tidak sekuat.
05:24Trump tidak sekuat itu.
05:25Dengan posisinya itu, malah peluang kita bisa membantu, memberikan tekanan, menggalang dunia bebas aktif ini.
05:32Karena saya berpikiran bebas aktif itu bukan netral.
05:34Bebas aktif itu demi kepentingan nasional Indonesia.
05:37Kita bisa mendekat, kita bisa menjauh, kita bisa terlibat.
05:40Yang penting, kepentingan Indonesia.
05:42Tapi sekarang, Presiden selain mengatakan bahwa kita bisa maju dan mundur,
05:47kita bisa on time, kita bisa mundur.
05:49Itu yang mungkin beliau bisa katakan, dan itu oke-oke saja.
05:53Keuntungannya banyak kok.
05:54Meskipun tantangannya lebih banyak juga.
05:56Tapi, dunia ini kalau orang tidak berani ambil risiko, bagaimana bisa maju Indonesia.
06:01Oke baik.
06:01Kalau menurut Mas Andi sendiri, kapan waktu yang tepat,
06:04ataupun indikator yang tepat Indonesia untuk memilih mundur atau tetap stay di Bordopest?
06:12Proyeknya saja belum mulai.
06:14Proyek BOP itu gasa.
06:16Tidak terkait dengan konflik di wilayah manapun.
06:20Tapi kan BOP itu kan dibentuk untuk perdamaian di Gaza, Mas.
06:24Lihat saja strukturnya.
06:25Bordopest, Executive Board, ISF, terus ada administrasi Palestina.
06:31Tidak ada kata konflik lainnya di situ.
06:33Tidak terkait Ukraina, tidak terkait Venezuela, tidak terkait Sudan-Yaman.
06:36Hanya gasa.
06:37Karena struktur BOP itu hanya gasa.
06:40Tapi maksudnya kan ingin menciptakan perdamaian.
06:43Tapi satu sisi, dia yang menginisiasi melakukan peperangan.
06:47Sekarang mandat BOP yang dijalankan oleh Trump dan Board of Peace-nya hanya tentang gasa.
06:52Jadi kalau Pak Prabowo ingin menggunakan BOP untuk konflik di wilayah lain,
06:58ya harus diusulkan dulu ada struktur baru dalam organisasi BOP tersebut.
07:05Kalau sekarang, misalnya pakai struktur yang ada sekarang, orang akan bingung.
07:09Mau ngirim pasukan apa? ISF-nya mau dikirim ke Teheran.
07:13Misalnya ISF-nya mau dikirim ke Lebanon untuk menenangkan Hezbollah.
07:18Tidak bisa.
07:20Karena BOP sekarang hanya satu proyek.
07:22Dan proyek itu adalah gasa proyek.
07:24Karena itu BOP bukan tempat yang tepat untuk memulai upaya perdamaian tentang Iran
07:32ataupun konflik manapun di dunia tanpa ada keputusan dari Board,
07:36tanpa ada keputusan dari eksekutif untuk memperluas mandat dari BOP tersebut.
07:40Mas Sandi, tapi kan Iran sendiri sebenarnya punya pengaruh untuk menentukan perdamaian di Gaza.
07:45Karena ada proyeksi-proyeksi, misalnya ada Hamas, ada Hezbollah.
07:48Kalau Iran untuk apa dia sekarang mendesak perundingan perdamaian.
07:52Semakin lama Amerika Serikat gagal untuk memenangkan perang di Iran,
07:59semakin besar persepsi bahwa Iran itu menang.
08:03Semakin lama. Ini asimetrik.
08:05Asimetrik ya.
08:06Pihak yang kalah hanya butuh untuk tidak dikalahkan.
08:09Dia tidak butuh menang lawan Amerika.
08:11Dia tidak butuh menang lawan Israel.
08:13Iran itu hanya butuh bahwa dia masih bisa meluncurkan rudal dua minggu lagi, satu bulan lagi.
08:19Pada saat Iran memiliki kemampuan itu, persepsi bahwa Amerika Serikat gagal mengalahkan Iran,
08:25itu sama dengan Iran menang.
08:27Hanya cukup itu saja.
08:28Itu logika dari perang asimetrik.
08:30Oke, baik.
08:31Bu Siti, beberapa nasional studio mengatakan bahwa ini harus dibedakan
08:35antara perang di Iran dan juga BOP.
08:38Bahkan, ya kita tidak perlu keluar begitu.
08:40Tapi dari Anda sendiri bagaimana pandangannya?
08:44BOP dengan Iran itu sangat ada hubungannya.
08:49Jelas BOP diinisiasi oleh Donald Trump dan perang dengan Iran diinisiasi oleh Donald Trump.
08:58Jadi di sini saya melihat sangat erat hubungannya bahwa perilaku Donald Trump itu tidak bisa dipercaya.
09:07mengajak perdamaian, tetapi dalam satu sisi dia melakukan perang.
09:13Teruslah kan yang melakukan apa, menyerang dulu kan Amerika dan Israel.
09:20Itu yang harus kita lihat.
09:22Dan Donald Trump itu memimpin BOP gitu ya.
09:26Itu yang pertama.
09:27Jadi sangat erat hubungannya.
09:29Tidak bisa dipisahkan kalau menurut saya ya.
09:32Dan harus diingat BOP itu tidak berada di bawah naungan PBB.
09:37Kalau ISF, memang International Stabilization Force, itu di bawah PBB.
09:42Kemudian menghasilkan BOP, dia tidak di bawah PBB.
09:46BOP itu diketuai oleh Donald Trump sebagai pribadi, bukan sebagai kepala negara Amerika.
09:55Dan itu kalau menurut Pak Hikmahanto Yono, itu melanggar patah kelola internasional.
10:01Tata kelola internasional itu, semua organisasi internasional itu wakilnya, itu adalah negara.
10:09Tidak ada perorangan.
10:10Dan ini perorangan.
10:12Kemudian di dalam piagam-piagam yang dicermati oleh Pak Hikmahanto,
10:17itu bahwa nanti Donald Trump itu bisa berkuasa di BOP itu seumur hidup.
10:23Itu yang harus dicermati.
10:25Tetapi masalah mau keluar atau tidak dalam menghadapi Donald Trump,
10:31sebagian negara yang sedang berkembang itu biasanya kita akan menghadapi dilema karena keterbatasan yang kita miliki.
10:38Kalau keluar dilemanya itu apakah akan terus atau akan keluar.
10:43Kalau kita akan terus, jelas pemimpinnya ini sudah tidak pro pada perdamaian.
10:49Ya, itu jelas.
10:51Kita harus segas kita keluar.
10:53Tapi kalau keluar, kita tidak bisa menduga apa yang akan dilakukan Donald Trump kepada kita kan.
11:00Dia sudah tidak peduli dengan aturan, tidak peduli dengan etika internasional, kebiasaan internasional.
11:06Dua-duanya itu sangat berisiko.
11:08Itulah dilema.
11:09Jadi dilema itu kan pilihan yang tidak mudah.
11:12Dua-duanya mengandung risiko negatif dan positif.
11:17Tapi kadang-kadang lebih banyak negatifnya.
11:19Sehingga pemerintah itu harus hitung-hitungan.
11:22Oke.
11:23Kalau misalnya kita keluar, Donald Trump kira-kira mau menghukum apa kepada Indonesia.
11:29Itu yang harus kita pertimbangkan.
11:31Oke.
11:32Mbak, yang kita tahu juga Iran ini menolak untuk bernegosiasi ulang.
11:37Apakah ini merupakan tanda peperangan makin panjang?
11:39Kami sering kembali, Saudara. Tetap di Pulau Liar.
11:50AS menolak resolusi untuk memaksa Presiden Trump mengakhiri perang di Iran.
Komentar

Dianjurkan