00:00Yang bagus kita bisa menjelaskan secara lebih teliti, lebih rinci, agar ke publik juga bisa relate gitu.
00:06Oh iya ternyata ini satu barang, ini barang yang lain.
00:09Saya paham mungkin letak persoalannya adalah ada pada Trump, yang orangnya terlalu katakanlah koboi,
00:16lalu kemudian menginisiasi yang namanya perdamaian.
00:19Yang ingin saya sampaikan, saya setuju dengan berbagai macam istilah buruk tentang Trump ini.
00:24Bahkan kalau pun dikatakan Trump adalah raja yang lahir dari demokrasi Amerika, mungkin itu lebih enak ya.
00:31Jadi seorang raja lahir dari proses demokrasi yang paling diunggulkan, itu silahkan maknanya masing-masing.
00:36Saya setuju, Trump dikatakan begitu gara-gara yang dia lakukan di Venezuela, gara-gara yang dia lakukan di Greenland, dan
00:42sekarang yang dia lakukan di Iran.
00:44Tapi yang ingin saya mengajak kepada masyarakat, yang dilakukan Trump di Timur Tengah,
00:50dalam hal meyakinkan Netanyahu untuk mengurangi jumlah korban di Palestina, di Gaza, itu juga harus kita akui.
00:58Tidak ada sampai hari ini yang membuat Netanyahu lumayan, katakanlah per 10 Oktober 2025 disebut kenyataan senjata, itu tidak ada.
01:07Kalau dikatakan, saya tidak mengatakan baik, karena kalau dikatakan baik, orang akan bilang korbannya masih jatuh.
01:12Cuma yang saya gunakan, jumlah korban sebelum 10 Oktober 2025 sudah jauh berkurang dibanding korban yang jatuh setelah 10 Oktober
01:212025.
01:23Artinya apa? Ada faktor Trump yang membuat Netanyahu lumayan mendengarkan.
01:28Yang lain tidak didengerin, itu soalnya.
01:30Nah, oleh karena itu, saya sampaikan berulang kali, kalau kita mendukung BOP, itu yang pertama dalam konteks latar belakang ini.
01:39Bagaimana membuat korban di Gaza lebih sedikit.
01:42Yang kedua, dalam konteks hukum, yaitu 2803, yang masih diakui bahwa ada BOP.
01:48Walaupun memang persoalan tafsir hukumnya, mandat yang dibuat oleh terlalu besar daripada yang termaktub di dalam 2803.
01:56Itu yang menjadi soal, karena itu banyak orang lalu berpikir, BOP adalah vis-a-vis PBB.
02:02Saya berpandangan, selama BOP masih di bawah PBB, masih justified di bawah 2803.
02:08Menurut saya, ini harapan.
02:10Tapi kalau BOP mau menjadi pesaing PBB, jangankan BOP-nya.
02:17PBB sekarang sudah mandul.
02:19Ngapain mau diganti dengan BOP yang Trump-sentris tadi?
02:22Saya setuju.
02:23Jadi, kita nggak mungkin mau menerima ganti PBB yang sekarang tidak ideal, justru dengan barang yang jauh lebih buruk.
02:29Justru, saya katakan BOP oke, kalau masih dalam konteks 2803, dan kita gunakan secara pragmatis untuk bisa membuat jumlah korban
02:40di Gaza jauh lebih buruk.
02:41Pak Agung, menurut Anda sendiri, apakah memang BOP dan juga penyerangan terhadiran ini bisa kita pisahkan?
02:47Karena banyak juga informasi yang mengatakan, justru Trump melakukan penyerangan karena mendengar bisik-bisik seorang Netanyahu.
02:52Bahkan membunuh seorang pemimpin tertinggi.
02:56Jadi, kita dalam melihat BOP ini tentu melihat kepentingan nasional.
03:01Seperti Mbak Ulta, tadi saya terkesan bilang ini dinamika.
03:04Memang dinamis sekali.
03:06Jadi, beliau setuju dengan perkataan dari Mbak Nurul ya, mengatakan bahwa ini kapan saja bisa dirubah jadi fleksibel.
03:12Itu sudah benar tuh.
03:13Saya bisa sarankan pada Presiden kita bahwa stay pada kata-kata kapan saja bisa kita ubah.
03:19Karena berarti kalau berhenti dia nggak masalah, kalau dia terus juga nggak masalah.
03:23Itu sudah pegang dulu.
03:24Malah ini sekarang peluang.
03:26Kepentingan nasional Indonesia kemarin mengharuskan beliau untuk menyatakan kita gabung BOP.
03:32Pasti banyak hal pertimbangannya.
03:33Dengan segala kekurangan, kelebihannya, ternyata gabung BOP itu ada potensi peluang.
03:38Meskipun banyak tantangannya.
03:39Tapi tantangannya kan nanti.
03:40Peluangnya dulu.
03:41Peluangnya apa?
03:42Ekonomi.
03:43Atau peluang apapun, saya jakin jelas.
03:45Presiden ataupun penasihatnya, ataupun siapapun yang membantu itu ada keuntungannya.
03:49Cuma masalahnya sekarang berhadapan dengan rekan, yaitu Amerika Serikat.
03:55Dan masalah yang timbul adalah pemimpin BOP itu adalah Donald Trump.
04:00Bukan Presiden Amerika Serikat.
04:03Tapi nggak masalah.
04:04Yang penting sekarang Presiden bisa, Presiden kita ini bisa mendapatkan sesuatu dari situ.
04:09Saya nggak ngurus sesuatunya apa, maksudnya yang penting demi negara kita.
04:12Ada kemurahan, kemurahan, atau untungan apalah.
04:16Tetapi sekarang sesuai dengan kata Mbak Uta tadi, dinamika.
04:19Dan sesuai dengan kata Presiden, kita bisa mundur, kita bisa terus.
04:22Tapi sekarang saya sarankan, kita bisa on time, kita bisa mundur.
04:28Sesuai dengan kondisi saat ini, kita bisa mundur.
04:30Dengan mundur, kita lihat situasi.
04:33Tapi saat ini kan kita lihat sudah jatuh korban.
04:36Situasi nggak aman, berarti apa? Mundur saja?
04:38Kita ngapain ini pasukan kalau nggak aman.
04:39Itu kan alasan yang masuk akal.
04:41Tidak akan dipermalukan siapapun, akan saving face.
04:44Presiden juga oke, berarti memikirkan keselamatan prajuritnya.
04:47Tapi itu juga tidak harus mundur.
04:48Kenapa?
04:49Kalau nanti ternyata Israel lebih lemah, peluangnya kita lihat saja.
04:54Apakah Trump akan stay di situ?
04:55Nanti pada pemilu selah, apakah dia nanti diimpeach?
04:58Kalau Demokrat nambah, kan ada peluang.
05:00Dan apakah juga masih eksis nggak Netanyahu?
05:03Kalau ternyata tidak berjalan sesuai dengan ini.
05:05Dan Israel menjadi berganti pemimpinnya.
05:08Kemudian di Timur Tengah banyak pergantian pemimpin.
05:10Dan tetap, apa namanya, Iran menjadi regional baru kuat yang power yang baru.
05:15Dan Amerika kehabisan dengan semua kehabisan.
05:18Atau rusak semua pangkalannya.
05:19Dimana dia harus merestusi ulang posisinya.
05:22Mungkin Amerika tidak sekuat.
05:24Trump tidak sekuat itu.
05:25Dengan posisinya itu, malah peluang kita bisa membantu, memberikan tekanan, menggalang dunia bebas aktif ini.
05:32Karena saya berpikiran bebas aktif itu bukan netral.
05:34Bebas aktif itu demi kepentingan nasional Indonesia.
05:37Kita bisa mendekat, kita bisa menjauh, kita bisa terlibat.
05:40Yang penting, kepentingan Indonesia.
05:42Tapi sekarang, Presiden selain mengatakan bahwa kita bisa maju dan mundur,
05:47kita bisa on time, kita bisa mundur.
05:49Itu yang mungkin beliau bisa katakan, dan itu oke-oke saja.
05:53Keuntungannya banyak kok.
05:54Meskipun tantangannya lebih banyak juga.
05:56Tapi, dunia ini kalau orang tidak berani ambil risiko, bagaimana bisa maju Indonesia.
06:01Oke baik.
06:01Kalau menurut Mas Andi sendiri, kapan waktu yang tepat,
06:04ataupun indikator yang tepat Indonesia untuk memilih mundur atau tetap stay di Bordopest?
06:12Proyeknya saja belum mulai.
06:14Proyek BOP itu gasa.
06:16Tidak terkait dengan konflik di wilayah manapun.
06:20Tapi kan BOP itu kan dibentuk untuk perdamaian di Gaza, Mas.
06:24Lihat saja strukturnya.
06:25Bordopest, Executive Board, ISF, terus ada administrasi Palestina.
06:31Tidak ada kata konflik lainnya di situ.
06:33Tidak terkait Ukraina, tidak terkait Venezuela, tidak terkait Sudan-Yaman.
06:36Hanya gasa.
06:37Karena struktur BOP itu hanya gasa.
06:40Tapi maksudnya kan ingin menciptakan perdamaian.
06:43Tapi satu sisi, dia yang menginisiasi melakukan peperangan.
06:47Sekarang mandat BOP yang dijalankan oleh Trump dan Board of Peace-nya hanya tentang gasa.
06:52Jadi kalau Pak Prabowo ingin menggunakan BOP untuk konflik di wilayah lain,
06:58ya harus diusulkan dulu ada struktur baru dalam organisasi BOP tersebut.
07:05Kalau sekarang, misalnya pakai struktur yang ada sekarang, orang akan bingung.
07:09Mau ngirim pasukan apa? ISF-nya mau dikirim ke Teheran.
07:13Misalnya ISF-nya mau dikirim ke Lebanon untuk menenangkan Hezbollah.
07:18Tidak bisa.
07:20Karena BOP sekarang hanya satu proyek.
07:22Dan proyek itu adalah gasa proyek.
07:24Karena itu BOP bukan tempat yang tepat untuk memulai upaya perdamaian tentang Iran
07:32ataupun konflik manapun di dunia tanpa ada keputusan dari Board,
07:36tanpa ada keputusan dari eksekutif untuk memperluas mandat dari BOP tersebut.
07:40Mas Sandi, tapi kan Iran sendiri sebenarnya punya pengaruh untuk menentukan perdamaian di Gaza.
07:45Karena ada proyeksi-proyeksi, misalnya ada Hamas, ada Hezbollah.
07:48Kalau Iran untuk apa dia sekarang mendesak perundingan perdamaian.
07:52Semakin lama Amerika Serikat gagal untuk memenangkan perang di Iran,
07:59semakin besar persepsi bahwa Iran itu menang.
08:03Semakin lama. Ini asimetrik.
08:05Asimetrik ya.
08:06Pihak yang kalah hanya butuh untuk tidak dikalahkan.
08:09Dia tidak butuh menang lawan Amerika.
08:11Dia tidak butuh menang lawan Israel.
08:13Iran itu hanya butuh bahwa dia masih bisa meluncurkan rudal dua minggu lagi, satu bulan lagi.
08:19Pada saat Iran memiliki kemampuan itu, persepsi bahwa Amerika Serikat gagal mengalahkan Iran,
08:25itu sama dengan Iran menang.
08:27Hanya cukup itu saja.
08:28Itu logika dari perang asimetrik.
08:30Oke, baik.
08:31Bu Siti, beberapa nasional studio mengatakan bahwa ini harus dibedakan
08:35antara perang di Iran dan juga BOP.
08:38Bahkan, ya kita tidak perlu keluar begitu.
08:40Tapi dari Anda sendiri bagaimana pandangannya?
08:44BOP dengan Iran itu sangat ada hubungannya.
08:49Jelas BOP diinisiasi oleh Donald Trump dan perang dengan Iran diinisiasi oleh Donald Trump.
08:58Jadi di sini saya melihat sangat erat hubungannya bahwa perilaku Donald Trump itu tidak bisa dipercaya.
09:07mengajak perdamaian, tetapi dalam satu sisi dia melakukan perang.
09:13Teruslah kan yang melakukan apa, menyerang dulu kan Amerika dan Israel.
09:20Itu yang harus kita lihat.
09:22Dan Donald Trump itu memimpin BOP gitu ya.
09:26Itu yang pertama.
09:27Jadi sangat erat hubungannya.
09:29Tidak bisa dipisahkan kalau menurut saya ya.
09:32Dan harus diingat BOP itu tidak berada di bawah naungan PBB.
09:37Kalau ISF, memang International Stabilization Force, itu di bawah PBB.
09:42Kemudian menghasilkan BOP, dia tidak di bawah PBB.
09:46BOP itu diketuai oleh Donald Trump sebagai pribadi, bukan sebagai kepala negara Amerika.
09:55Dan itu kalau menurut Pak Hikmahanto Yono, itu melanggar patah kelola internasional.
10:01Tata kelola internasional itu, semua organisasi internasional itu wakilnya, itu adalah negara.
10:09Tidak ada perorangan.
10:10Dan ini perorangan.
10:12Kemudian di dalam piagam-piagam yang dicermati oleh Pak Hikmahanto,
10:17itu bahwa nanti Donald Trump itu bisa berkuasa di BOP itu seumur hidup.
10:23Itu yang harus dicermati.
10:25Tetapi masalah mau keluar atau tidak dalam menghadapi Donald Trump,
10:31sebagian negara yang sedang berkembang itu biasanya kita akan menghadapi dilema karena keterbatasan yang kita miliki.
10:38Kalau keluar dilemanya itu apakah akan terus atau akan keluar.
10:43Kalau kita akan terus, jelas pemimpinnya ini sudah tidak pro pada perdamaian.
10:49Ya, itu jelas.
10:51Kita harus segas kita keluar.
10:53Tapi kalau keluar, kita tidak bisa menduga apa yang akan dilakukan Donald Trump kepada kita kan.
11:00Dia sudah tidak peduli dengan aturan, tidak peduli dengan etika internasional, kebiasaan internasional.
11:06Dua-duanya itu sangat berisiko.
11:08Itulah dilema.
11:09Jadi dilema itu kan pilihan yang tidak mudah.
11:12Dua-duanya mengandung risiko negatif dan positif.
11:17Tapi kadang-kadang lebih banyak negatifnya.
11:19Sehingga pemerintah itu harus hitung-hitungan.
11:22Oke.
11:23Kalau misalnya kita keluar, Donald Trump kira-kira mau menghukum apa kepada Indonesia.
11:29Itu yang harus kita pertimbangkan.
11:31Oke.
11:32Mbak, yang kita tahu juga Iran ini menolak untuk bernegosiasi ulang.
11:37Apakah ini merupakan tanda peperangan makin panjang?
11:39Kami sering kembali, Saudara. Tetap di Pulau Liar.
11:50AS menolak resolusi untuk memaksa Presiden Trump mengakhiri perang di Iran.
Komentar