00:01Ya Anda kembali melihat saya ke Bu Siti, Bu Siti, jadi menurut Anda sendiri apakah Indonesia bisa diterima dengan tangan
00:08terbuka oleh kedua belah pihak sebagai mediator perang Iran?
00:12Ya syarat untuk menjadi mediator tuh yang pertama adalah dia harus netral ya dalam masalah ini dia tidak boleh memihak
00:21kepada salah satu yang sedang konflik.
00:23Sementara Indonesia tuh sudah bergabung dalam BOP yang disana ada Amerika dan Israel jadi kita itu sudah dianggap sebagai pemihak
00:33pada yang konflik salah satu pihak yang konflik jadi kita tidak memenuhi syarat sebagai negara yang netral ya dalam konflik
00:41ini.
00:42Kemudian yang kedua bahwa kita syarat yang berikutnya adalah harus diterima kedua belah pihak.
00:49Saya yakin Iran jadi sanksi kepada Indonesia untuk menerima Indonesia sebagai mediator karena sudah tadi keperbiakan Indonesia itu ya.
01:00Yang ketiga adalah kalau ini secara teori ya bahwa setiap perundingan itu bisa dilakukan kalau ada momentum yang tepat.
01:10Momentum itu waktu yang tepat.
01:12Sementara sekarang ini perang itu baru dalam puncak-puncaknya ya.
01:18Jadi Indonesia harus bisa mencari momentum untuk mengajak perunding berubah.
01:24Sudah kalau memang kita ingin berunding ya jadi momentum itu bisa diciptakan atau bisa tiba-tiba ada sendiri ya seperti
01:32kita bisa berunding dengan gerakan Aceh Merdeka itu kan momentumnya tsunami ya kan.
01:38Kemudian Pak SBY itu jadi mudah mengajak mereka berunding.
01:42Itu momentum yang natural tapi sebetulnya momentum itu bisa diciptakan.
01:47Amerika Serikat itu menghentikan peran dunia kedua mencari membuat Jepang mau berunding itu kan dengan menjatuhkan bom di Hiroshima dan
01:56Nagasaki.
01:57Itu juga momentum yang tepat untuk supaya Jepang mau give up, mau menyerah ya.
02:05Momentum dan caranya masuk ke Indonesia Bu Siti?
02:09Kalau momentum kita mungkin bisa menggunakan yang jalur OKI.
02:13Jadi organisasi kerjasama Islam ini masih menunjukkan kerjasama yang baik gitu.
02:21Meskipun anggotanya itu punya hubungan yang tidak harmonis.
02:25Nah itulah yang mungkin yang bisa paling mungkin digunakan Indonesia.
02:29Indonesia itu masih diterima di dalam OKI dengan terbuka.
02:33Jadi kita itu bisa menggunakan OKI untuk menengai ini dulu Iran dengan negara-negara teluk yang dengan perang ini kan
02:45negara-negara teluk yang lain Qatar, Arab, Saudi, Oman dan lain sebagainya.
02:50Ini kan jadi tidak harmonis semakin tidak harmonis.
02:53Nah ini gunakan OKI untuk mendamaikan dulu dalam istilah Islam itu istilah.
02:58Ya dari kalau itu kewajiban bagi dalam ada namanya political Islam itu yang ada ajaran Islam.
03:07Kalau ada negara apa dua negara yang konflik terutama kalau itu negara menyangkut yang agamanya sama seperti Iran dengan negara
03:17-negara teluk itu kita berkewajiban untuk islah.
03:20Untuk mendamaikan ya mendamaikan yang sedang konflik.
03:23Tapi sekali lagi bahwa tidak mudah itu juga betul.
03:27Tapi masih ada peluangnya apa yang bisa Indonesia gunakan sebagai pijakan untuk jalan berunding gitu.
03:38Baik Pak Dian, Indonesia menaruhkan diri sebagai mediator.
03:42Anda melihatnya ini niat yang sungguh-sungguh atau cuma lempar wacana saja?
03:47Mungkin bisa saja niat yang sungguh-sungguh.
03:50Cuma pertanyaan dasarnya siapa yang minta?
03:53Nggak ada yang minta kok.
03:55Mas Sasrawi jangan ketawa-ketawa diminta enggak?
03:59Kalau nggak minta jangan nganjungan diri.
04:03Artinya apa?
04:04Untuk menjadi sini kita sendiri harus menyadari apa kita pahami sih masalahnya gitu loh.
04:09Orang masalah yang beredar aja belum tentu dipahami sepenuhnya kok.
04:13Buktinya, tadi Bu Profesor, maaf ya agak beda Bu Profesor.
04:18Kalau dikatakan mulai lagi, terpaksa saya mengulang.
04:22Kalau dikatakan mulai lagi dengan OKI lah segala macam, buat saya udah bukan paradigma lagi.
04:27Buat sebuah posisi Indonesia yang bisa dianggap sebagai leverage.
04:31OKI sudah, setengahnya udah ngakuin Israel.
04:35Sekarang sudah terlihat kok, 6-7 negara teluk itu sudah memihak kok.
04:40Gimana kita mau ngomong OKI?
04:42Gimana kita mau ngomong om blok?
04:44Kalau dulu kita di ASEAN saja, waktu awal-awal berdirinya ASEAN dan kita ikut mendirikan,
04:49jelas kita ada tujuan.
04:51Kawasan ASEAN masih jadi zone of conflict.
04:54Dengan berdirinya ASEAN kita bisa merubah jadi zone of cooperation.
04:58Kenapa? Peran Indonesia sebagai negara yang baru muncul, order baru waktu itu,
05:02benar-benar menunjukkan perhatiannya.
05:04ASEAN dengan Indonesia di depan bisa menyelesaikan masalah Mindanao di Filipina Selatan.
05:11Bisa menyelesaikan perang saudara Kamboja yang ada tiga paksi bertempur itu.
05:16Sekarang apa yang bisa kita lakukan?
05:18Maaf Bu Profesor, negara Islam.
05:23Boleh saya menyelesaikan sebentar, itu alternatif Pak.
05:26Jadi kalau ini sebuahnya buntu, alternatif yang paling mungkin kan lewat OKI.
05:32Mau lewat apa gitu ya.
05:34Jadi itu memang tidak pilihan yang bagus, tapi di antara pilihan yang ada.
05:39Itu paling masuk akal OKI karena Bu Menlu Retno itu,
05:44Bu Menlu Retno kan dipercaya untuk menjadi jurubicara OKI dengan yang akan untuk menyelesaikan Gaza ya.
05:54Jadi itu alternatif yang paling mungkin.
05:57Memang itu susah dan OKI pun sudah.
06:00Tetapi alternatif apa yang bisa kita gunakan kalau kita ingin menjadi penengah?
06:05Bu Siti, mana yang lebih masuk akal?
06:08Melalui OKI, BOP, atau PBB bahkan?
06:12Lebih masuk akal mana?
06:13Ya, itu alternatifnya itu kalau disuruh ketiga untuk memilih,
06:18memang PBB itu adalah tata kelola internasional yang harus diandalkan oleh semua negara.
06:25Siapapun yang melanggar tata kelola internasional itu idealnya kita mengajukan keberatan.
06:32Dan kalau Indonesia mau menggunakan untuk menjadi penengah ya gunakan majelis umum PBB ya
06:40supaya ada sidang darurat untuk, sidang darurat PBB untuk membicarakan ini.
06:47Itu alternatif kan kita, kalau semua tertuput ya sudah.
06:52Tidak usah ada di sebuah hari ini kan.
06:55Jadi, Profesor, maaf nih Ibu.
06:57Saya gantian menyelah maksudnya.
07:01Ya, mohon kau, Pak.
07:02Besok kita ketemu, kan?
07:05Bisa dilanjutkan besok.
07:07Ibu, kenapa saya katakan non-blok atau OKI
07:10sudah bukan atribut lagi untuk menjadi sebuah leverage buat Indonesia?
07:15Tadi Ibu bilang, kita negara Islam,
07:17mestinya kita bisa merangkul negara Islam.
07:19Ibu, yang menyelesaikan masalah hubungan diplomatik Iran dan Arab Saudi kan bukan non-blok, bukan OKI ya.
07:28Tapi Cina, Bu. Komunis, Bu.
07:30Kok bisa, Bu?
07:31Kita juga berperan.
07:34Masalahnya itu,
07:35jangan melihat kita pasti bisa.
07:39Negara lain banyak yang lebih bisa kali ini.
07:41Ibu, tadi bicara tentang momentum.
07:44Sekarang bukan momentumnya Indonesia.
07:46Sekarang momentumnya Indonesia benahi dalam negeri.
07:48Terima kasih.
07:49Oke.
07:50Silahkan, Mas Asrawi, langsung tunjukkan.
07:52Saya rasa kalau kita bicara dalam konteks Indonesia,
07:55terutama ini sudah masuk hari ke-7,
07:57ini penting disampaikan kepada publik bagaimana kita mestinya bersikap.
08:01Karena kecenderungan masyarakat kita ini sukanya dukung-mendukung.
08:05Jadi, kalau tadi saling selah, biasa itu.
08:07Pak Dian, di mana-mana.
08:08Bisa, ya.
08:09Yang penting tetap saling menghormati.
08:10Nah, oleh karena itu,
08:12saya, apa namanya ya,
08:15mengajak kita bersama,
08:16mungkin dalam hal ini,
08:17kalau pakai konsennya kompas,
08:19jangan menggunakan politik identitas.
08:22Kita penting menggunakan yang kita sebut sebagai perspektif kebangsaan.
08:26Jadi, kalau kita mau bersikap,
08:27jangan tarik ini kita warnanya ada di mana dengan siapa.
08:31Karena sekali lagi,
08:32itu akan membahayakan ke kita sendiri di sini.
08:35Akan selamat ini,
08:36kalau kita berpegangan kepada perspektif kebangsaan
08:39yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa kita.
08:41Yang kedua, tentang bagaimana kita bersikap.
08:44Menurut saya,
08:45konflik ini, perang ini sudah makin kemana-mana,
08:48sehingga ada kebutuhan kontekstual
08:50bangsa Indonesia, bahkan bangsa manapun,
08:53untuk bersikap.
08:54Karena itu tidak relevan.
08:56Apalagi ini udah bulan puasa.
08:58Ada niat baik,
08:59nggak kamu buantu.
09:01Siapapun yang bisa mau bantu,
09:02mau Pak Dian,
09:03mau Pak Agung,
09:04mau Pak Andi,
09:04menurut saya,
09:05kita harus buka sekarang.
09:06Jadi, mana yang masuk akal untuk Indonesia Kucampur?
09:08Melalui BOP,
09:09OKI,
09:10atau bukan PBB?
09:11Nah, itu tadi Pak Dian sudah sampaikan.
09:13Kalau kita betul-betul masih komit dengan pendekatan kelembagaan,
09:16mungkin PBB sampai sekarang akan jadi rujukan.
09:19Masalahnya kita menghadapi situasi yang
09:22PBB nggak dihormati.
09:23Bukan oleh kita lho.
09:24Bukan oleh Iran.
09:25Iran menghormati PBB.
09:26Tapi justru yang tidak menghormati PBB adalah
09:29mereka yang katakanlah menjadi anggota Dewan Tetap Keamanan PBB itu.
09:32Tapi yang dianggap meninggalkan justru BOP kan?
09:35Itu lagi-lagi balik ke pasal telur dan ayam lagi nanti.
09:39Saya tidak mau masuk di situ.
09:40Justru saya ingin mengkongkritkan tadi
09:42bagaimana kita bisa mengoptimalkan formula untuk mediator.
09:45Saya di tempat lain mengusulkan kuartet, Pak Dian.
09:49Yang pertama adalah,
09:50karena ini presiden kita sudah mengusulin,
09:53oke lah, monggo kalau mau mengusulin itu.
09:55Tapi secara analisis kita tambah dengan beberapa negara lain.
09:58Yang pertama adalah Turki.
09:59Saya sampaikan kenapa Turki?
10:01Karena Turki ini kekuatan di regional
10:03yang sekarang masuk ke semua.
10:05Terutama dengan Trump dia masuk,
10:07dengan Iran dia masuk.
10:09Yang ketiga, penting dilibatkan dari teluk.
10:11Walaupun Oman mungkin sakit hati karena diserang,
10:15tapi sekali lagi teluk punya fakta,
10:17punya sejarah terlibat dalam mediasi.
10:20Dan yang keempat, yang disebut Pak Dian,
10:22salah satu dari Cina atau Rusia.
10:23Karena ini yang faktanya sekarang punya akses ke Iran,
10:26dan juga punya akses ke Amerika dan Israel.
10:29Oke, nanti kita lanjutkan lagi.
10:31Boleh rasgah ke lembar, saudara.
10:42Senat Amerika Serikat menolak resolusi
Komentar