Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 jam yang lalu


JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto mengaku siap menjadi mediator atau juru damai dalam konflik antara Iran vs Amerika Serikat (AS)-Israel.

Guru Besar Geopolitik Timur Tengah Siti Mu'tiah menilai salah satu syarat utama bagi negara yang ingin menjadi mediator adalah bersikap netral dan tidak berpihak kepada salah satu pihak yang berkonflik.

Mantan Dubes RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, mempertanyakan urgensi Indonesia menawarkan diri sebagai mediator jika tidak ada permintaan langsung dari pihak yang berkonflik.

"Diminta enggak? Kalau enggak diminta jangan ngajuin diri. Artinya apa, kita sendiri harus menyadari apa kita pahami masalahnya," kata Dian dalam program BOLA LIAR, Jumat (6/3/2026).

Baca Juga Kata Pengamat Timur Tengah soal Posisi Indonesia di Board of Peace | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/655297/kata-pengamat-timur-tengah-soal-posisi-indonesia-di-board-of-peace-bola-liar



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/655298/prabowo-ingin-jadi-mediator-iran-vs-as-israel-eks-dubes-ri-kalau-tak-diminta-jangan-ajukan-diri
Transkrip
00:01Ya Anda kembali melihat saya ke Bu Siti, Bu Siti, jadi menurut Anda sendiri apakah Indonesia bisa diterima dengan tangan
00:08terbuka oleh kedua belah pihak sebagai mediator perang Iran?
00:12Ya syarat untuk menjadi mediator tuh yang pertama adalah dia harus netral ya dalam masalah ini dia tidak boleh memihak
00:21kepada salah satu yang sedang konflik.
00:23Sementara Indonesia tuh sudah bergabung dalam BOP yang disana ada Amerika dan Israel jadi kita itu sudah dianggap sebagai pemihak
00:33pada yang konflik salah satu pihak yang konflik jadi kita tidak memenuhi syarat sebagai negara yang netral ya dalam konflik
00:41ini.
00:42Kemudian yang kedua bahwa kita syarat yang berikutnya adalah harus diterima kedua belah pihak.
00:49Saya yakin Iran jadi sanksi kepada Indonesia untuk menerima Indonesia sebagai mediator karena sudah tadi keperbiakan Indonesia itu ya.
01:00Yang ketiga adalah kalau ini secara teori ya bahwa setiap perundingan itu bisa dilakukan kalau ada momentum yang tepat.
01:10Momentum itu waktu yang tepat.
01:12Sementara sekarang ini perang itu baru dalam puncak-puncaknya ya.
01:18Jadi Indonesia harus bisa mencari momentum untuk mengajak perunding berubah.
01:24Sudah kalau memang kita ingin berunding ya jadi momentum itu bisa diciptakan atau bisa tiba-tiba ada sendiri ya seperti
01:32kita bisa berunding dengan gerakan Aceh Merdeka itu kan momentumnya tsunami ya kan.
01:38Kemudian Pak SBY itu jadi mudah mengajak mereka berunding.
01:42Itu momentum yang natural tapi sebetulnya momentum itu bisa diciptakan.
01:47Amerika Serikat itu menghentikan peran dunia kedua mencari membuat Jepang mau berunding itu kan dengan menjatuhkan bom di Hiroshima dan
01:56Nagasaki.
01:57Itu juga momentum yang tepat untuk supaya Jepang mau give up, mau menyerah ya.
02:05Momentum dan caranya masuk ke Indonesia Bu Siti?
02:09Kalau momentum kita mungkin bisa menggunakan yang jalur OKI.
02:13Jadi organisasi kerjasama Islam ini masih menunjukkan kerjasama yang baik gitu.
02:21Meskipun anggotanya itu punya hubungan yang tidak harmonis.
02:25Nah itulah yang mungkin yang bisa paling mungkin digunakan Indonesia.
02:29Indonesia itu masih diterima di dalam OKI dengan terbuka.
02:33Jadi kita itu bisa menggunakan OKI untuk menengai ini dulu Iran dengan negara-negara teluk yang dengan perang ini kan
02:45negara-negara teluk yang lain Qatar, Arab, Saudi, Oman dan lain sebagainya.
02:50Ini kan jadi tidak harmonis semakin tidak harmonis.
02:53Nah ini gunakan OKI untuk mendamaikan dulu dalam istilah Islam itu istilah.
02:58Ya dari kalau itu kewajiban bagi dalam ada namanya political Islam itu yang ada ajaran Islam.
03:07Kalau ada negara apa dua negara yang konflik terutama kalau itu negara menyangkut yang agamanya sama seperti Iran dengan negara
03:17-negara teluk itu kita berkewajiban untuk islah.
03:20Untuk mendamaikan ya mendamaikan yang sedang konflik.
03:23Tapi sekali lagi bahwa tidak mudah itu juga betul.
03:27Tapi masih ada peluangnya apa yang bisa Indonesia gunakan sebagai pijakan untuk jalan berunding gitu.
03:38Baik Pak Dian, Indonesia menaruhkan diri sebagai mediator.
03:42Anda melihatnya ini niat yang sungguh-sungguh atau cuma lempar wacana saja?
03:47Mungkin bisa saja niat yang sungguh-sungguh.
03:50Cuma pertanyaan dasarnya siapa yang minta?
03:53Nggak ada yang minta kok.
03:55Mas Sasrawi jangan ketawa-ketawa diminta enggak?
03:59Kalau nggak minta jangan nganjungan diri.
04:03Artinya apa?
04:04Untuk menjadi sini kita sendiri harus menyadari apa kita pahami sih masalahnya gitu loh.
04:09Orang masalah yang beredar aja belum tentu dipahami sepenuhnya kok.
04:13Buktinya, tadi Bu Profesor, maaf ya agak beda Bu Profesor.
04:18Kalau dikatakan mulai lagi, terpaksa saya mengulang.
04:22Kalau dikatakan mulai lagi dengan OKI lah segala macam, buat saya udah bukan paradigma lagi.
04:27Buat sebuah posisi Indonesia yang bisa dianggap sebagai leverage.
04:31OKI sudah, setengahnya udah ngakuin Israel.
04:35Sekarang sudah terlihat kok, 6-7 negara teluk itu sudah memihak kok.
04:40Gimana kita mau ngomong OKI?
04:42Gimana kita mau ngomong om blok?
04:44Kalau dulu kita di ASEAN saja, waktu awal-awal berdirinya ASEAN dan kita ikut mendirikan,
04:49jelas kita ada tujuan.
04:51Kawasan ASEAN masih jadi zone of conflict.
04:54Dengan berdirinya ASEAN kita bisa merubah jadi zone of cooperation.
04:58Kenapa? Peran Indonesia sebagai negara yang baru muncul, order baru waktu itu,
05:02benar-benar menunjukkan perhatiannya.
05:04ASEAN dengan Indonesia di depan bisa menyelesaikan masalah Mindanao di Filipina Selatan.
05:11Bisa menyelesaikan perang saudara Kamboja yang ada tiga paksi bertempur itu.
05:16Sekarang apa yang bisa kita lakukan?
05:18Maaf Bu Profesor, negara Islam.
05:23Boleh saya menyelesaikan sebentar, itu alternatif Pak.
05:26Jadi kalau ini sebuahnya buntu, alternatif yang paling mungkin kan lewat OKI.
05:32Mau lewat apa gitu ya.
05:34Jadi itu memang tidak pilihan yang bagus, tapi di antara pilihan yang ada.
05:39Itu paling masuk akal OKI karena Bu Menlu Retno itu,
05:44Bu Menlu Retno kan dipercaya untuk menjadi jurubicara OKI dengan yang akan untuk menyelesaikan Gaza ya.
05:54Jadi itu alternatif yang paling mungkin.
05:57Memang itu susah dan OKI pun sudah.
06:00Tetapi alternatif apa yang bisa kita gunakan kalau kita ingin menjadi penengah?
06:05Bu Siti, mana yang lebih masuk akal?
06:08Melalui OKI, BOP, atau PBB bahkan?
06:12Lebih masuk akal mana?
06:13Ya, itu alternatifnya itu kalau disuruh ketiga untuk memilih,
06:18memang PBB itu adalah tata kelola internasional yang harus diandalkan oleh semua negara.
06:25Siapapun yang melanggar tata kelola internasional itu idealnya kita mengajukan keberatan.
06:32Dan kalau Indonesia mau menggunakan untuk menjadi penengah ya gunakan majelis umum PBB ya
06:40supaya ada sidang darurat untuk, sidang darurat PBB untuk membicarakan ini.
06:47Itu alternatif kan kita, kalau semua tertuput ya sudah.
06:52Tidak usah ada di sebuah hari ini kan.
06:55Jadi, Profesor, maaf nih Ibu.
06:57Saya gantian menyelah maksudnya.
07:01Ya, mohon kau, Pak.
07:02Besok kita ketemu, kan?
07:05Bisa dilanjutkan besok.
07:07Ibu, kenapa saya katakan non-blok atau OKI
07:10sudah bukan atribut lagi untuk menjadi sebuah leverage buat Indonesia?
07:15Tadi Ibu bilang, kita negara Islam,
07:17mestinya kita bisa merangkul negara Islam.
07:19Ibu, yang menyelesaikan masalah hubungan diplomatik Iran dan Arab Saudi kan bukan non-blok, bukan OKI ya.
07:28Tapi Cina, Bu. Komunis, Bu.
07:30Kok bisa, Bu?
07:31Kita juga berperan.
07:34Masalahnya itu,
07:35jangan melihat kita pasti bisa.
07:39Negara lain banyak yang lebih bisa kali ini.
07:41Ibu, tadi bicara tentang momentum.
07:44Sekarang bukan momentumnya Indonesia.
07:46Sekarang momentumnya Indonesia benahi dalam negeri.
07:48Terima kasih.
07:49Oke.
07:50Silahkan, Mas Asrawi, langsung tunjukkan.
07:52Saya rasa kalau kita bicara dalam konteks Indonesia,
07:55terutama ini sudah masuk hari ke-7,
07:57ini penting disampaikan kepada publik bagaimana kita mestinya bersikap.
08:01Karena kecenderungan masyarakat kita ini sukanya dukung-mendukung.
08:05Jadi, kalau tadi saling selah, biasa itu.
08:07Pak Dian, di mana-mana.
08:08Bisa, ya.
08:09Yang penting tetap saling menghormati.
08:10Nah, oleh karena itu,
08:12saya, apa namanya ya,
08:15mengajak kita bersama,
08:16mungkin dalam hal ini,
08:17kalau pakai konsennya kompas,
08:19jangan menggunakan politik identitas.
08:22Kita penting menggunakan yang kita sebut sebagai perspektif kebangsaan.
08:26Jadi, kalau kita mau bersikap,
08:27jangan tarik ini kita warnanya ada di mana dengan siapa.
08:31Karena sekali lagi,
08:32itu akan membahayakan ke kita sendiri di sini.
08:35Akan selamat ini,
08:36kalau kita berpegangan kepada perspektif kebangsaan
08:39yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa kita.
08:41Yang kedua, tentang bagaimana kita bersikap.
08:44Menurut saya,
08:45konflik ini, perang ini sudah makin kemana-mana,
08:48sehingga ada kebutuhan kontekstual
08:50bangsa Indonesia, bahkan bangsa manapun,
08:53untuk bersikap.
08:54Karena itu tidak relevan.
08:56Apalagi ini udah bulan puasa.
08:58Ada niat baik,
08:59nggak kamu buantu.
09:01Siapapun yang bisa mau bantu,
09:02mau Pak Dian,
09:03mau Pak Agung,
09:04mau Pak Andi,
09:04menurut saya,
09:05kita harus buka sekarang.
09:06Jadi, mana yang masuk akal untuk Indonesia Kucampur?
09:08Melalui BOP,
09:09OKI,
09:10atau bukan PBB?
09:11Nah, itu tadi Pak Dian sudah sampaikan.
09:13Kalau kita betul-betul masih komit dengan pendekatan kelembagaan,
09:16mungkin PBB sampai sekarang akan jadi rujukan.
09:19Masalahnya kita menghadapi situasi yang
09:22PBB nggak dihormati.
09:23Bukan oleh kita lho.
09:24Bukan oleh Iran.
09:25Iran menghormati PBB.
09:26Tapi justru yang tidak menghormati PBB adalah
09:29mereka yang katakanlah menjadi anggota Dewan Tetap Keamanan PBB itu.
09:32Tapi yang dianggap meninggalkan justru BOP kan?
09:35Itu lagi-lagi balik ke pasal telur dan ayam lagi nanti.
09:39Saya tidak mau masuk di situ.
09:40Justru saya ingin mengkongkritkan tadi
09:42bagaimana kita bisa mengoptimalkan formula untuk mediator.
09:45Saya di tempat lain mengusulkan kuartet, Pak Dian.
09:49Yang pertama adalah,
09:50karena ini presiden kita sudah mengusulin,
09:53oke lah, monggo kalau mau mengusulin itu.
09:55Tapi secara analisis kita tambah dengan beberapa negara lain.
09:58Yang pertama adalah Turki.
09:59Saya sampaikan kenapa Turki?
10:01Karena Turki ini kekuatan di regional
10:03yang sekarang masuk ke semua.
10:05Terutama dengan Trump dia masuk,
10:07dengan Iran dia masuk.
10:09Yang ketiga, penting dilibatkan dari teluk.
10:11Walaupun Oman mungkin sakit hati karena diserang,
10:15tapi sekali lagi teluk punya fakta,
10:17punya sejarah terlibat dalam mediasi.
10:20Dan yang keempat, yang disebut Pak Dian,
10:22salah satu dari Cina atau Rusia.
10:23Karena ini yang faktanya sekarang punya akses ke Iran,
10:26dan juga punya akses ke Amerika dan Israel.
10:29Oke, nanti kita lanjutkan lagi.
10:31Boleh rasgah ke lembar, saudara.
10:42Senat Amerika Serikat menolak resolusi
Komentar

Dianjurkan