00:00Perang AS, Israel lawan Iran belum juga menunjukkan tanda-tanda meredah.
00:04Lalu sampai kapan perang akan berlangsung dan kira-kira siapa pihak yang punya posisi tawar untuk bisa mendamaikan mereka?
00:11Kita bahas bersama praktisi dan pengajar hubungan internasional dari Sinergi Polisis.
00:16Mbak Dina Prapta, selamat malam Mbak Dina.
00:19Selamat malam.
00:20Mbak Dina, Perang Amerika Serikat Israel menghadapi Iran belum juga surut nih, belum juga turun tensinya.
00:25Kira-kira siapa sebenarnya atau faktor apa yang bisa membuat deeskalasi?
00:33Pertama, dari pihak Iran tidak melihat ada niat baik ya dari Amerika Serikat.
00:40Kata-kata yang diontarkan dari pihak Amerika Serikat masih provokatif sifatnya.
00:46Dan di sana hari ini sudah muncul satu statement dari pihak Iran bahwa mereka justru mengharapkan
00:52ada pasukan darat yang diturunkan oleh Amerika Serikat sehingga bisa sekaligus diserang habis oleh Iran untuk menunjukkan kekuatannya.
01:01Berarti dalam situasi seperti sekarang, suasananya masih sangat panas.
01:06Mereka masih sangat saling ingin menguji.
01:08Dan kita lihat juga pemerintahan yang ada itu sepertinya tidak semuanya dibuka ke publik.
01:15Berarti misalnya tentang tingkat kerusakan yang terjadi di dalam Israel maupun juga yang terjadi di Iran.
01:23Itu tidak sepenuhnya kita tahu persis.
01:26Artinya memang kedua belah pihak betul-betul kali ini ingin menyelesaikannya lewat cara kekerasan.
01:31Itu sebabnya menurut saya kalau kita bicara soal timing, mediasi.
01:35Mediasi itu kan ada prosedur dan juga ada tata keramanya ya.
01:38Pertama ada dua belah pihak harus tahu rencananya itu ke depan mau dibawa kemana.
01:45Kemudian yang kedua timingnya juga mesti tepat.
01:48Memang kedua belah pihak sudah menginginkan exit strategy.
01:51Atau salah satulah minimal menginginkan exit strategy.
01:55Nah itu yang belum ada pertandanya saat ini.
01:58Oke, Mbak Dina ini kan sebelum perang ini kan Oman sempat menjadi fasilitator ya bagi kedua negara, Iran dan juga
02:04Amerika Serikat.
02:05Apakah ada kemungkinan kalau tadi Mbak Dina bilang belum ada nih kayaknya nampaknya timingnya tepat karena keduanya masih saling berbalas
02:12begitu.
02:13Apakah ada kemungkinan ini ketika Oman yang siap menjadi mediator akan terbuka bagi Iran dan juga Amerika untuk bernegosiasi?
02:23Yang sudah menyiapkan diplomasi kemudian juga menunjukkan sudah punya komunikasi, jalur komunikasi yang juga terhubung dengan situasi di lapangan.
02:36Itu ada Oman, ada China dan pihak Rusia juga sudah merasa punya komunikasi yang intens dengan pihak-pihak yang bertikai
02:46di Timur Tengah.
02:47Jadi menurut saya kondisinya disitu sudah dipantau dengan ketat oleh negara-negara tersebut.
02:53Jadi kalau dilihat dari segi kemauan, saya kira sebenarnya dari pihak Iran mungkin masih ada ruang untuk mereka mau bernegosiasi.
03:06Cuma pertanyaannya, justru kita belum pernah bertanya pihak Amerika Serikat ini mau nggak diajak negosiasi?
03:13Jadi yang menjadi puzzle saya, pertanyaan saya di dalam hati itu justru ketika Indonesia misalnya mengusulkan berangkat ke sana, berangkat
03:21ke Teheran,
03:22itu sebenarnya komunikasi dengan Presiden Trump belum?
03:26Apa rencana Presiden Trump dan memang mau nggak dimediasi oleh Amerika, Amerika Serikat mau nggak dimediasi oleh Indonesia?
03:33Apalagi kalau berangkatnya bersama dengan Pakistan. Pakistan juga anggota dari BOP dan baru saja dia menandatangani perjanjian pertahanan dengan Saudi
03:42Arabia.
03:43Artinya ini sangat Amerika gitu loh dipandang di mata Iran.
03:46Makanya saya nggak heran juga kalau dari pihak Iran kemudian menolak mentah-mentah ya untuk media.
03:52Nah oke berarti artinya Mbak Dinas sendiri melihat apakah ada kemungkinan faktor bahwa lihat dulu nih kira-kira siapa yang
04:00kemudian lelah begitu ya
04:01karena kan pasti untuk perang seperti ini ada serangan drone, rudal begitu ya ini kan membutuhkan biaya yang tidak sedikit
04:08juga begitu
04:08dan saya yakin juga mungkin kedua negara saat ini sama-sama rugi karena sudah mengeluarkan banyak uang untuk ke sana.
04:14Apakah ini artinya tinggal menunggu kira-kira kuat-kuatan siapa nih?
04:17Siapa yang paling lemah dan habis uang untuk perangnya ini?
04:21Kalau dilihat dari pengalaman di masa lalu ada dua kejadian di mana Amerika Serikat sebenarnya mau dimediasi.
04:28Pertama itu tahun 1914 dalam kejadian di Meksiko di mana Amerika Serikat di situ sebenarnya tidak terlalu ingin untuk terlibat
04:37dengan perang di Meksiko.
04:39Tapi karena ada doktrin Monroe yang waktu itu sudah dicanangkan di Amerika Serikat bahwa Amerika Selatan itu sejujurnya juga harus
04:46secara ideologis dikuasai oleh Amerika Serikat.
04:49Faktanya ternyata di lapangan di dalam negeri Amerika Serikat sendiri dananya juga tidak memadai ya untuk menguasai sebagaimana yang mereka
04:56rencanakan di awal.
04:57Sehingga peranan dari tiga negara waktu itu negara kawasan yang menjadi membentuk kualisi Argentina, Brazil, dan Chile itu disambut baik.
05:08Dengan catatan bahwa disampaikan ke publik yang dimediasi itu adalah si Meksikonya.
05:14Dan proses itu berjalan relatif cepat sekitar enam bulan karena memang Amerika Serikat ternyata memang ingin keluar dan di dalam
05:21negeri itu terjadi pergantian regime sesuai harapan Amerika Serikat.
05:25Tapi kuncinya disitu adalah menjaga stabilitas.
05:28Dan yang menjaga stabilitas tidak bisa satu negara, tiga negara di kawasan.
05:32Sementara kasus yang agak panjang itu yang Taliban.
05:36Waktu itu yang menjadi mediator zaman Trump jilis satu itu adalah Qatar.
05:42Jadi Qatar menjadi mediator antara Taliban di Afganistan dengan Donald Trump di Amerika Serikat.
05:48Dan itu terjadi lagi-lagi karena di dalam negeri Amerika Serikat ada momentum yang dibaca dengan cermat betul oleh Qatar.
05:55Waktu itu ada impeachment terhadap Donald Trump.
05:58Kalau sekarang?
05:59Nah, kalau sekarang saya lihat sebenarnya Amerika Serikat kita tinggal tunggu beberapa waktu lagi.
06:05Tapi tetap groundwork harus dikerjakan ya.
06:09Qatar misalnya, Qatar itu dia menyediakan banyak hal, fasilitas track 1, track 2 untuk mendekati pihak Taliban.
06:20Bahkan Taliban kan dibukakan kantor di Doha.
06:23Jadi dari segi pendanaan, dari segi sumber daya manusia itu besar yang diinvestasikan Qatar.
06:29Mbak Dina, tapi kalau untuk sekarang kira-kira negara mana yang mungkin ya yang bisa diterima oleh kedua belah pihak
06:38begitu ya.
06:38Termasuk juga dengan Israel, tiga belah pihak begitu yang mungkin realistis.
06:42Apakah Indonesia atau negara lain yang mungkin?
06:44Atau jangan-jangan PBB yang bisa?
06:46Kalau saya lihat sih saat ini mungkin yang cukup realistis itu adalah entah negara tetangga seperti Oman.
06:56Kemudian Qatar kita nggak tahu ya, dia sudah ada komunikasi di dalam lagi lebih lanjut dengan pihak Iran atau tidak.
07:03Tapi kalau dilihat dengan begitu kerasnya Amerika Serikat sekarang, mungkin juga satu potensi yang bisa menenangkan itu justru ketika China
07:12dan Rusia
07:13bergerak lewat mekanisme entah Dewan Kawanan PBB atau mereka akan membangun satu koalisi di kawasan di sana.
07:22Nah sehingga suara-suara dari negara teluk yang selama ini belum pernah kita dengar itu justru bisa disuarakan oleh mereka.
07:30Nah itu menarik kalau terjadi seperti ini.
07:32Oke Mbak Dina, juga ada pengamat yang mengatakan bahwa jika Indonesia ingin mengambil peran,
07:36lebih baik mendekatkan kepada negara-negara yang tidak berkonflik, artinya di luar dari tiga negara tersebut begitu.
07:42Mungkin saja ke China dan juga Rusia, apakah mungkin yang paling positif untuk dilakukan Indonesia untuk mendamaikan perang ini?
07:49Apakah benar dengan mendekati China dan juga Rusia?
07:52Kalau saya melihatnya kita sebagai negara middle power, itu justru harusnya punya koalisi kerjasama dengan negara-negara sesama middle power.
08:02Kalau kita main sama Rusia, sama China dalam konteks ini kita out of league ya.
08:07Karena liganya beda gitu dan mereka juga pasti punya agenda sendiri di kawasan, karena di kawasan timur tengah.
08:14Dan cara mereka memandang konflik juga akan berbeda di kita.
08:17Saya sih merasa misalnya, kenapa tidak dicoba dengan sesama negara yang menjadi anggota BRICS yang lain.
08:24Kemudian juga kita bisa lihat negara ASEAN yang lain, yang juga sama-sama merasa punya kebutuhan untuk menjaga stabilitas harga
08:32energi,
08:33kemudian mobilitas manusia.
08:36Jadi kita bisa lihat dari sudut yang lain, karena kita sendiri nggak punya irisan langsung ya dengan Iran.
08:43Nah kalau gitu, Mbak Dina singkat saja kalau Trump bilang kan tidak ada batas waktu perang dengan Iran,
08:49meskipun sempat dikatakan ini bisa lebih lama dari 4 sampai 5 minggu.
08:52Lalu pertanyaan, seberapa besar Iran ini bisa bertahan?
08:57Saya kira Iran sudah mempertimbangkan segala hal kalau dilihat dari kampanye mereka baik di level pemerintahan maupun di masyarakat.
09:06Mereka sangat percaya diri bahwa mereka bisa menghadapi Israel maupun Amerika Serikat.
09:11Dan di sini kuncinya justru mereka menghantam negara-negara di sekitarnya atau si Israel.
09:19Dan yang menarik kita saksikan adalah justru negara-negara teluk ini tidak berani langsung menyerang balik ke Iran
09:26karena mereka juga menjaga stabilitas.
09:27Jadi inilah titik lemah yang sepertinya juga dibaca oleh Iran, hingga mereka masih percaya diri.
09:33Oke, masih percaya diri dan nampaknya juga perlu timing dan negara yang tepat ya untuk diterima semua negara Iran, Amerika
09:38dan juga Israel
09:39untuk bisa mudah-mudahan bernegosiasi dan perang tidak akan berlangsung lama, 4 sampai 5 minggu bahkan lebih.
09:46Terima kasih untuk ulasannya Mbak Dina Prapos, selamat malam.
09:49Terima kasih.
Komentar