Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Perang Amerika Serikat dan Israel versus Iran belum menunjukkan tanda tanda mereda. Sampai kapan perang akan berlangsung dan siapa pihak pihak yang punya posisi tawar untuk mendamaikan mereka? Kita akan bahas bersama praktisi dan pengajar hubungan internasional dari Synergi Policies.

#IRAN #as-israel #pakarHI

-

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Baca Juga Analis Pertahanan & Peneliti Imparsal soal Perang Iran vs AS-Israel Kian Sengit, Siapa Bertahan? di https://www.kompas.tv/internasional/655251/analis-pertahanan-peneliti-imparsal-soal-perang-iran-vs-as-israel-kian-sengit-siapa-bertahan



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/655252/full-pakar-hi-soal-konflik-iran-vs-as-israel-memanas-siapa-pihak-yang-bisa-jadi-mediator
Transkrip
00:00Perang AS, Israel lawan Iran belum juga menunjukkan tanda-tanda meredah.
00:04Lalu sampai kapan perang akan berlangsung dan kira-kira siapa pihak yang punya posisi tawar untuk bisa mendamaikan mereka?
00:11Kita bahas bersama praktisi dan pengajar hubungan internasional dari Sinergi Polisis.
00:16Mbak Dina Prapta, selamat malam Mbak Dina.
00:19Selamat malam.
00:20Mbak Dina, Perang Amerika Serikat Israel menghadapi Iran belum juga surut nih, belum juga turun tensinya.
00:25Kira-kira siapa sebenarnya atau faktor apa yang bisa membuat deeskalasi?
00:33Pertama, dari pihak Iran tidak melihat ada niat baik ya dari Amerika Serikat.
00:40Kata-kata yang diontarkan dari pihak Amerika Serikat masih provokatif sifatnya.
00:46Dan di sana hari ini sudah muncul satu statement dari pihak Iran bahwa mereka justru mengharapkan
00:52ada pasukan darat yang diturunkan oleh Amerika Serikat sehingga bisa sekaligus diserang habis oleh Iran untuk menunjukkan kekuatannya.
01:01Berarti dalam situasi seperti sekarang, suasananya masih sangat panas.
01:06Mereka masih sangat saling ingin menguji.
01:08Dan kita lihat juga pemerintahan yang ada itu sepertinya tidak semuanya dibuka ke publik.
01:15Berarti misalnya tentang tingkat kerusakan yang terjadi di dalam Israel maupun juga yang terjadi di Iran.
01:23Itu tidak sepenuhnya kita tahu persis.
01:26Artinya memang kedua belah pihak betul-betul kali ini ingin menyelesaikannya lewat cara kekerasan.
01:31Itu sebabnya menurut saya kalau kita bicara soal timing, mediasi.
01:35Mediasi itu kan ada prosedur dan juga ada tata keramanya ya.
01:38Pertama ada dua belah pihak harus tahu rencananya itu ke depan mau dibawa kemana.
01:45Kemudian yang kedua timingnya juga mesti tepat.
01:48Memang kedua belah pihak sudah menginginkan exit strategy.
01:51Atau salah satulah minimal menginginkan exit strategy.
01:55Nah itu yang belum ada pertandanya saat ini.
01:58Oke, Mbak Dina ini kan sebelum perang ini kan Oman sempat menjadi fasilitator ya bagi kedua negara, Iran dan juga
02:04Amerika Serikat.
02:05Apakah ada kemungkinan kalau tadi Mbak Dina bilang belum ada nih kayaknya nampaknya timingnya tepat karena keduanya masih saling berbalas
02:12begitu.
02:13Apakah ada kemungkinan ini ketika Oman yang siap menjadi mediator akan terbuka bagi Iran dan juga Amerika untuk bernegosiasi?
02:23Yang sudah menyiapkan diplomasi kemudian juga menunjukkan sudah punya komunikasi, jalur komunikasi yang juga terhubung dengan situasi di lapangan.
02:36Itu ada Oman, ada China dan pihak Rusia juga sudah merasa punya komunikasi yang intens dengan pihak-pihak yang bertikai
02:46di Timur Tengah.
02:47Jadi menurut saya kondisinya disitu sudah dipantau dengan ketat oleh negara-negara tersebut.
02:53Jadi kalau dilihat dari segi kemauan, saya kira sebenarnya dari pihak Iran mungkin masih ada ruang untuk mereka mau bernegosiasi.
03:06Cuma pertanyaannya, justru kita belum pernah bertanya pihak Amerika Serikat ini mau nggak diajak negosiasi?
03:13Jadi yang menjadi puzzle saya, pertanyaan saya di dalam hati itu justru ketika Indonesia misalnya mengusulkan berangkat ke sana, berangkat
03:21ke Teheran,
03:22itu sebenarnya komunikasi dengan Presiden Trump belum?
03:26Apa rencana Presiden Trump dan memang mau nggak dimediasi oleh Amerika, Amerika Serikat mau nggak dimediasi oleh Indonesia?
03:33Apalagi kalau berangkatnya bersama dengan Pakistan. Pakistan juga anggota dari BOP dan baru saja dia menandatangani perjanjian pertahanan dengan Saudi
03:42Arabia.
03:43Artinya ini sangat Amerika gitu loh dipandang di mata Iran.
03:46Makanya saya nggak heran juga kalau dari pihak Iran kemudian menolak mentah-mentah ya untuk media.
03:52Nah oke berarti artinya Mbak Dinas sendiri melihat apakah ada kemungkinan faktor bahwa lihat dulu nih kira-kira siapa yang
04:00kemudian lelah begitu ya
04:01karena kan pasti untuk perang seperti ini ada serangan drone, rudal begitu ya ini kan membutuhkan biaya yang tidak sedikit
04:08juga begitu
04:08dan saya yakin juga mungkin kedua negara saat ini sama-sama rugi karena sudah mengeluarkan banyak uang untuk ke sana.
04:14Apakah ini artinya tinggal menunggu kira-kira kuat-kuatan siapa nih?
04:17Siapa yang paling lemah dan habis uang untuk perangnya ini?
04:21Kalau dilihat dari pengalaman di masa lalu ada dua kejadian di mana Amerika Serikat sebenarnya mau dimediasi.
04:28Pertama itu tahun 1914 dalam kejadian di Meksiko di mana Amerika Serikat di situ sebenarnya tidak terlalu ingin untuk terlibat
04:37dengan perang di Meksiko.
04:39Tapi karena ada doktrin Monroe yang waktu itu sudah dicanangkan di Amerika Serikat bahwa Amerika Selatan itu sejujurnya juga harus
04:46secara ideologis dikuasai oleh Amerika Serikat.
04:49Faktanya ternyata di lapangan di dalam negeri Amerika Serikat sendiri dananya juga tidak memadai ya untuk menguasai sebagaimana yang mereka
04:56rencanakan di awal.
04:57Sehingga peranan dari tiga negara waktu itu negara kawasan yang menjadi membentuk kualisi Argentina, Brazil, dan Chile itu disambut baik.
05:08Dengan catatan bahwa disampaikan ke publik yang dimediasi itu adalah si Meksikonya.
05:14Dan proses itu berjalan relatif cepat sekitar enam bulan karena memang Amerika Serikat ternyata memang ingin keluar dan di dalam
05:21negeri itu terjadi pergantian regime sesuai harapan Amerika Serikat.
05:25Tapi kuncinya disitu adalah menjaga stabilitas.
05:28Dan yang menjaga stabilitas tidak bisa satu negara, tiga negara di kawasan.
05:32Sementara kasus yang agak panjang itu yang Taliban.
05:36Waktu itu yang menjadi mediator zaman Trump jilis satu itu adalah Qatar.
05:42Jadi Qatar menjadi mediator antara Taliban di Afganistan dengan Donald Trump di Amerika Serikat.
05:48Dan itu terjadi lagi-lagi karena di dalam negeri Amerika Serikat ada momentum yang dibaca dengan cermat betul oleh Qatar.
05:55Waktu itu ada impeachment terhadap Donald Trump.
05:58Kalau sekarang?
05:59Nah, kalau sekarang saya lihat sebenarnya Amerika Serikat kita tinggal tunggu beberapa waktu lagi.
06:05Tapi tetap groundwork harus dikerjakan ya.
06:09Qatar misalnya, Qatar itu dia menyediakan banyak hal, fasilitas track 1, track 2 untuk mendekati pihak Taliban.
06:20Bahkan Taliban kan dibukakan kantor di Doha.
06:23Jadi dari segi pendanaan, dari segi sumber daya manusia itu besar yang diinvestasikan Qatar.
06:29Mbak Dina, tapi kalau untuk sekarang kira-kira negara mana yang mungkin ya yang bisa diterima oleh kedua belah pihak
06:38begitu ya.
06:38Termasuk juga dengan Israel, tiga belah pihak begitu yang mungkin realistis.
06:42Apakah Indonesia atau negara lain yang mungkin?
06:44Atau jangan-jangan PBB yang bisa?
06:46Kalau saya lihat sih saat ini mungkin yang cukup realistis itu adalah entah negara tetangga seperti Oman.
06:56Kemudian Qatar kita nggak tahu ya, dia sudah ada komunikasi di dalam lagi lebih lanjut dengan pihak Iran atau tidak.
07:03Tapi kalau dilihat dengan begitu kerasnya Amerika Serikat sekarang, mungkin juga satu potensi yang bisa menenangkan itu justru ketika China
07:12dan Rusia
07:13bergerak lewat mekanisme entah Dewan Kawanan PBB atau mereka akan membangun satu koalisi di kawasan di sana.
07:22Nah sehingga suara-suara dari negara teluk yang selama ini belum pernah kita dengar itu justru bisa disuarakan oleh mereka.
07:30Nah itu menarik kalau terjadi seperti ini.
07:32Oke Mbak Dina, juga ada pengamat yang mengatakan bahwa jika Indonesia ingin mengambil peran,
07:36lebih baik mendekatkan kepada negara-negara yang tidak berkonflik, artinya di luar dari tiga negara tersebut begitu.
07:42Mungkin saja ke China dan juga Rusia, apakah mungkin yang paling positif untuk dilakukan Indonesia untuk mendamaikan perang ini?
07:49Apakah benar dengan mendekati China dan juga Rusia?
07:52Kalau saya melihatnya kita sebagai negara middle power, itu justru harusnya punya koalisi kerjasama dengan negara-negara sesama middle power.
08:02Kalau kita main sama Rusia, sama China dalam konteks ini kita out of league ya.
08:07Karena liganya beda gitu dan mereka juga pasti punya agenda sendiri di kawasan, karena di kawasan timur tengah.
08:14Dan cara mereka memandang konflik juga akan berbeda di kita.
08:17Saya sih merasa misalnya, kenapa tidak dicoba dengan sesama negara yang menjadi anggota BRICS yang lain.
08:24Kemudian juga kita bisa lihat negara ASEAN yang lain, yang juga sama-sama merasa punya kebutuhan untuk menjaga stabilitas harga
08:32energi,
08:33kemudian mobilitas manusia.
08:36Jadi kita bisa lihat dari sudut yang lain, karena kita sendiri nggak punya irisan langsung ya dengan Iran.
08:43Nah kalau gitu, Mbak Dina singkat saja kalau Trump bilang kan tidak ada batas waktu perang dengan Iran,
08:49meskipun sempat dikatakan ini bisa lebih lama dari 4 sampai 5 minggu.
08:52Lalu pertanyaan, seberapa besar Iran ini bisa bertahan?
08:57Saya kira Iran sudah mempertimbangkan segala hal kalau dilihat dari kampanye mereka baik di level pemerintahan maupun di masyarakat.
09:06Mereka sangat percaya diri bahwa mereka bisa menghadapi Israel maupun Amerika Serikat.
09:11Dan di sini kuncinya justru mereka menghantam negara-negara di sekitarnya atau si Israel.
09:19Dan yang menarik kita saksikan adalah justru negara-negara teluk ini tidak berani langsung menyerang balik ke Iran
09:26karena mereka juga menjaga stabilitas.
09:27Jadi inilah titik lemah yang sepertinya juga dibaca oleh Iran, hingga mereka masih percaya diri.
09:33Oke, masih percaya diri dan nampaknya juga perlu timing dan negara yang tepat ya untuk diterima semua negara Iran, Amerika
09:38dan juga Israel
09:39untuk bisa mudah-mudahan bernegosiasi dan perang tidak akan berlangsung lama, 4 sampai 5 minggu bahkan lebih.
09:46Terima kasih untuk ulasannya Mbak Dina Prapos, selamat malam.
09:49Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan