JAKARTA, KOMPAS.TV - Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menurunkan outlook utang RI dari stabil ke negatif. Pemerintah pun merespons dan bilang akan mempelajarinya.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bilang ekonomi terpengaruh bukan hanya oleh Fitch, tapi juga oleh perang.
Meski demikian, Airlangga menyatakan akan mempelajari yang jadi fokus pertimbangan Fitch dalam menurunkan outlook, termasuk terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap akan membebani APBN pemerintah dalam jangka panjang.
Menurut Airlangga, justru Bank Dunia serta Rockefeller Institute of Government melihat investasi pemerintah di MBG menghasilkan nilai tambah ke ekonomi Indonesia sebesar 7 kali lipat.
Menurut Airlangga Hartarto, program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia.
Sebelumnya, lembaga pemeringkat kredit internasional Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, peringkat utang jangka panjang Indonesia tetap berada di level layak investasi.
Dalam laporan resmi Fitch Ratings, penyesuaian outlook ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terhadap konsistensi serta kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia.
Kondisi ini berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, dan memberi tekanan pada penyangga eksternal.
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menurunkan outlook utang RI dari stabil ke negatif dengan rasio utang RI sebesar 41 persen pada 2026, tertinggi sejak pandemi 2021. Apa ini sudah jadi alarm waspada?
Kita bahas bersama ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Baca Juga Pemkab Semarang Siapkan 2,6 Hektare Lahan Huntara untuk Warga Terdampak Longsor | SAPA PAGI di https://www.kompas.tv/regional/655076/pemkab-semarang-siapkan-2-6-hektare-lahan-huntara-untuk-warga-terdampak-longsor-sapa-pagi
#utang #uang #ekonomi #kompastv
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/655084/full-rasio-utang-ri-diproyeksi-naik-peringatan-fitch-serius-sapa-pagi
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bilang ekonomi terpengaruh bukan hanya oleh Fitch, tapi juga oleh perang.
Meski demikian, Airlangga menyatakan akan mempelajari yang jadi fokus pertimbangan Fitch dalam menurunkan outlook, termasuk terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap akan membebani APBN pemerintah dalam jangka panjang.
Menurut Airlangga, justru Bank Dunia serta Rockefeller Institute of Government melihat investasi pemerintah di MBG menghasilkan nilai tambah ke ekonomi Indonesia sebesar 7 kali lipat.
Menurut Airlangga Hartarto, program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia.
Sebelumnya, lembaga pemeringkat kredit internasional Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, peringkat utang jangka panjang Indonesia tetap berada di level layak investasi.
Dalam laporan resmi Fitch Ratings, penyesuaian outlook ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terhadap konsistensi serta kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia.
Kondisi ini berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, dan memberi tekanan pada penyangga eksternal.
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menurunkan outlook utang RI dari stabil ke negatif dengan rasio utang RI sebesar 41 persen pada 2026, tertinggi sejak pandemi 2021. Apa ini sudah jadi alarm waspada?
Kita bahas bersama ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Baca Juga Pemkab Semarang Siapkan 2,6 Hektare Lahan Huntara untuk Warga Terdampak Longsor | SAPA PAGI di https://www.kompas.tv/regional/655076/pemkab-semarang-siapkan-2-6-hektare-lahan-huntara-untuk-warga-terdampak-longsor-sapa-pagi
#utang #uang #ekonomi #kompastv
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/655084/full-rasio-utang-ri-diproyeksi-naik-peringatan-fitch-serius-sapa-pagi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:09Intro
00:14Anda menyaksikan Kompas Bisnis, saudara bersama saya, Yan Rahman.
00:18Ada informasi dari lembaga pemeringkat Rich Rating yang menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil ke negatif.
00:24Pemerintah pun merespons dan bilang akan mempelajarinya.
00:30Menko Perekonomian Erlangga Hartarto bilang, ekonomi terpengaruh bukan hanya oleh Fitch, tapi juga oleh perang.
00:38Meski demikian, Erlangga menyatakan akan mempelajari yang jadi fokus pertimbangan Fitch dalam menurunkan outlook,
00:45termasuk terhadap program makan bergizi gratis alias MBG yang dianggap akan membani APBN pemerintah dalam jangka panjang.
00:54Menurut Erlangga, justru Bank Dunia serta Rockefeller Institute of Government melihat investasi pemerintah di MBG
01:01menghasilkan nilai tambah ke ekonomi Indonesia sebesar tujuh kali lipat.
01:08Menurut Erlangga, program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia.
01:18Ekonomi dunia semuanya terpengaruh bukan hanya oleh Fitch, tetapi oleh perang.
01:23Jadi memang dunia ini outlooknya lagi diperkirakan akan banyak perubahan dengan perkembangan di Timur Tengah,
01:33tetapi yang penting kan Indonesia tetap investment grade.
01:36Nah ke depan tentu apa yang menjadi warning Fitch itu kita pelajari,
01:42itu untuk mengingatkan Indonesia apa yang harus kita pelajari ke depan.
01:47Dan tentu beberapa hal yang kita lihat perlu kita perkuat adalah di segi penerimaan.
01:57Nah pemerintah sudah paham itu,
01:59dan oleh karena itu salah satunya adalah dengan kortex yang kemarin sudah didorong di Kementerian Keuangan.
02:07Nah kita akan terus kawal aja kortex ini agar rasio teks kita bisa kita tingkatkan.
02:16Sebelumnya lembaga pemeringkat kredit internasional Fitch Rating
02:20merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.
02:24Meski demikian, peringkat utang jangka panjang Indonesia tetap berada di level layak investasi.
02:30Dalam laporan resmi Fitch Ratings,
02:33penyesuaian outlook ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan
02:37dan kekhawatiran terhadap konsistensi serta kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia.
02:43Kondisi ini berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah,
02:48melemahkan sentimen investor, dan memberi tekanan pada penyangga eksternal.
02:57Sebelum Fitch, ada Moody's yang juga menurunkan outlook terhadap pasar utang Indonesia.
03:02Dalam rilis Moody's menyebutkan perubahan ini mencerminkan kebijakan yang makin sulit ditebak.
03:08Khawatiran terhadap tata kelola dan meningkatnya ketidakpastian yang bisa mempengaruhi kepercayaan investor.
03:14Sementara S&P yang akan kemungkinan ini akan memperbarui rating pada Juli nanti
03:21menilai terdapat potensi penurunan peringkat apabila defisit APBN melampaui ambang batas 3% terhadap PDB.
03:29Di sisi lain, Japan Credit Rating Agency serta Rating and Investment Information
03:35masih menempatkan outlook RI di stabil kemungkinan akan mengupdate peringkat pada akhir tahun ini.
03:46Saudara, dalam 10 tahun terakhir pertumbuhan utang pemerintah jauh lebih kencang dibandingkan laju ekonomi.
03:53Kondisi ini mencerminkan beban utang relatif terhadap kapasitas ekonomi makin besar.
03:57Menurut data Direkturat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan,
04:02utang pemerintah telah melonjak dari masa pandemi di tahun 2020 sebesar Rp6.079 triliun
04:10menjadi Rp9.637,9 triliun pada 2025.
04:17Utang saat pandemi ditempuh karena kejadian luar biasa, misinya penyelamatan nyawa manusia.
04:24Dari grafik ini, utang pemerintah naik sebesar Rp3.588 triliun atau 58,5% sejak pandemi.
04:39Sementara itu, saudara, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat tertekan selama sepekan terakhir
04:44sejak serangan Amerika Serikat Israel ke Iran disusul ditutupnya Selat Hormuz yang membuat permintaan dolar terus meningkat.
04:51Ditambah diturunkannya Outlook RI oleh Fitch Ratings.
04:55Pada 26 Februari, rupiah masih di level Rp16.758 per dolar dan kian melemah hingga ke Rp16.911 per dolar
05:05pada hari Kamis.
05:06Namun rupiah terpantau menguat pada penutupan perdagangan di level Rp16.886.
05:18Sedangkan, saudara, IHSG juga menguat tipis 1,76% ke level Rp7.710 pada penutupan perdagangan hari Kamis dibanding sehari
05:28sebelumnya di Rp7.577.
05:30Sebelumnya selama sepekan, IHSG yang masih berada di level Rp8.235 ini pada penutupan perdagangan pekan lalu turun lebih dari
05:409% pada Rabu kemarin.
05:49Fitch Ratings memproyeksikan rasio utang RI sebesar 41% terhadap PDB pada 2026.
05:552026, bunga utang juga jadi beban. Apa ini sudah jadi alarm waspada?
06:01Usah jeda, Kompas Bisnis akan membahasnya lebih lengkap untuk Anda. Tetaplah bersama kami.
06:25Anda masih bersama kami di Kompas Bisnis, saudara, bersama saya, Yan Rahman.
06:28Lembaga pemberingkat Fitch Ratings menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil ke negatif.
06:34Dengan rasio utang RI ini sebesar 41% pada tahun 2026, tertinggi sejak pandemi 2021.
06:42Apa ini sudah jadi alarm waspada? Kita bahas bersama ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin.
06:48Pak Wijah, selamat pagi.
06:50Pagi, Mas Yan. Pagi.
06:52Pak Wijah, menurut Anda ini kan Fitch Ratings menurunkan outlook utang RI dari stabil ke negatif.
06:57Kemudian, di sisi lain, pemerintah bilang fundamental ekonomi kita bagus.
07:01Analisis Anda, masalahnya sebetulnya di mana?
07:04Ya, pertama, kita harus mengapresiasi pemerintah ya.
07:07Merespon, Fitch ini bagus. Tidak ada unsur denial.
07:11Berbeda ketika merespon Moody's beberapa waktu yang lalu.
07:15Jadi kita apresiasi.
07:16Yang kedua, ya memang kita harus pahami, pemerintah ini kan supplier optimism.
07:21Pemerintah tidak boleh pesimis.
07:23Tetapi, dibalik optimism itu kan kita juga harus melihat fakta-fakta yang harus dijadikan fokus untuk diperbaiki.
07:32Kalau kita berbicara fundamental ekonomi kuat, ini kan memasukkan unsur tingkat pengangguran, kemudian tingkat kemiskinan, dan lain sebagainya.
07:41Tapi kalau kita berbicara Fitch, ini kan fokus kepada kemampuan pemerintah membayar hutang.
07:47Jadi fokusnya di situ.
07:48Jadi lebih banyak kepada aspek fiskal.
07:52Jadi kalau kita bedah fundamental fiskal kita, memang banyak isu, banyak permasalahan yang harus diperbaiki.
08:00Contoh kasus, tahun lalu defisit kita 2,92% PDB.
08:05Ini merupakan yang tertinggi pasca reformasi, hanya kalah dibanding 2 tahun pada saat COVID.
08:13Tapi COVID kan ini krisis besar ya.
08:16Kemudian Januari kemarin, defisit sudah 0,21% PDB.
08:22Sudah 54 triliun.
08:24Jadi sangat layak, sangat wajar ketika Fitch juga menurunkan outlook dari stabil menuju negatif.
08:32Karena realitanya memang kemampuan kita untuk membayar hutang sedikit terganggu.
08:40Pak Wije, baik kita apresiasi begitu pemerintah yang memang merespon dari concern dari Fitch Rating ini dengan bilang akan mempelajarinya.
08:49Namun, teguran dari asing ini bukan kali pertama.
08:52Sebelumnya ada mudis begitu dengan kurang lebih concernnya sama.
08:55Apakah mempelajari divis itu sebetulnya sudah harusnya dilakukan pada saat mudis?
09:00Kenapa saat ini jadi jawabannya tetap mempelajari ya Pak?
09:05Jadi kalau kita lihat memang sebelum mudis pun para pengamat, para ekonom sudah memberikan warning.
09:12Termasuk ekonom yang terlibat dalam aliansi ekonom Indonesia dengan tujuh desakan.
09:17Apa yang disampaikan oleh mudis, apa yang disampaikan oleh Fitch itu merefleksikan hal yang kurang lebih sama.
09:23Tapi ya kita bersyukurlah ada lembaga internasional yang ikut menyuarakan sehingga pemerintah merespon.
09:30Memang Mas Yan, kalau kita lihat permasalahan kita itu mayoritas permasalahan struktural.
09:37Jadi perlu waktu panjang untuk bisa memperbaiki ini.
09:42Untuk meningkatkan teks rasio, untuk mengurangi ketergantungan hutang.
09:46Itu tidak bisa setahun dua tahun, mungkin lima tahun bahkan lebih.
09:50Nah ketika pemerintah mengatakan akan mempelajari, saya rasa ini jawaban diplomatis.
09:56Karena sebenarnya pemerintah sudah tahu apa yang harus dilakukan.
10:00Tapi masukan dari Fitch dan mudis ini merupakan dorongan untuk segera memprioritaskan langkah.
10:07Kalau kita bedah begitu ya Pak Wijah, apa yang menjadi concern dan juga rilis dari Fitch Rating.
10:12Ini kan menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan,
10:15serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan juga kredibilitas kebijakan Indonesia.
10:20Apakah ini lagi-lagi perkara soal transparansi Pak?
10:25Transparansi satu hal, tapi yang lebih penting dari itu adalah policy making prosesnya.
10:30Jadi bagaimana kebijakan itu dibuat?
10:33Ada kecenderungan pemerintah kita itu mengeluarkan kebijakan dengan instan.
10:38Basisnya insting.
10:40Tidak ada kalkulasinya.
10:42Tidak ada basis datanya.
10:45Nah ini yang merupakan kritik tidak hanya dari dua rating agency itu,
10:50tapi juga para pengamat nasional sendiri sudah selalu menyuarakan itu.
10:55Jadi menurut saya proses penyusunan kebijakan,
11:00kemudian lebih lagi dari itu adalah implementasi dari kebijakan.
11:03Salah satu PR terbesar pemerintah saat ini Mas Yan,
11:07menurut saya adalah pemerintah perlu membangun bisnis proses yang bagus, yang benar.
11:13Jadi ketika ada kebijakan, ada arahan presiden,
11:16itu stepnya jelas siapa yang menjalankan,
11:19kemudian bagaimana prosesnya,
11:22ada review, kalau tidak jalan lancar ada feedback loop,
11:26dibahas lagi di sidang kabinet,
11:28proses seperti itu.
11:28Mirip di korporasi-korporasi itu.
11:31Tanpa bisnis proses,
11:33maka kebijakan yang bagus pun hasilnya akan mengecewakan.
11:37Apalagi ketika kebijakannya itu sendiri kurang bagus dari sisi kualitas.
11:42Oke, yang harus juga perlu dilakukan oleh pemerintah itu
11:46membangun bisnis proses yang juga baik begitu.
11:48Tapi kalau kita ngomong-ngomong soal rasio utang
11:50yang menjadi concern dari FIS dan juga Moody's begitu ya.
11:53Yang terbalut FIS begitu,
11:54rasio utang RI diproyeksikan sebesar 41% pada tahun 2026.
11:58atau tahun ini.
11:59Ini kalau kita hitung-hitung tertinggi sejak pandemi 2021,
12:02di mana kala itu memang urgensinya tinggi begitu.
12:05Apa ini sudah jadi alarm waspada Pak Wija?
12:09Ya, sekarang saja, tahun lalu saja,
12:12akhir tahun lalu sudah 4,08%.
12:15Jadi kalau dibulatkan ke atas juga 40,8%.
12:19Kalau dibulatkan ke atas juga sudah 41%.
12:21Jadi angka FIS ini menurut saya wajar.
12:24Bahkan hitungan saya itu akan 41, sekian persen, hampir 42%.
12:29Karena kalau kita melihat tren yang terjadi beberapa bulan ini,
12:33rasanya pemerintah akan lebih banyak menerbitkan surat hutang lagi
12:37untuk menutup kebutuhan biaya spending pemerintah yang tidak kecil.
12:42Dan sebenarnya bukan masalah 41%-nya.
12:45Karena kalau kita berbicara 41%,
12:47undang-undang kan mengatakan ceiling-nya 60%.
12:50Bahkan Euro Convergence Kriteria itu 60% juga.
12:55Jadi negara-negara di sana pakai 60%.
12:57Tapi bagi Indonesia, yang lebih mengkhawatirkan bukan rasio hutangnya.
13:01Perannya Pak?
13:02Tapi rasio antara pembayaran pokok dan bunga terhadap rasio penerimaan negara.
13:09Yang biasa kita sebut dead service ratio.
13:11Ini sudah 47%.
13:13Kalau pemerintah mengajukan kredit ke bank komersial saja,
13:17itu sudah ditolak karena batasnya 30%.
13:19Dan kalau untuk negara, itu dianggap aman kalau 25 hingga 30%.
13:24Lalu saya ingin menambahkan sedikit Mas Yian.
13:2620% penerimaan kita itu digunakan untuk membayar bunga saja.
13:32Itu sudah dua kali lipat spending yang digunakan pemerintah
13:35untuk membiayai kapital expenditure untuk pembangunan.
13:39Jadi fiskal kita mempunyai daya dorong yang rendah terhadap pertumbuhan
13:42dan terhadap peningkatan daya sayang ekonomi.
13:45Oke, fiskal kita memiliki daya dorong yang rendah terhadap pertumbuhan pembangunan.
13:50Tapi juga di sisi lain, Pak Wijah,
13:52Fisk memperkirakan pembayaran bunga utang pemerintah pada 2025
13:56mencapai 17% dari total pendapatan pemerintah.
13:59Jadi salah satu yang tertinggi di antara negara-negara
14:02dengan kategori peringkat BBB.
14:04Dari pernyataan ini, apa saja resikonya, Pak?
14:08Ya, hitungan para ekonom Indonesia itu justru sekarang sudah 20%.
14:14Tahun depan sebaik-baiknya itu 19%.
14:19Jadi bisa jadi di atas 20%, tergantung penerimaan negara seperti apa.
14:24Resikonya adalah, resikonya akan semakin banyak penerimaan kita
14:30yang digunakan untuk membayar pokok dan bunga hutang.
14:34Sehingga semakin sedikit alokasi untuk hal-hal yang sifatnya strategik.
14:39Untuk hal-hal yang sifatnya produktif.
14:43Jadi kembali, seperti tadi Mas Jan sudah sampaikan di depan,
14:46daya dorong APBN kita akan semakin lemah untuk mendorong daya saing ekonomi.
14:53Dan tidak hanya itu, Mas.
14:55Begitu semakin tinggi alokasi untuk membayar bunga dan cicilan,
14:59kemungkinan besar kita akan menggantungkan hutang.
15:02Untuk membayar bunga dan pokok.
15:04Nah, ini sebenarnya kita semakin terjebak dalam situasi death trap.
15:09Jebakan hutang.
15:10Ini yang harus kita pikirkan serius.
15:12Terjebak dalam jebakan hutang begitu ya.
15:15Kemudian kita kalau mau ngomong-ngomong soal beban bunga yang tinggi,
15:18ini kan diperkirakan dapat membatasi ruang,
15:21bukan perkirakan lagi ya, dapat membatasi ruang fiskal
15:24untuk membiayai program pembangunan dan juga kebijakan ekonomi lainnya.
15:28Menurut Anda seperti apa?
15:30Ya, sekarang memang sudah betul-betul membuat kita tidak mempunyai ruang fiskal yang memadai.
15:36Untuk hal-hal yang sifatnya strategis, ini sudah terjadi.
15:39Dan kalau kita tidak rem ketergantungan kepada hutang ini,
15:43maka rating akan makin turun,
15:46kepercayaan investor akan juga makin melemah.
15:48Sehingga mas Jan, kita perlu bunga lebih tinggi.
15:51Oke.
15:52Untuk memastikan surat hutang kita laku.
15:55Ini seperti fiskus cycle, lingkaran setan.
15:59Sehingga ke depan kita semakin terbebani oleh beban membayar bunga yang lebih tinggi.
16:06Jadi memang fiskus cycle ini harus direm dengan kesejarahan penuh
16:10untuk menjalankan fiskal secara disiplin.
16:15Menjalankan fiskal secara disiplin.
16:17Namun di sisi lain juga yang menjadi catatan dari Fitch adalah soal MBG.
16:23Yang masuk, ini karena dianggap memubahani APBN secara jangka panjang.
16:27Namun pemerintah sebelumnya juga ini berdalih dengan perbandingan World Bank
16:30yang mengklaim investasi pemerintah di MBG ini akan menghasilkan nilai tambah
16:34ke ekonomi Indonesia.
16:36Analisis Anda seperti apa Pak Widja?
16:39Ya, MBG memang dampaknya jangka panjang.
16:43Jadi kalau saya hitung selama 8 tahun ke depan,
16:46itu impact-nya bisa sekitar 4.000 triliun.
16:48Oke.
16:49Karena kan dapur sudah dibikin, jumlah sudah ditetapkan,
16:53kalau tidak ada modifikasi ya, ini akan berjalan terus plus inflasi.
16:57Jadi 4.000 triliun kos yang akan kita keluarkan.
16:59Itu luar biasa besar.
17:01Nah tentang World Bank, saya cari referensi dimanapun,
17:04nggak ada itu statement World Bank seperti itu tentang MBG.
17:08Itu statement country representatifnya PBB.
17:12Oke.
17:13Dan kemudian statement itu juga sebenarnya saya coba cari basis analisisnya,
17:20kok tidak ketemu juga?
17:21Jadi setiap 1 rupiah pengeluaran akan ada penambahan nilai tambah 280 rupiah.
17:28Ini kan gede sekali.
17:30Saya konsultasi dengan teman-teman ekonom senior,
17:32profesor A, B, C, D, mereka juga bingung.
17:36Ini cara ngitungnya seperti apa?
17:37Jadi kembali, memang MBG diapresiasi oleh beberapa kalangan.
17:41Itu harus kita akui.
17:43World Bank pernah menyinggung, tadi PBB.
17:46Tetapi begini, perhitungannya harus serius juga.
17:50Jangan sampai, kalau kita berbicara nilai tambah pasti ada.
17:54Di glontor 335 triliun, pasti ada nilai tambah bagi ekonomi.
17:57Tetapi dalam kondisi keuangan yang mepet,
18:00fiskal yang sangat sempit,
18:02pilihan-pilihan alokasi anggaran kan terbatas.
18:06Apakah semua ditaruh MBG,
18:08atau sebagian di MBG, sebagian di tempat yang lain.
18:10Menurut saya yang paling penting adalah mencari titik optimal.
18:14Kita jangan fokus kepada sesuatu yang maksimal.
18:17Jangan menjadi maksimalis,
18:18tapi menjadi seseorang yang fokus kepada menemukan titik optimal.
18:23Karena ada begitu banyak kebutuhan,
18:24fiskal kita terbatas.
18:26Oke, jadi apa sih yang perlu dilakukan oleh pemerintah terkait dengan MBG ini?
18:29kaitannya dengan meningkatkan kredibilitas fiskal kita?
18:34Saya rasa begini,
18:36yang disampaikan Pak Erlangga,
18:37kita harus mendongkrak penerimaan melalui kortek dan lain-lain.
18:41Itu betul.
18:42Tapi di sisi lain, ketika situasi ekonomi sulit,
18:46mendorong penerimaan itu juga sangat menantang.
18:49Yang paling realistis adalah mengurangi spending,
18:52dengan alokasi yang lebih tepat sasaran.
18:54Kalau saya beri kesempatan untuk berbicara langsung kepada Pak Prabowo,
18:59saya akan sampaikan,
19:00Pak Prabowo, MBG bagus,
19:02tapi jangan 335 triliun dalam kondisi ekonomi sulit.
19:05Apakah mungkin separuhnya saja?
19:07Separuhnya dialokasikan untuk yang lain.
19:09Karena begini, Mas Yan,
19:11Kementerian Kementerian Menengah,
19:16Pendidikan Dasar Menengah,
19:17itu sudah menyampaikan,
19:20meminta tambahan anggaran 180 triliun.
19:23Gara-gara anggarannya cukup banyak dipakai untuk MBG.
19:27Sehingga anggaran untuk Kementerian Pendidikan sendiri tidak cukup.
19:30Dia minta tambahan 180 triliun.
19:32Artinya kan, ini bukan dari efisiensi,
19:35tapi realokasi anggaran pendidikan.
19:37Jadi pada saat MBG itu alokasinya besar,
19:40kemudian Kementerian Pendidikan sendiri butuh tambahan dana,
19:43saya pikir perlu middle way lah, jalan tengah begitu.
19:47Oke.
19:47Kita tunggu bagaimana langkah pemerintah menjawab
19:50teguran-teguran dari asing ini,
19:51dari Fitch Rating, sebelumnya juga ada Moody's,
19:54dan juga kita masih menunggu SNP
19:55yang kemungkinan Juli akan merilis
19:57soal peringkat ataupun rating dari Outlook Indonesia ini.
20:00Terima kasih,
20:01Ekonomi Universitas Pramadina Wijayanto Samirin
20:03atas waktunya bersama kami di Kompas Bisnis.
20:04Terima kasih.
Komentar