00:00Yang selama ini dianggap kurang tepat sasaran atau membuat mata rantai distribusi kepanjangan.
00:07Jadi di desa itu makin mahal, bukannya makin murah.
00:11Dan misalkan pupuk bersubsidi yang harusnya merupakan haknya kelompok tani itu muter-muter tuh.
00:18Gak tahu kemana. Kadang-kadang nyebrang ke kebun-kebun sawit.
00:22Gas LPG 3 kilo itu pun juga sebenarnya kan harusnya menjadi haknya pengguna rumah tangga yang ada di desa-desa
00:30gas LPG 3 kilo.
00:31Nah dengan adanya kooperasi desa yang salah satu fungsinya itu adalah untuk menyalurkan barang-barang bersubsidi termasuk barang kebutuhan pokok
00:38dan sehari-hari.
00:40Harusnya ini bisa jadi bangunan ekosistem.
00:43Satu grey retail modern ataupun kooperasi desa ini kan ada ribuan item barang.
00:51Ribuan item barang itu kan bisa kita dorong untuk supaya produk-produk lokal itu bisa memproduksi mulai dari ratusan item
01:02barang yang kita bisa produksi sendiri.
01:04Kita bisa bikin, saya sering ngomong di mana-mana, bikin kecap sendiri, bikin saus sendiri, bikin sambal sendiri, bikin roti
01:10sendiri, bikin sampo sendiri, bikin sabun.
01:13Apapun mulailah kita sekarang belajar produk dan pelaku-pelaku UMKM, Gen Z, Millennial sekalipun kita bahkan kita akan dorong.
01:23Kooperasi akan sangat bisa membantu apalagi kalau komunitas pelaku UMKM itu membentuk kooperasi kita akan bisa dampingi, kita bahkan bisa
01:32biayai.
01:32Dan produknya dijual lagi di grey-g grey kooperasi desa Keluran Merah Putih.
01:37Pak Lurah itu selama ini yang khawatir karena dana desa ini seakan-akan dipotong.
01:45Walaupun itu sebetulnya bukan dipotong tapi diwujudkan dalam bentuk gedung dan peralatan tadi.
01:51Nah sebetulnya yang harus dilihat oleh masyarakat dan juga perangkat desa itu adalah bahwa ini peluang masyarakat untuk mengakselerasi ekonomi
02:00yang ada di desa itu.
02:01Dan kemudian apa yang harus dilihat bahwa kooperasi desa ini adalah memberikan peluang untuk mengkreasi pendapatan.
02:11Pendapatannya dari mana pendapat yang paling minimal sebagai diferensiasi atau pembeda dengan outlet-outlet mini market modern ataupun toko yang
02:20lain adalah sebagai penyalur barang publik.
02:22Yang jelas itu ada uangnya ada keuntungannya yang selama ini dinikmati para kartel ini kan.
02:28Nah kalau itu terjadi mbak, dana desa itu akan bisa dikembalikan, yang di intercept itu bahkan bisa dikembalikan melalui keuntungan
02:37kooperasi tadi.
02:38Nah saya setuju, jadi kooperasi desa ini itu kan diberikan modal, bangunan, kelengkapan dan alat-alat transportasi tadi dan diharapkan
02:51ini akan menjadi tempat perputaran uang di desa.
02:54Jadi dalam periode tertentu malah bisa self-propelling growth gitu.
02:59Jadi dia akan menimbulkan kemandirian ekonomi di desa-desa dan akan menjadi sumber pendapatan dari desa itu sendiri.
03:07Jadi kalau 58% dipotong itu bukan berarti menghambat pembangunan desa menurut Anda?
03:11Enggak, kan kembali dalam bentuk yang natural dan itu akan menjadi modal yang bisa diputarkan di desa untuk menambah atau
03:19menjadi sumber alternatif pendapatan desa itu sendiri juga.
03:22Tapi kenapa pada praktiknya masih khawatir?
03:24Mbak Friska, karena sekarang ini kan belum operasional.
03:27Saya meminta kepada Pak Menteri, Pak Menteri kan punya lembaga itu yang namanya LPDB itu lembaga taktis di bawah Pak
03:32Menteri Kooperasi ini.
03:34Nah itu uangnya itu didukung untuk mendorong working capital atau modal kerjanya dari kooperasi ini kan baru modal.
03:40Saya malah lebih dari itu, Mbak Surato.
03:42Jadi bukan hanya untuk menjadi modal kerja dari operasional kooperasi desanya.
03:48Tadi lembaga pengelola dana bergulir atau kita harapkan juga lembaga keuangan yang lain akan ikut mendukung pembiayaan bagi munculnya produk
04:00-produk lokal yang berasal dari UMKM-UMKM lokal itu.
04:04Itu yang sebenarnya lebih keren lagi itu.
04:07Satu lagi Pak Menteri, saya berharap ini kan kemarin sudah ada wacana yang Pak Purbayak mau mengambil alih itu yang
04:12namanya PNM itu kembali sebagai vehicle lembaga taktisnya Kementerian Keuangan.
04:18Itu untuk apa? Menyelamatkan dana KUR.
04:20Kredit usaha rakyat selama ini kan tidak tepat sasaran Pak Menteri.
04:24Kenapa? Karena selain plafon-plafon yang sebenarnya tidak perlu disubsidi lagi sampai 1 miliar itu kan sudah berarti akses terhadap
04:31kredit komersial.
04:32Nah ini kenapa saya kira kalau misalnya KUR itu dijadikan dikonversi untuk mengakselerasi modal kerja kooperasi.
04:43Karena pertanyaannya setelah nanti peralatan dan gedungnya ada itu kan operasionalisasinya kan butuh modal kerja.
04:49Nah modal kerjanya adalah dari KUR dialihkan ke situ saja.
04:51Saya kira pas itu kalau misalnya Pak Purbayak bekerja sama dengan Pak Menteri Kooperasi untuk mengakselerasi.
04:56Ini Mbak Priska selama ini kelemahan dari KUR hanya bisa dicairkan ketika sudah ada kontrak.
05:02Padahal banyak sekali pelaku UMKM yang membutuhkan dana sebelum kontrak mereka dapat.
05:08Nah lembaga pengelola dana bergulir milik Kementerian Kooperasi ini bisa membantu manakala ada pelaku UMKM membentuk kooperasi.
05:17Kita bisa biayai mereka di awal yang mereka butuhkan tuh.
05:21Jadi saya sekarang menghimbau kepada teman-teman milenial Gen Z yang mau memproduksi barang-barang.
05:27Bikin kooperasi kita akan bantu dan nanti setelah dapat kontrak nanti kita bisa join financing KUR itu bisa baru bisa
05:36di sana.
05:36Jadi oleh karena itu nanti kita bisa rubah skemanya supaya bisa membantu.
05:40Tadi kan untuk membangun ini ada puluhan ribu targetnya dalam beberapa bulan ke depan.
05:45Tapi dalam pembangunannya ada kendala yang dihadapi.
05:48Nah ini bagaimana Menteri Kooperasi mengatasi ini?
05:51Tapi usah jidat kita akan bahas di Roshi sesaat lagi.
Komentar