00:00Pak Yusuf ini lebih senang dibilang orang Cina atau orang Indonesia?
00:03Orang Indonesia dong.
00:06Ya pasti.
00:07Saya begini ya, saya itu dari satu kota kecil,
00:11Sabaluntuk, yang orangnya, penduduknya hanya 26 ribu.
00:16Bukan 26 juta nih, 26 ribu.
00:20Dan kemudian Cinanya keturunan hanya 100 orang.
00:24Termasuk saya.
00:25Jadi saya ini sebetulnya kalau ada Cinanya, ya itu pinggir-pinggirnya masih ada.
00:32Tapi yang intinya itu tidak ada lagi.
00:35Maka itu saya selalu merasa, waduh kalau gue dianggap orang Cina yang benar aja dong.
00:41Ngapain?
00:42Jadi saya merasa, saya, it's completely Indonesian.
00:47I don't feel that I am anything else.
00:50You know, since I was young.
00:52Karena ya, lingkungan begitu juga membawa ke arah sana.
00:58Tetapi di samping itu memang saya selalu mengikuti universitas di sini, sekolah di sini.
01:07Jadi dengan demikian, my whole life actually is based on my life in Indonesia.
01:13And being Indonesian.
01:15Lahir di sawah Luntau, Sumatera Barat.
01:17Besar di situ, selalu sekolah di Indonesia.
01:20Ya.
01:21Pak, kan masih sering terjadi semacam perdebatan.
01:26Sebaiknya disebut Cina atau keturunan Tionghoa?
01:29Atau ya sudah Indonesia aja?
01:31Indonesia aja.
01:32Kita juga akan yang mengusulkan supaya di dalam perkembangan sebagai keturunan ini.
01:41Apakah tidak lebih baik kita menjadi betul-betul seperti di Muang Thai.
01:46Berasimilasi dengan bangsa ini.
01:50Karena dengan demikian, you mengurangi ketegangan yang tidak perlu-perlu.
01:54Saya kira itu cita-cita kita dalam lembaga pembinaan kesatuan bangsa.
02:02Yang didirikan dulu, sudah tahun 1962.
02:06Jadi itulah yang kita sebetulnya aiming at.
02:10To be one nation.
02:13And not tambah ini tambah itu, tidak perlu.
02:17Semuanya sama kan?
02:18Ya.
02:19Jadi Pak Yusuf kalau misalnya dibilang, kan masih punya nama Tionghoanya ya Pak ya?
02:25Oh dulu ada.
02:28Saya Lim Bian Ki dulu.
02:30Tapi itu adalah masalah Mpao.
02:35Kalau you disebut mungkin di airport Lim Bian Ki itu, gue gak tau lagi.
02:43Tapi saya masih kecil masih manggilnya Om Bian Ki loh.
02:49Pak Yusuf merasa gak bahwa sekarang, kalau dulu melihat-melihat orang Tionghoa itu masih ada semacam, kita lihat ih dia
03:03beda.
03:04Tapi kalau sekarang Pak Yusuf melihat apakah masih ada pandangan sinisme, pandangan rasial yang ditujukan pada masyarakat Tionghoa?
03:13Ya saya kira itu masih ada, tetapi sudah jauh berkurang.
03:19Kalau dibandingkan tahun 50-an, 40-an itu, dan kemudian 60-an, itu setelah itu kita melihat perkembangan dan kemajuan
03:29itu berarti dengan sebetulnya terjadinya secara lebih natural than you think.
03:39Mereka kawin, anak saya kawin sama orang yang separuh Indonesia, separuh Cina, ya tau.
03:45Tapi lantas yang lain, it's such a natural process.
03:51Mereka pergi ke sekolah di Amerika, ada yang Cina asli, ada juga yang Indonesia asli, atau Melayu asli, ya tau.
04:01Dan mereka bertemu, dan kemudian mereka berkahwin, apa yang lain, tidak ada oposisi lagi.
04:08Jadi saya kira, proses penyatuan bangsa itu telah terjadi.
04:14Dan masih ada tentu beberapa hal yang bisa dikatakan begini-begitu.
04:20Tetapi pada umumnya, that is the trend, and we are very glad and happy about that.
04:26Bahwa itu terjadi.
04:29Bahwa sudah semakin menyatu, dan prasangka itu sudah semakin...
04:35Jauh berkurang.
04:36Sudah jauh berkurang.
04:37Jauh berkurang.
04:37Saya ke Bu Mari dulu.
04:38Bu Mari adalah perempuan keturunan Tionghoa yang masuk ke dalam kabinet, atau sebagai menteri.
04:46Di zaman Pak SB.
04:48Dimana jadi menteri perdagangan, dan kemudian menteri pariwistasa dan ekraf, kalau nggak salah ya Bu.
04:53Dan Bu Mari tadi seperti perkenalan saya, Bu Mari adalah perempuan Indonesia pertama yang mendapat gelar PhD bidang ekonomi.
05:02Apakah sebagai seorang perempuan harus double, triple pembuktian?
05:07Sudah perempuan, bisa dibilang minoritas lagi?
05:12Ya, memang dari dulu bukan beban ya, tapi kita menjadi berbeda lah dengan yang lain.
05:18Sehingga apakah itu ada yang merasa tersaingi, atau merasa nggak biasa dengan kita sebagai wanita, sebagai perempuan, minoritas.
05:33Saya selalu mengatakan saya itu triple minority.
05:35Perempuan, keturunan, dan katolik.
05:39Dari segi itu triple minority, dan waktu saya baru kembali itu, saya juga masih muda.
05:44Jadi muda itu juga antara hirarki kan, society kita kan hirarki.
05:49Jadi kita tidak boleh sembarangan mengkritik senior gitu kan.
05:53Padahal kita terbiasa di barat gitu misalnya, di sekolah.
05:57Di sekolah kan kita diajarkan untuk kritis ya.
06:00Tapi ketika kembali kan masih...
06:02Jadi saya harus belajar untuk bisa berbudaya seperti di sini.
06:08Tidak bisa langsung mengkritik gitu.
06:11Misalnya ya, itu kan kita belajar lah di dalam adjustment kembali ke hidup dan budaya di Indonesia.
06:19Apakah menjadi seorang perempuan, keturunan Tionghoa, double minority, dan juga tadi dibilang seorang katolik.
06:28Ketika kembali ke Indonesia, Umari merasa harus lebih tahu diri.
06:32Akhirnya.
06:33Saya beruntung punya mentor namanya Prof. Sadli.
06:36Almarhum.
06:37Dia observasi saya.
06:38Terus dia bilang, sini-sini.
06:41Kamu orang tahu kamu pinter.
06:43Tapi kamu kalau di sini, kamu tidak boleh langsung mengkritik para senior.
06:48Harus sopan santunnya harus ada, dan seterusnya.
06:51Jadi saya belajar lah ya.
06:52Bagaimana kita bisa menyampaikan pendapat atau kritik,
06:56tetapi tidak terkesan sombong atau sok tahu.
07:00Karena sebagai anak muda yang baru pulang itu,
07:03saya sangat mengalami itu.
07:05Belajar the hard way lah ya, bahwa how to behave.
07:08Kan Pak Yusuf itu kan nggak pernah...
07:10Merasa.
07:11Nggak ada tanda yang aling-aling.
07:13Kalau Bapak mau kritik, kan Bapak hajar aja.
07:15Loh serang dong.
07:15Kan gue pasang Indonesia.
07:17Kenapa saya masih sembunyi-sembunyi?
07:22They accept me or not, that's their problem.
07:25Not mine.
07:28Begitulah.
07:29Supaya, juga dengan demikian, saya kira,
07:31yang muda-muda itu bisa, biasa untuk bergaul.
07:35Sebagai orang sama, apalagi kita kurangnya.
07:40Gitu loh.
07:40Pak Yusuf nggak pernah takut tuh.
07:42Kan Pak, Bapak tuh keturunan Tionghoa minoritas.
07:45Mbok tahu diri gitu.
07:47Pak Yusuf nggak pernah merasa bahwa, ah gue harus tahu diri.
07:49Gue orang Minang.
07:51Kenapa gue mesti tutup-tutup, ya tau.
07:54So that is why I think I survive.
07:57Because I really, to be very honest, I really don't care.
08:03Gitu loh.
08:04Jadi agak berbeda.
08:06Karena di sini ya, di Jawa, sopan santun dan lain-lain kan penting.
08:11Di Minang juga penting, tapi lain caranya.
08:14Much more open.
08:16And much more direct.
08:19And we like that.
08:21Menurutku bagus ya, Bu Mari.
08:24Kenapa seorang Yusuf Wanandi itu bisa ngomong tanpa tedeng aling-aling.
08:29Kan banyak orang yang merasa, misalnya karena kami minoritas,
08:32maka lebih harus tahu diri, tahu menempatkan diri.
08:35Tidak ada yang salah dengan itu.
08:36Tetapi keterusterangan dan galaknya seorang Yusuf Wanandi ketika membicarakan sesuatu,
08:44karena dia nggak merasa berbeda.
08:46Jadi itu rasanya the good side of it.
08:49And I think that is the trend, also in Indonesia.
08:54Bahwa sekarang ini, persamaan itu ya adalah kenyataan.
08:59Jadi jangan digedeh-gedehkan, masih ditakutin apa,
09:02Cina ini mau menjanti begini, begitu.
09:04Itu, dah, dah.
09:06Ya, kalau menurut saya.
09:08We have reached that level that we are not completely different than the other one.
09:14Ya.
09:15Dah, dah, itu.
09:16Dan saya kira, it's an honor to be part of Indonesia.
09:20Terima kasih.
Komentar