Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pendiri Lembaga Peneliti CSIS, Jusuf Wanandi, menegaskan lebih memilih disebut sebagai orang Indonesia ketimbang Cina atau keturunan Tionghoa.

Ia menceritakan masa kecilnya yang tumbuh di Sawahlunto, Sumatera Barat. Sebuah wilayah dengan jumlah penduduk hanya 26 ribu jiwa. Dari jumlah itu, warga keturunan Tionghoa hanya sekitar 100 orang, termasuk dirinya kala itu.

Jusuf juga mengungkap nama Tionghoa lamanya, Lim Bian Ki. Namun, ia mengaku identitas itu tak lagi menjadi bagian utama dalam hidupnya hari ini.

Menurut Jusuf, secara sosial dan kultural, ia merasa sepenuhnya bagian dari bangsa Indonesia.

Lebih jauh, Jusuf mendorong pentingnya asimilasi total sebagai jalan menuju persatuan. Ia menilai, dengan berbaur sepenuhnya dalam identitas kebangsaan, ketegangan rasial yang tak perlu bisa dikurangi.

Menurutnya, integrasi penuh sebagai bangsa Indonesia adalah fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial dan politik.

Bagaimana pendapat Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/ROjVyyb0jL0



#imlek #jusufwanandi #indonesia



Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi Anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah Lebih Dekat, Satu Langkah Makin Terpercaya!



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/652116/serukan-persatuan-jusuf-wanandi-saya-orang-indonesia-bukan-china-rosi
Transkrip
00:00Pak Yusuf ini lebih senang dibilang orang Cina atau orang Indonesia?
00:03Orang Indonesia dong.
00:06Ya pasti.
00:07Saya begini ya, saya itu dari satu kota kecil,
00:11Sabaluntuk, yang orangnya, penduduknya hanya 26 ribu.
00:16Bukan 26 juta nih, 26 ribu.
00:20Dan kemudian Cinanya keturunan hanya 100 orang.
00:24Termasuk saya.
00:25Jadi saya ini sebetulnya kalau ada Cinanya, ya itu pinggir-pinggirnya masih ada.
00:32Tapi yang intinya itu tidak ada lagi.
00:35Maka itu saya selalu merasa, waduh kalau gue dianggap orang Cina yang benar aja dong.
00:41Ngapain?
00:42Jadi saya merasa, saya, it's completely Indonesian.
00:47I don't feel that I am anything else.
00:50You know, since I was young.
00:52Karena ya, lingkungan begitu juga membawa ke arah sana.
00:58Tetapi di samping itu memang saya selalu mengikuti universitas di sini, sekolah di sini.
01:07Jadi dengan demikian, my whole life actually is based on my life in Indonesia.
01:13And being Indonesian.
01:15Lahir di sawah Luntau, Sumatera Barat.
01:17Besar di situ, selalu sekolah di Indonesia.
01:20Ya.
01:21Pak, kan masih sering terjadi semacam perdebatan.
01:26Sebaiknya disebut Cina atau keturunan Tionghoa?
01:29Atau ya sudah Indonesia aja?
01:31Indonesia aja.
01:32Kita juga akan yang mengusulkan supaya di dalam perkembangan sebagai keturunan ini.
01:41Apakah tidak lebih baik kita menjadi betul-betul seperti di Muang Thai.
01:46Berasimilasi dengan bangsa ini.
01:50Karena dengan demikian, you mengurangi ketegangan yang tidak perlu-perlu.
01:54Saya kira itu cita-cita kita dalam lembaga pembinaan kesatuan bangsa.
02:02Yang didirikan dulu, sudah tahun 1962.
02:06Jadi itulah yang kita sebetulnya aiming at.
02:10To be one nation.
02:13And not tambah ini tambah itu, tidak perlu.
02:17Semuanya sama kan?
02:18Ya.
02:19Jadi Pak Yusuf kalau misalnya dibilang, kan masih punya nama Tionghoanya ya Pak ya?
02:25Oh dulu ada.
02:28Saya Lim Bian Ki dulu.
02:30Tapi itu adalah masalah Mpao.
02:35Kalau you disebut mungkin di airport Lim Bian Ki itu, gue gak tau lagi.
02:43Tapi saya masih kecil masih manggilnya Om Bian Ki loh.
02:49Pak Yusuf merasa gak bahwa sekarang, kalau dulu melihat-melihat orang Tionghoa itu masih ada semacam, kita lihat ih dia
03:03beda.
03:04Tapi kalau sekarang Pak Yusuf melihat apakah masih ada pandangan sinisme, pandangan rasial yang ditujukan pada masyarakat Tionghoa?
03:13Ya saya kira itu masih ada, tetapi sudah jauh berkurang.
03:19Kalau dibandingkan tahun 50-an, 40-an itu, dan kemudian 60-an, itu setelah itu kita melihat perkembangan dan kemajuan
03:29itu berarti dengan sebetulnya terjadinya secara lebih natural than you think.
03:39Mereka kawin, anak saya kawin sama orang yang separuh Indonesia, separuh Cina, ya tau.
03:45Tapi lantas yang lain, it's such a natural process.
03:51Mereka pergi ke sekolah di Amerika, ada yang Cina asli, ada juga yang Indonesia asli, atau Melayu asli, ya tau.
04:01Dan mereka bertemu, dan kemudian mereka berkahwin, apa yang lain, tidak ada oposisi lagi.
04:08Jadi saya kira, proses penyatuan bangsa itu telah terjadi.
04:14Dan masih ada tentu beberapa hal yang bisa dikatakan begini-begitu.
04:20Tetapi pada umumnya, that is the trend, and we are very glad and happy about that.
04:26Bahwa itu terjadi.
04:29Bahwa sudah semakin menyatu, dan prasangka itu sudah semakin...
04:35Jauh berkurang.
04:36Sudah jauh berkurang.
04:37Jauh berkurang.
04:37Saya ke Bu Mari dulu.
04:38Bu Mari adalah perempuan keturunan Tionghoa yang masuk ke dalam kabinet, atau sebagai menteri.
04:46Di zaman Pak SB.
04:48Dimana jadi menteri perdagangan, dan kemudian menteri pariwistasa dan ekraf, kalau nggak salah ya Bu.
04:53Dan Bu Mari tadi seperti perkenalan saya, Bu Mari adalah perempuan Indonesia pertama yang mendapat gelar PhD bidang ekonomi.
05:02Apakah sebagai seorang perempuan harus double, triple pembuktian?
05:07Sudah perempuan, bisa dibilang minoritas lagi?
05:12Ya, memang dari dulu bukan beban ya, tapi kita menjadi berbeda lah dengan yang lain.
05:18Sehingga apakah itu ada yang merasa tersaingi, atau merasa nggak biasa dengan kita sebagai wanita, sebagai perempuan, minoritas.
05:33Saya selalu mengatakan saya itu triple minority.
05:35Perempuan, keturunan, dan katolik.
05:39Dari segi itu triple minority, dan waktu saya baru kembali itu, saya juga masih muda.
05:44Jadi muda itu juga antara hirarki kan, society kita kan hirarki.
05:49Jadi kita tidak boleh sembarangan mengkritik senior gitu kan.
05:53Padahal kita terbiasa di barat gitu misalnya, di sekolah.
05:57Di sekolah kan kita diajarkan untuk kritis ya.
06:00Tapi ketika kembali kan masih...
06:02Jadi saya harus belajar untuk bisa berbudaya seperti di sini.
06:08Tidak bisa langsung mengkritik gitu.
06:11Misalnya ya, itu kan kita belajar lah di dalam adjustment kembali ke hidup dan budaya di Indonesia.
06:19Apakah menjadi seorang perempuan, keturunan Tionghoa, double minority, dan juga tadi dibilang seorang katolik.
06:28Ketika kembali ke Indonesia, Umari merasa harus lebih tahu diri.
06:32Akhirnya.
06:33Saya beruntung punya mentor namanya Prof. Sadli.
06:36Almarhum.
06:37Dia observasi saya.
06:38Terus dia bilang, sini-sini.
06:41Kamu orang tahu kamu pinter.
06:43Tapi kamu kalau di sini, kamu tidak boleh langsung mengkritik para senior.
06:48Harus sopan santunnya harus ada, dan seterusnya.
06:51Jadi saya belajar lah ya.
06:52Bagaimana kita bisa menyampaikan pendapat atau kritik,
06:56tetapi tidak terkesan sombong atau sok tahu.
07:00Karena sebagai anak muda yang baru pulang itu,
07:03saya sangat mengalami itu.
07:05Belajar the hard way lah ya, bahwa how to behave.
07:08Kan Pak Yusuf itu kan nggak pernah...
07:10Merasa.
07:11Nggak ada tanda yang aling-aling.
07:13Kalau Bapak mau kritik, kan Bapak hajar aja.
07:15Loh serang dong.
07:15Kan gue pasang Indonesia.
07:17Kenapa saya masih sembunyi-sembunyi?
07:22They accept me or not, that's their problem.
07:25Not mine.
07:28Begitulah.
07:29Supaya, juga dengan demikian, saya kira,
07:31yang muda-muda itu bisa, biasa untuk bergaul.
07:35Sebagai orang sama, apalagi kita kurangnya.
07:40Gitu loh.
07:40Pak Yusuf nggak pernah takut tuh.
07:42Kan Pak, Bapak tuh keturunan Tionghoa minoritas.
07:45Mbok tahu diri gitu.
07:47Pak Yusuf nggak pernah merasa bahwa, ah gue harus tahu diri.
07:49Gue orang Minang.
07:51Kenapa gue mesti tutup-tutup, ya tau.
07:54So that is why I think I survive.
07:57Because I really, to be very honest, I really don't care.
08:03Gitu loh.
08:04Jadi agak berbeda.
08:06Karena di sini ya, di Jawa, sopan santun dan lain-lain kan penting.
08:11Di Minang juga penting, tapi lain caranya.
08:14Much more open.
08:16And much more direct.
08:19And we like that.
08:21Menurutku bagus ya, Bu Mari.
08:24Kenapa seorang Yusuf Wanandi itu bisa ngomong tanpa tedeng aling-aling.
08:29Kan banyak orang yang merasa, misalnya karena kami minoritas,
08:32maka lebih harus tahu diri, tahu menempatkan diri.
08:35Tidak ada yang salah dengan itu.
08:36Tetapi keterusterangan dan galaknya seorang Yusuf Wanandi ketika membicarakan sesuatu,
08:44karena dia nggak merasa berbeda.
08:46Jadi itu rasanya the good side of it.
08:49And I think that is the trend, also in Indonesia.
08:54Bahwa sekarang ini, persamaan itu ya adalah kenyataan.
08:59Jadi jangan digedeh-gedehkan, masih ditakutin apa,
09:02Cina ini mau menjanti begini, begitu.
09:04Itu, dah, dah.
09:06Ya, kalau menurut saya.
09:08We have reached that level that we are not completely different than the other one.
09:14Ya.
09:15Dah, dah, itu.
09:16Dan saya kira, it's an honor to be part of Indonesia.
09:20Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan