Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
WASHINGTON, KOMPAS.TV - Indonesia dan Amerika Serikat akhirnya menandatangani kesepakatan tarif resiprokal sebesar 19 persen dan nol persen untuk sejumlah sektor komoditas.

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menceritakan di balik layar selama proses negosiasi tarif dengan Amerika Serikat.

Menurutnya, pertemuan dilakukan beberapa kali melalui daring maupun pertemuan langsung.

"Pertemuan fisik menjadi penting karena dengan pertemuan fisik masing-masing tahu mengenai background dan yang kedua menyamakan tujuan," ujar Airlangga di Washington DC, pada Jumat (19/2/2026).

Baca Juga Respons Donald Trump Usai Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Global: Mengecewakan! di https://www.kompas.tv/internasional/652079/respons-donald-trump-usai-mahkamah-agung-as-batalkan-tarif-global-mengecewakan

#airlanggahartarto #tarif #trump

Video Editor: Galih

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/652086/buka-bukaan-menko-airlangga-cerita-di-balik-negosiasi-tarif-resiprokal-trump
Transkrip
00:00Jadi selama layarnya yang berjalan, itu tim selalu bekerja untuk negosiatif.
00:06Tapi begitu mentok, ya saya intervensi.
00:09Intervensinya kayak gimana sih Pak?
00:11Sudah kompasifi, kalau Presiden Prabowo Subianto punya caranya sendiri untuk diplomasi dengan Presiden Trump,
00:18nah, Menteri yang di sebelah saya ini punya caranya sendiri sebagai negosiator di kesepakatan tarif resiprokal ya Pak ya?
00:24Bisa diceritain gak sih Pak?
00:26Ya, ini behind the scene-nya kan kita putarannya ada 9, dan 4 kali saya ke Washington, dan sebagian besar
00:36juga melalui Zoom.
00:38Dan pertemuan fisik itu menjadi penting, karena dengan pertemuan fisik masing-masing tahu mengenai background,
00:45dan yang kedua menyamakan tujuan dari kerjasama, yaitu begitu kita ketemu tujuan adalah untuk mencapai kesepakatan,
00:56sejahteraan rakyat, kedua belah pihak win-win solution, nah ini kita ketemu.
01:01Pak, ini kan harus tahu gak di prosesnya, proses negosiasinya.
01:05Ada cerita menarik yang kemudian diingat gak?
01:08Kayak misalkan, ah, alat banget nih negosiasi sama business person, ya Pak?
01:15Karena yang negosiasi ada tim, jadi ada layer.
01:19Jadi selama layer-nya yang berjalan, itu tim selalu bekerja sama negosiasi.
01:26Tapi begitu mentok, ya saya intervensi.
01:29Intervensinya kayak gimana sih Pak?
01:30Misalkan, kasus lah bikin.
01:32Intervensinya telepon langsung aja.
01:34Telepon langsung aja udah.
01:35Pak, sedikit lagi, bedanya pertemuan fisik sama negosiasi baik online?
01:42Bedanya kan kalau online itu dua dimensi, sedangkan kalau fisik tiga dimensi.
01:48Jadi tiga dimensi kita bisa lebih baca, gesturnya kita bisa baca.
01:53Oke, terakhir.
01:54Udah sepakat 19% dengan pengecualian di beberapa sektor.
01:59Apa pesannya buat rakyat Indonesia yang mungkin masih belum ingin?
02:02Ya tentu yang membutuhkan iklim Indonesia, itu hampir semuanya nol.
02:11Banyak si LOPI, KRF, CPO.
02:13Kemudian yang banyak tenaga kerja, Amerika juga sudah memberikan ke Indonesia.
02:19Tekstil dan sebagainya.
02:21Yang berikut tentu yang kritikal mineral, ya kita kerja sama-sama.
02:269%? 19% kemenangan?
02:29Tidak ada yang menang.
02:30Tidak ada yang menang, tapi dua-duanya same solution?
02:32Ya.
02:33Ini dia negosiatornya, guys.
02:34Terima kasih, Pak Erlangga.
02:36Waktunya.
02:37Itu dia, Saudara Kompas TV.
02:39Saya penasaran memang cerita di balik layarnya negosiasi tarif resi prokal ini.
02:44Selama setahun.
02:46Hampir setahun.
02:47Dan itu tadi cerita dari Menteri Koordinator Bidang Perikon yang Erlangga Harta.
02:55Kita tunggu seperti apa dampaknya dari kesepakatan tarif resi prokal yang baru ini.
03:00Alvanya Rizky, Kompas TV, Washington DC.
03:02Sampai jumpa.
03:12Sampai jumpa.
03:38Sampai jumpa.
03:43channel 11 di televisi Anda.
Komentar

Dianjurkan