Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 3 menit yang lalu
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

JAKARTA, KOMPAS.TV - Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat sepakat menurunkan tarif barang asal Indonesia ke AS menjadi 19%, sementara Indonesia menghapus 99% hambatan tarif bagi produk-produk AS.

Pengamat militer Anton Aliabbas menilai kebijakan tersebut membawa konsekuensi "high risk, high return".

Eks Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto memandang pendekatan yang diambil pemerintah sebagai langkah realistis.

Baca Juga Peneliti Imparsial Ungkap Dampak Pengiriman Pasukan Indonesia ke Gaza | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/652059/peneliti-imparsial-ungkap-dampak-pengiriman-pasukan-indonesia-ke-gaza-bola-liar



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/652060/kata-pengamat-militer-hingga-eks-kabais-tni-soal-kesepakatan-dagang-as-ri-bola-liar
Transkrip
00:00Anton, gimana? Sudah ada kesempatan gagang setelah gabung BOP?
00:03Apakah ini justru mengunci posisi Indonesia?
00:06Ya, sebelum lari ke situ saya ingin juga ikut nimbrung tadi.
00:09Satu, kalau kita cermat membaca resolusi 2803 mas,
00:13gak bicara tuh solusi dua negara.
00:16Pertama dari 20 plan itu adalah membebaskan Gaza dari teror.
00:21Jadi, itu satu. Jadi gak ada ceritanya soal to set solution.
00:25Jadi kalau misalnya tadi wakil EMUI bilang bahwa ini gak tau,
00:29enggak. Sebenarnya, kalau saya ngeliatnya ini udah kayak kita nasi jadi bubur.
00:34Pilihannya, mau kita aduk, mau kita tambahin, atau kita gak makan.
00:38Itu satu.
00:39Kedua, kalau bicara tentang multilateralisme,
00:43Trump itu mengabaikan PBB, multilateralisme bagaimana.
00:49Ini yang mau dibangun adalah multilateralisme baru.
00:52Ini unilateral yang dibungkus cari dorongan teman-teman.
00:56Siapa yang datang hari ini, mau kita cerita yang wakil dari Asia Tenggara ada tiga.
01:00Ada Kamboja, ada Vietnam, ada Indonesia.
01:03Tiga-tiganya itu lagi pusing karena tarif.
01:06Indonesia kena 32 persen, Vietnam dan Kamboja di atas 40 persen.
01:11Sama-sama lagi pusing.
01:12Jadi, ada konstruksi yang beyond dari itu.
01:15Tapi apakah Pak Prabowo tadi gak tau?
01:17Saya pikir tau.
01:18Karena dari awal 20 Oktober 2024, Pak Prabowo dalam pidato,
01:23pelantikannya sudah bilang, kita ingin kembalikan Palestina.
01:26Problemnya adalah ketika di jalur yang ada,
01:29jalur konvensional yang ada, itu mentok.
01:31PBB udah kayak gitu aja, yaudah ini kali ini ada BOP.
01:34Yaudah, ikut nyimbrung.
01:35Harapannya itu bisa bergulir.
01:37Saya ngeliatnya demikian.
01:38Itu satu.
01:39Kedua, ketika kita bicara soal perjanjian dagang.
01:44Nah ini menarik, perjanjian dagang ini ada bagian lima terkait ekonomi dan keamanan nasional.
01:51Poin 5.1, pasal 5.1, complementary action.
01:55Itu menyebutkan, jika Amerika menerapkan sanksi pelarangan, blablabla,
02:03maka Indonesia harus menyesuaikan kebijakannya.
02:07Dan ini yang bagi saya menjadi pelik.
02:10Kita memang mencoba untuk membangun multi,
02:15apa namanya, multi aliansi, sokol multi aliansi.
02:18Jadi kita mencoba ngomong tentang strategic alignment.
02:21Penerapan bebas aktif seperti apa?
02:23Kita membangun banyak-banyak forum.
02:25Cuma problemnya ketika itu dikunci dalam kerjasama perdagangan,
02:30bahwa kita harus ngikutin,
02:32nah ini yang akan menjadi uji terhadap Prabowo.
02:36Karena ketika kita bicara tentang BOP Palestina,
02:38setelahnya ada tiga tantangan, tiga medan yang harus dihadapin.
02:43Pertama ngomong tentang militer, karena itu bicara.
02:45Yang kedua ada ngomong diplomasi,
02:47kalau mengutip dari Prof. Hikar itu,
02:50diplomasi is art of negotiation.
02:52Jadi gimana nih sendiri bernegosiasi ketiga.
02:54Ketiga ngomong tentang moral.
02:56Kenapa?
02:57Karena ekspektasi masyarakat Indonesia itu sangat tinggi terhadap Palestina.
03:02Merdeka, merdeka, dan merdeka.
03:04Tidak mau tahu ceritanya.
03:05Jadi kalau misalnya itu diabaikan,
03:07itu bisa akan turun terhadap popularitas.
03:11Jadi kalau, maka tadi saya bilang high risk, high return.
03:13Kalau Pak Prabowo berhasil,
03:14ini dengan yang paling bagus untuk 2029.
03:18Kalau gagal.
03:19Ini ada pertaruhan yang banyak.
03:21Jadi bagi saya ketika kita bicara tentang kerjasama perdagangan,
03:24ini membuat posisi yang jadi semakin rumit.
03:28Tadi saya ngomong sama Pak Dubes Dian.
03:32Pak Dubes kalau sudah ngomong tentang ini,
03:34ini butuh ratifikasi DPR enggak?
03:36Pak Dubes kalau dia banyak hal yang sentifikasi harus di ratifikasi DPR.
03:40Artinya masih akan ada pembahasan lanjutan di domestik.
03:43Karena bagi saya, oke kita goal turun 19 persen,
03:47tapi kewajiban kita ini banyak banget nih.
03:51Apa iya gitu?
03:52Iya memang Pak Prabowo minta 19 persen,
03:54tapi kenapa yang lainnya kok kita seakan-akan jadi lemah?
03:59Itu kan jadi pertanyaan juga.
04:01Walaupun dalam ngomong tentang literatur hubungan internasional,
04:05ada yang namanya linkage diplomacy.
04:08Nah ini ngomong tentang ekonomi,
04:10tapi ada kaitan dengan aspek keamanan dan lain-lain.
04:12Itu juga hal yang wajar,
04:13karena praktiknya memang banyak.
04:15Ini memang posisi kita menjadi ruang gerak kita bisa menjadi lebih sempit.
04:23Tapi lagi-lagi tergantung seberapa piawe Pak Prabowo dan timnya untuk menari di situ.
04:29Jadi kalau misalnya tadi Mas Aldo bilang ini ngikutin langgam,
04:32ya kita lihat apakah dia akan ngikutin langgam atau membuat hal yang lain.
04:35Ini akan kita lihat.
04:37Oke, baik Pak Suleman,
04:39meski tadi disampaikan high risk, high return,
04:41tapi ternyata banyak catatan seperti itu.
04:43Jadi kalau misalnya kita gagal,
04:46bagaimana kesepakatan atau mungkin bahkan ada peluang kita justru didikte?
04:51Ya gini, kita belajar dari Cleopatra.
04:56If you are strong, bite them.
04:58If you are weak, join them.
05:00Nah sekarang kita letakkan di mana posisi kita?
05:04Pak Prabowo sudah meletakkan,
05:06tadi Pak ini sudah bilang,
05:08sedikit apapun celah itu bagi militer,
05:11manfaatkan.
05:12Kita ingin apa?
05:14Ikut melaksanakan ketertiban dunia.
05:17kemerdekaan adalah hak segala bangsa.
05:19Ada celah enggak?
05:20Ada sekarang.
05:21Kenapa kita tidak mainkan?
05:23Kalau kita bilang kita mau ini lewat PBB,
05:26tidak ada di situ disebut bahwa untuk itu harus semua lewat PBB.
05:30Tidak.
05:30Nah kalau sekarang beliau baru sekarang,
05:33ya baru sekarang yang berani mengambil langkah.
05:35Nah kalau dibilang,
05:37tidak ada.
05:37Coba kita lihat sekarang.
05:39Mana yang ada berani seperti ini?
05:41Kalau Eropa,
05:43jangan-jangan kita bersembunyi,
05:46ketakutan kita disembunyikan dengan berdiplomasi.
05:49Diplomasi itu you do my will.
05:51Tapi rakyatnya semua kita dikata Mas Anton.
05:54Nah makanya kita lihat,
05:55Pak Prabowo ini seorang tentara.
05:58apapun langkahnya itu dipengaruhi oleh psikologi seorang tentara.
06:02Risk taker.
06:04Sekecil apapun peluang yang ada,
06:08diambil.
06:09Nah ini sekarang disampaikan,
06:11ada peluang,
06:11kenapa kita tidak ambil?
06:13Atau kita memilih,
06:14kita duduk, diem,
06:15sampai mati.
06:16Mau pilih mana?
06:17Tidak ada dalam pikiran militer itu,
06:20kita sudah melihat itu,
06:21duduk tunggu-tunggu mati.
06:22Tidak ada.
06:23Ketika ada peluang sekecil apapun ambil.
06:26Dan ini yang dilakukan sekarang.
06:27Kita tambahin dikit.
06:28Nanti dalam perjalanan,
06:30dalam perjalanan ada apa?
06:31Ya ting-tong kayak tadi.
06:32Semua kita lakukan ting-tong.
06:34Semua baru.
06:36Jadi tidak bisa kita mastikan,
06:38ini paling benar gak bisa.
06:39Ini paling ting-tong.
06:40Ting-tong.
06:41Ini bukan pesan satu penting ini,
06:43bahwa proses rekonstruksi di Gaza,
06:45tidak boleh ada pemindahan penduduk Gaza sementara.
06:48Tidak boleh.
06:49Jadi bikin tenda-tenda boleh lah.
06:52Bikin tenda kayak di bencana gitu.
06:54Bangun gedung-gedung rumah-rumah-rumah-rumah,
06:56jadi pindah lagi ke situ.
06:58Jadi jangan sampai dengan alasan rekonstruksi
07:00dipindahkan sementara ke negara mana gitu,
07:02nanti gak bisa masuk lagi.
07:04Jadi itu prinsip gak boleh.
07:06Yang kedua,
07:07gunakan pekerja-pekerja lokal terlebih dahulu.
07:10Misalnya dari Serikat Buruh kan,
07:12orang-orang Palestina,
07:13orang-orang Gaza yang sekarang 200 ribu buru-buru itu
07:15betul-betul gak bisa ngapa-ngapain.
07:17Bahkan pada mati, banyak yang mati.
07:19Itu pesan dari organisasi yang saya pimpin.
07:22Kira-kira begitu.
07:23Pak Dian, melihat situasi yang ada saat ini,
07:26percakapan kita cukup panjang begitu.
07:28Tadi kan juga disampaikan,
07:30sebenarnya ketika kita mengirim pasukan ke sana,
07:32memang Harris-Heritem tadi disampaikan oleh Mas Anton.
07:35Tetapi tadi juga disampaikan bahwa
07:36ada dua hal di sini saya lihat beda inti.
07:39Yang satu bilang itu dari amanat PBB,
07:42yang satu bilang itu BOP.
07:44Terima kasih Mbak.
07:46Begini loh,
07:47saya kebetulan menangani PBB,
07:48artinya multilateralisme,
07:50di Jenewa dan di New York,
07:52cukup lama, 12 tahun.
07:54Yang namanya resolusi 2803,
07:57tolong dipahami seperti ini.
07:59Kenapa dibawa ke,
08:01dari BOP dibawa ke PBB,
08:04membutuhkan legalitas.
08:07Legalitas saja.
08:09Tapi isinya,
08:10resolusi 2803 itu,
08:13satu,
08:14meng-endorse 20 poin ini.
08:17Artinya meng-endorse,
08:18mendukung.
08:19Berarti pelaksanaannya adalah 20 poin ini.
08:22Bukan mandat yang dibuat PBB.
08:24Bukan mandat yang akan dirundingkan di PBB.
08:28Ini terpisah sama PBB.
08:29Pasal terakhir,
08:30pasal tujuh,
08:31dari resolusi PBB itu,
08:33menyatakan,
08:34hanya menyatakan,
08:35bahwa PBB,
08:36se-yogianya ya tetap diinfokan lah,
08:39nanti perkembangannya.
08:40Bukan ada laporan yang wajib,
08:42bukan ada segala macam.
08:43Artinya apa?
08:44Ini gagasan Trump.
08:45Kalau mau jujur,
08:46dalam konteks,
08:47apa namanya,
08:48PBB,
08:49kembali lagi.
08:50Kenapa Trump mengambil gagasan ini?
08:52Karena dia tahu,
08:53kalau gagasan ini dibahas di PBB,
08:55pasti ditolak.
08:57Oleh majoritas.
08:59Nah,
08:59tolong dilihat,
09:01Trump adalah negara yang paling membebaskan,
09:03bela Israel,
09:04dan sudah,
09:05atau bukan Trump saja deh,
09:07pemerintah Amerika sebelumnya.
09:09Puluhan resolusi dewan PBB,
09:11dewan keamanan PBB itu,
09:12tidak jalan karena diveto oleh Amerika.
09:15Artinya apa?
09:16Trump tahu,
09:17kalau dia,
09:18paksakan kemauannya,
09:20nanti pasti diveto oleh China atau Rusia.
09:22dia jalan sendiri.
09:23Tolong diingat juga,
09:25yang namanya gagasan BOP ini,
09:27Kongres dan DPR Amerika sendiri kan awalnya gak tahu.
09:31Oke.
09:31Ujuk-ujuk juga munculnya.
09:33Baik.
09:33Bahkan mereka mempertanyakan,
09:35ketika anggaran belanja buat Amerika sendiri masih tidak menentu,
09:40kok mereka sudah menentukan akan membentuk BOP,
09:44dari mana lagi danannya.
09:45Oke.
09:45Baik.
09:45Artinya terlalu banyak pertanyaan dibandingkan jawaban yang konkret.
09:48Nanti kita lanjutkan lagi.
09:50Pak Dian, jangan kemana-mana saudara.
09:51Tetap di Bola Liar.
Komentar

Dianjurkan