Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, menegaskan bahwa pesan yang ingin disampaikan Presiden jelas: penegakan aturan, bukan penargetan etnis.

Ada anggapan bahwa sebagian pengusaha besar tidak sepenuhnya terintegrasi dengan masyarakat luas.

Maka, muncul dorongan agar pelaku usaha besar "give back to the country" memberi kembali kepada bangsa melalui penciptaan lapangan kerja, pembangunan komunitas, dan kontribusi sosial nyata.

Bagaimana pendapat Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/ROjVyyb0jL0



#indonesia #prabowo #9naga



Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi Anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah Lebih Dekat, Satu Langkah Makin Terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/652113/mari-elka-pangestu-ungkap-pesan-presiden-prabowo-soal-penegakan-aturan-rosi
Transkrip
00:00Anda masih bersama Rosie, kali ini episode-nya berjudul Cindo, Cinta Indonesia.
00:07Di kalangan Genzi, Cindo itu ngetren banget.
00:10Saya mengundang, ya tentu saja bukan Genzi,
00:13dia adalah seorang yang bisa dibilang saintis, penulis buku,
00:19pendiri Harian Jakarta Post, Bapak Yusuf Manandi,
00:23dan seorang perempuan Indonesia keturunan Tionghoa,
00:27perempuan pertama yang masuk dalam kabinet Ibu Mari, LK Pangestu.
00:31Pak Yusuf tahu nggak kata Cindo?
00:33Tau, baru denger nih.
00:36Benar. Memang kalau Pak Yusuf nggak tahu kata Cindo, wajar.
00:40Karena ini banyak Genzi sekarang bilang Cindo.
00:43Cina Indonesia.
00:45Tapi konteksnya sebenarnya positif, karena keren gitu.
00:49Orang-orang Chinese yang jadi Indonesia,
00:52dan ya keren aja sih sama sekali nggak ada.
00:55Kalau banyak dari kami melihat ini bukan sebuah julukan yang negatif,
01:00bahkan cool gitu.
01:01Nah, Cindo dalam program ROSI kali ini,
01:05kami panjangkan menjadi Cinta Indonesia.
01:08Ya, bagus.
01:09That's well appreciated.
01:10Nah, Pak Yusuf, kan Presiden Prabowo,
01:17Pak Menhan Safri Samsudin juga sering mengatakan bahwa ekonomi kita ini hanya dikuasai loh,
01:24gelintir orang, 50 sampai 60 keluarga, oligarki, dan lain sebagainya.
01:29Itu kemudian diterengarai adalah mereka kelompok Taipan keturunan Tionghoa.
01:36Apakah kemudian seruan-seruan seperti ini Anda melihat sebagai bagian dari yang bisa dibilang cukup rasis?
01:45Ya, saya kira ini sudah on the losing end.
01:49Ini cara-cara begini, besok nggak kepake lagi.
01:53Jadi, saya kira memang harus kita lupakan.
01:57Meskipun saya akui bahwa dari sononya dari dulu itu,
02:02hal ini memang sangat ditonjolkan.
02:05But now, I don't think so.
02:07And we don't need to, saya kira.
02:10Dan kalau saya kira juga masih dinamakan begini-begitu,
02:14so what?
02:15Begitu loh.
02:15Kita lihat dia itu bangsa Indonesia,
02:18berjasa atau tidak.
02:19That is the difference.
02:21Jadi, saya kira memang that difference that we have seen before,
02:27I don't think it is that strong anymore.
02:30But, saya cuma ingatkan kepada yang anak-anak kita yang keturunan ini,
02:37don't think it for granted.
02:38However, karena saya nggak kira,
02:41atau saya kira sekarang ini,
02:43it's not totally eradicated.
02:45Jadi, harus ada usaha bersama untuk kita atasi.
02:51Masih tetap, saya kira, diperlukan.
02:53Pak, tapi kalau misalnya bahwa hanya ekonomi Indonesia dikuasai oleh 50-60 negara,
02:58dan itu kemudian dipersepsikan sebagai hampir semuanya adalah taipan-taipan keturunan Tionghoa,
03:05menurut Bapak itu ada benarnya?
03:07Atau ini juga mengandung semacam kok jadi agak rasial ya?
03:12Ada mengandung itu.
03:15Kenapa mereka saja yang di-pinpoint, misalnya.
03:18Ya, tetapi memang sejarahnya begitu dibuat oleh Belanda,
03:21sampai kita jadi terpisah-pisah.
03:23Jadi, dengan demikian,
03:25we have to get rid of it now.
03:28Saya ketemu tentu bapak-bapak ini kadang-kadang ya.
03:32Jadi, saya merasa...
03:33Taipan-taipan ini maksudnya?
03:34Taipan-taipan ini.
03:35Kan barusan ini oleh Pak Prabowo ditanyakan ini,
03:38orang-orang nggak becus nih, begitu.
03:41Ya, saya kira Pak Prabowo juga mengerti,
03:44bahwa nggak becus, nggak becus,
03:45tapi itu peringatan kepada mereka ini,
03:47lu bantu Republik lu, ya?
03:49Kan begitu maksudnya.
03:51Jadi, I don't think he is a racial man.
03:54Bapak tidak melihat seorang Prabowo itu...
03:57Racial?
03:57Ya.
03:57Nggak becah.
03:58Karena saya...
03:59Tapi bahwa memang ekonomi Indonesia dikuasai,
04:03atau lebih pada dominan 50-60 keluarga,
04:08itu ada benarnya?
04:10Ya, ini kita bisa berdebatkan ya,
04:13berapa besar dan sebagainya.
04:15Tetapi, sebetulnya ini perlu satu perkembangan
04:19yang biasa dalam arti,
04:22sudah dibuat sebegitu 200 tahun,
04:26kemudian dilaksanakan,
04:27sehingga kita juga ada setback,
04:30sebetulnya, dalam bidang ini.
04:33Jadi, of course we have still some work to do,
04:36untuk menghapus ini.
04:38Jadi, saya kan baru ketemu Pak Prabowo nih,
04:42bahwa juga yang keturunan-keturunan,
04:44untuk bisa menawarkan,
04:48mereka mau membantu,
04:50terutama dalam mengecewakan problem of poverty.
04:55Ya, dan lapangan kerja,
04:56yang diapindo kan?
04:57Ya, benar.
04:58Jadi, karena itu saya kira,
05:00if you leave to that,
05:01if you just implement that,
05:04ini soal yang akan selesai tersendirinya.
05:09Tidak perlu kita ribut-ribut,
05:12sebetulnya.
05:14Tapi, saya ingin,
05:15seperti tadi saya bilang,
05:17my Indonesian friends, Chinese,
05:19be careful,
05:21we are not completely over this issue.
05:24So, jangan ambil,
05:26kamu semua anggap menteng saja.
05:28Masih ada,
05:29dan kamu harus tahu dirimu di mana.
05:33Itu perlu saya ingatkan.
05:35Jadi, Pak Yusuf juga ingin mengingatkan,
05:38bagi para pengusaha,
05:39yang selama ini memang sudah,
05:43mencapai tingkat debat tertentu,
05:45mencapai tingkat kemakmuran tertentu,
05:47harus selalu ingat juga untuk,
05:49masyarakatnya.
05:51Masyarakatnya.
05:52Time to give back.
05:53Betul.
05:54Bu, mari, coba,
05:55gimana,
05:55kalau ibu misalnya melihat,
05:59situasi pengusaha,
06:00misalnya,
06:00mereka merasa bahwa,
06:01aduh,
06:01kok kayaknya jadi target nih ya.
06:05Bagaimana Bu Mario menjelaskan bahwa,
06:08ini bukan tentang sesuatu,
06:09memang mentarget satu usaha,
06:12keluarga tertentu,
06:14pengusaha tertentu,
06:15yang memang bisa dibilang keturunan Tionghoa.
06:17Tapi ini pure bahwa,
06:19hey, time to give back to the country.
06:22Saya rasa ada dua hal ya.
06:25Pertama,
06:27message ya,
06:28saya rasa yang ingin disampaikan oleh Presiden adalah,
06:30yang besar-besar ini,
06:33jangan melanggar peraturan,
06:35jangan melakukan hal-hal,
06:37untuk memajukan bisnisnya,
06:39yang tidak halal.
06:40Jadi,
06:41ada message itu.
06:42Jadi,
06:43kalau Anda melanggar,
06:44konsesi Anda tidak,
06:45izinnya tidak,
06:46tidak sesuai.
06:48Kita denda,
06:49atau kita ambil.
06:50Jadi,
06:51itu sebetulnya,
06:52apakah itu keturunan,
06:53atau bukan keturunan,
06:54menurut saya,
06:55itu message beliau yang beliau sampaikan.
06:58Namun,
06:59memang yang kita harapkan,
07:00dalam implementasinya,
07:02itu benar-benar yang bersalah ya,
07:04yang dipunish.
07:06Tidak semena-mena gitu ya.
07:08Ini yang mungkin harus,
07:10harus kita harapkan itu terjadi.
07:12Kedua,
07:14ya memang,
07:15bagaimana,
07:17perusahaan-perusahaan,
07:18yang memang dimiliki oleh minoritas,
07:20ini bukan masalah baru,
07:22saya rasa di zaman Soeharto,
07:23zaman Soekarno,
07:24itu juga berulang kali terjadi.
07:27Bagaimana,
07:28persepsi bahwa,
07:29mereka itu,
07:31tidak terintegrasi,
07:32dengan masyarakat Indonesia.
07:35Jadi,
07:35giving back,
07:36bagaimana mereka give back,
07:37dan bagaimana mereka menciptakan lapangan pekerjaan,
07:41dan membangun komunitas,
07:42di sekitar,
07:43usaha mereka ya.
07:45Ataupun,
07:45giving back itu,
07:46waktu zaman Soeharto,
07:47pernah dibuat prasetya mulia.
07:49Betul.
07:49Di mana,
07:50semuanya bergabung,
07:51untuk menyumbang,
07:52untuk membangun sekolah,
07:53dengan tujuan,
07:54untuk membangun,
07:55professional manager.
07:57Sehingga,
07:58lebih banyak,
07:59orang Indonesia,
08:00apakah keturunan,
08:01atau bukan keturunan,
08:02yang bisa,
08:03berbisnis,
08:03bisa masuk menjadi profesional.
08:05Dan saya rasa,
08:06itu satu sumbangan,
08:07yang cukup berhasil ya.
08:09Nah,
08:09itu bagaimana sekarang,
08:10untuk membantu,
08:11daerah miskin,
08:13daerah bencana,
08:14itu mungkin yang,
08:15lebih kepada,
08:17di luar membayar pajak ya.
08:19Bahwa,
08:21bagaimana Anda itu,
08:23cindo,
08:24tapi cinta Indonesia.
08:25Benar-benar,
08:26giving backnya itu,
08:28membangun,
08:28bersama-sama juga,
08:30Indonesia.
08:30Saya,
08:31perasaan saya seperti itu ya.
08:32dan saya rasa presiden,
08:34juga dalam posisi seperti itu.
08:38selamat menikmati,
08:38selamat menikmati.
08:39Selamat menikmati.
08:39Selamat menikmati.
08:39selamat menikmati.
Komentar

Dianjurkan