00:00Anda masih bersama Rosie, kali ini episode-nya berjudul Cindo, Cinta Indonesia.
00:07Di kalangan Genzi, Cindo itu ngetren banget.
00:10Saya mengundang, ya tentu saja bukan Genzi,
00:13dia adalah seorang yang bisa dibilang saintis, penulis buku,
00:19pendiri Harian Jakarta Post, Bapak Yusuf Manandi,
00:23dan seorang perempuan Indonesia keturunan Tionghoa,
00:27perempuan pertama yang masuk dalam kabinet Ibu Mari, LK Pangestu.
00:31Pak Yusuf tahu nggak kata Cindo?
00:33Tau, baru denger nih.
00:36Benar. Memang kalau Pak Yusuf nggak tahu kata Cindo, wajar.
00:40Karena ini banyak Genzi sekarang bilang Cindo.
00:43Cina Indonesia.
00:45Tapi konteksnya sebenarnya positif, karena keren gitu.
00:49Orang-orang Chinese yang jadi Indonesia,
00:52dan ya keren aja sih sama sekali nggak ada.
00:55Kalau banyak dari kami melihat ini bukan sebuah julukan yang negatif,
01:00bahkan cool gitu.
01:01Nah, Cindo dalam program ROSI kali ini,
01:05kami panjangkan menjadi Cinta Indonesia.
01:08Ya, bagus.
01:09That's well appreciated.
01:10Nah, Pak Yusuf, kan Presiden Prabowo,
01:17Pak Menhan Safri Samsudin juga sering mengatakan bahwa ekonomi kita ini hanya dikuasai loh,
01:24gelintir orang, 50 sampai 60 keluarga, oligarki, dan lain sebagainya.
01:29Itu kemudian diterengarai adalah mereka kelompok Taipan keturunan Tionghoa.
01:36Apakah kemudian seruan-seruan seperti ini Anda melihat sebagai bagian dari yang bisa dibilang cukup rasis?
01:45Ya, saya kira ini sudah on the losing end.
01:49Ini cara-cara begini, besok nggak kepake lagi.
01:53Jadi, saya kira memang harus kita lupakan.
01:57Meskipun saya akui bahwa dari sononya dari dulu itu,
02:02hal ini memang sangat ditonjolkan.
02:05But now, I don't think so.
02:07And we don't need to, saya kira.
02:10Dan kalau saya kira juga masih dinamakan begini-begitu,
02:14so what?
02:15Begitu loh.
02:15Kita lihat dia itu bangsa Indonesia,
02:18berjasa atau tidak.
02:19That is the difference.
02:21Jadi, saya kira memang that difference that we have seen before,
02:27I don't think it is that strong anymore.
02:30But, saya cuma ingatkan kepada yang anak-anak kita yang keturunan ini,
02:37don't think it for granted.
02:38However, karena saya nggak kira,
02:41atau saya kira sekarang ini,
02:43it's not totally eradicated.
02:45Jadi, harus ada usaha bersama untuk kita atasi.
02:51Masih tetap, saya kira, diperlukan.
02:53Pak, tapi kalau misalnya bahwa hanya ekonomi Indonesia dikuasai oleh 50-60 negara,
02:58dan itu kemudian dipersepsikan sebagai hampir semuanya adalah taipan-taipan keturunan Tionghoa,
03:05menurut Bapak itu ada benarnya?
03:07Atau ini juga mengandung semacam kok jadi agak rasial ya?
03:12Ada mengandung itu.
03:15Kenapa mereka saja yang di-pinpoint, misalnya.
03:18Ya, tetapi memang sejarahnya begitu dibuat oleh Belanda,
03:21sampai kita jadi terpisah-pisah.
03:23Jadi, dengan demikian,
03:25we have to get rid of it now.
03:28Saya ketemu tentu bapak-bapak ini kadang-kadang ya.
03:32Jadi, saya merasa...
03:33Taipan-taipan ini maksudnya?
03:34Taipan-taipan ini.
03:35Kan barusan ini oleh Pak Prabowo ditanyakan ini,
03:38orang-orang nggak becus nih, begitu.
03:41Ya, saya kira Pak Prabowo juga mengerti,
03:44bahwa nggak becus, nggak becus,
03:45tapi itu peringatan kepada mereka ini,
03:47lu bantu Republik lu, ya?
03:49Kan begitu maksudnya.
03:51Jadi, I don't think he is a racial man.
03:54Bapak tidak melihat seorang Prabowo itu...
03:57Racial?
03:57Ya.
03:57Nggak becah.
03:58Karena saya...
03:59Tapi bahwa memang ekonomi Indonesia dikuasai,
04:03atau lebih pada dominan 50-60 keluarga,
04:08itu ada benarnya?
04:10Ya, ini kita bisa berdebatkan ya,
04:13berapa besar dan sebagainya.
04:15Tetapi, sebetulnya ini perlu satu perkembangan
04:19yang biasa dalam arti,
04:22sudah dibuat sebegitu 200 tahun,
04:26kemudian dilaksanakan,
04:27sehingga kita juga ada setback,
04:30sebetulnya, dalam bidang ini.
04:33Jadi, of course we have still some work to do,
04:36untuk menghapus ini.
04:38Jadi, saya kan baru ketemu Pak Prabowo nih,
04:42bahwa juga yang keturunan-keturunan,
04:44untuk bisa menawarkan,
04:48mereka mau membantu,
04:50terutama dalam mengecewakan problem of poverty.
04:55Ya, dan lapangan kerja,
04:56yang diapindo kan?
04:57Ya, benar.
04:58Jadi, karena itu saya kira,
05:00if you leave to that,
05:01if you just implement that,
05:04ini soal yang akan selesai tersendirinya.
05:09Tidak perlu kita ribut-ribut,
05:12sebetulnya.
05:14Tapi, saya ingin,
05:15seperti tadi saya bilang,
05:17my Indonesian friends, Chinese,
05:19be careful,
05:21we are not completely over this issue.
05:24So, jangan ambil,
05:26kamu semua anggap menteng saja.
05:28Masih ada,
05:29dan kamu harus tahu dirimu di mana.
05:33Itu perlu saya ingatkan.
05:35Jadi, Pak Yusuf juga ingin mengingatkan,
05:38bagi para pengusaha,
05:39yang selama ini memang sudah,
05:43mencapai tingkat debat tertentu,
05:45mencapai tingkat kemakmuran tertentu,
05:47harus selalu ingat juga untuk,
05:49masyarakatnya.
05:51Masyarakatnya.
05:52Time to give back.
05:53Betul.
05:54Bu, mari, coba,
05:55gimana,
05:55kalau ibu misalnya melihat,
05:59situasi pengusaha,
06:00misalnya,
06:00mereka merasa bahwa,
06:01aduh,
06:01kok kayaknya jadi target nih ya.
06:05Bagaimana Bu Mario menjelaskan bahwa,
06:08ini bukan tentang sesuatu,
06:09memang mentarget satu usaha,
06:12keluarga tertentu,
06:14pengusaha tertentu,
06:15yang memang bisa dibilang keturunan Tionghoa.
06:17Tapi ini pure bahwa,
06:19hey, time to give back to the country.
06:22Saya rasa ada dua hal ya.
06:25Pertama,
06:27message ya,
06:28saya rasa yang ingin disampaikan oleh Presiden adalah,
06:30yang besar-besar ini,
06:33jangan melanggar peraturan,
06:35jangan melakukan hal-hal,
06:37untuk memajukan bisnisnya,
06:39yang tidak halal.
06:40Jadi,
06:41ada message itu.
06:42Jadi,
06:43kalau Anda melanggar,
06:44konsesi Anda tidak,
06:45izinnya tidak,
06:46tidak sesuai.
06:48Kita denda,
06:49atau kita ambil.
06:50Jadi,
06:51itu sebetulnya,
06:52apakah itu keturunan,
06:53atau bukan keturunan,
06:54menurut saya,
06:55itu message beliau yang beliau sampaikan.
06:58Namun,
06:59memang yang kita harapkan,
07:00dalam implementasinya,
07:02itu benar-benar yang bersalah ya,
07:04yang dipunish.
07:06Tidak semena-mena gitu ya.
07:08Ini yang mungkin harus,
07:10harus kita harapkan itu terjadi.
07:12Kedua,
07:14ya memang,
07:15bagaimana,
07:17perusahaan-perusahaan,
07:18yang memang dimiliki oleh minoritas,
07:20ini bukan masalah baru,
07:22saya rasa di zaman Soeharto,
07:23zaman Soekarno,
07:24itu juga berulang kali terjadi.
07:27Bagaimana,
07:28persepsi bahwa,
07:29mereka itu,
07:31tidak terintegrasi,
07:32dengan masyarakat Indonesia.
07:35Jadi,
07:35giving back,
07:36bagaimana mereka give back,
07:37dan bagaimana mereka menciptakan lapangan pekerjaan,
07:41dan membangun komunitas,
07:42di sekitar,
07:43usaha mereka ya.
07:45Ataupun,
07:45giving back itu,
07:46waktu zaman Soeharto,
07:47pernah dibuat prasetya mulia.
07:49Betul.
07:49Di mana,
07:50semuanya bergabung,
07:51untuk menyumbang,
07:52untuk membangun sekolah,
07:53dengan tujuan,
07:54untuk membangun,
07:55professional manager.
07:57Sehingga,
07:58lebih banyak,
07:59orang Indonesia,
08:00apakah keturunan,
08:01atau bukan keturunan,
08:02yang bisa,
08:03berbisnis,
08:03bisa masuk menjadi profesional.
08:05Dan saya rasa,
08:06itu satu sumbangan,
08:07yang cukup berhasil ya.
08:09Nah,
08:09itu bagaimana sekarang,
08:10untuk membantu,
08:11daerah miskin,
08:13daerah bencana,
08:14itu mungkin yang,
08:15lebih kepada,
08:17di luar membayar pajak ya.
08:19Bahwa,
08:21bagaimana Anda itu,
08:23cindo,
08:24tapi cinta Indonesia.
08:25Benar-benar,
08:26giving backnya itu,
08:28membangun,
08:28bersama-sama juga,
08:30Indonesia.
08:30Saya,
08:31perasaan saya seperti itu ya.
08:32dan saya rasa presiden,
08:34juga dalam posisi seperti itu.
08:38selamat menikmati,
08:38selamat menikmati.
08:39Selamat menikmati.
08:39Selamat menikmati.
08:39selamat menikmati.
Komentar