Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Di tengah kebijakan tarif dagang Amerika Serikat, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu menegaskan Indonesia tetap punya daya tawar.

"Daya tawar kita ya sebetulnya kita negara yang boleh dikatakan negara relatif besar, negara yang demokratis.

Jadi dari kacamata Amerika dan kita tidak ada masalah-masalah konflik dengan Amerika maupun dengan negara lain. Jadi kita dianggap relatif positif ya," katanya.

Sementara itu, Mari mengatakan Indonesia masuk Board of Peace itu bisa dilihat dengan positif.

Menurutnya saat ini Indonesia dalam posisi menjaga hubungan dengan Amerika yang positif. Dan itu membantu negosiasi yang relatif cukup susah.

Mari berharap hasilnya akan baik, bukan hanya untuk Indonesia. Namun menjadi daya tawar tersendiri jika dibandingkan negara lain yang menjadi pesaing Indonesia.

Bagaimana pendapat Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/ROjVyyb0jL0



#imlek #china #indonesia



Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi Anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah Lebih Dekat, Satu Langkah Makin Terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/652109/mari-elka-pangestu-respons-soal-tarif-dagang-hingga-board-of-peace-indonesia-punya-daya-tawar-kuat
Transkrip
00:00Seberapa besar daya tawar kita untuk bisa menurunkan tarif dagang kita?
00:05Ya baik negosiasi perdagangan maupun board of peace.
00:09Dalam arti sepertinya seolah-olah itu Amerika secara unilateral ya.
00:15Menentukan hal-hal yang sebenarnya buat kita juga kurang nyaman caranya.
00:19Tapi intinya sih sebetulnya seperti Pak Yusuf sampaikan tadi.
00:24Kita tetap harus bernegosiasi dan berhubungan dengan Amerika.
00:27Dan perjanjian perdagangan juga sama.
00:31Walaupun kita sangat tidak suka dengan caranya ataupun hal-hal yang diminta ke kita.
00:37Tapi bagaimana kita menafigasi supaya apa yang diinginkan oleh Trump tercapai.
00:44Tetapi sebenarnya itu tidak merugikan kepentingan nasional kita.
00:47Apa daya tawar kita Bu?
00:48Jadi daya tawar kita ya sebetulnya kita negara yang boleh dikatakan negara relatif besar.
00:55Negara yang demokratis.
00:58Jadi dari kacamata Amerika dan kita tidak ada masalah-masalah konflik dengan Amerika maupun dengan negara lain.
01:06Jadi kita dianggap relatif positif ya.
01:09Setahu saya Amerika melihatnya relatif positif.
01:13Termasuk bahwa kita masuk board of peace itu dilihatnya seperti sebagai positif ya.
01:19Jadi kita sebetulnya dalam posisi menjaga hubungan dengan Amerika yang positif.
01:25Dan itu membantu negosiasi yang sebetulnya boleh dikatakan cukup susah ya.
01:30Tapi menurut saya mudah-mudahan ini hasilnya nanti cukup baik ya.
01:35Dan cukup baik itu bukan hanya relatif ke Indonesia ya.
01:39Tapi kita harus melihatnya relatif dibanding yang diperoleh oleh negara lain yang menjadi pesaing kita.
01:45Karena itu sebetulnya yang kita bargainingnya di situ.
01:48Jadi bagaimana kalau ada orang berasumsi kita ikut the board of peace
01:54supaya juga bisa dapat kompensasi yang baik dalam tarif dagang.
02:01Kira-kira seberapa make sense hipotesa ini?
02:06Nggak langsung berkaitan ya kalau menurut saya.
02:09Tetapi it doesn't hurt kalau kita dianggap positif oleh Amerika di dalam kita melakukan negosiasi.
02:18Tapi negosiasinya tetap sulit ya di dalam pelaksanaannya.
02:23Tapi kita menurut saya sih berhasil untuk bisa mendapat yang terbaik lah.
02:28Tanpa kita belum tahu nih hasilnya.
02:30Tapi kalau kita tidak negosiasi itu dampaknya lebih parah sih.
02:36Kalau kita tetap di 32 persen, nggak turun ke 19 persen.
02:40Itu banyak industri kita yang dependensi ke pasar Amerika.
02:45Seperti garment, textile, foodware, fishery products, maple.
02:50Itu sekitar 4 juta lebih pekerjaan yang akan bisa terancam gitu ya.
02:58Tapi simulasi kita nih dari Dewan Ekonomi Nasional.
03:01Kalau kita dari 32 turun ke 19 itu bisa menciptakan kira-kira 630 ribu pekerjaan baru.
03:08Dengan langsung dari 32 ke 19.
03:12Apalagi ini kan harapan yang bisa kurang.
03:15Terutama yang untuk padat karya itu akan lebih banyak lagi pekerjaan yang diciptakan.
03:23Jadi itu manfaat ya.
03:24Kita bicara manfaat yang kita ingin dapat dari perjanjian ini.
03:29Tapi tentunya tanpa mengorbankan kepentingan nasional.
03:34Karena itu juga sudah menjadi bottom line-nya dari Presiden sendiri.
03:38Seberapa besar Pak Yusuf meyakini bahwa tarif dagang kita bisa menghasilkan kabar baik?
03:44Sekarang ini sistem dunia ini kan gila.
03:47Jadi karena itu apa yang dapat kita rebut atau apa dapat kita peroleh sekarang
03:53dengan cara-cara yang sekarang bisa diterima itu selalu positif untuk kita.
03:59Jadi jangan ingat dulu mau menyembah Trump segala hantu itu.
04:06Tidak ada itu kalau menurut saya.
04:08Tergantung kita.
04:09Kita anggap we need it, go and get it.
04:14That's it.
04:15Dan mengamankan kepentingan nasional itu penting.
04:18Jadi board of peace atau perjanjian perdagangan itu istilah kita itu ada escape clause-nya.
04:24Jadi dari permintaan-permintaan yang mungkin kurang nyaman itu ada escape clause-nya.
04:29Jadi board of peace misalnya.
04:30Kalau anytime kita merasa apa yang mereka lakukan atau ciptakan sebagai terms kita nggak nyaman.
04:36Kita bisa keluar.
04:38Perdagangan juga sama.
04:39Diminta untuk macam-macam yang sebetulnya mengganggu sovereignty.
04:43Kita bisa ada escape clause-nya.
04:45Subject to domestic regulation.
04:48Subject to national interest.
04:50Subject to WTO.
04:51Jadi ada ininya.
04:52Mengamankan kepentingan nasionalnya.
04:55Karena harus membayar 17 triliun itu juga termasuk mengagetkan dan bikin orang apa-apaan nih gitu.
05:02Ini kan kamu bergaul dengan orang-orang yang kaya.
05:06Jadi bagaimanapun juga kalau dia bilang bayar ya bayar.
05:10Saya kira ya.
05:26Kalau nggak salah perlu dikasih tiga tahun kok untuk bayar.
05:30Terima kasih telah menonton.
Komentar

Dianjurkan