KOMPAS.TV - Pendidikan bukan sekadar soal sekolah, dan kepemimpinan bukan hanya tentang jabatan. Dalam Podcast Ruang Temu Jalma kali ini, Gita Wirjawan membagikan pandangannya tentang pendidikan membentuk cara berpikir, dan bagaimana kepemimpinan menentukan arah masa depan, baik individu maupun sebuah bangsa.
Dari sebuah pengalaman, refleksi, dan gagasan dalam karya-karyanya, percakapan ini mengajak kita melihat ulang, apa arti belajar di zaman yang serba cepat, pemimpin seperti apa yang dibutuhkan hari ini, dan nilai apa yang seharusnya kita jaga untuk masa depan.
Tonton video ini sampai selesai, dan temukan ruang untuk berpikir bersama.
#RuangTemuJalma #GitaWirjawan #Pendidikan #kompastv #rosikompastv #podcast #rosiannasilalahi
Digital Manager : Haris Mahardiansyah
EP: Anna Ariestania
Produser: Leiza Sixmansyah
Video Editor: Galih
Grafis Thumbnail: Farhan
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/647922/full-blak-blakan-gita-wirjawan-soal-pendidikan-indonesia-hingga-dosen-feodal-ruang-temu-jalma
Dari sebuah pengalaman, refleksi, dan gagasan dalam karya-karyanya, percakapan ini mengajak kita melihat ulang, apa arti belajar di zaman yang serba cepat, pemimpin seperti apa yang dibutuhkan hari ini, dan nilai apa yang seharusnya kita jaga untuk masa depan.
Tonton video ini sampai selesai, dan temukan ruang untuk berpikir bersama.
#RuangTemuJalma #GitaWirjawan #Pendidikan #kompastv #rosikompastv #podcast #rosiannasilalahi
Digital Manager : Haris Mahardiansyah
EP: Anna Ariestania
Produser: Leiza Sixmansyah
Video Editor: Galih
Grafis Thumbnail: Farhan
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/647922/full-blak-blakan-gita-wirjawan-soal-pendidikan-indonesia-hingga-dosen-feodal-ruang-temu-jalma
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00:00Mas, apakah dengan sederhana Mas Gita ingin mengatakan Indonesia tidak akan pernah bisa menjadi negara maju
00:00:07tanpa memperbaiki kualitas pendidikannya?
00:00:10Sepakat, seribu persen.
00:00:12Kalau kita jalan dari Sabang sampai Merauke, 88 persen dari kepala rumah tangga gak punya pendidikan S1.
00:00:19Udah gitu, harapan kita adalah seorang anak jalan, naik ojek, naik perahu, naik truk, naik bus, ke sekolah.
00:00:29Dia mudah-mudahan bisa berhadapan dengan guru yang bisa mengkompensasi defisiensi yang ada di rumah tangganya.
00:00:36Tapi sayangnya guru cuma digaji 2,8 juta per bulan, honorer 500 ribu.
00:00:42Paling berbahaya sebenarnya federalisme di dunia pendidikan.
00:00:45Itu paling berbahaya.
00:00:47Sangat, kita selalu bicara mengenai kerentanan, kesenjangan dalam konteks kekayaan dan pendapatan dan peluang.
00:00:53Tapi kita jarang ngobrol mengenai kesenjangan atau inequality dalam konteks apakah itu pendidikan ataupun energi.
00:01:01Energi di Sabang itu beda dengan energi di kota-kota lain.
00:01:06Energi di Jakarta jauh lebih tinggi daripada energi di kota-kota lain.
00:01:09Halo, selamat datang di podcast Ruang Temu Jalma.
00:01:23Ini adalah episode di bulan Januari 2026.
00:01:28Karenanya masih boleh dong bilang selamat tahun baru.
00:01:32Semoga tahun 2026 menjadi tahun yang penuh berkah bagi kita semua.
00:01:37Tahun baru tetap baca buku.
00:01:41Podcast Ruang Temu Jalma ini kami adakan di toko buku Gramedia Jalma di Blok M.
00:01:48Tempat bertemunya ide, gagasan dari buku ke percakapan.
00:01:55Pada kesempatan kali ini adalah sesuatu yang sangat istimewa.
00:01:59Karena yang menjadi tamu podcast Ruang Temu Jalma kali ini sebenarnya seseorang yang sudah saya kenal ya bisa dibilang 20 tahun lamanya.
00:02:14Mungkin anak sekarang mengenalnya sebagai seorang podcast dari sebuah pembicaraan yang isinya daging semua.
00:02:22Tamu-tamunya berkualitas, berkelas.
00:02:27Jadi untuk Anda semua yang hadir di podcast Ruang Temu Jalma.
00:02:33Tepuk tangan untuk Bapak Gita Wirjawan.
00:02:35Wow, aku panggil Mas aja boleh ya.
00:02:41Bro.
00:02:42Bro.
00:02:43Pegang mikrofonnya Mas Gita.
00:02:47Thank you, Rosy.
00:02:48Thank you.
00:02:48Aduh, udah lama banget gak ketemu.
00:02:51Sangat, sangat, sangat lama sekali.
00:02:54Seperti tadi introductionku ke Mas Gita.
00:02:57Mas Gita dikenal sebagai seorang podcaster and game.
00:03:02Tapi tau gak Pak Gita ini sebenarnya secara CV, his CV is amazing.
00:03:09Ia memulai karirnya, correct me, correct me, correct me, aku kalau salah pernah di Citibank.
00:03:16Orang nomor satu di JP Morgan, yang headquarternya di New York.
00:03:22Betul ya, JP Morgan.
00:03:24Orang nomor satu loh, jadi bukan di Indonesia.
00:03:29Lalu kemudian pernah menjadi menteri di kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
00:03:37Menjadi kepala BKPM, Menteri Perdagangan.
00:03:41So, sudah malang melintang dalam banyak dunia di kabinet, di kampus.
00:03:50Ya, menurut saya seorang yang sangat lengkap.
00:03:53Jadi, dengan menulis buku, this is your first book, right Mas?
00:04:00Siap.
00:04:01What it takes, dari tepi menuju inti kesadaran global Asia Tenggara.
00:04:06Ini sebuah sekali lagi pencapaian yang luar biasa.
00:04:10So, congratulations Mas Gita.
00:04:11Makasih, makasih banyak.
00:04:13So, apa kabar dulu?
00:04:14Oke, oke banget.
00:04:16Ini agak-agak nostalgic, karena baru sadar bahwa ini toko buku yang gue dulu mampir, hampir setiap minggu, waktu SD SMP.
00:04:27Tahun berapa tuh?
00:04:27Tahun 70-an.
00:04:28Ada yang sudah lahir di sini?
00:04:33Jadi kalau beli alat tulis, pensil, bolpen, buku, buku pelajaran, spidol di sini.
00:04:40Tapi sudah transformasi dan ada unsur historisnya yang masih ada sih.
00:04:47Keren banget.
00:04:47Jadi sejak kecil selalu ke toko buku Gramedia?
00:04:50Hanya untuk beli alat tulis, bukan beli buku.
00:04:55Lebih banyak alat tulis, terus ya komik dulu juga dijual di sini.
00:04:59Dulu komik-komik yang dijual itu Gundala, Godam.
00:05:05Gundala Putra Petir.
00:05:07Godam, Sancaka, karakter-karakter gitu.
00:05:10Ada dulu di toko ini.
00:05:12Tapi ya keren banget bisa balik setelah puluhan tahun.
00:05:16Terima kasih Mas Gita.
00:05:19Jadi waktu Jalma dan Kompas TV membuka link pendaftaran untuk narasumbernya Pak Gita ini
00:05:27hanya dalam tempo 2 jam full.
00:05:30Dan saya tahu di kolom komennya banyak yang cukup komplain karena kok cepat banget.
00:05:36Anyway, Pak Gita masuk dulu ke buku What It Takes ini.
00:05:41Apa yang membuat Pak Gita akhirnya merasa perlu membuat buku?
00:05:46Ini bermuara di kegelisahan.
00:05:49mengenai bagaimana orang Asia Tenggara.
00:05:53Itu enggak terlalu bisa bercerita.
00:05:56Enggak terlalu bisa bercerita mengenai dirinya sendiri atau mengenai apapun selain dirinya sendiri,
00:06:03ke siapapun termasuk dirinya sendiri dan keluar.
00:06:07Ini empiris kalau kita lihat publikasi yang dikeluarkan mengenai Asia Tenggara.
00:06:14Dari awal waktu sampai sekarang itu enggak lebih dari 375 ribu publikasi.
00:06:18Yang mana kebanyakan itu adalah tulisan yang dilakukan oleh orang non-Asia Tenggara.
00:06:24Dalam konteks publikasi di seluruh dunia yang jumlahnya kurang lebih 140 juta.
00:06:33Secara persentase itu cuma 0,27 persen.
00:06:36Kecil banget.
00:06:37375 ribu dibagi 140 juta kurang lebih 0,2 persen untuk wilayah yang jumlah manusianya atau populasinya 700 juta yang merupakan 9 persen dari populasi dunia.
00:06:53Nah ini membuktikan bahwa kita enggak bisa satu bercerita, dua bercerita dengan literasi dan numerasi, ketiga kita enggak bisa mendokumentasi.
00:07:09Wisdom, turun-temurun wisdom itu dilakukan secara verbal.
00:07:14Kakek saya dulu pernah ngomong, orang tua saya dulu pernah ngomong, tapi kita enggak bisa presentasikan dengan sesuatu yang tertulis.
00:07:22Dengan literasi dan numerasi semestinya.
00:07:25Ini kalau menurut saya yang harus diobati.
00:07:28Nah oleh karena itu saya memberanikan diri, tentunya ini ketidaksempurnaannya banyak dalam buku ini.
00:07:34Tapi saya memberanikan diri untuk menulis mengenai kawasan Asia Tenggara.
00:07:38Bukan hanya mengenai Indonesia, karena kalau menurut saya cerita mengenai Asia Tenggara itu jauh lebih kaya daripada cerita hanya mengenai Indonesia.
00:07:46Dan kolektivitas Asia Tenggara itu perlu dikedepankan.
00:07:51Mengingat perubahan, perkembangan, evolusi dunia ini semakin eksponensial terkait dengan ekonomi, teknologi, perubahan iklim, dan geopolitik.
00:08:05Jadi kesatuan kita, kohesiveness kita ini semakin dibutuhkan untuk menghadapi tantangan-tantangan yang berevolusi dengan kecepatan yang jauh lebih eksponensial daripada sebelumnya.
00:08:20Mas Gita, tapi kalau kita misalnya masuk ke fokus tentang di Indonesia sendiri, jadi dari Asia Tenggara itu Indonesia berapa persen?
00:08:2943 persen. Jadi dari sisi populasi dan ekonomi, populasi 700 juta kita 285, ya 40 sekian persen.
00:08:37PDB atau aktivitas ekonominya 4 triliun dolar, kita 1,5 triliun dolar, ya kan?
00:08:44Itu kurang lebih ya hampir 40 persen.
00:08:47Jadinya kita ini porsi yang paling besar dari Asia Tenggara.
00:08:52Jadi apa yang kita ucapkan, apa yang kita tulis, apa yang kita lakukan, itu sangat mempengaruhi kesatuan Asia Tenggara yang sekarang terdiri dari 11 negara.
00:09:02Tapi kita terlalu sering berbangga diri mengenai diversitas, kita kurang menyadari mengenai divergensi.
00:09:12Diversitas itu beda dari divergensi.
00:09:15Diversitas itu kekayaan etnisitas kita yang berbagai ragam, biodiversitas kita yang berbagai ragam,
00:09:24religi kita yang berbagai ragam, ada 250-300 juta muslim, 150 juta nasrani, 150 juta buddha, 20 juta hindu dan macam-macam, menjadi 700 juta.
00:09:37Tapi divergensinya, ini konotasinya gak terlalu positif, divergensi pendidikan.
00:09:43Dari 11 negara, hanya 2 negara yang melewati rata-rata skor PISA, yang mengukur profisiensi lingual atau komunikasi dan profisiensi stem.
00:09:54Science, Technology, Engineering, and Mathematics untuk bisa berhitung Vietnam dan Singapura yang melewati rata-rata dunia.
00:10:02Indonesia nomor 69 dari 81 negara, Cambodia nomor 81 dari 81 negara.
00:10:07Ini di level sekunder atau non-tertiar, SMA ke bawah, umur 15 tahun.
00:10:15Di level tertiar atau universitas, ini agak mengelisahkan.
00:10:20Ada 10.000 kampus di Asia Tenggara, setengahnya di Indonesia, 20 juta mahasiswa di Asia Tenggara, tapi hanya 2 universitas yang berada di peringkat 20 teratas di dunia.
00:10:33Dua-duanya di Singapura.
00:10:35Oh, gak ada Indonesia?
00:10:37Gak ada, jadinya Singapura itu NTU dan NUS masuk peringkat 20 teratas, setelah itu di Asia Tenggara itu hanya Malaysia, nomor 53, namanya University Malaya.
00:10:50Saya gak usah ngomong mengenai peringkat universitas di Indonesia, tapi jauh di bawah itu.
00:10:54Dan ini agak beda dengan Tiongkok, yang hanya memiliki 3.000 kampus, Asia Tenggara 10.000, Tiongkok 3.000 kampus, dengan jumlah mahasiswa 45 sampai 50 juta.
00:11:08Tapi mereka memiliki sekarang 3 universitas yang di peringkat 20 teratas, mereka memiliki 8 universitas yang berada di peringkat 10 teratas untuk kepentingan research and development.
00:11:20Di seluruh dunia.
00:11:22Dan sistem pendidikan di Tiongkok itu kalau kita mau ke Wuhan, ke Chungqing, ke Chengdu, ke Thalian, ke Shenzhen, ke Shanghai, ke Beijing, atau ke Xinjiang,
00:11:34kualitas pendidikannya itu beda-beda tipis.
00:11:37Sedangkan kalau di Asia Tenggara, kalau kita sekolah di Chiang Mai, di Merauke, di Singapura, di Cebu, di Yangon, atau di Manila,
00:11:49itu bedanya jauh sekali.
00:11:51Nah ini divergensi mengenai kualitas pendidikan yang kalau menurut saya itu berkorelasi dengan divergensi capaian ekonomi.
00:12:01Nah paling gampang ukurnya pendapatan per kapita di Asia Tenggara yang paling tinggi itu di Singapura,
00:12:0691.000 dolar.
00:12:08Nomor dua itu Brunei, 30-40.000 dolar.
00:12:11Setelah itu 9 dari 11 negara di Asia Tenggara itu bukan negara maju.
00:12:20Negara maju itu PDB per kapitanya harus 13.250 dolar per orang per tahun.
00:12:26Malaysia aja masih 13.000, Indonesia 5.000, Filipina 4.000, Thailand 5.000-an kalau nggak salah.
00:12:314 atau 5 dari 11 negara di Asia Tenggara itu PDB per orang per tahun ya di bawah 2.000 dolar.
00:12:38Itu divergensi ekonomi yang kalau menurut saya berkorelasi dengan divergensi pendidikan.
00:12:44Nah ini kalau nggak disikapi ya struktural.
00:12:47Mas, apakah dengan sederhana Mas Gita ingin mengatakan Indonesia tidak akan pernah bisa menjadi negara maju
00:12:54tanpa memperbaiki kualitas pendidikannya?
00:12:58Sepakat, seribu persen.
00:13:00Kalau kita jalan dari Sabang sampai Merauke, 88 persen dari kepala rumah tangga nggak punya pendidikan S1.
00:13:06Udah gitu, harapan kita adalah seorang anak jalan, naik ojek, naik perahu, naik truk, naik bus, ke sekolah.
00:13:16Dia mudah-mudahan bisa berhadapan dengan guru yang bisa mengkompensasi defisiensi yang ada di rumah tangganya.
00:13:23Tapi sayangnya guru cuma digaji 2,8 juta per bulan, honorer 500 ribu.
00:13:30Nah, siapapun kalau mau sukses itu butuh ambisi, imajinasi, dan kehokian.
00:13:38Ambisi, imajinasi itu hanya bisa disuntik oleh sosok yang inspiratif.
00:13:43Apakah itu tante, om, orang tua, guru, bos, atau orang yang secara random ketemu di pasar ikan
00:13:50yang nggak tahu gimana ngomong sesuatu yang inspiratif.
00:13:54Eh, keren juga nih.
00:13:55Ya, tapi kalau begitu, kalau imajinasi, ambisi, tadi bisa ditemui oleh kapanpun, berarti nggak usah harus sekolah dong.
00:14:03Kita gaul aja.
00:14:05Dan kemudian kalau kita dapet mentor yang keren, kita bisa juga jadi keren.
00:14:09Betul, tapi in the absence of which, kalau nggak ada mentor yang keren, itu akan terjadi brain rot.
00:14:16Iya kan?
00:14:17Makanya kita harus berupaya supaya kalau dia di rumah tangganya nggak bisa dapet inspirasi dan imajinasi dari orang tua yang,
00:14:25mohon maaf, kebetulan nggak punya pendidikan S1, anomali ada ya yang positif.
00:14:29Tapi dengan premis bahwa 88 persen dari rumah tangga di Indonesia itu nggak memiliki pendidikan S1,
00:14:38satu-satunya cara untuk mengkompensasi defisiensi tersebut adalah di sekolah.
00:14:43Karena dia 8 jam di sekolah.
00:14:47Ya, dia mungkin ke pasar ikan cuma 30 menit.
00:14:49Kalau dia beruntung ketemu orang yang lagi jualan ikan, tiba-tiba ngomong mengenai molecular biology,
00:14:53itu anomali, tapi nggak bisa digeneralisasi.
00:14:58Jadi kita harus pastikan guru yang interaksinya 8 jam dengan seorang murid dan guru yang bertanggung jawab untuk meng-scale up.
00:15:09Makanya saya berargumentasi bahwasannya teaching is more scalable than parenting.
00:15:15Karena as a parent orang tua itu berhadapan di depan 3 anak, tapi guru berhadapan di depan 20 sampai 200 anak.
00:15:21Jadi kalau kita mau meng-scale up kebodohan, itu di sekolah.
00:15:25Kalau gurunya bodoh.
00:15:26Kalau kita mau meng-scale up brilliance, kita juga berharap di sekolah.
00:15:30Karena kalau gurunya brilliant, kita bisa meng-scale up brilliance.
00:15:34Apalagi dia berhadapan di depan 200 siswa-siswi yang bisa disuntik setiap hari ambisi dan imajinasi.
00:15:42Lu kalau mau jadi jurnalis yang keren di kompas, lu harus punya ambisi.
00:15:48Lu harus punya imajinasi.
00:15:49Dan lu kalau mau sukses jadi presiden, bupati, gubernur, balik kota, atau CEO perusahaan, harus ada unsur kehokian.
00:15:59Garis tangan.
00:16:00Garis tangan, tapi ini ada perbedaan antara smart luck dan blind luck.
00:16:04Saya mau ke situ nanti, Mas Gita.
00:16:07Tapi saya ingat kita pernah satu masa, terutama ketika startup itu bermunculan, lalu ada Mark Zuckerberg.
00:16:16Mereka-mereka yang sukses dengan Facebook, mereka enggak sekolah.
00:16:24Mereka drop out dari sekolah.
00:16:27Dan itu kemudian menjadi euforia bahwa buat apa sekolah?
00:16:30Orang-orang terkaya yang kemudian menjadi panutan startup itu, mereka enggak sekolah tapi pinter dan kaya.
00:16:38Mark Zuckerberg, dia sekolah di private school, kalau enggak salah di Phillips Academy, diterima di Harvard.
00:16:47Untuk bisa diterima di Harvard, ngambil S1, enggak bisa odop.
00:16:53Artinya dia sudah melewati fase yang mana dia sudah disuntik ambisi dan imajinasi yang luar biasa.
00:17:01Yang mana di tingkat dua, sewaktu beliau sekolah, dia sudah punya keyakinan.
00:17:09Dia sudah enggak perlu lagi suntikan tambahan untuk imajinasi dan ambisi.
00:17:13Makanya dia memberanikan diri.
00:17:17Nah ini enggak bisa digeneralisasi bahwasannya pendidikan itu enggak dibutuhkan.
00:17:22Saya hanya bisa menggeneralisasi.
00:17:24Dia mau sekolah di level TK, tapi kalau dia sudah punya kualifikasi kognitif.
00:17:31Untuk bisa diterima di Caltech, MIT, Princeton, Harvard, Oxford, Tsinghua.
00:17:36Dia enggak perlu sekolah di Tsinghua.
00:17:37Dia sudah memiliki ambisi dan imajinasi secukupnya untuk mendirikan meta prime.
00:17:43Atau meta prime prime, atau meta prime prime, prime prime.
00:17:47Nah ini yang harus dididik.
00:17:48Bahwa sosok yang imajinatif, inspiratif itu adalah sosok yang bisa menyuntik kriteria semestinya untuk siapapun menjadi siapapun yang sukses.
00:18:01Yaitu ambisi dan imajinasi.
00:18:02Ambisi dan imajinasi.
00:18:05Untuk sekelas orang Gita Wirjawan bisa seperti sekarang, nomor satu di JP Morgan Indonesia, malang melintang di dunia private banking, dikenal dengan reputasi yang baik.
00:18:19Tentu saja bisa seperti ini karena Mas Gita sekolahnya bagus.
00:18:23Terus sekolahnya Harvard.
00:18:25Jadi ketika Mas Gita mengatakan bahwa lu harus sekolah.
00:18:29Tapi kan enggak semua orang bisa seberuntung dan memiliki privilege seperti seorang Gita Wirjawan.
00:18:36Yang enggak bisa dipungkiri adalah ada orang di Indonesia yang mungkin sekolah di SMA berapa filial di Jember.
00:18:49Bukan berarti dia enggak bisa sukses mendirikan meta prime, atau Microsoft prime, atau Google prime, atau Nvidia prime.
00:18:58Selama dia bisa berinteraksi dengan siapapun yang bisa menyuntik ambisi dan imajinasi yang setara dengan apapun yang sudah disuntik ke orang seperti Bill Gates, Mark Zuckerberg, Jensen Huang, Sundar Pichai, Jack Ma, dan lain-lain.
00:19:15Jadinya ini agnostik terkait dengan sekolahnya di mana.
00:19:21Ini enggak bisa digeneralisasi bahwa kalau orang mau sukses harus sekolah di sekolah yang keren banget.
00:19:26Enggak, itu bukan poinnya.
00:19:28Tapi kalau menurut saya dia mau sekolah di rumah pun asal dia disuntik imajinasi dan ambisi semestinya syukur-syukur lebih tinggi imajinasi dan ambisinya dibanding imajinasi dan ambisi yang disuntik ke Mark Zuckerberg, Bill Gates, dan lain-lain.
00:19:44Jadi ini bareng.
00:19:45Nah ini yang harus dibudayakan.
00:19:49Gimana membudayakan percakapan, diskusi, ataupun diskursus di rumah, di kantor, di sekolah, di tempat ibadah, di institusi sosial bahwa yang dikejar itu adalah superlatif.
00:20:02Yang dikejar itu adalah perfeksionism.
00:20:04Nah kita kurang berbicara kalau lagi gak plek sama teman-teman SMP, bro gimana ya supaya anak-anak kita bisa membuat reusable rocket supaya bisa mendarat di Mars dan melakukan penambangan di sana supaya kita gak merusak lingkungan kita di sini.
00:20:26Ada gak percakapan seperti itu sambil main gaplek dan ngopi.
00:20:31Gimana ya supaya optimus yang dibuahkan diproduksi oleh Tesla ini dengan biaya konon 20-30 ribu dolar ini bisa dimanufaktur di Indonesia dengan biaya hanya 4 ribu dolar per unit.
00:20:47Gimana ya caranya supaya generasi penerus itu bisa memproduksi barang dan jasa dengan efisiensi, efekasi atau efektivitas yang lebih tinggi daripada presiden-presiden yang kita saksikan apakah itu di Tiongkok ataupun di Amerika Serikat.
00:21:02Itu kalau menurut saya topik-topik yang harus dibudayakan atau dibicarakan.
00:21:09Dan kalau kita udah bisa membudayakan hal-hal seperti itu di rumah, di kantor, di sekolah, di institusi sosial, di tempat ibadah, mau dia Nasrani, Islam, Yahudi, Buddha, Hindu dan lain-lain, jadi itu barang.
00:21:25Insya Allah.
00:21:26Mas Gita yang mengatakan bahwa sekolah penting, sekolah bagus juga sama pentingnya, tetapi kalaupun kita tidak bersekolah bagus, selama kita menemukan didikan yang menyuntik imajinasi kita, kreativitas kita, kita tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang kompeten.
00:21:47Nah apakah Mas Gita bisa sekarang itu purely karena Harvard atau sebenarnya juga di luar didikan Harvard?
00:21:57Saya bisa mengatribusikan mungkin ya apapun yang saya sudah raih ke ibu saya, ke bapak saya, ibu saya yang mendisiplinkan saya, ayah saya yang mendidik saya untuk melakukan intelektualisasi.
00:22:15Saya bisa mengatribusikan ke guru kelas 3 SD saya.
00:22:19Kelas 3?
00:22:20Kelas 3 SD.
00:22:21Waktu beliau mengajar mata pelajaran mencongak, sekarang sudah tidak diajarin lagi tuh.
00:22:27Mencongak itu dia bertanya, oke ada kereta yang berangkat dari stasiun Gambir dengan 100 penumpang.
00:22:37Di Cirebon turun 57, naik 23, terus stop di Semarang, itu kita dilatih untuk berpikir, ya kan, dan berimajinasi.
00:22:47Terus saya tidak lupa pertanyaan-pertanyaannya dan itu kalau saya korelasikan ke belakang, itu dia melatih saya untuk melakukan imajinasi.
00:22:56Terus saya tidak lupa guru kelas 1 SMP saya di Pangudi Luhur, yang suruh mengajar agama, itu sekolah katolik,
00:23:05suruh mengajar agama, tapi dia ngomong mengenai filsafat, ngomong mengenai Socrates, ngomong mengenai ini.
00:23:11Terus itu memicu proses imajinasi saya dan waktu saya SMA di India, guru musik saya,
00:23:18waktu mengajar musik, teori musik untuk melakukan sinkopasi, improvisasi dalam musik jazz,
00:23:26itu mengajarkan konsep bahwasannya kita untuk lebih berani melakukan eksperimentasi,
00:23:32keluar dari koridor untuk melakukan sinkopasi ataupun improvisasi, keluar dari koridor semestinya,
00:23:39namanya klasik, untuk bisa melakukan improvisasi jazz.
00:23:44Itu sangat filosofis dan saya berani bilang kalau saya tidak disuntik,
00:23:52hal-hal seperti itu mungkin saya tidak bisa berimajinasi dan berambisi seperti apa yang selama ini saya rasakan.
00:23:58Tapi peran orang tua, peran guru dan ada juga secara random ketemu orang di mana yang ngomong sesuatu yang nyetrum.
00:24:08Nah itu kalau menurut saya hanya bisa terjadi kalau lingkungannya itu tidak toxic,
00:24:15lingkungannya itu sangat kondusif untuk kepentingan pengedepanan inovasi.
00:24:20Dan pengedepanan inovasi itu hanya bisa terjadi kalau ada keterbukaan.
00:24:26Pembentukan otak itu terjadi sampai umur 9, peningkatan IQ sampai umur 16.
00:24:34Setelah umur 16, kalau siapapun mau maju itu dia perlu keterbukaan.
00:24:38Hanya dengan keterbukaan orang itu bisa maju karena dia bisa mengkombinasikan kekuatan inovasi dengan kekuatan preservasi.
00:24:45Kekuatan preservasi itu namanya ortodoksi atau tradisi atau sejarah.
00:24:51Tapi kita harus ada keterbukaan untuk merangkul kekuatan inovasi.
00:24:56Kalau tidak ada keterbukaan ya sulit.
00:24:58Nah sosok yang inspiratif itu akan mengajarkan, mendidik anak yang umur 16 tahun ke atas untuk lebih ada keterbukaan.
00:25:07Kalau terlalu kolot, tidak ada keterbukaan sulit untuk siapapun mengkombinasikan kekuatan inovasi dengan kekuatan preservasi.
00:25:14Apalagi kalau sampai umur 9 tahun pembentukan otaknya tidak optimal.
00:25:19Apalagi kalau sampai umur 16 tahun peningkatan IQ-nya tertahan di 78,49.
00:25:26Ini struktural.
00:25:28Nah ini kalau menurut saya kita harus menyadari bahwa pembentukan otak sampai umur 9 tahun harus robust, harus diharness.
00:25:37Dikawal dengan baik, dipupuk dengan baik.
00:25:39Peningkatan IQ sampai umur 16 harus dikawal dengan baik, dipupuk dengan baik.
00:25:44Terus dari 16 tahun ke atas itu harus dilatih agar manusia itu atau warga ada keterbukaan.
00:25:51Itu kan kalau situasinya serba ideal, Mas Gita.
00:25:54Bagaimana kalau situasinya sekolahnya juga tidak terlalu baik dan keluarga dalam hal ini orang tua juga punya kesibukan untuk survive, bekerja.
00:26:12Guru.
00:26:12Karena guru itu berinteraksi dengan murid 8 jam sehari.
00:26:19Orang tua mungkin berinteraksi dengan anak paling banter 2-3 jam.
00:26:23Sarapan sama makan malam.
00:26:26Iya kan?
00:26:26Udah gitu anak-anak sambil melihat HP lagi sambil makan.
00:26:31Kalau enggak sarapan atau makan malam.
00:26:32Tapi kalau guru, kalau didisiplinkan untuk anak-anak, siswa-siswi enggak megang HP, itu interaksi 8 jam harus dioptimalkan untuk kepentingan pengedepanan inovasi.
00:26:46Tapi kalau gurunya cuma digaji 2,8 juta, ya talenta yang terbaik itu enggak akan mau kerja jadi guru.
00:26:54Mungkin maunya kerjanya di Kompas atau Kramedia.
00:26:56Nah ini yang sangat struktural.
00:27:01Dan ada 3,5-4 juta guru yang ditugaskan mengajarkan puluhan juta manusia yang akan menjadi generasi penerus.
00:27:12Tapi kalau kita enggak berani menyikapi kompensasi dan kualitas guru dan kita enggak mau mencari titik optimal interseksi antara talenta dan kekuasaan.
00:27:24Ya sulit narasi bangsa kita ke depan.
00:27:28Tapi ini harus mulai dari kesadaran bahwa ada hal-hal yang struktural yang cukup problematis dan harus disikapi.
00:27:35Saya pernah baca sekilas ketika Jepang hancur oleh bom atom Hiroshima.
00:27:43Jadi Kaisar Hirohito itu kira-kira begini, bukan ditanya berapa gedung yang hancur atau berapa tank yang hancur.
00:27:52Tapi yang ditanya adalah berapa guru yang masih kita miliki.
00:27:56Jadi ketika kehancuran itu terjadi di Jepang, jadi tidak melulu tentang pembangunan gedung.
00:28:04Tetapi bagaimana mengembalikan landasan pendidikan bagi anak-anak dan masyarakat Jepang.
00:28:12Dan kita lihat bagaimana kemudian setelah itu Jepang menjadi bangsa yang luar biasa kuatnya terdidik.
00:28:18Tapi sekaligus juga tidak pernah melupakan akar tradisi mereka.
00:28:21Nah Mas Gita apa yang ini mereka semua pada datang ke toko buku Jalma ingin mendengar tentu dari perspektif Mas Gita.
00:28:34Kalau mereka di sekolah tidak dapat pendidik yang bisa menjadi mentor atau mereka juga tidak memiliki kesempatan yang bisa dibilang privilege,
00:28:47apa yang bisa mereka lakukan?
00:28:52Banyak.
00:28:53Nonton podcast yang bermutu.
00:28:55And game contohnya.
00:28:57Ya Pak, saya bukan mau promosi di situ.
00:28:59Tapi banyak podcast-podcast seperti Jalma, podcastnya Rosy yang bermutu.
00:29:05Terus bagaimana untuk menyebarluaskan kedisiplinan untuk membaca buku.
00:29:11Ini kalau menurut saya budaya baca buku ini, saya ngomong gini bukan karena di toko buku ya.
00:29:18Tapi kalau menurut saya kalau kita mau ngelihat bangsa kita maju,
00:29:23satu dengan optimisme, satu dengan problem recognition.
00:29:28Optimismenya gampang.
00:29:29Tiongkok di tahun 80 pendapatan per orang per tahunnya cuma 125 dolar, Indonesia 400 dolar.
00:29:39Dalam 40-an tahun, sekarang 46 tahun, 2026, itu Tiongkok pendapatan per orang per tahunnya sudah 13 ribu dolar.
00:29:47Indonesia hanya 5 ribu dolar.
00:29:49Bayangin mereka beranjak dari 125 dolar ke 13 ribu dolar dalam satu generasi.
00:29:55Singapura tahun 65 pendapatan per orang per tahunnya di bawah 100 dolar, sama dengan Kenya dan Uganda.
00:30:03Sekarang 91 ribu dolar per orang per tahun.
00:30:07Dalam satu setengah generasi mereka bisa lompat dari di bawah 100 dolar per orang per tahun menjadi 91 ribu dolar.
00:30:13Ini optimisme, bahwasannya it is doable.
00:30:16Ini bisa dilakukan oleh bangsa manapun selama kepemimpinannya bulat dan masyarakat luasnya bulat untuk mengedepankan pendidikan.
00:30:24Tapi dua-duanya ini melakukan investasi di kualitas guru.
00:30:29Tiongkok itu gak ada kompromi.
00:30:30Mengerikrut guru dari persental 20% teratas.
00:30:34Korea Selatan lebih gila lagi, 5% persental teratas.
00:30:39Nah ini empiris bahwasannya kalau guru dirikrut dari 20% persental teratas,
00:30:43dia dalam satu tahun bisa ngajar satu setengah tahun ajaran.
00:30:47Jadi bayangin proses kognitifnya dari TK sampai SMA 14 tahun sekolah,
00:30:51di otaknya dia itu ada 14 tahun kali satu setengah ajaran.
00:30:57Kalau gurunya datang dari 20% persental teratas.
00:31:01Tapi kalau dari 20% persental terbawah, dalam satu tahun dia hanya bisa ngajar setengah tahun.
00:31:07Ini anak sekolah 14 tahun dari TK sampai SMA kelas 3,
00:31:11di otaknya cuma ada 7 tahun ajaran.
00:31:12Nah ini kita gak inginkan, karena guru kalau direkrut dari bottom 20% persental,
00:31:20itu dia hanya bisa ngajar setengah tahun ajaran dalam satu tahun.
00:31:23Jadi kalau anak sekolah 14 tahun itu di otaknya cuma ada 7 tahun ajaran.
00:31:29Nah ini mudah kan, bisa diobati kan.
00:31:31Tapi kita harus berani menggaji guru kita dengan gaji yang berkenan.
00:31:37Nah jadinya kalau gurunya gak berkualitas,
00:31:41ya mungkin alternatif lainnya adalah untuk bagaimana seorang orang tua,
00:31:46pemimpin tempat ibadah,
00:31:49manajer di kantor,
00:31:52kepala institusi sosial apapun,
00:31:54itu membudayakan budaya-budaya yang keren.
00:31:57Ya udah nih lu baca buku aja deh, jangan nonton TikTok aja.
00:32:01Itu kalau menurut saya it's a good first step yang bisa diambil oleh anak-anak muda.
00:32:05Tapi ini bukan mengkompensasi defisiensi kualitas guru.
00:32:11Kalau menurut saya yang struktural adalah kita harus berani menyikapi pengrekrutan guru.
00:32:18Rasanya memang itu sebuah sesuatu yang mutlak ya.
00:32:23Sekolah itu atau pendidikan itu harus benar-benar menjadi tugas negara untuk secara kualitas diperbaiki.
00:32:33Karena kalau enggak,
00:32:35dengan seluruh tantangan zaman,
00:32:36kita gak mau Indonesia yang disebut Indonesia emas,
00:32:39ketika semua mengagungkan soal Indonesia emas.
00:32:43Tapi kalau kita gak punya fondasi pengetahuan,
00:32:45punya didikan yang mengajarkan critical thinking,
00:32:53maka bisa habis sih bangsa ini.
00:32:57Tapi saya percaya kita selalu memberikan ruang, harapan, dan optimisme.
00:33:02Cuman tadi saya ingin menggarisbawahi apa yang dikatakan oleh Pak Gita adalah
00:33:05apakah itu di sekolah, apakah itu di rumah,
00:33:09atau di komunitas-komunitas manapun yang mempertemukan kita,
00:33:15maka yang paling penting adalah bagaimana kita secara terus-menerus harus merangsang apa yang disebut dengan imajinasi.
00:33:22Tanpa imajinasi, maka kita hanya menjadi seorang robot.
00:33:28Kita hanya akan menjadi orang-orang,
00:33:30menjadi apa,
00:33:32ya terombang-ombang,
00:33:33terombang-ambing oleh satu keadaan,
00:33:35karena kita sendiri tidak tahu apa yang harus kita lakukan.
00:33:38Jadi membangun dan merawat imajinasi itu penting,
00:33:42yang kemudian disuntik dengan kreativitas.
00:33:45Nah Pak Gita, saya mau membuka forum dulu untuk mereka yang sudah hadir,
00:33:49karena saya tahu mereka adalah orang-orang yang pasti sudah menyimpan pertanyaan untuk Pak Gita Wirjawan.
00:33:55Segera acungkan?
00:33:57Yes, ah, yes.
00:33:58Paling tidak kamu sudah punya imajinasi dan kreativitas dengan duluan menunjukkan tangan.
00:34:04Sebutkan nama.
00:34:05Terima kasih atas kesempatan yang diberikan,
00:34:07dan perkenalkan, nama aku Nurul Fatla.
00:34:11Aku mau bertanya,
00:34:13kan kita sudah sering mendiskusikan tentang pendidikan,
00:34:18jeleknya pendidikan Indonesia, rendahnya pendidikan Indonesia.
00:34:21Jika tidak ada langkah konkret dari pemerintah,
00:34:25apakah masih ada harapan untuk pendidikan berkualitas?
00:34:28kan kita tahu bahwa anggaran pendidikan kita dipotong untuk prioritas pemerintah yaitu MBG.
00:34:37Ini saja sudah membuktikan bahwa pemerintah itu tidak serius untuk memajukan pendidikan.
00:34:44Sudah mungkin itu saja pertanyaan dari saya.
00:34:48Terima kasih.
00:34:48Itu pertanyaan untuk Rosy, bukan untuk saya.
00:34:55Oke, saya mau coba bungkus ini dalam konteks pendidikan.
00:35:01Anggaran pendidikan per tahun itu kurang lebih 800 triliun.
00:35:06Saya pernah menyampaikan eksperimen ide.
00:35:11Kalau kita berani mengrekrut dan menggaji guru per bulan 40 juta saja,
00:35:19dibanding 2,8 juta.
00:35:21Kita mengrekrut 100 ribu guru.
00:35:24Masing-masing digaji 40 juta per bulan, itu 4 triliun setiap bulan.
00:35:33Iya kan?
00:35:35Dan masing-masing guru yang direkrut ini kalau bisa IQ-nya 120 ke atas,
00:35:40bisa berdongeng, multibahasa, dan bisa menyuntik imajinasi dan ambisi.
00:35:49Dan syukur-syukur bisa melatih kehokian.
00:35:52Saya itu sering cerita bahwa smart luck itu lebih baik daripada blind luck.
00:35:57Smart luck itu kalau Butet Owi mukul shuttlecock 2000 kali setiap hari,
00:36:02dilatih dengan Richard Mainaki untuk memastikan
00:36:05sebanyak mungkin shuttlecock-nya itu melewati net dan jatuh di sebelum garis.
00:36:09Begitu mereka sampai di semifinal Olimpiade,
00:36:14kemungkinan besar mereka itu bisa menempatkan shuttlecock-nya di atas net dan sebelum garis.
00:36:19Begitu mereka sampai di final kejuaraan dunia,
00:36:23kemungkinan besar karena mereka tiap hari mukul 2000 kali,
00:36:26kemungkinan besar mereka bisa menempatkan shuttlecock di sebelum garis.
00:36:30Nah, kalau guru ini masing-masing dari 100 ribu diharuskan memenuhi kriteria seperti itu,
00:36:404 triliun per bulan setahun cuma 48 triliun kan.
00:36:4548 triliun dalam konteks 800 triliun masih manageable.
00:36:51Ini perlu keterbukaan dari sisi policy making.
00:36:54Tentunya kemuliaan terkait dengan pemberian gizi ke katanya melebihi 80 juta makanan per hari.
00:37:05Kemarin pidato di Davos kan, sekarang sudah kurang lebih 60 juta akan ditingkatkan ke 80 juta makanan per hari.
00:37:12Kalau kemuliaan itu bisa dipertanggungjawabkan dalam arti gizinya bermutu,
00:37:20itu bisa berkorelasi dengan peningkatan pembentukan otak dan peningkatan IQ.
00:37:25Mengingat bahwasannya masyarakat luas di Indonesia dan negara-negara Afrika dan lain-lain,
00:37:30itu sangat menderita dari stunting.
00:37:33Stunting itu berkorelasi dengan pembentukan otak,
00:37:36berkorelasi dengan peningkatan IQ atau kurangnya pembentukan otak atau kurangnya peningkatan IQ.
00:37:42Kalau itu bisa dipertanggungjawabkan,
00:37:44enggak ada alasan untuk enggak bisa mengkombinasikan kemuliaan peningkatan otak
00:37:49dan peningkatan pengrekrutan guru yang bermutu.
00:37:55Jadinya saya enggak mau berkomentar politik,
00:37:58tapi saya mau berkomentar konsep.
00:38:01Konsepnya kalau menurut saya bisa dikombinasikan,
00:38:05tapi saya ingin sekali melihat kesadaran untuk berani atau secara proaktif
00:38:11mengrekrut guru dengan gaji 40 juta per bulan.
00:38:15Kalau itu bisa dilakukan, saya akan sangat optimis.
00:38:19Dan apakah saya optimis mengenai Indonesia?
00:38:21Saya sangat optimis.
00:38:23Saya selalu kalau ditanya pertanyaan seperti itu tergantung durasi.
00:38:28Kalau durasinya 6 minggu, saya enggak terlalu optimis.
00:38:31Tapi kalau durasinya 20-30 tahun ke depan,
00:38:33saya sangat optimis mengenai Indonesia.
00:38:35Karena anak-anak muda sekarang itu sudah bisa menunjukkan kelaparan dan kehausan
00:38:39untuk perubahan kognitif secara positif.
00:38:43Ini tercermin dalam platform kita di podcast yang saya enggak ngira,
00:38:48ternyata banyak sekali.
00:38:49Dan ini kalau dilakukan oleh pendongeng-pendongeng lainnya
00:38:53untuk mengedepankan inovasi untuk meningkatkan kapasitas kognitif,
00:38:57kayaknya bisa nih ke arah yang benar.
00:39:02Saya mau bantu jawab.
00:39:04Saya paham betul bagaimana rasa frustasi teman-teman mahasiswa kelas menengah.
00:39:10Saya sangat bisa merasakan itu.
00:39:13Mereka susah-susah sekolah.
00:39:15Mereka capek-capek sekolah.
00:39:17Tapi realitas yang ada justru yang mendapat tempat adalah yang
00:39:22enggak sekolah atau tidak berkeringat,
00:39:25tetapi hanya karena privilege satu dan lain halnya.
00:39:30Tapi percayalah.
00:39:32Tadi kata kunci dari Pak Gita itu menurut saya bagus banget.
00:39:35Satu, imajinasi, kreativitas, dan ambisi.
00:39:42Jadi selama kita punya tiga ini, kita punya imajinasi tentang apa yang ingin kita lakukan,
00:39:48kita terus mencari ilmu apakah itu di kampus, di sekolah,
00:39:55dan kemudian kita punya ambisi atau ikhtiar yang tidak pernah berhenti,
00:39:58percayalah.
00:39:59Karena antara ini dan ini itu akan pasti menyatu.
00:40:03Seberapa beratnya jalan hidupmu,
00:40:06kamu akan menemukan satu titik di mana kamu akan mendapat mimpimu.
00:40:10Jadi segala sesuatu yang kita pikirkan, kita harapkan,
00:40:17kita rasakan, dan kita ucapkan dalam doa,
00:40:20semesta akan menuntunmu menjadi seperti apa yang kamu inginkan.
00:40:24Amin.
00:40:26Baik, terima kasih.
00:40:27Nama saya Farhan.
00:40:29Seringkali Pak Gita menyampaikan atau mengagumentasikan di
00:40:33baik platform media sosial maupun di forum-forum secara langsung
00:40:37terkait keterbukaan kita untuk mengundang tenaga pendidik dari luar
00:40:43untuk mengajar di dalam negeri, terkait topik apapun.
00:40:47Nah, baru saja atau mungkin sekarang masih, saya belum taruh update,
00:40:53Presiden dan Menteri dan Pejabat terkait ke Inggris untuk salah satu agendanya
00:41:00untuk mengajak atau mengundang atau mengajak kolaborasi bersama Indonesia
00:41:05untuk membuka mungkin institusi pendidikannya di Indonesia.
00:41:10Nah, bagaimana pandangan Pak Gita terhadap hal tersebut?
00:41:14Apakah itu sebagai hal yang senafas dengan argumentasi yang seringkali Pak Gita sampaikan?
00:41:20Terima kasih.
00:41:22Saya sangat menyambut dengan baik, dengan catatan.
00:41:26Kalau yang dipanggil untuk mengajar dari Inggris ke sini,
00:41:31itu untuk kepentingan mengajar sesuatu yang sudah ada.
00:41:36Ahlinya di Indonesia, ya itu mungkin detrimental.
00:41:39Tapi kalau, ya saya sering menggunakan contoh di Kuningan, dekat Cirebon,
00:41:44kalau ada kebutuhan oleh warga untuk mendidik warga mudanya mekanika kuantum
00:41:50dan enggak ada orang kuningan yang ahli mekanika kuantum
00:41:53dan kebetulan yang ada adalah orang Inggris
00:41:55yang asalnya mungkin Ethiopia atau Somalia dengan pasport Inggris
00:42:00dan dia kebetulan adalah ahli mekanika kuantum yang paling keren di dunia.
00:42:05Ya, kenapa enggak?
00:42:07Kita harus ada keterbukaan untuk mendemokratisasikan pendidikan.
00:42:11Ini yang seringkali saya sampaikan.
00:42:12LITMUS TES atau TES LITMUS
00:42:16untuk pengedepanan pendidikan adalah untuk terjadinya demokratisasi pendidikan.
00:42:22Kalau kita enggak punya guru untuk mengajar anak-anak kita di Jember,
00:42:27di Kuningan, di Tarakan, di Lahat, di Meroke
00:42:31untuk mereka bisa mengetahui mengenai mekanika kuantum
00:42:34dan kebetulan yang ada adanya di Inggris,
00:42:37ya kita harus ada keterbukaan.
00:42:40Kalau enggak ada, harus datangin.
00:42:42Tapi kalau di Inggris ternyata yang didatengin orangnya enggak berkualitas,
00:42:46ya itu enggak bisa dipertanggungjawabkan.
00:42:48Nah, itu kalau menurut saya esensi dari demokratisasi pendidikan.
00:42:52Itu yang terjadi di Tiongkok.
00:42:54Itu yang terjadi di Singapura.
00:42:55Itu yang terjadi di Korea Selatan.
00:42:57Itu yang terjadi di Jepang.
00:42:58Di awal waktu mereka itu enggak ngerti mengenai banyak hal.
00:43:02Tiongkok itu semenjak tahun 78 sudah mengirim kurang lebih 9 juta warganya.
00:43:08Sekolah di seluruh dunia.
00:43:11Dan mayoritas ngambil STEM.
00:43:12Yang sekolah di Amerika, di Jepang, di Korea Selatan, Taiwan, Eropa, Australia.
00:43:17Dan mayoritas itu pulang dari 9 juta.
00:43:21Dan mereka yang menopang industrialisasi.
00:43:24Tiongkok tahun 2024 melakukan pendaftaran 1,8 juta patent.
00:43:321,8 juta dalam satu tahun.
00:43:34Asia Tenggara selama 24 tahun sampai tahun 2024 hanya mendaftarkan kurang lebih 300 ribu patent.
00:43:41Itu gambaran dari bagaimana mereka bisa meningkatkan kualitas pendidikan
00:43:47karena adanya keterbukaan di awal waktu.
00:43:49Nah sekarang guru-guru di Tiongkok itu sudah sangat memiliki kualifikasi yang luar biasa.
00:43:56Sehingga mereka enggak perlu melakukan demokratisasi seperti apa yang mereka lakukan di tahun 80-an, 90-an.
00:44:02Mereka menunjukkan keterbukaan dengan ngirim apa yang disebut diaspora, 9 juta.
00:44:07Mereka mendatakan guru dari manapun.
00:44:09Mereka mendatakan ahli dari Jerman, ahli dari Jepang, ahli dari Amerika
00:44:13untuk bangun pabrik, untuk ngajar dan segalanya di sana.
00:44:16Bahkan sekarang pun di kampus Tsinghua, saya baru aja kemarin bicara di Tsinghua dan di Peking University,
00:44:23itu masih ada guru-guru bule di sana.
00:44:25Itu menunjukkan bahwasannya peradaban yang sudah eksis selama 5 ribu tahun
00:44:30masih menunjukkan kehausan, keterbukaan, kelaparan untuk mencari ilmu dari manapun.
00:44:36Itu yang harus diaplikasikan di Indonesia.
00:44:38Jadinya saya mendukung dan menyambut inisiatif yang kemarin dilakukan oleh pimpinan.
00:44:43Selama itu memang bisa menumbuhkan, menumbuhkan, menambahkan pendidikan yang berkualitas di tangan akhir kita.
00:44:52Makanya saya itu termasuk yang cukup setuju ketika Menkes ingin membuka untuk dokter asing di Indonesia,
00:44:59saya termasuk setuju sekali.
00:45:00Kenapa kita harus menolak orang asing ketika itu justru untuk menambah kualitas kesehatan,
00:45:09lalu juga pendidikan, keterbukaan itu kan.
00:45:12Kita harus selalu terbuka ketika itu menambah segala sesuatu yang menyangkut pendidikan,
00:45:17pelayanan kesehatan dan yang ujungnya itu adalah membuat Indonesia itu makin terbuka dan makin maju.
00:45:23Yang tadi tunjukkan kan kamu kan?
00:45:27Iya.
00:45:30Oke, terima kasih.
00:45:34Pimpin Pak Gita, saya akan menyalakan suatu aspirasi lokal.
00:45:38Kamu siapa?
00:45:39Fahri.
00:45:40Fahri, oke.
00:45:40Fahri, mahasiswa asyik publik semester lima.
00:45:43Pak Gita, salah satu sindrom kolonial itu adalah feudalisme.
00:45:48Di dalam lingkungan pendidikan itu seringkali budaya itu sangat menguat.
00:45:57Sehingga relasi antara pengajar dengan yang diajar itu timpang.
00:46:03Implikasinya adalah mahasiswa kerap kali kurang berani untuk menyuarkan idenya.
00:46:11Karena...
00:46:12Gurunya galak.
00:46:13Enggak, feudalisme.
00:46:14Iya, sangat menguat begitu.
00:46:17Nah, konsep Pak Gita terkait untuk mengatasi pendidikan ini dengan merekrut top 20 persentar terbaik di Indonesia
00:46:26dengan menggaji dengan sangat tinggi.
00:46:30Itu barangkali perlu disempurnakan dengan suatu model yang mampu mengatasi sindrom ini Pak Gita.
00:46:38Karena ini harus dihilangkan supaya kemampuan mahasiswa dalam bercerita itu tidak dibatasi oleh feudalisme itu.
00:46:50Terima kasih Pak Gita.
00:46:51Sorry, sebelum itu aku ingin nanya lagi.
00:46:53Apakah sekarang masih banyak dosen feudal?
00:46:56Dalam batas pengalaman saya itu masih.
00:46:58Masa? Benar?
00:47:00Banyak.
00:47:00Banyak? Oh, feudalnya kayak gimana?
00:47:02Masa saya dosen ya.
00:47:03Hah? Kamu dosen? Oh enggak, iya, iya.
00:47:06Kelihatan kamu dosen asik.
00:47:08Iya.
00:47:09Tunggu, kayak gimana?
00:47:09Mungkin kalau di universitas di tingkat Jakarta itu masih udah berkurang ya.
00:47:15Maksudnya kan dari lokal itu, dari daerah Jawa Tengah saya universitasnya itu masih...
00:47:20Saya temen masih ada, tapi untuk yang lulusan dari uang sih enggak.
00:47:24Oke, coba random, kayak gimana sih feudalnya dosen sekarang?
00:47:29Mereka suka ngasih nilai sesuka-sukanya.
00:47:32Suka ngasih nilai sesuka-sukanya.
00:47:34Mereka ada indikator yang disepakati.
00:47:36Kan di awal udah ada kontrak belajar nih.
00:47:38Tapi ketika kita memenuhi kontrak belajar tersebut,
00:47:42justru dari kita jilai, karena dia ngasih nilai sesimbutnya dia.
00:47:47Subyektif.
00:47:48Oke, karena ada Mbak Eri Seda, pengajar di Sosiologi UI.
00:47:55Dia bilang, wah kalau sekarang anak sekarang, wah suka-suka mereka.
00:47:58Kalau saya ngiri apa, lagi kasih kuliah, ada tuh sambil tutorial make up katanya.
00:48:05Jadi oh mahasiswa sekarang bisa gitu?
00:48:06Iya.
00:48:07Ternyata enggak juga ya.
00:48:09Dosen itu feudal, tapi itu menurut saya subyektif kali.
00:48:12Kalau feudal kan artinya dia enggak bisa dibantah, enggak ada tanya jawab.
00:48:16Kan gitu, masih ada.
00:48:17Kalau tidak enak, menurut saya dalam batas-batasnya itu,
00:48:21mungkin di Jakarta udah lumayan di maju ya.
00:48:24Ini kalau kayak saya, asal dari paling waktu,
00:48:27masih keudaran banget kata-kata.
00:48:29Oke, silakan Pak Gita.
00:48:32Ini dalam batas intuisi ya, saya enggak mau mendahului siapapun.
00:48:37Kalau orang digaji 500 ribu sebulan atau 2,8 juta sebulan, honorer, non-honorer,
00:48:48mungkin pandangan hidup dan prioritas hidupnya beda.
00:48:50Dibanding kalau orang tersebut digaji 40 juta sebulan.
00:48:57Iya kan?
00:48:57Dan mungkin kualitas yang mau menerima kenyataan hanya digaji 2,8 atau 500 ribu,
00:49:06itu enggak seperti yang kita inginkan.
00:49:10Dibanding kalau orangnya digaji 40 juta,
00:49:13mungkin kita lebih bisa menyelaraskan aspirasi kita dengan kenyataan di kelas.
00:49:20Iya kan?
00:49:22Saya berusaha sediplomatis mungkin.
00:49:24Pak Gita ingin mengatakan bahwa ada persoalan yang jauh lebih serius yang dia pikirkan.
00:49:29Sehingga konsentrasi dalam hal ini menjadi lumayan.
00:49:34Iya, kalau dia bersedia menerima 2,8 juta atau 500 ribu rupiah sebulan,
00:49:40dengan kenyataan bahwa dia akan kesulitan naruh makanan di atas meja
00:49:44untuk dirinya sendiri, istrinya, dan empat anaknya,
00:49:49mungkin dia akan enggak melihat murid itu sebagai prioritas utama dalam kehidupan.
00:49:55Tapi kalau dia digaji 40 juta,
00:49:58niscaya dia akan bisa naruh makanan di atas meja untuk dirinya, istrinya,
00:50:02atau suaminya, dan empat anaknya, bahkan pembantu-pembantunya.
00:50:06Dan pandangan atau pola pikir dia mengenai murid yang diajarkan di sekolah itu mungkin berbeda.
00:50:13Ini dalam batas intuisi ya.
00:50:15Nah kedua, saya sangat menghormati diversitas.
00:50:20Saya mengajar.
00:50:22Lebih jarang di kampus lokal, lebih sering di kampus di luar.
00:50:26Dan saya selalu meng-encourage siswa-siswi saya untuk mengekspresikan pandangan yang beda.
00:50:36Karena diversitas pandangan itu hanya akan memperkaya proses pemikiran.
00:50:44Nah tentunya diversitas itu akan bagus selama di-harness atau di-pupuk,
00:50:52dikawal dalam lingkungan yang enggak toxic.
00:50:56Tapi diversitas on the other side,
00:50:58itu kalau dikawal, di-harness dengan lingkungan yang toxic,
00:51:02itu juga bisa menjadi sesuatu yang kurang baik.
00:51:06Nah jadi tugas guru adalah untuk bagaimana dia bisa memastikan diversitas pandangan.
00:51:13Itu terjamin dalam diskusi ataupun diskursus di kelas.
00:51:17Itu yang seringkali saya sebut sebagai demokratisasi ide atau demokratisasi pendidikan.
00:51:22Bagaimana kalau situasinya tidak se-ideal itu,
00:51:25mahasiswa-mahasiswa merasa bahwa dapat dosen yang feodal,
00:51:32subyektif dalam penilaian, apa yang harus mereka...
00:51:35Gampang, jadinya gurunya itu mungkin harus dites ulang
00:51:38dengan janji bahwa dia akan digaji 40 juta besok per bulan
00:51:42selama dia memenuhi kriteria yang kita inginkan.
00:51:45Dia harus memiliki IQ setinggi mungkin,
00:51:50dia harus bisa berdongeng, bercerita,
00:51:52dia menguasai multibahasa,
00:51:54dan dia harus bisa melakukan atau membina diversitas dalam pemikiran.
00:52:01Nah kalau dia enggak qualify dengan kriteria tersebut,
00:52:05ya mungkin dia enggak perlu diberdayakan lagi,
00:52:07agar kita enggak perlu gelisah dan khawatir mengenai feudalisme.
00:52:10Dan kalau kita benar-benar bulat mengenai konsep atau filsafat,
00:52:16demokratisasi ide dan demokratisasi pendidikan,
00:52:19diversitas, pandangan, itulah yang harus diramu, dikawal,
00:52:23dipupuk dengan baik.
00:52:27Tanpa itu sulit untuk kita mencari inovasi-inovasi baru.
00:52:30Ada soal dosen yang memang terus harus di-upgrade,
00:52:35atau tenaga pendidik yang memang harus selalu di-upgrade,
00:52:39tidak saja dari keilmuannya,
00:52:40tapi juga soal kesejahteraannya.
00:52:43Tapi buat mereka, teman-teman mahasiswa yang ada di sini,
00:52:47kalau mereka ada di situasi pendidikan
00:52:49yang bisa dibilang tidak merangsang imajinasi mereka,
00:52:53mereka mau punya diskusi yang baik,
00:52:59yang terus meningkatkan daya kritis mereka,
00:53:04tapi mereka enggak punya apa?
00:53:06Kira-kira Pak Gita punya enggak ramuan
00:53:10supaya mereka juga bisa jadi pribadi yang kompeten?
00:53:14Murid mahasiswanya?
00:53:16Sulit, karena mereka ini terjebak di kelas 8 jam sehari.
00:53:21Iya kan?
00:53:23Dan saya berkeyakinan sikap atau perilaku yang feodalistis,
00:53:30itu kemungkinan berkorelasi dengan kegelisahan seorang guru,
00:53:33karena dia mungkin enggak cukup kesejahteraannya.
00:53:37Sehingga dia enggak bisa memprioritaskan pendidikan,
00:53:41karena dia harus lebih memprioritaskan hal-hal lain.
00:53:45Dan kalau dia sudah disejahterakan,
00:53:47dan ternyata dia masih feodal,
00:53:49ya mungkin dia belum memenuhi kriteria-kriteria basic lainnya,
00:53:53yaitu dia ditugaskan untuk memiliki IQ 120 ke atas,
00:53:59dia harus memiliki kapasitas berbahasa,
00:54:01lebih dari satu bahasa,
00:54:02dia harus memiliki kapasitas untuk berdongeng,
00:54:05dan dia harus memiliki kapasitas dan keterbukaan
00:54:08untuk mengharness, memupuk, mengawal diversitas.
00:54:12Ya KPI-nya harus dipertanggung jawabkan,
00:54:15kalau KPI-nya tidak dipertanggung jawabkan,
00:54:17ya kita akan terus-menerus terjebak dengan feodalisme yang tidak diinginkan.
00:54:22Dan paling berbahaya sebenarnya feodalisme di dunia pendidikan.
00:54:26Itu paling berbahaya.
00:54:28Sangat. Kita selalu bicara mengenai kerentanan,
00:54:31kesenjangan dalam konteks kekayaan dan pendapatan dan peluang.
00:54:35Tapi kita jarang ngobrol mengenai kesenjangan atau inequality dalam konteks,
00:54:39apakah itu pendidikan, ataupun energi.
00:54:43Energi di Sabang itu beda dengan energi di kota-kota lain.
00:54:48Energi di Jakarta jauh lebih tinggi daripada energi di kota-kota lain.
00:54:52Ya itu kalau menurut saya kesenjangan yang harus disikapi
00:54:54dengan distribusi public goods atau demokratisasi public goods.
00:54:57Pendidikan juga sama,
00:54:59jangan sampai orang di titik A dapat pendidikan yang lebih bagus
00:55:02daripada di titik B ataupun C.
00:55:04Nah ini kalau bisa disikapi secara,
00:55:08kita bisa lakukan eksperimentasi.
00:55:10Rekrut saja 100 ribu guru dengan kualitas kriteria yang kita inginkan
00:55:14dan kita pantau setiap minggu, setiap bulan, setiap kuartal,
00:55:18setiap semester atau setiap tahun.
00:55:20Dan saya berani menyampaikan bahwa itu bisa diukur
00:55:26apakah berkorelasi dengan peningkatan kecerdasan, kesejahteraan,
00:55:31kesehatan dan distribusi public goods di kode pos terkait.
00:55:36Kalau enggak yaudah ganti dengan calon yang baru,
00:55:41kandidat yang baru yang mungkin lebih bisa memenuhi kriteria yang diinginkan.
00:55:45Aku rasa ini salah satu masukan terobosan yang baik sekali
00:55:50dari seorang Gita Wirjawan,
00:55:52bagaimana investasi kita justru pada kesejahteraan guru.
00:55:56supaya mereka tidak lagi memikirkan what's on the table for the kids
00:56:01atau makan apa hari ini.
00:56:03Mereka digaji cukup,
00:56:05tetapi kemudian mereka menjadi seorang pendidik yang berkualitas.
00:56:10Cewek dulu ya, boleh ya.
00:56:11Ya, yang di depan.
00:56:16Selamat siang Mbak Rosi, Pak Gita.
00:56:19Saya Feni.
00:56:20Saya mau tanya lebih lanjut tentang pendidikan,
00:56:23terutama dalam lingkup keluarga.
00:56:26Bagaimana menyadarkan keluarga kalau pendidikan itu lebih dari sekedar akademis,
00:56:31tapi akan banyak perspektif yang akan berubah seiring berjalannya waktu kita belajar,
00:56:36baik dari belajarnya dari buku maupun dari belajar sekolah atau bahkan kuliah.
00:56:43Terlebih, ketidaksadaran itu juga ternyata struktural.
00:56:47Dalam perspektif saya sebagai perempuan,
00:56:50pendidikan juga penting dalam empowerment perempuan
00:56:52agar meraih taraf hidup yang lebih baik,
00:56:56sehingga terlepas dari kemiskinan,
00:56:58bahkan dari kekerasan.
00:57:01Dan kami juga berhak berkontribusi untuk negara,
00:57:04dan lepas dari idealisme yang tertinggal,
00:57:06seperti perempuan pantas dikasarin,
00:57:09karena perempuan suka dianggap kayak kita manusia kelas kedua,
00:57:14dan karena idealisme itu kita sering menghadapi kalau banyak kekerasan yang dialami oleh perempuan,
00:57:28karena kita tidak bisa berpikir kritis kalau kita tidak punya hak untuk hidup lebih baik.
00:57:35Begitu.
00:57:36Makasih. Silahkan Pak Gita.
00:57:39Saya ini sudah tiga setengah tahun di Stanford ngajar.
00:57:46Di sana ada anak Indonesia dari Pontianak.
00:57:52Orang tuanya itu sangat biasa-biasa banget.
00:57:58Bapaknya montir,
00:58:00ibunya ibu rumah tangga,
00:58:01yang secara kebetulan waktu anak ini masih kecil,
00:58:03ibunya itu tidak tahu bagaimana,
00:58:05ya beliin buku.
00:58:07Karena mungkin ketemu orang di pasar,
00:58:09ketemu siapa gitu,
00:58:10yang punya kebiasaan beli buku untuk anaknya.
00:58:16Dibeliin buku.
00:58:18Ini anak montir.
00:58:21Terus dia menang Olimpiade Biologi.
00:58:23Dunia.
00:58:25Dapat emas.
00:58:26Terus daftar ke satu sekolah saja di Amerika.
00:58:30Namanya Massachusetts Institute of Technology.
00:58:34MIT.
00:58:36Terima.
00:58:36Tidak pernah dari Pontianak kemanapun,
00:58:39ke Singapura, ke Tokyo,
00:58:40tidak pernah,
00:58:41langsung tembak langsung ke MIT.
00:58:43Dapat beasiswa,
00:58:44full,
00:58:45lulus dalam 4 tahun,
00:58:47IP-nya hanya 4,0.
00:58:51Terus dia mau ambil S3,
00:58:52di mana saja,
00:58:53dia apply ke sekolah-sekolah Ivy League,
00:58:55ke Stanford,
00:58:56dia milih ke Stanford.
00:58:58Dan dia baru saja disertasinya,
00:59:01selesai beberapa bulan yang lalu.
00:59:04Ini bukti,
00:59:06bahwasannya,
00:59:07walaupun orang tua itu ada keterbatasan,
00:59:11tapi ada episode-episode tertentu,
00:59:14yang mana seorang ibu ketemu dengan orang yang bisa memberikan suntikan.
00:59:18Eh, lo coba deh,
00:59:20beliin anak lo buku.
00:59:21Ini enggak bisa digeneralisasi,
00:59:24ini anomali.
00:59:26Nah,
00:59:26kalau kita enggak bisa merangkul generalisasi seperti itu,
00:59:33kita harus bergantung dengan metode atau pedagogi atau mekanisme alternatif.
00:59:40Kalau orang tuanya 88% enggak berpendidikan S1,
00:59:46gimana untuk mendidik seorang anak mengenai gender equality?
00:59:50Gimana mendidik anaknya mengenai human rights?
00:59:53Gimana mendidik anaknya bahwa
00:59:55kesantunan dalam komunikasi perilaku sehari-hari itu harus dikedepankan?
01:00:01Ya, harus dicari alternatifnya.
01:00:04Alternatifnya itu ya balik lagi ke guru,
01:00:07karena interaksinya 8 jam sehari.
01:00:09Atau dua,
01:00:11pimpinan di tempat ibadah.
01:00:14Ya kan?
01:00:14Kalau berkotbah,
01:00:16kalau bisa diisikan.
01:00:17Hal-hal yang nyambung dengan bagaimana kita bisa meng-ekualisasi
01:00:21antara perempuan dan laki-laki.
01:00:25Bagaimana kita bisa meng-ekualisasi hak yang utuh,
01:00:29yang ada di atau inherent di masing-masing manusia.
01:00:33Kalau enggak ada di tempat ibadah,
01:00:35ya di institusi sosial,
01:00:37atau di kantor,
01:00:39atau di pasar,
01:00:40atau di mana.
01:00:42Ya, yang terakhir adalah
01:00:43ya secara kebetulan atau secara sistemik
01:00:47di-institusionalisasi atau di lembagakan
01:00:50kebiasaan atau kedisiplinan untuk
01:00:52nonton podcast.
01:00:56Ini gimana caranya?
01:00:57Ya, kalau anak-anak sekarang tuh
01:01:00nonton atau megang HP 8-10 jam,
01:01:03ini udah terjadi fenomena
01:01:05under protection of online activities,
01:01:09over protection of offline activities.
01:01:12Orang tua sekarang tuh lebih
01:01:13protektif terhadap
01:01:15aktivitas offline anak-anaknya.
01:01:17Tapi sangat underprotective
01:01:19terhadap aktivitas online.
01:01:20Di HP?
01:01:21Iya.
01:01:22Kita anak-anak kita di sekolah
01:01:24ngeliat HP,
01:01:24apa yang dilihat kita enggak tahu,
01:01:26di kamar mandi enggak tahu,
01:01:27di kamar tidur enggak tahu.
01:01:28Ini kan sangat mengelisahkan.
01:01:31Nah, ini kalau menurut saya
01:01:32harus ditata ulang.
01:01:35Bagaimana penggunaan HP
01:01:37itu adalah untuk
01:01:38hal-hal yang lebih positif.
01:01:41Nah, ada juga fenomena bahwasannya
01:01:43generasi sekarang ini sudah
01:01:46mulai menderita dari amnesia historis.
01:01:50Amnesia historis tuh lupa dengan sejarah.
01:01:53Kenapa?
01:01:53Karena kita terjebak dengan kekinian.
01:01:56Kita tuh berkomunikasi
01:01:57hanya satu sama lain.
01:01:598 miliar manusia,
01:02:01kita hanya berkomunikasi
01:02:028-10 jam terkait dengan kekinian,
01:02:05tanpa berkomunikasi dengan
01:02:07predecessor kita yang jumlahnya
01:02:09105 miliar,
01:02:10yang sudah meninggal sebelum kita,
01:02:11secara kumulatif.
01:02:13Itu namanya sejarah.
01:02:14Kalau kita lebih bisa
01:02:15belajar dari sejarah,
01:02:18itu wisdomnya banyak sekali.
01:02:20Kita bisa belajar banyak
01:02:21dari kegagalan dan kesuksesan
01:02:23peradaban sebelumnya,
01:02:24bangsa sebelumnya,
01:02:25negara sebelumnya,
01:02:26orang sebelumnya.
01:02:27Nah, ini gimana membiasakan
01:02:29untuk anak-anak muda sekarang
01:02:30untuk enggak terlalu lekat
01:02:33dengan kekinian,
01:02:35tapi lebih mau belajar
01:02:36dengan hal-hal yang historis sifatnya.
01:02:40Ya, mungkin
01:02:41mulai dari
01:02:42perkumpulan kayak begini nih,
01:02:45kita lagi ngobrol gimana nih,
01:02:47dan mudah-mudahan dengan asumsi
01:02:48bahwa masing-masing dari kalian
01:02:50ini adalah opinion leader,
01:02:53ya ini bisa dimultiplikasi.
01:02:54Kalian tuh adalah
01:02:55community multiplier.
01:03:01Kalian tuh bisa berpengaruh
01:03:03terhadap mungkin 2,
01:03:043,
01:03:044,
01:03:05atau 5 orang.
01:03:05Kalian tuh masing-masing adalah
01:03:07community multiplier,
01:03:08mulai dari situ,
01:03:09dan enggak tahu gimana nanti,
01:03:11eh,
01:03:11ternyata bisa
01:03:12285 juta kena.
01:03:15Ya,
01:03:16harus di-approach
01:03:17dengan optimisme,
01:03:19jangan pesimisme.
01:03:21Kalau itu bisa dilakukan
01:03:23satu persatu,
01:03:24langkah demi langkah,
01:03:25saya rasa ekualisasi
01:03:27seperti yang Anda aspirasikan,
01:03:29itu bisa tercapai.
01:03:30semoga menjawab ya.
01:03:34Saya tahu banyak banget
01:03:36yang masih ingin bertanya,
01:03:39karena Mas Gita,
01:03:40look at this,
01:03:42nih rasanya
01:03:43yang ikut dengerin
01:03:44adalah orang-orang
01:03:46di luar yang
01:03:47mendaftar link,
01:03:48betul sekali?
01:03:49Iya,
01:03:50enggak apa-apa.
01:03:51Ini bagian dari
01:03:52perpaduan imajinasi
01:03:54dan ambisi.
01:03:55Anda punya imajinasi
01:03:57ingin mendengar Pak Gita Wirjawan,
01:04:00dan berambisi
01:04:01ikut mengantri
01:04:02di bagian belakangnya.
01:04:03Itu cara mencari ilmu juga,
01:04:05Pak Gita.
01:04:06Jadi tepuk tangan dong
01:04:07untuk semua crowd
01:04:08yang ada di sini.
01:04:12Biasanya di podcast
01:04:13Ruang Temu Jalma ini,
01:04:16selalu ada book advisor
01:04:17dari Jalma.
01:04:19Apa kira-kira
01:04:20buku yang direkomendasikan
01:04:21bulan ini?
01:04:23Halo Mbak Rosy,
01:04:24halo Pak Gita.
01:04:25Terima kasih sudah berjumpa
01:04:26di Jalma.
01:04:27Aku Rio sebelumnya,
01:04:29book advisor,
01:04:29aku mau berterima kasih dulu
01:04:30ke Pak Gita
01:04:31sudah melaunching
01:04:32buku What It Takes.
01:04:33Sebagai book advisor,
01:04:35aku cukup senang
01:04:35karena ada buku
01:04:36yang kemudian membahas
01:04:37Asia Tenggara
01:04:38secara cukup komprehensif
01:04:40karena memang
01:04:41di rilisannya
01:04:42akhir-akhir ini
01:04:43memang sangat jarang sekali
01:04:44yang berbicara
01:04:45mengenai
01:04:46Asia Tenggara
01:04:47secara region.
01:04:48Nah,
01:04:49untuk buku yang
01:04:50aku rekomendasikan
01:04:51sebenarnya sifatnya
01:04:52referensi lanjutan
01:04:54begitu
01:04:54untuk buku
01:04:55What It Takes-nya
01:04:56Pak Gita Wirjawan.
01:04:57karena di What It Takes
01:04:59berbicara soal
01:05:00bangsa-bangsa di Asia Tenggara
01:05:01kemudian
01:05:02bagaimana
01:05:03kemimpinan
01:05:03dan edukasi
01:05:04sangat berguna
01:05:05untuk melepas
01:05:06landaskan
01:05:07bangsa-bangsa ini
01:05:08agar bisa
01:05:09lebih maju lagi.
01:05:11Aku
01:05:11merekomendasikan
01:05:12buku dari
01:05:12Jared Diamond
01:05:13judulnya
01:05:14Upheaval.
01:05:15Ini
01:05:16mengisahkan
01:05:17tentang bagaimana
01:05:18bangsa-bangsa
01:05:20di dunia
01:05:20melewati
01:05:21krisis-krisis
01:05:22yang menerpa
01:05:23bangsa-bangsa tersebut.
01:05:26Menariknya
01:05:26di sini
01:05:27Jared Diamond
01:05:28itu biasanya
01:05:28membahas
01:05:29suatu
01:05:30geografis
01:05:32dengan perspektif
01:05:33sejarah.
01:05:34Tapi di sini
01:05:35di Upheaval ini
01:05:36dia menambahkan
01:05:37sisi psikologisnya.
01:05:39Jadi
01:05:39salah satu poin
01:05:40pentingnya
01:05:41dari Jared Diamond
01:05:42di buku ini
01:05:42adalah
01:05:43bagaimana
01:05:44kaitan
01:05:45dari krisis
01:05:46yang menerpa
01:05:47diri pribadi
01:05:48itu bisa
01:05:49saling
01:05:50berkaitan
01:05:51dengan krisis
01:05:52yang menerpa
01:05:53bangsa-bangsa
01:05:53di dunia.
01:05:54Jadi
01:05:55saya sangat nyambung
01:05:56sekali
01:05:57dengan bahasan
01:05:57yang ada di
01:05:58What It Takes
01:05:58terutama
01:05:59terkait
01:05:59kepemimpinan
01:06:00dalam bangsa.
01:06:01Begitu saja Mbak Rosy.
01:06:02Thank you, Dio.
01:06:03Terima kasih banyak.
01:06:06Saya boleh
01:06:06nambahin dikit?
01:06:07Boleh.
01:06:09Ini
01:06:09jangan lupa ya
01:06:11narasi
01:06:11terkaya di dunia
01:06:12kalau menurut saya
01:06:13itu terjadi
01:06:14di Indonesia.
01:06:16Banyak yang
01:06:16enggak tahu
01:06:1775 ribu tahun
01:06:18yang lalu
01:06:19kita semua
01:06:20belum lahir
01:06:21itu ada
01:06:23letupan
01:06:23namanya
01:06:26Toba
01:06:27yang
01:06:29kalau menurut saya
01:06:30sangat
01:06:31game changing
01:06:33terhadap humanity
01:06:34itu
01:06:35menghemburkan
01:06:362.800
01:06:38kilometer
01:06:41kubik
01:06:41debris
01:06:43batu-batuan
01:06:44lava
01:06:44dan segalanya
01:06:45yang mengelilingi dunia
01:06:46selama konon
01:06:47puluhan
01:06:48sampai ratusan
01:06:49tahun
01:06:49yang mengurangi
01:06:50populasi dunia
01:06:51sampai
01:06:533.000
01:06:53sampai 5.000
01:06:54nah ini
01:06:56menurut saya
01:06:57adalah
01:06:59riset
01:07:01kognitif
01:07:02karena
01:07:03siapapun yang bisa
01:07:04survive
01:07:053.000
01:07:05sampai 5.000
01:07:06itu adalah mereka
01:07:07yang
01:07:09bisa manjat
01:07:10pohon
01:07:10lebih cepat
01:07:11karena tsunami
01:07:12lava
01:07:14dan segalanya
01:07:15mereka yang
01:07:16bisa
01:07:16ngumpet
01:07:16di goa
01:07:17mereka yang
01:07:18bisa
01:07:18berenang
01:07:18lebih cepat
01:07:19mereka yang
01:07:19bisa
01:07:20pokoknya
01:07:20yang bisa
01:07:21survive
01:07:21jadi survival
01:07:22instinct mereka
01:07:23itu mengubah
01:07:24tatanan
01:07:25kognitif
01:07:26mereka
01:07:27sehingga
01:07:27jumlah neuronnya
01:07:28itu berkembang
01:07:30lebih banyak
01:07:30di keturunan
01:07:32mereka
01:07:32ini yang membuahkan
01:07:34apa yang
01:07:34diargumentasikan oleh
01:07:35beberapa ahli
01:07:36antropologi
01:07:37termasuk
01:07:37Jared Diamond
01:07:38termasuk
01:07:39di Walharari
01:07:40bahwasannya
01:07:41telah terjadi
01:07:42revolusi kognitif
01:07:4470.000 tahun
01:07:45yang lalu
01:07:45jadi ukuran
01:07:47otak manusia
01:07:48ini tiba-tiba
01:07:49lebih besar
01:07:5070.000 tahun
01:07:51yang lalu
01:07:52dan saya berani
01:07:53berspekulasi
01:07:54belum berhipotesa
01:07:55bahwasannya
01:07:56itu berkorelasi
01:07:57dengan kejadian
01:07:58di Indonesia
01:07:58yaitu
01:07:5975.000 tahun
01:08:00yang lalu
01:08:00ini kekayaan
01:08:04narasi Indonesia
01:08:05makanya
01:08:06jangan terlalu
01:08:07banyak nonton
01:08:07TikTok
01:08:08baca buku
01:08:09kedua
01:08:10di millennium
01:08:12pertama
01:08:12kejayaan
01:08:13Indonesia
01:08:14itu termanifestasi
01:08:15tentunya
01:08:15di Sriwijaya
01:08:16dan Shailendra
01:08:18yang mampu
01:08:19dalam 75 tahun
01:08:20dari tahun
01:08:20650
01:08:21sampai 725
01:08:22membangun
01:08:23konstruksi
01:08:24bangunan
01:08:24yang indah
01:08:25perkasa
01:08:26dan luar biasa
01:08:27yaitu
01:08:29Borobudur
01:08:29dan jangan lupa
01:08:31di zaman
01:08:32Sriwijaya
01:08:33itu
01:08:34siapapun
01:08:35biksu
01:08:36sekolar
01:08:37Buddha
01:08:37kalau mau
01:08:38melakukan
01:08:39kulminasi
01:08:41pendidikan
01:08:42di Nalanda University
01:08:43di Bihar
01:08:44di India
01:08:45mereka harus
01:08:45orientasi
01:08:46di Palembang
01:08:48selama beberapa
01:08:49minggu
01:08:49beberapa bulan
01:08:50dan ini
01:08:52indah sekali
01:08:53karena
01:08:53peradaban kita
01:08:55ini berinteraksi
01:08:56dengan peradaban
01:08:57dua peradaban
01:08:58yang hebat
01:08:58yang pertama
01:08:59adalah
01:09:00dinasti
01:09:00Tang
01:09:01dari
01:09:02608
01:09:04sampai
01:09:04907
01:09:05kalau gak salah
01:09:06atau
01:09:06618
01:09:07sampai
01:09:07907
01:09:08dan
01:09:08dinasti
01:09:09Umayah
01:09:11dan Abasit
01:09:11di Timur Tengah
01:09:12ini
01:09:13tiga
01:09:14peradaban
01:09:15yang luar biasa
01:09:15di Tiongkok
01:09:16Indonesia
01:09:17dan di Timur Tengah
01:09:19ini
01:09:19milenium pertama
01:09:20yang pertama
01:09:2175 ribu tahun
01:09:22yang lalu
01:09:23di kampung
01:09:23halaman
01:09:24Erosi
01:09:24milenium pertama
01:09:26Sriwijaya
01:09:27dan Syalendra
01:09:28yang ketiga
01:09:29tentunya
01:09:31Majapahit
01:09:31dari
01:09:33akhir
01:09:34abad ke-13
01:09:35sampai
01:09:36sekitar
01:09:37akhirnya
01:09:38abad ke-15
01:09:40tapi kita
01:09:42mengalami
01:09:42ketidakuntungan
01:09:47di abad ke-15
01:09:48karena terjadi
01:09:49beberapa hal
01:09:50satu
01:09:51tentunya
01:09:52meninggalnya
01:09:53Hayam Muruk
01:09:53dan Gajah Mada
01:09:54kedua
01:09:55runtuhnya
01:09:57dinasti
01:09:58Kemer
01:09:58ketiga
01:09:59diambil alihnya
01:10:00Vietnam
01:10:00oleh dinasti
01:10:01Ming
01:10:01dan keempat
01:10:03ditemukannya
01:10:04alat cetak
01:10:05di Eropa
01:10:06oleh Johannes Gutenberg
01:10:07yang di awal
01:10:08waktu
01:10:08untuk mencetak
01:10:10kitab Injil
01:10:11tapi itu
01:10:12digunakan
01:10:13untuk mencetak
01:10:14ulang
01:10:14informasi
01:10:15apapun
01:10:16yang mengakselerasi
01:10:17diseminasi
01:10:18informasi
01:10:18dan mengakselerasi
01:10:20ilmu pengetahuan
01:10:21dan fast forward
01:10:2320 detik
01:10:24di abad ke-17
01:10:26dinasti
01:10:29Qing
01:10:30dari Tiongkok
01:10:31mengambil sikap
01:10:32untuk menarik diri
01:10:34dan gak mau
01:10:35melakukan eksternalisasi
01:10:36sehingga terjadi
01:10:37kevakuman
01:10:37secara geopolitik
01:10:39kekuatan Eropa
01:10:39yang datang ke Asia Tenggara
01:10:41tidak diimbangi
01:10:41dengan kekuatan Tiongkok
01:10:43makanya
01:10:43tidak terjadi
01:10:44ekulibrium
01:10:45kita mengalami
01:10:45the three and a half centuries
01:10:47of humiliation
01:10:48yaitu
01:10:49periode kolonial
01:10:51atau penjajahan
01:10:52bukan Indonesia
01:10:53saja
01:10:54Malaysia
01:10:54Singapura
01:10:55Brunei
01:10:56Vietnam
01:10:57Laos
01:10:58Myanmar
01:10:58dan lain-lain
01:10:59jadi kita belajar
01:11:00dari sejarah
01:11:01dan kita bisa
01:11:02mengambil langkah
01:11:03untuk bagaimana
01:11:04di abad ke-21
01:11:05kita bisa mencapai
01:11:07keemasan yang
01:11:07diaspirasikan oleh
01:11:08kita semua
01:11:09wow
01:11:10tepuk tangan
01:11:11untuk Bapak Gita
01:11:11Wirjawan
01:11:12saya rasa
01:11:15komunitas seperti ini
01:11:16juga menjadi
01:11:17satu komunitas
01:11:19dimana
01:11:20menceritakan
01:11:21yang tadi
01:11:21Pak Gita katakan
01:11:23kedua-tiga orang
01:11:24aja
01:11:24kedua-tiga orang
01:11:25lagi aja
01:11:26kita bisa menjadi
01:11:27the agent
01:11:28dimana kita
01:11:29terus menumbuhkan
01:11:30imajinasi
01:11:31dan terus
01:11:32menjadi jalan
01:11:33bagi yang lainnya
01:11:34untuk
01:11:35membuka
01:11:36ambisi-ambisi
01:11:37pemuda-pemudi
01:11:40Indonesia lainnya
01:11:41saya mau kasih
01:11:43sedikit aja
01:11:43ini
01:11:44moral cerita
01:11:47dari apa yang
01:11:48dikatakan oleh
01:11:48Pak Gita Wirjawan
01:11:50education
01:11:51atau pendidikan
01:11:52itu
01:11:52betul-betul
01:11:54penting banget
01:11:55dan kita sungguh
01:11:56menaruh harapan
01:11:57bagi para guru
01:11:58para dosen
01:11:59terutama
01:11:59hal ini
01:12:00para pendidik
01:12:01meski kita juga tahu
01:12:03bagaimana
01:12:03kesejahteraan
01:12:04mereka jauh
01:12:05berkurang
01:12:05tetapi
01:12:06seperti yang tadi
01:12:08kata Pak Gita
01:12:09bahwa
01:12:10yang paling penting
01:12:11itu
01:12:11kita itu dapat
01:12:12seseorang
01:12:12yang nyetrum
01:12:13nyetrum
01:12:15imajinasi
01:12:16kita
01:12:17membuka
01:12:18jalan
01:12:19untuk kita
01:12:20supaya kita
01:12:21being ambitious
01:12:23itu gak apa-apa
01:12:24having ambition
01:12:25atau punya ambisi
01:12:27itu gak apa-apa
01:12:28yang penting
01:12:29jangan menghalalkan
01:12:30segala cara
01:12:31last but not least
01:12:34pasti
01:12:35kalau saya bicara
01:12:36sama teman-teman
01:12:37kelas menengah
01:12:38Pak Gita
01:12:40pasti ada
01:12:40kejengkelan mereka
01:12:41untuk melihat
01:12:42gue susah-susah
01:12:43belajar
01:12:44capek-capek
01:12:45tapi yang ini
01:12:46ya gitu doang
01:12:47please
01:12:48don't get jealous
01:12:51for those
01:12:52who goes up
01:12:53very
01:12:54quick
01:12:56believe me
01:12:57they will go down
01:12:59pretty soon
01:13:00berbahagialah
01:13:02menjadi orang-orang
01:13:03yang selalu
01:13:04mencintai
01:13:05proses
01:13:06terima kasih
01:13:07Pak Gita
01:13:08Wirjawan
01:13:09terima kasih
01:13:10untuk Anda
01:13:10semua yang
01:13:11selalu
01:13:12hadir
01:13:13di podcast
01:13:13Ruang Temu
01:13:15Jalma
01:13:15sama-sama
01:13:16kita angkat
01:13:17what it takes
01:13:18mereka semua
01:13:19pada punya
01:13:20loh
01:13:20wow
01:13:21what it takes
01:13:23Asia Tenggara
01:13:24dari tepi
01:13:25menuju inti
01:13:26kesadaran global
01:13:27semoga semua
01:13:28Anda yang hadir
01:13:29di sini dan Anda yang menyaksikan podcast
01:13:31Ruang Temu Jalma
01:13:32menjadi bagian yang selalu mendorong Indonesia
01:13:35dari tepi
01:13:36menuju
01:13:37ke inti
01:13:38kesadaran global
01:13:39see you
01:13:40next month
01:13:41bye
01:13:41thank you
01:13:42selamat menikmati
Komentar