00:00Jadi, awan mana yang bisa untuk disemai?
00:03Saya masih berada di atas pesawat KASA untuk meniputi secara langsung, secara eksklusif, operasi modifikasi cuaca.
00:11Melakukan operasi modifikasi cuaca, apakah hal itu efektif?
00:14Awan itu bisa mereplikasi dulu.
00:21Segera saya sudah bersama dengan pengamat Tata Kota Universitas Trisakti, dengan Bapak Yayat Supriyatna.
00:27Pak Yayat, terima kasih untuk waktunya, Pak.
00:29Pak, berbicara soal cuaca ekstrim tidak hanya terjadi di akhir Januari 2026, tapi prediksi BMKG hingga Februari.
00:37Sebelum Februari bahkan sudah ada sejumlah bencana banjir.
00:40Apakah hal ini bisa menggambarkan kegagalan sistem tata kelola sebuah kota?
00:46Ya, setiap kota itu punya perencanaan, master plan pengendalian banjir.
00:51Kalau kota yang bagus, dia sudah memperhitungkan.
00:54Misalnya ada key, key kuantil ya, 5 tahunan, 10 tahunan, 50 tahunan, 100 tahunan.
01:00Nah, dari pengukuran tahun seperti itu, dia tahu dalam konteks misalnya 50 tahun, 100 tahun, puncak tertinggi itu berapa misalnya.
01:09Nah, prediksinya ya, yang mungkin terjadi.
01:11Misalnya intensitas curah hujan yang bisa ditampung itu 120 mm.
01:15Artinya hujan yang sangat lebat.
01:17Kemudian didesainlah perencanaan, drenase untuk mengantisipasi seperti itu.
01:22Tapi yang terjadi sekarang apa?
01:25Hujan makin banyak ekstrim.
01:26Di atas 150, bahkan 200.
01:29Artinya apa? Kapasitas sistemnya itu terlampaui.
01:32Seperti belajar dari kasus Jakarta.
01:34Oke, ini gambaran ya?
01:35Jakarta ya.
01:36Jakarta didesain tahun 1973 oleh NEDECO, itu sudah membangun satu perencanaan bagaimana sistem pengendalian banjirnya.
01:44Nah, tetapi hasil revisi dari JAIKAN dan tahun 1997 dan tahun 2007 dari Jakarta ini, itu menunjukkan bahwa ini sudah jadul.
01:57Artinya harus ditingkatkan 3 kali, 4 kali lipat kapasitasnya.
02:02Kenapa?
02:03Sendimentasinya tinggi.
02:05Kemudian kepadatan penduduk makin banyak ketika kapasitas sistemnya sudah tidak mampu mengantisipasi cuaca.
02:13Karena perubahan secara global, rusaknya ekosistem lingkungan, penurunan permukaan tanah, itu otomatis kota nyerah.
02:21Semua kota-kota pantai utara di Pulau Jawa itu terancam sebetulnya.
02:25Terancam oleh ROP, terancam oleh penurunan permukaan tanah.
02:29Nah, seperti kasus Jakarta sekarang ini.
02:31Apakah kita memasrahkan persoalan ini pada modifikasi cuaca untuk menyelamatkan semua kawasan yang mengalami kerusakan yang sudah parah?
02:40Artinya menurut Pak Yayat, operasi modifikasi cuaca itu sangat tidak cukup untuk kemudian mengantisipasi banjir di janara?
02:46Tidak menyelesaikan.
02:48Tidak menyelesaikan.
02:49Kita bayangkan, ilmu langitnya canggih, tapi ilmu bumi hancur.
02:53Jadi ketika ekosistemnya itu sudah rusak, sistem, struktur, sistemnya itu tidak mampu membackup,
03:02yang terjadi kan, kita lihat aja.
03:04Hujan sedikit, musim hujan masuk, macet di mana-mana, tergenang di mana-mana.
03:09Mohon maaf, sederhananya mungkin kelalaian ini sudah berlangsung lama.
03:13Tidak hanya di tahun ini ataupun beberapa tahun kebelakang, tapi cukup panjang.
03:17Menurut Pak Yayat, kesalahan apa yang paling mendasar selama ini kita lakukan?
03:21Nah, pertama satu, komitmen kita untuk menyelesaikan masalah itu, itu tidak terselesaikan oleh setiap kepemimpinan.
03:29Nah, jadi para gubernur kita ini rata-rata 5 tahun, 10 tahun, ya kan?
03:34Kedua, kadang-kadang harus bekerja sama dengan persoalan keunangannya, keunangan pemerintah pusat, pemerintah daerah.
03:43Penanganan banjir bukan sekedar membuat normalisasi sungai,
03:47tapi bagaimana mendukung dengan persoalan pembangunan perumahan permukiman bagi mereka yang akan dilokasi.
03:52Konsep master plan yang sudah disusun dalam rencana tata ruang kita adalah membuat sistem folder.
03:58Ini masuk dalam rencana tata ruang Jakarta 2010, tapi tidak bisa dieksekusi karena mahalnya pembabasan tanah.
04:06Artinya perencanaan ini tidak terlaksana?
04:08Tidak terlaksana sepenuhnya.
04:10Kerusakan di tengah inilah yang menyebabkan persoalan banjir lokal saja, hujan lokal saja sudah membuat Jakarta terdenang di mana-mana.
04:18Karena satu, sistem drenase kita sudah tidak mampu mengantisipasi perubahan.
04:24Oke, untuk Pemprov Jakarta sendiri saat ini ada sebuah proyek JAKTIRTA.
04:30Apakah ini kemudian cukup mampu untuk setidaknya mengurangi potensi-potensi banjir di wilayah ibu kota?
04:38Pendekatan pertama tadi, pemetaan secara kewilayahan di mana yang harus segara diatasi dengan cara yang paling cepat,
04:44seperti dengan pompa dan sebagainya.
04:47Kedua, ada upaya misalnya dengan cara meningkatkan kapasitas misalnya pintu air diancol.
04:56Pintu air itu artinya begini, dia punya kemampuan kapasitas untuk terjadi rob, dia mampu diangkat dan sebagainya.
05:02Itu harus dipetakan semuanya.
05:04Ingatlah, model Jakarta daun 2026 ini menganggarkan 31 miliar untuk cuaca.
05:09Apakah daerah-daerah punya anggaran untuk membuat modifikasi cuaca?
05:14Yang anggaran juga cukup besar.
05:16Jangan sampai modifikasi itu hanya membuang uang, membuang garam atau apa, kemudian hasilnya nggak maksimal.
05:23Tapi catatan-catatan penting dari kita sekarang adalah ketika bahwa kota-kota di Pantura semakin kritik.
05:33Cuaca ekstrim yang terjadi mengingatkan potensi ancaman siklus banjir lima tahunan.
05:38Masyarakat mesti bersiap karena bencana kerap terjadi di bawah awan yang gelap.
05:43Negara mengambil lain keantisipasi dan mitigasi keselamatan warganya haruslah menjadi yang utama.
05:50Saya Edi pun terbahagia.
05:51Sampai jumpa minggu depan.
05:53Terima kasih telah menonton!
06:23Terima kasih telah menonton!
Komentar