Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPASTV - Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Yayat Supriatna mengatakan kletikan sistem tak mampu mengantisipasi cuaca dan lingkungan rusak, makan akan berdampak pada situasi di kota.

Ia menjelaskan pokok permasalahan dari banjir Jakarta, karena rencana tata ruang terkendala mahalnya pembebasan tanah.

Imbasnya, ketika ekosistem rusak dan sistem tidak mampu menopang, hujan sedikit maka langsung berdampak banjir.

Ia pun menegaskan bahwa modifikasi cuaca tidak menyelesaikan masalah banjir di Jakarta.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Vila

#cuacaekstrem #dipoinvestigasi #banjirjakarta

Baca Juga Peringatan Dini Cuaca Ekstrem, Warga Minta Pemerintah Lebih Cepat Tangani Banjir Jakarta di https://www.kompas.tv/nasional/648034/peringatan-dini-cuaca-ekstrem-warga-minta-pemerintah-lebih-cepat-tangani-banjir-jakarta



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/648047/pengamat-bongkar-akar-banjir-jakarta-tata-ruang-gagal-ekosistem-rusak-dipo-investigasi
Transkrip
00:00Jadi, awan mana yang bisa untuk disemai?
00:03Saya masih berada di atas pesawat KASA untuk meniputi secara langsung, secara eksklusif, operasi modifikasi cuaca.
00:11Melakukan operasi modifikasi cuaca, apakah hal itu efektif?
00:14Awan itu bisa mereplikasi dulu.
00:21Segera saya sudah bersama dengan pengamat Tata Kota Universitas Trisakti, dengan Bapak Yayat Supriyatna.
00:27Pak Yayat, terima kasih untuk waktunya, Pak.
00:29Pak, berbicara soal cuaca ekstrim tidak hanya terjadi di akhir Januari 2026, tapi prediksi BMKG hingga Februari.
00:37Sebelum Februari bahkan sudah ada sejumlah bencana banjir.
00:40Apakah hal ini bisa menggambarkan kegagalan sistem tata kelola sebuah kota?
00:46Ya, setiap kota itu punya perencanaan, master plan pengendalian banjir.
00:51Kalau kota yang bagus, dia sudah memperhitungkan.
00:54Misalnya ada key, key kuantil ya, 5 tahunan, 10 tahunan, 50 tahunan, 100 tahunan.
01:00Nah, dari pengukuran tahun seperti itu, dia tahu dalam konteks misalnya 50 tahun, 100 tahun, puncak tertinggi itu berapa misalnya.
01:09Nah, prediksinya ya, yang mungkin terjadi.
01:11Misalnya intensitas curah hujan yang bisa ditampung itu 120 mm.
01:15Artinya hujan yang sangat lebat.
01:17Kemudian didesainlah perencanaan, drenase untuk mengantisipasi seperti itu.
01:22Tapi yang terjadi sekarang apa?
01:25Hujan makin banyak ekstrim.
01:26Di atas 150, bahkan 200.
01:29Artinya apa? Kapasitas sistemnya itu terlampaui.
01:32Seperti belajar dari kasus Jakarta.
01:34Oke, ini gambaran ya?
01:35Jakarta ya.
01:36Jakarta didesain tahun 1973 oleh NEDECO, itu sudah membangun satu perencanaan bagaimana sistem pengendalian banjirnya.
01:44Nah, tetapi hasil revisi dari JAIKAN dan tahun 1997 dan tahun 2007 dari Jakarta ini, itu menunjukkan bahwa ini sudah jadul.
01:57Artinya harus ditingkatkan 3 kali, 4 kali lipat kapasitasnya.
02:02Kenapa?
02:03Sendimentasinya tinggi.
02:05Kemudian kepadatan penduduk makin banyak ketika kapasitas sistemnya sudah tidak mampu mengantisipasi cuaca.
02:13Karena perubahan secara global, rusaknya ekosistem lingkungan, penurunan permukaan tanah, itu otomatis kota nyerah.
02:21Semua kota-kota pantai utara di Pulau Jawa itu terancam sebetulnya.
02:25Terancam oleh ROP, terancam oleh penurunan permukaan tanah.
02:29Nah, seperti kasus Jakarta sekarang ini.
02:31Apakah kita memasrahkan persoalan ini pada modifikasi cuaca untuk menyelamatkan semua kawasan yang mengalami kerusakan yang sudah parah?
02:40Artinya menurut Pak Yayat, operasi modifikasi cuaca itu sangat tidak cukup untuk kemudian mengantisipasi banjir di janara?
02:46Tidak menyelesaikan.
02:48Tidak menyelesaikan.
02:49Kita bayangkan, ilmu langitnya canggih, tapi ilmu bumi hancur.
02:53Jadi ketika ekosistemnya itu sudah rusak, sistem, struktur, sistemnya itu tidak mampu membackup,
03:02yang terjadi kan, kita lihat aja.
03:04Hujan sedikit, musim hujan masuk, macet di mana-mana, tergenang di mana-mana.
03:09Mohon maaf, sederhananya mungkin kelalaian ini sudah berlangsung lama.
03:13Tidak hanya di tahun ini ataupun beberapa tahun kebelakang, tapi cukup panjang.
03:17Menurut Pak Yayat, kesalahan apa yang paling mendasar selama ini kita lakukan?
03:21Nah, pertama satu, komitmen kita untuk menyelesaikan masalah itu, itu tidak terselesaikan oleh setiap kepemimpinan.
03:29Nah, jadi para gubernur kita ini rata-rata 5 tahun, 10 tahun, ya kan?
03:34Kedua, kadang-kadang harus bekerja sama dengan persoalan keunangannya, keunangan pemerintah pusat, pemerintah daerah.
03:43Penanganan banjir bukan sekedar membuat normalisasi sungai,
03:47tapi bagaimana mendukung dengan persoalan pembangunan perumahan permukiman bagi mereka yang akan dilokasi.
03:52Konsep master plan yang sudah disusun dalam rencana tata ruang kita adalah membuat sistem folder.
03:58Ini masuk dalam rencana tata ruang Jakarta 2010, tapi tidak bisa dieksekusi karena mahalnya pembabasan tanah.
04:06Artinya perencanaan ini tidak terlaksana?
04:08Tidak terlaksana sepenuhnya.
04:10Kerusakan di tengah inilah yang menyebabkan persoalan banjir lokal saja, hujan lokal saja sudah membuat Jakarta terdenang di mana-mana.
04:18Karena satu, sistem drenase kita sudah tidak mampu mengantisipasi perubahan.
04:24Oke, untuk Pemprov Jakarta sendiri saat ini ada sebuah proyek JAKTIRTA.
04:30Apakah ini kemudian cukup mampu untuk setidaknya mengurangi potensi-potensi banjir di wilayah ibu kota?
04:38Pendekatan pertama tadi, pemetaan secara kewilayahan di mana yang harus segara diatasi dengan cara yang paling cepat,
04:44seperti dengan pompa dan sebagainya.
04:47Kedua, ada upaya misalnya dengan cara meningkatkan kapasitas misalnya pintu air diancol.
04:56Pintu air itu artinya begini, dia punya kemampuan kapasitas untuk terjadi rob, dia mampu diangkat dan sebagainya.
05:02Itu harus dipetakan semuanya.
05:04Ingatlah, model Jakarta daun 2026 ini menganggarkan 31 miliar untuk cuaca.
05:09Apakah daerah-daerah punya anggaran untuk membuat modifikasi cuaca?
05:14Yang anggaran juga cukup besar.
05:16Jangan sampai modifikasi itu hanya membuang uang, membuang garam atau apa, kemudian hasilnya nggak maksimal.
05:23Tapi catatan-catatan penting dari kita sekarang adalah ketika bahwa kota-kota di Pantura semakin kritik.
05:33Cuaca ekstrim yang terjadi mengingatkan potensi ancaman siklus banjir lima tahunan.
05:38Masyarakat mesti bersiap karena bencana kerap terjadi di bawah awan yang gelap.
05:43Negara mengambil lain keantisipasi dan mitigasi keselamatan warganya haruslah menjadi yang utama.
05:50Saya Edi pun terbahagia.
05:51Sampai jumpa minggu depan.
05:53Terima kasih telah menonton!
06:23Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan