Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
BENGKULU, KOMPAS.TV - Di usia 77 tahun, seorang lansia bersama dua anak perempuannya bertahan hidup di sebuah rumah tak layak huni di Kota Bengkulu. Dinding rapuh dan bau tak sedap dari kandang ayam di bawah satu atap menjadi bagian dari keseharian mereka.

Beginilah potret kehidupan Pandi, lansia 77 tahun di Pematang Gubernur, Kota Bengkulu. Bersama dua anak perempuannya, ia bertahan di sebuah rumah kayu lapuk yang tak layak huni.

Belasan tahun keluarga kecil ini hidup di rumah yang bukan milik sendiri, melainkan pinjaman dari pemilik lahan.

Selain kondisi bangunan yang kian rapuh, lingkungan tempat tinggal pun jauh dari sehat. Mereka harus berbagi ruang dengan ayam peliharaan. Menghadapi aroma tak sedap dan kelembapan adalah makanan sehari-hari.

Pandi tinggal bersama dua anaknya sejak sang istri meninggal lima tahun lalu. Sejak itu, hidupnya perlahan berubah. Mantan pekerja bangunan ini kini hanya bisa duduk di kursi roda akibat kelumpuhan. Sementara kedua anaknya yang berusia 14 dan 19 tahun telah lama putus sekolah.

Meski prihatin dengan kondisi Pandi, Pemerintah Kota Bengkulu tidak bisa merenovasi tempat tinggal Pandi karena bangunan itu bukan miliknya. Namun, pemkot menargetkan sebelum Lebaran, Pandi dan dua anaknya akan menempati rumah yang lebih layak.

Selama bertahun-tahun, Pandi bertahan hidup dari bantuan pemerintah. Ia tercatat sebagai penerima PKH dan berbagai bantuan sosial lainnya.

#bengkulu #lansia #pkh

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/643693/potret-lansia-77-tahun-di-bengkulu-sakit-hingga-hidup-dalam-rumah-tak-layak-bersama-dua-anak
Transkrip
00:00Berikutnya saudara di usia 77 tahun, seorang lansia bersama dua anak perempuannya
00:04bertahan hidup di sebuah rumah tak layak huni di kota Bengkulu.
00:09Diding rapuh dan bau tak sedap dari kandang ayam di bawah satu atap
00:14menjadi bagian dari keseharian mereka.
00:21Beginilah potret kehidupan pandi, lansia 77 tahun di pematang gubernur kota Bengkulu.
00:27Bersama dua anak perempuannya, ia bertahan di sebuah rumah kayu lapuk yang tak layak huni.
00:35Belasan tahun, keluarga kecil ini hidup di rumah yang bukan milik sendiri,
00:39melainkan pinjaman dari pemilik lahan.
00:43Selain kondisi bangunan yang kian rapuh, lingkungan tempat tinggal pun jauh dari sehat.
00:49Mereka harus berbagi ruang dengan ayam peliharaan.
00:52Menghadapi aroma tak sedap dan kelembapan adalah makanan sehari-hari.
00:59Pandi tinggal bersama dua anaknya sejak sang istri meninggal lima tahun lalu.
01:04Dan sejak itu, hidupnya perlahan berubah.
01:08Mantan pekerja bangunan ini kini hanya bisa duduk di kursi roda akibat kelumpuhan.
01:12Sementara kedua anaknya, yang berusia 14 dan 19 tahun, telah lama putus sekolah.
01:19Meski prihatin dengan kondisi pandi, pemerintah kota Bengkulu tidak bisa merenovasi tempat tinggal pandi.
01:48Karena bangunan itu bukan miliknya.
01:51Tetapi, pemerintah kota menargetkan sebelum lebaran, pandi dan dua anaknya akan menempati rumah yang lebih layak.
01:59Kami tidak bisa merehab rumah tersebut karena tanahnya budak tanah Bapak Pandi.
02:05Tapi kami akan merangkul para donatur, para orang-orang baik untuk kita cari tanah, kita baru.
02:12Target, sebelum lebaran Bapak Pandi sudah punya rumah baru.
02:16Selama bertahun-tahun, Pandi bertahan hidup dari bantuan pemerintah.
02:22Ia tercatat sebagai penerima PKH dan berbagai bantuan sosial lainnya.
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan