00:00Saudara rusaknya jembatan Tupin Mane akibat banjir badang memutus akses vital warga dari Biren ke wilayah Aceh Tengah.
00:07Nasib para warga kini bergantung pada seutas tali baja untuk kebutuhan menyebrang atau distribusi logistik.
00:14Jurnalis Kompas TV Syahril akan memperlihatkan bagaimana sulitnya menembus titik terparah banjir dan longsor di Bener Meriah di Aceh Tengah.
00:22Seutas tali baja ini jadi satu-satunya harapan warga korban banjir dan longsor pasca jembatan Tupin Mane di Biren putus diterjang banjir bandang.
00:40Jalan darurat ini pula yang membantu saya menuju titik terparah banjir dan longsor di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah.
00:46Jalan darurat tadi sling penyebrangan sempat terhenti saat ini sudah beroperasi kembali cuman diutangakan untuk sembako terlebih dahulu baru nantinya akan dikonsumkan ke warga.
01:05Setelah menunggu antrian, tibalah giliran saya untuk menyebrang.
01:09Saya harus menggunakan keranjang besi yang hanya mampu mengangkut tiga orang dewasa.
01:13Talisling ini merupakan inisiatif warga di tengah situasi darurat akibat bencana banjir bandang.
01:23Hampir seluruh jalur menuju Bener Meriah rusak parah diterjang banjir bandang dan longsor.
01:28Mulai dari Krueng Simpo, Cotpang Lima, Minikulus, Weh Pesam.
01:35Oke saudara, tadi ini tiap berada di tempatan Weh Pesam.
01:38Ini merupakan butat longsor umar dan air bandang.
01:43Kita akan mencoba nantinya akan menerobot ke bawah ini hingga ke benar-benar.
01:49Bagaimana parahnya gunung, batu, dan kayu-kayu besar juga air.
01:57Ini adalah pengandakan bawasan di tempatan.
02:02Dan ini sebagian wilayah juga sedang dilakukan pembersihan oleh warga tempat.
02:07Di tengah perjalanan, saya bertemu warga yang menawarkan jasa ojek untuk menembus sulitnya medan menuju Kabupaten Bener Meriah.
02:17Sayangnya, tidak semua mampu menggunakan jasa ojek yang harganya mencapai 150 ribu rupiah.
02:24Tak jarang banyak warga yang memilih berjalan kaki untuk menjemput bantuan.
02:28Bantuan pemerintah sendiri sudah masuk, Pak, ke sini, Pak?
02:31Beras cuma 1 kg, 1 kg.
02:33Bukan 1 orang, Pak?
02:351 orang.
02:36Dijemput, dijemput, ukuran 20 kg.
02:40Cimangkajah dijemput.
02:41Dari sini jangan kaki.
02:42Artinya kita masih kekurangan bantuan kalau di sini, Pak?
02:45Insya Allah masih.
02:46Dilalui kendara ya kemarin?
02:48Kemarin.
02:48Kemarin.
02:48Kemarin suri.
02:49Oke.
02:50Artinya sebelum-sebelumnya nggak bisa, Pak?
02:51Sebelumnya nggak bisa lah.
02:52Kami pakai jembatan darurat, pakai tali, kan?
02:55Ini dibuat pemerintah atau warga sendiri, Pak?
02:57Warga sendiri.
02:57Warga sendiri.
02:58Suwadaya.
02:59Ini maksudnya relawan lah ya.
03:02Banyak korban banjir dan longsor yang berbagi cerita di tengah derita.
03:05Seorang perawat puskesmas di Bener Meriah bilang,
03:08stok obat-obatan sangat menipis, butuh pertolongan segera.
03:14Kendala di puskesmas obat sudah menipis, stok obat sudah menipis.
03:19Jadi untuk pasien perawat inap saja,
03:21kami hanya melayani yang benar-benar urgen, gitu.
03:26Kalau misalnya, kalau dulu ada yang pingsan, ada yang lemas,
03:30pasti kami rawat.
03:30Tapi kalau sekarang sudah kami prioritaskan dulu yang lebih diutamakan.
03:37Mengingat, listrik kan juga nggak ada.
03:42Harapan terbesar warga adalah percepatan perbaikan infrastruktur
03:45agar jalur logistik dan distribusi bantuan kemanusiaan segera pulih secepatnya.
03:51Syahril, Kompas TV, Bener Meriah
03:53Untuk mengetahui cerita perjalanan menembus titik terparah banjir dan longsor di Bener Meriah di Aceh Tengah,
04:03kita sudah bersama jurnalis Kompas TV, Syahril.
04:05Selamat malam, Syahril.
04:07Bagaimana kondisi saat Anda menembus titik terparah banjir dan longsor di Bener Meriah?
04:11Butuh waktu berapa lama Anda menembus ke sana?
04:15Bagaimana kondisi warga di sana?
04:16Dan seperti apa penanganannya hingga malam hari ini, Syahril?
04:19Mungkin bisa saya ceritakan sedikit, proses awal saya berangkat dari Biren,
04:26yaitu menggunakan jembatan penyeberangan keling dari jembatan Tepimane ke Bener Meriah.
04:33Nah, prosesnya tidak mudah seperti hari-hari biasanya sebelum terjadi di Jaminjana,
04:38di mana kalau hari-hari biasanya itu kilometer 60 di kawasan Belang Arah,
04:45di kecamatan Pintu Rimegayo,
04:52biasanya kita bisa lalui hanya dalam satu jam.
04:55Namun kemarin saat kami mencoba melengkasi,
04:58yaitu mencapai dua jam lebih.
05:00Dengan kondisi jalan yang memang amblas, longsor,
05:04bahkan juga kami ditempa hujan badai di perjalanan.
05:09Nah, saat ini jalur alternatif satu-satunya ya memang hanya jalur lintas ini yang kita gunakan.
05:17Namun karena kita tidak bisa membawa kendaraan,
05:19kita menggunakan ojek-ojek ini yaitu warga sempat yang suka relawan
05:25untuk mengantarkan kita ke tujuan palet.
05:30Namun di jalan juga bisa lihat bagaimana tutup tangki BBM ini
05:34masih berparkiran karena tidak bisa melewati jalan yang sudah amblas maupun longsor.
05:42Ada beberapa titik longsor yang sangat parah,
05:46seperti di Pinturi Megayo,
05:51serta di Enang-Enang,
05:54dan beberapa jembatan lainnya.
05:56Nah, disipatkan belang arah di 2 meter 60,
05:59di mana titik lokasi terakhir kami sampai,
06:02ini merupakan titik terparah,
06:04salah satu titik terparah di Kabupaten Manam Ria,
06:07yaitu korban jiwa mencapai tujuh orang.
06:10Dua orang meninggal,
06:12lima orang masih belum dihapkan.
06:14Banyak cerita-cerita warga sempat yang tidak menyangka akan terjadi bencana tersebut.
06:21Biasanya ledbar aliran sungai itu hanya 2 meter dengan air yang jenih,
06:27namun di pagi itu akibat hujan gerasi yang menggirkan.
06:31Syahril.
06:40Sayang sekali,
06:42informasi tidak seluruhnya bisa kita dengarkan bersama saudara,
06:46sambungan komunikasi terputus.
06:48Dan itu tadi adalah cuplikan cerita dari jurnalis Kompas TV Syahril,
06:57yang menembus lokasi banjir dan longsor terparah di Aceh,
07:03terutama di wilayah Bener Meriah.
07:05Tentu salam dari redaksi selalu,
07:07redaksi Jakarta,
07:08untuk Syahril,
07:10semoga sehat selalu.
07:11Terima kasih atas cerita Anda
07:12dan informasi segalanya yang telah dibagikan kepada kami dan pemirsa Kompas TV.
07:17Terima kasih.
07:19Terima kasih.
Komentar