00:00Warisan kekejaman Jepang di Pekanbaru, rel kereta dibangun dari nyawa Romusha.
00:05Di balik jejak rel kereta api tua yang membentang di sebagian wilayah Sumatera,
00:09tersimpan kisah kelam yang nyaris tak terdengar.
00:12Jaringan rel yang dibangun pada masa pendudukan-pendudukan Jepang itu menyimpan ribuan nyawa yang melayang,
00:16para pekerja paksa atau Romusha, akhirnya terbiar begitu saja saat perang usai.
00:22Jaringan rel kereta api tersebut mulai dibangun sekitar tahun 1943,
00:25ketika militer Jepang berusaha keras mewujudkan jaringan transportasi.
00:31Ribuan Romusha didatangkan dari Jawa untuk mengerjakan proyek ini,
00:34bersama para tahanan perang dari berbagai negara.
00:37Pekerjaan dimulai dari membuka hutan lebat.
00:40Para Romusha menebang pohon dengan kapak dan gergaji tangan,
00:43menyingkirkan batang-batang besar dengan tenaga sendiri.
00:47Jalur rel ditentukan dan diratakan secara manual.
00:50Mereka juga membuat tanggul agar posisi rel lebih tinggi dari permukaan tanah,
00:54meratakan tanggul yang sudah ditinggikan,
00:56kemudian memadatkan tanah agar layak dipasangi rel.
01:00Semua dilakukan dengan alat seadanya,
01:02seperti kapak, gergaji manual, parang, cangkul,
01:06sekop hingga alat pemberat untuk meratakan tanah secara manual.
01:10Mereka menebang pohon dengan ayunan kampak,
01:12memotong dengan gergaji tangan,
01:14lalu menyingkirkannya dengan tangan atau bahu mereka sendiri.
01:17Namun beban terberat mereka bukan sekadar fisik.
01:20Asupan makanan minim,
01:22waktu kerja panjang dari pagi hingga malam,
01:25serta kondisi lingkungan yang mematikan menjadikan proyek ini
01:27ladang pembantaian tak bersenjata.
01:30Para pekerja itu dibagi dalam beberapa tim,
01:32mulai dari tukang tebang,
01:34tukang sisik untuk menyingkirkan ranting-ranting besar
01:36agar kayu yang sudah dipotong mudah disingkirkan.
01:39Tukang gergaji,
01:40untuk memotong dan membelah kayu yang dirasa cocok
01:42untuk dijadikan bantalan rel,
01:44sementara sisanya dijadikan kayu bakar.
01:46Ada pula tim angkat dan angkut.
01:49Tim yang tugasnya menaikkan elevasi tanah
01:51untuk dibuat gundukan dengan memposisikan rel kelak
01:53dan tim angkat tanah yang dilakukan secara manual
01:56dengan keranjang rotan.
01:58Saat malam tiba,
01:59para pekerja harus mengurus makan sendiri
02:01usai seharian dihajar matahari katulistiwa.
02:04Mereka harus berjuang lagi
02:06untuk membuat dan memasak makanan.
02:08Jika beruntung,
02:09mereka bisa menemukan umbi-umbian,
02:11talas, pucuk pakis,
02:13atau tanaman hutan lain di sepanjang jalur.
02:16Bahan-bahan itu kemudian mereka masak bersama
02:18jadi menu sederhana yang menyambung hidup seadanya.
02:22Tapi,
02:23tetap saja penderitaan mereka tidak sampai di situ.
02:26Saat siang mereka harus menanggung panasnya
02:28matahari katulistiwa yang membakar tubuh.
02:30Ketika malam tiba,
02:32mereka harus berperang melawan nyamuk.
02:34Belum lagi intayan binatang liar mulai dari ular,
02:37harimau maupun gajah.
02:39Tidak ada tempat istirahat memadai
02:41dan manusiawi yang tersedia untuk mereka.
02:43Dapat balai-balai dengan atap rumbia
02:45yang kerap tanpa dinding dan bocor
02:47di waktu hujan saja sudah suatu kemewahan.
02:50Menurut kesaksian M. Shavei,
02:52seorang penerjemah lokal yang dipekerjakan Jepang kala itu,
02:55lebih dari 200 ribu nyawaromusya melayang
02:57dalam proyek pembangunan rel kereta api ini.
03:00Mereka mati karena kelaparan,
03:02malaria,
03:03beri-beri,
03:04disentri,
03:05kekurangan gizi,
03:06hingga kekejaman para penjaga Korea
03:07yang bekerja untuk militer Jepang.
03:09Kesaksian ini dapat dibaca di papan informasi
03:12Monumen Kereta Api Simpang III,
03:14Pekan Baru.
03:16Dalam narasi penusatiri yang memilukan,
03:18tertulis setiap satu bantalan kereta,
03:20setara dengan satu nyawaromusya.
03:23Hari ini,
03:24rel tua itu mungkin hanya tinggal potongan sejarah.
03:27Tapi di balik besi karatan dan jalur yang terputus,
03:30ada nyawa-nyawa yang patut dikenang,
03:31dan kisah yang tak boleh dihapus dari ingatan bangsa.
Komentar