- 15 menit yang lalu
- #jokowi
- #ijazahjokowi
- #roysuryo
- #sidangijazah
JAKARTA, KOMPAS.TV - Jokowi menyatakan keberatan saat diminta melakukan uji laboratorium forensik ulang terhadap fisik ijazah dalam persidangan.
Penolakan ini karena pihaknya menyebut ijazahnya sudah pernah diuji Labfor Polri.
Pihak Jokowi mengatakan bahwa pihak yang menuduhnya yang seharusnya membuktikan dugaan ijazah palsu, bukan dirinya.
Kita akan membahas ini bersama Abdul Gafur Sangadji, kuasa hukum Roy Suryo, dan Taufik Bilfaqih, Ketua Umum Gibranisti.
Baca Juga FULL! Istana Perkuat Konsolidasi Usai Penyadapan Presiden Terbongkar, Ini Respons Kurniawan & Muradi di https://www.kompas.tv/regional/700151/full-istana-perkuat-konsolidasi-usai-penyadapan-presiden-terbongkar-ini-respons-kurniawan-muradi
#jokowi #ijazahjokowi #roysuryo #sidangijazah
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/700152/debat-abdul-gafur-vs-taufik-bilfaqih-soal-roy-suryo-ngotot-uji-ulang-ijazah-jokowi
Penolakan ini karena pihaknya menyebut ijazahnya sudah pernah diuji Labfor Polri.
Pihak Jokowi mengatakan bahwa pihak yang menuduhnya yang seharusnya membuktikan dugaan ijazah palsu, bukan dirinya.
Kita akan membahas ini bersama Abdul Gafur Sangadji, kuasa hukum Roy Suryo, dan Taufik Bilfaqih, Ketua Umum Gibranisti.
Baca Juga FULL! Istana Perkuat Konsolidasi Usai Penyadapan Presiden Terbongkar, Ini Respons Kurniawan & Muradi di https://www.kompas.tv/regional/700151/full-istana-perkuat-konsolidasi-usai-penyadapan-presiden-terbongkar-ini-respons-kurniawan-muradi
#jokowi #ijazahjokowi #roysuryo #sidangijazah
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/700152/debat-abdul-gafur-vs-taufik-bilfaqih-soal-roy-suryo-ngotot-uji-ulang-ijazah-jokowi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Saudara Jokowi menyatakan keberatan saat diminta untuk melakukan uji laboratorium forensik ulang terhadap fisik ijasa di persidangan.
00:06Penolakan ini karena pihaknya menyebut jika ijasanya sudah pernah diujilah for pori.
00:12Pihak Jokowi bahkan bilang pihak yang menuduhnya lah yang seharusnya membuktikan dugaan ijasa palsu bukan Jokowi Dodo.
00:20Kita akan bahas masalah ini dengan Abdul Ghafur Sanghaji Kuasa Hukum Roy Surya Bang.
00:24Sanghaji selamat malam.
00:25Selamat malam Mbak Audrey.
00:26Dan hadir juga di ruangan Zoom ada Taufik Bilfaki Ketua Umum Gibranisti Bang Bil.
00:30Selamat malam.
00:32Malam Mbak Audrey Bang Ghafur.
00:34Bang Sanghaji ini menjawab keraguan Anda kalau tanda tanya Pak Jokowi datang nggak kemarin datang.
00:39Pak Jokowi bawa menunjukkan ijasanya nggak?
00:42Menunjukkan.
00:43Pertanyaannya kenapa sudah datang?
00:45Kenapa juga sudah menunjukkan ijasa?
00:47Tapi belum puas malah sekarang minta untuk uji laboratorium ulang ijasa Pak Jokowi.
00:51Jadi harus dipahami bahwa ini dalam kerangka penegakan hukum.
00:54Pak Jokowi hadir itu permintaan kami juga.
00:59Dan Pak Jokowi punya kewajiban hukum.
01:01Jadi jangan dianggap seolah-olah Pak Jokowi hadir itu adalah kemurahan hati Pak Jokowi untuk datang dalam persidangan.
01:07Bukan. Itu kewajiban hukumnya dia.
01:08Karena sebagai seorang pelapor dan delik aduannya adalah aduan absolut pencemaran fitnah melekat pada pribadi kodrati Pak Jokowi.
01:18Ya Pak Jokowi harus bisa menjelaskan di persidangan.
01:20Jadi jangan dianggap bahwa Pak Jokowi sudah sangat berhati baik, berhati mulia, datang ke persidangan.
01:27Bukan.
01:28Kita equality before the law.
01:30Jangankan mantan presiden.
01:32Ketika presiden dipanggil untuk memberikan suatu keterangan di persidangan pun harus hadir.
01:36Karena itu otoritas.
01:37Oke, satu ya.
01:38Kemudian yang kedua, kalau Pak Jokowi dikatakan menunjukkan ijazah,
01:43ya karena ini perkara pidana berkenaan dengan objek ijazah.
01:47Pencemaran fitnah objeknya ijazah.
01:49Nah, sehingga Pak Jokowi menunjukkan ijazah itu, itu kan inisiatif beliau.
01:55Mungkin beliau ingin menunjukkan ini loh ijazah saya,
01:58tapi dia tunjukkan kan dalam perum peradilan.
02:00Padahal seharusnya kalau Pak Jokowi mau melakukan bidikasi risiko,
02:03kenapa enggak 5-6 tahun yang lalu?
02:05Aktivitas yang sama tinggal tunjukkan, kalau itu asli.
02:08Tapi jangan mundur ke belakang, Bang.
02:09Yang kemarin.
02:10Kemudian yang ketiga,
02:13kenapa kemudian kami dorong ada laboratorium forensik independen?
02:17Kenapa?
02:19Karena penegakan hukum itu, kita tidak bisa bercaya hanya pada satu sumber.
02:23Artinya, pembuktian itu kan persesuaian alat bukti.
02:26Jadi Anda tidak percaya dengan ijazah yang ditunjukkan,
02:28mulai dari SD sampai S1, kemarin itu masih diragukan juga, bukan?
02:31Itu ijazah asli.
02:33Saya katakan fakta aja lah.
02:35Karena orang-orang yang mengatakan ijazah asli Pak Jokowi ini,
02:38pernah enggak melihat ijazah fisik Pak Jokowi di atas meja?
02:43Saksi-saksi itu juga yang katanya lihat di Polrametro Jaya itu pernah lihat enggak?
02:47Tanpa dibungkus, dibuka.
02:49Bang Ade pernah katanya?
02:51Ya, tapi kan dilihat tanpa dibuka,
02:54dia melihat di Polrametro Jaya itu masih dalam bungkusan.
02:56Oke.
02:57Artinya bungkusan dengan yang sudah dibuka,
02:59itu kan fisik berbeda dong.
03:01Nah.
03:02Oke, kalau gitu saya ubah pertanyaan.
03:04Apakah dari klien Anda dan Anda juga sudah pernah lihat ijazah aslinya?
03:07Loh, kami lihat kemarin di pengadilan.
03:08Oke.
03:09Kami lihat begini.
03:09Kenapa akhirnya bisa meragukan?
03:11Ini kayaknya bukan ijazah.
03:11Gini, ijazah itu kan mewakili dokumen 41 tahun yang lalu.
03:16Oke.
03:16Ya.
03:17Ijazah itu ketika dibuka, keadaan fisiknya masih bagus.
03:22Sisi kanan, sisi kanan, kiri, atas, itu kalau kertas, dia kan tajam.
03:27Itu masih tajam.
03:29Sementara ini dokumen 41 tahun.
03:30Ini kita urai pelan-pelan ya.
03:31Ini kasat mata aja, saya bukan ahli forensik ya.
03:34Kemudian di sisi bawah, itu kan seperti dimakan rayap.
03:38Dan kalau dimakan rayap secara alaminya, dia teksturnya tidak berpola.
03:44Yang kemarin?
03:44Yang kemarin kan seperti sesuatu tekstur yang memang disengaja.
03:48Sudah dijawab sama Pak Jokowi, ijazahnya tersimpan rapi di persidangan?
03:52Lah, kalau dikatakan tersimpan rapi dan dimakan rayap, ini kan logika yang tidak nyambung.
03:56Oke.
03:57Karena kalau dimakan rayap, berarti kan ditaruh di suatu tempat yang tidak layak.
04:01Makanya begini, kalau ijazah itu 41 tahun yang lalu, ini kasat mata, saya bukan ahli forensik ya.
04:0641 tahun yang lalu, dokumen itu ditaruh di suatu tempat yang layak, tetapi dimakan rayap, kan juga menjadi pertanyaan juga.
04:14Kemudian yang berikutnya lagi, ijazah SMA.
04:17Semua sudut ijazah itu, baik sisi kanan, kiri, atas, bawah, semuanya masih tajam semua.
04:22Pertanyaan saya sebenarnya ke Pak Jokowi waktu dibuka oleh Jaksa Penuntut Tumuh.
04:25Cuman hakim melarang.
04:27Saya yang bertanya langsung kepada Pak Jokowi.
04:29Bapak, setelah Bapak terima ini, Bapak taruh ijazah ini di mana?
04:33Cuman hakim bilang, jangan kamu tanya, karena ini giliran pembuktian Jaksa Penuntut Tumum ya sudah.
04:37Oke, baik.
04:38Iya kan?
04:38Kalau dokumen 41 tahun yang lalu di uji oleh forensik, ya ayo mari kita buka-bukaan.
04:44Nah, itu hal yang kedua yang kami lihat.
04:47Kemudian yang ketiga adalah...
04:48Kalau gitu saya tanya dulu ke Bang Bil.
04:49Bang Bil, ini lagi-lagi Pak Jokowi disangsikan hadir, kemarin sudah hadir.
04:55Ditanda-tanya bahwa ijazah ditunjukkan apa enggak, sudah ditunjukkan.
04:58Tapi kenapa kali ini malah bukannya semakin meyakinkan kubunya Roy,
05:03tapi malah memilih untuk menguji ulang nih ijazahnya Pak Jokowi.
05:07Dan malah tadi ditanda-tanya ini beneran ijazahnya apa enggak.
05:10Enggak, ijazah ini 41 tahun apa bukan?
05:11Oh, ijazahnya 41 tahun atau bukan?
05:15Kalau saya sih sebenarnya sudah enggak relevan membicarakan soal ijazah ini asli, palsu,
05:21atau ijazah ini bentuknya dari mana, dari tahun berapa.
05:25Saya kira itu ada kewenangannya.
05:27Baik dari sisi kelembagaan laboratorium,
05:29atau juga barangkali forum pengadilan yang saat ini sedang bergulir.
05:34Yang paling subtansi di sini sebenarnya Pak Jokowi ingin mempertegas
05:38bahwa ijazah ini kan sudah diuji di laboratorium
05:41dan beliau keberatan ketika diminta oleh pihak kuasa hukum terdawa.
05:45Apakah berkenaan untuk kemudian dilakukan ujian lagi, apa uji lapkor lagi?
05:49Tapi yang satu hal yang jangan dilupakan,
05:51kalaupun itu menjadi perintah dari konstitusi dalam hal ini lewat hakim,
05:56saya yakin Pak Jokowi memberikan ruang terhadap itu.
05:58Jadi perjuangkan saja Bang Gapur ke hakim,
06:01bermohon saja kalau memang mau kemudian diuji.
06:03Tapi Pak Jokowi kenapa mengeluarkan pernyataan itu?
06:06Karena dia sudah mengetahui secara gamblang bahwa
06:08sejak awal kasus ini bukan kasus hukum semata,
06:11melainkan isu politik.
06:13Melainkan drama-drama yang sedang dimainkan.
06:16Karena itulah yang akhirnya kita lihat.
06:18Pak Jokowi datang saja ke pengadilan,
06:20membawa diri,
06:21menunjukkan ijasa,
06:23toh juga tetap Roy Suryo dengan nada ketusnya, ketawa,
06:27tetap menyebutkan itu adalah palsu.
06:29Jadi sedangkan forum yang notabene-nya adalah forum hukum,
06:33tetap kepercayaan itu tidak ada.
06:35Yang paling penting di sini adalah bagaimana terus menerus mencari cara
06:39untuk memainkan strategi politik menjatuhkan Pak Jokowi
06:42dengan isu-isu yang seperti ini.
06:43Jadi bagi kami, kami sudah tidak suktansi bicara soal ijasa asli atau palsu,
06:48apakah ijasa yang diperlihatkan itu sesuai dengan yang sesungguhnya.
06:51Karena kita juga sudah jelas kok,
06:53masyarakat Indonesia sudah melihat betapa ketika Bapak datang
06:56membawakan ijasanya sebagai mana janji,
06:59dan membuktikan, itu sudah clear.
07:00Soal Bang Gafur nanti melihat ini ada 40 tahun,
07:04tidak sampai atau bagaimana,
07:05silakan diterusin saja di pengadilan nanti,
07:08minta lagi sama Hakim,
07:09supaya Hakim memberikan ruang,
07:13untuk di uji lagi secara independen.
07:15Kemarin pada saat Mas Roy meminta uji lapor ulang,
07:17sudah dikatakan sama Pak Jokowi,
07:18tidak mau Pak Jokowi-nya,
07:19tidak mau lagi dibawa kemana-mana.
07:21Ya, itu kan bahasa beliau,
07:23keberatan karena permohonan dari kuasa hukum Mas Roy Suryo.
07:27Itu sekaligus sebuah simbol penegasan bahwa benar.
07:31Selama ini yang terjadi bukan soal mempertanyakan keaslian saja,
07:35tapi ini soal politis.
07:37Karena sedangkan forum yang seperti itu saja,
07:39dan laboratorium forensik yang dikeluarkan oleh maaf saja,
07:42tetap tidak dipercaya.
07:43Itu makanya jangan heran,
07:45kalau Pak Jokowi tidak pernah mau menunjukkan ke ruang publik,
07:48karena memang ini barang, bukan soal benar atau salah,
07:51karena cara apa strateginya adalah bagaimana
07:53terus menerus membincangkan Pak Jokowi dari sisi ini.
07:55Jadi minta maaf Bang Gafur,
07:57saya menghormati ya,
07:58apapun keyakinan teman-teman,
08:00dan biar bagaimanapun klien juga harus dijaga,
08:02jangan sampai kemudian akhirnya difonis bersalah.
08:04Tapi ayolah,
08:06sudahi persoalan ini,
08:08mari kita sama-sama apresiasi saja Pak Jokowi
08:10yang akhirnya mau memberi diri dan memperlihatkan
08:14ijazahnya tersebut.
08:16Kalau ditanya kenapa tidak dari dulu,
08:17ya persoalannya kan sejak awal,
08:19yang menuntut ini manusia-manusia politik.
08:21Kalau Bang Gafur yang mempertanyakan sejak awal,
08:23beliau bukan manusia politik,
08:25artinya standar beliau standar hukum.
08:27Tapi kalau kayak Roy Suryo,
08:29Dr. Tifa,
08:29orang-orang yang memang berbalut akademik,
08:32padahal politisi semua yang kemudian berperan di pemilu kemarin.
08:35Jadi,
08:35sudah lah,
08:36kita sudah nggak mau lagi berdebat secara ilmiah.
08:38Yang paling penting sekarang ini,
08:40yuk, Pak Jokowi sudah menunjukkan,
08:41dan kemarin forumnya adalah tentang pengenangan dan fitnah.
08:46Jadi, bukan soal ijazah.
08:49Jadi,
08:49ini pertanyaannya mau apa lagi gitu ya?
08:52Mau apa lagi gitu ya?
08:53Iya.
08:53Mau apa lagi, Mas Ang Haji?
08:54Jadi, gini Bang Fakir,
08:56Anda harus bedakan,
08:57ini perkara hukum pidana.
08:59Anda jangan membawa perspektif seolah-olah Pak Jokowi
09:01datang di pengadilan itu sebagai korban,
09:04dan Anda ingin mendapatkan simpati politik
09:06terhadap apa yang dilakukan Pak Jokowi kemarin di pengadilan.
09:09Seperti kemarin hanya memungut ijazah saja,
09:13mengambil ijazah,
09:14diviralkan bahwa seolah-olah Pak Jokowi sebagai seorang negara.
09:17Jadi, maksudnya itu settingan?
09:18Bukan settingan.
09:19Itu organik, Bang.
09:20Bukan.
09:21Sebentar dulu, Bang.
09:22Artinya ketika Pak Jokowi mengambil ijazahnya dari bawah,
09:24ya memang dia taruh di bawah.
09:25Nggak ada urusannya dengan framing-framing.
09:27Ini kan gini,
09:28ini kan yang saya lihat adalah dari kubu sebelah
09:30mencoba menarik ini untuk mendapat simpati politik.
09:32Tapi, saya tidak masuk ke situ ya.
09:34Saya ingin bilang begini.
09:35Kenapa kami kemudian meragukan ijazah ini?
09:36Ijazah itu proses akademik yang tuntas dan paripurna.
09:41Saya adalah kuasa hukum yang menggali keterangan Pak Jokowi
09:45terkait dengan proses perkuliahan.
09:47Saya melihat banyak kejanggalan akademik.
09:50Contoh, hal yang paling sederhana.
09:52Pak Jokowi nggak mendapatkan transkrip nilai dari UGM.
09:55Dan saya tanya langsung ke Pak Jokowi.
09:57Bapak, selain dokumen ijazah yang Bapak terima
10:00sebagai bentuk kelulusan Bapak,
10:02hak Bapak terhadap suatu dokumen yang dari universitas,
10:05ada nggak dokumen lain yang Bapak terima?
10:08Nggak ada.
10:09Benar ini.
10:10Jadi arahnya maksudnya?
10:11Artinya, menjadi tanda tanya lagi
10:14dan tidak ada di dalam bukti-bukti di persidangan
10:16bahwa ada transkrip nilai Pak Jokowi.
10:19Mana ada mungkin
10:20orang lulus dari perguruan tinggi
10:22hanya mendapatkan ijazah,
10:23tidak punya transkrip nilai.
10:24Itu baru satu hal.
10:25Hal yang berikutnya lagi.
10:27Ketika saya menggali keterangan Pak Jokowi
10:29dengan proses perkuliahan,
10:31memang terkesan Pak Jokowi ketika saya periksa
10:33atau saya gali keterangannya, Pak Jokowi hati-hati.
10:35Kenapa?
10:36Karena saya melihat pertanyaan-pertanyaan
10:37ketika ditanya oleh Jaksa Penuntut Umum,
10:39itu settingan semua.
10:40Contoh,
10:41dia bisa menghapal 14 nama orang,
10:43teman kuliahnya dia,
10:44tapi ketika saya tanya satu mata kuliah saja
10:46dari Pak Jokowi,
10:47dari 160 SKS yang Bapak selesaikan,
10:50mana mata kuliah yang paling mudah buat Bapak?
10:52Masa seseorang itu pernah melakukan kuliah,
10:55tidak mengingat satu mata kuliah yang gampang menurut dia.
10:58Kalau misalnya saya ditanya,
10:59saya mengambil 155 SKS,
11:01ketika ditanya,
11:02mata kuliah yang paling gampang buat saya apa,
11:04yang paling saya sukai?
11:04Saya bilang adalah asas-asasukum pidana.
11:06Saya melihat Pak Jokowi kenapa hati-hati,
11:09karena Pak Jokowi takut saya cecar lagi.
11:11Kenapa Bapak suka mata kuliah itu?
11:13Itu hal yang kedua.
11:14Hal yang ketiga,
11:15KKN-nya saja berbeda.
11:18Antara hasil temuan Baris Krim Polri
11:21dengan pernyataannya Pak Jokowi sendiri,
11:23itu juga berbeda.
11:24Saya melihat gini lah,
11:25udahlah dalam partah persidangan,
11:27kami melihat ada banyak puzzle-puzzle
11:29yang terputus terkait dengan proses akademiknya Pak Jokowi,
11:32sehingga menjadi pertanyaan substansial adalah,
11:34apakah ijazah yang ada di tangan Pak Jokowi itu adalah ijazah yang sah?
11:38Oke, kalau itu peranyaan selanjutnya.
11:39Makanya kami lakukan untuk diuji ulang.
11:41Kalau diuji ulang dari permintaan pihak Mas Roy Surya,
11:45tapi dari sisi kuasa hukum Pak Jokowi,
11:47Yaakub Masyabuon,
11:48justru malah yakin kemarin dengan kehadiran Pak Jokowi
11:50dan Pak Jokowi sudah menunjukkan ijazahnya,
11:51semakin terang-beneran kasusnya.
11:53Lu kan kuasa hukumnya dia pasti yakin lah.
12:06Tadi kalau dari kubunya Mas Roy,
12:08Bang Bil ini ingin menguji lagi ijazahnya Pak Jokowi,
12:11di La Forma Bespori,
12:13padahal sebelumnya sudah pernah diuji.
12:15Nah, tapi dari kuasa hukum Pak Jokowi,
12:17malah justru semakin meyakinkan dengan kehadiran Pak Jokowi
12:20dan Pak Jokowi kemarin sudah berhasil menunjukkan ijazahnya,
12:23bahwa semakin terang-beneran,
12:24kasus ini akan sesuai dengan koridornya.
12:28Bang Bil, sebenarnya apa ini maksudnya dari Bang Yaakub?
12:32Yang jelas gini, akhirnya kan kita sebagai masyarakat secara umum,
12:36apa ya, terlihat dan kita membaca,
12:39benarlah apa yang selama ini kita curigai.
12:42Habis mereka hajar soal skripsi ke ijazah,
12:44habis ijazah kemudian pergi ke kuburan,
12:47habis ke kuburan kemudian cocok logika juga dengan peristiwa lain.
12:50Setelah diminta ditunjukkan, ditunjukkan ke pengadilan,
12:53apakah akan datang, begitu datang,
12:54semua akan seperti itu iramanya.
12:56Jadi bagi saya, ini sudah tidak subtantif lagi.
12:59Pada dasarnya, Pak Jokowi sudah datang memperlihatkan ijazahnya,
13:03kalau masih ada keraguan, silakan serahkan kepada hakim.
13:06Yang jelas, kita juga tidak mau kemudian ini berlarut-larut.
13:10Yang paling penting di sini kan adalah kebenaran dan juga kejujuran.
13:13Itu yang paling utama.
13:14Nah, Pak Jokowi kemarin disumpah,
13:16beliau memastikan apa yang beliau perlihatkan adalah barang asli.
13:19Jadi kalau misalnya Bang Gapur dan teman-teman masih tetap kekeh,
13:22ingin kemudian mencari kebenaran bahwa ijazah ini masih tetap palsu,
13:26dan berharap ada uji lab for,
13:29mungkin kemarin laboratoriumnya dianggap tidak kredibel,
13:32karena Kapolri-nya masih anak buahnya Pak Jokowi.
13:35Silakan, semua teori cocokologi dan prasangka yang kemudian dimunculkan,
13:39silakan dikeluh kesakan di persidangan.
13:41Tapi Pak Jokowi sebagai pemilik ijazah,
13:43juga berhak untuk mengatakan keberatan.
13:46Mengingat, dia juga sudah membaca ini bukan cuma sekedar masalah hukum.
13:49Artinya gini kok Bang,
13:51kalau teman-teman meyakini bahwa itu ijazah palsu,
13:54kenapa nggak sejak awal mereka yang kemudian mendalilkannya,
13:57sekaligus membuktikan.
13:58Itu kan yang disitu.
13:59Kenapa harus siap lapor langsung ke Tewa?
14:01Gini Bang Bill, sedentar ya.
14:02Gini Bang Bill.
14:04Pertama, Bang Bill hanyalah pendukung yang tidak mengikuti proses hukum.
14:08Jadi Bang Bill tidak mengerti apa yang menjadi fakta persidangan.
14:11Saya setuju kalimat Bang Bill,
14:13bahwa kita mencari fakta dan kebenaran.
14:15Fakta dan kebenaran digali berdasarkan persidangan,
14:17bukan digali berdasarkan opini Anda.
14:19Anda tidak bisa membangun opini untuk menggirin suatu proses hukum.
14:23Yang terjadi di persidangan adalah
14:25ada ketidak konsistenan antara proses akademiknya Pak Jokowi,
14:29yang kami lihat Pak Jokowi sendiri dalam memberikan keterangan tidak.
14:32Saya kira itu problem teknis Bang.
14:33Itu bukan problem teknis.
14:34Seperti yang Anda bilang bahwa
14:35kalau kita tidak punya transkrip ya,
14:38Pak Jokowi tidak punya transkrip,
14:40Bang, saya kira banyak mahasiswa saya sendiri.
14:42Saya punya ijazah sekarang sudah berubah menjadi surat keterangan pengganti ijazah.
14:45Sudah lah.
14:45Banking yang namanya dokumen-dokumen seperti itu terlalu teknis.
14:48Bang Bill, sebentar.
14:48Saya tidak motong Anda tadi ya, mohon maaf ya.
14:5040 tahun yang lalu, Bang.
14:50Saya tidak pernah motong Anda,
14:52Anda jangan motong saya.
14:52Pertanyaan-pertanyaan Bang Gafur juga,
14:54menurut saya terlalu teknis ketika kemarin di persidangan gitu.
14:57Sebentar ya, oke ya.
14:58Udah ya, udah ya.
14:59Oke.
15:00Yang di persidangan itu,
15:01kenapa orang itu harus dihadirkan dalam persidangan?
15:03Karena yang dicari adalah konsistensi keterangan.
15:05Kenapa orang itu harus dihadapkan di Hakim?
15:08Udah semua dilakukan sama Pak Jokowi.
15:09Karena yang ingin dicari adalah kebenaran material.
15:11Benar nggak apa yang dia ucapkan itu konsisten nggak pada saat menyampaikan itu?
15:14Itulah yang disebut dengan mencari kebenaran.
15:16Bukan yang disampaikan di luar pengadilan.
15:18Begitu masuk ke pengadilan,
15:19saya jujur saja melihat bahwa
15:21keterangan Pak Jokowi
15:23itu tidak menjelaskan proses akademiknya secara tuntas.
15:26Bahkan antara satu pernyataan dengan pernyataan yang lain,
15:29banyak yang kontradiksi dan Pak Jokowi sangat hati-hati.
15:31Itu dari Anda dan kuburnya Rosur ya?
15:33Bukan dari saya.
15:33Itu fakta persidangan.
15:35Tapi kan nanti Hakim yang akan jawabnya.
15:37Iya, betul.
15:38Dari fakta persidangan itulah,
15:39kemudian kita mengkonstruksikan peristiwa hukum ini kayak apa?
15:42Kaitannya dengan dokumen.
15:43Nggak mungkin orang menyelesaikan pendidikan,
15:46kalau tidak selesai kemudian mendapatkan ijazah.
15:48Saya terus kemudian kayak mendapatkan transkrip.
15:50Transkrip itu hak seorang mahasiswa.
15:52Apalagi universitas sekelas Gajah Mada.
15:54Mungkin Bang Bil kalau dari universitas...
15:55Sebentar, Bang.
15:57Karena itu semua udah dikontrol.
15:58Kalau Bang Bil lulus dari universitas swasta,
16:01mungkin bisa.
16:02Tapi kalau universitas sekelas G,
16:05jangan dipakankan.
16:06Gimana topang nilai itu yang kita yang kami ragu.
16:09Sudah memastikan dan menentukan loh mekanisme.
16:12Jadi gini, yang saya rasa lucu,
16:13teman-teman kok merasa bahwa Pak Jokowi tidak kuliah dengan benar,
16:17sementara kampusnya melatakan benar.
16:19Ini lucu gitu.
16:19Ini lucu itu fakta persidangan.
16:21Jadi orang yang disitulah yang membuatkan diraju.
16:23Kenapa ijazah Pak Jokowi bisa hadir?
16:26Tanpa perusahaan demikian selesai dan pari kurna.
16:29Itu tidak suktansi, Bang.
16:31Apa fakta persidangan yang Anda maksud di sini?
16:33Ketika ada pertanyaan,
16:34apakah Pak Jokowi mengenal anak lura?
16:37Apakah Pak Jokowi kekaui sudah membawa pacar?
16:40Ini kan teanehan.
16:43Anda ini memungkanku.
16:44Argumen saya.
16:46Ini bukan soal kita bicara opini publik,
16:49tapi masyarakat secara awam.
16:50Sekarang itu bisa membaca.
16:52Ini problem politik.
16:53Ini bukan juga persoalan persidangan saja yang menurut kami.
16:56Terlalu banyak drama-drama yang teman-teman mainkan.
16:59Minta izin, Bang.
17:00Saya mau tanya,
17:01apa hubungannya Pak Jokowi sudah bawa pacar?
17:03Saya mau tanya,
17:04apa hubungannya Pak Jokowi membawa pacar?
17:04Itu bukan pertanyaan saya.
17:05Saya mohon maaf.
17:06Jangan menanyakan sesuatu kepada bukan yang saya.
17:08Tentunya, urusan teknis.
17:09Itu urusan orang lain.
17:10Itu pembuktian pihak lain.
17:11Bukan pembuktian saya.
17:13Abang ikutin pembuktian saya.
17:14Jokowi adalah mahasiswa lulusan UGM.
17:18Artinya problem teknis apapun,
17:20itu sudah dikuasai oleh UGM.
17:21Kenapa Abang,
17:23yang waktu TBN-nya bukan alami UGM,
17:25kenapa Roy Shiroin tidak berada di wilayah lingkup pendidikan
17:29dari wilayahnya Pak Jokowi,
17:30kok bisa tahu.
17:31Ini barang kan lucu.
17:32Jadinya, kecuali kliennya Abang adalah rektor UGM.
17:36Yang melihat bahwa Jokowi mendapatkan ijazah.
17:39Oke, kalau gitu pertanyaan lainnya.
17:41Satu lagi.
17:42Satu lagi.
17:42Kita jadinya gitu.
17:43Satu lagi.
17:43Ayolah, jangan.
17:44Satu lagi.
17:44Ayolah, ayolah Bang.
17:46Mending saya sarankan Roy Shiro dan Tifan
17:49minta maaf saja kepada Pak Jokowi.
17:50Sebentar, Bang.
17:51Saya sarankan minta maaf saja kepada Pak Jokowi
17:53supaya sudahi masalah ini, Bang.
17:55Karena ini tidak produktif.
17:56Akhirnya Pak Roy dan juga
18:00disertawakan oleh masyarakat.
18:01Roy dan Tifan disertawakan oleh Pak Jokowi.
18:04Oke, kalau itu pertanyaan saya selanjutnya, Bang Bill.
18:06Bang Sang Aji sebentar.
18:07Kalau gitu kan.
18:08Kenapa kami ragu sama hasil laboratorium forensik?
18:10Ada dua peristiwa.
18:11Peristiwa pertama adalah
18:13Jangan potong dulu.
18:15Anda dari tadi bisa nggak potong loh ya.
18:17Kita saling menghargai lawan bicara.
18:18Saya bicara dari konstruksi hukum.
18:19Anda mau bicara dari sisi politik, silakan.
18:22Pertama, hasil laboratorium forensik itu
18:26dibuat pada tahun 2025
18:28pada saat Pak Listio Sigit menjadi ke Polri.
18:31Ada dua momentum yang terjadi
18:33kalau kita lihat peristiwa itu.
18:35Bersamaan dengan proses penyadapan terhadap Presiden.
18:38Presiden aja sebentar.
18:39Presiden aja bisa diserahkan.
18:41Bisa ada politik musik gitu.
18:42Apalagi hanya untuk sekedar
18:44sebuah hasil laboratorium forensik
18:46yang bisa diutak-atik.
18:47Itu hal yang pertama.
18:48Hal yang kedua,
18:50kita punya hasil laboratorium forensik
18:52rumah sakit Polri
18:54yang pernah dikeluarkan
18:56untuk kasus Joshua Huta Barat.
18:57pembunuhan Joshua diatur oleh siapa?
19:00Diatur oleh Ferdi Sambo.
19:01Dua-duanya sekarang sedang masuk penjara.
19:03Artinya kami melihat
19:04apa iya
19:05hasil laboratorium forensik
19:06di era Listio Sigit bisa kredibel.
19:08Ayo, coba kita buka lagi.
19:09Makanya kami tantang.
19:11Kalau diakini mereka asli,
19:13kalau diakini mereka asli,
19:14sebenarnya tidak perlu ada keraguan.
19:16Kalau Anda juga menantang untuk
19:18ada lagi uji lapor
19:20untuk injasnya Pak Jokowi.
19:21Ada pasalnya.
19:23Tapi pertanyaan berikutnya,
19:24kan Anda juga akan menghadirkan
19:26dari kubu Anda,
19:26nanti juga akan menghadirkan ahli ya
19:28untuk menguatkan.
19:28Tapi ahli kan tidak memeriksa
19:29barang bukti ijazah.
19:30Tapi kira-kira siapa yang...
19:32Beda.
19:32Karena laboratorium forensik itu...
19:33Kalau gitu ahli bidang
19:34apa saja yang menguatkan...
19:36Oh, kalau ahli nanti.
19:37Itu kan setelah pembuktian jaksa,
19:38saksi-saksi, ahli,
19:39baru kemudian kami ahli dan saksi.
19:41Artinya masih panjang lah.
19:42Tapi begini,
19:43dalam pembuktian material,
19:45ijazah itu kan tidak bisa diakses
19:47oleh ahli kami.
19:49Kami melihat begini,
19:50meskipun itu dikeluarkan
19:52oleh satu institusi,
19:55instrumen penghadapan saja
19:56bisa disalahgunakan.
19:58Untuk kepentingan siapa?
19:59Ini perisikan loh yang disadap
20:00oleh institusi kita
20:01dan hari ini jadi tersangka.
20:02Ini poinnya?
20:02Bukan, tidak mungkin.
20:03Hasil laboratorium forensik
20:04juga diacak-acak.
20:06Karena ini adalah oknum yang bermain,
20:08bukan institusi.
20:09Artinya untuk menguji validitas
20:11terhadap hasil laboratorium forensik,
20:13ayo mari kita uji ulang.
20:14Kalau Anda berani.
20:15Minta diuji ulang,
20:16kalau berani singkat aja Bang Bil.
20:18Saya kira itu tidak jadi relevan.
20:20Bukan tidak relevan.
20:21Ini peristiwa yang hari ini
20:22sedang terjadi di Indonesia.
20:24Listio Sidi menjadah
20:25Presiden Prabowo.
20:27Dan itu dialogis
20:28seorang Kapolri menjadah
20:29Presidennya.
20:30Dia ini agennya siapa?
20:32Dan dia bekerja untuk siapa?
20:34Dia itu alat presiden.
20:35Waktu saya sudah habis ya?
20:36Oke, sing-sing aja.
20:37Bentar, bang.
20:38Bentar lagi, Bang Bil.
20:39Oke, kita kasih sempatan dikit aja.
20:41Dia bisa diacak-acak lah.
20:42Bang Bil, silahkan.
20:42Dia aja bisa menjadah Presiden.
20:44Kita hormati.
20:45Kita hormati kecurigaannya Bang Gapur.
20:47Kita hormati kecurigaan.
20:48Ini sempat yang kita hubungkan gitu loh Bang.
20:50Artinya kecurigaan dalam konteks masalah.
20:52Bawa ini ke laboratorium forensic independent.
20:54Oke, silahkan Bang Bil.
20:55Oh, saya kira beliau berani.
20:56Kalau diminta oleh Hakim.
20:58Kalau diminta.
20:59Kalau diminta.
21:00Kalau diminta sama Pak Gapur,
21:01tetap beliau keberatan.
21:02Kalau berani Pak Jokowi
21:03Masalah menjual gitu dalam persidangan.
21:05Baik.
21:06Anda tinggal nanti.
21:07Hakim yang menentukan ya.
21:08Kan ada suji lapor apa.
21:10Kembali atau nggak ya.
21:11Untuk ijazahnya Pak Jokowi.
21:12Sudah tidak setansi lagi Bang.
21:13Nah, ya ialah.
21:14Sudah tidak akan ada.
21:15Apa yang lebih kepada teori cocok logi.
21:17Kita serahkan kepada Hakim.
21:18Kalau kemudian Hakim mempunis apa.
21:20Oke.
21:21Dalam persidangan.
21:22Saya yakin.
21:22Kita buka lagi.
21:23Ditunjukkan tidak percaya.
21:25Datang ke persidangan tidak percaya.
21:26Bahkan laboratorium dari langit sekalipun.
21:28Insya Allah Bang Gapur dan kawan-kawan.
21:30Oke, baik.
21:30Dan ini adalah nanti miratanya Hakim
21:33yang akan menentukan ya Bang.
21:34Terang ada di dunia ini laboratorium dari langit.
21:36Anda kan berasunsi aja.
21:38Halusinasi Anda.
21:38Saran saya Roy Surio dan Sipa
21:40minta maaf aja Bang.
21:41Saran saya Roy Surio dan Sipa minta maaf.
21:44Oke, terima kasih Bang Sarajik.
21:46Bang Wil, terima kasih.
21:47Saya yang di Indonesia sudah tertawakan Roy Surio.
21:50Oke, selamat sore semuanya.
21:51Terima kasih Bapak-Bapak.
21:52Saran saya itu.
21:53Hormat Bang.
21:54Bersama kami duga penyadapan oleh
21:56empat Jenderal Polri bergulung.