Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Bidang Politik DPP Partai Solidaritas Indonesia, Bestari Barus, menduga ada kekuatan politik tertentu yang berada di balik aduan terkait dokumen pendidikan Gibran.

Dalam diskusi bersama kuasa hukum pelapor, Azam Khan, Bestari mempertanyakan pihak yang diwakili oleh para pengadu. Ia menduga ada kepentingan politik yang menggerakkan mereka.

Menanggapi dugaan tersebut, Azam Khan meminta Bestari menunjukkan bukti mengenai pihak yang disebut berada di belakang aduan.

Azam juga menilai dugaan keterlibatan pihak tertentu, termasuk partai politik, seharusnya disampaikan secara terbuka jika memang memiliki dasar.

Bestari kemudian menegaskan bahwa menurutnya, polemik tersebut telah memasuki ranah politik. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin persoalan yang berkembang di ruang politik tidak dianggap sebagai bagian dari operasi politik.

Namun, Azam kembali meminta Bestari menunjukkan bukti atas dugaan adanya pihak yang menggerakkan polemik tersebut. Azam juga mempertanyakan pernyataan mengenai adanya sosok atau kekuatan besar di balik persoalan ini.



Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/d3dTY5GuHFE

Baca Juga DEBAT! PSI Sebut Pelapor Suket Gibran Tak Punya Legal Standing, Kuasa Hukum Membantah | ROSI di https://www.kompas.tv/talkshow/697694/debat-psi-sebut-pelapor-suket-gibran-tak-punya-legal-standing-kuasa-hukum-membantah-rosi



#ijazahgibran #wapresgibran #jokowi

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/697697/psi-curiga-ada-kekuatan-politik-di-balik-aduan-suket-gibran-ini-kata-kuasa-hukum-rosi
Transkrip
00:00Anda menjamin tidak ada operasi politik sebaik ini, tidak ada yang menunggangi laporan itu yang disampaikan.
00:05Kenapa Anda ketahuan? Anda mengingat bahwa tidak mungkin tidak ada yang menunggangi?
00:11Friska, ini bukan hal sebentar.
00:14Ya kan? Garbur langsung lama.
00:17Saya juga nggak tahu masyarakat yang mana yang diwakili.
00:22280 juta rakyat diwakili.
00:24Dari mana ceritanya?
00:26Karena kalau nggak ada kekuatan kepentingan politik tertentu yang ada di belakang mereka menggerakkan mereka ini, saya menduga sangat kuat
00:34itu.
00:34Ya ditunjukkan Pak Bos, siapa Bos.
00:36Oh nggak bisa, politik main tunjuk-tunjuk bagaimana?
00:39Bukan, daripada...
00:40Kalau Abang bisa tunjuk, Janu salah, Janu salah walaupun nggak ada buktinya.
00:44Bahasa publikasi yang bersakwasangka, tunjukkan aja bahwa ini benar, di belakang ada partai ini.
00:49Pada saatnya dong.
00:51Nggak usah nunggu pada saatnya, sama dengan mau menunjukkan ijazah.
00:56Ya kan? Tidak ditunjukkan.
00:59Yang ijazah yang mana lagi ini?
01:00Tadi yang seperti berani itu.
01:02Nah, orang ada kok suket.
01:04Ini suket bukan ijazah.
01:06Tanya aja ke anak mahasiswa.
01:07Apakah suket itu ijazah?
01:08Nggak paham-paham ini suket.
01:10Nggak paham ini suket.
01:11Jadi jangan selalu kalau di luar negeri.
01:13Nanti nggak bisa balik.
01:15Itu sembilan hakim, Bos.
01:17Oke.
01:17Tapi balik lagi ke soal politik tadi.
01:19Kalau menurut Bung Azam, tunjuk saja kalau tentang ada.
01:22Apa?
01:22Justru karena itu sembilan hakim.
01:24Ya, tunjuk yang politik aja lah.
01:26Justru karena itu sembilan hakim pintar-pintar.
01:29Mereka NO.
01:30Udah bukan.
01:31Oke.
01:31Balik lagi ke soal politik.
01:33Menurut Bung Azam, tunjukkan saja.
01:34Tunjukkan.
01:36Maksudnya pada saatnya, kapan saat yang tepat itu?
01:40Jangan seperti kita mengikuti dia.
01:42Hari ini mau hari ini jadi.
01:43Menurut Anda?
01:44Memang sekarang.
01:45Menurut negeri.
01:46Menurut Anda bagaimana?
01:47Menurut Bung Bestari bagaimana?
01:48Pembodohan terus.
01:49Bagaimana membacanya operasi politik di belakang itu?
01:52Bagaimana membacanya bahwa ini memang ada yang menunggangi?
01:54Sedangkan barang ini pun sudah masuk ke ruang politik.
01:57Masa itu bukan operasi politik?
01:59Ya sudah.
01:59Ya kan nggak sesusah membacanya.
02:01Kemudian ada nggak yang meng-operit itu?
02:03Dugaan saya seribu persen ada dong.
02:05Kasus ini berkembang menurut saya.
02:09Nah gitu harusnya.
02:10Ini ada parpol yang terlibat di dalamnya.
02:12Nah harusnya begitu.
02:13Sebut parpolnya.
02:14Jadi gentle.
02:15Jangan main kucing-kucingan.
02:17Nah kalau nanti saatnya.
02:19Ya sama.
02:20Ya kalau begitu cerita.
02:22Anda menginginkan sesuatu itu berjalan seperti apa yang Anda pikirkan.
02:27Akhirnya ya sudah.
02:28Sama.
02:29Anda berpikir bahwa hanya Anda yang benar.
02:32Ini yang repot kita.
02:33Lapor.
02:34Kok Buma.
02:35Kok Duma.
02:35Kenapa tidak lapor.
02:36Kenapa sekarang tidak ditunjukkan bahasa itu.
02:38Ini nggak punya legal standing.
02:39Itu yang paling repot kita itu.
02:41Kenapa tidak ditunjukkan.
02:42Kalau dia bisa memprotes.
02:44Ditunjukkan.
02:45Bukan.
02:45Cuman Anda membantah.
02:46Dukan.
02:47Begini.
02:47Agar Anda masih tetap mendapat.
02:50Tidak lapor.
02:50Mendapat perhatian dari.
02:52Kan begitu.
02:52Sekarang saya balikin.
02:54Kenapa Anda menutupi soal itu.
02:55Buka aja.
02:56Soal yang mana.
02:57Yang tadi bilang ada orang besar.
02:59Lo memang ada kok.
03:00Ya saya sudah tunjukkan.
03:01Kok ditunjukkan.
03:02Nah itu kan.
03:03Gimana.
03:03Bisa nggak.
03:04Anda berusaha seluruh Indonesia ini berpikir seperti Anda.
03:08Rusak negeri ini.
03:09Bersama dengan Anda tadi mengatakan.
03:11Masih suatu ini pun rusak nanti.
03:12Bukan Anda tadi mengatakan.
03:13Kenapa tidak lapor.
03:14Kok Dumas.
03:14Ya kan saya nanya.
03:16Sekarang saya balik dengan begitu.
03:18Ya kan saya tanya.
03:19Kenapa nggak lapor.
03:20Kalau Anda memang orang politik.
03:21Orang ngerti.
03:22Apalagi keluar dari Pak Jokowi.
03:24Sampaikan saja lah kepada publik.
03:25Oh iya dong.
03:26Orang Anda udah masuk ke ruang politik kok.
03:29Pasti mau membantah juga.
03:30Kenapa ini menurut Bung Bestari.
03:32Laporan hukum ini sudah masuk ke ruang politik.
03:35Di mana.
03:36Kan mereka sudah berjalan.
03:38Menemui partai A, partai B.
03:40Itu bukan politik.
03:41Loh iya kalau soal itu kan biasa.
03:43Loh iya.
03:44Tapi itu kan nggak ada hubungan dengan Anda berbicara.
03:48Bahwa ini di belakang ada orang besar.
03:51Ada permainan politik.
03:53Tunjukkan aja.
03:53Ya silahkan aja Anda bantah.
03:56Tapi itu kan keyakinan.
03:57Seperti Anda meyakini bahwa.
03:59Mumpung masih tinggal satu segmen.
04:00Iya kan.
04:01Gibran nggak punya ijasa dan sebagainya.
04:03Palsu.
04:04Itu kan pertimbangan.
04:04Nah ini palsu.
04:06Palsu nggak ada pertimbangan hatim.
04:07Berikan dengan Anda itu.
04:08Enggak.
04:08Kalau ini mahasli Friska.
04:10Nah maksudnya ya.
04:10Tunjukkan jangan kenaya.
04:12Soal ijasa.
04:13Tapi laporan.
04:14Laporan hukum.
04:15Jangan dong.
04:16Tapi laporan hukum ini.
04:17Ujungnya apakah untuk menurunkan.
04:19Mas Gibran dari pesiwap.
04:25Cara baru nonton di Smart TV.
04:28Nonton live streaming dan ribuan tayangan Kompas Gramedia langsung dari Smart TV kamu.
04:34Cara installnya, buka Google Play Store di Smart TV kamu.
04:38Cari Kompas TV melalui pencarian.
04:41Pilih aplikasi lalu install.
04:44Selesai.
04:44Kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV.
04:49Download Kompas TV apps di TV kamu sekarang juga.

Dianjurkan