00:02Saya Yasir Neneama masih menemani Anda di Kompas Petang, Saudara.
00:06Komisi Pemberantasan Korupsi mengevaluasi alasan Menteri ATR BPN Nusron Wahid
00:12tidak hadir dalam panggilan kedua KPK sebagai saksi di kasus suap HGB.
00:18Hal ini disampaikan oleh PLT Direktur Penyidikan KPK Ahmad Taufik Hussein
00:23yang menjelaskan jika sesuai aturan KUHAB baru,
00:26pemanggilan saksi dilakukan melalui dua kali surat panggilan.
00:30KPK bilang penyidik dapat melayangkan panggilan kedua
00:34jika alasan ketidakhadiran pada panggilan pertama dinilai tidak patut dan wajar.
00:43Sementara itu penilaian terhadap kepatutan alasan ketidakhadiran tersebut menjadi kewenangan penyidik.
00:53Panggilan pertama sudah disampaikan ketika memang memberikan alasan dan patut dan wajar
01:00jadi masih kesempatan untuk panggilan pertama yang akan dilayangkan.
01:06Panggilan kedua akan dilayangkan ketika memang menurut penyidik setelah dievaluasi
01:12alasannya itu tidak masuk ketentuan sesuai hukum acara pidana
01:16itu tidak patut dan tidak wajar
01:19sehingga memang itu subjektivitas dari penyidik untuk menentukan apakah alasannya patut dan wajar
01:26sehingga saat ini masih dievaluasi
01:28dan tentunya untuk panggilan seorang saksi itu memang dilihat dari kebutuhan penyidik.
01:40Penjagaan ke luar negeri hanya dapat dilakukan untuk persangka
01:45sedangkan Pak NW dalam perkara ini statusnya adalah saksi.
01:52Bisa dibilang perbedaan pelakuan ya gitu
01:54kenapa kalau ini sudah ada posisi dua kali panggilan gitu
01:58harusnya KPK tegaslah untuk hal itu.
02:06Sempat hadir di istana dalam sidang paripurna kabinet dua tahun pemerintahan Prabowo Gibran
02:11Menteri ATR BPN Nusron Wahid menjadi sorotan
02:15Pasalnya Nusron sempat dua kali mangkir dari panggilan KPK sebagai saksi
02:20untuk kasus suap HGB.
02:23Hasil temuan maki
02:24Nusron terkonfirmasi sempat pergi ke Malaysia
02:27sehari sebelum panggilan pemeriksaan kedua KPK.
02:31Sikap Nusron yang dinilai tak operatif kepada proses pemeriksaan
02:34membuat ICW mendesak KPK bertindak tegas untuk memanggil paksa Nusron
02:39sebagai saksi kasus korupsi HGB.
02:43Bisa dibilang perbedaan pelakuan ya
02:46kenapa kalau ini sudah ada posisi dua kali panggilan
02:50harusnya sudah bisa dijemput saja gitu
02:55terkait dengan mangkirnya Nusron
02:59daripada panggilan-panggilan yang sudah dilayangkan oleh KPK
03:02harusnya KPK tegaslah untuk hal itu.
03:06Sementara KPK bilang
03:07belum dapat mengeluarkan surat pencekalan untuk Nusron
03:10karena statusnya masih sebagai saksi.
03:13Sementara jadwal panggilan ulang untuk Nusron
03:16juga belum ditentukan penyidik.
03:18Sebelumnya jurubicara KPK Budi Prasetyo menyebut
03:20jika kesaksian Nusron penting dalam kasus suap HGB
03:24karena saat ini penyidik sedang mengusut aliran dana
03:27dan alur perintah dalam kasus suap HGB.
03:31Pasalnya saat ini dalam kasus suap HGB
03:34empat orang dekat Nusron
03:35dan satu pejabat eselon satu kementerian ATR BPN
03:38sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.
03:43Kita merujuk ke KUHAP
03:46penjagaan ke luar negeri hanya dapat dilakukan untuk tersangka.
03:52Sedangkan Pak NW dalam perkara ini
03:55statusnya adalah saksi
03:56untuk pemanggilan-pemanggilan sebelumnya.
04:03Nanti kami cek ya
04:04karena memang penyidik juga secepatnya akan
04:08atur jadwalnya untuk pemeriksaan yang bersangkutan.
04:12Juga berharap nanti sodara NW kooperatif
04:16hadir dalam pemanggilan
04:17dan menyampaikan keterangan-keterangan yang dibutuhkan penyidik.
04:23Sebelumnya, Ketua KPK menagih janji Nusron
04:26yang bilang akan mengikuti proses hukum.
04:28KPK pun meminta Nusron untuk kooperatif
04:31dan hadir dalam pemeriksaan.
04:34Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia juga bilang
04:37telah menyerahkan proses hukum kadernya ke KPK.
04:41Kasus suap HGB menjadi sorotan
04:42karena bukti korupsi OTT yang berhasil disita KPK
04:45mencapai lebih dari 106 miliar rupiah.
04:49Barang bukti ini menjadi yang terbesar dalam sejarah KPK.
04:52Tim Liputan, Kompas TV
04:59Usai mangkir dua kali, KPK belum juga menjadwalkan ulang
05:03pemanggilan Menteri ATR BPN Nusron Wahid
05:05sebagai saksi kasus suap HGB.
05:08Padahal KPK bilang
05:10kesaksian Nusron ini penting karena saat ini
05:13penyidik KPK sedang mendalami alur perintah
05:16dan aliran dana kasus suap HGB
05:18yang menyeret empat orang dekat dari Nusron ini, sodara.
05:22Desakan agar KPK tegas segera memanggil paksa Nusron pun mencuat
05:26lantas apa yang KPK tunggu?
05:29Kita bahas bersama dengan Direktur Eksekutif Lingkarmadani,
05:31Bang Rai Rangkuti dan juga Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo,
05:35Bang Gurnian, selamat petang semuanya.
05:38Sore.
05:39Selamat petang.
05:40Saya ke Bang Rai dulu.
05:42Kalau kita tanya apa yang KPK tunggu,
05:43nanti Bang Rai jawabnya dia tanyakan saja ke KPK.
05:46Jadi pertanyaan saya,
05:47kenapa Nusron mudah sekali nih
05:49mangkir dari proses kasus hukum
05:52yang kita lihat ini aliran suapnya ini miliaran rupiah?
05:57Sorry, justru saya mau menjawab yang pertama.
05:59Oh gitu? Boleh, silakan Bang Rai.
06:01Jadi soal kenapa KPK belum menetapkan gitu ya?
06:05Apa yang ditunggu KPK kalau begitu?
06:08Ya KPK-nya nggak berani.
06:11Kenapa nggak berani?
06:12Ya mentalitinya nggak terbangun selama 2 tahun terakhir ya.
06:15Bahkan 2 tahun lebih ya.
06:17Siapa?
06:18Kenapa nggak berani?
06:19Kalau gitu pertanyaan,
06:20kenapa nggak berani?
06:21Apakah ada orang di belakang Nusron?
06:24Oh, kita nggak tahu.
06:26Tetapi saya mau melihat secara sosiologis dulu.
06:28KPK yang baru sekarang ini,
06:30menurut saya tidak terlatih untuk menangani kasus-kasus besar.
06:34Kasus besar itu dari 2 aspek ya.
06:37Dananya besar,
06:38dan atau pelakunya orang besar gitu.
06:40Selama 2 tahun terakhir ini,
06:42KPK hanya menangkap orang-orang yang dananya kecil,
06:45dan atau pelakunya kecil.
06:48Kepala daerah,
06:49ya kan,
06:50setingkat dengan itu gitu.
06:51Dananya juga 1M, 2M, 3M gitu.
06:54Tadi di pengantar udah disebutkan,
06:56kalau inilah kali pertama dalam sejarah KPK di era yang sekarang,
07:01di mana KPK membongkar kasus yang begitu besar jumlahnya,
07:05itu benar gitu.
07:07Nah, oleh karena mereka nggak terbiasa,
07:09menangani kasus-kasus besar,
07:10misalnya berbanding dengan kejaksaan,
07:13maka prosesnya kita lihat sangat lambat,
07:15dan sangat bertelek-telek,
07:17dan cenderung untuk menyeret ke sana kemari.
07:22Kalau disebut adakah orang besar di luarnya,
07:25saya kira dalam kasus ini tentu ada orang besar di belakang.
07:29Siapa itu Bang?
07:31Bukan, dalam pengertian ini.
07:33Dalam pengertian ada Presiden di belakang dia,
07:35ada Ketua Golkar di belakang dia.
07:38Tapi apakah keduduannya menghalangi proses hukum?
07:41Saya tidak percaya.
07:42Keduduannya menghalangi proses hukum.
07:44Meskipun dalam hal ini,
07:45misalnya juga saya menyesalkan,
07:47mengapa Pak Presiden
07:49belum juga mencopot Sudara Nusron sebagai menteri.
07:54Nah, kenapa saya percaya kedua tokoh ini
07:57tidak berada di belakangnya?
07:58Karena kalau dibiarkan kasusnya begini,
08:02ini tidak menguntungkan sama sekali
08:04baik kepada Presiden maupun kepada Golkar.
08:07Lihat ya,
08:08kalau kita lihat misalnya survei kemarin
08:10yang dikeluarkan oleh SMRC,
08:12salah satu faktor terbesar penyumbang ketidakpuasan
08:16kepada pemerintahan Pak Prabowo itu adalah
08:18karena masyarakat melihat
08:20penanganan dan pemberantasan korupsi
08:23cenderung melemah di era Pak Prabowo ini.
08:26Jadi, kalau justru dengan tidak diperiksanya,
08:30ya kan Sudara Nusron,
08:32tidak geliatnya KPK melakukan pemeriksaan,
08:35itu justru akan memunculkan
08:38ketidakpuasan yang bertambah kepada Pak Prabowo.
08:41Sehingga kalau menurut Bang...
08:44Boleh saya potong dulu ya?
08:45Yang saya curiga justru,
08:49KPK-nya yang sedang berpolitik
08:51dalam kerangka menjatuhkan lebih dalam lagi
08:54nama Presiden gitu.
08:56Kalau berbicara soal KPK sedang berpolitik
08:59sebagai relawan Pak Prabowo,
09:02yang Anda baca ini seperti apa Bang Iwan?
09:04Karena tadi Bang Ray sendiri bilang bahwa
09:06menyesalkan kenapa Nusron ini
09:09tidak dicopot dari pemerintahan saat ini.
09:14Kalau masalah KPK berpolitik,
09:17saya juga harus melihat secara detail ya.
09:21Intinya,
09:23Pak Prabowo itu sudah menggaungkan
09:25pemberantasan korupsi tanpa tebang pilih ya.
09:27Lantas kenapa tidak ada respon
09:30yang tegas menurut publik
09:32terkait dengan Nusron,
09:34salah satu anak buahnya di pemerintahan
09:35yang namanya terseret dalam kasus korupsi Bang?
09:39Jadi gini, Pak Prabowo juga kan tentunya
09:41punya orang-orang yang bisa membantu,
09:44membantu untuk mengumpulkan data yang lebih valid ya.
09:47Bukan berarti kita tidak percaya dengan KPK,
09:50tapi paling tidak,
09:51supaya Pak Prabowo juga tidak salah
09:54dalam mengambil keputusan.
09:55Karena apakah kita semua yakin
09:57bahwa Pak Prabowo tidak akan
09:59pandang buru lagi siapa saja
10:01yang melakukan korupsi,
10:02termasuk orang-orang terdekatnya,
10:04pasti akan ditindak tegas ya.
10:06Kita tunggu saja dalam satu hari, dua hari ini.
10:09Justru seharusnya bola panas itu
10:10adanya di KPK ya.
10:12Begitu dapat warning dari Pak Prabowo
10:14bahwa pemerintahan korupsi
10:15tidak pandang bulu,
10:17seharusnya KPK ini gaspol.
10:19Makanya kemarin dalam acara
10:20di salah satu stasiun TV,
10:22saya mengatakan bahwa
10:23ini saatnya gaspol ya.
10:26Siapapun dia,
10:27orang terdekat sekalipun
10:29dari Bapak Prabowo,
10:30apabila terindikasi korupsi,
10:32ya singkat saja.
10:33Berarti yang Anda maksud Bang Iwan,
10:35satu dua hari ini,
10:37apakah ini menjurus pada
10:39di resafel,
10:39atau dijemput paksa KPK Bang Iwan?
10:43Saya rasa,
10:44saya rasa,
10:45mana yang terbaik
10:46untuk penegakan hukum
10:47pasti dilakukan oleh Pak Prabowo Subianto.
10:49Berarti apa itu?
10:50Antara dua opsi tadi?
10:53Ya, kemungkinan besar
10:53di non-aktifkan dulu,
10:54atau mungkin dicopot dulu,
10:56ya.
10:56Dicopot dulu,
10:57karena dalam beberapa hari ini kan
10:58dari timnya Pak Prabowo juga,
10:59intent melakukan pertemuan-pertemuan,
11:02yang intinya juga membahas
11:03masalah si Nusran Wahid ini.
11:05Ini informasinya valid ya,
11:06Bang Iwan ya,
11:07satu dua hari ke depan,
11:08kemungkinan akan di non-aktifkan dulu ya.
11:11Kita sama-sama monitor dulu,
11:12kita sama-sama monitor.
11:13Tapi saya yakin itu akan dilakukan.
11:15Karena ini,
11:16akan menjadi beban politik Prabowo,
11:18apabila,
11:19tidak disegara dilakukan
11:22penegakan supermasi hukum.
11:23Bahaya juga, ya.
11:25Kami semua tidak mau,
11:27nama besar Prabowo,
11:28nama baik Prabowo,
11:29dan kepercayaan publik,
11:30merocot gara-gara,
11:31menteri-menterinya
11:32yang terindikasi korupsi.
11:33Jadi saya secara organisasi,
11:36maupun pribadi,
11:37mendorong Pak Prabowo
11:38untuk berlaku lebih cepat
11:40dan tegas kepada siapapun
11:41yang melakukan korupsi.
11:42Saya rasa itu.
11:45Kalau memang Pak Prabowo serius,
11:47menurut Bang Reh sendiri,
11:48apa langkah yang harus dilakukan?
11:50Ya, itu tadi.
11:52Seperti yang sebut oleh Bung Iwan ya,
11:54ada dua pilihan tuh.
11:55Pertama, non-aktifkan dulu,
11:57atau yang sekaligus di reshapal.
11:59Nah, itu juga memberi sinyal yang lebih kuat
12:02kepada KPK
12:03untuk segera bertindak,
12:05apakah akan melakukan proses penjemputan paksa,
12:08atau dan sebagainya,
12:08dan sebagainya.
12:09Nah, dan lebih juga memberi sinyal yang kuat
12:13kepada masyarakat,
12:14bahwa Pak Prabowo tidak pandang dulu tadi,
12:16soal pemberantasan korupsi.
12:19Tetapi kalau dibiarkan begini-begini terus,
12:21ya tentu akan menyerah,
12:22ya nama Pak Prabowo,
12:24dan pasumsi orang,
12:25ya ada orang kuat di belakang Nusron,
12:28dan orang kuat itu ya presiden,
12:30gitu loh kira-kira tuh.
12:31Nah, padahal dalam kondisi kayak begini nih,
12:34presiden perlu sangat memperlihatkan,
12:36apa namanya tuh,
12:37tekadnya yang kuat terhadap
12:38pemberantasan korupsi gitu ya,
12:40karena salah satu faktor
12:41penyumbang ketidakkuatan itu adalah,
12:43dilihat oleh publik,
12:45itu adalah lemahnya pemberantasan korupsi
12:46di arah Pak Prabowo ini.
12:47Sehingga Bang Ray sendiri melihat
12:48kekuatan seorang Nusron ini
12:50di pemerintahan,
12:51di Kabinet Prabowo,
12:52maupun di Golkar sendiri,
12:53seperti apa sih?
12:55Sebetulnya kan kalau di Kabinet
12:57sudah hampir relatif,
12:58sudah tidak ini lagi ya,
13:01berfungsi gitu.
13:02Betul,
13:02kalau tadi kata Bang Iwan
13:03terrealisasi ya,
13:04dalam 1-2 hari ke depan
13:05akan non-aktif,
13:06berarti omongan tadi benar.
13:08Ya, itu dia.
13:09Makanya sebetulnya dengan,
13:10atau tanpa,
13:12apa namanya itu ya,
13:14duku,
13:15katakanlah,
13:15dengan tidak berfungsinya
13:16sebetulnya secara optimal
13:17Sudara Nusron,
13:19ya itu secara administratif,
13:22secara manajemen
13:23yang bersangkutan itu
13:24paling tidak
13:24di non-aktifkan gitu.
13:26Dicari PLT-nya gitu.
13:28Baik,
13:29terakhir saya ke Bang Iwan.
13:31Sebagai relawan Prabowo,
13:33Anda mendorong kasus ini
13:34seperti apa?
13:35Penanganannya terlebih,
13:36tadi Anda bilang
13:37bahwa 1-2 hari ke depan ini,
13:40Nusron akan
13:40di non-aktifkan
13:41dari Kabinet.
13:44Saya mendorong penuh
13:46kepada Pak Prabowo Subianto
13:47untuk segera melakukan
13:49perindakan tegas.
13:50Karena ini menyangkut
13:51kepercayaan publik
13:52kepada dirinya.
13:53Yang kedua,
13:55kan kepercayaan publik
13:56kepada KPK,
13:57itu kan selama ini
13:58kan merosot kan?
14:00Iya gak?
14:00Semakin berkurang
14:01kepercayaan kepada KPK,
14:03ini justru saat yang tepat,
14:04KPK,
14:05untuk kembali
14:06menunjukkan taringnya.
14:08Setelah tertidur panjang,
14:10karena tebang pilihnya
14:12pendekat supermasi hukum,
14:13saya meminta KPK ini
14:15tunjukkan
14:15bahwa KPK ini adalah
14:16lembaga independen
14:18yang bisa dipercaya.
14:20Kemarin kan jaksa
14:21yang sudah gaspol.
14:23Sekarang saatnya KPK.
14:25Karena yang mengungkap
14:26pertama kali
14:27OTT terhadap
14:28orang-orangnya
14:30yang ada di ATRBPN,
14:31itu kan KPK.
14:32Baik.
14:32Iya lah, itu saja.
14:34Berarti nanti ini,
14:35oke, berarti kita tunggu ya
14:37bola panasnya ada di KPK,
14:39langkah apa yang diambil ini
14:40yang kita nantikan bersama.
14:41Terima kasih Direktur Kutif,
14:42Lingkar Madani,
14:43Bang Rerang Kutif,
14:44dan juga Ketua Umum Gerakan
14:45Cinta Prabowo,
14:46Bang Kurniawan,
14:47telah berbagi informasi
14:48dan perspektifnya
14:48di Kompas Petang.
14:49Salam sehat semuanya.
14:51Sampai ketemu, oke.
14:52Sampai ketemu, oke.