Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV Pemohon Gugatan Ijazah Gibran, Lukas Suwarso, dan Ketua Umum All Cipayung Nusantara, David Pajung, beradu argumen menanggapi pernyataan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, soal adanya operasi politik di balik polemik ijazah Wapres RI, Gibran Rakabuming.

"Menurut saya sebagai komunikator politik, orang media ya, ini ditujukan ke Presiden Prabowo, operasi politik ini," ujar Pemohon Gugatan Ijazah Gibran, Lukas Suwarso.

"Karena ada kalimat di belakangnya, ini operasi ini untuk mempersoalkan ijazah saya dan Jokowi dan Gibran itu adalah untuk mengalihkan isu pada persoalan-persoalan besar," lanjutnya.

Membantah hal itu, Ketua Umum All Cipayung Nusantara, David Pajung, menyebut Prabowo dan Jokowi masih solid.

#mk #gibran #prabowo #ijazahgibran

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyebut putusan MK soal syarat pendidikan meruntuhkan legitimasi Wakil Presiden Gibran dan menjadi beban politik bagi Presiden Prabowo.

Sementara mantan presiden Jokowi menyebut ada operasi politik dan penumpang gelap di balik isu ijazah Gibran.

Dengan putusan MK memicu menggelinding ke ranah politik dan hukum, lalu bola liar isu ijazah jadi beban Gibran atau Presiden Prabowo?

Saksikan pembahasannya dalam #BolaLiarKompasTV episode "Putusan MK soal Ijazah: Beban Gibran atau Prabowo?", Jumat, 23 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB, LIVE di KompasTV!

kompas.tv/live

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/697679/adu-argumen-lukas-david-soal-jokowi-sebut-operasi-politik-di-polemik-ijazah-gibran-bola-liar
Transkrip
00:01Ya, Pak Lukas, Pak Jokowi mengatakan terkait kasus ini ada operasi politik dan penumpang gelap.
00:07Apakah ini bentuk perubahan dari awalnya overconfidence sekarang bergeser jadi offensive karena sudah mulai kewalahan?
00:14Ya, jadi kalau yang menganalisis tuduhan Jokowi itu ke SBI itu terlalu lugu.
00:21Hanya karena otak atik gato, oh ini Roy Surya, oh itu Deni, bekas Partai Demokrat.
00:25Nah, yang benar ya, menurut saya sebagai komunikator politik, orang media ya, ini ditujukan ke Presiden Prabowo operasi politik ini.
00:36Karena ada kalimat di belakangnya, ini operasi ini untuk mempersoalkan ijazah saya dan Jokowi dan Gibran, itu adalah untuk mengalihkan
00:48isu pada persoalan-persoalan besar.
00:51Anda tahu persoalan besar Indonesia? Kebakaran hutan, antri bensin, MBG, KDMP, dan seluruh program Presiden Prabowo yang memang sialnya lagi
01:02ada problem.
01:03Nah, Jokowi kenapa ngomong itu? Itu adalah kalau kita memendalami psikoanalisis Sigmund Freud, itu adalah curahan bawah sadar.
01:13Dia ingin menuduh orang, tapi nggak berani, tapi dia keceplosan, oh ini untuk mengalihkan persoalan itu.
01:22Jadi ada film kalau pernah nonton, Walk the Dog, The Tail That Walk the Dog, ekor yang menghibas anjing.
01:31Jadi, Presiden-Presiden yang bermasalah di negara-negara banana, kapiran, itu selalu membuat isu untuk mengalihkan problem real.
01:41Nah, itu tuduhannya Jokowi itu kepada Presiden Prabowo.
01:46Karena dia tahu dia mulai disingkirkan orang-orangnya di kabinet.
01:53Kemudian, Gibran juga mulai dijauhi.
01:58Kan ada satu eksiden tuh, Gibran tidak duduk bareng dia.
02:02Sehabis, Gibran malah mempersoalkan MBG itu, dan mengatakan, jangan dikonsumsi MBG.
02:07Nah, seperti yang saya singgung tadi, ini jadi old couple sekarang nih.
02:11Pasangan yang aneh, strange bad fellow.
02:15Jadi nggak pernah bisa sejalan, nggak pernah seirama, nggak pernah harmonis.
02:19Dan serep yang membebani, jadi ya akhirnya tercetuslah ucapan itu.
02:25Jadi, kenapa pesannya disampaikan secara terbuka Bang Lukas?
02:28Ya, karena sudah hopeless.
02:30Sudah hopeless?
02:30Dengan orang-orangnya disingkirkan.
02:32Oke, baik.
02:32Jadi pesan dari Pak Jokowi itu kan untuk Pak Prabowo, benar nggak?
02:38Sebentar, sebentar.
02:39Sebenarnya itu sindiran.
02:40Jadi, ya argumen Bang Lukas ini sangat prototipe dari kelompok yang memang sakit hati.
02:49Nah, saya melengkapi tadi Bang Ade, Bang Hensat ya, soal judul ini.
02:56Siapa yang terbeban lah di situ?
03:00Jadi beban siapa?
03:00Yang terbeban ini memang kelompok di luar koalisi.
03:05Kelompok yang menciptakan kekiseruan politik.
03:09Pelakunya kan itu-itu aja.
03:11Dan kita bisa mengidentifikasi siapa endingnya ini semua.
03:14Nah gini, saya bilang dalam kontestasi Pilpres 2029 nanti,
03:21Jangan mimpi secara elektoral kelompok-kelompok lawan ini bisa mengalahkan Prabowo
03:28kalau Prabowo dan Jokowi masih solid.
03:31Jangan mimpi mengalahkan secara elektoral.
03:34Cara untuk mengalahkan Prabowo satu-satunya adalah pisahkan Prabowo dengan Jokowi.
03:39Oke.
03:39Nah, ini semua langkah-langkah menuju ke arah itu.
03:43Argumentasi Bang Lukas tadi sangat prototipe itu.
03:46Untuk bagaimana, oh ini menembak Pak Prabowo, kata Pak Jokowi jelas-jelas menembak.
03:51Terus Anda bisa menghilangkan kalimat Jokowi yang menyatakan
03:55untuk mengalihkan isu-isu besar apa itu?
03:57Kepentingan Prabowo Gibran ini adalah dua priode.
04:01Kalau kepentingannya dua priode.
04:04Satu-satunya cara menciptakan dua priode adalah
04:08kalau terjadi stabilitas politik, kondusivitas politik
04:14untuk astacita bisa terlaksana dengan baik.
04:17Kalau terjadi kekiseruan politik,
04:19astacita pasti berantakan dan itulah tujuan dari argumen-argumen itu.
04:23Saya sudah liar banget ini Bang.
04:24Monggo!
04:25Jadi, ini saya mau terusin itu tadi tuh.
04:28Karena menurut saya, saya masih tetap bukan beban, tapi jalan keluar.
04:32Kenapa saya katakan demikian?
04:34Ini juga nggak pas juga.
04:36Jadi kalau menurut saya, Jokowi Pak Prabowo itu,
04:40kalau per hari ini, memang udah nggak bisa diharapkan bersama lagi.
04:44Mereka akan bersama pada waktunya.
04:47Kenapa Pak Jokowi mengumumkan dia anggota PSI di Jawa Barat?
04:51Karena itu kandang Prabowo.
04:54Dia sedang bicara ke Pak Prabowo.
04:56Dua kali loh Jokowi kalah di Jawa Barat oleh Pak Prabowo.
04:59Jadi, sekarang ini, mereka semua bicara tentang jalan keluar.
05:03Dan jangan-jangan, legitimasi pas KMK ini adalah jalan keluar untuk Jokowi,
05:09berpisah dengan Pak Prabowo.
05:11Dan bisa saja, ini jalan keluar buat Pak Prabowo,
05:14berpisah dengan Pak Jokowi.
05:16Jadi menurut saya...
05:16Tapi kata Bang David, barusan, tidak mungkin menang,
05:19suaranya akan turun, kalau tidak berdampingan dengan Gibran.
05:23Itu kan kata Bang David.
05:24Kata Bang David.
05:25Beda.
05:26Bulu Pak Jokowi presiden.
05:29Sekarang presidennya Pak Prabowo.
05:31Bapak.
05:31Gitu.
05:33Bapak.
05:34Argumentasi Bang David tadi adalah prototipe ya,
05:38dari pencinta Jokowi.
05:40Oh iya, yes.
05:41Yang berharap pada dasarnya,
05:43Prabowo tidak tahu bahwa Presiden Jokowi sedang berselancar
05:48di tengah pemerintahannya.
05:50Presiden Prabowo sadar betul,
05:52semua ingin merebut elektabilitas.
05:55Jadi, Presiden Pak Jokowi,
05:58Mas Wapres Gibran,
05:59sedang menggunakan
06:01apa yang disebut sebagai
06:03bersandar di bawah pondrindang.
06:05Berlindung terhadap proses hukum yang dialami
06:09sambil berselancar
06:11merebut ruang-ruang elektabilitas yang ada.
06:15PSI sedang diperkuat
06:17dengan modal yang sangat besar
06:18untuk kemudian mencuri kemenangan menuju 2029.
06:22Pak Presiden mungkin sadar itu
06:24dan mungkin juga melihat bahwa kecurangan ini tidak dibiarkan.
06:28Kalau kemudian dibiarkan,
06:30bukan tidak mungkin akan ada orang yang menelikung di 2029
06:34yang potensial mengalahkan Pak Prabowo.
06:37Juga ada argumentasi seperti itu.
06:39Lepas dari berbagai argumentasi,
06:42persoalan besarnya adalah
06:43apakah hukum kepemiluan kita dihormati atau tidak.
06:47Siapa yang berbuat curang, bermain curang,
06:49apakah diperbolehkan atau tidak,
06:51itu saja yang perlu dibuktikan.
06:53Kalau memang jalurnya ada di DPR,
06:56mari kita gunakan DPR dan DPR
06:58mau kemudian bertindak
07:00sebagaimana dikendaki oleh konstitusi.
07:03Oke, baik.
07:04Jadi jalan keluar,
07:06kata Bang Henry barusan Mas Ade,
07:09untuk keduanya,
07:11Anda melihat itu memang sudah
07:12pada posisi berpisah jalan dari sekarang?
07:15Wah, gimana Bang?
07:17Saya jadi takut.
07:20Jadi gini,
07:21saya itu termasuk orang yang setuju
07:23baik dengan Pak David maupun Bang Henry.
07:26Jadi gini,
07:27menurut saya sebetulnya
07:28semula memang diharapkan
07:31ini bisa bertahan sampai 2029.
07:35Prabowo dan Gibran.
07:37Tapi memang upaya untuk memecah ini
07:40terus menerus terjadi
07:41sejak awal pemerintah Prabowo terbentuk,
07:45berdiri, berjalan.
07:46Dan sekarang kelihatannya memang menjadi,
07:49semakin menjadi-jadi
07:51dan ketemu aja isunya.
07:53Sekarang ketemu isunya adalah soal
07:56Gibrania.
07:56Itu dihajar terus.
07:58Harapannya adalah
07:59akhirnya Pak Prabowo akan mengatakan,
08:01ya saya dengan ikhlas,
08:04dengan besar hati
08:09mengizinkan ini terjadi perpecahan ini.
08:12Tapi itu sebenarnya belum terjadi ya.
08:13Pak Prabowo masih menimbang-nimbang.
08:16Partai Gerindra-nya masih menimbang-nimbang.
08:19Walaupun sudah menyatakan bahwa
08:212029 nanti,
08:23nggak bareng lagi.
08:24Itu sudah di...
08:25itu menurut Bang Adek,
08:28Mas Gibran,
08:29berani nggak 2029 maju lawan Pak Prabowo?
08:31Berani.
08:32Bener nih?
08:33Iya lah.
08:34Bawa rame, silahkan diteruskan.
08:35Saya mau bilang bahwa
08:37sebetulnya semula adalah
08:38rencananya 2029-2034
08:41terus bertahan kan.
08:42Tapi kalau ini terus digerus,
08:45sebetulnya tadi saya ulang ya,
08:47bagi Gibran dan bagi Pak Jokowi,
08:50sebetulnya nothing tulus juga lah
08:52kalau harus berpisah dengan Pak Prabowo.
08:54Oke.
08:55Karena mereka itu merasa bahwa
08:57sebetulnya yang minta adalah
08:58Pak Prabowo yang minta ya.
09:01Kita udah mengiyakan nih.
09:02Tapi kalau sekarang
09:03ada partainya yang nggak setuju,
09:06ada orang-orang di sekitar Prabowo yang nggak setuju,
09:09ada orang-orang yang terus menyebarkan fitnah,
09:11hoax dan segala macam,
09:12kan harganya jadi mahal.
09:14Oke, baik.
09:15Coba saya ke Mas Sulfikar.
09:17Jadi sebenarnya atas setelah
09:18pasca putusan MK ini,
09:20ini sudah mengindikasikan
09:21bahwa Gibran dan Prabowo
09:23bakal pisah jalan.
09:24Sebenarnya kita tidak perlu,
09:27siapapun tidak perlu
09:28mengupayakan perpecahan
09:30antara Jokowi dan Prabowo.
09:31Karena kalau kita belajar dari
09:33sejarah politik di Indonesia,
09:35yang namanya sistem kekuasaan itu
09:38tidak pernah ada dua monster.
09:39Cuma ada satu monster.
09:42Dan ketika dua monster ini memiliki
09:45cara pandang yang berbeda,
09:46kepentingan yang berbeda,
09:48hanya masalah waktu dia akan retak.
09:50Kita tahu ketika...
09:51Kepentingan berbeda?
09:52Jadi antara Gibran dan juga Prabowo
09:53sampai sekarang berbeda.
09:54Coba kita lihat,
09:55misalnya cara Prabowo dan Jokowi
09:58melihat proses pembangunan,
10:00cara Prabowo dan Jokowi
10:01melihat bagaimana mengelola pemerintahan,
10:03cara Prabowo dan Jokowi
10:05bagaimana memilih prioritas
10:08proyek-proyek yang harus diambil,
10:10itu sangat berbeda.
10:12Ada yang satu mau membangun KN
10:14dengan menghabiskan Rp150 triliun,
10:16ada yang satunya lagi
10:18mau menghabiskan Rp200 triliun
10:19setiap tahun untuk memakan gratis.
10:21Ini dua hal yang sangat berbeda.
10:23Secara epistemologis juga
10:24saling penuh dengan konflik.
10:28Retak internal.
10:28Betul, betul sekali.
10:29Jadi kita bisa melihat bahwa sebenarnya
10:33dari awal Prabowo itu enggan
10:36untuk melanjutkan apa yang sudah dilakukan
10:38oleh Jokowi.
10:40Cuma kesalahan besar dari Prabowo adalah
10:43ketika dia pertama kali memerintah,
10:45dia tidak pernah mengakui
10:46bahwa dia menerima,
10:49mewarisi begitu banyak masalah dari Jokowi.
10:51Yang sekarang sudah mulai melihat itu
10:54dan akhirnya ya apa yang terjadi sekarang.
10:56Kita lanjutkan lagi dialognya saudara
10:57tetap bersama kami di Bola Liar.

Dianjurkan