00:01Ya, Pak Lukas, Pak Jokowi mengatakan terkait kasus ini ada operasi politik dan penumpang gelap.
00:07Apakah ini bentuk perubahan dari awalnya overconfidence sekarang bergeser jadi offensive karena sudah mulai kewalahan?
00:14Ya, jadi kalau yang menganalisis tuduhan Jokowi itu ke SBI itu terlalu lugu.
00:21Hanya karena otak atik gato, oh ini Roy Surya, oh itu Deni, bekas Partai Demokrat.
00:25Nah, yang benar ya, menurut saya sebagai komunikator politik, orang media ya, ini ditujukan ke Presiden Prabowo operasi politik ini.
00:36Karena ada kalimat di belakangnya, ini operasi ini untuk mempersoalkan ijazah saya dan Jokowi dan Gibran, itu adalah untuk mengalihkan
00:48isu pada persoalan-persoalan besar.
00:51Anda tahu persoalan besar Indonesia? Kebakaran hutan, antri bensin, MBG, KDMP, dan seluruh program Presiden Prabowo yang memang sialnya lagi
01:02ada problem.
01:03Nah, Jokowi kenapa ngomong itu? Itu adalah kalau kita memendalami psikoanalisis Sigmund Freud, itu adalah curahan bawah sadar.
01:13Dia ingin menuduh orang, tapi nggak berani, tapi dia keceplosan, oh ini untuk mengalihkan persoalan itu.
01:22Jadi ada film kalau pernah nonton, Walk the Dog, The Tail That Walk the Dog, ekor yang menghibas anjing.
01:31Jadi, Presiden-Presiden yang bermasalah di negara-negara banana, kapiran, itu selalu membuat isu untuk mengalihkan problem real.
01:41Nah, itu tuduhannya Jokowi itu kepada Presiden Prabowo.
01:46Karena dia tahu dia mulai disingkirkan orang-orangnya di kabinet.
01:53Kemudian, Gibran juga mulai dijauhi.
01:58Kan ada satu eksiden tuh, Gibran tidak duduk bareng dia.
02:02Sehabis, Gibran malah mempersoalkan MBG itu, dan mengatakan, jangan dikonsumsi MBG.
02:07Nah, seperti yang saya singgung tadi, ini jadi old couple sekarang nih.
02:11Pasangan yang aneh, strange bad fellow.
02:15Jadi nggak pernah bisa sejalan, nggak pernah seirama, nggak pernah harmonis.
02:19Dan serep yang membebani, jadi ya akhirnya tercetuslah ucapan itu.
02:25Jadi, kenapa pesannya disampaikan secara terbuka Bang Lukas?
02:28Ya, karena sudah hopeless.
02:30Sudah hopeless?
02:30Dengan orang-orangnya disingkirkan.
02:32Oke, baik.
02:32Jadi pesan dari Pak Jokowi itu kan untuk Pak Prabowo, benar nggak?
02:38Sebentar, sebentar.
02:39Sebenarnya itu sindiran.
02:40Jadi, ya argumen Bang Lukas ini sangat prototipe dari kelompok yang memang sakit hati.
02:49Nah, saya melengkapi tadi Bang Ade, Bang Hensat ya, soal judul ini.
02:56Siapa yang terbeban lah di situ?
03:00Jadi beban siapa?
03:00Yang terbeban ini memang kelompok di luar koalisi.
03:05Kelompok yang menciptakan kekiseruan politik.
03:09Pelakunya kan itu-itu aja.
03:11Dan kita bisa mengidentifikasi siapa endingnya ini semua.
03:14Nah gini, saya bilang dalam kontestasi Pilpres 2029 nanti,
03:21Jangan mimpi secara elektoral kelompok-kelompok lawan ini bisa mengalahkan Prabowo
03:28kalau Prabowo dan Jokowi masih solid.
03:31Jangan mimpi mengalahkan secara elektoral.
03:34Cara untuk mengalahkan Prabowo satu-satunya adalah pisahkan Prabowo dengan Jokowi.
03:39Oke.
03:39Nah, ini semua langkah-langkah menuju ke arah itu.
03:43Argumentasi Bang Lukas tadi sangat prototipe itu.
03:46Untuk bagaimana, oh ini menembak Pak Prabowo, kata Pak Jokowi jelas-jelas menembak.
03:51Terus Anda bisa menghilangkan kalimat Jokowi yang menyatakan
03:55untuk mengalihkan isu-isu besar apa itu?
03:57Kepentingan Prabowo Gibran ini adalah dua priode.
04:01Kalau kepentingannya dua priode.
04:04Satu-satunya cara menciptakan dua priode adalah
04:08kalau terjadi stabilitas politik, kondusivitas politik
04:14untuk astacita bisa terlaksana dengan baik.
04:17Kalau terjadi kekiseruan politik,
04:19astacita pasti berantakan dan itulah tujuan dari argumen-argumen itu.
04:23Saya sudah liar banget ini Bang.
04:24Monggo!
04:25Jadi, ini saya mau terusin itu tadi tuh.
04:28Karena menurut saya, saya masih tetap bukan beban, tapi jalan keluar.
04:32Kenapa saya katakan demikian?
04:34Ini juga nggak pas juga.
04:36Jadi kalau menurut saya, Jokowi Pak Prabowo itu,
04:40kalau per hari ini, memang udah nggak bisa diharapkan bersama lagi.
04:44Mereka akan bersama pada waktunya.
04:47Kenapa Pak Jokowi mengumumkan dia anggota PSI di Jawa Barat?
04:51Karena itu kandang Prabowo.
04:54Dia sedang bicara ke Pak Prabowo.
04:56Dua kali loh Jokowi kalah di Jawa Barat oleh Pak Prabowo.
04:59Jadi, sekarang ini, mereka semua bicara tentang jalan keluar.
05:03Dan jangan-jangan, legitimasi pas KMK ini adalah jalan keluar untuk Jokowi,
05:09berpisah dengan Pak Prabowo.
05:11Dan bisa saja, ini jalan keluar buat Pak Prabowo,
05:14berpisah dengan Pak Jokowi.
05:16Jadi menurut saya...
05:16Tapi kata Bang David, barusan, tidak mungkin menang,
05:19suaranya akan turun, kalau tidak berdampingan dengan Gibran.
05:23Itu kan kata Bang David.
05:24Kata Bang David.
05:25Beda.
05:26Bulu Pak Jokowi presiden.
05:29Sekarang presidennya Pak Prabowo.
05:31Bapak.
05:31Gitu.
05:33Bapak.
05:34Argumentasi Bang David tadi adalah prototipe ya,
05:38dari pencinta Jokowi.
05:40Oh iya, yes.
05:41Yang berharap pada dasarnya,
05:43Prabowo tidak tahu bahwa Presiden Jokowi sedang berselancar
05:48di tengah pemerintahannya.
05:50Presiden Prabowo sadar betul,
05:52semua ingin merebut elektabilitas.
05:55Jadi, Presiden Pak Jokowi,
05:58Mas Wapres Gibran,
05:59sedang menggunakan
06:01apa yang disebut sebagai
06:03bersandar di bawah pondrindang.
06:05Berlindung terhadap proses hukum yang dialami
06:09sambil berselancar
06:11merebut ruang-ruang elektabilitas yang ada.
06:15PSI sedang diperkuat
06:17dengan modal yang sangat besar
06:18untuk kemudian mencuri kemenangan menuju 2029.
06:22Pak Presiden mungkin sadar itu
06:24dan mungkin juga melihat bahwa kecurangan ini tidak dibiarkan.
06:28Kalau kemudian dibiarkan,
06:30bukan tidak mungkin akan ada orang yang menelikung di 2029
06:34yang potensial mengalahkan Pak Prabowo.
06:37Juga ada argumentasi seperti itu.
06:39Lepas dari berbagai argumentasi,
06:42persoalan besarnya adalah
06:43apakah hukum kepemiluan kita dihormati atau tidak.
06:47Siapa yang berbuat curang, bermain curang,
06:49apakah diperbolehkan atau tidak,
06:51itu saja yang perlu dibuktikan.
06:53Kalau memang jalurnya ada di DPR,
06:56mari kita gunakan DPR dan DPR
06:58mau kemudian bertindak
07:00sebagaimana dikendaki oleh konstitusi.
07:03Oke, baik.
07:04Jadi jalan keluar,
07:06kata Bang Henry barusan Mas Ade,
07:09untuk keduanya,
07:11Anda melihat itu memang sudah
07:12pada posisi berpisah jalan dari sekarang?
07:15Wah, gimana Bang?
07:17Saya jadi takut.
07:20Jadi gini,
07:21saya itu termasuk orang yang setuju
07:23baik dengan Pak David maupun Bang Henry.
07:26Jadi gini,
07:27menurut saya sebetulnya
07:28semula memang diharapkan
07:31ini bisa bertahan sampai 2029.
07:35Prabowo dan Gibran.
07:37Tapi memang upaya untuk memecah ini
07:40terus menerus terjadi
07:41sejak awal pemerintah Prabowo terbentuk,
07:45berdiri, berjalan.
07:46Dan sekarang kelihatannya memang menjadi,
07:49semakin menjadi-jadi
07:51dan ketemu aja isunya.
07:53Sekarang ketemu isunya adalah soal
07:56Gibrania.
07:56Itu dihajar terus.
07:58Harapannya adalah
07:59akhirnya Pak Prabowo akan mengatakan,
08:01ya saya dengan ikhlas,
08:04dengan besar hati
08:09mengizinkan ini terjadi perpecahan ini.
08:12Tapi itu sebenarnya belum terjadi ya.
08:13Pak Prabowo masih menimbang-nimbang.
08:16Partai Gerindra-nya masih menimbang-nimbang.
08:19Walaupun sudah menyatakan bahwa
08:212029 nanti,
08:23nggak bareng lagi.
08:24Itu sudah di...
08:25itu menurut Bang Adek,
08:28Mas Gibran,
08:29berani nggak 2029 maju lawan Pak Prabowo?
08:31Berani.
08:32Bener nih?
08:33Iya lah.
08:34Bawa rame, silahkan diteruskan.
08:35Saya mau bilang bahwa
08:37sebetulnya semula adalah
08:38rencananya 2029-2034
08:41terus bertahan kan.
08:42Tapi kalau ini terus digerus,
08:45sebetulnya tadi saya ulang ya,
08:47bagi Gibran dan bagi Pak Jokowi,
08:50sebetulnya nothing tulus juga lah
08:52kalau harus berpisah dengan Pak Prabowo.
08:54Oke.
08:55Karena mereka itu merasa bahwa
08:57sebetulnya yang minta adalah
08:58Pak Prabowo yang minta ya.
09:01Kita udah mengiyakan nih.
09:02Tapi kalau sekarang
09:03ada partainya yang nggak setuju,
09:06ada orang-orang di sekitar Prabowo yang nggak setuju,
09:09ada orang-orang yang terus menyebarkan fitnah,
09:11hoax dan segala macam,
09:12kan harganya jadi mahal.
09:14Oke, baik.
09:15Coba saya ke Mas Sulfikar.
09:17Jadi sebenarnya atas setelah
09:18pasca putusan MK ini,
09:20ini sudah mengindikasikan
09:21bahwa Gibran dan Prabowo
09:23bakal pisah jalan.
09:24Sebenarnya kita tidak perlu,
09:27siapapun tidak perlu
09:28mengupayakan perpecahan
09:30antara Jokowi dan Prabowo.
09:31Karena kalau kita belajar dari
09:33sejarah politik di Indonesia,
09:35yang namanya sistem kekuasaan itu
09:38tidak pernah ada dua monster.
09:39Cuma ada satu monster.
09:42Dan ketika dua monster ini memiliki
09:45cara pandang yang berbeda,
09:46kepentingan yang berbeda,
09:48hanya masalah waktu dia akan retak.
09:50Kita tahu ketika...
09:51Kepentingan berbeda?
09:52Jadi antara Gibran dan juga Prabowo
09:53sampai sekarang berbeda.
09:54Coba kita lihat,
09:55misalnya cara Prabowo dan Jokowi
09:58melihat proses pembangunan,
10:00cara Prabowo dan Jokowi
10:01melihat bagaimana mengelola pemerintahan,
10:03cara Prabowo dan Jokowi
10:05bagaimana memilih prioritas
10:08proyek-proyek yang harus diambil,
10:10itu sangat berbeda.
10:12Ada yang satu mau membangun KN
10:14dengan menghabiskan Rp150 triliun,
10:16ada yang satunya lagi
10:18mau menghabiskan Rp200 triliun
10:19setiap tahun untuk memakan gratis.
10:21Ini dua hal yang sangat berbeda.
10:23Secara epistemologis juga
10:24saling penuh dengan konflik.
10:28Retak internal.
10:28Betul, betul sekali.
10:29Jadi kita bisa melihat bahwa sebenarnya
10:33dari awal Prabowo itu enggan
10:36untuk melanjutkan apa yang sudah dilakukan
10:38oleh Jokowi.
10:40Cuma kesalahan besar dari Prabowo adalah
10:43ketika dia pertama kali memerintah,
10:45dia tidak pernah mengakui
10:46bahwa dia menerima,
10:49mewarisi begitu banyak masalah dari Jokowi.
10:51Yang sekarang sudah mulai melihat itu
10:54dan akhirnya ya apa yang terjadi sekarang.
10:56Kita lanjutkan lagi dialognya saudara
10:57tetap bersama kami di Bola Liar.