00:00Sekarang kita masuk ke elektabilitas Presiden Prabowo, seberapa besar efek dari penurunan approval rating itu dan juga kondisi-kondisi makro
00:17yang dinilai oleh masyarakat.
00:18Nah pertama saya jelaskan terlebih dahulu bahwa populasi survei adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilu,
00:33yaitu 17 tahun ke atas atau sudah menikah.
00:37Dalam survei, dibagi populasi itu menjadi dua subpopulasi, yang pertama adalah mereka yang punya handphone dan yang kedua yang tidak
00:48punya handphone.
00:49Dari subpopulasi yang punya handphone, kita melakukan survei secara lewat telepon dengan metode double sampling, sampelnya ada 1013 orang.
01:05Kemudian pada subpopulasi yang tidak punya handphone, mereka tentu tidak bisa diwawancara lewat telepon.
01:13Kita lakukan dengan wawancara secara tetap muka, jumlahnya 200 responden.
01:21Kenapa kita menggunakan dua mode ini?
01:24Karena di populasi ada sekitar 80% yang punya handphone, dan untuk efisiensi kita melakukan survei telepon terhadap mereka yang
01:37punya telepon,
01:38dan sisanya kita wawancara secara tetap muka, sehingga total sampelnya ada 1213 responden.
01:46Dan margin of error survey diperkirakan plus minus 2,9% pada 3,9%.
01:54Jadi artinya kalau nanti kita membahas temuan survei, selisih antara persentase yang satu, kategori yang satu dengan yang lain,
02:06itu diperlukan selisih lebih dari 5,8% untuk menyimpulkan bahwa ada perbedaan misalnya elektabilitas antara toko yang satu dengan
02:18yang lain.
02:20Selanjutnya, ini tentang flowchart penarikan sampel dalam survei telepon yang disebut double sampling,
02:28dan ini flowchart penarikan sampel untuk populasi yang tidak punya handphone, atau multistage random sampling.
02:37Dan tidak lupa saya sampaikan bahwa kita melakukan validasi sampel dengan membandingkan profil demografi sampel terhadap populasi,
02:50dari sisi wilayah, gender, desa-kota, umur, pendidikan, etnis, dan agama.
02:57Dan kita melakukan apa yang dinamakan pembobotan atau kalibrasi,
03:05sedemikian sehingga sampel yang kita analisis ini memiliki profil yang dekat dengan populasi dari sisi demografi.
03:17Seperti apa profil sampel yang kita analisis dari sisi wilayah, provinsi,
03:24itu kita sudah cek, kita bandingkan, sangat proporsional,
03:33wilayah yang penduduknya banyak atau pemilihnya besar,
03:36seperti Jawa Barat, sampelnya juga besar, begitu.
03:40Kemudian dari sisi penggunaan handphone juga kita sudah proporsionalkan lewat kalibrasi.
03:50Selain itu juga dari sisi gender, desa-kota, umur, agama, etnis, pendidikan,
03:57terlihat bahwa profil sampel, demografi sampel ini sangat dekat dengan populasi.
04:06Oleh karena itu kita yakin temuan kita bisa dijeneralisasi ke populasi pemilih yang besar.
04:17Nah, kita masuk Mas Yiriman pada temuan, temuan survei ini tentang elektabilitas,
04:27elektabilitas calon-calon presiden, terutama tentang kekuatan elektoral presiden Prabowo sebagai pertahanan.
04:37Dalam survei kita menanyakan kepada responden pertanyaan semi terbuka.
04:46Semi terbuka artinya dalam wawancara, surveyor atau enumerator itu memberikan daftar banyak nama,
04:57di sini ada totalnya 24 nama, nama-nama tokoh, nama-nama calon, nama-nama politisi
05:07yang potensial lah, potensial mungkin saja maju sebagai calon presiden
05:14dan memberikan kesempatan kepada masyarakat responden untuk menyebut nama lain.
05:24Jika yang ingin dipilih tidak ada di daftar.
05:29Dari pertanyaan semi terbuka tentang siapa yang akan ibu atau bapak pilih sebagai presiden
05:40diantara nama-nama berikut, kita memperoleh respon ada 35,5 persen yang memilih Deddy Mulyadi,
05:51itu yang paling tinggi ya.
05:55Setelah Deddy Mulyadi, ada Anis Baswedan, 10,3 persen.
06:02Jadi Deddy dengan Anis itu signifikan bedanya ya, 25 persen selisihnya.
06:10Kemudian setelah itu ada Prabowo Subianto, 9,8 persen, jadi ini imbang ya.
06:17Dari sisi, dari pertanyaan semi terbuka ini, Anis dengan Prabowo imbang,
06:24juga diimbangi oleh Gibran ya.
06:28Sekarang posisinya wakil presiden 8,4 persen.
06:31Jadi tiga tokoh itu selisihnya sangat kecil.
06:36Bisa dikatakan Gibran dan Anis mengimbangi Prabowo.
06:42Oke ya.
06:43Tetapi kalau Deddy memang dia di atas ya, signifikan, unggul dalam simulasi semi terbuka.
06:52Selanjutnya juga ada sejumlah nama yang signifikan ya, 5 persen untuk Kurubaya, Yudi.
07:00Nah ini menteri yang sudah baru saja tidak menjabat ya, di reshuffle ya, dari keuangan.
07:07Kemudian Ganjar, Pranowo, 5 persen.
07:10Di bawah itu ada sejumlah tokoh-tokoh lain di bawah 3 persen ya.
07:18Nah ini, tapi masih ada sekitar 13,9 persen yang belum tahu ya, belum punya pilihannya.
07:30Jadi kalau kita lihat ini sebenarnya menarik ya bahwa walaupun disodorkan banyak nama,
07:3724 nama dan kemudian publik juga bisa memasukkan nama lain,
07:42terkonsentrasi sebenarnya pilihan-pilihan publik itu pada ya beberapa nama saja.
07:45Kalau saya lihat ini di atas 2 persen itu cuma ada tujuh nama.
07:50Benar, jadi tujuh nama yang mendapat dukungan yang signifikan ya.
07:56Yang juga, kalaupun dikasih opsi lainnya,
08:00ternyata ya nggak banyak juga yang menyebut nama-nama lain gitu.
08:05Jadi bisa jadi publik, apa namanya,
08:10pilihannya ya tidak jauh berbeda dari apa yang kita berikan,
08:15daftar nama.
08:17Di samping itu, yang juga penting di sini,
08:23ternyata ketua-ketua partai juga punya PR ya.
08:27Kita tahu kan untuk mencalonkan presiden itu harus lewat dukungan partai politik,
08:33dicalonkan oleh partai.
08:34Tetapi Deddy, ya dia sebagai kader partai saja, bukan ketua partai.
08:39Anies juga kan bukan ketua partai.
08:42Ketua partai Prabowo, Gibran juga bukan.
08:45Ini PR bagi ketua-ketua partai ya,
08:48kalau mereka mau maju punya PR yang besar untuk meningkatkan dukungan
08:53dibanding mereka yang bukan ketua partai.
08:55Nah, masa ini Man, ini kita melakukan survei semi terbuka ini
09:01sudah beberapa kali, sehingga kita bisa lihat,
09:05kita bandingkan temuan survei sekarang ini dengan sebelumnya.
09:11Sebelumnya, kita dalam rangkaian survei nasional,
09:20kita pernah melakukan pada tahun lalu, November 2025,
09:26kemudian ada Februari-Maret, Juli, dan Oktober.
09:30Jadi empat titik, empat titik survei yang bisa kita lihat
09:34perbedaan dan dukungan pada masing-masing tokoh.
09:40Pada tahun lalu, November tahun lalu, ya setahun yang lalu,
09:45Pak Prabowo masih berada di atas.
09:4834,9 persen meninggalkan nama-nama lain, ada Deddy, 19,7,
09:58kan jaraknya lebih dari 10 persen tuh, lebih dari 15, sekitar 15 persen.
10:04Apalagi yang lain, Anies, Gibran, masih di bawah gitu ya.
10:08Nah, tetapi kita lihat setelah itu, Februari-Maret,
10:14Prabowo sudah mulai menurun, atau stabil masih, tidak terlalu jauh beda,
10:19yang sangat besar itu merosot dari Maret ke Juli.
10:24Itu dari 33 ke 14,5 persen.
10:30Hanya sekitar empat bulan.
10:33Empat bulan, turun hampir 20 persen.
10:38Dan setelah itu, dari Juli ke Oktober, ya sekitar tiga bulan kemudian,
10:45belum ada ribau.
10:47Kekuatan elektoral Pak Prabowo ternyata semakin melemah.
10:52Nah, ini konsisten, ya, dengan semakin merosotnya approval rating
10:59atau tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya yang sudah kita rilis kemarin.
11:05Kira-kira itu yang bisa kita tangkap, ya, dari grafik tren ini.