00:0410 bulan sudah bencana ekologis dasyat menyapu tanah Sumatera.
00:10Pemulihan masih jauh dari harapan.
00:16Duka masih menyelimuti hati situa Gibson dan keluarga.
00:21Warga hutan nabolon Tapanuli Tengah.
00:23Longsor dan banjir menghanyutkan putranya.
00:27Banjir memang acap melanda desa.
00:30Namun situa bercerita tidak pernah sehebat November silam.
00:35Yang satu itulah yang korban, yang laki-laki, yang anak yang nomor tiga.
00:40Sampai sekarang belum ketemu casatnya.
00:43Tapi sebelum-sebelunya seringnya banjir di sini.
00:47Tapi nggak sampai segini kayak yang kejadian 25 November ini.
00:52Perasaan orang ah paling sampai ya apa kan gitu.
00:55Istilahnya kalau sampai pinggangnya di rumah bisa nyawa, lari kayak gitu lah.
01:00Situa menyebut sebagian warga mengambil hasil kayu untuk mengisi perut di kaladuri yang tak berbuah dan harga karet anjrok.
01:09Hutana Bolon berada dekat dengan lanskap ekosistem Batang Toru.
01:13Salah satu daerah terdampak bencana terparah tahun lalu.
01:18Mata pencarian terutama di sini karet.
01:20Harga karet waktu itu anjrok cuma Rp4.000-Rp5.000 sekilo.
01:25Makanya orang itu sebenarnya kerjalah orang itu ngambil kayu.
01:29Istilahnya ada yang melangsirnya itu.
01:32Istilahnya kalau ada program-program dari pemerintah kita untuk membantu masyarakat di sini
01:37yang belum mendapatkan itu kalau bisa lebih cepat lebih bagus.
01:48Di Tapanuli Tengah, banjir bandang dan longsor meratakan kebun warga.
01:53Mereka yang menggantungkan hidup dari kesuburan tanah dan ranung buah,
01:57kini kehilangan mata pencaharian.
02:00Kita di sini waktu itu menanam karet, durian, ada juga cempeda, rembutan, bau-buahan.
02:11Karena mayoritas di kampung ini atau di keluarga Bunda Lumban, Kecamatan Tukai ini itu berkebun.
02:18Pada waktu itu memang kita mau panen, panen padi, bau-buahan.
02:25Jadi karena bencana itu, ya habis semua, mati.
02:28Belum waktunya jatuh, belum waktunya panen, pas mau panen lah.
02:32Jadi mati semua.
02:34Karena banjir itu, kena lumpur, macam lah namanya juga banjir.
02:39Melundungan kayu.
02:40Berarti pemulihan yang diharapkan ke pemerintah juga tidak hanya membuat mungkin rumah,
02:44mengembalikan tempat tinggal, tapi juga kembali merestorasi lingkungan, hutan.
02:49Iya, betul-betul sekali, mbak.
02:51Itu bahwa itu semua kan kayu.
02:52Lura Bona Lumba, Tapanuli Tenggah Henderson Sitompul mengatakan,
02:57sebagian besar lahan pertanian warganya tertimbun sedimen pasir
03:01dan diduga berasal dari hutan batang toru.
03:05Daerah kita ini kan berbatasan dengan desa-desa yang lain,
03:10di mana pegunungannya itu, bu, itu pegunungannya itu kan itu daerah tempat-tempat hutan lindung lah,
03:15di atas tempat habitatnya para mungkin hewan-hewan yang dilindungi, termasuk orang hutan ya.
03:22Kemungkinan ekosistem di atas pun bisa rusak, bisa rusak, dan kemungkinan besar itu ya nanti akan berimbas kepada kita juga.
03:32Situasi ekosistem hutan yang sudah rusak sekarang.
03:38Menjur bandang dan longsor akhir tahun lalu juga memutus aliran sumber air bersih warga Bona Lumba.
03:47Menyusuri hutan menuju sumber air terdampak, saya ditemani Kristian Natali,
03:53manajer program kehutanan Kehati.
03:55Halo semuanya Sustenisia, hari ini aku enggak sendirian nih di teman-teman Mas Tian.
04:00Iya, saya sama OU, orang hutan.
04:04Kita hari ini agenanya apa nih Mas, kita sambil jalan?
04:07Kita jalan-jalan yang pasti.
04:09Mengikuti pipa air, kami timba di bendungan air Bantuan Revitalisasi Kehati, OIC, dan CSR perusahaan.
04:18Bantuan juga disalurkan lewat pipa nifasi ke rumah-rumah warga terdampak bencana.
04:23Salah satunya air ini mbak, jadi kan seperti kita tahu kalau bencana itu kan sulit air ya, air bersih.
04:31Dan juga untuk air minum.
04:32Lurah dan masyarakat di sini sama USLYC, kita bikin bendungan memperbaiki sebenarnya.
04:40Jadi sebelumnya memang sudah ada, terus diperbaiki lagi.
04:44Karena pasca bencana banjir bandang itu, makin banyak sedimen-sedimen pasir itu harus rutin dibersihkan.
04:52Sesuai nama kami ya, Keanekaragaman Hayati, pengennya ya masyarakat hidup harmonis bersama Keanekaragaman Hayati.
04:59Ekosistem tempat mereka tinggal, spesies-spesies selain kita manusia, dan juga flora fauna yang ada di sini.
05:10Pasca tragedi November 2025, warga menghitung setidaknya ada 10 kali banjir melanda.
05:18Pada Juli 2026, banjir lebih dari 1 meter menerjang.
05:23Bahkan bantuan MCK untuk warga yang hampir rampung pun tumbang di sapu banjir dan tidak bisa dipakai.
05:31Jadi dengan adanya MCK ini, kami merasa sangat terbantu.
05:36Tapi apa boleh buat setelah datang banjir tanggal 18 Juli 2026, di bulan yang lewat,
05:45yang seugianya sudah bisa kian digunakan MCK ini, jadi seperti inilah kondisinya.
05:51Jadi tersapu banjir.
05:53Jadi sampai saat ini, untuk kondisi MCK, kami tadi cerita-cerita bahwa kita membutuhkan alat berat supaya mengkorek di depan.
06:05Masih berfokus pada pembangunan infrastruktur, pemerintah dinilai belum menyentuh akar masalah,
06:11yaitu mengembalikan tutupan hutan Batang Toru.
06:15Memang pemerintah masih fokus di infrastruktur penyelamatan atau penanggulangan banjirnya.
06:23Sumber masalah sebenarnya kan dihulu.
06:27Hutan sudah babak belur, sudah hancur, hujan tidak ada lagi yang menahan airnya di hulu sana.
06:36Maka untuk itu, harus kita tangani longsoran itu dengan menanam tanaman yang bisa tumbuh cepat dan bisa rimbun.
06:46Itu target kita dengan pemerintah kaupan yang kita beruntung dalam waktu dekat.
06:55Banjir bandang dan longsor tahun lalu seharusnya menjadi tamparan keras,
06:58serta alarm bagi kita semua bahwa kerusakan alam sudah mencapai titik didiknya.
07:03Dan kita harus bergerak sekarang sebelum terlambat.
07:06Terima kasih telah menyaksikan Sustanesia, merawat hari ini, menyelamatkan hari esok.
07:10Ikuti terus Sustanesia episode berikutnya hanya di Kompas TV, independen terpercaya.
07:15Namun setiap hari.