Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Bencana ekologis yang melanda Sumatera pada November 2025 meninggalkan luka mendalam bagi warga Tapanuli Tengah.

Banjir bandang dan longsor tidak hanya menghanyutkan rumah serta lahan pertanian, tetapi juga memutus mata pencaharian warga dan merusak lingkungan di sekitar Ekosistem Batang Toru.

Di Hutana Bolon, warga kehilangan kebun karet, durian, rambutan, hingga tanaman pangan akibat tertimbun lumpur dan sedimen. Kerusakan hutan di wilayah hulu juga dikhawatirkan memperparah dampak banjir dan longsor yang kembali terjadi setelah bencana.

Pemulihan pun tidak cukup hanya dengan membangun kembali infrastruktur.

Restorasi hutan dan pemulihan ekosistem menjadi bagian penting untuk menjaga kehidupan masyarakat sekaligus keberlangsungan habitat satwa di Batang Toru.

Saksikan #Sustenesia episode "Selamatkan Orang Utan Tapanuli", hanya di KompasTV!

Sahabat KompasTV, yuk gabung Membership dan dapatkan akses ke konten eksklusif! Klik tombol Join di sini: https://bit.ly/JoinMembershipKompasTV

Jangan lewatkan live streaming KompasTV 24 jam non stop untuk mendapatkan berita-berita terkini, terlengkap, serta laporan langsung dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca juga: Selamatkan Orang Utan Tapanuli

Subscribe channel YouTube KompasTV dan aktifkan lonceng supaya kamu tidak ketinggalan video terbaru dari KompasTV.

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/695778/cerita-warga-pascabencana-banjir-longsor-sumatera-kehilangan-kebun-hingga-sumber-air-sustenesia
Transkrip
00:0410 bulan sudah bencana ekologis dasyat menyapu tanah Sumatera.
00:10Pemulihan masih jauh dari harapan.
00:16Duka masih menyelimuti hati situa Gibson dan keluarga.
00:21Warga hutan nabolon Tapanuli Tengah.
00:23Longsor dan banjir menghanyutkan putranya.
00:27Banjir memang acap melanda desa.
00:30Namun situa bercerita tidak pernah sehebat November silam.
00:35Yang satu itulah yang korban, yang laki-laki, yang anak yang nomor tiga.
00:40Sampai sekarang belum ketemu casatnya.
00:43Tapi sebelum-sebelunya seringnya banjir di sini.
00:47Tapi nggak sampai segini kayak yang kejadian 25 November ini.
00:52Perasaan orang ah paling sampai ya apa kan gitu.
00:55Istilahnya kalau sampai pinggangnya di rumah bisa nyawa, lari kayak gitu lah.
01:00Situa menyebut sebagian warga mengambil hasil kayu untuk mengisi perut di kaladuri yang tak berbuah dan harga karet anjrok.
01:09Hutana Bolon berada dekat dengan lanskap ekosistem Batang Toru.
01:13Salah satu daerah terdampak bencana terparah tahun lalu.
01:18Mata pencarian terutama di sini karet.
01:20Harga karet waktu itu anjrok cuma Rp4.000-Rp5.000 sekilo.
01:25Makanya orang itu sebenarnya kerjalah orang itu ngambil kayu.
01:29Istilahnya ada yang melangsirnya itu.
01:32Istilahnya kalau ada program-program dari pemerintah kita untuk membantu masyarakat di sini
01:37yang belum mendapatkan itu kalau bisa lebih cepat lebih bagus.
01:48Di Tapanuli Tengah, banjir bandang dan longsor meratakan kebun warga.
01:53Mereka yang menggantungkan hidup dari kesuburan tanah dan ranung buah,
01:57kini kehilangan mata pencaharian.
02:00Kita di sini waktu itu menanam karet, durian, ada juga cempeda, rembutan, bau-buahan.
02:11Karena mayoritas di kampung ini atau di keluarga Bunda Lumban, Kecamatan Tukai ini itu berkebun.
02:18Pada waktu itu memang kita mau panen, panen padi, bau-buahan.
02:25Jadi karena bencana itu, ya habis semua, mati.
02:28Belum waktunya jatuh, belum waktunya panen, pas mau panen lah.
02:32Jadi mati semua.
02:34Karena banjir itu, kena lumpur, macam lah namanya juga banjir.
02:39Melundungan kayu.
02:40Berarti pemulihan yang diharapkan ke pemerintah juga tidak hanya membuat mungkin rumah,
02:44mengembalikan tempat tinggal, tapi juga kembali merestorasi lingkungan, hutan.
02:49Iya, betul-betul sekali, mbak.
02:51Itu bahwa itu semua kan kayu.
02:52Lura Bona Lumba, Tapanuli Tenggah Henderson Sitompul mengatakan,
02:57sebagian besar lahan pertanian warganya tertimbun sedimen pasir
03:01dan diduga berasal dari hutan batang toru.
03:05Daerah kita ini kan berbatasan dengan desa-desa yang lain,
03:10di mana pegunungannya itu, bu, itu pegunungannya itu kan itu daerah tempat-tempat hutan lindung lah,
03:15di atas tempat habitatnya para mungkin hewan-hewan yang dilindungi, termasuk orang hutan ya.
03:22Kemungkinan ekosistem di atas pun bisa rusak, bisa rusak, dan kemungkinan besar itu ya nanti akan berimbas kepada kita juga.
03:32Situasi ekosistem hutan yang sudah rusak sekarang.
03:38Menjur bandang dan longsor akhir tahun lalu juga memutus aliran sumber air bersih warga Bona Lumba.
03:47Menyusuri hutan menuju sumber air terdampak, saya ditemani Kristian Natali,
03:53manajer program kehutanan Kehati.
03:55Halo semuanya Sustenisia, hari ini aku enggak sendirian nih di teman-teman Mas Tian.
04:00Iya, saya sama OU, orang hutan.
04:04Kita hari ini agenanya apa nih Mas, kita sambil jalan?
04:07Kita jalan-jalan yang pasti.
04:09Mengikuti pipa air, kami timba di bendungan air Bantuan Revitalisasi Kehati, OIC, dan CSR perusahaan.
04:18Bantuan juga disalurkan lewat pipa nifasi ke rumah-rumah warga terdampak bencana.
04:23Salah satunya air ini mbak, jadi kan seperti kita tahu kalau bencana itu kan sulit air ya, air bersih.
04:31Dan juga untuk air minum.
04:32Lurah dan masyarakat di sini sama USLYC, kita bikin bendungan memperbaiki sebenarnya.
04:40Jadi sebelumnya memang sudah ada, terus diperbaiki lagi.
04:44Karena pasca bencana banjir bandang itu, makin banyak sedimen-sedimen pasir itu harus rutin dibersihkan.
04:52Sesuai nama kami ya, Keanekaragaman Hayati, pengennya ya masyarakat hidup harmonis bersama Keanekaragaman Hayati.
04:59Ekosistem tempat mereka tinggal, spesies-spesies selain kita manusia, dan juga flora fauna yang ada di sini.
05:10Pasca tragedi November 2025, warga menghitung setidaknya ada 10 kali banjir melanda.
05:18Pada Juli 2026, banjir lebih dari 1 meter menerjang.
05:23Bahkan bantuan MCK untuk warga yang hampir rampung pun tumbang di sapu banjir dan tidak bisa dipakai.
05:31Jadi dengan adanya MCK ini, kami merasa sangat terbantu.
05:36Tapi apa boleh buat setelah datang banjir tanggal 18 Juli 2026, di bulan yang lewat,
05:45yang seugianya sudah bisa kian digunakan MCK ini, jadi seperti inilah kondisinya.
05:51Jadi tersapu banjir.
05:53Jadi sampai saat ini, untuk kondisi MCK, kami tadi cerita-cerita bahwa kita membutuhkan alat berat supaya mengkorek di depan.
06:05Masih berfokus pada pembangunan infrastruktur, pemerintah dinilai belum menyentuh akar masalah,
06:11yaitu mengembalikan tutupan hutan Batang Toru.
06:15Memang pemerintah masih fokus di infrastruktur penyelamatan atau penanggulangan banjirnya.
06:23Sumber masalah sebenarnya kan dihulu.
06:27Hutan sudah babak belur, sudah hancur, hujan tidak ada lagi yang menahan airnya di hulu sana.
06:36Maka untuk itu, harus kita tangani longsoran itu dengan menanam tanaman yang bisa tumbuh cepat dan bisa rimbun.
06:46Itu target kita dengan pemerintah kaupan yang kita beruntung dalam waktu dekat.
06:55Banjir bandang dan longsor tahun lalu seharusnya menjadi tamparan keras,
06:58serta alarm bagi kita semua bahwa kerusakan alam sudah mencapai titik didiknya.
07:03Dan kita harus bergerak sekarang sebelum terlambat.
07:06Terima kasih telah menyaksikan Sustanesia, merawat hari ini, menyelamatkan hari esok.
07:10Ikuti terus Sustanesia episode berikutnya hanya di Kompas TV, independen terpercaya.
07:15Namun setiap hari.

Dianjurkan