KOMPAS.TV Kebakaran lahan gambut kembali membesar di Jalan Mahir Lingkar Luar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Asap pekat nyaris menutupi ruas jalan dan membuat jarak pandang pengendara semakin terbatas.
Kebakaran telah berlangsung selama dua hari terakhir. Petugas kesulitan memadamkan api karena kekurangan sumber air. Angin kencang juga membuat api membesar dan asap semakin tebal. Pemerintah Kota Palangka Raya berupaya menambah tangki air dan personel pengamanan. Warga diimbau menyalakan lampu kendaraan saat melintas untuk mencegah kecelakaan.
Di tengah kondisi tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Palangka Raya meminta pemerintah pusat berkantor di Kalimantan Tengah agar turut merasakan dampak kabut asap akibat karhutla yang telah dihirup warga selama lebih dari tiga bulan. Mahasiswa menilai kesehatan dan pendapatan warga terus menurun serta meminta pemerintah lebih cepat tanggap.
Bagaimana harapan mahasiswa ini dapat menjawab kebutuhan warga terdampak untuk kembali menghirup udara bersih dan terbebas dari ancaman api? Kita bahas bersama Presiden Mahasiswa BEM Universitas Palangka Raya, Jales Veva Jaya Mahe, dan Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Dicky Anindya.
#karhutla #kabutasap #palangkaraya #kalimantantengah #kebakaranhutan #kompastv
Baca Juga Mahasiswa Palangka Raya Tagih Janji Menhut Berkantor di Kalimantan saat Karhutla Meluas | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/regional/695763/mahasiswa-palangka-raya-tagih-janji-menhut-berkantor-di-kalimantan-saat-karhutla-meluas-sapa-malam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/695776/full-mahasiswa-tantang-pemerintah-berkantor-di-kalteng-bakom-ri-beri-tanggapan-sapa-malam
Kebakaran telah berlangsung selama dua hari terakhir. Petugas kesulitan memadamkan api karena kekurangan sumber air. Angin kencang juga membuat api membesar dan asap semakin tebal. Pemerintah Kota Palangka Raya berupaya menambah tangki air dan personel pengamanan. Warga diimbau menyalakan lampu kendaraan saat melintas untuk mencegah kecelakaan.
Di tengah kondisi tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Palangka Raya meminta pemerintah pusat berkantor di Kalimantan Tengah agar turut merasakan dampak kabut asap akibat karhutla yang telah dihirup warga selama lebih dari tiga bulan. Mahasiswa menilai kesehatan dan pendapatan warga terus menurun serta meminta pemerintah lebih cepat tanggap.
Bagaimana harapan mahasiswa ini dapat menjawab kebutuhan warga terdampak untuk kembali menghirup udara bersih dan terbebas dari ancaman api? Kita bahas bersama Presiden Mahasiswa BEM Universitas Palangka Raya, Jales Veva Jaya Mahe, dan Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Dicky Anindya.
#karhutla #kabutasap #palangkaraya #kalimantantengah #kebakaranhutan #kompastv
Baca Juga Mahasiswa Palangka Raya Tagih Janji Menhut Berkantor di Kalimantan saat Karhutla Meluas | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/regional/695763/mahasiswa-palangka-raya-tagih-janji-menhut-berkantor-di-kalimantan-saat-karhutla-meluas-sapa-malam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/695776/full-mahasiswa-tantang-pemerintah-berkantor-di-kalteng-bakom-ri-beri-tanggapan-sapa-malam
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Sudara kebakaran lahan gambut kembali membesar di area Jalan Mahir Lingkar Luar Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
00:06Asap pekat nyaris menutupi ruas jalan dan membuat jarak pandang semakin terbatas.
00:14Kebakaran lahan gambut di wilayah Jalan Mahir Lingkar Luar Palangkaraya telah berlangsung selama dua hari terakhir.
00:21Ketugas sulit memadamkan api dan membasahi lahan gambut karena kekurangan sumber air.
00:25Angin kencang juga membuat api semakin membesar hingga memicu asap yang tebal, menutupi badan jalan.
00:32Petugas pemerintah kota Palangkaraya terus berupaya menambah tanki air dan menambah personel pengamanan.
00:39Petugas juga mengimbah warga menyalakan lampu saat melintas di ruas jalan yang terselimuti asap pekat untuk mencegah kecelakaan.
00:52Badan eksekutif mahasiswa Universitas Palangkaraya meminta pemerintah pusat berkantor di Kalimantan Tengah.
00:59Mahasiswa ingin pemerintah pusat turut merasakan dampak kabut asap pekat karhutlah yang dihirup warga lebih dari tiga bulan terakhir.
01:08Dengan berkantor di Kalimantan, mahasiswa juga berharap pemerintah pusat ikut berjibaku memadamkan karhutlah yang semakin mengancam permukiman warga.
01:18Mahasiswa mengungkap kesehatan dan pendapatan warga terus menurun saat ini, sehingga pemerintah pusat perlu lebih cepat tanggap.
01:32Berarti kami di sini kurang merasakan dampak dari pemerintah pusat hadir di sini.
01:36Pemerintah provinsi turut hadir sampai dengan ke akar rumput.
01:40Dan kami pun mahasiswa seluruh elemen pun saling bau-membau.
01:43Namun itu masih belum cukup untuk penanganan karhutlah ini.
01:47Dan juga titik fokus daripada pemerintah pusat ini terutama menhut.
01:50Kami juga menagih yang dimana janji dia ketika ke Palangkaraya ingin berkantor.
01:58Nah, ingin berkantor di kota Palangkaraya itu yang kami harapkan supaya dia merasakan.
02:03Apalagi akan lebih bagus apabila seluruh pemerintah pusat itu coba berkantor di Kalimantan.
02:10Mahasiswa di Palangkaraya, Kalimantan Tengah menyuarakan harapan agar pemerintah pusat berkantor di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan.
02:19Salah satunya di Kalimantan.
02:20Bagaimana ini akan berarti menjawab kerinduan warga yang terdampak untuk kembali menghirup udara bersih dan bebas dari ancaman api.
02:28Kita bahas bersama tenaga ahli Badan Komunikasi Pemerintah Bakom Republik Indonesia Diki Anindia.
02:36Dan nanti juga akan bergabung Presiden Mahasiswa BEM Universitas Palangkaraya, Jelas Vefa Jemahe.
02:43Saya ke Bung Diki dulu. Selamat malam Bung Diki.
02:47Selamat malam Mas Randi. Assalamualaikum.
02:49Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
02:51Bung Diki, mungkin Anda juga dan jajaran istana sudah mendengar ya ada aspirasi dari mahasiswa di BEM Palangkaraya bahwa sebaiknya
03:00pemerintah pusat tadi berkantor di sana untuk benar-benar tahu kondisi di sana dan merasakan kabut asap yang dirasakan warga
03:06lebih dari 3 bulan.
03:07Nah kira-kira bagaimana Presiden ataupun jajaran pemerintah pusat merespons ini dan akankah ini bisa dipenuhi berkantor di sana?
03:16Ya, pertama-tama Mas Randi sebelum menjawab pertanyaan, izinkan saya menyampaikan satu hal dulu ya mewakili pemerintah bahwa kami tentu
03:24turut prihatin yang sedalam-dalamnya kepada seluruh warga yang terdampak kabut asap.
03:29Tentu ada saudara-saudara kita di Kalimantan, Sumatera dan wilayah-wilayah lain yang sudah berbulan-bulan hidup di tengah asap
03:36gitu ya.
03:37Mereka batuk dan sesak, aktivitasnya terganggu dan kami tentu memahami kalau warga, masyarakat itu lelah dan kecewa.
03:45Presiden sudah memerintahkan seluruh sumber daya untuk dikerahkan, pemerintah bekerja semaksimal mungkin untuk berusaha memadamkan api, melindungi warga dan memastikan
03:54karukla itu tidak terus berulang.
03:56Dan menjawab pertanyaan Mas Randi, kami memahami ya bahwa tuntutan agar pemerintah pusat itu berkantor di daerah itu adalah muncul
04:05karena masyarakat ingin pemerintah menyusun strategi berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
04:11Dan itu yang sudah dan terus dilakukan oleh pemerintah.
04:16Izinkan saya setidaknya ada tiga poin yang ingin saya sampaikan.
04:18Pertama, pemerintah tentu sudah turun langsung begitu ya atas arahan Bapak Presiden, Menteri Kehutanan, dan juga Kepala BNPB juga sudah
04:27sempat berkantor di Kalimantan, Kalimantan Tengah, lebih tepatnya pada bulan September lalu untuk mengawal langsung proses pemadaman dan modifikasi cuaca.
04:37Yang kedua, Mas Randi, keputusan strategi untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan itu juga diambil pemerintah pusat bersama dengan pemerintah
04:47daerah.
04:48Misalnya kita bisa lihat kemarin pada Senin 12 Oktober, Bapak Presiden itu memimpin rapat langsung, rapat terbatas yang dihadiri beberapa
04:57perwakilan pemerintah daerah.
04:58Misalnya Gubernur Sumatera Selatan dan juga Kalimantan Tengah, beserta misalnya Pangdam dan juga Kapolda, di mana mereka melaporkan langsung kondisi
05:07di lapangan.
05:08Dan saya kira arahan Bapak Presiden jelas bahwa Bapak Presiden meminta semua aparat untuk mengerahkan seluruh sumber daya untuk menanggulangi,
05:19tidak hanya sebetulnya menanggulangi, memadamkan api, tapi juga menyusun strategi-strategi pencegahan ke depan.
05:25Nah yang ketiga Mas Randi, yang terakhir kekuatan di lapangan. Saat ini Mas Randi ada 60-an ribu personil gabungan
05:32yang juga didukung dengan 48 helikopter dan pesawat untuk pengebongan air dan juga operasi modifikasi cuaca.
05:39Nah hasilnya tentu kita bisa lihat sekarang, setiap hari rata-rata di atas 80% lahan yang baru terbakar itu
05:48berhasil dipadamkan.
05:49Nah tentu yang masih dalam proses pemadaman itu, sebagaimana kemarin kita bisa saksikan ada 639 hektare dan itu terus, dan
05:57berupaya dilakukan pemerintah secara maksimal.
06:00Sudah bergabung juga bersama kita, Presiden BEM Universitas Palangkara ya, Bung Jales Vefa Jayemahe. Selamat malam Bung Jales.
06:10Siap, selamat malam.
06:12Ya, Bung Jales saya harap Anda juga tadi menyimak ya apa yang dikatakan oleh Bung Diki bahwa sebenarnya pemerintah pusat
06:18sudah berkantor September kemarin,
06:21Menhut sudah pernah berkantor di sana, dan juga BNPB juga sempat berkantor di sana, dan yang dibutuhkan menurut Mas Diki
06:27tadi,
06:27itu bukan hanya berkantor di sana tapi juga strategi taktis.
06:30Nah yang Anda rasakan strategi taktis itu sudah dirasakan belum di Kalimantan Tengah?
06:36Ya, pertama-tama saya mengucapkan terima kasih atas pertanyaannya, izin menjawab,
06:42kalau kami dari Provinsi Kalimantan Tengah sendiri, mulai dari pemerintahan, masyarakat, relawan, dan semuanya memang sudah bekerja sama.
06:49Namun hasil konkret yang kami dapati hari ini memang belum benar-benar terdampak dari apa yang sudah disampaikan tadi.
06:56Kami pun tentu, kami dari mahasiswa menyambut dengan hangat dari pemerintah pusat yang sudah berkantor di Provinsi Kalimantan Tengah,
07:04tetapi juga yang perlu kita garis bawahi adalah yang kami, yang ingin kami dapatkan adalah hasil yang benar-benar konkret,
07:11yaitu penanggulangan terkait hardwood line ini.
07:14Dan pada hari ini kami masih belum mendapatkan hasil yang benar-benar konkret, begitu.
07:17Oke, nah kalau memang tadi diklaim oleh Bung Diki ya bahwa sekarang sudah banyak yang padam dan tersisa hanya sekitar
07:25600 hektare lebih
07:27yang masih ada titik api masih terbakar.
07:29Tapi kan aftermathnya yang dirasakan oleh masyarakat di Kalimantan Tengah dan juga di daerah-daerah lain,
07:35bahkan sampai mampir ke negara tetangga, ya ini kabut asap.
07:39Ya memang ini agak sulit menanggulangi.
07:41Nah kira-kira yang bisa dijelaskan kepada masyarakat, terutama di Kalimantan Tengah yang saat ini menderita banyak penyakit ispa
07:48karena ada kabut asap di sana, apa yang bisa dilakukan?
07:53Ya mungkin penjelasan terkait masyarakat sendiri, mungkin saya nggak bisa menjelaskan banyak ya.
07:58Karena saya sendiri pun di sini masih kebingungan untuk menghadapi kabut asap ini.
08:04Karena kami dari Badan Sekutif ini pun menggagas sebuah advokasi yaitu pembukaan rumah oksigen.
08:09Ada pun berbagai upaya yang kami lakukan untuk terutama mahasiswa kemudian masyarakat.
08:14Yang pertama, kami sudah melakukan pembagian masker.
08:18Kami juga pernah jadi rewan dan sekarang adalah final.
08:22Advokasi final yaitu kami pembukaan rumah oksigen.
08:24Jadi kemudian untuk masyarakat yang lain, mungkin boleh apabila mengalami gangguan pernafasan itu
08:30merapat ke rumah-rumah oksigen terdekat, mendapatkan bantuan, mendapatkan cek kesehatan.
08:35Nah kurang lebih mungkin begitu.
08:36Oke, nah kalau begitu nanti setelah jeda, saya akan bertanya ke Bung Diki.
08:41Kurang lebih pertanyaannya sama, apa yang dilakukan pemerintah pusat untuk menanggulangi kabut asapnya?
08:46Karena aftermath ini juga tidak kalah masifnya berdampak kepada masyarakat di sana, terutama masalah kesehatan.
08:52Saya akan tertanyakan secahat lagi di Sapa Indonesia Malam.
08:54Tetap lagi bersama kami.
09:04Kami lanjutkan perbincangan.
09:07Tadi sebelum jeda saya bertanya kepada Bung Diki dari Bakom.
09:11Tadi dikatakan oleh Bung Jales dari BEM Palangkaraya ya, Universitas Palangkaraya bahwa
09:17saat ini yang dibutuhkan adalah eksistensi pemerintah di sana, terutama
09:21kalau saya tekankan lagi, saya lebih tebalkan lagi, dampak yang terjadi setelah kebakaran hutan itu terjadi.
09:28Ada kabut asap yang begitu masif, dampaknya bahkan mampir ke negara tetangga.
09:31Dampaknya ke pendidikan, anak-anak sekolah sulit bersekolah, ekonomi banyak yang tidak bisa menjalankan roda ekonomi di sana.
09:37Belum lagi aktivitas yang lain.
09:39Nah bagaimana pemerintah juga hadir meskipun tidak berkantur di sana, tapi bisa hadir menyelesaikan masalah-masalah yang muncul
09:45justru karena kabut asap setelah kebakaran hutan.
09:47Bung Diki
09:49Ya tentu Mas Randi kami sadar begitu ya, warga ingin pemerintah paham betul seperti apa hidup di tengah kepulauan asap
09:56gitu ya
09:57karena itu yang digunakan untuk menentukan strategi apa yang tepat dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan
10:04itu bukan hanya laporan di atas meja, tapi para menteri dan pejabat seperti yang tadi saya sampaikan
10:10turun sendiri dan melihat sendiri bagaimana kondisi di lapangan termasuk, bagaimana situasi affirmatnya ya
10:16soal kabut asap dan lain seterusnya.
10:18Nah tadi juga disampaikan bahwa koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah itu juga terus dilakukan secara intens
10:28dan menentukan strategi kebijakan yang paling tepat itu adalah tentu apa namanya berbasis data gitu ya
10:35mulai dari data kualitas udara, data kasus ISPA dan titik panas itu terus dipantau setiap hari dan apa namanya diperbarui
10:45secara berkala.
10:46Saya kasih contoh misalnya data soal kesehatan begitu ya menurut Kementes misalnya dari 18 Agustus sampai 21 September
10:53itu ada 174 ribu kasus ISPA di daerah terdampak.
10:58Nah sebanyak 40 ribu diantaranya itu balita.
11:01Nah berangkat dari data itu Mas Randi, pemerintah melalui Kementes sudah menyiapkan 1891 puskesmas dan 360 rumah sakit
11:10yang nanti bisa dijadikan oleh masyarakat sebagai rujukan gitu ya.
11:14Nah sebanyak 1800 tenaga kesehatan itu juga diturunkan di sejumlah provinsi, di 7 provinsi.
11:19Nah selain itu tadi juga disampaikan oleh Mas Jales begitu ya soal kebutuhan masker di lapangan
11:25pemerintah juga menyiapkan 1.900.000 masker untuk dibagikan kepada masyarakat yang terdampak
11:33dan 280 konsentrator oksigen serta 36 tabung oksigen dikirim.
11:39Nah saya sepertinya juga penting untuk sampaikan begitu ya bahwa di pusat sendiri,
11:45di pemerintah pusat sendiri ada yang namanya deskoordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan
11:52di bawah Kemenko Polkam yang menyatukan kementerian dan lembaga agar semua bisa terkoordinir
11:59apa namanya penanganan kabut lah ini.
12:02Lalu pusat juga mengisi apa yang kemudian dibutuhkan oleh daerah.
12:05Misalnya BNPB mengirim personil, pompa, mobil tangki dan juga tangki air portable gitu ya
12:11untuk menekan apa namanya aftermath yang tadi ditanyakan soal kabutnya.
12:16Mas Randi.
12:17Baik, nah Bung Jalas kalau begitu begini pertanyaan saya.
12:20Alih-alih pemerintah pusat berkantor di Kalimantan Tengah misalnya atau di Palangkaraya misalnya.
12:25Anda kan punya juga pemerintah daerah di sana.
12:27Ada gubernur, ada wali kota, ada bupati.
12:31Bagaimana Anda melihat sejauh ini koordinasi pemerintah pusat dan daerah?
12:34Karena pemerintah daerah ini seharusnya menjadi kepanjangan juga dari pemerintah pusat
12:37untuk menangani karhutlah.
12:38Apa yang belum bisa dijawab dari pemerintah daerah ketika menangani karhutlah ini?
12:44Ya, terima kasih untuk pertanyaannya mas.
12:46Mungkin saya ingin menjawab.
12:49Kalau pertanyaannya seperti itu, justru permasalahan karhutlah ini pasti sudah selesai dari kemarin.
12:54Kalau pertanyaannya perpanjangan tangan seperti itu,
12:57pasti hal-hal yang berbau kemaslahatan, kesehatan masyarakat,
13:03terutama di Kalimantan Tengah ini pasti akan dibuat kalahnya lebih besar penanggulangannya.
13:07Tapi hari ini apa?
13:08Kabut Asrap justru tambah masif.
13:10Namun hari ini pemerintah provinsi Kalimantan Tengah dengan berkoordinasi dengan relawan,
13:15kemudian kami masyarakat, kemudian kami juga mahasiswa,
13:19itu bahu-membahu engap-engapan untuk terkait penanggulangan daripada karhutlah ini seperti bagi-bagi masker.
13:26Nah kemudian saya juga ingin menyatakan bahwasannya,
13:30apabila pemerintah pusat berkantor di kota Palangkaraya atau provinsi Kalimantan Tengah,
13:34marilah kita duduk sama rasa.
13:36Jangan hanya duduk tingjau ke lapangan, hanya sementara.
13:40Tetapi cobalah berkantor di tenda-tenda.
13:43Coba rasakan seperti yang relawan rasakan.
13:45Jangan ketika hanya melihat sebentar,
13:47kemudian berkantor di hotel atau berkantor di tempat-tempat nyaman.
13:51Marilah sini, rasakan seperti apa yang rakyat rasakan,
13:54kemudian cobalah.
13:56Nanti ketika sudah merasakan itu barulah berargumentasi.
13:58Saya harap seperti itu dari pemerintah pusat.
14:00Dan kemudian perihal fasilitas-fasilitas kesehatan yang disampaikan tadi,
14:04Mas, kami dari BMUPR sendiri sudah mencoba beberapa advokasi.
14:09Nah, hari ini bahkan masyarakat untuk keluar rumah ini harus bertaruh nyawa.
14:15Bertaruh nyawa karena nyawa mereka terancam,
14:17karena hari ini kualitas udara yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah,
14:21terutama kota Palangkaraya ini sungguh-sungguh buruk.
14:25Nah, jadi yang harus dilakukan adalah kemudian jemput bola.
14:27Seperti yang kami lakukan di Badan Industri Mahasiswa Universitas Palangkaraya ini,
14:30kami jemput bola ke daerah-daerah yang tidak terjangkau.
14:34Banyak ternyata di mana orang-orang itu tidak terjangkau,
14:37tidak mendapatkan masker, tidak mendapatkan vitamin.
14:40Nah, hari ini harapannya dari pemerintah pusat
14:42menjangkau sampai ke akar rumput kepada rahim rakyat.
14:46Jangan hanya menunggu rakyat mendatangi,
14:47tapi bagaimana pemerintah sebagai pelayan masyarakat
14:50itu kemudian mendatangi kepada masyarakat-masyarakat.
14:53Karena hari ini tidak bisa dipungkiri.
14:55Untuk keluar rumah saja, Mas,
14:57kami harus bertarung nyawa, Mas.
14:59Saya sudah tiga kali sakit,
15:01tetapi tetap saya bangkit lagi
15:03untuk turut berdampak demi kemasalahan masyarakat.
15:05Saya tidak peduli dan segala macam.
15:07Yang penting, kami dari mahasiswa ini
15:09bisa membuktikan bahwasannya mahasiswa
15:11mampu berdampak kepada masyarakat.
15:12Ini merupakan salah satu
15:16senggolan tipis
15:17kepada pemerintah pusat.
15:18Bahwasannya kami mahasiswa pun mampu
15:20menjangkau kepada rakyat.
15:21Harapannya begitu.
15:22Dari pemerintah pusat mampu
15:25kemudian menjangkau ke rakyat-rakyat
15:27yang tidak terlihat.
15:29Pemerintah pusat punya perangkat yang lebih baik
15:31tentunya untuk bisa menjangkau titik terkecil.
15:36Tadi saya tangkap ini kegeraman
15:38dari masyarakat yang diwakilkan oleh
15:40Bung Jales.
15:42Sangat-sangat geram, Mas.
15:43Sangat-sangat geram.
15:44Dan ini tadi dikatakan
15:46kalau pemerintah daerah sudah
15:47belum melaksanakan
15:50apa yang diinstruksikan oleh pemerintah pusat
15:52dan belum bekerja, menurut Mas Jales tadi
15:54sudah ada. Dan satu poin yang saya tekankan
15:56dari pernyataan Bung Jales tadi.
15:58Duduk sama rasa. Apa yang bisa Anda respons
16:00soal kalimat yang saya tadi garis bawah, Ibu Ndiki?
16:05Ya, tentu Mas Jales
16:07kami memahami begitu ya
16:09apa yang dirasakan oleh Mas Jales
16:10dan tentu warga yang terkena dampak
16:13daripada kebakaran hutan dan lahan.
16:17Berkaitan dengan yang menjadi tuntutan
16:20dari teman-teman itu juga menjadi masukan
16:22yang sangat berarti untuk pemerintah
16:25agar menentukan strategi itu
16:28berbasiskan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat
16:31yang terkena dampak langsung begitu ya.
16:32Tapi yang ingin saya sampaikan bahwa
16:35sebetulnya
16:36apa namanya
16:37yang sudah dilakukan oleh pemerintah
16:40tentu kami juga sudah berkoordinasi secara intens
16:42dengan pemerintah daerah begitu ya.
16:44Kami bekerja dalam satu komando
16:46tadi saya sampaikan bahwa di pusat itu
16:47sebetulnya sudah ada desk koordinasi penanganan karutlah
16:50yang secara intens setiap harinya
16:52itu berkoordinasi dengan pemerintah daerah
16:54secara langsung begitu ya.
16:55Lalu apa namanya kebutuhan-kebutuhan daerah itu
16:58berkaitan dengan penanganan
17:00kebakaran hutan dan lahan
17:01itu juga apa namanya dipenuhi begitu ya.
17:05Dan terkait dengan apa tadi
17:08soal kesehatan begitu ya
17:09yang tadi disampaikan oleh mas Jales
17:12begitu untuk sampai pada akar rumput
17:14itu tentu juga berupaya
17:16kami apa namanya
17:18lakukan semaksimal mungkin.
17:19Harus.
17:20Nah selain itu
17:20selain itu mas Jales dan Bang Randi
17:23mas Randi
17:25selain daripada alat
17:26orang begitu ya
17:27pemerintah juga
17:28melakukan upaya
17:30untuk pendanaan
17:32itu bisa dilakukan dengan cepat.
17:34Contohnya misalnya di Sumatera Selatan
17:35gitu ya
17:36Bapak Presiden itu
17:37menyalurkan bantuan Presiden
17:39di Sumatera Selatan
17:39sebesar 30 miliar
17:41dan 15 sampai 20 miliar
17:42untuk masing-masing 4 kabupaten.
17:45Itu juga berlaku di beberapa
17:47apa namanya kabupaten gitu ya.
17:48Dan ini
17:49instruksi ini
17:50begitu ya
17:50Mendagri
17:51juga sudah menerbitkan
17:52pendomannya begitu ya
17:53supaya dananya itu
17:54bisa langsung dipakai
17:55tanpa hambatan birokrasi
17:57tapi penggunaannya
17:58bisa tetap
17:59transparan dan anggutabel.
18:01Dan juga
18:01untuk mencegah
18:02ke depan
18:03apa namanya
18:04kebakaran hutan dan lahan ini
18:05semakin masif
18:06Bapak Presiden juga sudah
18:08menerbitkan
18:09instruksi Presiden
18:10nomor 11 tahun 2026
18:11yang isinya
18:13itu adalah
18:14mewajibkan
18:14gubernur
18:15setiap pemerintah daerah
18:17untuk meninjau ulang
18:18aturan daerah
18:19yang masih
18:19memberikan celah
18:20pembakaran lahan.
18:21Jadi pusat
18:23pemerintah pusat
18:24saya kira
18:24Mas Randi
18:25itu hadir
18:25tidak hanya lewat orang
18:27peralatan
18:28tapi juga
18:28anggaran dan juga
18:29aturan
18:30untuk menanggulangi
18:31apa namanya
18:32kebakaran hutan dan lahan ini
18:34secara holistik.
18:35Oke
18:35kalau begitu
18:36saya kembalikan ke Mas Jalas
18:37sudah puas
18:37Anda dengan jawaban
18:38yang disampaikan
18:39oleh Bung Diki
18:40dari perwakilan
18:41pemerintah pusat ini?
18:43kalau berbicara
18:44hanya omongan
18:45tentunya saya tidak puas
18:46saya butuh
18:47langkah konkret
18:47saya butuh
18:48bantuan disini
18:49untuk masyarakat
18:50Kalimantan Tengah
18:50dan harapannya
18:51yang pasti
18:52saya ucapkan
18:53terima kasih dulu
18:53untuk Mas Diki
18:54atas penyampaiannya
18:55harapan besar
18:57kepada pemerintah pusat
18:59untuk turun
19:00ke akar rumput
19:00jangan ketika turun
19:02ketika ada kepentingan
19:03tapi hari ini
19:04kami masyarakat
19:05Kalimantan
19:05terutama Kalimantan Tengah
19:07butuh rangkulan
19:08butuh langkah konkret
19:09kemudian butuh
19:13rasa aman
19:14ketika kami beraktifitas
19:15tentunya kami
19:17dari mahasiswa pun
19:18saling bahu-membahu
19:19saya disini
19:20bukan maksud
19:20menyalahkan
19:21tapi disini
19:21saya juga bergerak
19:22untuk turun
19:23membantu masyarakat
19:24dan kemudian mahasiswa
19:25mungkin begitu
19:26oke
19:26nah kalau gitu
19:27saya ingin pastikan
19:28ini kan ada keluhan
19:29dari mulai tingkatan
19:31yang paling kecil
19:32masyarakat di bawah
19:33sampai tingkat mahasiswa
19:34boleh dikatakan begitu
19:35ini terakhir untuk Bung Diki
19:36kira-kira
19:37semua aspirasi
19:39atau keluhan
19:39apa yang dirasakan
19:41oleh masyarakat
19:42itu sudah
19:43disampaikan
19:44ke meja presiden
19:45atau mungkin
19:45kalau presiden
19:46belum bisa
19:48menerima informasi itu
19:50minimal ke setingkat
19:50menteri
19:51pembantu-pembantunya
19:51apa itu bisa disampaikan
19:52dan dipastikan
19:54bisa tersampaikan
19:55informasinya
19:55ya
19:57pada prinsipnya
19:58Mas Randi
19:59kalau kita mendengar
20:00apa yang sudah disampaikan
20:01oleh Bapak Presiden
20:02pada saat rapat terbatas
20:03Senin 12 Oktober
20:052026 lalu
20:07beliau menyampaikan
20:08bahwa penanganan
20:09kebakaran hutan
20:11dan lahan ini
20:11untuk menjadi prioritas utama
20:13secara nasional
20:14begitu ya
20:15prinsipnya
20:16tentu
20:17kalau kita menangkap
20:17apa yang disampaikan
20:18oleh Bapak Presiden
20:19masyarakat
20:20yang terdampak itu
20:21jangan sampai
20:22menanggung
20:23beban dua kali
20:24sudah terkena asap
20:26lalu kehilangan
20:26penghasilan misalnya
20:27dan juga layanan
20:28gitu ya
20:29layanan kesehatan
20:30dan lain seterusnya
20:31nah sebetulnya
20:32kalau dari segi
20:33apa yang sudah dilakukan
20:34oleh pemerintah
20:35selain yang tadi
20:35saya sampaikan
20:36berkaitan dengan
20:37apa namanya
20:38upaya untuk
20:40menanggulangi
20:41kebakaran hutan
20:43dan lahannya sendiri
20:43sebetulnya juga
20:45ada komitmen
20:45bagaimana
20:46kemudian
20:47apa namanya
20:48mengungkap
20:49gitu ya
20:49siapa
20:50yang menjadi
20:51dalam pembakar
20:52hutan dan lahan
20:53saya kira
20:53Pak Presiden
20:55sudah berkali-kali
20:56menjelaskan
20:57bahwa tidak ada
20:58toleransi
20:58bahkan menyebut
20:59pembakaran hutan itu
21:00sebagai terorisme
21:01ekologi
21:02dan ini
21:03juga sudah
21:04diturunkan
21:04pada level
21:05aparat penegak hukum
21:07gitu ya
21:07misalnya
21:08per 2 Oktober
21:09Mas Randi
21:10saya mengutip
21:10data aparat penegak hukum
21:12itu sudah ada
21:13247
21:14laporan polisi
21:15dengan
21:16190 orang
21:17itu
21:18198
21:19orang
21:20sudah ditetapkan
21:20sebagai tersangka
21:21lalu
21:2297
21:22itu juga
21:23menyasar korporasi
21:24jadi
21:24orientasi
21:25yang ingin
21:26disampaikan
21:27oleh pemerintah
21:27terkait
21:29upaya
21:29penegakan hukum
21:30itu adalah
21:30polluter pay
21:31prinsipal
21:32siapa yang
21:32mencemarkan
21:33maka dia
21:33yang harus
21:34menanggung
21:34apa namanya
21:36atau
21:37dibebankan
21:38untuk memulihkan
21:39kekondisi
21:40semula
21:40Mas Randi
21:41intinya dari
21:42dialog kita
21:43malam hari ini
21:44bencana ekologis
21:45kalau tadi disebut
21:46oleh Bung Diki
21:47terorisme ekologis
21:49begitu ya
21:49satu nyawa
21:50warga
21:51negara Indonesia
21:52yang terkena
21:52kabut asap
21:53dan karhutlah
21:54menjadi tanggung jawab
21:54pemerintah
21:55satu anak yang
21:56tidak bisa
21:56melanjutkan pendidikan
21:57adalah tanggung jawab
21:58pemerintah
21:58satu anak yang
21:59terkena ispa
22:00adalah tanggung jawab
22:00pemerintah
22:01dan juga
22:01satu ayah
22:02yang tidak bisa
22:03memberi nafkah
22:04kepada keluarganya
22:04juga merupakan
22:05tanggung jawab
22:06pemerintah
22:06ini yang harus
22:07didudukan bersama
22:08dan langkah
22:09cepat dinanti oleh
22:10masyarakat
22:10terutama yang ada
22:11di Palangkaraya
22:11yang semakin
22:12parah
22:12menderita
22:14kabut asap
22:15di sana
22:15terima kasih
22:16mahasiswa BEM
22:17Universitas Palangkaraya
22:18Jales Viva Jaya Mahe
22:19dan tenaga ahli
22:20badan komunikasi
22:21pemerintah
22:21bakom
22:22di Kian India
22:23telah berdiskusi
22:23bersama kami
22:24di Sapa Indonesia Malam
22:25selamat malam
22:25sampai jumpa lagi
22:27terima kasih
22:27Mas Randi
22:28terima kasih
22:28Terima kasih