00:01Di Sumatera Utara terbentang hutan Batang Toru atau dalam bahasa Batak Harangan Tapanuli.
00:08Sekitar 200 ribu hektare hutan pegunungan penuh panggilan kehidupan di kawasan ini.
00:15Menahan laju erosi, menyimpan air untuk mencetak banjir dan kekeringan, serta menjaga keseimbangan iklim mikro.
00:23Harangan Tapanuli merupakan sebuah ekosistem, rumah bagi ribuan kehidupan termasuk satwa-satwa yang tak ditemukan di tempat lain.
00:34Salah satunya orang hutan Tapanuli.
00:37Dia menjadi satu-satunya rumah buat orang hutan Tapanuli karena tidak ditemukan di tempat lain.
00:43Dan harangan Tapanuli juga sangat kaya akan be diopercity.
00:46Jadi orang hutan Tapanuli, ada harimau Sumatera, ada juga beruang, ada juga tapir, dan banyak serba kunci lainnya.
00:54Jadi dalam bahasa Batak itu adalah hutan, hutan yang dilarang.
00:57Artinya hutan itu perlu untuk dijaga untuk kebutuhan masyarakat.
01:01Karena banyak sekali masyarakat sebenarnya masih bergantung terhadap hutan.
01:04Terutama untuk sumber air dan lain-lain.
01:09Harangan Tapanuli membentangi tiga kabupaten.
01:12Tapanuli Selatan, Tengah, dan Utara.
01:16Kini hutan ini terfragmentasi menjadi dua blok.
01:20Barat dan timur dipisahkan jalan raya, permukiman, dan alih fungsi lahan.
01:27Salah satu kawasan hutan hujan tropis terpenting di Sumatera Utara ini terancap.
01:33Ada biotermal, kemudian ada pembangkit listrik, PLTA, kemudian ada juga tambang.
01:40Ini yang menjadi challenge buat kita, tantangan buat kita.
01:43Karena mereka itu berada di dalam kawasan hutan Tapanuli yang notabene-nya sangat rancam punah.
01:49Apalagi dia salah satu kera besar yang paling langka sekarang.
01:53Dari Gibon, Simpanse, Bonobo, orang Tapanuli menjadi kera paling langka.
01:57Karena populasinya sudah sangat sedikit di alam dia.
02:00Sejak 2017, orangutan Tapanuli atau Pongo Tapanuliensis ditetapkan sebagai spesies orangutan baru.
02:09Melengkapi dua spesies orangutan Indonesia lainnya, orangutan Sumatera dan orangutan Kalimantan.
02:15Orangutan yang hidup terisolasi di Batang Toru memiliki perbedaan signifikan.
02:21Meski hidup di Sumatera, orangutan Tapanuli secara genetik lebih dekat dengan orangutan Kalimantan.
02:27Namun secara fisik, orangutan Tapanuli lebih menyerupai saudaranya di Sumatera dengan tubuh lebih ramping dan warna rambut cenderung coklat kemerahan.
02:38Tapi kalau dengan Kalimantan mungkin akan kelihatan bedanya mulai dari warna rambut, bulu gitu ya, kemudian bensuk ke wajah.
02:45Kalau jantan dominan di Kalimantan lebih ke melebar ke samping, kalau orangutan Tapanuli sama Sumatera lebih ke opal.
02:51Dan kalau orang Tapanuli cenderung mungkin rambutnya kali bang, rambutnya atau bulunya itu lebih kriwil atau lebih kriting ya, karena
02:59banyak kelihatan tinggi.
03:03Menyandang status kritis atau critically endangered dalam daftar merah IUCF.
03:08Setiap hilangnya hutan, terputusnya koridor, dan berkurangnya sumber pakan, semakin sempit pula ruang hidup mereka.
03:18Populasi mereka diperkirakan tersisa enam ratusan individu saja.
03:23Berkurang puluhan individu akibat longsor dan banjir bandang tahun lalu.
03:29Jika terus dibiarkan, orangutan Tapanuli berpotensi menjadi kera besar pertama di era modern yang punah dari alam liar.
03:38Susah untuk dinaikkan populasinya karena orangutan kan tidak bisa melahirkan setiap tahun.
03:44Ketika dia punya anak, dia akan menjaga anaknya dari sampai umur 5, 6, bahkan sampai 7 tahun.
03:51Dia akan membesarkan anaknya dan hidup bersama anaknya dan tidak akan kawin atau tidak akan punya anak lagi.
03:57Dan ini yang salah satu mendukung jadi faktor juga kenapa populasinya lambat untuk menaik dan tekanan terhadap kawasan juga terus
04:05terjadi.
04:08Dalam menyelamatkan ekosis tembatang Toru dan orangutan Tapanuli yang tersisa, ada ranger seperti Amran Siagian.
04:16Unit Reaksi Cepat Evakuasi Orangutan atau Tim Hokru OIC menjadi garis terakhir penyelamatan orangutan.
04:24Inilah durian masyarakat yang kemarin melapor pada Tim Hokru yang orangutan masuk ke pohon duriannya.
04:32Sarang-sarangnya masih ada itu banyak.
04:34Itu yang masih terbaru.
04:37Kelas B, kelas C.
04:42Masyarakat melapor ke Tim Hokru karena sangat terganggu pohon duriannya.
04:49Mengikuti kegiatan Amran, kami menapaki lebat timba Tapanuli.
04:55Menelusuri keberadaan orangutan Tapanuli serta jejak longsor yang merusak rumah orangutan Tapanuli.
05:02Orangutan itu koridornya terputus.
05:05Dia dari pohon yang sebelah kiri ini ke kanan terputus.
05:08Makanya kemungkinan bisa jadi orangutan jarang jumpa sama masyarakat.
05:13Itu cukup parah ya Bang di depan sana.
05:15Itu kan longsornya.
05:16Iya, longsornya cukup parah.
05:20Pada monitoring kali ini, kami bertemu Siama, si penyanyi hutan primata yang juga menghadapi ancaman kepunahan.
05:30Di atas dahan, dua siama bermain dan berayun, seolah menikmati hutan yang masih tersisa.
05:38Pas kita jumpa tadi, setelah bencana lah, perubahannya banyak dia perilakunya.
05:43Kalau kita jumpa lebih tenang, sekarang udah agak lebih akresif dia.
05:47Nampak kita langsung masuk hutan dia.
05:50Tak sekadar memantau pergerakan orangutan, Amran pun berperan memitigasi konflik warga dan orangutan.
05:57Tak ada tanggal merah baginya.
05:59Jika orangutan butuh pertolongan, Amran dan kru turun ke lapangan.
06:04Orangutan ini makin ganas nih, karena dia merasa terganggu.
06:09Biasanya dia nanti ngerontohin durian itu.
06:12Kalau salah penanganan, makanya kami sering sosialisasi dengan cara bahasa kayak gitu.
06:18Karena misalkan kalau durian ini sempat udah orangutannya terganggu, yang akhirnya lebih rugi masyarakat.
06:29Hingga saat ini, HOKRU berhasil menyelamatkan sedikitnya 352 individu orangutan, 19 diantaranya orangutan Tapanuli.
06:38Sebagai lokal hero putra daerah yang tumbuh dan paham hutan Tapanuli, Amran berharap kesadaran masyarakat datang tepat waktu.
06:49Agar kelak orang hutan Tapanuli tak tinggal cerita.
06:53Kalau harapannya kesadaran untuk masyarakat adalah, kalau bukan kita sebagai masyarakat yang di sini untuk melindungi satwa kita, siapa lagi?
07:04Bisa kita bilang orangutan ini salah satu kebangkaan Indonesia.
07:10Kalau bukan dari sekarang kita sadar, mungkin untuk anak cucu kita 10 atau 50 tahun ke depan, mungkin bakalan punah.